image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Senin, 21 Oktober 2019

Tagged under:

Doa Sebelum Wudhu

ONE DAY ONE DOA
Senin, 21 Oktober 2019 M / 22 Shafar 1441 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)



لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ، وَلاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ.

“Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu. Dan tidak ada wudhu untuk seseorang yang tidak menyebut nama Allah.” 

[Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 320)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/174 no. 101), dan Sunan Ibnu Majah (I/140 no. 399).

Hukum membaca bismillah di awal wudhu adalah wajib. Bagi yang lupa membacanya di awal wudhu, hendaknya mengucapkan bismillah ketika teringat meskipun di tengah-tengah berwudhu. 

Dan juga berdasarkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau menceritakan bahwa sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari air untuk berwudhu. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

«هَلْ مَعَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مَاءٌ؟» فَوَضَعَ يَدَهُ فِي الْمَاءِ وَيَقُولُ: «تَوَضَّئُوا بِسْمِ اللَّهِ»

“Apakah kalian memiliki air?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukkan tangannya ke dalam air dan bersabda,”Berwudhulah kalian dengan (mengucapkan) bismillah … “

HR. Bukhari no. 69; Muslim no. 2279 dan An-Nasa’i 1/60.


Tentang tatacara berwudhu terdapat hadits Humran bekas budak ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu :

أَنَّ عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوْءٍ فَتَوَضَّأَ: فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِ هذَا ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِ هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu minta diambilkan air wudhu lalu berwudhu. Dia basuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung lalu mengeluarkannya. Lalu membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangan kanannya hingga ke siku tiga kali, begitupula dengan tangan kirinya. Setelah itu, ia usap kepalanya lantas membasuh kaki kanannya hingga ke mata kaki tiga kali, begitupula dengan kaki kirinya. Dia kemudian berkata, ‘Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu sebagaimana wudhuku ini, kemudian Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua raka’at dan tidak berkata-kata dalam hati dalam kedua raka’at tadi, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.’” 

HR. Muslim dalam Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 3/108 

SYARAT SAH WUDHU 

1. Niat, berdasarkan sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam :
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.
“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niat.” 
Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/9 no. 1)], Shahiih Muslim (III/1515 no. 1907),

2. Mengucap basmalah, berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ، وَلاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ.

“Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu. Dan tidak ada wudhu untuk seseorang yang tidak menyebut nama Allah.” 
[Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 320)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/174 no. 101)

3. Berkesinambungan (tidak terputus), berdasarkan hadits Khalid bin Ma’dan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلاً يُصَلِّي وَفِيْ ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةً قَدْرَ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعِيْدَ الْوُضُوْءَ وَالصَّلاَةَ.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki sedang melakukan shalat, sedangkan pada punggung telapak kakinya ada bagian sebesar uang dirham yang tidak terkena air. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menyuruhnya mengulang wudhu dan shalatnya.” 
Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 161), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/296 no. 173).

RUKUN-RUKUN WUDLU

1. Membasuh wajah, termasuk berkumur dan menghirup air melalui     
    hidung.
2. Membasuh kedua tangan hingga siku.
3. Mengusap seluruh kepala. Dan telinga termasuk kepala.
4. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki dan jangan lupa mengusap bagian telapak kaki karena air datang dari sebelah atas sehingga bila tidak diusap tidak akan basah dalam wudhunya tersebut. 

Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

YAA AYYUHAA LADZIINA AAMANUU IDZAA QUMTUM ILAA SHSHALAATI FAGHSILUU WUJUUHAKUM WA-AYDIYAKUM ILAA LMARAAFIQI WAMSAHUU BIRUUUSIKUM WA-ARJULAKUM ILAA LKA'BAYNI WA-IN KUNTUM JUNUBAN FATHTHHAHHARUU WA-IN KUNTUM MARDAA AW 'ALAA SAFARIN AW JAA-A AHADUN MINKUM MINA LGHAA-ITHI AW LAAMASTUMU NNISAA-A FALAM TAJIDUU MAA-AN FATAYAMMAMUU SHA'IIDAN THAYYIBAN FAMSAHUU BIWUJUUHIKUM WA-AYDIIKUM MINHU MAA YURIIDU LAAHU LIYAJ'ALA 'ALAYKUM MIN HARAJIN WALAAKIN YURIIDU LIYUTHAHHIRAKUM WALIYUTIMMA NI'MATAHU 'ALAYKUM LA'ALLAKUM TASYKURUUN

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

QS. Al-Maa-idah: 6

Sabtu, 19 Oktober 2019

Tagged under:

Doa Agar Diberi Keberkahan dalam Suatu Majelis

ONE DAY ONE DOA
Sabtu, 19 Oktober 2019 M / 20 Shafar 1441 H 

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)


ربّ اغْفِرْ لي وَتُبْ عَلَيَّ إنَّكَ أنْتَ التَّوَّابُ الرَّحيمُ

RABBIGHFIR LII WA TUB ‘ALAYYA INNAKA ANTAT TAWWABUR RAHIIM(U)

Ya Tuhan, ampunilah aku dan terimalah tobatku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
(Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, al-Tirmidzi dan Ibn Majah)

Doa berikut bisa digunakan dalam acara yang bersifat jamaah. Doanya pendek dan mudah dihafal. Dari hadits As-Sa’ib bin Yazid ra. Rasulullah SAW bersabda

ما من إنسانٍ يكونُ في مجلِسٍ ، فيقولُ حينَ يريدُ أن يقومَ : سبحانَكَ اللَّهمَّ وبحمدِكَ ، لا إلهَ إلَّا أنتَ ، أستغفرُكَ وأتوبُ إليكَ ، إلَّا غُفِرَ لهُ ما كانَ في ذلكَ المَجلِسِ

“Tidak seorang pun yang duduk di suatu majelis kemudian dia membaca, *’Subhanakallahumma wa bihamdika, laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaika’¹* saat akan pergi; melainkan bakal diampuni hal-hal yang terjadi di majelis tersebut.” 
(Ash-Shahih Al Musnad, 369) HR. Ahmad (15729)
Ibnu Baaz menjelaskan perihal doa tersebut. Doa dalam hadits bersifat mutlak, yaitu sebuah doa yang bila dibaca menjadi penghapus dosa dan kesalahan.  

فالسنة لمن قام من المجلس أن يقول هذا الكلام: سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك اللهم وأتوب إليك، سواء كان مجلس علم أو مجلسًا عاديًا للكلام والخوض في حاجات الناس.
السنة لمن قام من المجلس أن يقول هذا الكلام، فهو طابع على الخير، وكفارة لما قد يقع من اللغو في المجلس. وهذا الحديث كسائر الأحاديث المطلقة، يحمل على أنه كفارة لما يقع من الصغائر


“Disunnahkan bagi seseorang yang akan meninggalkan suatu majelis [ perkumpulan ] untuk membaca ‘Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu² laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaika’.
Baik itu majelis ilmu atau kumpul-kumpul ngobrol biasa atau membicarakan seputar kemaslahatan orang-orang. Disunnahkan bagi siapapun yang akan membubarkan diri dari majelis untuk membaca dzikir ini. Ia berfungsi sebagai segel kebaikan sekaligus penghapus dosa terhadap ucapan buruk yang mungkin terjadi saat di majelis.
 
Doa berikut juga bisa menjadi doa tambahan ketika memohon kebrkahan dalam suatu majelis atau kumpulan. Doa berikut bukan bersal dari Rasulullah SAW namun kandungan doanya mencukupi segala yang kita harapkan 
 
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمَنَا هَذَا يَوْماً مُبَارَكًا أَوَّلَهُ صَلَاحًا وَ أَوْسَطُهُ فَلاَحًا وَ آخِرُهُ نَجَاحاً وَ عَفْواً وَ عِتْقاً مِنَ النَّارِوَ اجْعَلِ اللَّهُمَّ لَناَ فِيْهِ يَا اللهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَ مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَ مِنْ كُلِّ فَاحِشَةٍ سِتْرًا وَ مِنْ كُلِّ عُسْرِ يُسْرًا وَ مِنْ كُلِّ بَلاَءٍ عَافِيَةً وَ اكْفِنَا يَا اللهُ مِنْ مُهِمَّاتِ الدَّارَيْنِ وَ اصْرِفْ عَنَّا شَرَّ اْلمَنْزِلَتَيْنِ وَ اغْفِرْ لَنَا وَ لِوَالِدِيْنَا وَ لِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ

ALLAHUMMAJ’AL YAUMANA HAZA YAUMAN MUBAROKAN AWWALAHU SHOLAHAN WA AUSATHUHU FALAHAN WA AKHIROHU NAJAHAN WA ‘AFWAN WA ‘ITQON MINAN NARI WAJ’ALILLAHUMMA LANA FIHI YA ALLAHU MIN KULLI HAMMIN FARAJAN WA MIN KULLI DHIQIN MAKHROJAN WA MIN KULLI FAHISYATIN SITRON WA MIN KULLI ‘USRIN YUSRON WA MIN KULLI BALA-IN ‘AFIYATAN WAKFINA YA ALLAHU MIN MUHIMMATID DAROIN WASHRIF ‘ANNA SYARROL MANZILATAIN WAGHFIR LANA WA LIWALIDINA WA LISA-IRIL MUSLIMIN.
“Ya Allah, jadikanlah hari ini hari yang penuh berkah, permulaannya kesalehan, pertengahannya kemenangan, dan penghabisannya keberhasilan, ampunan dan kebebasan dari api neraka. Dan jadikanlah, Ya Allah, kelegaan bagi kami di dalamnya, wahai Allah, dari segala kesedihan, jalan keluar dari segala kesempitan, tirai penutup dari segala kekejian, kemudahan dari segala kesulitan, dan keselamatan dari segala bencana. Dan lindungilah kami, wahai Allah, dari segala keburukan dua rumah, dan palingkanlah kami dari keburukan dua tempat, ampunilah kami serta orang tua kami dan seluruh kaum Muslimin.”
Tagged under: ,

Amanah Jabatan dan Kekuasaan

Buletin Kaffah, No. 111-19 Shafar 1441 H/18 Oktober 2019 M


Harap-harap cemas. Itulah barangkali yang menggelayuti hati dan pikiran sebagian elit politik negeri ini menjelang pemerintahan baru. Sebagaimana diketahui, pelantikan presiden dan wakil presiden baru, sekaligus pembentukan kabinet baru, tinggal menghitung hari. Presiden dan wakil presiden terpilih hasil Pilpres beberapa waktu lalu—meski sempat dibayang-bayangi tudingan kecurangan brutal, massif dan terstruktur—tentu amat berharap pelantikan keduanya tidak menghadapi hambatan dan gangguan. 

Para tokoh dan elit parpol, baik yang masih menjabat ataupun yang belum menjabat, juga sama-sama berharap. Yang sedang menjabat berharap besar dapat kembali menjabat. Tidak tergusur dari pemerintahan. Yang belum menjabat tentu amat berharap kali ini mendapat jabatan. Karena itu masing-masing parpol dan elitnya saling bermanuver. Yang awalnya kontra rejim, sekarang berusaha melakukan rekonsiliasi. Tentu demi jabatan dan kekuasaan. Yang selama ini pro rejim, apalagi merasa sudah ‘berdarah-darah’ berjuang memenangkan Pilpres, tentu tak akan rela begitu saja tersingkir dari arena rebutan jabatan dan kekuasaan. Masing-masing melakukan lobi-lobi. Tak peduli harus menjilat sana-sini. Bahkan masing-masing melakukan berbagai intrik. Tak peduli saling sikut demi sebuah kursi.  

Begitulah realitas politik demokrasi sekular hari ini. Banyak kalangan telah diperbudak nafsu jabatan dan kekuasaan. Untuk itu mereka sering tak peduli halal-haram, baik-buruk atau benar-salah. Tak peduli untuk itu mereka harus mengorbankan idealisme. Bahkan tak peduli untuk itu mereka harus mengorbankan rakyat kebanyakan. Yang penting jabatan dan kekuasaan ada dalam genggaman. 


Beratnya Amanah Jabatan dan Kekuasaan

Kepemimpinan adalah amanah. Siapa saja yang memegang amanah kepemimpinan ini pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di Akhirat kelak. Rasulullah saw. bersabda:

فَاْلإمَامُ رَاعٍ وَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari dan Muslim).


Hakikat kepemimpinan tercermin dalam sabda Rasulullah saw.:


سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ
Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka (HR Abu Nu‘aim).


Rasulullah saw. pun bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
Tidak seorang hamba pun yang diserahi oleh Allah untuk memelihara urusan rakyat, lalu dia tidak melingkupi rakyat dengan nasihat (kebaikan), kecuali ia tidak akan mencium bau surga (HR al-Bukhari).


Rasulullah saw. juga bersabda:

مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ و َهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum Muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menelantarkan urusan mereka, kecuali Allah mengharamkan surga untuk dirinya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Imam Fudhail bin Iyadh menuturkan, “Hadis ini merupakan ancaman bagi siapa saja yang diserahi Allah SWT untuk mengurus urusan kaum Muslim, baik urusan agama maupun dunia, kemudian ia berkhianat. Jika seseorang berkhianat terhadap suatu urusan yang telah diserahkan kepada dirinya maka dia telah terjatuh pada dosa besar dan akan dijauhkan dari surga. Penelantaran itu bisa berbentuk tidak menjelaskan urusan-urusan agama kepada umat, tidak menjaga syariah Allah dari unsur-unsur yang bisa merusak kesuciannya, mengubah-ubah makna ayat-ayat Allah dan mengabaikan hudûd (hukum-hukum Allah). Penelantaran itu juga bisa berwujud pengabaian terhadap hak-hak umat, tidak menjaga keamanan mereka, tidak berjihad untuk mengusir musuh-musuh mereka dan tidak menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka. Setiap orang yang melakukan hal ini dipandang telah mengkhianati umat.” (Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim).

Karena itu generasi salafush-shalih pada masa lalu umumnya khawatir bahkan takut dengan amanah kepemimpinan (kekuasaan). Apalagi mereka sangat memahami sabda Nabi saw.:

إِنَّ

كُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَإِنَّهَا سَتَكُونُ نَدَامَةً وَحَسْرَةً
Kalian begitu berhasrat atas kekuasaan, sementara kekuasaan itu pada Hari Kiamat kelak bisa berubah menjadi penyesalan dan kerugian (HR Nasa’i dan Ahmad).

Anehnya, apa yang peringatkan oleh Nabi saw. dalam hadis di atas justru dipraktikan dengan sangat sempurna oleh generasi saat ini. Generasi saat ini rata-rata amat bernafsu atas kekuasaan dan jabatan. Mereka seolah tak peduli jabatan dan kekuasaan itu akan berubah menjadi penyelasan dan kerugian bagi mereka pada Hari Kiamat kelak. 

Bercermin pada Kepemimpinan Islam

Islam tidaklah melarang siapapun yang ingin berkuasa. Islam pun memandang wajar terjadinya pergolakan yang menyertai proses-proses politik ke arah sana. Masalahnya, bagaimana cara kekuasaan itu didapat, serta dalam kerangka apa kekuasaan itu diraih?

Pada masa lalu, sejumlah sahabat terkemuka, termasuk Khalifah Abu Bakar, pada masa kepemimpinannya sepakat mengusulkan Umar bin Khaththab menggantikan beliau yang sudah sakit-sakitan. Dari segala segi, Umarlah figur yang pantas untuk menjadi khalifah berikutnya. Namun, bukannya gembira, Umar malah keras menentang pencalonan dirinya seraya menyatakan apakah mereka semua akan menjerumuskan dirinya ke dalam neraka? Tentu karena Umar sangat menyadari bahwa jabatan bukanlah tempat empuk untuk meraup ketenaran, kekuasaan, harta apalagi wanita. Dalam pandangan Umar, jabatan dan kekuasaan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT di Akhirat kelak. Dengan kata lain, jabatan sesungguhnya adalah beban, yang bila tidak ditunaikan dengan sebaik-baiknya, akan membawa pada kehinaan dan penyesalan (hizyun wa nadamah). Jadi bagaimana mungkin ada beban berat yang akan menindih justru membuat orang bergembira? Dari sinilah bisa dimengerti mengapa Umar tidak lantas bergembira dan menerima begitu saja tawaran itu. 

Bukan kali itu saja Umar ra. menolak jabatan/kekuasaan yang ditawarkan kepada beliau. Di Saqifah Bani Saidah, ketika kaum Muhajirin dan Anshar berembug tentang siapa yang akan menjadi pemimpin sepeninggal Rasulullah, Umar menjagokan Abu Bakar. Sebaliknya, Abu Bakar justru menjagokan Umar. Alhasil, kedua sahabat mulia ini saling mengunggulkan satu sama lain untuk menjadi khalifah. 

