image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Kamis, 20 Juni 2019

Tagged under:

Dapat Ruku’ Berarti Mendapat Satu Raka’at

ONE DAY ONE HADITS
Selasa, 20 Juni 2019 / 16 Syawal 1440

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

“Siapa yang mendapatkan satu raka’at, maka ia mendapatkan shalat jama’ah.” (HR. Bukhari, no. 580 dan Muslim, no. 607)
Kandungan Hadits
1. Mendapatkan ruku’ yang sempurna sebelum imam bangkit berarti telah mendapatkan satu raka’at sebagaimana hal ini menjadi pendapat jumhur ulama.
2. Abu Bakrah pernah mendapatkan shalat jama’ah dimana Imam sedang dalam keadaan ruku’, kemudian ia melakukan ruku’ sebelum masuk dalam shaf jamaah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diceritakan perihal hal tersebut dan beliau bersabda,

زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ
“Semoga Allah memberikan terus semangat padamu. Namun seperti itu jangan diulangi.” (HR. Bukhari, no. 783).

3. Dalam riwayat Abu Daud disebutkan bahwa Abu Bakrah ruku’ sebelum masuk shaf, kemudian ia berjalan menuju shaf. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, beliau berkata, “Siapa di antara kalian yang tadi ruku’ sebelum masuk shaf lalu ia berjalan menuju shaf?” Abu Bakrah mengatakan, “Saya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah memberikan terus semangat padamu. Namun seperti itu jangan diulangi.” (HR. Abu Daud, no. 684. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

4. Siapa yang mendapati ruku’ berarti mendapatkan satu raka’at, tetapi bila mendapatkan ketika I’tidal atau sujud tetap ikuti imam tetapi jangan dihitung sebagai satu rakaat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلاَ تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

“Jika salah seorang di antara kalian pergi shalat dan kami sedang sujud, maka ikutlah sujud. Namun tidak dianggap sama sekali mendapat satu raka’at. Siapa yang mendapatkan satu raka’at, maka berarti ia mendapati shalat.” (HR. Abu Daud, no. 893; Ad-Daruquthni, 132; Al-Hakim, 1:216, hadits ini shahih.)

Senin, 17 Juni 2019

Tagged under:

Terpikat Dunia

ONE DAY ONE HADITS

Senin,  3 Juni 2019 M / 28 Ramadhan 1440 H                                          
 

عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ
Dari Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.”
HR.  Tirmidzi, no. 2376; Ahmad (III/456, 460); & Ad-Darimi (II/304)

Kandungan hadits

1. Keinginan berlebih terhadap harta dan jabatan pasti akan merusak agamanya. Ketamakan manusia kepada jabatan, kepemimpinan, dan kekayaan akan membawa kepada kezhaliman, kecurangan, kebohongan dan perbuatan keji. Bahkan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

2. Manusia sangat mencintai harta dan akan terus senantiasa mencarinya, tidak merasa puas dengan yang sedikit, akan terus senantiasa merasa kurang. Manusia mencintai harta, karena harta merupakan sebab terbesar untuk senantiasa sehat, yang menjadi salah satu sebab panjang umur. Hati orang tua menjadi pemuda karena dua hal, yaitu cinta dunia dan panjang angan-angan. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَلْبُ الشَّيْخِ شَابٌّ عَلَىٰ حُبِّ اثْنَتَيْنِ : طُوْلُ الْـحَيَاةِ وَحُبُّ الْمَالِ
Hati orang yang tua renta senantiasa muda dalam mencintai dua perkara: hidup yang panjang dan cinta terhadap harta.
HR.  Muslim,  1046

3. Panjang angan-angan berdampak kepada lupa akan kehidupan akhirat yang abadi, dan membuat hati menjadi keras, susah ntuk menerima nasihat. Jiwa akan selalu merasa kurang, dalam urusan harta  yang di hitung adalah yang keluar, bukan yang tersisa

لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Sungguh, seandainya anak Adam memiliki satu lembah dari emas, niscaya ia sangat ingin mempunyai dua lembah (emas). Dan tidak akan ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah.’ Kemudian Allâh mengampuni orang yang bertaubat.
HR. Al-Bukhâri, no. 6439 dan Muslim, no. 1048

4. Watak manusia tamak dan rakus kepada harta, meskipun hartanya sudah melimpah ruah. Diumpakan, ia memiliki satu lembah emas, tetap saja ia ingin dua lembah emas, kalau sudah memiliki dua lembah emas atau harta yang banyak, maka tetap dia tamak dan berambisi untuk memiliki tiga lembah emas. Dan tidak ada yang dapat mencegah keserakahan manusia, ambisinya dan angan-angannya kecuali kematian. Oleh karena itu di dalam hadits ini, manusia  disuruh bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla atas ketamakannya dan keserakahannya. Dan Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menerima orang yang bertaubat dengan taubat yang ikhlas, jujur, dan benar. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴿٢﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٤﴾ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ ﴿٥﴾ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ﴿٦﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ﴿٧﴾ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui. Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim, kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).”
[At-Takâtsur/102: 1-8]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

يَقُوْلُ الْعَبْدُ : مَالِـيْ ، مَالِـيْ ، إِنَّمَا لَـهُ مِنْ مَالِهِ ثَلَاثٌ : مَا أَكَلَ فَأَفْنَى ، أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَـى ، أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى ، وَمَا سِوَى ذٰلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ.
Seorang hamba berkata, ‘Hartaku! Hartaku! Sesungguhnya ia hanya memiliki tiga hal dari hartanya: apa yang telah ia makan lalu habis, atau apa  yang ia kenakan lalu usang, atau apa yang ia berikan lalu ia simpan untuk akhiratnya. Adapun selain itu, maka ia akan pergi dan ditinggalkannya untuk orang lain.”
HR. Muslim 2959

5. Harta manusia yang sebenarnya adalah yang dizakati dan disedekahkan. Apa saja yang ia makan dan pakai pasti akan habis. Adapun harta yang ia kumpulkan dan ia simpan itu sama sekali bukan miliknya. Jika ia meninggal dunia, maka seluruh hartanya yang ia simpan dan kumpulkan itu menjadi milik ahli warisnya, bukan miliknya lagi. Yang menjadi miliknya di akhirat hanyalah yang ia sedekahkan.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ ؟ قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا مِنَّا أَحَدٌ إِلَّا مَالُهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ، قَالَ : فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ وَمَالَ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ.

Dari ’Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri? Mereka menjawab, ”Ya Rasûlullâh! Tidak ada seorang pun diantara kami melainkan lebih mencintai hartanya sendiri.” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya hartanya sendiri itu ialah apa yang telah dipergunakannya (disedekahkannya) dan harta ahli warisnya ialah apa yang ditinggalkannya.”
HR. Al-Bukhâri, no. 6442.

Tagged under:

Beriman di Akhir Zaman

ONE DAY ONE HADITS
Sabtu, 15 Juni 2019 / 11 Syawal 1440

إِنَّ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْقَائِمِ وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنْ السَّاعِي فَكَسِّرُوا قِسِيَّكُمْ وَقَطِّعُوا أَوْتَارَكُمْ وَاضْرِبُوا سُيُوفَكُمْ بِالْحِجَارَةِ فَإِنْ دُخِلَ يَعْنِي عَلَى أَحَدٍ مِنْكُمْ فَلْيَكُنْ كَخَيْرِ ابْنَيْ آدَمَ

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:
“Sesungguhnya, menjelang terjadinya Kiamat ada fitnah-fitnah seperti sepotong malam yang gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, tetapi pada sore hari ia menjadi kafir, sebaliknya pada sore hari seseorang dalam keadaan beriman, namun dipagi hari ia dalam keadaan kafir. Orang yang duduk pada masa itu lebih baik daripada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berjalan cepat. Maka, patahkan busur kalian, putus-putuslah tali kalian, dan pukullah pedang kalian dengan batu, jika salah seorang dari kalian kedatangan fitnah-fitnah ini, hendaklah ia bersikap seperti anak terbaik di antara dua anak Adam (yakni bersikap seperti Habil, jangan seperti Qabil–pent).”  HR. Abu Dawud (4259), dan Ibnu Majah (3961)

