image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Jumat, 27 Maret 2020

Tagged under: ,

Tuntunan Syariah Menghadapi Wabah

Buletin Kaffah No. 134, 2 Sya’ban 1441 H-27 Maret 2020 M*


*DALAM* menghadapi wabah (pandemi) Covid-19 ini, kaum Muslim penting untuk memperhatikan petunjuk syariah. Baik yang bersifat i’tiqadi (keyakinan) maupun ‘amali.


*Ridha Terhadap Qadha’*

Wabah Covid-19 ini merupakan musibah. Musibah merupakan bagian dari qadha’ Allah SWT (QS al-Hadid [57]: 22). 

Sikap seorang Muslim terhadap qadha’ Allah SWT adalah ridha. Sikap ridha terhadap qadha’ ini memberikan kebaikan. 

Sebaliknya, kita dilarang membenci qadha’ Allah SWT. Rasul saw. bersabda:

*«إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ»*
_Sungguh besarnya pahala itu seiring dengan besarnya ujian. Sungguh jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Siapa saja yang ridha, untuk dia keridhaan itu dan siapa yang benci, untuk dia kebencian  itu_ *(HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Baihaqi).*


Adanya balasan kemurkaan dari Allah SWT terhadap orang yang tidak menerima qadha’ merupakan indikasi yang tegas _(qarinah jazimah)_. Dengan demikian tidak ridha atau membenci qadha’ adalah haram. 

Imam al-Qarafi menyatakan di dalam *_Ad-Dakhîrah_*, _"As-Sakhthu bi al-qadhâ` harâm[un] ijmâ’an_ (membenci qadha’ adalah haram secara ijmak).”


*Sabar, Banyak Berdoa, Berzikir dan Taqarrub kepada Allah SWT*

Sebagai qadha’, musibah itu tak terhindarkan sehingga bagaimanapun harus dihadapi.  Untuk itu, sikap sabar harus dipupuk sebab Allah SWT  memang akan menguji hamba-Nya dengan musibah.  Allah SWT memberikan kabar gembira kepada orang yang sabar menghadapi musibah (QS al-Baqarah [2] : 155-157).

Rasul saw. pun mengajari kita agar istirja’ (mengembalikan segalanya kepada Allah SWT) dan berdoa.  

Dalam kondisi itu hendaknya juga banyak berzikir.  Zikir akan dapat menenteramkan hati (QS ar-Ra’du [13]: 28).

Hendaknya juga memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT baik shalat, sedekah, tilawah al-Quran, shalat-shalat sunnah dan taqarrub lainnya. 

Selain itu tentu banyak memohon kepada Allah SWT agar wabah Covid-19 ini bukan azab dari-Nya; semoga wabah ini segera diangkat dan dihilangkan oleh Allah SWT. 


*Harus Berikhtiar*

Di dalam riwayat Imam Ahmad, Rasul saw. memerintahkan untuk berobat. Artinya, harus ada ikhtiar agar penyakit, termasuk wabah, segera hilang.

Rasul saw. pun memberikan tuntunan:

*«لاَ تُورِدُوا الْمُمْرِضَ عَلَى الْمُصِحِّ»*
_Janganlah kalian mencampurkan orang yang sakit dengan yang sehat_ *(HR al-Bukhari).*


Covid-19, menurut para ahli, bisa menular melalui droplet air liur yang keluar ketika berbicara, bersin, dsb. Karena itu untuk mencegah penularan atau tertular, hendaknya ada jarak ketika berinteraksi, yang menurut para ahli 1-2 meter. Tidak melakukan kontak fisik baik salaman, berpelukan, berciuman dsb. Protokol seperti itu disebut _physical distancing_ atau _social distancing._  

Rasul saw. juga bersabda:

*«فِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ»*
_Jauhilah penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari kejaran singa_ *(HR Ahmad).*


Ini bisa dimaknai agar menghindarkan diri dari tertular penyakit dan melakukan berbagai upaya pencegahan. Perintah ini melengkapi petunjuk dalam hadis sebelumnya. 

Terkait Covid-19, droplet air liur itu bisa menempel pada media atau tangan yang menyentuh mulut atau cairan hidung lalu menyentuh suatu media. Virus Covid-19 bisa menempel dan bertahan di berbagai media itu, berupa kayu, besi, kertas, logam, kain, dsb untuk jangka waktu yang berbeda-beda. Jika tangan seseorang menyentuh media yang ada virus Covid-19, lalu menyentuh muka (mulut, hidung, mata), hal itu bisa membuat tertular. 