Sejarah pada akhirnya mencatat bahwa Umar bin Khaththab ra. memang bersedia menerima jabatan khalifah menggantikan Abu Bakar ash-Shiddiq. Sejarah mencatat pula bahwa Umar benar-benar menjalankan kepemimpinannya dengan sangat baik. Ia mengerahkan segenap kemampuan, waktu, tenaga dan pikirannya untuk melaksanakan amanah itu. Ia tidak menjadikan jabatan khalifah untuk mengeruk keuntungan material. Ia, yang sebelumnya termasuk orang kaya, justru setelah menjadi khalifah berubah menjadi miskin. Pernah sekali waktu ia agak terlambat datang ke masjid untuk shalat Jumat karena ia terpaksa harus menunggu baju yang satu-satunya kering setelah dicuci. Ia juga melarang keluarga dan karib kerabatnya mengambil keuntungan dari jabatannya itu. Anaknya, Abdullah bin Umar, ia larang berbisnis karena khawatir orang bertransaksi dengan dia bukan karena sosok Abdullah sebagai pribadi, tetapi karena dia anak Umar.  

Demikianlah Umar bin al-Khaththab ra. yang memimpin umat Islam dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama. Namun, dalam waktu yang singkat itu, beliau berhasil mencapai kemajuan yang luar biasa. Kemakmuran melingkupi senegap negeri. Keamanan, ketenteraman dan kedamaian dirasakan oleh seluruh rakyat. Dalam masa kepemimpinan Umar pula, Persia—salah satu adikuasaa pada waktu itu—berhasil ditaklukkan sekaligus menandai kemunculan Islam sebagai adikuasa baru berdampingan dengan Romawi.


Merindukan Kepemimpinan Islam

Islam sangat mendorong agar para pemimpin—penguasa maupun pejabat negara—selalu bersikap adil. Sayang, pemimpin adil tidak mungkin lahir dari rahim sistem demokrasi sekular yang jauh dari tuntunan Islam. Sistem zalim ini hanya bisa menghasilkan para pemimpin zalim, tidak amanah dan jauh dari sifat adil. Pemimpin yang adil hanya mungkin lahir dari rahim sistem yang juga adil. Itula

h sistem Islam yang diterapkan dalam institusi pemerintahan Islam (Khilafah). 

Sejak Rasulullah saw. diutus, tidak ada masyarakat yang mampu melahirkan para penguasa yang amanah dan adil kecuali dalam masyarakat yang menerapkan sistem Islam. Kita mengenal Khulafaur Rasyidin yang terkenal dalam kearifan, keberanian dan ketegasannya dalam membela Islam dan kaum Muslim. Mereka adalah para negarawan ulung yang sangat dicintai oleh rakyatnya dan ditakuti oleh lawan-lawannya. Mereka juga termasyhur sebagai pemimpin yang memiliki budi pekerti yang agung dan luhur Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sosok penguasa yang terkenal sabar dan lembut. Namun, beliau juga terkenal sebagai pemimpin yang berani dan tegas. Tatkala sebagian kaum Muslim menolak kewajiban zakat, beliau segera memerintahkan kaum Muslim untuk memerangi mereka. Meskipun pendapatnya sempat disanggah oleh Umar bin al-Khaththab, beliau tetap bergeming dengan pendapatnya. Stabilitas dan kewibawaan Negara Islam harus dipertahankan meskipun harus mengambil risiko perang. Khalifah Umar bin al-Khaththab pun terkenal sebagai penguasa yang tegas dan sangat disiplin. Beliau tidak segan-segan merampas harta para pejabatnya yang ditengarai berasal dari jalan yang tidak benar (Lihat: Târîkh al-Islâm, II/388; dan Tahdzîb at-Tahdzîb, XII/267).

Tidakkah kita merindukan kembali kehadiran sistem Islam di tengah-tengah kita yang bisa melahirkan para pemimpin yang adil dan amanah? []


Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّ شَرَّ الرِّعَاءِ الْحُطَمَةُ
Sungguh seburuk-buruk pemimpin adalah al-Huthamah (yang menzalimi rakyatnya dan tidak menyayangi mereka).
(HR Muslim).
Tagged under:

Doa Minta Hujan

ONE DAY ONE DOA
Jumat, 18 Oktober 2019 M / 19 Shafar 1441 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)




قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا


ALHAMDULILLAHI RABBIL ‘ALAMIIN ARRRAHMANIRRAHIM MALIKIYAUMIDDIN, LAA ILAHA ILLALLAH YAFALU MAA YURIID, ALLAHUMMA ANTALLOHU LAA ILAH ILLA ANTAL GHANIYYU WANAHNUL FUQARAA’ ANZIL ‘ALAINAL GHAITSA WAJ’AL MAA ANZALTA LANAA QUWWATAN WABALAGHAN.



Doa tersebut dikutip dari hadits panjang dari ‘Aisyah yang menjadi dasar disyariat¬kannya shalat minta hujan (istisqa).


عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ شَكَا النَّاسُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُحُوطَ الْمَطَرِ فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ فَوُضِعَ لَهُ فِي الْمُصَلَّى وَوَعَدَ النَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ قَالَتْ عَائِشَةُ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ بَدَا حَاجِبُ الشَّمْسِ فَقَعَدَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَكَبَّرَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَمِدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ قَالَ إِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدْبَ دِيَارِكُمْ وَاسْتِئْخَارَ الْمَطَرِ عَنْ إِبَّانِ زَمَانِهِ عَنْكُمْ وَقَدْ أَمَرَكُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ تَدْعُوهُ وَوَعَدَكُمْ أَنْ يَسْتَجِيبَ لَكُمْ ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمْ يَزَلْ فِي الرَّفْعِ حَتَّى بَدَا بَيَاضُ إِبِطَيْهِ ثُمَّ حَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ وَقَلَبَ أَوْ حَوَّلَ رِدَاءَهُ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ وَنَزَلَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ [رواه أبو داود]


Artinya: “Dari ‘Aisyah ra (dilaporkan bahwa) ia berkata: Or¬ang-orang telah mengeluh kepada Nabi saw tentang terhentinya hujan, lalu beliau menyuruh mengambil mimbar. Maka, orang-¬orang pun menaruhnya di lapangan tempat shalat, dan beliau menjanjikan hendak mengajak mereka pada suatu hari ke tempat itu. ‘Aisyah melanjutkan: Rasulullah saw lalu berangkat pada waktu telah nyata sinar matahari, lalu ia duduk di atas mimbar, lalu membaca takbir dan memuji Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung, kemudian beliau mengatakan: Kamu telah mengeluhkan kegersangan negerimu dan tertangguhnya hujan dari waktunya. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu supaya bermohon kepada-Nya dan menjanjikan akan memperkenankan permohonanmu itu. Kemudian beliau berdoa: Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang menguasai hari pembalasan. Tiada Tuhan selain Allah, yang melaksanakan apa yang Dia kehendaki. Ya Allah, Engkaulah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Kaya, sementara kami adalah miskin, turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan itu kekuatan dan bekal bagi kami untuk waktu yang lama. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan terus mengangkatnya, sehingga kelihatan ketiaknya yang putih. Kemudian ia membelakangi orang banyak dan membalikkan pakaian atasnya sambil terus mengangkat kedua tangannya, kemudian ia menghadap kembali kepada orang banyak dan turun dari mimbar lalu shalat dua rakaat.” [HR. Abu Daud, No. 1173]

 Do’a lain yang Diajarkan Oleh Rasulullah SAW


اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْياَ رَحْمَةٍ، وَلاَ تَجْعَلْهَا سُقْياَ عَذَابٍ، وَلاَ مَحْقٍ وَلاَ بَلاَءٍ، وَلاَ هَدْمٍ وَلاَ غَرْقٍ. اَللَّهُمَّ عَلَى الظُّرَّابِ وَاْلآكَامِ، وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ، اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا. اَللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثاً مُغِيْثاً، هَنِيْئاً مَرِيْئاً مُرِيْعاً، سَحاً عَاماً غَدْقاً طَبَقاً مُجَلَّلاً، دَائِماً إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلاَدِ مِنْ الْجُهْدِ وَالْجُوْعِ وَالضَّنْكِ، مَا لاَ نَشْكُوْ إِلاَّ إِلَيْكَ.اَللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ اْلأَرْضِ، وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلاَءِ مَا لاَ يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّاراً، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَاراً.
( رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ :967؛ وَمُسْلِمٌ : 897؛ وَأَبُوْ دَاوُدَ 1169؛ وَالشَّافِعِيُّ:” اْلأُمُّ 1/222″ ، وَغَيْرُهُمْ).