Kandungan Hadits:
1.Secara bahasa fitnah bisa bermakna ujian, cobaan, bala’, bencana dan siksaan. Pada riwayat di atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam memberikan peringatan kepada umatnya agar mewaspadai adanya fitnah yang bisa menggoncang keimanan mereka.
2.Penggambaran fitnah laksana potongan malam yang amat pekat itu menunjukkan betapa berat dan berbahayanya fitnah itu. Ini merupakan peringatan penting bagi setiap Muslim, bahwa banyaknya fitnah yang menyebabkan seseorang murtad merupakan tanda dekatnya akhir zaman.
3.Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam sebagai Nabi terakhir sudah memberikan banyak isyarat dan tanda menjelang dekatnya akhir zaman dan datangnya kiamat besar, salahsatunya adalah rentannya iman seseorang. Oleh karena itu jadwalkan diri dan keluarga untuk menghiasi iman dengan ilmu, ikutlah majlis taklim di masjid, sisihkan satu jam dalam seminggu untuk membentengi keluarga agar iman tidak gampang goyah.
4. Fitnah digambarkan oleh Rasulullah saw. seperti potongan malam yang gelap gulita.  Amal shaleh adalah perbuatan yang menjadi tameng bagi seseorang agar tidak terjebak pada arah tujuan dan jalan yang sesat.
5. Fitnah akhir zaman  bagi kaum beriman adalah keadaan yang gelap karena tidak ada cahaya hidayah dari Allah Subhanahu wata'ala sehingga orang seperti berjalan ditengah gulita yang tidak ada cahaya, sehingga kemungkinan tersesatnya lebih dominan.
6. Kondisi gelap yang diumpamakan dalam hadits tersebut adalah suasana kehidupan yang tidak merujuk kepada aturan Allah dan Rasulnya, sehingga berjalan dengan nalar dan akal yang nisbi.
7.Tanda  Kiamat adalah munculnya fitnah besar, yang bercampur di dalamnya kebenaran dan kebathilan atau kebatilan tampak kebenaran. Iman menjadi goyah, sehingga seseorang beriman pada pagi hari dan menjadi kafir pada sore hari, beriman pada sore hari dan menjadi kafir di pagi hari (tidak konsisten dalam  beragama).
8.Diantara fitnah akhir zaman adalah  harta. Sehingga seseorang memburu dan mengumpulkan harta menyebabkan diri dan keluarganya lupa, tidak sempat dan sibuk  untuk duduk sejenak dimasjid. Diriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Iyadh Radhiyallahu anhu, dia mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَإِنَّ فِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

Sesungguhnya masing-masing umat itu ada fitnahnya dan fitnah bagi umatku adalah harta [HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibni Hibbân dalam shahihnya.
9.Untuk mendapatkan jabatan dan harta, tidak sedikit orang yang menjual agamanya. Padahal perbuatan tersebut mengundang murka Allah SWT
فَلاَ تَخْشَوُاْ النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلاً

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. (QS. al-Maidah: 44)

Tagged under:

Amanah

ONE DAY ONE HADITS
Senin, 17Juni 2019 / 13 Syawal 1440

وعن أَبي موسى الأشعري - رضي الله عنه - ، عن النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - ، أنَّه قَالَ : (( الخَازِنُ المُسْلِمُ الأمِينُ الَّذِي ينفذُ مَا أُمِرَ بِهِ فيُعْطيهِ كَامِلاً مُوَفَّراً طَيِّبَةً بِهِ نَفْسُهُ فَيَدْفَعُهُ إِلَى الَّذِي أُمِرَ لَهُ بِهِ ، أحَدُ المُتَصَدِّقين )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dan dari Abi Musa Al-Asy’ariy –rad}iyallah ‘anhu- , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam- , bahwasanya beliau bersabda: “Seorang Muslim yang menjadi penyimpan (bendaharawan) yang dapat dipercaya dimana ia melaksanakan apa yang diperintahkan dan memberi apa yang harus diberikannya dengan sempurna dan senang hati serta dia memberikannya kepada siapa yang diperintahkannya maka ia termasuk salah seorang yang bersedekah”.

