image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Jumat, 17 Januari 2020

Tagged under: ,

Setelah Konstantinopel, Kita Akan Menaklukkan Roma

Buletin Kaffah, No. 124, 21 Jumada al-Ula, 1441 H-17 Januari 2020 M

Salah seorang sahabat Nabi saw., Abu Qubail, pernah bercerita: Ketika kami sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-‘Ash, dia ditanya, “Kota manakah yang akan ditaklukan terlebih dulu; Konstantinopel atau Roma?” Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian ia mengeluarkan kitab. Lalu ia berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah saw., beliau ditanya: “Di antara dua kota ini manakah yang akan ditaklukan terlebih dulu: Konstantinopel ataukah Roma?” Beliau menjawab:

*مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلًا يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ*
“Kota Heraklius ditaklukkan lebih dulu, yaitu Konstantinopel.” *(HR Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim).*

Hadis ini dinyatakan shahih oleh al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Adapun Abdul Ghani al-Maqdisi berkata, “Hadis ini sanadnya hasan.” 

Janji Nabi saw. itu ternyata memotivasi setiap khalifah kaum Muslim untuk merealisasikannya. Sejarah mencatat bahwa upaya serius penaklukan Konstantinopel telah berlangsung sejak masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan (668-669 M). Namun demikian, karena kuatnya pertahanan musuh, pasukan Islam yang dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah pada saat itu belum mampu menaklukkan kota tersebut.  

Konstantinopel dikenal dengan benteng-bentengnya yang sangat kokoh. Kota itu juga memiliki benteng alam berupa tiga lautan yang mengelilinginya, yaitu: Selat Basphorus, Laut Marmara dan Tanduk Emas. Ketiganya dikelilingi oleh rantai besar sehingga sangat sulit bagi kapal musuh untuk leluasa masuk ke dalamnya.

Daratannya juga dijaga oleh benteng yang kokoh terbentang dari Laut Marmara sampai ke Tanduk Emas. Dari segi kekuatan militer, kota ini terhitung sebagai kota yang paling aman dan terlindungi. Sebab di dalamnya ada pagar-pagar yang tinggi menjulang, menara pengintai yang kokoh serta serdadu Bizantium di setiap penjuru kota. Wajar jika wilayah itu sangat sulit untuk ditaklukkan.

Meski begitu, cita-cita untuk membebaskan Konstantinopel tidak pernah berhenti. Perjuangan berikutnya terus dilanjutkan oleh Khilafah Abbasiyyah. Pada masa Khalifah al-Mahdi, ia mengirim  sejumlah ekspedisi ke wilayah-wilayah Imperium Bizantium sejak 163 H/779 M. Saat itu Al-Mahdi mengirim sebuah ekspedisi musim panas yang langsung dipimpin putranya, Harun ar-Rasyid. Tujuannya untuk mengepung Konstantinopel. Tahun 166 H/782 M, Harun ar-Rasyid kembali memimpin ekspedisi musim panas yang berjumlah sembilan puluh lima ribu personel. Ekspedisi ini tiba hingga di laut yang mengelilingi Konstantinopel. Sayangnya usaha menjemput janji Nabi saw. ini pun gagal.

Selanjutnya, setelah Kota Baghdad jatuh pada tahun 656 M, yang menjadi akhir Khilafah Abbasiyah, usaha membebaskan Konstantinopel tetap diteruskan sampai ke generasi Khilafah Utsmaniyah, yakni Bayazid I (795-803 H/ 1393-1401 M) dan Sultan Murad II (1422 M). Usaha mereka pun masih tetap menemui kegagalan.

Namun demikian, upaya pembebasan terus berlanjut. Akhirnya, setelah delapan abad berlalu, Allah SWT mengabulkan impian umat Islam tersebut melalui kepemimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih, pemimpin ketujuh dari Khilafah Utsmaniyah. Sejarah menceritakan bahwa Muhammad Al-Fatih adalah seorang yang shalih. Sejak balig, Al-Fatih tidak pernah meninggalkan kewajibannya. Ia pun senantiasa memperbanyak amalan sunnah. Setelah diangkat menjadi sultan, Al-Fatih langsung melanjutkan tradisi para pendahulunya untuk terjun langsung dalam Penaklukan Konstantinopel.


*Bersungguh-sungguh Menjemput Janji Nabi saw.*

Muhammad Al-Fatih memperbanyak jumlah pasukannya hingga mencapai 250.000 personil. Angka ini merupakan jumlah yang sangat besar jika dibandingkan dengan jumlah tentara negara lain pada saat itu. Ia juga memperkuat pelatihan pasukan dengan berbagai seni tempur dan ketangkasan bersenjata. Dengan begitu mereka memiliki kemampuan tempur tingkat tinggi. Ia juga menanamkan nilai-nilai tauhid dan keislaman sehingga pasukannya benar-benar memiliki ruh jihad yang kuat.

Hampir dua bulan pasukan Muhammad Al-Fatih melakukan pengepungan dan serangan ke Konstantinopel, yaitu dari 26 Rabiul Awal hingga 19 Jumada al-Ula 857 H (6 April–28 Mei 1453 M). Muhammad Al-Fatih mengerahkan berbagai strategi. Di antaranya memindahkan kapal-kapal melalui bukit, membuat terowongan-terowongan dan membuat benteng bergerak dari kayu.  Akhirnya, pada 20 Jumadil Ula 857 M (29 Mei 1453 M) Konstantinopel berhasil dibebaskan oleh pasukan Islam *(Lihat: Ali Muhammad ash-Shalabi, Ad-Dawlah al-‘Utsmaniyyah: ‘Awamil an-Nuhudh wa Asbab as-Suquth, hlm. 87-107).*

Apa yang dilakukan oleh umat Islam saat itu menunjukan bahwa mereka benar-benar yakin dengan apa yang disampaikan oleh Nabi saw. Itu dibuktikan dengan kesungguhan mereka untuk menjemput janji beliau. Meskipun berulang gagal, para khalifah dari generasi ke generasi terus berupaya membuktikan kebenaran janji beliau tersebut. Akhirnya, perjuangan mereka membuahkan hasil yang sempurna di tangan seorang pemuda bernama Muhammad. Beliaulah yang sukses menaklukan Konstantinopel. Itulah sebabnya ia disebut sebagai Al-Fatih, yang berarti Sang Penakluk.

Memang seperti itulah seharusnya seorang Muslim. Sebagaimana janji Allah akan surga yang akan diraih setelah melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh dari para hamba-Nya, janji-Nya akan kejayaan Islam dan kaum Muslim pun harus diwujudkan dengan sungguh-sungguh oleh orang-orang yang beriman. Kemenangan tidak akan datang dengan sendirinya. Ia akan datang setelah melalui proses perjuangan yang panjang, yang kadangkala harus mengorbankan segenap jiwa dan raga. 


*Penaklukan Roma, Kabar Gembira yang Harus Kita Perjuangkan*

Kabar gembira Nabi Muhammad saw. tentang Penaklukkan Konstantinopel telah terbukti dan berhasil diwujudkan oleh Muhammad Al-Fatih. Selanjutnya, menurut hadis shahih  di atas, Rasulullah saw. mengisyaratkan bahwa berikutnya Kota Roma akan ditaklukkan. Saat ditanya, “Kota manakah yang dibebaskan lebih dulu, Konstantinopel atau Roma?” Rasul saw. menjawab, *“Kota Heraklius dibebaskan lebih dulu, yaitu Konstantinopel.”* (HR Ahmad).

Berdasarkan hadis tersebut, secara kronologis, Pembebasan Roma terjadi setelah Pembebasan Konstantinopel. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa kabar gembira tersebut justru Rasulullah saw.   sampaikan tatkala umat Islam dalam masa-masa sulit, yakni saat mempersiapkan parit untuk menghadang pasukan koalisi Bangsa Quraisy pada Perang Ahzab.

