image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Selasa, 16 April 2019

Tagged under:

Mengutamakan Orang Lain

ONE DAY ONE HADITS

Selasa, 16 April 2019 M / 11 Syaban 1440 H

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ إِلَى نِسَائِهِ فَقُلْنَ مَا مَعَنَا إِلَّا الْمَاءُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَضُمُّ أَوْ يُضِيفُ هَذَا فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَا فَانْطَلَقَ بِهِ إِلَى امْرَأَتِهِ فَقَالَ أَكْرِمِي ضَيْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا عِنْدَنَا إِلَّا قُوتُ صِبْيَانِي فَقَالَ هَيِّئِي طَعَامَكِ وَأَصْبِحِي سِرَاجَكِ وَنَوِّمِي صِبْيَانَكِ إِذَا أَرَادُوا عَشَاءً فَهَيَّأَتْ طَعَامَهَا وَأَصْبَحَتْ سِرَاجَهَا وَنَوَّمَتْ صِبْيَانَهَا ثُمَّ قَامَتْ كَأَنَّهَا تُصْلِحُ سِرَاجَهَا فَأَطْفَأَتْهُ فَجَعَلَا يُرِيَانِهِ أَنَّهُمَا يَأْكُلَانِ فَبَاتَا طَاوِيَيْنِ فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ضَحِكَ اللَّهُ اللَّيْلَةَ أَوْ عَجِبَ مِنْ فَعَالِكُمَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ: (وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ )

Dari Abu Hurairah RA bahwa ada seorang lelaki  datang kepada Nabi SAW, lalu baginda memberitahu para isteri (jika ada sesuatu yang bisa diberikan). Mereka berkata, "Kami tidak mempunyai apa-apa selain air". Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada sahabat Anshar, "Siapakah diantara kalian yang bisa  menjamu orang ini?". Maka seorang lelaki Anshar berkata; "Aku". Lelaki Ansar itu pulang bersama lelaki tadi menemui isterinya lalu berkata; "Muliakanlah tamu Rasulullah SAW ini". Isterinya berkata; "Kita tidak memiliki apa-apa kecuali sepotong roti untuk anak kita". Lelaki Anshar itu berkata; "Sediakanlah makanan itu, tidurkanlah anak kita dan matikanlah lampu". Ketika mereka hendak menikmati makan malam, maka isterinya menyediakan makanan itu lalu mematikan lampu dan menidurkan anaknya kemudian dia berdiri seakan hendak memperbaiki lampunya, lalu dimatikannya kembali. Suami-isteri tersebut berpura-pura makan.  Kemudian keduanya tidur dalam keadaan lapar. Ketika pagi harinya, lelaki Anshar tersebut menemui Rasulullah SAW. Maka baginda berkata: "Malam tadi Allah SWT  kagum karena perbuatan kalian berdua". Lalu Allah menurunkan firman-Nya dalam Surah al-Hasyr ayat 9 yang artinya: ("Dan mereka lebih mengutamakan orang lain (Muhajirin) dari pada diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung").                                           (HR Bukhari No: 3514)

Kandungan hadits

1.  Tahun awal setelah hijrah adalah masa yang sulit bagi Muhajirin, mereka dihadapkan pada perjuangan untuk memenuhi kebutuhan standar keluarganya.

2."itsar”  (mengutamakan orang lain) menjadi karakter kaum Anshar, mereka begitu peduli terhadap saudara seiman, meski dirinya dalam membutuhkan. Perilaku sahabat Anshar tersebut menjadi asbabun nuzul QS. 59:9.             .                                                                   3. Nama sahabat yang dijamu tersebut  adalah Abu Thalhah  sedangkan keluarga yang menjamu tamunya tersebut adalah Tsabit bin Qais al Anshari RA.                                     4. Bentuk itsar yang semakna dengan hadits tersebut adalah seperti yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir  dari Zaid ibnul-Asham bahwa suatu ketika orang-orang Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, berikanlah sebagian dari tanah yang kami miliki ini kepada saudara-saudara kami, kaum Muhajirin.” Rasulullah lalu menjawab, “Tidak. Akan tetapi, kalian cukup menjamin kebutuhan makan mereka serta memberikan setengah dari hasil panen kalian. Adapun tanahnya maka ia tetap menjadi hak milik kalian.” Orang-orang Anshar lalu menjawab, “Ya, kami menerimanya.” Allah lalu menurunkan QS. 59:9

