image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Sabtu, 24 Agustus 2019

Tagged under:

Doa Sebelum Tidur

ONE DAY ONE DOA
Sabtu, 24  AGUSTUS 2019 M / 22  Dzulhijjah 1440 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Penulis tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ، نَامَ عَلَى شِقِّهِ الأَيْمَنِ ثُمَّ قَالَ
اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ. وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَالَهُنَّ ثُمَّ مَاتَ تَحْتَ لَيْلَتِهِ مَاتَ عَلَى الْفِطْرَةِ.

Dari al-Baraa ibn 'Azib, dia berkata: Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hendak beranjak ke tempat tidurnya, maka beliau berbaring pada sisi kanannya, kemudian beliau membaca:  Ya AIlah, aku berserah diri kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku menyerahkan urusanku kepada-Mu, dan aku menyandarkan punggungku (bergantung) kepada-Mu, dalam keadaan berharap dan takut kepada-Mu, karena tidak ada tempat berlindung dan tempat lari dari (adzab)Mu kecuali (dengan berlindung) kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan (aku beriman) kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa membacanya lalu meninggal pada malam itu, maka dia meninggal dalam keadaan fitrah (dan dijamin masuk surga).

Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (XI/109 no. 6311)] dan Shahiih Muslim (IV/2081 no. 2710).

Lafal doa  sebelum tidur adalah

اَللّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، اَللّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ.

“Ya Allah, kuserahkan jiwaku pada-Mu, dan kuhadapkan wajahku pada-Mu. Kupasrahkan urusanku pada-Mu, dan ku-sandarkan punggungku pada-Mu, dengan harap dan cemas kapada-Mu. Tidak ada tempat bersandar dan berlindung dari-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan. Dan Nabi-Mu yang Engkau utus.”
Jika engkau meninggal pada malam itu, maka engkau meninggal dalam keadaan fithrah. Jadikanlah ia akhir pembicaraanmu.”

Hadits tersebut menjelaskan perihal sunah sebelum tidur
1. Anjuran untuk mengingat Allah di setiap waktu, salah satunya adalah sebelum  tertidur.
2. Anjuran untuk berbaring pada sisi tubuh sebelah kanan saat tidur.
3. Anjuran berdoa dg doa ini ktika hendak tidur, agar bila ajal datang, maka surga telah menanti.
4. Kesempurnaan syari'at Islam ditunjukka hingga adab dan tata cara ketika akan  tidurpun di jelaskan dalam syari'at Islam.
5. Keutamaan doa yang diajarkan Rasulullah, jika membacanya sebelum tidur dan meninggal disaat itu, maka ia meninggal dalam keadaan diampuni dosanya.
6. Hadist tersebut menganjurkan kita untuk berdoa sebelum tidur. Karena kematian bisa datang kapan saja, bahkan saat kita sedang tidur. Maka ketika membacakan doa sebelum tidur, inshaAllah dosa kita akan diampuni karena kita telah memohon ampun sebelum pergi.
7. Hanya kepada Allah Subhanahu wata'ala lah kita bertawakal, tidak boleh bertawakal kepada  selain-Nya.  Ada 2 hal yg hendaknya harus selalu ada ketika kita berdoa kpd allah Subhanahu wata'ala, yaitu rasa berharap dan takut. Berharap untuk dikabulkan dan takut tidak di dengar doanya karena menyadari posisi diri.
8.  Allah Subhanahu wata'ala menunjukkan Rahmat Nya, yg menjadikan amal yang terlihat kecil dan sepele di mata manusia tapi dibalas   dengan balasan yang sempurna.
Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah
اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا   ۚ  فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَ يُرْسِلُ الْاُخْرٰۤى اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى   ۗ  اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
"Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir."
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 42)

.

Jumat, 23 Agustus 2019

Tagged under:

Doa Ketika Mimpi Buruk

ONE DAY ONE DOA
Jumat, 23  AGUSTUS 2019 M / 21  Dzulhijjah 1440 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Penulis tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)

هُوَ اللهُ ، اَللهُ رَبِّيْ لَا شَرِيْكَ لَهُ. أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَمِنْ شَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ
HUWALLAHU, ALLAHU RABBI, LA SYARIKA LAHU. A‘UDZU BIKALIMATILLAHIT TAMMATI MIN GHADHABIHI WA MIN SYARRI IBADIHI WAMIN HAMAZATIS SYAYATINI WA AN YAHDHURUNI.
“Dialah Allah, Allah Tuhanku. Tiada sekutu bagi-Nya. Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan para hamba-Nya, dan godaan setan. Aku pun berlindung kepada-Nya dari kepungan setan itu.”
Bisa juga membaca doa  berikutnya adalah
أَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَان وَسَيِّئاَتِ اْلأَحْلاَمِ
ALLOHUMMA INNI A’ZUBIKA MIN ‘AMALIS SYAITHONI WA SAYYI-ATIL AHLAM.
“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari perbuatan setan dan buruknya mimpi.”