“Ya Allah jadikanlah curahan ini sebagai rahmat dan jangan engkau jadikan curahan ini sebagai siksa, bukan kehancuran, bahaya, kerusakan dan bukan pula ketenggelaman bagi kami. Ya Allah turunkanlah hujan pada bukit-bukit, tumbuh-tumbuhan dan lembah-lembah. Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan hujan yang berakibat buruk atas kami. Ya Allah turunkanlah hujan yang melepaskan kami dari paceklik, tanpa disertai kesusahan, baik akibatnya, subur dengan kesegaran, deras dan lebat yang menyeluruh pada permukaan bumi terus-menerus (manfaatnya) sampai hari Kiamat. Ya Allah turunkanlah hujan untuk kami dan jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang berputus asa karena hujan yang belum turun. Ya Allah sungguh hamba-hamba-Mu serta negri-negri mereka tertimpa kesulitan, kelaparan dan paceklik yang dahsyat, sungguh tiada kami mengadu melainkan hanya kepada-Mu. Ya Allah tumbuhkanlah kebun-kebun untuk kami dan perbanyaklah susu kambing, turunkanlah barakah dari langit, tumbuhkanlah barakah-barakah bumi, keluarkanlah kami dari bahaya yang tiada seorangpun yang bisa mengeluarkannya melainkan hanya Engkau. Ya Allah sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu, sesungguhnya Engkau maha pengampun, maka turunkanlah hujan dari langit untuk kami.” 

HR. Imam Al-Bukhari no. 967, Imam Muslim no. 897, Imam Abu Daud no. 1169 dan Imam Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Umm juz 1 hal. 222 dll.

Asal kata istisqa' adalah saqaa (سقى). Di dalam kamus Lisanul Arab, kata istisqa' bermakna : meminta air (طلب السقيا). Dan secara istilah syariat, istisqa' bermakna ibadah shalat yang secara khusus dilakukan agar Allah SWT segera menurunkan air hujan. Biasanya shalat ini dilakukan bila terjadi kemarau berkepanjangan yang mengakibatkan keringnya sumber-sumber air, mati tanaman, hewan kehausan dan manusia kesusahan.

Shalat istisqa' adalah shalat yang disyariatkan dalam agama Islam. Dimana dahulu Rasulullah SAW pernah melakukannya sebagaimana tercantum dalam ayat Al-Quran dan hadits-hadits berikut ini.

1. Al-Quran

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
Maka aku katakan kepada mereka,"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh : 10-12)
2. Hadits
Ada banyak hadits yang menceritakan bagaimana dahulu Rasulullah SAW mengerjakan shalat istisqa' dan berdoa minta diturunkan hujan. Di antara sekian banyak hadits itu adalah hadits-hadits berikut ini :
a. Hadits Pertama : Hadits Ibnu Abbas

أَنَّ النَّاسَ قَدْ قَحَطُوا فِي زَمَنِ رَسُول اللَّهِ فَدَخَل رَجُلٌ مِنْ بَابِ الْمَسْجِدِ وَرَسُول اللَّهِ يَخْطُبُ . فَقَال : يَا رَسُول اللَّهِ هَلَكَتِ الْمَوَاشِي وَخَشِينَا الْهَلاَكَ عَلَى أَنْفُسِنَا فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَسْقِيَنَا . فَرَفَعَ رَسُول اللَّهِ يَدَيْهِ فَقَال : اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا مَرِيئًا غَدَقًا مُغْدِقًا عَاجِلاً غَيْرَ رَائِثٍ

Orang-orang mengalami kekeringan di masa Rasulullah SAW. Maka ada seorang masuk dari pintu masjid sedangkan Rasulullah SAW sedang berkhutbah. Orang itu berkata,"Ya Rasulallah, hewan ternak telah binasa dan kami takut kebinasaan itu juga akan menimpa kami. Mintalah kepada Allah untuk memberi kami air. Maka Rasulullah SAW mengangkat kedua tangganya dan berdoa,"Ya Allah, Ya Allah siramilah kami dengan hujan yang menyuburkan dan yang baik kesudahannya yang bertapis-tapis yang memberi manafaat tidak memberi mudharat segera tidak berlambat-lambat.
b. Hadits Kedua : Hadits Anas bin Malik

أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِنْ بَابٍ كَانَ وِجَاهَ الْمِنْبَرِ وَرَسُولُ اللَّهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَ رَسُولَ اللَّهِ قَائِمًا فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتْ الْمَوَاشِي وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ يُغِيثُنَا. قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ يَدَيْهِ فَقَالَ: اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا
Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu berkata bahwa seorang laki-laki masuk ke dalam masjid pada hari Jumat dari pintu yang berhadapan dengan mimbar, sedangkan saat itu Rasulullah SAW sedang berdiri menyampaikan khutbah. Orang itu kemudian menghadap ke arah Rasulullah SAW sambil berdiri seraya berkata,“Ya Rasulullah, hewan ternak telah binasa dan jalan-jalan terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami”. Anas berkata, “Maka Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya seraya berdoa,"Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan).”
قَالَ أَنَسُ : وَلَا وَاللَّهِ مَا نَرَى فِي السَّمَاءِ مِنْ سَحَابٍ وَلَا قَزَعَةً وَلَا شَيْئًا وَمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ سَلْعٍ مِنْ بَيْتٍ وَلَا دَارٍ.قَالَ: فَطَلَعَتْ مِنْ وَرَائِهِ سَحَابَةٌ مِثْلُ التُّرْسِ فَلَمَّا تَوَسَّطَتْ السَّمَاءَ انْتَشَرَتْ ثُمَّ أَمْطَرَتْ. قَالَ: وَاللَّهِ مَا رَأَيْنَا الشَّمْسَ سِتًّا.
Anas melanjutkan kisahnya,“Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikitpun awan baik yang tebal maupun yang tipis. Juga tidak ada antara tempat kami dan bukit itu rumah atau bangunan satupun.” Anas berkata, “Tiba-tiba dari bukit itu tampaklah awan bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan itupun menyebar dan hujan pun turun.” Anas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh kami tidak melihat matahari selama enam hari.”
ثُمَّ دَخَلَ رَجُلٌ مِنْ ذَلِكَ الْبَابِ فِي الْجُمُعَةِ الْمُقْبِلَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَهُ قَائِمًا فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتْ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ يُمْسِكْهَا. قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالْآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ. قَالَ: فَانْقَطَعَتْ وَخَرَجْنَا نَمْشِي فِي الشَّمْسِ
Anas berkata selanjutnya, “Kemudian pada Jumat berikutnya, ada seorang lelaki lagi yang masuk dari pintu yang sama sementara Rasulullah SAW sedang berdiri menyampaikan khutbahnya. Kemudian orang itu menghadap beliau sambil berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalanpun terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menahan hujan!” Anas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: “Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami. Ya Allah turunkanlah dia di atas bukit-bukit, gunung-gunung, bendungan air (danau), dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.” Anas berkata, “Maka hujan berhenti. Kami lalu keluar berjalan-jalan di bawah sinar matahari.” (HR. Al-Bukhari Muslim)
c. Hadits Ketiga : Hadits Aisyah
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: شَكَا النَّاسُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ قُحُوطَ الْمَطَرِ فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ فَوُضِعَ لَهُ فِي المُصَلَّى وَوَعَدَ النَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ فَخَرَجَ حِينَ بَدَا حَاجِبُ الشَّمْسِ فَقَعَدَ عَلَى المِنْبَرِ فَكَبَّرَ وَحَمِدَ اللَّهَ
Dari Aisyah ra berkata bahwa orang-oang datang mengadu kepada Rasulullah SAW atas tidak turunnya hujan (kemarau). Maka beliau memerintahkan orang-orang untuk menyiapkan mimbar pada tempat shalat (mushalla) dan berkumpul pada hari yang ditentukan. Beliau kemudian keluarrumah tatkala mahatari terik dan duduk di mimbar kemudian bertakbir dan memuji Allah
ثُمَّ قَالَ: "إِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدَبَ دِيَارِكُمْ وَقَدْ أَمَرَكُمْ اللَّهُ أَنْ تَدْعُوَهُ, وَوَعَدَكُمْ أَنْ يَسْتَجِيبَ لَكُمْ
Lalu beliau SAW bepidato,"Kalian telah mengadukan keringnya rumah dan Allah telah memerintahkan untuk meminta kepada-Nya serta berjanji untuk memberikan apa yang diminta".
Kemudian beliau SAW berdoa :
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ أَنْتَ الغَنِيُّ وَنَحْنُ الفُقَرَاءُ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ قُوَّةً وَبَلاغًا إِلَى حِينٍ
"Alhamdu lillahi rabbil 'alamin, Arrahmanurrahim, Maliki Yaumiddin, Laa Ilaha Illalah Yang Maha Mengerjakan apa yang diinginkan, Ya Allah, tidak ada tuhan kecuali Engkau, Engkau Maha Kaya dan kami orang yang faqir. Turunkan kepada kami air hujan. Jadikan apa yang Engkau turunkan itu sebagai kekuatan yang lama".
" ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمْ يَزَلْ حَتَّى رُئِيَ بَيَاضُ إِبِطَيْهِ ثُمَّ حَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ وَقَلَبَ رِدَاءَهُ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ ثُمَّ أَقْبِلَ عَلَى النَّاسِ وَنَزَلَ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَأَنْشَأَ اللَّهُ سَحَابَةً فَرَعَدَتْ وَبَرَقَتْ ثُمَّ أَمْطَرَتْ بِإِذْنِ اللَّهِ
Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya hingga nampak putihnya ketiaknya. Kemudian beliau membelakangi orang-orang dan membalik selendangnya dengan masih mengangkat tangannya. Kemudian berbalik lagi menghadap orang-orang dan turun lalu shalat dua rakaat. Maka Allah menciptakan awan hujan lengkap dengan guruh dan kilatnya. Kemudian turunlah hujan atas izin Allah SWT.
فَلَمْ يَأْتِ مَسْجِدَهُ حَتَّى سَالَتِ السُّيُولُ فَلَمَّا رَأَى سُرْعَتَهُمْ إِلَى الْكِنِّ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ. فَقَالَ : أَشْهَدُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنِّي عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
Beliau belum lagi sampai masjid namun sudah terjadi banjir air hujan. Ketika belliau menyaksikan kecepatan air masuk ke rumah beliau tertawa hingga nampak putihnya giginya. Beliau berkata,"Aku bersaksa bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan bahwa aku adalah hamba dan rasul-Nya. (HR. Al-Hakim dan Abu Daud)
d. Hadits Keempat : Abdullah bin Zaid
Hadits lainnya adalah hadits dari Abdullah bin Zaid Al-Mazani.
عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ t وَفِيهِ: فَتَوَجَّهَ إِلَى القِبْلَةِ يَدْعُو ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ
Dari Abdullah bin Zaid Al-Mazani bahwa Nabi SAW keluar kepada orang-orang untuk meminta diturunkan air hujan. Maka beliau shalat bersama mereka dua rakaat dengan mengeraskan bacaannya. (HR. Bukhari Muslim)
e. Hadits Kelima : Abu Hurairah
Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW keluar pada suatu hari untuk meminta hujan. Beliau shalat bersama kami dua rakaat tanpa azan dan iqamat. Kemudian berkhutbah untuk kami, berdoa kepada Allah, memalingkan wajah ke kiblat dengan mengangkat kedua tangan. Lalu membalikkan selendangnya sehingga yang kanan di kiri dan yang kiri di kanan. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)
Abu Hanifah menyatakan tidak ada shalat untuk minta hujan dengan berdasar kepada hadits yang menyebutkan Rasulullah saw minta hujan dengan berdoa tanpa shalat. 