5. Tentang istar ini, Imam al-Wahidi meriwayatkan dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Umar yang berkata, “Suatu ketika, salah seorang sahabat mendapat hadiah sebuah kepala kambing. Sahabat itu lantas berkata, ‘Sesungguhnya saudara saya, si Fulan, dan keluarganya lebih membutuhkannya daripada saya.’ Ia pun kemudian mengirimkan kepala kambing itu kepada temannya tersebut. Hal seperti ini berlangsung berulang kali di mana setiap kali kepala kambing itu dihadiahkan kepada seseorang maka setiap kali itu pula yang bersangkutan menghadiahkannya kembali kepada temannya. Demikianlah, kepala kambing itu berputar-putar di tujuh rumah sampai akhirnya kembali lagi ke rumah orang yang pertama kali menghadiahkannya. Tentang sikap mereka ini, turunlah ayat,’ ‘…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan…'.                          . Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah.         .                    Allah SWT berfirman:

وَا لَّذِيْنَ تَبَوَّؤُ الدَّارَ وَا لْاِيْمَا نَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّاۤ اُوْتُوْا وَيُـؤْثِرُوْنَ عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَا نَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗ  ۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَـفْسِهٖ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ۚ 

"Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung."
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 9)

Senin, 15 April 2019

Tagged under:

Harta Yang Menolong

ONE DAY ONE HADITS

Ahad, 14 April 2019 M / 9 Sya’ban 1440 H

عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَقْرَأُ (أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ) قَالَ « يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى - قَالَ - وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ ». صحيح مسلم - م (8/ 211)

“Dari Mutharrif dari Bapaknya ra,  “Aku pernah menemui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sedang membaca surat (أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ) , beliau bersabda: “Anak manusia mengucapkan: “Hartaku, hartaku”, kemudian beliau bersabda: “Wahai anak manusia, Apakah kamu memiliki dari hartamu melainkan yang kamu telah makan lalu habis, atau yang kamu telah pakai lalu rusak, atau yang telah kamu sedekahkan maka itu yang tersisa”.

(HR. Muslim 211)

Dalam riwayat Muslim yang lain ada tambahan sebagai penjelas, setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tiga fungsi harta tadi, beliau bersabda:

« وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ ».

_*Artinya: “Dan selain itu maka dia akan sirna dan dia tinggalkan untuk manusia.” (HR. Muslim)*_

Kandungan hadits

1- Harta menjadi milik abadi Ketika di infakkan dalam kebaikan dengan motif mencari ridho Allah SWT..  Nah bila demikian halnya kita patut berbangga, dengan harta yang dimiliki.
2- Mengapa kita mesti berbangga-bangga, sedangkan harta yang bermanfaat jika tidak digunakan dalam kebaikan.
3- Semua yang digunakan selain untuk jalan kebaikan, tentu akan sirna dan sia-sia.
4- Seharusnya yang kita banggakan adalah bagaimana iman yag diterjemahkan dalam aksi nyata .. bagaimana ketakwaan kita di sisi Allah, bagaimana kita bisa amanat dalam menggunakan harta titipan ilahi.
5. Masing masing orang mempunyai amalan special ada yang masuk surga lewat pintu sholat
Ada pula yang melalui pintu puasa , dzikir , wirid dsb, dan yang lebih spesial melalui pintu Sedekah. Harta yang disedekahkan itulah yang bisa menyelamatkan orang dari siksa kubur dan azab neraka

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.”

  [QS. Al Hadiid: 7]

وَاَ نْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَاۤ اَخَّرْتَنِيْۤ اِلٰۤى اَجَلٍ قَرِيْبٍ ۙ فَاَصَّدَّقَ وَاَ كُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh."

(QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 10)

Sabtu, 13 April 2019

Tagged under:

Memurnikan Motif

ONE DAY ONE HADITS

Sabtu, 13 April 2019 M / 8 Syaban 1440 H

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ، قَالُوْا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ؟ قَالَ: الرّيِاَءُ، يَقُوْلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِأَصْحَابِ ذَلِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جَازَى النَّاسَ: اِذْهَبُوْا إِلَى الَّذِيْنَ كُنْتُمْ تُرَاءُوْنَ فِي الدُّنْيَا، فَانْظُرُوْا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً؟! رواه أحمد وغيره
Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan bagi diri kalian adalah syirik asghar. Para Sahabat bertanya: Apakah syirik asghar itu? Beliau menjawab : Riyâˈ. Allâh Azza wa Jalla berfirman kepada para pelaku riyâˈ itu pada hari kiamat ketika Dia telah membagi-bagi balasan kepada manusia: Pergilah kalian menuju orang-orang yang kalian berpamer kepada mereka di dunia. Perhatikanlah, apakah kalian akan mendapatkan balasan dari mereka?
HR. Musnad Imâm HR Ahmad, Dâr al-Hadîts, Kairo, cet. I, 1416 H/1995
Kandungan Hadis
1. Orang melakukan amal shaleh, tetapi motivasinya untuk memperoleh balasan dunia seperti upah, kedudukan dan sebangsanya, maka seluruhnya tercurah untuk maksud dunia ini, sama sekali tidak menghendaki ridha Allah swt dan kehidupan akhirat, maka orang ini tidak akan memperoleh bagian kebaikan sedikitpun di akhirat.
2. Seorang Mukmin betapapun lemah imannya, pasti dia menginginkan ridha dan berkah Allâh Azza wa Jalla dan kehidupan akhirat.
3. Apabila seseorang melakukan amal perbuatan karena Allâh Azza wa Jalla dan juga karena dunia, sedangkan kedua maksud itu berimbang atau kurang lebih sama, maka apabila ia Mukmin, berarti ia adalah orang yang lemah iman, tauhid dan keikhlasannya. Nilai amal perbuatannyapun berkurang karena kehilangan kesempurnaan keikhlasan.
4. Adapun orang yang ikhlas beramal hanya karena Allâh saja dan keikhlasannya sempurna, namun kemudian ia mengambil upah dari amal perbuatannya, yang dengan upah itu ia pergunakan pula untuk beribadah dan untuk kepentingan agama, maka hal ini tidak mengapa dan tidak mengganggu keutuhan keimanannya. Seperti seorang mujahid yang kemudian mendapat ghanimah atau rezeki, atau seperti mendapat harta wakaf yang didigunakan untuk membantunya dalam menegakkan  Islam.

Dalam beberapa ayat alquran, Allah SWT telah memberikan rambu-rambu kepada kita untuk senantiasa ikhlas dalam beramal.  Berikut firman Allah Subhanahu wata'ala tersebut

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.

(Q.S Al-A’raf: 29)

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.

(3) – (Q.S Az-Zumar: 2-3)

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ * قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ * قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي

Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dalam menjalankan agama. (11) Dan aku diperintahkan agar menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.” (12) Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut akan azab yang akan ditimpakan pada hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku.” (13) Katakanlah, “Hanya kepada Allah aku menyembah dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dalam menjalankan agamaku.” (14)

(Q.S Az-Zumar: 11-14)

Tagged under: ,

Tetap Istiqamah Di Tengah Ragam Fitnah

Buletin Kaffah No. 086, 7 Sya’ban 1440 H-12 April 2019 M

Saat ini kaum Muslim menghadapi ragam fitnah. Banyak sekali ide-ide batil, rusak dan merusak. Seruan-seruan keburukan berseliweran. Beragam fitnah bertebaran.  Berbagai bentuk kejahiliahan juga dominan saat ini melebihi keadaan jaman jahiliah dulu.

Namun demikian, seruan-seruan kebenaran, kebaikan dan perbaikan juga diserukan di mana-mana. Semangat dan praktik keislaman terus menyebar dan tumbuh meski baru tampak pada individu-individu dan paling banter kelompok atau jamaah.