Dalam kitab *Mu’jam al-Buldan* karya Yakut al-Hamawi dijelaskan, bahwa maksud Rumiyah dalam hadis di atas adalah ibukota Italia hari ini, yaitu Roma *(Al-Hamawi, Mu’jam al-Buldan, 3/100).*

Setelah Pembebasan Konstantinopel tujuh abad yang lalu, hingga sekarang umat Islam belum berhasil membebaskan Kota Roma. Penyebutan Roma setelah Konstantinopel tampaknya merupakan mukjizat tersendiri karena hingga sekarang Roma merupakan simbol agama Nasrani dan peradaban Romawi (Barat).

Memang Rasulullah saw. tidak secara tegas menyebutkan kapan Pembebasan Roma terjadi dan siapa yang akan bisa melakukannya, seperti halnya Pembebasan Konstantinopel. Akan tetapi, yang pasti Pembebasan Roma tidak akan terjadi kecuali setelah umat Islam memiliki kekuatan yang sangat besar, yaitu kekuatan yang setara atau bahkan melebihi kekuatan umat Islam tatkala membebaskan Konstantinopel. Kekuatan itu hanya mungkin terjadi ketika umat Islam memiliki Khilafah yang ditegakkan berdasarkan metode kenabian. Demikian sebagaimana komentar Syaikh al-Albani ketika mengomentari hadis di atas. Ia menulis, “Penaklukan pertama (Konstantinopel) telah berhasil direalisasikan melalui tangan Muhammad Al-Fatih al-‘Utsmani. Seperti yang telah diketahui, penaklukan itu terealisasi setelah lebih dari delapan ratus tahun sejak kabar gembira itu disampaikan oleh Nabi saw. Pembebasan kedua (yaitu Penaklukan Kota Roma) dengan izin Allah juga pasti akan terealisasi. Sungguh, beritanya akan Anda ketahui di kemudian hari. Tidak diragukan bahwa realisasi pembebasan kedua itu menuntut kembalinya Khilafah Rasyidah ke tengah-tengah umat Muslim.” (Al-Albani, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, 1/33, nomor hadis. 1329).

Bukan tugas kita untuk memastikan kapan itu terjadi, sebab ini merupakan perkara gaib. Namun, bila dicermati lebih dalam, banyak kesamaan karakter perjalanan dalam merealisasikan janji tersebut, yaitu tidak lepas dari jihad fi sabilillah dan pengerahan pasukan yang sangat besar. Sebagaimana takluknya Konstantinopel saat Kekhilafahan Islam masih tergak berdiri, maka Roma pun hanya akan takluk saat Kekhilafahan kembali tegak nanti.

Tugas kita adalah memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah. Bukan diam. Apalagi menghalang-halanginya. Khilafah itulah yang akan mempersatukan kaum Muslim di seluruh penjuru dunia yang saat ini tercerai-berai. Kemudian muncullah kekuatan dan kelak takluklah Kota Roma di tangan kita semua. []


*Hikmah:*


*Allah SWT* berfirman:

*وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ*
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih di antara kalian, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam), dan akan mengubah (keadaan) mereka—setelah berada dalam ketakutan—menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutukan-Ku dengan apapun. Siapa saja yang (tetap) kafir setelah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik.
*(TQS an-Nur [24]: 55).* []

Jumat, 10 Januari 2020

Tagged under: ,

Musibah: Agar Kita Segera Kembali Kepada Allah SWT

*Buletin Kaffah, No. 123, 14 Jumadul Awal 1441 H-10 Januari 2020 M*


Bencana kembali melanda. Musibah kembali menyapa. Kali ini dalam wujud banjir yang kembali hadir. Di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor dan beberapa daerah sekitar. Sebagian memicu tanah longsor. Seperti terjadi di beberapa titik di Kecamatan Sukajaya Bogor.


*Bagian dari Ujian*

Bencana di negeri ini, termasuk banjir dan longsor, tentu bukan sekali-dua kali terjadi. Bahkan sepanjang 2019 saja, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 3.768 kejadian bencana alam terjadi di Indonesia. Di antaranya berupa gempa bumi, gunung meletus, tsunami, banjir, longsor, kebakaran hutan, dll. Menurut BNPB, akibat bencana sepanjang 2019, sebanyak 478 orang meninggal dunia, 109 hilang, 6,1 juta jiwa mengungsi dan 3.419 luka-luka. Bencana juga mengakibatkan 73.427 rumah rusak. Termasuk merusak 2.017 fasilitas meliputi 1.121 sekolah, 684 rumah ibadah, 212 fasilitas kesehatan, 274 kantor dan 442 jembatan (Katadata.co.id, 31/12/2019). 

Semua bencana ini tentu harus disikapi secara tepat oleh setiap Muslim. Dalam hal bencana karena faktor alam—gempa bumi, gunung meletus dan tsunami, misalnya—sikap kita jelas. Semua itu merupakan bagian dari sunatullah atau merupakan qadha’ (ketentuan) dari Allah SWT. Tak mungkin ditolak atau dicegah. Di antara adab dalam menyikapi qadha’ ini adalah sikap ridha. Juga sabar. Baik bagi korban ataupun keluarga korban. Bagi kaum Mukmin, qadha’ ini merupakan ujian dari Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

*وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ*
Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan kelaparan. Juga dengan berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar *(TQS al-Baqarah [2]: 155).*


Orang berakal akan menjadikan sikap sabar sebagai pilihannya dalam menyikapi bencana/musibah. Ia meyakini bahwa sebagai manusia ia tak mampu menolak qadha’. Semua ini sudah merupakan ketentuan Allah SWT. Karena itu ia wajib menerima qadha’ dan takdir Allah SWT *(Al-Jazairi, Mawsu’ah al-Akhlaq, 1/137).*


*Penghapus Dosa*

Selain sebagai ujian, bencana apapun yang menimpa seorang Mukmin, besar atau kecil, sesungguhnya bisa menjadi wasilah bagi penghapusan sebagian dosa-dosanya. Rasulullah saw. bersabda:

*مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ*
Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah (bencana) berupa kesulitan, rasa sakit, kesedihan, kegalauan, kesusahan hingga tertusuk duri kecuali Allah pasti menghapus sebagian dosa-dosanya *(HR al-Bukhari dan Muslim).*

Tentu, dosa-dosa terhapus dari orang yang tertimpa musibah jika ia menyikapi musibah itu dengan keridhaan dan kesabaran *(Lihat: Ibn Qudamah al-Maqdisi, Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, 1/272; As-Samarqandi, Tanbih al-Ghafilin, 1/255).*


*Akibat Dosa dan Kemaksiatan*

Selain karena faktor alam, banyak kejadian bencana justru sebagai akibat dari ulah manusia sendiri. Contohnya kasus bencana asap beberapa waktu lalu. Selain karena adanya kebakaran hutan (yang tidak disengaja), juga karena adanya upaya pembakaran hutan (secara sengaja) oleh beberapa korporasi/perusahaan. Sepanjang tahun 2019 saja BNPB mencatat setidaknya 747 kasus kebakaran/pembakaran hutan. Pemerintah, melalui, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pun telah memenangkan gugatan perdata atas kasus kejahatan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan total ganti rugi senilai Rp 315 triliun. Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Penegakan Hukum (Gakkum), selain memenangkan gugatan atas sejumlah korporasi, Ditjen Gakkum juga sudah menyegel 84 korporasi yang terlibat dalam kasus kejahatan Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) (Katadata.co.id, 18/11/2019).

Lalu dalam hal bencana berupa banjir dan longsor, misalnya, selain curah hujan yang tinggi, juga ada faktor penyebab lain. Dalam kasus banjir bandang dan tanah longsor di Lebak, Banten, misalnya, penyebabnya antara lain perambahan hutan dan penambangan liar (Kompas.tv, 7/1/2020). 

Adapun banjir dan longsor di Bogor, antara lain di Kecamatan Sukajaya, menurut Menteri Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), selain akibat curah hujan dalam kurun cukup lama, di atas perbukitan di sepanjang jalan maupun aliran sungai di daerah tersebut yang berupa batuan lempung dengan kemiringan 90 derajat sudah banyak dijadikan pemukiman (Liputan6.com, 5/1/2020).