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ [رواه مسلم وأبو داود وأحمد]


Artinya: “Dari Anas Ibn Malik (dilaporkan) bahwa Nabi saw minta hujan seraya menadahkan kedua telapak tangannya ke langit.”

Sesungguhnya, hadits yang dikemukakan di atas tidaklah saling bertentangan, melainkan menggambarkan beberapa cara Rasulullah saw dalam minta hujan; ada kalanya dengan hanya berdoa saja dan ada kalanya dengan shalat berjamaah.
Dalam shalat minta hujan terdapat Khutbah Istisqa’ yang dilakukan setelah shalat istisqa’. Akan tetapi dapat juga dilakukan sebelum shalat, berdasarkan hadits ‘Aisyah riwayat Abu Daud di atas. Khutbah istisqa’ itu satu kali seperti khutbah dua hari raya. Bahkan bila kita amati hadits Abu Daud dari ‘Aisyah di atas, tidak ada penyebutan duduk antara dua khutbah, sehingga karena itu dapat dipahami, bahwa khutbah istisqa’ itu adalah satu kali. Bahkan beberapa fuqaha memahami hadits Abu Daud dan Ibnu Abbas di bawah ini sebagai menunjukkan bahwa khutbah istisqa’ adalah satu kali. Hadits dimaksud adalah:


خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَبَذِّلًا مُتَوَاضِعًا مُتَضَرِّعًا حَتَّى أَتَى الْمُصَلَّى زَادَ عُثْمَانُ فَرَقَى عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ اتَّفَقَا وَلَمْ يَخْطُبْ خُطَبَكُمْ هَذِهِ وَلَكِنْ لَمْ يَزَلْ فِي الدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ وَالتَّكْبِيرِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا يُصَلِّي فِي الْعِيدِ [رواه أبو داود والنسائى والترمذي]


Artinya: “(Ibnu Abbas menceritakan) Rasulullah saw berjalan dengan pakaian lusuh, dan dengan hati pasrah dan khusyuk hingga sampai ke lapangan tempat shalat -‘Utsman Ibn Abi Syaibah, salah seorang perawi dalam hadits ini menambahkan. “lalu Rasulullah saw naik ke atas mimbar”, kemudian kata-kata ‘Utsman dan an-Nufaili sama lagi- dan beliau tidak berkhutbah seperti khutbah kamu ini, melainkan terus berdoa, khusyuk dan bertakbir, kemudian shalat dua rakaat seperti shalat dua hari raya.” [HR. Abu Daud, an-Nasa’i dan at-Tirmidzi]

Syamsuddin Ibnu Qudamah menyatakan: “Yang masyru’ adalah satu khutbah. Bagi kami, pernyataan Ibnu Abbad bahwa Nabi saw tidak berkhutbah seperti khutbah kamu ini menunjukkan bahwa beliau tidak mengantarai khutbahnya de¬ngan diam atau duduk antara dua khutbah, sebab semua mereka yang melaporkan khutbah tidak menyerukan adanya dua khutbah” (Asy-Syarh al-Kabir, bersama al-Mugni, II:289].

Az-Zaila’i mengomentari hadits ini dengan mengatakan: “Maksudnya adalah bahwa beliau berkhutbah, akan tetapi khutbahnya tidak dua kali seperti pada khutbah Jum’at, tetapi berkhutbah satu kali ... dan tidak diriwayatkan bahwa beliau pernah berkhutbah dua kali” (Nasb ar-Rayah, II:242).

Adapun cara khutbahnya adalah seperti khutbah pada umumnya. Hanya saja, dengan memperbanyak ucapan istighfar dan doa.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مَحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَي هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ وَعَلَي آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.




Shalat minta hujan itu dapat dilakukan secara perorangan atau berkelompok. Apabila berkelompok, maka diperlukan adanya imam dan dapat dilakukan dengan berdoa bersama saja, dengan dipimpin oleh imam atau dengan melakukan shalat. Apabila minta hujan itu dilakukan dengan berdoa saja, doa itu dapat dilakukan dalam khutbah Jum’at, atau di luar khutbah Jum’at, baik dalam masjid (di atas mimbar) maupun di luar masjid. Dan apabila dilakukan dengan shalat, hal itu dilaksanakan di lapangan, dengan khutbah sesudah shalat. Dan boleh juga khutbah dilakukan sebelum shalat. 
Dalam kitab Subulus-Salam dinyatakan, bahwa berdasarkan berbagai hadits, terdapat enam cara Nabi saw melakukan minta hujan. Pertama, Nabi saw keluar ke lapangan melakukan shalat istisqa’ dengan khutbah. Kedua, Nabi saw berdoa minta hujan dalam khutbah Jum’at. Ketiga, Nabi saw berdoa minta hujan di atas mimbar di masjid Madinah di luar hari Jum’at, tanpa shalat. Keempat, Nabi saw minta hujan dengan berdoa, duduk di dalam masjid. Kelima, Nabi saw berdoa minta hujan di Ahjaruz-Zait, dekat az-Zaura’, di luar masjid. Dan keenam, Nabi saw minta hujan ketika di medan perang. (Subulus-Salam, II: 78)
Para ulama fiqih sepakat tentang adanya bermacam cara Nabi saw melakukan istisqa’ ini. Kecuali Imam Abu Hanifah, yang berpendapat tidak ada shalat istisqa’ berjamaah untuk minta hujan; yang disyari’atkan hanya doa untuk minta hujan saja. Dalam Kitab-¬kitab Hanafi diriwayatkan, bahwa Abu Hanifah berkata: “Untuk istisqa’ (minta hujan) tidak ada shalat jamaah yang disunnahkan” (Fath al-Qadir, 11:91; al-Fatawa al-Hindiyyah, 1:153)
Alasan jumhur ulama yang menyatakan adanya (disyariat¬kannya) shalat istisqa’ adalah adanya hadits-hadits Nabi saw yang menyatakan bahwa Nabi saw melakukan shalat istisqa’ dengan berjamaah dan tidak hanya dengan sekadar berdoa. Antara lain adalah hadits:
عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَسْتَسْقِي قَالَ فَحَوَّلَ إِلَي النَّاسِ ظَهْرَهُ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ يَدْعُو ثُمَّ حَوَّلَ رِدَاءَهُ ثُمَّ صَلَّى لَنَا رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيْهِمَا بِالْقِرَاءَةِ [رواه البخاري ورواه أيضا وأبو داود والنسائي وأحمد]