Dalam hal ini para ahli menjelaskan protokol yang perlu dilakukan: sering mencuci tangan, sebaiknya dengan sabun, secara benar; menghindari menyentuh atau mengusap muka, kecuali tangan bersih atau setelah mencuci tangan; segera mencuci pakaian setelah pergi keluar rumah; termasuk melakukan semua itu begitu tiba di rumah setelah pergi ke luar, dsb sebagaimana anjuran para ahli.

Rasul saw. juga memberikan tuntunan:

*«إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا«*
_Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasukinya. Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah keluar darinya_ *(HR al-Bukhari).*


Ini berarti, harus dilakukan  karantina atau isolasi atas wilayah yang terkena wabah. Larangan masuk dan keluar wilayah itu juga mencakup semua sarana untuk masuk dan keluar darinya, yaitu transportasi. 

Penduduk wilayah yang dilanda wabah bukan hanya diperintahkan untuk berdiam di negeri/wilayahnya. Mereka  pun diperintahkan untuk berdiam di rumahnya. Ketika seseorang tetap berdiam di wilayahnya dan berdiam di rumahnya, tidak keluar kecuali untuk keperluan yang penting sekali, seraya dia bersabar mengharap ridha Allah SWT dan meyakini akan qadha’ Allah maka untuk dia ada pahala setara dengan pahala syahid. Rasul saw. bersabda tentang tha’un:

*«أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ -في رواية أخرى لأحمد: فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ- صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَمْ يُصِبْهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ»*
_Tha’un itu merupakan azab yang Allah timpakan kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah jadikan sebagai rahmat untuk kaum Mukmin. Tidaklah seorang hamba, saat tha’un terjadi, berdiam di negerinya—dalam riwayat Imam Ahmad yang lain: lalu dia berdiam di rumahnya—seraya bersabar dan mengharap ridha Allah, dan dia menyadari bahwa tidak menimpa dirinya kecuali apa yang telah Allah tuliskan untuk dia, kecuali bagi dia pahala semisal pahala syahid_ *(HR al-Bukhari dan Ahmad).*


Protokol isolasi wilayah dan isolasi/karantina diri di rumah oleh tiap-tiap orang warga wilayah itu mungkin yang sekarang disebut lock down, baik parsial maupun total. Protokol ini penting sekali untuk memutus rantai penyebaran penyakit dari satu wilayah ke wilayah lainnya dan dari satu orang ke orang lainnya. 

Pelaksanaan semua protokol itu merupakan tanggung jawab syar’i semua anggota masyarakat. Hukumnya wajib. Sebab jika abai, mereka berpelung tertular dan menularkan penyakitnya kepada orang lain; termasuk orang-orang terdekat (anak, istri, suami, bapak, ibu dan kerabat lainnya). Padahal Rasul saw. telah bersabda, _“Lâ dharara wa lâ dhirâra_ _(Tidak boleh memadaratkan diri sendiri maupun orang lain).”_ *(HR Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim, al-Baihaqi, Malik dan Asy-Syafii).*

Selain itu, dalam situasi sulit ini, masyarakat hendaknya saling membantu  agar kelangsungan hidup mereka dan keluarganya bisa terjamin. Dengan itu mereka bisa berdiam di rumah dan tidak harus pergi ke luar rumah. Semua itu demi kebaikan masyarakat seluruhnya. 


*Tanggung Jawab Pemerintah*

Rasul saw. bersabda:

*«...فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ...»*
_Amir (pemimpin) masyarakat adalah pemelihara dan dia bertanggung jawab atas (urusan) rakyatnya_ *(HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad).*

Jadi dalam Islam, pemimpin (Pemerintah) wajib mengurus urusan rakyat, termasuk pemeliharaan urusan kesehatan mereka. Bahkan Islam mewajibkan Negara menjamin pelayanan kesehatan untuk seluruh rakyat secara gratis. 

Dalam hal pencegahan dan penanggulangan Covid-19 saat ini, Pemerintah wajib menjamin perawatan dan pengobatan semua orang yang sakit, khususnya yang terkena Covid-19. Pemerintah harus menyediakan semua alat kesehatan yang dibutuhkan secara memadai, termasuk APD yang sangat dibutuhkan oleh paramedis. Pemerintah juga wajib menjamin birokrasi, protokol dan prosedur yang diperlukan berjalan. Pemerintah juga harus mewujudkan suasana yang nyaman dan aman bagi paramedis sehingga mereka dapat menjalankan tugas perawatan dan pengobatan sebaik mungkin.