Sementara itu banjir yang melanda Kawasan Jakarta, khususnya di sebagian area Tol Jakarta-Cikampek, menurut Kemenhub, adalah akibat Proyek Kereta Cepat. Proyek tersebut telah menutupi sejumlah saluran air. Akibatnya, air meluap dan menimbulkan banjir (Detik.com, 6/1/2020). 

Semua bencana yang terakhir ini jelas akibat dari sejumlah pelanggaran yang dilakukan oleh manusia. Di antaranya dalam wujud tindakan merusak hutan, melakukan penambangan liar, mengabaikan Amdal, dll. Sudah begitu, Pemerintah cenderung lalai bahkan abai terhadap pelaku pelanggaran tersebut. Bahkan yang ironis, Pemerintah sendiri malah seolah “memfasilitasi” para pelaku pelanggaran tersebut. Misal, hanya demi menggenjot investasi, Pemerintah melalui Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) atau Badan Pertanahan Nasional (BPN) berencana menghapuskan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan juga Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) (Okezone.com, 8/11/2019). 

Semua bencana ini, dalam bahasa al-Quran, merupakan akibat dari dosa dan kemaksiatan manusia. Allah SWT berfirman:

*ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ*
Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya) *(TQS ar-Rum [30]: 41).*


*Teladan Khalifah Umar ra. dalam Mengatasi Bencana*

Imam al-Haramain (w. 478 H) menceritakan bahwa pada masa Umar ra. pernah terjadi gempa bumi. Khalifah Umar ra. segera mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Saat itu bumi sedang berguncang keras. Khalifah Umar ra. lalu memukul bumi dengan cambuk sambil berkata, “Tenanglah engkau, bumi. Bukankah aku telah berlaku adil kepadamu.” Seketika bumi pun behenti berguncang.

Imam al-Haramain menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi. Sebabnya, Khalifah Umar ra. adalah Amirul Mukminin secara lahir dan batin. Beliau adalah khalifah Allah bagi bumi dan penduduknya *(Yusuf al-Nabhani, Jami’ Karamat al-Awliya’, 1/157—158).*

Demikianlah, ketakwaan Khalifah Umar ra. sebagai pemimpin sanggup menjadikan bumi “bersahabat” dengan manusia.

Sebaliknya, dosa dan kemaksiatan yang terjadi hari ini, khususnya yang dilakukan oleh penguasa, bisa menyebabkan bumi terus berguncang. Saat menafsirkan QS ar-Rum ayat 41 di atas, Imam Ibnu katsir mengutip pernyataan Abu al-Aliyah terkait perusakan bumi. Kata Abu al-Aliyah:

*مَنْ عَصَى اللَّهَ فِي الْأَرْضِ فَقَدْ أَفْسَدَ فِي الْأَرْضِ لِأَنَّ صَلَاحَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ بِالطَّاعَةِ*
Siapa saja yang bermaksiat kepada Allah di bumi maka sungguh ia telah merusak bumi. Sungguh kebaikan bumi dan langit adalah dengan ketaatan (kepada Allah SWT) *(Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 6/320)*.


*Segera Bertobat!*

Karena itu satu-satunya cara untuk mengakhiri ragam bencana ini tidak lain dengan bersegera bertobat kepada Allah SWT. Tobat harus dilakukan oleh segenap komponen bangsa. Khususnya para penguasa dan pejabat negara. Mereka harus segera bertobat dari dosa dan maksiat. Juga ragam kezaliman. Kezaliman terbesar adalah saat manusia, terutama penguasa, tidak berhukum dengan hukum Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

*وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ*
Siapa saja yang tidak memerintah/berhukum dengan hukum yang telah Allah turunkan, mereka adalah para pelaku kezaliman *(TQS al-Maidah [5]: 5).*

Karena itu pula tobat terutama harus dibuktikan dengan kesediaan mereka untuk mengamalkan dan memberlakukan syariah-Nya secara kâffah dalam semua aspek kehidupan (pemerintahan, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, sosial, dsb). Jika syariah Islam diterapkan secara kâffah, tentu keberkahan akan berlimpah-ruah memenuhi bumi. Mengapa? Karena penerapan hukum Islam atau syariah Islam secara kâffah adalah wujud hakiki dari ketakwaan. Ketakwaan pasti akan mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi, sebagaimana firman-Nya:

*وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ*
Andai penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan membukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) sehingga Kami menyiksa mereka sebagai akibat dari apa yang mereka perbuat *(TQS al-Araf [7]: 96)*. []



*Hikmah*:

Allah SWT berfirman:

*ءَأَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَآءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِىَ تَمُورُ - أَمْ أَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَآءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ - وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ*
Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Ataukah kalian merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? Sungguh orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.
*(TQS al-Mulk [67]: 16-18)*. []

Minggu, 05 Januari 2020

Tagged under: ,

Cinta Harta dan Kekuasaan Sumber Malapetaka

Buletin Kaffah, No. 122, 07 Jumadul Awal 1441 H-03 Januari 2020 M
 

Allah SWT telah menciptakan pada diri manusia gharizah al-baqa’, yakni naluri mempertahankan eksistensi diri. Salah satu perwujudannya adalah kecintaan manusia pada harta dan kekuasaan. Allah SWT berfirman:

*﴿زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ﴾*
Telah dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa saja yang diinginkan, yaitu: para wanita; anak-anak; harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) *(TQS Ali Imran [3]: 14)*.


Allah SWT juga memperingatkan bahwa harta merupakan fitnah bagi manusia (QS al-Anfal [8]: 28; QS at-Taghabun [64]: 15). Karena itu sesuai hadis riwayat Imam at-Tirmidzi, setiap orang akan ditanyai di akhirat atas harta yang didapat; dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan. 

Untuk itu hendaklah setiap Muslim ingat dan memenuhi pesan Rasul saw.:

*« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ فَلاَ تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ وَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ »*
Hai manusia, sungguh salah seorang di antara kalian tidak akan mati sampai Allah menyempurnakan rezekinya. Karena itu janganlah kalian menganggap lelet (datangnya) rezeki. Bertakwalah kepada Allah, hai manusia, dan baguslah dalam meminta. Ambillah apa saja yang halal dan tinggalkan apa yang haram *(HR al-Hakim, al-Baihaqi dan Ibn Majah)*.


Setiap Muslim harus mengendalikan cintanya pada hartanya. Jangan sampai berlebihan. Cinta harta berlebihan bisa mendorong orang untuk memperoleh harta tanpa peduli halal dan haram. Jika sudah demikian, cinta harta akan menjadi sumber bencana baik bagi individu maupun masyarakat.

Orang yang mencari harta dengan jalan yang haram tentu berdosa dan menanggung akibatnya di dunia dan akhirat. Di antara akibat di dunia yang harus ditanggung adalah dicabutnya keberkahan. 


*Cinta Harta dan Korupsi*

Harta kebanyakan diperoleh melalui interaksi, muamalah dan transaksi dengan orang lain. Harta yang didapat dengan cara maksiat berarti diperoleh melalui transaksi yang melanggar syariah. Dalam hal itu tentu ada pihak yang dizalimi atau dilanggar haknya. Semua itu terjadi karena dorongan cinta harta yang berlebihan. 

Apalagi jika harta itu diperoleh melalui korupsi, misalnya. Dampaknya dirasakan oleh masyarakat luas. Bisa berupa pelayanan yang terhambat atau masyarakat terhalang dari manfaat harta yang dikorupsi. Bahkan korupsi bisa mengakibatkan dharar (bahaya), misalnya ketika yang dikorupsi adalah dana pembangunan proyek tertentu. Karena dikorupsi, boleh jadi kualitas bangunan dan fasilitas menurun, yang akibatnya bisa menimbulkan bahaya dan malapetaka bagi masyarakat.

Sayang, korupsi masih terus saja terjadi dan menjadi problem besar negeri ini. Menurut data KPK update data 30 September 2019, dari tahun 2004 – 2019 ada 1007 perkara korupsi yang ditangani oleh KPK. Dari jumlah itu sebanyak 661 berupa penyuapan, 205 korupsi pengadaan barang dan jasa, 48 penyalahgunaan anggaran, 34 Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), 26 perkara pungutan, 23 perijinan dan 10 kasus merintangi perkara KPK (https://www.kpk.go.id/id/statistik/penindakan/tpk-berdasarkan-jenis-perkara). 