Mimpi buruk adalah bisikan dan gangguan syetan dari jenis jin. Bila mengalami mimpi buruk disunahkan meniup ke sebelah kirinya tiga kali dan membaca ta’awwudz sebanyak tiga kali. Kemudian setelah itu hendaknya ia membalik tubuhnya ke sisi yang lain, dengan demikian tidak ada lagi yang membahayakan dan mengganggunya. Berdasarkan hadits

الرؤيا الصالحة من الله، والحلم من الشيطان، فإذا رأى أحدكم ما يكره فلينفث عن يساره ثلاثا، وليتعوذ بالله من الشيطان ومن شر ما رأى ثلاثاً، ثم ينقلب على جنبه الآخر، فإنها لا تضره ولا يخبر بها أحداً

“Mimpi yang baik itu dari Allah. Sedangkan mimpi yang buruk itu dari setan. Jika salah seorang dari kalian bermimpi yang tidak ia sukai, maka hendaknya ia meniup ke sebelah kirinya tiga kali dan membaca ta’awwudz sebanyak tiga kali. Kemudian setelah itu hendaknya ia membalik tubuhnya ke sisi yang lain, dengan demikian tidak ada lagi yang membahayakan dan jangan ceritakan kepada seorang pun mimpi tersebut”

(HR. Bukhari no. 6995, Muslim no. 2261).

Hadits tersebut resep bagi seorang mukmin ketika ia bermimpi yang tidak ia sukai untuk berlindung kepada Allah, meniup ke sebelah kiri, ke,udian beralih posisi tidur.Mimpi buruk seringkali terjadi ketika memikirkan banyak hal, mimpi buruk itu terjadi karena gangguan setan dari jenis jin, dan bila mimpi buruknya agak sering itu pertanda ada jin di tubuh orang tersebut, maka bacalah surat al Baqarah dengan terlebih dahulu diniatkan untuk berlindung kepada Allah dan membersihkan gangguan dari makhluk jahat yang ada ditubuh, kemudian silahkan memulai taawudz dan baca surat al Baqarah.

Tidur adalah salah satu kebutuhan dasar biologis kita. Tidur yang seharusnya menjadikan situasi transisi kita yakni dari alam sadar menuju alam tidak sadar. Apalagi diwaktu kita tidur tersebut dibubuhi dengan beragam mimpi indah sebagai bunga dari tidur, tentunya dampak ketika kita terbangun pun akan terasa lebih segar (fresh). Akan tetapi, bila sebaliknya, yaitu mengalami mimpi buruk. Pastilah ketika terbangun dari mimpi buruk tersebut, otomatis merasakan  dampak negatif, seperti, jantung berdetak cepat, pikiran tidak karuan, berkeringat, dihantui rasa takut berlebihan, dan lain-lain.

  Mimpi  buruk bisa karena trauma akibat kejadian yang kurang menyenangkan di kehidupan yang selalu anda pikirkan setiap saat sehingga sampai terbawa ke tidur. Sehingga ada baiknya jika anda akan tidur itu membaca doa sebelum tidur, sehingga anda akan selalu mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Oleh karenanya di antara bacaan dzikir saat tidur adalah,

بِاسْمِكَ رَبِّيْ وَضَعْتُ جَنْبِيْ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، فَإِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

BISMIKA ROBBI WADHO’TU JAMBII, WA BIKA ARFA’UH, FA-IN AMSAKTA NAFSII FARHAMHAA, WA IN ARSALTAHAA FAHFAZH-HAA BIMAA TAHFAZH BIHI ‘IBAADAKASH SHOOLIHIIN.

“Dengan nama Engkau, wahai Rabbku, aku meletakkan lambungku. Dan dengan namaMu pula aku bangun daripadanya. Apabila Engkau menahan rohku (mati), maka berilah rahmat padanya. Tapi, apabila Engkau melepaskannya, maka peliharalah (dari kejahatan setan dan kejelekan dunia), sebagaimana Engkau memelihara hamba-hambaMu yang shalih.”
(HR. Bukhari, no. 6320 dan Muslim, no. 2714)

Ketika seseorang tidur, maka ia mengalami kematian kecil. Allah Subhanahu wata’ala berfirman

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُسَمًّى ۖثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.”

(QS. Al-An’am: 60)

Begitu juga firman Allah berikut menegaskan bahwa tidur bentuk lain dari kematian kecil

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖفَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚإِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.”

(QS. Az-Zumar: 42)

Tagged under: ,

Menyongsong “Hijrah”

Buletin Kaffah no. 103, 22 Dzulhijjah 1440 H-23 Agustus 2019 M.

Umar bin al-Khaththab ra. pernah berpesan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat, red).”

Artinya, di dunia ini, sekaranglah waktu kita menghisab diri. Di mana posisi kita antara dosa dan pahala, antara kemaksiatan dan ketataan, antara neraka dan surga. Di mana posisi kita terhadap Islam dan syariahnya, juga di tengah umat Islam.  Sejauh mana berbagai larangan Allah SWT telah ditinggalkan? Sejauh mana perintah-Nya telah dikerjakan?

Muhasabah atau introspeksi diri ini penting dilakukan terus-menerus. Tentu agar setiap dari kita bisa memperbaiki diri atau ber-“hijrah”.