Pemerintah harus membuat kebijakan sehingga protokol _physical distancing_ atau _social distancing_ bisa berjalan secara efektif; termasuk meniadakan kerumunan orang baik di pusat perbelanjaan, tempat umum, rumah makan dan sejenisnya, fasilitas publik termasuk transportasi, dsb. 

Pemerintah juga harus mengedukasi dan mendorong—jika  perlu mengharuskan—semua   masyarakat untuk menjalankan protokol _physical distancing_ atau _social distancing_ itu. Untuk itu harus digunakan berbagai cara dan sarana serta menggerakkan semua struktur dan aparat Pemerintah hingga paling bawah di tingkat RT.

Pemerintah juga hendaknya segera mengambil tindakan dan kebijakan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 ini secepat mungkin. Kelambanan serta ketidakjelasan kebijakan dan tindakan yang dirasakan masyarakat harus segera diakhiri. 

Banyak pihak, termasuk para ahli, mendesak kebijakan lock down segera diambil, tentu dibarengi dengan menjamin kelangsungan hidup semua anggota masyarakat. Untuk itu, Pemerintah semestinya tidak perlu ragu. Tanpa melakukan lock down, penanggulangan Covid-19 ini bisa berkepanjangan. Ini malah akan menguras sumberdaya ekonomi yang lebih besar. 

Semoga Allah SWT memberikan pertolongan-Nya sehingga wabah Covid-19 bisa segera berakhir. Amin ya Rabbal ‘alamin. []


*Hikmah:*


Rasul saw. bersabda:
*«مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا»*
_Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah lalu ia berkata, “Inna lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn [Sungguh kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali]; ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini, dan berilah aku ganti yang lebih baik darinya,” kecuali Allah memberi dia pahala dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik untuk dirinya_
*(HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah)*. []

Minggu, 22 Maret 2020

Tagged under:

Fiqih Shiyam (Bag-7)

📚 Yang Wafat dengan Membawa Hutang Puasa

📕 Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib

وَمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ أُطْعِمَ عَنْهُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ.

Siapa yang meninggal dan punya hutang puasa, maka dikeluarkan makanan (fidyah) atas namanya satu mud untuk setiap harinya.

📒 Penjelasan

📌 Orang yang meninggal dalam keadaan belum melakukan qadha puasanya, ada dua kemungkinan: 

1️⃣ Kemungkinan pertama dijelaskan oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullah:

أَنْ يَكُونَ مَعْذُورًا فِي تَفْوِيتِ الْأَدَاءِ وَدَامَ عُذْرُهُ إلَى الْمَوْتِ كَمَنْ اتَّصَلَ مَرَضُهُ أَوْ سَفَرُهُ أَوْ إغْمَاؤُهُ أَوْ حَيْضُهَا أَوْ نِفَاسُهَا أَوْ حَمْلُهَا أَوْ إِرْضَاعُهَا وَنَحْوُ ذَلِكَ بِالْمَوْتِ لَمْ يَجِبْ شَيْءٌ عَلَى وَرَثَتِهِ وَلَا فِي تَرِكَتِهِ لَا صِيَامَ وَلَا إطْعَامَ وَهَذَا لَا خِلَافَ فِيهِ عِنْدَنَا وَدَلِيلُهُ مَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ مِنْ الْقِيَاسِ عَلَى الْحَجِّ

Tidak puasa Ramadhan karena udzur syar’i, dan udzurnya ini terus berlangsung sampai ia meninggal, misalnya sakit atau safar yang berkelanjutan, atau terus tak sadarkan diri, atau karena haid, nifas, hamil atau menyusui (terus sampai wafat), maka tak ada kewajiban apapun bagi ahli warisnya, juga tak ada kewajiban pada harta peninggalannya, baik puasa maupun memberi makan (fidyah). Tak ada perbedaan pendapat bagi kami dalam hal ini, dalilnya adalah qiyas atas haji seperti yang dijelaskan oleh Penulis Al-Muhadzdzab (maksudnya Abu Ishaq Asy-Syirazi - rahimahullah). (Al-Majmu’ 6/368).

✅ Maksudnya keluarganya tak harus berpuasa atas namanya (badal puasa) dan tak wajib menggunakan harta peninggalannya untuk membayar fidyah, karena almarhum/ah tidak melakukan kelalaian. (Al-Fiqh Asy-Syafi’i Al-Muyassar, 1/363).

2️⃣ Jika almarhum/ah belum melakukan qadha padahal memungkinkan baginya melaksanakannya sebelum wafat, maka dianjurkan wali atau kerabatnya berpuasa untuknya menurut pendapat yang dipilih oleh ulama pentahqiq madzhab Syafi’i. 