Adapun menurut data KPK update data 30 September 2019, sejak 2004-2019 tindak pidana korupsi itu dilakukan oleh 21 orang gubernur, 115 walikota/bupati/wakil, 257 anggota DPR atau DPRD, 28 kepala lembaga/kementerian, 4 duta besar, 7 komisioner, 213 pajabat eselon I/II/III, 22 hakim, 10 jaksa, 2 polisi, 12 pengacara, 287 swasta, 141 lainnya dan 6 korporasi. Totalnya ada 1125 pelaku tindak pidana korupsi. (https://www.kpk.go.id/id/statistik/penindakan/tpk-berdasarkan-profesi-jabatan).

Jumlah tindak korupsi yang terjadi lebih dari itu. Sebab tindak pidana korupsi sebanyak di atas hanya yang ditangani oleh KPK. Belum termasuk yang ditangani oleh Kepolisian dan Kejaksaan. Apalagi fenomena korupsi sering dikatakan sebagai fenomena gunung es. Jumlah kasus sebenarnya jauh lebih besar dari yang terungkap.

Semua itu, salah satu faktor pendorong terbesarnya, adalah cinta harta yang berlebihan. 


*Cinta Kekuasaan*

Bukan hanya cinta harta, korupsi juga dipengaruhi oleh hasrat atas kekuasaan atau jabatan. Di situlah, cinta harta bertemu dengan cinta kekuasaan atau jabatan. 

Dalam sistem demokrasi saat ini kekuasaan politik sangat dipengaruhi oleh unsur popularitas dan kampanye. Untuk itu dibutuhkan dana besar. Diduga salah satu caranya adalah dengan kolusi dan memanfaatkan kekuasaan untuk mendapatkan harta. Hal itu dibuktikan antara lain oleh kasus korupsi yang dilakukan oleh anggota DPR atau DPRD selama tahun 2018, setahun menjelang Pemilu, yang melonjak lima kali lipat dari rata-rata tahun sebelumnya. 

Bertemunya motif cinta harta dan cinta kekuasaan, selain menyuburkan korupsi, juga menyebabkan munculnya korporatokrasi. Politisi butuh modal untuk meraih jabatan politik atau kekuasaan. Modal itu bisa berasal dari milik sendiri atau dari para cukong politik. Setelah jabatan atau kekuasaan di tangan, saatnya digunakan untuk mengembalikan modal atau memberikan fasilitas kepada para cukong itu untuk mendapatkan pengembalian modal yang diberikan plus keuntungannya. Lahirlah berbagai kebijakan yang menguntungkan para pemodal dan merugikan rakyat kebanyakan.

Cinta kekuasaan juga akan mendorong penguasa untuk mempertahankan kekuasaan selama mungkin, baik tetap ada di tangannya atau di tangan keluarga, kroni dan koleganya. Dari situ lahirlah politik dinasti atau kroni. Sangat boleh jadi, hal itu untuk mengamankan diri atas apa yang sudah dilakukan selama berkuasa. 


*Amanah Jabatan dan Kekuasaan* 

Jabatan dan kekuasaan adalah amanah. Berat pertanggungjawabannya. Di dalam Islam, jabatan dan kekuasaan merupakan amanah dengan dua tujuan, seperti yang dipaparkan oleh Imam al-Mawardi rahimahulLah di dalam *Ahkâm as-Sulthâniyah*, yaitu untuk menjaga agama (harasah ad-dîn) dan mengatur dan memelihara dunia (siyâsah ad-dunyâ). 

*Siyasah* menurut Imam an-Nawawi rahimahulLah di dalam *Syarh Shahîh Muslim* adalah al-qiyâm bi asy-syay’i aw bi al-amri bi mâ yushlihuhu (melaksanakan sesuatu/perkara dengan apa yang membuat sesuatu/perkara itu baik). 

Amanah jabatan dan kekuasaan itu di akhirat hanya akan menjadi penyesalan kecuali ketika didapatkan dengan benar dan apa yang menjadi kewajiban ditunaikan dengan baik. Ketika Abu Dzar al-Ghifari radhiyalLâh ‘anhu meminta amanah kepemimpinan, Nabi saw. menolak, seraya memberi dia nasihat:

*«يَا أَبَا ذَرّ إِنَّكَ ضَعِيْفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا»*
Abu Dzar, sungguh engkau lemah. Sungguh jabatan/kekuasaan itu adalah amanah dan ia akan menjadi kerugian dan penyesalan pada Hari Kiamat, kecuali orang yang mengambil amanah itu dengan benar dan menunaikan kewajibannya di dalamnya *(HR Muslim)*.


Rasulullah saw. juga memperingatkan:

*مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوْتُ و َهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ*
Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum Muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menelantarkan urusan mereka, kecuali Allah mengharamkan surga untuk dirinya *(HR al-Bukhari dan Muslim).*


Imam Fudhail bin Iyadh menyatakan, “Hadis ini merupakan ancaman bagi siapa saja yang diserahi oleh Allah SWT untuk mengurus urusan kaum Muslim, baik urusan agama maupun dunia, kemudian ia berkhianat. Jika seseorang berkhianat terhadap suatu urusan yang telah diserahkan kepada dirinya maka dia telah terjatuh pada dosa besar dan akan dijauhkan dari surga. Penelantaran itu bisa berbentuk tidak menjelaskan urusan-urusan agama kepada umat, tidak menjaga syariah Allah dari unsur-unsur yang bisa merusak kesucian nya, mengubah-ubah makna ayat-ayat Allah dan mengabaikan hudûd (hukum-hukum Allah). Penelantaran itu juga bisa berwujud pengabaian terhadap hak-hak umat, tidak menjaga keamanan mereka, tidak berjihad untuk mengusir musuh-musuh mereka dan tidak menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka. Setiap orang yang melakukan hal ini dipandang telah mengkhianati umat.” *(Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim)*.


*Wajib Amar Makruf Nahi Mungkar*

Dalam hal ini, kaum Muslim wajib terus melakukan amar makruf nahi munkar. Nabi saw. bersabda:

*لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُؤَمِّرَنَّ عَلَيْكُمْ شِرَارَكُمْ، ثُمَّ يَدْعُو خِيَارُكُمْ، فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ*
Hendaklah kalian melakukan amar makruf nahi mungkar. Kalau tidak, Allah akan menjadikan orang-orang yang paling jahat di antara kalian berkuasa atas kalian, kemudian orang-orang baik di antara kalian berdoa, tetapi doa mereka tidak dikabulkan *(HR Ahmad)*. 


Kaum Muslim pun wajib memperjuangkan syariah Islam agar segera bisa diterapkan secara kaffah. Dengan itu cinta harta dan kekuasaan dapat dikelola dengan benar sehingga menjadi berkah. 

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []


*Hikmah:*

*يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (27) وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (28)*
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Jangan pula kalian mengkhianati amanah-aman kalian, sedangkan kalian tahu. Ketahuilah oleh kalian, sungguh harta-harta kalian dan anak-anak kalian bisa menjadi fitnah (bencana) dan sungguh di sisi Allah-lah pahala yang besar.
*(TQS al-Anfal [8]: 27-28)*. []

Sabtu, 28 Desember 2019

Tagged under: ,

Mewujudkan Ukhuwah Hakiki

*Buletin Kaffah, No. 121_30 Rabiul Akhir 1441 H-27 Desember 2019 M*


Seruan “Selamatkan Muslim Uighur!” beberapa hari ini terus bergema di media sosial di Tanah Air. Penindasan terhadap kaum Muslim di Propinsi Xinjiang oleh Pemerintah Komunis Cina telah menggerakkan spirit ukhuwah islamiyyah. Berbagai aksi juga digelar di sejumlah daerah. Termasuk di depan Kedubes Cina. Mereka menyampaikan protes keras atas tindak represif terhadap Muslim Uighur. 