Hijrah secara bahasa adalah berpindah dari sesuatu ke sesuatu yang lain atau meninggalkan sesuatu menuju sesuatu yang lain. Jadi hijrah itu identik dengan perubahan. Tentu perubahan ke arah yang baik. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan.

Hijrah itu terjadi karena adanya kesadaran tentang perlunya perubahan dari keadaan yang sedang eksis ke keadaan baru yang ingin diwujudkan. Kesadaran itu tentu muncul karena adanya muhasabah atau instrospeksi diri. Karena itu muhasabah atau introspeksi diri menjadi sangat penting.

Pertama-tama yang perlu dilakukan adalah meninggalkan apa yang wajib ditinggalkan, yakni apa saja yang dilarang oleh Allah SWT. Inilah hijrah yang bisa dilakukan kapan saja. Rasul saw. bersabda:

« الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ »
Seorang Muslim adalah orang yang menjadikan kaum Muslim selamat dari lisan dan tangannya. Seorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang Allah larang atas dirinya (HR al-Bukhari, Abu Dawud, an-Nasai, Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Humaidi).

Meninggalkan apa saja yang Allah larang tidak menuntut kemampuan. Ini berbeda dengan melakukan apa yang Allah perintahkan, yang menuntut kemampuan maksimal. Rasul saw. bersabda:

«...فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنِ الشَّيْءِ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِالشَّيْءِ فَائْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ»
…Jika aku melarang kalian dari sesuatu maka tingggalkanlah dan jika aku memerintahkan sesuatu maka lakukanlah sesuai batas kemampuan kalian (HR Ahmad, al-Bukhari dan Muslim).

Selain dilakukan berdasarkan kemampuan secara maksimal, perintah Allah  harus segera ditunaikan. Allah SWT berfirman:
﴿فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ﴾
Bersegeralah kembali kepada Allah. Sungguh aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untuk kalian (TQS adz-Dzariyat [51]: 50).

Abu Ishaq ats-Tsa’labi dalam tafsirnya, Al-Kasyfu wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, menjelaskan, frasa “Fafirrû ilâlLâh” bermakna:  Larilah dari azab Allah menuju pahala-Nya dengan iman dan menjauhi kemaksiatan. Ibnu Abbas berkata: Larilah menuju Allah dan beramallah dengan menaati-Nya.”

Dengan demikian setiap Muslim harus segera berhenti dari apa yang Allah larang dan meninggalkannya, sekaligus segera menjalankan berbagai ketaatan kepada-Nya. Dengan dua spirit ini, setiap Muslim akan menjadi sosok yang makin taat. Ketaatannya juga makin total, makin menyeluruh, makin kâffah.

Orang yang “hijrah” itu tidak menyukai apa saja yang menyalahi Islam dan syariahnya. Sebaliknya, dia makin senang kepada Islam dan syariahnya. Dia pun makin merindukan kehidupan islami; kehidupan yang diatur sesuai dengan Islam dan syariahnya.

Alhasil, secara individual seorang Muslim tak boleh berhenti ber-“hijrah”. Tak boleh berhenti berubah ke arah yang lebih baik sesuai tuntutan syariah, menuju totalitas berislam dan melaksanakan syariahnya secara kâffah.

Hal yang sama juga perlu dilakukan oleh kaum Muslim secara keseluruhan. Kita perlu melakukan muhasabah/interospeksi atas keadaan umat Islam hari ini. Kita perlu merenungkan bagaimana keadaan umat Islam. Bagaimana pula keadaan seharusnya yang dikehendaki oleh Islam. Selanjutnya kita perlu menyiapkan tidak lanjut atas hasil muhasabah itu.

Allah SWT telah mensifati umat Islam sebagai khayru ummah (umat terbaik), sebagaimana firman-Nya:

﴿كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾
Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; melakukan amar makruf nahi munkar dan mengimani Allah (TQS Ali Imran [3]: 110).

Sifat sebagai umat terbaik ini tidak hanya berlaku pada kaum Muslim masa Rasul saw. saja, melainkan berlaku untuk umat beliau sampai kapan pun. Ali bin Abi Thalib ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

«أُعْطِيتُ مَا لَمْ يُعْطَ أَحَدٌ مِنْ الأنْبِيَاءِ». فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا هُوَ؟ قَالَ: «نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُعْطِيتُ مَفَاتِيحَ الأرْضِ، وَسُمِّيتُ أَحْمَدَ، وَجُعِلَ التُّرَابُ لِي طَهُورًا، وَجُعِلَتْ أُمَّتِي خَيْرَ الأمَمِ»
“Aku diberi apa yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku.” Kami bertanya, “Apakah itu?” Beliau bersabda, “Aku ditolong dengan rasa takut, aku diberi kunci-kunci bumi,  aku diberi nama Ahmad, tanah dijadikan suci untukku dan umatku dijadikan sebagai umat terbaik.” (HR Ahmad).

Hanya saja, sifat sebagai umat terbaik itu tidak datang begitu saja. Harus dipenuhi dulu karakteristiknya. Di dalam ayat ini, Allah SWT menyebut karakteristik umat terbaik itu, yaitu: melakukan amar makrufnahi munkar dan mengimani Allah.