📎 Dalilnya adalah hadits:

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa yang meninggal dalam keadaan berhutang puasa, maka hendaklah walinya berpuasa atas namanya. (HR. Al-Bukhari no 1851 dan Muslim no 1147).

✅ Al-Imam An-Nawawi menjelaskan maksud dari wali dalam hadits tersebut:

فَالصَّحِيحُ أَنَّ الْوَلِيَّ مُطْلَقُ الْقَرَابَةِ وَاحْتِمَالُ الإِرْثِ لَيْسَ بِبَعِيدٍ وَاللهُ أَعْلَمُ.

Yang benar yang dimaksud wali adalah kerabat secara mutlak, kemungkinan dimaknai ahli waris juga tak jauh (dari kebenaran), wallahu a’lam. (Al-Majmu’ 6/368).

📎 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ، أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا؟ فَقَالَ: «لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكَ دَيْنٌ، أَكُنْتَ قَاضِيَهُ عَنْهَا؟» قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: «فَدَيْنُ اللهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى»

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: Seorang laki-laki telah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata: Wahai Rasulullah, ibuku telah wafat dan punya kewajiban puasa sebulan (Ramadhan), apakah aku qadha-kan untuknya? Beliau bersabda: “Andai ibumu punya hutang (kepada manusia), apakah engkau akan membayarkannya? Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Maka hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar.” (HR. Muslim no 1148).

✅ Jika kerabatnya tidak berpuasa untuknya, maka pilihan lain adalah membayar fidyah berupa satu mud makanan pokok setempat untuk setiap hari puasa yang ditinggalkannya, wajib diambil dari harta peninggalannya sebelum dibagikan ke ahli waris karena ia adalah hutang, kalau tidak ada, maka diambil dari harta kerabat atau ahli warisnya. (Al-Fiqh Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i 2/93).

📎 Dalil tentang fidyah ini adalah riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعَمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا» (رواه الترمذي، قال: حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ لَا نَعْرِفُهُ مَرْفُوعًا إِلَّا مِنْ هَذَا الوَجْهِ، وَالصَّحِيحُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ مَوْقُوفٌ قَوْلُهُ)

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: Siapa yang meninggal dan punya hutang puasa Ramadhan, maka atas namanya diberikan makanan untuk seorang miskin sebagai pengganti setiap harinya. (HR. At-Tirmidzi, beliau berkata: Hadits Ibnu Umar kami tidak mengetahui bahwa ia marfu’ dari riwayat ini, yang benar adalah mauquf dari ucapan Ibnu Umar).

✅ Al-Imam An-Nawawi menyebutkan:

 الصَّحِيحُ عِنْدَ جَمَاعَةٍ مِنْ مُحَقِّقِي أَصْحَابِنَا وَهُوَ الْمُخْتَارُ أَنَّهُ يَجُوزُ لِوَلِيِّهِ أَنْ يَصُومَ عَنْهُ وَيَصِحُّ ذَلِكَ وَيُجْزِئُهُ عَنْ الْإِطْعَامِ وَتَبْرَأُ بِهِ ذِمَّةُ الْمَيِّتِ وَلَكِنْ لَا يَلْزَمُ الْوَلِيَّ الصَّوْمُ بَلْ هُوَ إلَى خِيَرَتِهِ. 

Yang shahih menurut sekumpulan pentahqiq sahabat-sahabat kami - dan ini adalah pendapat yang terpilih - bahwa wali atau kerabatnya boleh berpuasa untuknya, sah dan dengan demikian tak perlu ith’am (fidyah) serta membebaskan almarhum/ah (dari hutang puasa). Tetapi pilihan puasa ini tidak wajib bagi kerabatnya, ia bebas memilih (antara puasa atau fidyah). (Al-Majmu’ 6/368).

✅ Pihak keluarga juga boleh meminta orang lain untuk berpuasa atas nama almarhum/ah baik dengan atau tanpa upah, dalilnya adalah qiyas atas haji. Tanpa izin keluarga atau wasiat dari almarhum/ah tidak sah. (Al-Majmu’ 6/368, Al-Fiqh Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i 2/93).

Bersambung ..

Sumber: https://t.me/ilmusyariah
Admin: @Ilmusyariah_admin

Jumat, 20 Maret 2020

Tagged under: ,

Hikmah Isra' Mi’raj: Rasulullah SAW Imam Para Nabi

Buletin Kaffah, No. 133 (27 Rajab, 1441 H-20 Maret 2020 M)

Momen yang paling sering diingat kaum Muslim pada bulan Rajab adalah perjalanan Isra’ dan Mi’raj Rasulullah saw. Dalam kitab-kitab Sirah para ulama selalu mencantumkan peristiwa penting tersebut karena di dalamnya banyak hikmah dan pelajaran. 