Dalam situasi sedemikian, tentu penting kita memiliki pedoman. Terkait hal ini, Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi pernah bertanya kepada Rasul saw., “Ya Rasulullah, katakan kepadaku di dalam Islam satu ucapan yang tidak perlu aku tanyakan lagi kepada seorang pun setelah engkau.” Beliau lalu bersabda:

« قُلْ آمَنْتُ بِالله ثُمَّ اسْتَقِمْ »
Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah.” Kemudian istiqamahlah! (HR Ahmad dan Muslim).

Imam an-Nawawi di dalam Syarh al-Arba’în menjelaskan pesan Rasul saw. itu, yakni: Berimanlah kepada Allah semata, kemudian beristiqamahlah di atas keimanan itu dan di atas ketaatan sampai dimatikan oleh Allah. Umar bin al-Khaththab ra. berkata, “Istiqamahlah dalam ketaatan kepada Allah dan jangan kalian menyimpang.”

Dalam pesan itu, Nabi saw. menyuruh Sufyan  (tentu termasuk kita) untuk memperbarui keimanan dengan lisan dan selalu ingat dengan hati. Nabi saw. menyuruh Sufyan dan kita untuk selalu istiqamah dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi seluruh penyimpangan.  Sikap istiqamah tidak akan terwujud seiring dengan suatu kebengkokan karena kebengkokan adalah lawan dari istiqamah. 

Istiqamah berarti teguh di atas jalan yang lurus. Jalan yang lurus hanyalah Islam; akidah dan syariahnya. Allah SWT berfirman:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Sungguh (Islam) inilah jalan-Ku yang lurus. Karena itu ikutilah jalan itu. janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain karena jalan-jalan itu pasti mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian Allah perintahkan agar kalian bertakwa (TQS al-An’am [6]: 153).

Dengan demikian keistiqamahan hanyalah bisa diwujudkan dengan mengikuti Islam, meyakini akidahnya dan mengamalkan syariahnya serta mengikuti manhaj dan sistemnya. Ayat ini sekaligus memperingatkan kita agar jangan sampai mengikuti  selain Islam, baik agama (seperti Yahudi, Nasrani, Majusi dan paganisme) ataupun paham/ideologi yang dikenal belakangan seperti kapitalisme, sosialisme, sekulerisme, demokrasi, liberalisme, nasionalisme dan lainnya. Sebab semua agama, ideologi, ajaran dan paham selain Islam adalah sesat dan menyesatkan, serta pasti menimbulkan kerusakan dan kemurkaan Allah SWT. Apa yang terjadi dan dialami oleh umat manusia, termasuk kaum Muslim, saat ini merupakan bukti atas hal itu.

Sampai kapan semua itu akan terus terjadi? Sampai kapan agama, ajaran, manhaj, ideologi dan isme selain Islam itu akan terus diikuti? Bukankah atas dasar iman dan tuntutan fakta yang ada, semua itu harus segera diakhiri dan ditinggalkan? Bukankah sudah selayaknya kita kembali mengikuti dan menjalankan akidah dan syariah Islam? Bukankah hanya dengan itu bisa diraih keridhaan dan keberkahan dari Allah SWT?

Keistiqamahan dalam totalitas ketaatan kepada Allah-lah yang akan mengantarkan kita pada keselamatan, kebaikan dan keberkahan. Keistiqamahan menuntut keteguhan dan lurus dalam keimanan, menjalankan berbagai ketaatan dan menjauhi berbagai kemaksiatan. Keistiqamahan juga menuntut kita selalu teguh dan tiada henti mendakwahkan akidah dan syariah Islam. Itulah keistiqamahan yang diperintahkan oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Istiqamahlah kamu (tetaplah kamu di atas kebenaran) sebagaimana kamu diperintahkan demikian, juga siapa saja yang telah bertobat bersama kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan (TQS Hud [12]: 112).

Imam al-Baghawi (w. 516 H) di dalam Ma’âlim at-Tanzîl (Tafsir al-Baghâwi) menjelaskan makna ayat di atas, yakni beristiqamahlah kamu di atas agama Tuhanmu (Islam), amalkan serta dakwahkan (Islam) seperti yang diperintahkan kepada kamu. Frasa “dan siapa saja yang telah bertobat bersama kamu” bermakna: dan orang yang beriman bersama kamu, hendaklah juga  beristiqamah.