Sayang, sejauh ini respon para pemimpin Dunia Islam, termasuk Indonesia, terhadap persoalan Uighur amat lemah. Diduga kuat lemahnya sikap mereka karena Cina sudah menjalin hubungan ekonomi kuat, termasuk dengan Indonesia, yang diikat oleh utang dan investasi. Di Indonesia, investasi Cina ada di peringkat ketiga. Nilainya sebesar 2,3 miliar dolar AS atau 16,2 persen dari total PMA.


*Muslim Itu Bersaudara*

Sesama kaum Mukmin telah Allah SWT tetapkan sebagai saudara. Islam telah menghilangkan berbagai sekat perbedaan; suku bangsa, ras, warna kulit dan status sosial. Allah SWT berfirman:

*إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ* 
Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) di antara kedua saudara kalian itu *(TQS Hujurat [49]: 10).*

Bahkan kuat atau lemahnya persaudaraan dengan sesama Mukmin menentukan kualitas keimanan seseorang. Baginda Nabi saw. bersabda:

*لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ*
Belum sempurna iman seseorang sampai ia mencintai bagi saudaranya apa saja yang ia cintai untuk dirinya sendiri *(HR Muslim).*


Karena itu kecintaan hakiki kepada sesama Muslim tercermin dari sikap yang senantiasa menginginkan saudaranya mendapatkan kebaikan, sebagaimana ia menginginkan kebaikan untuk dirinya. Juga tidak rela saudaranya tertimpa keburukan, sebagaimana ia pun tak menghendaki keburukan itu menimpa dirinya. Inilah hubungan laksana satu tubuh sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw.: 

*مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى*
Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh terjaga (tak bisa tidur) dan merasakan demam *(HR Muslim).*


Karena itu tentu ironi jika para penguasa Muslim malah membiarkan sesama Muslim ditindas dan dibunuh kaum kafir, sedangkan mereka menonton belaka. Tidak memberikan bantuan dan pembelaan. Bahkan mereka bersekutu dengan para penindasnya. Padahal Nabi saw. telah bersabda:

*الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يُسْلِمُهُ*
Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Janganlah ia menzalimi dan menyerahkan saudaranya (kepada musuh) *(HR al-Bukhari).*


Membiarkan sesama Muslim tertindas bukan hanya merusak amal dan menyebabkan dosa, tetapi juga akan mengundang ancaman Allah SWT berupa datangnya bencana besar. Firman-Nya:

*وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ*
Orang-orang  kafir itu, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (kaum Muslim) tidak melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar *(TQS al-Anfal [8]: 73).*


Imam ath-Thabari menjelaskan kalimat ‘tidak melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan itu’ bermakna tidak memberikan pertolongan. Padahal Allah SWT telah memerintah kita untuk menolong kaum Mukmin yang meminta pertolongan:

*وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ*
Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam urusan (pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan *(TQS al-Anfal [8]: 72).*


*Perangkap Cina*

Ada dua hal yang menyebabkan lunturnya ukhuwah islamiyyah dari dada umat, khususnya para penguasanya: Pertama, munculnya sikap ta’ashub ‘ashabiyyah (fanatisme kelompok, kesukuan/kebangsaan atau nasionalisme) yang menggeser spirit ukhuwah islamiyyah. Hal ini bertolak belakang dengan ajaran Islam. Rasulullah saw. sudah mengingatkan kaum Muslim agar menjauhi sikap ‘ashabiyyah: 

*«لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ»* 
Tidak termasuk golongan kami orang yang menyerukan 'ashabiyah. Tidak termasuk golong kami orang yang berperang atas dasar 'ashabiyah. Tidak termasuk golongan kami orang yang mati di atas dasar 'ashabiyah *(HR Abu Dawud).*

Kedua, kepentingan ekonomi. Dengan dalih pinjaman dan investasi, para penguasa negeri-negeri Muslim jinak di hadapan negara-negara asing. Ini pula yang terjadi pada penguasa negeri ini. 

Selain itu, Pemerintah Komunis China dikabarkan juga menggelontorkan banyak uang kepada sejumlah ormas Islam dengan tujuan sama: membungkam suara mereka *(Wall Street Journal, 11/12/2019).* Pemerintah Cina juga menawarkan beasiswa kepada pelajar Muslim di Indonesia untuk kuliah ke negeri Tiongkok. 

Tidak heran jika sejumlah pejabat dan tokoh Muslim di Indonesia seperti masuk angin. Meski tidak terang-terangan, mereka membenarkan tindakan represif pemerintah Komunis Cina kepada Muslim Uighur sebagai kebijakan deradikalisasi, kontra terorisme dan melawan separatisme. Mereka seolah tak peduli bahwa tindakan represif Pemerintah Cina amat brutal seperti memisahkan orangtua dengan anak; memaksa Muslim minum khamr, makan daging babi; melarang shalat dan puasa, juga membaca al-Quran; memenjarakan kaum Muslimah bahkan memperkosa dan membunuh mereka. Namun, para pejabat dan tokoh itu bergeming. Seperti mati rasa. Inilah yang diingatkan Allah, yakni orang yang hatinya keras melebihi batu (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 74).

Padahal Allah SWT telah mengharamkan kaum Muslim bersekutu dengan kaum kafir. Apalagi yang menindas dan menumpahkan darah kaum Muslim (Lihat: QS Ali Imran [3]: 118). Allah SWT juga melarang kita memberikan celah kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum Muslim (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 141). Termasuk lewat utang dan investasi. 


*Ukhuwah Hakiki*

Umat Islam adalah ummmah wâhidah (umat yang satu). Umat ini memiliki akidah dan syariah yang sama. Umat ini satu sama lain ditetapkan oleh Allah SWT sebagai ikhwah (saudara). Umat Islam digambarkan Rasulullah saw. ka al-jasad al-wâhid (laksana satu tubuh). Ukhuwah yang demikian kuat itu hanya akan dapat diwujudkan secara nyata ketika ada yang menyatukan umat dalam satu negara. Itulah Khilafah.

Sebaliknya, ketiadaan Khilafah, seperti saat ini,  menyebabkan umat Islam tercerai-berai dalam banyak negara. Karena faktor nasionalisme, masing-masing negara sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Tak peduli dengan nasib saudaranya yang lain. Lihatlah penderitaan kaum Muslim akibat ditindas oleh kaum kafir di Palestina, Irak, Suriah, Myanmar, India dan tentu Xinjiang. Tidak ada satu pun penguasa negeri Islam yang mengirimkan pasukan untuk membela saudara-saudaranya itu. 

Berbeda dengan saat ada Khilafah. Sebabnya, kata Rasulullah saw.:

*إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ*
Imam (Khalifah) itu laksana perisai; kaum Muslim diperangi (oleh kaum kafir) di belakang dia dan dilindungi oleh dirinya *(HR Muslim).*


Apa yang disabdakan Rasulullah saw. di atas dibuktikan dalam sejarah. Antara lain oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang sukses menaklukkan Kota Amuriyah, kota terpenting bagi imperium Romawi saat itu, selain Konstantinopel.

Al-Qalqasyandi dalam kitabnya, *Ma’âtsir al-Inâfah*, menjelaskan salah satu sebab penaklukan kota itu pada tanggal 17 Ramadhan 223 H. Diceritakan bahwa penguasa Amuriyah, salah seorang raja Romawi, telah menawan wanita mulia keturunan Fathimah ra. Wanita itu disiksa dan dinistakan hingga berteriak dan menjerit meminta pertolongan.

Menurut Ibn Khalikan dalam *Wafyah al-A’yan*, juga Ibn al-Atsir dalam *Al-Kâmil fî at-Târîkh*, saat berita penawanan wanita mulia itu sampai ke telinga Khalifah Al-Mu’tashim Billah, saat itu sang Khalifah sedang berada di atas tempat tidurnya. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya seraya berkata, “Aku segera memenuhi panggilanmu!” Tidak berpikir lama, Khalifah Al-Mu’tashim Billah segera mengerahkan sekaligus memimpin sendiri puluhan ribu pasukan kaum Muslim menuju Kota Amuriyah.