Terkait itu ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasul saw. saat beliau sedang di atas minbar, “Siapakah manusia terbaik?” Rasul saw. menjawab:

«خَيْرُ النَّاسِ أقْرَؤهُمْ وَأَتْقَاهُمْ للهِ، وآمَرُهُمْ بِالمعروفِ، وأنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ»
Manusia terbaik adalah yang paling banyak membaca dan memahami (al-Quran),  yang paling bertakwa kepada Allah, yang paling banyak melakukan amar makruf nahi mungkar dan yang paling sering menyambung silaturahim (HR Ahmad).

Imam ath-Thabari menjelaskan karakteristik umat terbaik (khayru ummah) dalam tafsirnya, Jâmi’u al-Bayân: Firman Allah “ta`murûna bi al-ma’rûf” itu bermakna: kalian memerintahkan manusia agar mengimani  Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariahnya. Lalu “wa tanhawna ‘an al-munkar” bermakna: kalian melarang manusia untuk menyekutukan Allah, mendustakan Rasul-Nya dan mengamalkan apa yang Dia larang.”

Imam Ibnu Katsir, setelah menyebutkan hadis-hadis tentang khayru ummah, menyatakan, “Karena itu siapa saja dari umat ini yang memiliki sifat-sifat ini, dia masuk di dalam penghormatan dan pujian-Nya…Umar ra. berkata, ‘Siapa saja yang suka menjadi bagian dari umat (terbaik) itu maka hendaknya dia memenuhi syarat Allah yang dituntut atas dirinya.’ Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Siapa yang tidak mememiliki sifat demikian, dia serupa dengan Ahlul Kitab yang dicela oleh Allah SWT (yang artinya): “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang kemungkaran yang mereka lakukan. Sungguh amat buruklah apa yang selalu mereka lakukan itu (TQS al-Maidah [5]: 79).”

Secara umum karakteristik umat terbaik itu adalah mengimani Allah, melakukan amar makruf nahi mungkar, mengikuti sunnah Rasul saw. dan melaksanakan syariah. Dengan demikian kesempurnaan sifat khayru ummah itu terwujud ketika umat Islam beriman dan bertakwa. Ketakwaan mereka harus tampak  dalam kehidupan mereka, termasuk dalam pengelolaan kehidupan masyarakat dalam segala aspeknya, dengan syariah Islam.

Sayang, potret sebagai khayru ummah (umat terbaik) itu tidak tampak pada umat Islam hari ini. Umat Islam saat ini belum menjadi pemimpin bagi umat lain. Sebaliknya, umat Islam saat ini masih menjadi obyek dan eksploitasi pihak lain. Boleh jadi salah satu penyebabnya karena amar makruf nahi mungkar belum tampak menonjol menjadi budaya umat Islam. Terutama yang ditujukan kepada penguasa. Padahal kemungkaran penguasalah yang paling besar menimbulkan keterpurukan umat. Kemungkaran terbesar penguasaa tentu saja saat mereka tidak menerapkan syariah Islam secara kaffah.

Memang sebagian dari umat sudah dan terus melakukan amar makruf nahi mungkar. Namun, tak jarang masih ada seruan-seruan sebaliknya. Yang makruf justru dipersoalkan. Yang mungkar justru dipromosikan. Dakwah untuk menerapkan syariah secara kaffah dihadang. Seruan ke arah liberalisme justru difasilitasi. Terjadilah keanehan. Islam dan syariahnya secara kaffah justru terhijab dari sebagian umat Islam sendiri.

Kondisi umat yang terpuruk dan jauh dari predikat sebagai umat terbaik ini tentu tidak boleh dibiarkan. Kondisi ini harus diubah. Aktivitas perubahan harus gencar dilakukan di tengah umat ini. Sebab perubahan itu tidak akan datang dengan sendirinya, tetapi harus diusahakan. Allah SWT berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ﴾
Sungguh Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (TQS ar-Ra’du [13]: 11).

Imam al-Qurthubi dalam Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân menjelaskan, “Allah SWT memberitahukan dalam ayat ini bahwa Dia tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai terjadi perubahan dari mereka, baik dari mereka sendiri, atau dari orang yang mengurus mereka, atau dengan sebab dari sebagian orang di antara mereka.”

Karena itu perubahan atau “hijrah” harus dilakukan bukan hanya pada tataran individu, tetapi juga pada tataran masyarakat, yakni perubahan menuju ketaatan kepada Allah SWT secara total. Ketaatan total kepada Allah SWT diwujudkan dengan penerapan syariah Islam kaffah di dalam seluruh aspek kehidupan. Ini menjadi tanggung jawab seluruh komponen umat Islam.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Hikmah:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sungguh orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang benar-benar mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
(TQS al-Baqarah [2]: 218).

Rabu, 21 Agustus 2019

Tagged under:

Doa Ketika Marah

ONE DAY ONE DOA
Rabu, 21  AGUSTUS 2019 M / 19  Dzulhijjah 1440 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Penulis tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)

Sulaiman bin Shurod radhiyallahu ‘anhu berkata,

كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ

“Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.”