(Muttafaqun ‘Alaih)

Kandungan Hadis

1- Makna hadis ini adalah bahwasanya orang yang mamfasilitasi kebaikan  akan mendapat pahala seperri orang yang bersedekah.

2. Orang yang melakukan ketaatan tidak  terkurangi pahalanya, akan tetapi masing-masing mendapat bagian pahala berdasarkan amalan yang mereka usahakan.

3. Amil zakat  harus memenuhi kriteria berikut: Pertama, Muslim, seorang kafir tidak termasuk dalamnya, karena niatnya bukan karena Allah. Kedua,  jujur, maka seorang pengkhianat tidak termasuk dalam kategori ini, karena dia adalah orang yang berdosa. Ketiga, ikhlas karena Allah, karena tanpa keikhlasan usahanya akan sia-sia.

(Ibnu Hajar, dalam Fathul Bari, 3/203):

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Allah Swt. memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk saling menolong dalam berbuat kebaikan —yaitu kebajikan— dan meninggalkan hal-hal yang mungkar: hal ini dinamakan ketakwa­an. Allah Swt. melarang mereka bantu-membantu dalam kebatilan serta tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan hal-hal yang diharamkan.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan  Tolong- menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. [Al-Maidah: 2]

2- Kewajiban menunaikan amanah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-(Nya) dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui.[ Al-Anfal : 27]

Sabtu, 15 Juni 2019

Tagged under:

Beriman di Akhir Zaman

ONE DAY ONE HADITS
Sabtu, 15 Juni 2019 / 11 Syawal 1440

إِنَّ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْقَائِمِ وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنْ السَّاعِي فَكَسِّرُوا قِسِيَّكُمْ وَقَطِّعُوا أَوْتَارَكُمْ وَاضْرِبُوا سُيُوفَكُمْ بِالْحِجَارَةِ فَإِنْ دُخِلَ يَعْنِي عَلَى أَحَدٍ مِنْكُمْ فَلْيَكُنْ كَخَيْرِ ابْنَيْ آدَمَ

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:
“Sesungguhnya, menjelang terjadinya Kiamat ada fitnah-fitnah seperti sepotong malam yang gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, tetapi pada sore hari ia menjadi kafir, sebaliknya pada sore hari seseorang dalam keadaan beriman, namun dipagi hari ia dalam keadaan kafir. Orang yang duduk pada masa itu lebih baik daripada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berjalan cepat. Maka, patahkan busur kalian, putus-putuslah tali kalian, dan pukullah pedang kalian dengan batu, jika salah seorang dari kalian kedatangan fitnah-fitnah ini, hendaklah ia bersikap seperti anak terbaik di antara dua anak Adam (yakni bersikap seperti Habil, jangan seperti Qabil–pent).”  HR. Abu Dawud (4259), dan Ibnu Majah (3961)