Terjadilah peperangan sengit. Kota Amuriyah pun berhasil ditaklukkan. Pasukan Romawi bisa dilumpuhkan. Sekitar 30 ribu tentaranya terbunuh. Sebanyak 30 ribu lainnya ditawan oleh pasukan kaum Muslim. Sang Khalifah pun berhasil membebaskan wanita mulia tersebut. Semoga Allah SWT merahmati Al-Mu’tashim Billah.

Semoga saja umat Islam di seluruh dunia segera bisa mewujudkan ukhuwah yang hakiki. Semoga mereka segera memiliki Khilafah, juga pemimpin pemberani yang mengayomi—seperti Khalifah Al-Mu’tashim Billah—yang akan menaklukkan Amerika, Eropa, Rusia dan Cina; menyatukan berbagai negeri Islam; menjaga kehormatan kaum Muslim; dan menolong kaum tertindas. Insya Allah, masa yang mulia itu akan segera tiba karena memang telah di-nubuwwah-kan oleh Rasulullah saw.:

*ثُمّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ*
Kemudian akan datang kembali masa Khilafah yang mengikuti metode kenabian *(HR Ahmad)*. []



*Hikmah*:

Allah SWT berfirman:

*يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ*
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan teman kepercayaan kalian orang-orang yang di luar kalangan kalian (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemadaratan atas kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami) jika kalian memahaminya.
*(TQS Ali Imran [3]: 118).* []

Jumat, 20 Desember 2019

Tagged under: ,

Islam Agama Toleran

Saat ini, tampak begitu massif arus opini tentang intoleransi. Seolah negeri ini darurat intoleransi. Bahkan Kementerian Agama (Kemenag) RI melakukan survei Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) tahun 2019 dengan rata-rata nasional sebesar 73,83. Penilaian tersebut diukur dari tiga indikator yaitu: toleransi, kesetaraan dan kerjasama di antara umat beragama. Dalam survei ini, Papua Barat menempati rangking paling atas (paling toleran). Disusul NTT, Bali, Sulawesi Utara, Maluku dan Papua. Indeks KUB-nya di atas rata-rata nasional. Adapun Aceh menempati ranking paling bawah (paling intoleran). Disusul Sumatera Barat, Jawa Barat, Banten, Riau dan NTB. Indeks KUB-nya di bawah rata-rata nasional.
Tentu hasil survei ini terasa janggal. Mengapa propinsi dengan kasus pembakaran masjid, pembakaran rumah penduduk dan pertokoan, penganiayaan dan pembunuhan sadis terhadap warga pendatang justru menempati ranking ke-6 teratas? Sebaliknya, mengapa propinsi dengan penduduk mayoritas Muslim serta memiliki semangat keislaman yang cukup baik, justru menempati rangking di bawah?
Islam Agama Toleran
Islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi. Wujud toleransi agama Islam adalah menjunjung tinggi keadilan bagi siapa saja, termasuk non-Muslim. Islam melarang keras berbuat zalim serta merampas hak-hak mereka. Allah SWT berfirman:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam urusan agama dan tidak pula mengusir kalian dari negeri kalian. Sungguh Allah menyukai kaum yang berlaku adil (TQS al-Mumtahanah [60]: 8).
Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahulLah di dalam tafsirnya mengatakan bahwa bentuk berbuat baik dan adil di sini berlaku kepada setiap pemeluk agama.
Islam mengajarkan untuk tetap bermuamalah baik dengan orangtua walaupun tidak beragama Islam.
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
Jika keduanya memaksa kamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik (TQS Luqman [31]: 15).
Islam pun melarang keras membunuh kafir dzimmi, kafir musta’min dan kafir mu’ahad. Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ قَتَلَ قَتِيلًا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا
Siapa saja yang membunuh seorang kafir dzimmi tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun (HR an-Nasa’i).
Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, praktik toleransi demikian nyata. Hal ini berlangsung selama ribuan tahun sejak masa Rasulullah Muhammad saw. sampai sepanjang masa Kekhalifahan Islam setelahnya.
Tentu sangat lekat dalam ingatan kisah Rasulullah saw. yang menyuapi pengemis buta di sudut pasar setiap harinya. Padahal pengemis itu adalah seorang Yahudi. Rasulullah saw. juga pernah menjenguk orang Yahudi yang sedang sakit. Padahal dia sering meludahi beliau. Beliau pun melakukan transaksi jual-beli dengan non-Muslim. Rasulullah saw. juga memimpin Negara Islam di Madinah dengan cemerlang walau dalam kemajemukan agama. Umat Islam, Nasrani dan Yahudi hidup berdampingan satu sama lain. Meski hidup dalam naungan pemerintahan Islam, masyarakat non-Muslim mendapatkan hak-hak yang sama dengan kaum Muslim sebagai warga negara. Mereka memperoleh jaminan keamanan. Mereka juga bebas melakukan peribadatan sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing.
Para khalifah pengganti beliau juga menunjukkan sikap toleransi yang sangat jelas. Saat Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. membebaskan Yerussalem Palestina, beliau menjamin warga Yerussalem tetap memeluk agamanya. Khalifah Umar tidak memaksa mereka memeluk Islam. Beliau pun tidak menghalangi mereka untuk beribadah sesuai dengan keyakinan mereka.
Sikap tenggang rasa juga terukir agung pada saat Muhammad al-Fatih sukses menaklukkan Konstantinopel. Saat itu banyak wajah kaum Kristiani pucat-pasi. Tubuh mereka menggigil ketakutan di sudut gereja. Faktanya, Muhammad al-Fatih membebaskan mereka tanpa ada yang terluka. Tak ada satu pun kaum Kristiani Konstantinopel yang dianiaya. Tak ada yang dipaksa untuk memeluk Islam.
Ini semua adalah fakta sejarah yang tidak mungkin terlupakan sampai kapan pun. Intelektual Barat pun mengakui toleransi dan kerukunan umat beragama sepanjang masa Kekhilafahan Islam. Kisah manis kerukunan umat beragama direkam dengan indah oleh Will Durant dalam bukunya, The Story of Civilization. Dia menggambarkan keharmonisan antara pemeluk Islam, Yahudi dan Kristen di Spanyol di era Khilafah Bani Umayyah. Mereka hidup aman, damai dan bahagia bersama orang Islam di sana hingga abad ke-12 M.
T.W. Arnold, seorang orientalis dan sejarahwan Kristen, juga memuji toleransi beragama dalam negara Khilafah. Dalam bukunya, The Preaching of Islam: A History of Propagation Of The Muslim Faith (hlm. 134), dia antara lain berkata: “Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmani—selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani—telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.”
Orientalis Inggris ini juga berkata: “Sejak Konstantinopel dibebaskan pada 1453, Sultan Muhammad II menyatakan dirinya pelindung gereja Yunani. Penindasan atas kaum Kristen dilarang keras. Untuk itu dikeluarkan sebuah dekrit yang memerintahkan penjagaan keamanan pada uskup agung yang baru terpilih, Gennadios, beserta seluruh uskup dan penerusnya."
Sinkretisme Bukan Toleransi
Toleransi tentu berbeda dengan Sinkretisme. Sinkretisme adalah pencampuradukan keyakinan, paham atau aliran keagamaan. Hal ini terlarang di dalam Islam. Contohnya perayaan Natal bersama, pemakaian simbol-simbol agama lain, ucapan salam lintas agama, doa lintas agama, dll. Semua ini bukan toleransi.
Sayangnya, pencampuradukkan ajaran agama ini sering dijadikan patokan untuk mengukur toleransi kehidupan beragama. Misal, seorang Muslim yang mengucapkan selamat natal kepada orang Kristen akan dikategorikan sebagai toleran. Sebaliknya, Muslim yang enggan mengucapkan selamat natal akan dituduh intoleran dan radikal.
Padahal pencampuradukkan ajaran agama merupakan refleksi dari paham pluralisme yang haram hukumnya dalam Islam. Keharaman pluralisme juga telah difatwakan oleh MUI tahun 2005.
Pluralisme adalah paham yang mengakui kebenaran setiap agama. Paham pluralisme tidak berhubungan sama sekali dengan Islam. Gagasan tersebut bertentangan dengan nash-nash qath’i (tegas) yang menyatakan bahwa agama yang Allah SWT ridhai hanyalah Islam (Lihat: QS Ali Imran [3]: 19).
Rasulullah saw. pun tegas tidak mau berkompromi dengan ‘toleransi’ semacam ini. Pada fase dakwah di Makkah, suatu ketika beberapa tokoh kafir Quraisy menemui Nabi saw. Mereka adalah Al-Walid bin Mughirah, Al-‘Ash bin Wail, Al-Aswad Ibnu al-Muthallib dan Umayyah bin Khalaf. Mereka menawarkan ‘toleransi’ kepada beliau, “Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (kaum Muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Jika ada sebagian ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, jika ada sebagian ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.”(Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, 20/225).
Kemudian turunlah Surat al-Kafirun yang menolak keras toleransi kebablasan semacam ini (QS al-Kafirun [109]: 1-6).
Kepentingan Barat di Balik Narasi Intoleransi
Narasi intoleransi yang dikampanyekan kepada umat Islam tak bisa dilepaskan dari agenda Barat. Dalam pandangan Barat dan para pengikutnya, sikap intoleran muncul karena adanya truth claim (klaim kebenaran) yang ada pada Islam. Hal ini dituding sebagai faktor pemicu fanatisme dan fundamentalisme agama. Untuk itu, menurut mereka, agar umat Islam bisa bersikap toleran, truth claim harus dihapuskan dari Islam. Caranya dengan mengintervensi umat Islam untuk “meyakini kebenaran agama lain” dan mendukung kebebasan beragama (baca: liberalisme beragama). Hanya dengan cara ini, Barat dapat menjauhkan umat Islam dari prinsip akidah dan syariahnya.
Dalam pandangan Barat, sikap kaum Muslim yang “intoleran” dan “radikal” (baca: berpegang teguh pada akidah dan syariah Islam) amat mengganggu kepentingan ekonomi mereka. Demikian pengakuan Menlu AS, Mike Pompeo, di hadapan pendukung kebebasan beragama dari 80 negara dalam KTT Kebebasan Beragama di Washington DC (24/7/2018).
Tak aneh jika AS akan terus mendikte negara manapun, termasuk dalam urusan kehidupan beragama umat Islam, terutama negara yang memiliki posisi geostrategis dan kekayaan alam yang menguntungkan bagi AS. Tentu termasuk Indonesia.
Khatimah
Islam sudah mempraktikkan toleransi dengan baik sejak 15 abad yang lalu hingga semua pihak merasakan kerukunan umat beragama dan kesejahteraan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, umat Islam tak memerlukan paramater, indeks dan ukuran-ukuran yang lain. Cukuplah akidah dan syariah Islam menjadi ukuran dan pegangan hidupnya. Keduanya menjadi kunci kebangkitan Islam. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas bahwa dengan berpegang teguh pada akidah dan syariah Islam, umat Islam tampil sebagai umat terbaik yang membawa rahmat bagi seluruh alam. WalLahu’alam. []
—*—
Hikmah:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Jangan pula kalian menyembunyikan kebenaran itu, sedangkan kalian mengetahui. (TQS al-Baqarah [2]: 42). []
—*—
Sumber:
Buletin Kaffah, No. 120 (23 Rabiul Akhir 1441 H-20 Desember 2019 M)
Download File PDF:
http://bit.ly/kaffah120