Artinya: “Dari Abbad Ibn Tamim, dari pamannya (yaitu Abdullah Ibn Zaid) yang mengatakan: “Saya melihat Nabi saw pada hari ia keluar minta hujan, beliau membelakangi orang banyak dan mengha-dap ke Kiblat sambil berdoa, kemudian membalik pakaian atasnya, kemudian shalat mengimami kami dua rakaat, dengan menyaringkan bacaan dalam keduanya.” [HR. al-Bukhari, dan diriwayatkan juga oleh Abu Daud, an-Nasa’i dan Ahmad]

Hadits lain yang menjadi dasar adanya shalat istisqa’ adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ خَرَجَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا يَسْتَسْقِي فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ بِلَا أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ثُمَّ خَطَبَنَا وَدَعَا اللَّهَ وَحَوَّلَ وَجْهَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ رَافِعًا يَدَهُ ثُمَّ قَلَبَ رِدَاءَهُ فَجَعَلَ الْأَيْمَنَ عَلَى الْأَيْسَرِ وَالْأَيْسَرَ عَلَى الْأَيْمَنِ [رواه ابن ماجه وأحمد]
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra (dilaporkan), bahwa dia berkata: Nabi saw pada suatu hari keluar untuk melakukan istisqa’, lalu ia shalat mengimami kami dua rakaat tanpa azan dan tanpa iqamat. Kemudian ia berkhutbah dan berdoa kepada Allah, seraya menghadapkan mukanya ke arah Kiblat, sambil mengangkat kedua tangannya, kemudian memutar jubabnya, sehingga ujung kanannya berada di sebelah kiri dan ujung kirinya berada di sebelah kanan.” [HR. Ibnu Majah dan Ahmad]

Kamis, 17 Oktober 2019

Tagged under:

Dijauhkan dari Gangguan Orang Kafir

ONE DAY ONE DOA
Kamis,  17  Oktober 2019 M / 18  Shafar 1441 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)

 


رَبَّنَا لا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ


RABBANAA LAA TAJ'ALNAA FITNATAN LILLADZIINA KAFARUU WAGHFIR LANAA RABBANAA INNAKA ANTA L'AZIIZU LHAKIIM


“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

 ( Q.S. Al Mumtahanah: 5)
 

Doa tersebut berlindung kepada Allah SWT dari fitnah dan keburukan orang-orang kafir yang bisa menimpakan keburukan pada orang beriman. Doa tersebut berisi permohonan kepada Allah agar orang kafir tidak diberikan kekuasaan kepada orang beriman. Dan agar Allah tidak menimpakan ujian kepada orang beriman karena dosa dan kesalahan. Bila orang kafir berada di keadaan berkuasa dan kemenangan, maka mereka mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran dan orang beriman berada di atas kebatilan sehingga mereka bertambah kafir dan melampaui batas.

Mujahid mengatakan bahwa makna ayat ialah janganlah Engkau menyiksa kami melalui tangan mereka, jangan pula dengan siksaan dari sisi Engkau. Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah janganlah Engkau biarkan mereka menang atas kami, karena akibatnya mereka akan memfitnah kami, dan mereka akan menduga dan berpandangan bahwa sesungguhnya diri mereka berada dalam kebenaran. 


Makna dan kosa-kata kafir dikenalkan oleh Allah Ta’ala sebagai identitas sebaliknya dari kaum beriman

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dia-lah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allâh Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” [at-Taghâbun/64 : 2]
Orang beriman adlah orang yang mendapatkan kebahagiaan, orang kafir adalah orang yang celaka. Dalam al-Qur’ân banyak penjelasan tentang perbuatan dan keyakinan rusak orang-orang kafir serta perangai dan sifat-sifat mereka yang buruk. Diantaranya, mengingkari hari kebangkitan dan menganggapnya akhirat itu mustahil, mereka tidak beriman kepada takdir, mengeluh dan berkeluh kesah ketika tertimpa musibah, tidak punya harapan kepada Allah Ta’ala, dusta, sombong, berpaling dari ayat-ayat-Nya, hati mereka penuh hasad (rasa iri) terhadap kaum beriman yang telah mendapatkan nikmat iman dan mereka berharap nikmat iman itu sirna dari kaum Muslimin. Hasad inilah yang mendorong mereka berusaha menyesatkan orang beriman.

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka).
[an-Nisâ/4:89]

Orang kafir berpura-pura amanah, berprilaku dan berperangai terpuji supaya bisa mengambil manfaat dibalik semua ini. Namun, Allah  Ta’ala membongkar kedok mereka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil orang-orang yang di luar kalanganmu menjadi teman kepercayaanmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.”

 [Ali Imrân/3:118)]

Membungkus kedustaan dengan kejujuran, khianat dengan amanah, sering membela kebatilan dan menyembunyikan kebenaran. Meski tipu daya mereka terhadap kaum Muslimin sangat luar biasa, namun Allah Ta’ala tidak akan tinggal diam. Allah Ta’ala menghinakan mereka. Allah melarang rasul-Nya mentaati orang-orang kafir.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ

Hai Nabi, bertakwalah kepada Allâh dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. 

[al-Ahzâb/33:1]

Seluruh amalan dan urusan orang kafir tidak bertolak dari motive mencari ridla Allah. Orang-orang kafir tidak tahu menahu ilmu akhirat. Tujuan hidup mereka sebatas Makmur di dunia, kaya di dunia, dan bahagia hidup di dunia. Orientasi  hidup mereka sebatas bersenang-senang, makan dan minum, tanpa peduli halal dan haram.

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.”
 [ar-Rûm/30:7]

Orang kafir hidup dalam kegelapan, kesesatan serta hanya memperturutkan hawa nafsu. Anggota tubuh yang mestinya merupakan sarana menggapai hidayah sudah tidak berfungsi lagi. Hati mereka mati, telinga mereka tuli dan mata mereka buta, tidak mau mendengar dan melihat kebenaran. Setan menggiring mereka untuk selalu bermaksiat dan mencari kesenangan-kesenangan nafsu sesaat. Sehingga apa yang mereka lakukan seperti debu yang berterbangan. Amal kebaikan mereka tidak berguna.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. 

[al-Bayyinah/98 : 6]

Sabtu, 12 Oktober 2019

Tagged under:

Doa Memohon Agar Dikaruniai Anak

ONE DAY ONE DOA
Sabtu,  12  Oktober 2019 M / 19 Shafar 1441 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)
.

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء

RABBI HAB LII MIN LADUNKA DZURRIYYATAN THAYYIBATAN INNAKA SAMII'U DDU'AA'-

“Duhai Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sungguh Engkau Maha Pendengar doa.”

(QS. Ali Imran: 38)

Anak keturunan adalah perhiasan rumahtangga. Akan terasa hampa sebuah pernikahan yang tanpa dihiasi anak. Celotehan,  kepolosan, dan bila sudah sedikit dewasa, doa merupakan bagian dari perhiasan keluarga sakinah. Setiap pasangan suami istri pasti ingin memiliki anak. Siapa yang bisa memberikan anak? Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kuasa menganugerahkannya. Karenanya sangat penting berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia menganugerahkan anak.