Kandungan Hadits:
1.Secara bahasa fitnah bisa bermakna ujian, cobaan, bala’, bencana dan siksaan. Pada riwayat di atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam memberikan peringatan kepada umatnya agar mewaspadai adanya fitnah yang bisa menggoncang keimanan mereka.
2.Penggambaran fitnah laksana potongan malam yang amat pekat itu menunjukkan betapa berat dan berbahayanya fitnah itu. Ini merupakan peringatan penting bagi setiap Muslim, bahwa banyaknya fitnah yang menyebabkan seseorang murtad merupakan tanda dekatnya akhir zaman.
3.Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam sebagai Nabi terakhir sudah memberikan banyak isyarat dan tanda menjelang dekatnya akhir zaman dan datangnya kiamat besar, salahsatunya adalah rentannya iman seseorang. Oleh karena itu jadwalkan diri dan keluarga untuk menghiasi iman dengan ilmu, ikutlah majlis taklim di masjid, sisihkan satu jam dalam seminggu untuk membentengi keluarga agar iman tidak gampang goyah.
4. Fitnah digambarkan oleh Rasulullah saw. seperti potongan malam yang gelap gulita.  Amal shaleh adalah perbuatan yang menjadi tameng bagi seseorang agar tidak terjebak pada arah tujuan dan jalan yang sesat.
5. Fitnah akhir zaman  bagi kaum beriman adalah keadaan yang gelap karena tidak ada cahaya hidayah dari Allah Subhanahu wata'ala sehingga orang seperti berjalan ditengah gulita yang tidak ada cahaya, sehingga kemungkinan tersesatnya lebih dominan.
6. Kondisi gelap yang diumpamakan dalam hadits tersebut adalah suasana kehidupan yang tidak merujuk kepada aturan Allah dan Rasulnya, sehingga berjalan dengan nalar dan akal yang nisbi.
7.Tanda  Kiamat adalah munculnya fitnah besar, yang bercampur di dalamnya kebenaran dan kebathilan atau kebatilan tampak kebenaran. Iman menjadi goyah, sehingga seseorang beriman pada pagi hari dan menjadi kafir pada sore hari, beriman pada sore hari dan menjadi kafir di pagi hari (tidak konsisten dalam  beragama).
8.Diantara fitnah akhir zaman adalah  harta. Sehingga seseorang memburu dan mengumpulkan harta menyebabkan diri dan keluarganya lupa, tidak sempat dan sibuk  untuk duduk sejenak dimasjid. Diriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Iyadh Radhiyallahu anhu, dia mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَإِنَّ فِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

Sesungguhnya masing-masing umat itu ada fitnahnya dan fitnah bagi umatku adalah harta [HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibni Hibbân dalam shahihnya.
9.Untuk mendapatkan jabatan dan harta, tidak sedikit orang yang menjual agamanya. Padahal perbuatan tersebut mengundang murka Allah SWT
فَلاَ تَخْشَوُاْ النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلاً

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. (QS. al-Maidah: 44)

Senin, 27 Mei 2019

Tagged under:

Ketika Doa Tidak Didengar

ONE DAY ONE HADITS

Senin, 27 Mei 2019 M / 22 Ramadhan 1440 H

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْـخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّـى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنَ لَـمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْـمَـانِ».

Dari Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia tidak mampu, maka dengan lidahnya (menasihatinya); dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.’”

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh :
1. Muslim (no. 49).
2. Ahmad (III/10, 20, 49, 52-53, 54).
3. Abu Dâwud (no. 1140, 4340).
4. An-Nasâ’i (VIII/111-112).
5. At-Tirmidzi (no. 2172).
6. Ibnu Mâjah (no. 1275, 4013).
7. ‘Abdurrazzâq dalam al-Mushannaf (no. 5649).
8. Abu ‘Awanah (I/35).
9. Ibnu Hibbân (no. 306, 307) dalam at-Ta’lîqâtul Hisân.
10. Abu Ya’la (no. 1005, 1198).
11. Al-Baihaqi dalam Sunannya (III/296-297) dan dalam Syu’abul Iimân (no. 7153).
12. Ath-Thayâlîsi dalam Musnadnya(no. 2310).
13. Ibnu Mandah dalam al-Iimân (no. 179-182).
14. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ (VII/304, no. 10611; X/27, no. 14387).

Hadis yang semakna adalah

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

Dari Huzhaifah bin Al-Yaman dari Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda:” Demi dzat yang jiwaku ditangan-Nya hendaknya engkau melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, atau *jika tidak Allah hampir mengirim azabnya, kemudian engkau berdo’a tetapi tidak dikabulkan”* (HR At-Tirmidzi dan Ahmad).

Kandungan Hadits:

1- Antara amar makruf dan nahi munkar adalah satu paket. Tidak boleh terpisah antara satu dengan lainnya.