Di antara sikap istiqamah adalah tidak condong dan cenderung kepada orang zalim. Sikap ini penting dalam mewujudkan keistiqamahan. Karena itulah, setelah ayat di atas, Allah SWT berfirman:

وَلاَ تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لاَ تُنصَرُونَ
Janganlah kalian cenderung kepada kaum yang zalim, yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan (TQS Hud [12]: 113).

Terkait ayat di atas, Abu al-‘Aliyah berkata, “Janganlah kalian meridhai perbuatan mereka.”

Ibnu Abbas ra. berkata, “Janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zalim. Ucapan ini adalah baik. Maknanya, janganlah kalian membantu kezaliman sehingga kalian seolah meridhai perbuatan mereka lainnya. Frasa ‘yang menyebabkan kalian disentuh api neraka dan sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan’ bermakna: tidak ada bagi kalian—selain  Allah—penolong yang menyelamatkan kalian dan tidak ada penolong yang membebaskan kalian dari azab-Nya.” (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm).

Jika condong dan ridha kepada orang zalim saja dilarang dan bisa mendatangkan akibat yang mengerikan, tentu lebih dilarang lagi mendukung dan membantu kezaliman orang zalim itu. Apalagi dengan mengangkat orang zalim sebagai pemimpin sehingga kezalimannya menimpa banyak orang bahkan seluruh rakyat.

Selain istiqamah dalam menjalankan Islam, Allah SWT juga memerintahkan kita agar istiqamah mendakwahkan Islam. Allah SWT berfirman:

فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ...
Karena itu serulah (mereka) dan istiqamahlah sebagaimana kamu diperintah demikian dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka… (TQS asy-Syara [42]: 15).

Imam Nashiruddin al-Baydhawi (w. 691 H) di dalam Anwâr at-Tanzîl wa Asrâru at-Ta`wîl (Tafsîr al-Baiydhâwî) menjelaskan makna ayat ini, “Untuk itu “serulah” pada persatuan di atas agama yang lurus (millah hanîfiyah) atau mengikuti apa saja yang diberikan kepada kamu; “dan istiqamahlah sebagaimana yang diperintahkan kepadamu”, yakni beristiqamahlah di jalan dakwah seperti yang diperintahkan kepada kamu; “dan jangan kamu ikuti hawa nafsu mereka”, yakni yang batil.

Istiqamah di jalan dakwah ini mencakup istiqamah mengamalkan metode dan manhaj dakwah Rasul saw., sekaligus meninggalkan selain metode dan manhaj dakwah beliau. Sebab metode dakwah adalah bagian dari sunnah (jalan) Rasul saw. Mengikuti jalan selain jalan Rasul saw. hanya akan makin menjauhkan kita dari Islam dan tentu akan berujung pada kegagalan.

Istiqamah dalam dakwah mencakup istiqamah menyerukan akidah Islam serta istiqamah mengajak manusia untuk mengambil syariah Islam sebagai pedoman dan jalan kehidupan. Dakwah dan seruan demikian tetap dilakukan dengan penuh kesabaran dalam keadaan apapun, baik ketika atmosfer dakwah sedang bagus dan terbuka ataupun ketika banyak rintangan dan halangan menghadang. Dakwah juga tetap dijalankan di bawah penguasa yang zalim dan otoriter; apalagi di bawah penguasa yang tidak otoriter, yang fair, terbuka dan memfasilitasi dakwah. Begitu pula istiqamah menjalankan amar makruf nahi mungkar dan muhasabah (koreksi dan kritik) kepada penguasa; harus tetap dilakukan, siapapun penguasanya. 

Istiqamah dalam dakwah juga mengharuskan keteguhan memperjuangkan penerapan syariah Islam secara kaffah meski terasa jauh dan lama dalam pandangan menurut akal manusia. Sikap ini berbeda dengan sikap orang munafik sebagaimana yang digambarkan dalam firman Allah SWT:

لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لاَّتَّبَعُوكَ وَلَٰكِن بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ
Kalaulah (yang kamu serukan kepada mereka) itu merupakan tujuan yang dekat dan mudah dicapai serta perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikuti kamu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka... (TQS at-Taubah [9]: 42).