(HR Bukhari, no. 3282)

Doa yang sangat ringkas dan padat (Jami’):
أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ
A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim
Saya berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Firman Allah dari ayat berikut memerintahkan untuk berlindung bila terkena nafsu amarah,

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200)

Juga ada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

إِذَا غَضِبَ الرَّجُلُ فَقَالَ أَعُوْذُ بِاللهِ ، سَكَنَ غَضْبُهُ

“Jika seseorang dalam keadaan marah, lantas ia ucapkan, ‘A’udzu billah (Aku meminta perlindungan kepada Allah)’, maka redamlah marahnya.”

(HR. As-Sahmi dalam Tarikh Jarjan, 252. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1376)

Bacaan Ta’awudz  bentuk lain

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ، مِنْ هَمْزِهِ و نَفْخِهِ وَ نَفْثِهِ

A-’uudzu bil-laahi minas syai-thaanir ra-jiim min ham-zihii wa naf-khi-hii wa naf-tsih

(HR. Abu Daud-sahih).


أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

A-’uudzu bil-laahis samii-’il ‘a-lii-mi minas syai-thaa-nir ra-jiim min hamzi-hii wa naf-khi-hii wa naf-tsih.

(HR. Turmudzi-sahih).

Mengelola nafsu amarah tidak mudah, sehingga  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut orang yang mampu menahan amarah sebagai orang kuat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ليسَ الشديدُ بالصّرعَةِ، إنما الشديدُ الذي يملكُ نفسهُ عند الغضب

“Orang hebat bukanlah orang yang selalu menang dalam pertarungan. Orang hebat adalah orang yang bisa mengendalikan diri ketika marah.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Yang mampu menahan nafsu amarah dibanggakan di depan seluruh makhluk dan Allah suruh memilih bidadari paling indah yang dia inginkan. Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قادرٌ على أنْ يُنفذهُ دعاهُ اللَّهُ سبحانهُ وتعالى على رءوس الخَلائِقِ يَوْمَ القيامةِ حتَّى يُخيرهُ مِنَ الحورِ العين ما شاءَ

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.

(HR. Abu Daud, Turmudzi-hasan).

Bacaan ini sangat ringkas, dan hampir semua orang telah menghafalnya. Yang menjadi masalah, umumnya orang yang sedang marah sulit untuk mengendalikan dirinya , sehingga biasanya lupa dengan apa yang sudah dia pelajari. Allah Subhanahu wata’ala mamasukan orang yang mampu menahan nafsu amarah sebagai orang yang bertaqwa.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Allażīna yunfiqụna fis-sarrā`i waḍ-ḍarrā`i wal-kāẓimīnal-gaiẓa wal-'āfīna 'anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn.
“orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

(QS. Ali Imran: 134)

وَالْكٰظِمِينَ الْغَيْظَ

(dan orang-orang yang menahan amarahnya) Yakni yang menyembunyikan kemarahan mereka dan menahannya dalam hati mereka, sehingga tidak berbuat zalim kepada seorangpun sebab kemarahan mereka. Dikatakan (كظم غيظه) apabila ia mendiamkannya dan tidak memperlihatkannya.

Selasa, 20 Agustus 2019

Tagged under:

Doa Haji Mabrur

ONE DAY ONE DOA
Selasa, 20 AGUSTUS 2019 M / 18  Dzulhijjah 1440 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)
اللهم اجعله حجًّا مبرورًأ، سعيًا مشكورًا، وذَنْبًا مغفورًا،
Allahummaj’alahu hajjan mabruura, wa sa’yan masykuura, wa dzanban maghfuura.
Doa ini bersumber dari Ibn Mas’ud dan Ibn ‘Umar, Ya Allah jadikan haji ini sebagai haji yang mabrur, sa’i yang penuh berkah, dan pengampun bagi dosa.
(HR. Bukhari)
Setiap orang yang berhaji berharap haji yang mabrur. Haji abrur bukanlah sekedar haji yang sah.  Mabrur berarti diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala, dan sah berarti menggugurkan kewajiban. Bisa jadi haji seseorang sah sehingga kewajiban berhaji baginya telah gugur, namun belum tentu hajinya mabrur.  Jadi, tidak semua yang hajinya sah terhitung sebagai haji mabrur.  seseorang yang telah selesai melaksanakan seluruh amaliah (baik rukun, wajib, maupun sunnah berhaji) dianjurkan untuk memohon agar hajinya menjadi haji yang mabrur.
Haji Mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah Swt. Tanda diterimanya ibadah haji seorang muslim adalah setelah pulang semakin banyak melakukan amalan-amalan yang baik dan semakin jauh dari perbuatan-perubatan maksiat.  Tanda haji mabrur adalah seseorang kembali dari haji dalam keadaan zuhud dalam hal dunia dan semangat menggapai akhirat.
Balasan dari haji mabrur adalah surga. Untuk haji mabrur secara khusus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
والْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Haji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah surga.”
HR. al-Bukhari (1683) dan Muslim (1349).