2- Tidaklah ideal kalau seorang bergabung dan komitmen pada jamaah Islam sementara posisinya dalam jamaah tersebut hanya menjadi pelengkap penderita saja dan *tidak turut aktif dalam berda’wah dan amar ma’ruf dan nahi mungkar.*

3  Amar ma’ruf dan nahi mungkar  dilakukan dengan  kordinasi dan manajemen  dalam sebuah jamaah yang kokoh. Kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.

(الحق بلا نظام يغلبه الباطل بنظام)

4. *Konsekuensi tidak melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, maka Allah akan  mengirim azabnya, kemudian mereka berdo’a tetapi tidak dikabulkan.*

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- *Hukum amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah wajib.*

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

*“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”* (QS Ali Imraan 104).

2- *Keutamaan melaksanakan nahi mungkar, selamat dari adzab Allah dan memperoleh ridha dan surga-Nya*

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, *Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat* dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik”(QS Al A'rof :165).

3- *Penjagaan bumi agar tidak berubah menjadi sarang kejahatan.*

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ()وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. *Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan”* (QS Hud 116-117).

Minggu, 26 Mei 2019

Tagged under: ,

Meraih Keutamaan Lailatul Qadar

Buletin Kaffah No. 092, 19 Ramadhan 1440 H – 24 Mei 2019

Tak terasa, kita sedang menuju sepertiga malam terakhir Ramadhan. Menurut riwayat yang paling kuat, di sepertiga malam terakhir Ramadhanlah terjadi Lailatul Qadar. Sebuah malam yang utama, yang keutamaannya lebih baik dari seribu bulan. Itulah yang Allah SWT tegaskan:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Taukah kamu, apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu adalah (malam yang) lebih baik dari seribu bulan (TQS al-Qadar [97]: 2-3). 

Menurut Mujahid, hal itu bermakna bahwa menghidupkan Lailatul Qadar dan beramal di dalamnya adalah lebih baik dari menghidupkan seribu bulan. Dengan kata lain, pahala menghidupkan Lailatul Qadar lebih baik dari pahala beribadah selama kira-kira 83 tahun 3 bulan (Ibnu al-Jauzi, At-Tadzkirah f al-Wa’izh, 1/218).

Tentang keutamaan menghidupkan Lailatul Qadar, Rasulullah saw. bersabda:

وَ مَنْ قَامَ لَيْلَة الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Siapa saja yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan kepada Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR al-Bukhari dan Muslim).

Begitu besar keutamaan menghidupkan Lailatul Qadar, Imam Syafii berkomentar, “Siapa saja yang meninggalkan shalat pada (malam) Lailatul Qadar maka ia wajib mengantinya dengan menunaikan shalat yang sama selama seribu bulan sebagai qiyas atas keutamaan malam tersebut.” (Muhammad Uwaidhah, Fashl al-Khithâb fi az-Zuhd wa ar-Raq’iq wa al-Adab, 1/1007).

Begitu besarnya keutamaan Lailatul Qadar, Allah SWT merahasiakan keberadaan malam tersebut. Meski demikian, Rasul saw. memberikan petunjuk bahwa Lailatul Qadar terjadi di sepuluh malam terakhir Ramadhan:

تَحَرُّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Carilah oleh kalian Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan (HR al-Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadis ini, pendapat yang sahih menjelaskan bahwa Lailatul Qadar terjadi di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Yang paling diharapkan, Lailatul Qadar terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Yang paling benar-benar diharapkan, Lailatul Qadar terjadi pada malam ke-27 Ramadhan (Muhammad Uwaidhah, Fashl al-Khithâb fi az-Zuhd wa ar-Raqa’iq wa al-Adab, 3/385).

Pertanyaannya: Mengapa Allah SWT merahasiakan keberadaan Lailatul Qadar? Menurut Imam an-Nasafi, “Allah SWT merahasiakan keberadaan Lailatul Qadar agar kaum Muslim bersungguh-sungguh (beribadah) di seluruh malam Ramadhan.” (Lihat: Ibnu Abdussalam ash-Shafuri, Najhah al-Majâlis wa al-Muntakhab an-Nafâ’is, 1/162).