Jumat, 13 Desember 2019

Tagged under: ,

Haram Menghapus Ajaran Islam

Buletin Kaffah, No. 119_16 Rabiul Akhir 1441 H–13 Desember 2019 M


Untuk kesekian kalinya Pemerintah, melalui Kementerian Agama, membuat keputusan yang sangat menyinggung hati dan perasaan umat Islam. Setelah sebelumnya Pemerintah berencana memata-matai pengajian di masjid-masjid, juga mempermasalahkan cadar dan celana cingkrang, kali ini mereka berencana menghapus materi jihad dan Khilafah yang selama ini menjadi materi pelajaran di madrasah-madrasah. 


*Khilafah dan Jihad adalah Ajaran Islam*

Suka ataupun tidak, Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Sama seperti shalat, zakat, puasa, haji dan yang lainnya. Itu semua adalah ajaran Islam. Keengganan seseorang untuk mentaati perintah-perintah Allah tersebut tidak serta-merta membuat syariah Allah itu dipersoalkan dan kemudian disingkirkan. Sebab pada hakikatnya manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan syariah Islam. Bukan sebaliknya.

Banyak ulama yang sudah menjelaskan ajaran Islam tentang Khilafah. Tentang Khilafah, Imam ar-Razi menyatakan:

*اَلْخِلاَفَةُ أَوْ اْلإِمَامَةُ اْلعُظْمَى أَوْ إِمَارَةُ اْلمُؤْمِنِيْنَ كُلُّهَا يُؤَدِي مَعْنَى وَاحِداً وَ تَدُلُّ عَلَى وَظِيْفَةٍ وَاحِدَةٍ وَ هِيَ السُّلْطَةُ الْعُلْيَا لِلْمُسْلِمِيْنَ*
Khilafah, Imamah al-Uzhma, atau Imarah al-Mu’minin semuanya memberikan makna yang satu (sinonim), dan menunjukkan tugas yang juga satu (sama), yaitu kekuasaan tertinggi bagi kaum Muslim *(Ar-Razi, Mukhtâr ash-Shahihâh, hlm. 186)*.


Imamah/Khilafah selalu dibahas oleh semua mazhab di dalam Islam. Dalam hal ini, Syaikh Muhammad Abu Zahrah menyatakan: 

*اَلمذَاهِبُ السِّيَاسِيَّةُ كُلُّهَا تَدُوْرُ حَوْلَ الْخِلاَفَةِ*
Semua mazhab siyasah (selalu) membincangkan seputar Khilafah *(Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah, 1/21)*.


Menurut Syaikh al-Islam al-Imam al-Hafizh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Marwa an-Nawawi, menegakkan Imamah/Khilafah adalah kewajiban. Ia menyatakan:

*اَلْفَصْلُ الثَّانِي فِي وُجُوْبِ اْلإِمَامَةِ وَ بَيَانِ طُرُقِهَا: لاَ بُدَّ لِلأُمَّةِ مِنْ إِمَامٍ يُقِيْمُ الدِّيْنَ وَ يَنْصُرُ السُّنَّةَ وَ يَنْتَصِفُ لِلْمَظْلُوْمِيْنَ وَ يَسْتَوْفِي الْحُقُوْقَ وَ يَضَعُهَا مَوَاضِعَهَا. قُلْتُ: تَوْليِ اْلإِمَامَةِ فَرْضُ كِفَايَةٍ*. 
Pasal Kedua Tentang Kewajiban Imamah (Khilafah) dan Penjelasan Metode (Mewujudkan)-nya: Suatu keharusan bagi umat adanya seorang imam (khalifah) yang menegakkan agama, menolong Sunnah, menegakkan keadilan bagi orang-orang yang terzalimi serta menunaikan berbagai hak dan menempatkan hak-hak tersebut pada tempatnya. Saya menyatakan bahwa menegakkan Imamah (Khilafah) adalah fardhu kifayah *(An-Nawawi, Rawdhah ath-Thalibin wa Umdah al-Muftin, 3/433)*.


Itu hanyalah sebagian kecil dari pandangan para ulama terkait Khilafah. Masih banyak pendapat ulama seputar Khilafah. Mereka memposisikan Khilafah sebagai perkara yang sangat penting. Karena itu mereka tidak pernah menghilangkan pembahasan Khilafah di dalam kitab-kitab mereka. 

Begitupun materi tentang jihad. Para ulama memberikan perhatian penuh pada perkara jihad karena jihad memang banyak dinyatakan dalam al-Quran. Allah SWT, misalnya, berfirman dalam beberapa ayat berikut:

*فَلاَ تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا* 
Janganlah kamu mengikuti (kemauan) orang-orang kafir dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Quran sebagai jihad yang besar *(TQS al-Furqan [25]: 52)*.

*كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ* 
Diwajibkan atas kalian berperang sekalipun perang itu adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui *(TQS al-Baqarah [2]: 216)*.

*يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ

وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11)*
Hai orang-orang yang beriman, maukah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? (Yaitu) kalian mengimani Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui *(TQS ash-Shaff [61: 10-11)*.


Secara umum istilah jihad disebutkan sebanyak 37 kali di dalam al-Quran. Hasan Izzuddin al-Jamal dalam Mu’jam wa Tafsir Lughawi li Kalimat al-Qur’an menyatakan bahwa dalam al-Quran pada umumnya kata jihad berarti mengerahkan kemampuan menyebarkan dan membela ajaran Islam. 

Secara syar’i jihad bermakna perang (qital) di jalan Allah.  Selain dalam beberapa ayat di atas, jihad dalam makna perang di jalan Allah ini antara lain dinyatakan dalam sabda Rasulullah saw., sebagaimana penuturan Anas bin Malik ra.:

*جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ*
Perangilah kaum musyrik dengan harta, jiwa dan lisan kalian *(HR Abu Dawd, an-Nasa’i dan Ahmad)*. 


Allah SWT dan Rasul-Nya mensyariatkan jihad, dengan berbagai tingkatannya, dimaksudkan agar Islam benar-benar tegak di muka bumi. Siapapun yang mengaku Muslim dituntut untuk berjihad menghadapi pelaku kekufuran, kezaliman dan kemungkaran; mengeluarkan manusia dari kegelapan kekufuran menuju cahaya Islam (min azh-zhulumat ila an-nur). Tentu sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing. Demikian sebagaimana Rasulullah saw. jelaskan dalam hadis penuturan Ibnu Mas’ud ra.:

*أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ اْلإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ*
Sungguh Rasulullah saw. telah bersabda, “Tidak ada seorang nabi pun yang Allah utus kepada satu umat sebelumku kecuali (mereka) memiliki para pembela dari umatnya serta para sahabat yang mencontoh sunnahnya dan melaksanakan perintahnya. Kemudian datang generasi pengganti mereka yang berkata apa yang tidak mereka amalkan dan mengamalkan apa yang tidak diperintahkan. Siapa saja yang berjihad menghadapi mereka dengan tangannya maka ia seorang Mukmin. Siapa yang berjihad menghadapi mereka dengan lisannya maka ia seorang Mukmin. Siapa saja yang berjihad menghadapi mereka dengan hatinya maka ia seorang Mukmin. Tidak ada setelah itu keimanan meski sekecil biji sawi sekalipun.” *(HR Muslim)*.


*Upaya Menutup-nutupi Kebenaran* 

Langkah Kementerian Agama yang berencana menghapus materi jihad dan Khilafah dari kurikulum madrasah jelas merupakan upaya untuk menutup-nutupi kebenaran. Jihad dan Khilafah dianggap sebagai biang radikalisme yang mengancam keutuhan bangsa dan negara. Padahal semua orang tahu, yang mengancam negeri ini adalah sekularisme-kapitalisme-liberalisme. Rakyat ini banyak yang susah disebabkan tingkah-polah para politisi busuk. Apa yang terjadi pada Papua, misalnya, adalah bukti nyata akan hal itu. Mereka bersikeras ingin memisahkan diri dari Indonesia karena merasa diperlakukan tidak adil sebagai warga bangsa. Sumberdaya alam mereka dikuras habis, sementara mereka dibiarkan dalam keadaan kekurangan. Papua bersikeras hendak memisahkan diri karena Indonesia menerapkan sistem kapitalisme demokrasi yang terbukti memicu ketidakadilan, bukan karena jihad dan Khilafah yang Islam ajarkan.

Upaya menghilangkan materi jihad dan Khilafah dari kurikulum madrasah merupakan bentuk kemungkaran yang sangat nyata. Ini jelas tindakan yang haram. Allah SWT berfirman:

*إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ*
Sungguh orang-orang yang menye

mbunyikan keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk yang telah Kami turunkan, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati oleh Allah dan dilaknati pula oleh semua makhluk yang dapat melaknat *(TQS al-Baqarah [2]: 159)*.


Mengapa menyembunyikan kebenaran diancam dengan laknat Allah SWT? Karena manusia tidak akan masuk surga tanpa kebenaran. Jika kebenaran disembunyikan dari manusia maka sama saja dengan menutup jalan bagi manusia menuju surga. Wajarlah jika mereka dilaknat oleh Allah SWT.

Perilaku menghalang-halangi manusia dari jalan Islam tentu tidak layak dilakukan oleh orang yang beriman. Pasalnya, hal itu merupakan kebiasaan orang-orang kafir yang tidak sudi melihat umat Islam menaati aturan-aturan agamanya. Allah SWT berfirman:

*أَنْ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ (44) الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُمْ بِاْلآخِرَةِ كَافِرُونَ (45)*
…Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, yang menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka mengingkari kehidupan akhirat *(TQS al-A’raf [7]: 44-45)*. []
 

*Hikmah*:

Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Umar ra.:

*أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ*
Aku diperintahkan (oleh Allah SWT) untuk memerangi manusia hingga mereka menyatakan, “Tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukan semua itu, darah dan harta mereka terlindungi dariku, kecuali ada alasan yang dibenarkan di dalam Islam, dan hisab atas mereka diserahkan kepada Allah.
*(HR al-Bukhari)*. []

Kamis, 12 Desember 2019

Tagged under:

Do’a Memperbaiki Urusan Dunia Agama dan Akhirat

ONE DAY ONE HADIST
Rabu, 11 Desember 2019 / 14 Rabi'ul akhir 1441


عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال، 
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa sebagai berikut: “Alloohumma ashlih lii diiniilladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlih lii dun-yaayallatii fiihaa ma’aasyii, wa ash-lih lii aakhirotiillatii fiihaa ma’aadii, waj’alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khoirin, waj’alil mauta roohatan lii min kulli syarrin” [Ya Allah ya Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng (ishmah) urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan!] (HR. Muslim no. 2720). 

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist

1- Islam adalah benteng yang melindungi seseorang agar tidak terjerumus dalam kesalahan dan ketergelinciran serta menjaga dari kesesatan dan sekedar mengikuti hawa nafsu.
2- Seorang muslim beramal untuk dunianya seaka-akan ia hidup selamanya dan dia beramal untuk akhiratnya seakan-akan ia akan mati besok.
3- Seharusnya umur panjang seorang muslim dijadikan sebagaimana sarana untuk menambah amalan kebaikan dan ketaatan.
4- Kematian adalah kebebasan dari segala kejelekan. Maksudnya, boleh jadi seseorang di dunia hidup lama, namun hanya kerusakan yang ia perbuat. Oleh karenanya, kematian itulah yang menyebabkan ia terbebas dari banyak kejelekan.
5- Karena hidup yang sementara dan kematian yang pasti datang, maka hendaklah setiap hamba memperbaiki ibadahnya dan mengokohkan amalannya, bertawakkal dan selalu meminta tolong pada Allah.
6- Semoga dengan do’a singkat namun penuh makna yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wasallam ini bisa kita hafalkan dan amalkan. Sehingga sajian do’a ini bermanfaat.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur'an :

- Do'a yang mencakup semua kebaikan di dunia dan memalingkan semua keburukan, karena sesungguhnya kebaikan di dunia itu mencakup semua yang didambakan dalam kehidupan dunia, seperti kesehatan, rumah yang luas, istri yang cantik, rezeki yang berlimpah, ilmu yang bermanfaat, amal saleh, kendaraan yang mudah, dan sebutan yang baik serta lain-lainnya; semuanya itu tercakup di dalam ungkapan mufassirin. Semua hal yang  disebutkan tadi termasuk ke dalam pengertian kebaikan di dunia.
Adapun mengenai kebaikan di akhirat, yang paling tinggi ialah masuk surga dan hal-hal yang berkaitan dengannya, seperti aman dari rasa takut yang amat besar di padang mahsyar, dapat kemudahan dalam hisab, dan lain sebagainya.

 وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ , أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ 

Maka di antara manusia ada orang yang mendoa, "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia," dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang mendoa, "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan perliharalah kami dari siksa neraka."Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.[Al Baqoroh : 201-202].