Redaksi lengkapnya hadits tersebut adalah:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga”.
Imam al-Bukhari telah mengeluarkan hadits ini (di dalam Shahih-nya) pada Abwabul Umrah (bab-bab tentang umrah), yaitu pada Babu Wujubil Umrah wa Fadhliha (bab tentang wajibnya umrah dan keutamaannya), nomor 1773. Dan dikeluarkan pula oleh Imam Muslim (di dalam Shahih-nya pula), nomor 1349; dari jalan Sumayy budak Abi Bakar bin Abdurrahman, dari Abu Shalih as-Samman, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, secara marfu’ (sampai kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam).
Haji mabrur secara syariat adalah haji yang tidak tercampur dengan perrbuatan riya’ (ingin dipuji dan dilihat orang), sum’ah (ingin didengar oleh orang), rafats (berkata-kata keji dan kotor, atau kata-kata yang menimbulkan birahi), fusuq (berbuat kefasikan dan kemaksiatan), dan dilaksanakan dari harta yang halal. Haji mabrur memiliki lima sifat:
1. Dilakukan dengan ikhlash (memurnikan niat dalam melaksanakan hajinya) hanya karena Allah Ta’ala semata, tanpa riya’ dan sum’ah.
2. Biaya pelaksanaan haji tersebut berasal dari harta yang halal. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إنَّ اللهَ طيِّبٌ ولا يقبلُ إلا طيبًا
“Sesungguhnya Allah Maha Baik, dan Ia tidak menerima kecuali hal yang baik…”. (HR Muslim, 1015).
3. Menjauhi segala dosa dan perbuatan maksiat, segala macam perbuatan bid’ah dan semua hal yang menyelisihi syariat. Karena, jika hal tersebut berdampak negatif terhadap semua amal shalih dan bahkan dapat menghalangi dari diterimanya amal tersebut, maka hal itu lebih berdampak negatif lagi terhadap ibadah haji dan keabsahannya. Hal ini berdasarkan beberapa dalil, di antaranya firman Allah Ta’ala:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji…” (QS al-Baqarah: 197).
4. Dilakukan dengan penuh akhlak yang mulia dan kelemah-lembutan, serta dengan sikap tawadhu’ (rendah hati) ketika ia berkendaraan, bersinggah sementara pada suatu tempat dan dalam bergaul bersama yang lainnya, dan bahkan dalam segala keadaannya.
5. Dilakukan dengan penuh pengagungan terhadap sya’a-irullah (syi’ar-syi’ar Allah). Dengan demikian, ia benar-benar dapat merasakan dan meresapi syi’ar-syi’ar Allah dalam ibadah hajinya. Sehingga, akan tumbuh dari dirinya sikap pengagungan, pemuliaan dan tunduk patuh kepada Allah Rabbul ‘Alamin. Dan tanda seseorang benar-benar telah melaksanakan hal tersebut adalah; ia melaksanakan tahapan demi tahapan rangkaian ibadah hajinya dengan tenang dan khidmat, tanpa ketergesa-gesa.
Memperbanyak dzikir, bertakbir, bertasbih, bertahmid dan istighfar adalah bentuk menghidupkan syi’ar Allah, terlebih lagi pasca haji. Dan sungguh Allah pun telah memerintahkan para hamba-Nya untuk mengagungkan, memuliakan dan menjaga kehormatan sya’a-irullah (syi’ar-syi’ar Allah). Allah berfirman:
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya…” (QS al-Hajj: 30).
Dan Allah juga berfirman:
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS al Hajj: 32).
Adapun sya’a-irullah (syi’ar-syi’ar Allah), maka maksudnya adalah lambang-lambang agama yang tampak jelas, yang di antaranya juga manasik (tata cara ibadah haji) ini. Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
“Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar-syi’ar Allah…” (QS al-Baqarah: 158).
Dan sungguh Allah Ta’ala telah menjadikan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar-Nya sebagai salah satu rukun dari rukun-rukun ketakawaan, dan bentuk penghambaan kepada-Nya. Syiar pasca haji yang membekas adalah memburu shalat jamaah dimasjid sebagaimana memburu shalat arbain ketika haji, dzikir bakdza shalat sebagaimana ketika wukuf, memburu taklim dan istiqamah menghadirinya, menebar banyak kemanfaatan dan peduli, seperti inilah hakekat dari haji mabrur yang bila istiqamah menjaga dan merawatnya akan melebihi pahala jihad sekalipun.  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(HR. Bukhari no. 1519)
Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha,
يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »
“Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama (afdhol) adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(HR. Bukhari no. 1520)
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
““Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.”
(HR. Bukhari no. 1521).

Senin, 19 Agustus 2019

Tagged under:

Doa Mohon Dzuriyah Thoyyibah

ONE DAY ONE DOA
Senin, 19  AGUSTUS 2019 M / 18  Dzulhijjah 1440 H

Oleh : Dr. AJang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)

Beberapa doa berikut tertera di dalam al Quran ketika seseorang mengharap dianugerahi keturunan yang shaleh-shalehah (Dzuriyah Thoyyibah) maka sebaiknya doa-doa berikut dipanjatkan di waktu-waktu mustajabah

رَبَّنَاهَبْ لَنَامِنْ اَزْوَاجِنَاوَذُرِّيَّتِنَاقُرَّةَاَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَالِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw, waj’alna lil muttaqiena immaa”.

Yang artinya:” Ya tuhan kami, Anugerahkanlah kepada kami jodoh kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yg bertaqwa.