Senada dengan itu, menurut Imam al-Ghazali, maksud Allah SWT menyembunyikan keberadaan Lailatul Qadar boleh jadi agar manusia melipatgandakan kesungguhannya dalam mencari malam tersebut (Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Din, 3/121).

Namun demikian, kita layak meneladani para salafush-shalih. Bagi mereka, kesungguhan dalam beribadah tak hanya khusus pada (malam) Lailatul Qadar, juga tak khusus pada Bulan Ramadhan saja. Akan tetapi, mereka senantiasa bersungguh-sungguh beribadah setiap malam sepanjang usia kehidupan mereka. Pasalnya, sebagaimana kata Syaikh Abul ‘Abbas:

أَوْقَاتُنَا كُلُّهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ أَيْ عِبَادَتُنَا كُلُّهَا مُضَاعَفَةٌ
“Seluruh waktu kami adalah ‘Lailatul Qadar’. Artinya, ibadah kami setiap waktu senantiasa berlipat ganda.” (Abul ‘Abbas, Iqâzh al-Himam Syarh Matan al-Hikam, 1/62).

Ada juga ulama yang menyatakan:

كُلُّ لَيْلَةٍ لِلْعَارِفِ بِمَنْزِلَةِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Bagi seorang ‘arif (orang yang mengenal Allah SWT, red.), setiap malam kedudukannya sama dengan Lailatul Qadar.” (Abu Thalib al-Makki, Qût al-Qulûb, 1/119).

Artinya, ibadah mereka setiap malam senantiasa berlipat ganda sebagaimana ibadah mereka pada (malam) Lailatul Qadar.

Adakah yang Lebih Utama dari Lailatul Qadar?

Dengan merenungkan betapa besarnya keutamaan menghidupkan Lailatul Qadar, sudah sepantasnya setiap Muslim berhasrat dan bersungguh-sungguh
meraih keutamaan tersebut. Sebab, dengan keutamaan yang lebih baik dari seribu bulan atau sekitar 83 tahun—melampaui rata-rata usia manusia akhir zaman—tentu sangat disayangkan jika sampai hal ini disia-siakan. Apalagi keutamaan Lailatul Qadar tidak datang setiap hari.

Sewajarnyalah kaum Muslim bersungguh-sungguh beribadah selama Ramadhan, khususnya di sepertiga malam terakhir Ramadhan, di antaranya dengan banyak beritikaf di masjid, semata-mata sangat berharap meraih keutamaan Lailatul Qadar.

Namun demikian, Lailatul Qadar bukanlah satu-satunya keutamaan yang Allah SWT berikan kepada kaum Muslim. Banyak keutamaan lain yang Allah SWT berikan kepada para hamba-Nya. Salah satunya bahkan melebihi keutamaan menghidupkan Lailatul Qadar. Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadis sahih:

مَوْقِفُ سَاعَةً فِي سَبِيْلِ اللهِ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ عِنْدَ الْحَجَرْ الْأَسْوَدِ
Berjaga-jaga satu jam saja di medan jihad fi sabilillah adalah lebih baik daripada menghidupkan Lailatul Qadar di dekat Hajar Aswad (HR Ibn Hibban dan al-Baihaqi).

Bayangkan, menghidupkan Lailatul Qadar—yang lebih baik dari seribu bulan—adalah amalan utama. Apalagi dilakukan di tempat yang utama. Di dekat Hajar Aswad. Namun demikian amalan utama tersebut bisa ‘dikalahkan’ oleh amalan jihad di jalan Allah SWT meski sekadar berjaga-jaga cuma sebentar saja.