Begitulah keistiqamahan menjalankan Islam, yakni istiqamah dalam keimanan; istiqamah dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan; istiqamah dalam mendakwahkan Islam; serta istiqamah dalam memperjuangkan penerapan syariah Islam secara kaffah.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Hikmah:

Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلاَّ تَخَافُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
Sungguh orang-orang yang berkata, "Tuhan kami ialah Allah," kemudian mereka istiqamah, pasti malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata, "Janganlah kalian takut dan jangan merasa sedih serta gembirakanlah mereka dengan surga yang telah Allah janjikan kepada kalian (TQS Fushshilat [41]: 30). []

Tagged under:

Manusia Terbaik

ONE DAY ONE HADITS

Jumat, 12 April 2019 M / 7 Syakban 1440

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”

(HR. Ahmad, ath-Thabrani, dan ad-Daruqutni dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Kandungan hadits

1  Indikator kebaikan seseorang adalah kemampuannya memberikan manfaat bagi orang lain.

2. Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7)

3. Seseorang dikategorikan sebagai manusia baik bila kehadirannya menjadi solusi dalam segala hal. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, ةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa yang memudah kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim).

4. Manusia terbaik adalah adalah orang yang terbiasa memberi, meski belum tentu banyak harta, orang kaya adalah orang yang merasa cukup. Tangan diatas lebih baik dari tangan di bawah

عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ

Dari Hakîm bin Hizâm ra., dari Nabi saw., Beliau bersabda : Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang mampu. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Rabu, 10 April 2019

Tagged under:

Jalan Pintas

ONE DAY ONE HADITS

Rabu,  10 April 2019 M / 5 Syakban 1440 H

Dari An Nu’man bin Basyir rahiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِى نَصِيبِنَا خَرْقًا ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا . فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا ، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا
“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.”

(HR. Bukhari no. 2493).

Kandungan Hadits

1. Setiap kemungkaran yang dilakukan oleh seseorang menjadi lubang dosa  yang berbahaya yang dapat menenggelamkan seluruh masyarakat.

2. Orang yang meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar permintaannya tidak dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla .
Hal ini berdasarkan sabda Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهِ ثُمَّ لَتَدْعُنَّهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ

Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaknya kalian betul-betul melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar atau (jika kalian tidak melaksanakan hal itu) maka sungguh Allah akan mengirim kepada kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya (agar supaya dihindarkan dari siksa tersebut) akan tetapi Allah Azza wa Jalla tidak mengabulkan do’a kalian.

HR Ahmad Al-Musnad no. 23301, Sunan at-Tirmidzi No.2169, Shahîh Jâmi’ Shaghîr No. 7070

3. Setiap amal perbuatan pastilah akan ada ganjarannya. Meninggalkan nahi mungkar berdampak pada laknat dari Allah Azza wa Jalla . Firrman Allah Azza wa Jalla :

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat dengan lisan Dâwud dan Isa putera Maryam. Hal itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampauhi batas. Mereka satu sama lain senantiasa tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat, sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.

[al-Mâidah/5:78-79]

Sabtu, 06 April 2019

Tagged under: ,

Cintailah Ajaran Islam Sepenuhnya!

Buletin Kaffah No. 085, 29 Rajab 1440 H - 5 April 2019 M 

Mencintai seluruh ajaran Islam adalah konsekuensi keimanan seorang Muslim. Seorang Muslim tidak boleh mencintai sebagian ajaran Islam, tetapi membenci sebagian lainnya. Menerima sebagian hukum Islam, tetapi menolak sebagian yang lain. Menjalankan sebagian amalan Islam, tetapi anti terhadap sebagian amalan Islam yang lain.