(QS Al- Furqan :74)

Seseorang yang telah dewasa dan menginjak usia 40 tahun hendaknya memohon pada Allah SWT sebagai rasa syukur kepada Allah dan bentuk bakti kepada kedua orang tua serta mengharap dzuriyah thayyibah maka hendaklah berdoa sebagai berikut

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Robbi awzi’nii an asy-kuro ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala shoolihan tardhooh, wa ash-lihlii fii dzurriyatii, inni tubtu ilaika wa inni minal muslimiin”

[Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri].

(QS. Al Ahqaf: 15).

Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam selama 46 tahun berdoa kepada Allah SWT agar di anugerahi dzuriyah thayibah dengan selalu berdoa

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Robbi hablii minash shoolihiin”

[Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh]”.

(QS. Ash Shaffaat: 100).

Nabi Dzakariya ‘alaihis salaam hingga rambut memutih karena usia semakin senja masih tetap tidak bosan memohon agar dianugerahi dzuriyah thayyibah dengan berdo’a,

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Robbi hab lii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka samii’ud du’aa’”

[Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa]

(QS. Ali Imron: 38).

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendo’akan anak Ummu Sulaim, yaitu Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma dengan do’a,

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

“Allahumma aktisir maalahu wawaladahu, wabarik lahu fiimaa a’thaitahu”

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang engkau karuniakan padanya.”

(HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480).

Merujuk kepada hadis tersebut seseorang bisa berdo’a untuk meminta banyak keturunan yang shaleh-shalehah  pada Allah,

اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي

“Allahumma ak-tsir maalii wa waladii, wa baarik lii fiimaa a’thoitanii“

(Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau beri).”

Do’a tersebut dipanjatkan untuk meminta keturunan yang shaleh (dzuriyah thayibah) yang bisa menolong untuk meraih kebahagiaan didunia terlebih diakhirat. Al Qurtubi ra berkata,

ليس شيء أقر لعين المؤمن من أن يرى زوجته وأولاده مطيعين لله عز وجل.

“Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang mukmin selain melihat pasangan hidup dan keturunannya taat pada Allah ‘azza wa jalla.”

(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/333)

Redaksi doa tersebut sudah dibuktikan mustajabah, karena doa tersebut dipanjatkan oleh Nabi dan Rasul pilihan. Allah SWT memberikan suatu petunjuk yan sangat jelas bagi umat manusia, bagi kaum beriman mengenai cara untuk mendapatkan pasangan hidup, jodoh, dan keturunan yang menyejukkan hati. Setiap orang yang telah berumah tangga atau akan, pasti menginginkan si buah hati. Mungkin ada yang telah menanti bertahun-tahun, namun belum juga dikaruniai buah hati. Juga ada yang menginginkan agar anaknya menjadi sholeh. Maka perbanyaklah do’a akan hal tersebut.

Dzuriyah thayyibah akan didapat dimulai dari memilih pasangan hidup yang baik, yang mau taat syariat. Pasangan yang baik yang memiliki sinkronosasi dalam tujuan hidupnya, visi rumah tangga yang jelas, pemahaman yang baik, dan akhlak yang baik berpotensi untuk memiliki keturunan yang baik pula. Seperti contohnya Nabi Nuh yang ditakdirkan Allah mendapatkan istri yang kurang baik, sehingga melahirkan keturunan yang kurang baik bahkan durhaka yakni Kan’an dan Sun’an. Namun hal ini bukan berarti Nabi Nuh berperangai buruk sehingga mendapat istri yang berperilaku buruk. Hal ini bisa saja ujian dari Allah untuk menguji keimanan dan ketaatan Nabi Nuh as.

Islam menegaskan bahwa pernikahan adalah ibadah dan menikah sebagai sarana penyempurnaan iman. Namun, Membujang atau tidak menikah dengan berbagai alasan tetap tidak ada baiknya, bahkan cenderung bersebrangan dengan syariat Nabi Muhammad SAW. Padahal tujuan dari perintah Allah untuk menyegerakan menikah adalah untuk menghindarkan kita dari perbuatan dosa yaitu zina.  Jodoh adalah kewenangan yang Maha Kuasa. Manusia wajib berikhtiar, untuk mendapatkan pasangan hidup yang baik  langkah pertama adalah memantaskan diri dengan membaikkan citra dan perilaku terlebih dahulu. Pria yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula, begitu juga sebaliknya.

Minggu, 18 Agustus 2019

Tagged under:

Do’a Sesudah Wudhu

ONE DAY ONE DOA
Ahad, 18  AGUSTUS 2019 M / 17  Dzulhijjah 1440 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan, ‘Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu’ [Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.] kecuali Allah akan bukakan untuknya delapan pintu langit yang bisa dia masuki dari pintu mana saja.” 

HR. Muslim no. 234; Abu Dawud no. 169; At-Tirmidzi no. 55; An-Nasa’i 1/95 dan Ibnu Majah no. 470.

Di dalam riwayat At-Tirmidzi ada tambahan doa,

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ المُتَطَهِّرِينَ

“Allahummaj ‘alni minat tawwabiina waj’alnii minal mutathohhiriin [Ya Allah jadikanlah aku termasuk hamba-hambaMu yang rajin bertaubat dan menyucikan diri].” 