Ada kalanya seseorang telah berdoa hingga bertahun-tahun, namun doa itu mungkin tak kunjung terkabul. Meski begitu, berdoalah dan teruslah berdoa. Jangan berputus asa. Tanamkan keyakinan bahwa Allah Ta’ala Maha Mengatur segala urusan, Allah Maha Mendengar dan Allah Maha Mengabulkan segala doa hambaNya. Berdoalah kepada Allah dengan suara yang lembut, penuh perendahan diri di hadapan Allah Rabbul ‘alamin. Bangun malam, berjamaah  antara suami isteri untuk shalat tahajud, kemudian istighfar 100, lanjutkan doa dengan suara lirih, sebagaimana halnya doa Nabi Zakaria tersebut.
Doa  dalam QS 3:38 tersebut adalah doa Nabi Zakariya memohon agar dikaruniai anak. Kehadiran anak  adalah kabar gembira. Siapa pun yang telah menikah lalu dikaruniai buah hati, hendaklah senantiasa bersyukur. Syukur itu ditancapkan dalam hati, dituturkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan. Di antara wujud syukur melalui perbuatan adalah: ajarkan shalat jamaah di masjid kepada anak, ajari mencitai rumah Allah Ta’ala sejak dini, didik anak dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabar atas perilaku mereka, dan selalu mendoakan kebaikan bagi mereka.
Doa minta anak yang dipanjatkan oleh Nabi Zakariya ‘alaihis salam. Kisah lengkapnya diterangkan Allah dalam Surat Ali Imran ayat 38-41 sebagai berikut:
Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, “Ya Tuhanku berilah aku keturunan yang baik dari sisiMu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” Kemudian para malaikat memanggilnya ketika dia berdiri melaksanakan shalat di mihrab (katanya) “Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan kelahiran (putamu bernama) Yahya yang membenarkan sebuah kalimat (Firman) dari Allah, panutan, berkemampuan menahan diri dari hawa nafsu dan seorang Nabi di antara orang-orang saleh.”
Dia Zakaria berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapatkan anak sedangkan aku sangat tua dan istriku seorang yang mandul.” Allah berfirman, “Demikianlah Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” Zakariya berkata, “Ya Tuhanku berilah aku suatu tanda (bahwa istriku mengandung)” Allah berfirman, “Tanda bagimu adalah bahwa engkau tidak bisa berbicara dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan isyarat dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknyanya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.”

(QS. Ali Imran: 38-41)

Ketika menafsirkan ayat tersebut, Wahbah Az Zuhaili menjelaskan kisah Nabi Zakariya bahwa ia sangat menginginkan anak khususnya setelah melihat Maryam yang mencurahkan seluruh waktu dan tenaganya untuk beribadah kepada Allah.
“Maka Nabi Zakariya berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar dikaruniai anak yang saleh seperti Maryam dari keturunan Nabi Yaqub Alaihissalam seraya berkata, ‘Ya Tuhanku Engkau Maha Mendengar setiap ucapan, memperkenankan setiap doa yang baik,”
Terkait kata “malaa-ikah” dalam ayat tersebut, Wahbah menjelaskan, menurut mayoritas ulama tafsir, malaikat yang berbicara kepadanya adalah Jibril. Namun pendapat yang lebih kuat menurut Imam Al Qurthubi adalah bahwa yang berbicara kepada Zakaria adalah para malaikat banyak. Maksudnya panggilan atau perkataan tersebut berasal dari para malaikat.
Waktu itu Nabi Zakariya sedang berdiri memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menunaikan shalat dalam mihrab tempat ibadahnya. Malaikat tersebut berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggembirakan kamu dengan seorang anak yang diberi nama Yahya.’ Ketika menerima kabar gembira tersebut, Nabi Zakaria merasa takjub dan berkata ‘Bagaimana saya bisa mendapatkan seorang anak padahal saya sudah lanjut usia dan istri saya mandul.’
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi jawaban melalui perantara malaikat, ‘Begitulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berbuat apa yang dikehendakiNya.’ Maksudnya seperti penciptaan seorang anak yang tidak seperti biasanya dialami oleh dirinya bersama istrinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berbuat apa yang dikehendakiNya di alam ini.
“Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki sesuatu, maka Dia akan mewujudkan baik melalui sebab atau perantara yang biasa berlaku maupun tidak. Dan di antaranya Allah menciptakan anak dari seorang ibu yang mandul,” lanjut Syaikh Wahbah.
Lalu Nabi Zakaria meminta kepada Allah agar ia diberi sebuah pertanda yang menunjukkan kalau istrinya sudah hamil karena dirinya ingin segera merasakan kebahagiaan tersebut atau dirinya ingin mensyukuri nikmat tersebut. Lalu Allah menjadikan pertanda tersebut dalam bentuk dirinya tidak mampu berbicara kepada orang-orang kecuali hanya dengan isyarat; dengan tangan atau kepala atau lainnya selama tiga hari berturut-turut. Allah juga menyuruhnya untuk memperbanyak dzikir dengan membaca takbir dan tasbih di kala ia sedang dalam kondisi tersebut terutama pada waktu pagi dan sore hari.
Demikianlah dikabulkannya doa minta anak tersebut. Nabi Zakariya yang sudah sangat tua dan istrinya yang mandul akhirnya mendapatkan seorang anak yang shalih, bahkan seorang Nabi. Yang tak kalah istimewa, Allah juga memberi nama pilihan kepada anak tersebut; Yahya.
Sebagaimana Nabi Zakariya, Nabi Ibrahim pun memanjatkan doa kepada Allah agar dikaruniai anak.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
RABBI HAB LII MINA SHSHAALIHIIN

“Duhai Tuhanku, anugerahkanlah bagiku (seorang anak) yang termasuk orang shalih.”

(QS. Ash-Shaffat: 100)

Putus asa, merasa doanya tidak akan terkabul, serta tergesa-gesa ingin doanya segera terwujud merupakan sikap yang menjadi penghalang terkabulnya doa. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يستجاب لأحدكم ما لم يعجل يقول دعوت فلم يستجب لي

“Doa yang dipanjatkan seseorang di antara kalian akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa. Dirinya berkata, ‘Aku telah berdoa namun tidak juga terkabul.’”
Barang siapa yang belum dikabulkan doanya jangan sampai lalai dari dua hal:Mungkin ada penghalang yang menghambat terkabulnya doa tersebut, seperti: memutus hubungan kekerabatan, bersikap lalim dalam berdoa, atau mengonsumsi makanan yang haram. Secara umum, seluruh perkara ini menjadi penghalang terkabulnya doa.
Tanamkan dalam keyakinan kita, bahwa boleh jadi pengabulan doanya ditangguhkan atau dia dipalingkan dari keburukan yang senilai dengan isi doanya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu,

أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : “ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث : إما أن يعجل له دعوته وإما أن يدخرها له في الآخرة وإما أن يصرف عنه من السوء مثلها ” قالوا : إذن نكثر قال : ” الله أكثر”

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak pula pemutusan hubungan kekerabatan, melainkan Allah akan memberinya salah satu di antara tiga hal: doanya segera dikabulkan, akan disimpan baginya di akhirat, atau dirinya akan dijauhkan dari keburukan yang senilai dengan permohonan yang dipintanya.” Para shahabat berkata, “Kalau begitu, kami akan banyak berdoa.” Rasulullah menanggapi, “Allah lebih banyak (dalam mengabulkan doa kalian).” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya’la dengan sanad jayyid (baik); hadits ini berderajat shahih dengan adanya beberapa hadits penguat dari jalur ‘Ubadah bin Shamit yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim, serta dari jalur Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya.)

Akan lebih utama mengiringi doa tersebut dengan banyak beristighfar dan memohon ampun kepada Allah. Karena Allah menjanjikan banyak hal bagi orang yang banyak istighfar, salah staunya adalah anak. Allah Subhanahu wata’ala  menceritakan ajakan Nabi Nuh AS kepada umatnya,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا* يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا* وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

“… istighfarlah kepada Rabb-mu karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan menciptakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.”
(QS. Nuh: 10-12).

Jumat, 11 Oktober 2019

Tagged under: ,

Hentikan Kebohongan!

Buletin Kaffah, No. 110, 12 Shafar 1441 H/11 Oktober 2019 M

Sekarang adalah era informasi. Termasuk informasi via media sosial. Setiap orang bisa menjadi sumber sekaligus penyebar informasi. Tentu akan bagus sekali kalau informasi yang beredar itu tentang kebaikan dan merupakan informasi yang benar.

Namun, sayangnya tidak selalu demikian. Begitu banyak informasi yang sering bertolak belakang satu sama lain. Banyak informasi yang tidak jelas, konten maupun sumbernya. Banyak informasi yang bombastis dan cenderung berlebihan. Banyak bertebaran informasi bohong. Banyak fakta yang diputarbalikkan. Banyak informasi yang direkayasa tanpa fakta nyata. Juga banyak informasi menyesatkan.

Ketika menghadapi bombardir informasi yang sedemikian rupa itu, terjadilah hal yang kebalik-balik. Orang jujur dicap pendusta. Pendusta dinilai jujur. Pengkhianat dipercaya dan diberi amanah. Orang yang amanah dicap pengkhianat/tidak dipercaya dan tidak diberi amanah. Amanah yang ada pada dirinya pun dicabut. Mungkin era inilah yang diperingatkan oleh Rasul saw.:

«سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ»، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ السَّفِيهُ (التَّافِهُ) يَتَكَلَّم فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»
“Akan datang pada manusia tahun-tahun penuh tipuan. Di dalamnya pembohong dipercaya. Orang jujur justru dinilai pembohong. Pengkhianat diberi amanah. Orang amanah dinilai pengkhianat. Di situ ruwaibidhah berbicara.” Ditanyakan, “Apakah ruwaibidhah itu?” Beliau bersabda, “Orang bodoh yang berbicara tentang urusan publik.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim dan ath-Thabarani).