Seorang Muslim tidak boleh, misalnya, melaksanakan shalat, tetapi menolak zakat. Mencintai ibadah haji, namun membenci kewajiban kaum Muslimah menutup aurat dengan memakai kerudung dan jilbab. Menerima ajaran Islam seputar akhlak, tetapi membenci ajaran Islam yang lain tentang poligami, jihad atau hudud (seperti hukum rajam bagi pezina atau hukum potong tangan bagi pencuri). Menerima sistem ekonomi syariah, tetapi anti terhadap penerapan hukum syariah secara formal dalam negara. Yang lebih ironis, menerima sistem politik demokrasi yang notabene berasal dari ideologi Barat sekular, tetapi alergi dan anti Khilafah yang notabene merupakan sistem politik yang bersumber dari ajaran Islam. 

Padahal jelas, mencintai seluruh ajaran Islam adalah bagian dari totalitas mencintai Allah SWT, sementara mencintai Allah SWT merupakan konsekuenasi keimanan seorang Muslim. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
Orang-orang beriman amat dalam cintanya kepada Allah (TQS al-Baqarah [2]: 165).

Mencintai Allah SWT tentu harus dibuktikan dengan menerima, mengikuti dan mengamalkan seluruh ajaran dan tuntunan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
Katakanlah, “Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni  dosa-dosa kalian.” (QS Ali Imran [3]: 31).

Mencintai Allah SWT tentu harus dibarengi dengan mencintai Rasulullah saw., kekasih-Nya. Kecintaan kepada Rasulullah saw. juga merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim. Rasul saw. sendiri yang menyatakan demikian: 

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Belum sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai ia menjadikan aku lebih dicintai dari kedua orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia.” (HR al-Bukhari).

Berkaitan dengan hadis ini, Imam Ibnu Rajab rahimahulLah dalam Fath al-Bari (1/26), menyatakan, “Cinta kepada Nabi saw. merupakan pokok (prinsip) keimanan dan ia bersanding dengan cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah SWT juga mengaitkan cinta kepada Nabi-Nya dengan cinta kepada-Nya. Allah SWT pun mengancam orang-orang yang mendahulukan cinta kepada keluarga, harta dan tanah air daripada cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya saw.”

Karena itu tidak layak seorang Muslim mengaku beriman kepada Allah SWT, tetapi tidak mencintai Rasullullah saw., kekasih-Nya. Tidak layak pula ia mengklaim mencintai Rasulullah saw., kekasih-Nya, tetapi tidak mencintai bahkan membenci ajarannya, mengabaikan hukum-hukum yang beliau bawa, apalagi sampai memusuhinya. 

Seorang Mukmin tentu memiliki banyak tanda. Di antaranya, sebagaimana firman Allah SWT: 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sungguh orang-orang yang beriman ialah mereka yang jika disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka; jika dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka; dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal (TQS al-Anfal [8]: 2).

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menuliskan dalam tafsirnya bahwa ayat ini memberikan gambaran perbedaan karakter seorang Mukmin dengan selainnya. Beliau menulis, “Bukanlah orang beriman yang menyelisihi Allah dan Rasul-Nya, meninggalkan kepatuhan pada perkara yang telah Dia turunkan kepadanya di dalam Kitab-Nya berupa larangan-larangan dan perintah-perintah-Nya, serta tidak terikat pada hukum-hukum-Nya. Namun, seorang Mukmin adalah sosok yang jika disebut nama Allah bergetar hatinya, terikat pada perintah-Nya, tunduk pada peringatan-Nya, merasa takut kepada-Nya dan (berusaha) menghindar dari siksa-Nya. Lalu jika dibacakan kepada dia ayat-ayat dari Kitab-Nya, dia akan membenarkannya, meyakini bahwa itu datang dari sisi Allah, dan bertambah pembenarannya.” (Tafsir ath-Thabari, 4/9-10).

Tak selayaknya seorang Mukmin berperilaku seperti kaum kafir yang selalu menentang ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman:

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ 
Jika dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang-benderang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu (TQS al-Hajj [22]: 72).