HR. Tirmidzi shahih dalam Shahihul Jami’ hadits no. 6046.

Matan doa setelah wudhu adalah sebagai berikut

اشهدان لااله الاالله وحده لا شر يك له واشهدو ان محمد ا ىبدوه ورسو له-
الهم اجعلنى من التو ابين واخعلنى من المطهر ين-

ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLOOHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN 'ABDUHUUWA ROSUULUHUU, ALLOOHUMMAJ'ALNII MINAT TAWWAABIINA WAJ'ALNII MINAL MUTATHOHHIRIINA

Artinya

Aku mengaku bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku mengaku bahwa Nabi Muhammad itu adalah hamba dan Utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci (sholeh)

Pengertian Wudlu menurut bahasa mempunyai artian bersih dan indah, sedangkan untuk menurut syara mempunyai arti membersihkan bagian anggota tubuh untuk menghilangkan hadast kecil sebelum anda mengerjakan shalat (shalat wajib dan sunnah) atau untuk keperluan lainnya yang dianggap sebagai sunah, yaitu  ketika akan membaca al Qur’an, menjelang tidur,  dan lain-lain. Perlu diingat bahwa  shalat  dengan tanpa wudhu maka tidak sah shalatnya.

Tata cara melakukan wudhu sangat simple tetapi mempunyai manfaat atau keutamaan wudhu yang sangat ajaib dan luar biasa karena manfaat wudhu selain untuk menghapus dosa-dosa kecil, berwudhu juga bisa mengangkat derajat dan kedudukan seseorang didalam surga. Dan hadis tersebut mengabarkan kepada kita bahwa menyempurnakan wudhu menjadi wasilah untuk dibukakan pintu surga yang delapan dan disuruh masuk melalui pintu yang dikendaki. Syaratnya wudhunya sempurna, biasanya yang sering menyebabkan tidak sempurna karena bagian sikutnya tidak dilebihkan ketika membasuh dan yang terpenting bagian telapak kai harus diusap karena rata-rata airnya dari kran berasal mengucur dari atas, sehingga bila tidak diusap, berarti tidak terbasahi ketika wudhu, sekalipun basah bukan karena dibasuh tetapi karena menginjak lantai yang basah.    Bila tidak disuap dengan tangan, jangankan telapak kaki, bahkan dibelakang mata kaki biasanya tidak terbasuh air wudhu. Oleh karena itu para orang tua dan guru agama serta para ustadz mohon untuk lebih konsen dalam bab wudhu tersebut.

Tentang wudhu bisa menghapus dosa, Nabi Muhammad SAW bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Muslim no 586 :
“Maukah kalian aku tunjukkan tentang amalan yg dengan-nya Allah menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat derajat-derajat?” Lalu mereka (sahabat) berkata, “Mau, Wahai Rasullullah” kemudian beliau bersabda “Amalan itu adalah menyempurnakan wudhu di waktu yg tak menyenangkan, Banyak-nya langkah menuju masjid dan menunggu shalat setelah menunaikan shalat (HR. Muslim Ayat 586)”. Sedangkan untuk hukum berdoa setelah wudhu itu sunnah sehingga jika dikerjakan akan mendapatkan pahala dan sekaligus harapan baik kepada Allah SWT untuk mengabulkan sesuai yang diucapkan. Dalam membaca do’a setelah wudhu memang tidak wajib dan bukan rukun wudhu, namun dalam hal ini apabila di kerjakan hal ini akan menambah keutamaan.

Ibadah yang utama didahului dengan membersihkan fisik, melalui wuhdu. Dalam wudhu terkandung hikmah yang mengisyaratkan kepada kita bahwa hendaknya seorang muslim memulai ibadah dan kehidupannya dengan kesucian lahir batin. Sebab kata thaharah berasal dari kata yang mengandung makna “kebersihan dan keindahan”.

Wudhu disyariatkan bukan hanya ketika kita hendak beribadah, bahkan juga disyariatkan pada seluruh kondisi. Oleh karena itu, seorang muslim dianjurkan agar selalu dalam kondisi bersuci (wudhu) sebagaimana yang dahulu yang dilazimi oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang mulia. Mereka senantiasa berwudhu, baik dalam keadaan senang ataupun susah dan kurang menyenangkan (seperti saat muslim hujan dan dingin).

Doa lain yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallams setelah berwudhu diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من تَوَضَّأ فَقَالَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِك أشهد أَن لَا إِلَه إِلَّا أَنْت استغفرك وَأَتُوب إِلَيْك كتب فِي رق ثمَّ طبع بِطَابع فَلم يكسر إِلَى يَوْم الْقِيَامَة

“Barangsiapa yang berwudhu kemudian setelah berwudhu mengucapkan doa,’Subhaanaka allahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika’ [Maha suci Engkau ya Allah, segala puji untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu] maka akan ditulis di lembaran berwarna putih kemudian di-stempel dan tidak akan hancur sampai hari kiamat.”

HR. An-Nasa’i dalam ‘Amal Yaum wal Lailah no. 30. Hadis ini shahih dalam Shahihul Jami’ hadits no. 6046.