Peran Buzzer

Informasi bohong atau hoax yang berseliweran salah satunya adalah akibat ulah para buzzer (pendengung/penggonggong) durjana. Mereka membuat dan atau menyebarkan informasi bohong. Informasi bohong itu juga direproduksi dan dipermak sedemikian rupa. Akibatnya, satu kebohongan bisa beranak-pinak menjadi sekian banyak kebohongan.

Para buzzer itu tidak hanya bertindak sendirian. Mereka berkelompok bahkan terorganisir. Mereka bergerak dan digerakkan layaknya pasukan di dunia siber (pasukan siber). Penggunaan pasukan siber menjadi fenomena global. Hal itu diungkap dalam penelitian Samantha Bradshaw dan Philip N. Howard dari Universitas Oxford Inggris dengan judul, “The Global Disinformation Order, 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation”.

Penggunaan pasukan siber itu juga terjadi di Indonesia. Penggunanya bisa parpol, individu bahkan rezim. Tujuannya adalah menciptakan disinformasi, menekan hak dasar manusia, mendiskreditkan oposisi politik dan membenamkan pendapat yang berlawanan. Dalam laporan itu juga disebutkan, buzzer di Indonesia dikontrak dengan bayaran 1 juta-50 juta (Cnbcindonesia.com, 4/10).

Riset itu juga menemukan bukti buzzer di Indonesia menyebarkan pesan propaganda untuk mendukung pemerintah, menyerang oposisi dan menciptakan polarisasi publik (https://www.law-justice.co/artikel/73449/terbongkar-tujuan-buzzer-di-indonesia-untuk-menyesatkan-publik/).

Hoax Haram!

Ahli Komunikasi dari Universitas Indonesia (UI), Profesor Muhammad Alwi Dahlan, menjelaskan bahwa hoax merupakan kabar bohong yang sudah direncanakan oleh penyebarnya. "Hoax merupakan manipulasi berita yang sengaja dilakukan dan bertujuan untuk memberikan pengakuan atau pemahaman yang salah," ujar Alwi.

Alwi menjelaskan, hoax berbeda dengan berita bohong biasa karena hoax direncanakan sebelumnya. "Berbeda antara hoax dan berita karena orang salah kutip. Pada hoax ada penyelewengan fakta sehingga menjadi menarik perhatian masyarakat," jelas Alwi. Ia juga menjelaskan bahwa hoax sengaja disebarkan untuk mengarahkan orang ke arah yang tidak benar (Antaranews.com, 11 Januari 2017).

Ash-Shan’ani di dalam Subul as-Salâm menjelaskan, ash-shidqu (kejujuran) adalah apa yang sesuai fakta (mâ thâbaq al-wâqi’a). Sebaliknya, al-kadzibu (kebohonan/hoax) adalah apa yang menyalahi fakta (mâ khâlafa al-wâqi’a). Inilah hakikat keduanya menurut jumhur.

Dalam Islam, kebohogan (al-kadzib) secara umum adalah haram. Berbohong, termasuk di dalamnya membuat berita bohong, adalah dosa dan haram hukumnya. Begitu pula menyebarkan berita bohong itu. Abdullah bin Mas’ud menuturkan bahwa Rasul saw. bersabda:

«وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّهُ مَعَ الْفُجُورِ وَهُمَا فِى النَّارِ»
Tinggalkanlah kebohongan karena sungguh kebohongan itu bersama kekejian dan kedua (pelaku)-nya di neraka (HR Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan ath-Thabarani).

Berbicara bohong juga dinyatakan sebagai salah satu karakter orang munafik. Hal itu menunjukkan bahwa berbohong merupakan dosa besar. Dalam hal ini, membuat tulisan bohong sama dengan berbicara bohong.

Semua bentuk berbohong dilarang untuk dilakukan oleh siapapun, kepada siapapun dan dengan maksud apapun. Termasuk berbohong untuk mendukung rezim penguasa. Rasul saw bersabda:

« إِنَّهُ سَتَكُوْنُ بَعْدِي أُمَرَاءُ مَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ »
Sungguh akan ada sesudahku para pemimpin. Siapa saja yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka maka ia bukan golonganku dan aku pun bukan golongannya; ia pun tidak akan masuk menemaniku di telaga.  Sebaliknya, siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka maka ia termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya; ia pun akan masuk ke telaga bersamaku (HR an-Nasai, al-Baihaqi dan al-Hakim).

Membenarkan kebohongan penguasa adalah haram. Pelakunya bisa tidak masuk surga dan tidak diakui sebagai golongan Nabi saw. Apalagi berbohong untuk mendukung kebohongan penguasa atau membantu kezaliman penguasa. Tentu lebih besar lagi dosanya.

Berbohong hanya dibolehkan dalam tiga keadaan. Rasul saw. bersabda:

« كُلُّ الْكَذِبِ يُكْتَبُ عَلَى ابْنِ آدَمَ إِلاَّ ثَلاَثَ خِصَالٍ رَجُلٌ كَذَبَ عَلَى امْرَأَتِهِ لِيُرْضِيَهَا أَوْ رَجُلٌ كَذَبَ فِى خَدِيعَةِ حَرْبٍ أَوْ رَجُلٌ كَذَبَ بَيْنَ امْرَأَيْنِ مُسْلِمَيْنِ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمَا »
Semua kebohongan ditulis (sebagai dosa, red.) atas anak Adam kecuali tiga macam: seseorang yang berbohong kepada istrinya untuk menyenangkan dia; seseorang berbohong sebagai tipudaya dalam perang; atau seseorang berbohong kepada dua orang Muslim untuk mendamaikan keduanya (HR Ahmad).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Ashqalani menyatakan dalam Fath al-Bârî, “Mereka sepakat bahwa yang dimaksud kebohongan (yang dibolehkan) atas perempuan dan laki-laki itu tidak lain dalam apa yang tidak menggugurkan hak yang mesti ditunaikan atas dirinya atau tidak mengambil apa yang menjadi haknya.”

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim menyatakan, “Yang dimaksud kebohongannya kepada istrinya atau sebaliknya adalah dalam menampakkan kecintaan dan janji dengan apa yang tidak mengikat dan semacamnya. Adapun tipudaya dalam menghalangi apa yang menjadi kewajibannya atau mengambil apa yang menjadi haknya adalah haram menurut ijmak kaum Muslim.”

Hentikan dan Jauhi Hoax

Imam al-Ghazali menilai, kebohongan merupakan dosa yang sangat tercela. Kebohongan juga dinilai sebagai dosa besar. Ar-Ruwiyani dari kalangan Syafiiyah menilai kebohongan merupakan al-kabîrah (dosa besar). 

Kebohongan, membuat berita bohong (hoax) dan menyebarkan kebohongan adalah dosa besar yang termasuk tindakan jarîmah (kriminal) dalam pandangan Islam. Namun demikian, Islam tidak menetapkan sanksinya secara spesifik. Jadi hal itu masuk dalam ta’zir. Artinya, jenis dan kadar hukumannya diserahkan kepada Khalifah atau qâdhi. Jika kebohongan atau hoax itu menyebabkan dharar atau kerugian maka sanksi hukumnya tentu sebanding dengan besarnya dharar atau kerugian yang ditimbulkan itu.

Islam memerintahkan untuk menjauhi kebohongan atau hoax dan tidak menyebarkannya. Untuk itu, Islam mensyariatkan tabayyun. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, klarilifikasilah, agar kalian tidak menimpakan bencana atas suatu kaum karena suatu kebodohan sehingga kalian menyesali apa yang telah kalian lakukan (TQS al-Hujurat [49]: 6).

Kata tabayyun bermakna klarifikasi. Itu menjadi kata kunci dalam menghadapi berita hoax. Imam ath-Thabari memaknai kata tabayyun dengan menyatakan, “Endapkanlah dulu sampai kalian mengetahui kebenarannya. Jangan terburu-buru menerimanya.” (Ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabarî, 22/268).

Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi mengartikan tabayyun dengan menyatakan, “Telitilah kembali sebelum kalian berkata, bertindak atau memvonis.” (Al-Jazairi, Aysar at-Tafâsir, 4/119).

Karena itu dalam berbicara dan bermedia sosial, hendaknya seorang Muslim tidak gampang menge-share apa saja yang diterima. Rasul saw. mengingatkan:
« كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ »
Cukuplah orang dinilai pendusta jika dia biasa menceritakan semua yang dia dengar (HR Muslim).

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Hikmah:

Allah SWT berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kalian senantiasa bersama orang-orang yang benar/jujur.
(TQS at-Taubah [9]: 119).