Tanda Mencintai Islam

Lalu apa sajakah tanda seseorang mencintai agama Allah SWT? Pertama: Mentauhidkan Allah SWT dan menaati segenap aturan-Nya, serta tidak menyamakan-Nya dengan kecintaan dan ketaatan kepada selain-Nya. Allah SWT. berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintai tandingan-tandingan itu sebagaimana mereka mencintai Allah. Orang-orang yang beriman amat dalam cintanya kepada Allah (TQS al-Baqarah [2]: 165).

Imam al-Baidhawi dalam tafsirnya menjelaskan makna “orang-orang yang mengambil dan mencintai tandingan-tandingan selain Allah” adalah dengan mengagung-agungkan dan menaati tandingan-tandingan itu sebagaimana mereka mengagungkan dan menaati Allah SWT. Status Allah menurut mereka sama saja dengan status mahluk-Nya. Sama-sama diagungkan dan ditaati. Padahal Allah SWT tidak memiliki tandingan. Tidak ada tuhan kecuali Dia. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Menyamakan pengagungan dan ketaatan kepada selain Allah SWT merupakan dosa besar. Abdullah bin Mas’ud ra. pernah bertanya kepada Nabi., “Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?” Beliau menjawab:

« أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهْوَ خَلَقَكَ »
“Engkau membuat tandingan untuk Allah, sedangkan Dia yang telah menciptakanmu.” (HR Muttafaq ‘alayhi).

Kedua: Mengikuti risalah Nabi Muhammad saw. secara totalitas. Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah, "Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS Ali Imran [3]: 31).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat ini dalam tafsirnya, “Ayat yang mulia ini adalah penentu bagi siapa saja yang mengaku-aku cinta mencintai Allah SWT, namun ia tidak berada di jalan Muhammad saw., maka sungguh ia adalah pendusta baik dalam pengakuannya dan dalam perkara ini, sampai ia mengikuti syariah Muhammad dan agama kenabian dalam seluruh ucapan dan keadaan.” (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 2/26).

Mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya tentu mengharuskan setiap Muslim tunduk pada seluruh ajaran Islam baik dalam akidah maupun syariah secara ikhlas. Baik dalam urusan ibadah, muamalah, pernikahan, sosial hingga politik dan pemerintahan. Inilah konsekuensi keimanan dan kecintaan pada Allah SWT dan RasulNya. 

Tentu suatu kemungkaran memisahkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menolak hukum-hukum Islam baik sebagian apalagi keseluruhan. Melarang permainan judi, tetapi membiarkan sistem ribawi. Menerima hukum zakat dan haji, tetapi menolak hukum pidana potong tangan bagi pencuri. Menerima keharaman zina, tetapi menolak rajam atau cambuk sebagai sanksi atas pelakunya. Menginginkan kepemimpinan, tetapi menolak sistem kepemimpinan Islam (Khilafah), bahkan menuding Khilafah sebagai ancaman atau Khilafah sudah usang dan tak laku.

Ketiga: Mendahulukan Allah SWT dan Rasul-Nya di atas segalanya (Lihat: QS at-Taubah [9]: 24). Orang-orang beriman tidak akan memberikan loyalitas, berkasih sayang dan pergaulan dengan orang-orang yang justru memusuhi Allah SWT dan Rasul-Nya serta agamaNya. Dalam sejarah kita mendapati banyak sahabat yang rela berpisah dengan orangtua, suami, istri, anak dan kaumnya karena perbedaan keyakinan. Mushab bin Umair ra. berlepas diri dari kedua orangtuanya yang musyrik. Demikian pula Saad bin Abi Waqqash ra. berpisah dari ibunya. Putri-putri Rasulullah saw., Ruqayyah dan Ummu Kultsum ra., ikhlas diceraikan oleh suami-suami mereka, karena memilih beriman dan taat pada Allah Rasul-Nya. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Hai orang-orang beriman, janganlah kalian menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudara kalian menjadi wali (kalian) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Siapa saja di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai wali (kalian), maka mereka itulah orang-orang yang zalim (TQS at-Taubah [9]: 23).


Demikianlah sikap yang harus dimiliki oleh setiap Muslim. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin. [] 


Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ
Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa nafsunya pada ajaran yang aku bawa.”
(Diriwayatkan dalam Kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih menurut Imam Nawawi).