Rasulullah saw. pun bersabda dalam hadis sahih lainnya:

أَلاَّ أُنَبِّئُكُمْ لَيْلَةً أَفْضَل مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ حَارِسٌ حَرَسَ فِي أَرْضِ خَوْفٍ لَعَلَّهُ أَنْ لَا يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ
Tidakkah kalian mau aku beritahu suatu malam yang lebih utama dari Lailatul Qadar? (Yaitu) seseorang yang berjaga-jaga di suatu medan yang menakutkan (medan jihad, red.) yang boleh jadi dia tidak bisa kembali kepada keluarganya (karena terbunuh sebagai syahid, red.) (HR al-Hakim).

Sayang, tidak sebagaimana besarnya hasrat umat untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar, tidak banyak Muslim yang merindukan keutamaan jihad fi sabilillah. Padahal jihad bahkan merupakan amalan utama yang lebih dulu disebut oleh Rasulullah saw. sebelum haji mabrur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.:

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَال: إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ. قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: حَجٌّ مَبْرُورٌ
Nabi saw. pernah ditanya, “Amal apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya?” Beliau ditanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah?” Beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Haji mabrur.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Itulah mengapa, dalam banyak riwayat, para sahabat sering begitu antusias saat ada panggilan jihad dari Rasulullah saw. Apalagi pada Bulan Ramadhan. Mereka selalu bersemangat menjemput mati syahid. Mereka bahkan rela meninggalkan apapun, termasuk momen yang paling penting dalam hidup mereka, seperti ‘malam pengantin’, sebagaimana yang dilakukan oleh Sahabat Hanzhalah ra. Ia segera meninggalkan istrinya yang baru beberapa jam sebelumnya ia nikahi, lalu berlari demi menjemput syahid di medan jihad.

Bahkan di akhirat kelak, orang-orang yang mati syahid berangan-angan dihidupkan dan dipulangkan kembali dunia karena berhasrat untuk kembali terbunuh sebagai syahid sepuluh kali karena merasakan sendiri keutamaan orang-orang yang mati syahid saat ditempatkan di surga-Nya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Meraih Pahala Setara Jihad fi Sabilillah

Memang, berbeda dengan Palestina yang masih dijajah Israel, misalnya, atau sejumlah negeri Muslim lain yang diperangi kaum kafir, Indonesia saat ini bukanlah medan jihad. Indonesia adalah wilayah damai. Karena itu siapapun yang melakukan aksi kekerasan—yang disebut sebagai terorisme—di negeri ini tidak bisa dianggap sebagai jihad.

Jika demikian, bagaimana caranya supaya kita bisa meraih pahala yang setara dengan jihad? Rasulullah saw. telah mengajari kita satu hal: dakwah dan amar makruf nahi mungkar, khususnya kepada penguasa zalim. Itulah amal yang pahalanya setara dengan jihad. Bahkan oleh Rasul saw. disebut sebagai jihad yang paling utama:

  أَلَا إِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِر
Ingatlah, sungguh jihad yang paling utama adalah menyampaikan kata-kata kebenaran di hadapan penguasa zalim (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Beliau pun bersabda:

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ، فَنَهَاهُ وَأَمَرَهُ، فَقَتَلَهُ
Pemuka para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan seseorang yang berdiri tegak di hadapan penguasa zalim; dia memerintah dan melarang penguasa zalim tersebut, lalu penguasa zalim itu membunuh dirinya (HR al-Hakim dan ath-Thabarani).

Alhasil, selain fokus dan bersungguh-sungguh meraih keutamaan Lailatul Qadar di sepertiga malam terakhir Ramadhan, marilah kita terus menggelorakan semangat dakwah dan amar makruf nahi mungkar, khususnya kepada para penguasa zalim, agar mereka mau menghentikan kezaliman mereka. Jika mereka tidak terima dan malah membinasakan kita, justru di situlah kita—insya Allah—meraih pahala mati syahid, yang keutamaannya melebihi keutamaan menghidupkan Lailatul Qadar.

WalLâhu a’lam bi ash-shawwâb. []

Pimpinan dan Staf Redaksi Buletin Kaffah Mengucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَ صِيَامَكُمْ
وَ كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Mohon Maaf Lahir dan Batin.