Isra’ dan Mi’raj mengajarkan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Betapa dengan mudahnya Allah SWT memperjalankan hamba-Nya pada jarak yang begitu jauh, tetapi ditempuh dalam waktu amat singkat. Kemudian Allah SWT menunjukkan berbagai tanda-tanda kebesaran lainnya selama perjalanan Baginda Nabi saw. hingga pulang kembali ke Makkah.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Mahasuci Allah Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al- Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepada dia sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (TQS Al-Isra’ [17]: 1). 

Imam Para Nabi

Salah satu momen monumental bagi Rasulullah saw. dan kaum Muslim adalah ketika beliau diizinkan Allah SWT mengimami para nabi dan rasul dalam satu shalat berjamaah. Mengenai peristiwa ini Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh telah diperlihatkan kepadaku jemaah para nabi. Ada Musa sedang berdiri salat. Dia lelaki tinggi kekar seakan-akan ia termasuk suku Sanu’ah. Ada Isa bin Maryam as. sedang berdiri salat. Manusia yang paling mirip dengan dia adalah ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. Adapula Ibrahim as. sedang berdiri salat. Lantas aku mengimami mereka…” (HR Muslim).

Inilah salah satu kemukjizatan yang Allah SWT berikan kepada beliau. Allahlah satu-satunya yang mewafatkan seluruh manusia. Dia pula yang sanggup membangkitkan mereka. Karena itu semestinya tak ada keraguan sedikit pun dalam benak seorang Muslim melainkan meyakini peristiwa agung ini.

Keunggulan yang Allah SWT limpahkan kepada Rasulullah saw. dengan mengimami para nabi dan rasul adalah ketetapan yang agung. Demikianlah, Allah SWT telah mengutamakan sebagian nabi atas sebagian nabi yang lain (QS al-Baqarah [2]: 253).

Kepemimpinan Rasulullah saw. sebagai imam para nabi bukan sekadar dalam shalat pada saat Isra’ dan Mi’raj, tetapi berlangsung hingga Hari Akhir. Ketetapan ini disampaikan dalam firman Allah SWT:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

(Ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh mengimani dan menolong dia." Allah berfirman, "Apakah kalian mengakui dan menerima perjanjian-Ku atas yang demikian?" Mereka menjawab, "Kami mengakui." Allah berfirman, "Kalau begitu, saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian." (TQS Ali Imran [3]: 81).

Imam as-Sa’di menjelaskan ayat di atas: “Dengan demikian setiap nabi, andai bertemu dengan Nabi Muhammad saw., niscaya diwajibkan mengimani, mengikuti sekaligus menolong beliau. Beliau adalah imam mereka, yang membimbing mereka dan panutan mereka. Dengan demikian ayat yang mulia ini bagian dari keagungan petunjuk atas keluhuran martabat beliau, dan menunjukkan bahwa Rasulullah saw. adalah nabi yang paling utama serta pemimpin bagi mereka.” (As-Sa’di, Taysir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan, 1/136).

Kabar ini pula yang disampaikan Rasulullah saw. kepada Umar bin al-Khaththab ra. pada saat beliau menegur Umar yang membawa lembaran-lembaran Taurat:

لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، و َلَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلا اتِّبَاعِي

Sungguh aku datang kepada kalian membawa (wahyu) yang putih bersih. Andai Musa masih hidup, tidaklah ia melakukan apa-apa selain mengikutiku (HR Ahmad).

Karena itulah kelak pada Hari Akhir semua manusia akan berkumpul di bawah kepemimpinan Rasulullah saw., di bawah naungan Liwa al-Hamd. Rasulullah saw. bersabda:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آَدَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ، وَبِيَدِيْ لِوَاءُ اْلحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ، وَ مَا مِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ آَدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَاءِيْ 

Akulah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan bukannya sombong. Di tanganku Bendera al-Hamd dan bukannya sombong. Tidak ada seorang nabi pun, tidak pula Adam, juga yang lainnya ketika itu, kecuali semua di bawah benderaku (HR at-Tirmidzi).

Hadis ini menunjukkan keutamaan dan kekhususan Nabi Muhamad saw. atas semua manusia. Tentang hal ini Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahulLah berkata: “Muhammad saw. adalah imam para nabi dan juru bicara mereka serta pemberi syafaat mereka. Umatnya adalah umat terbaik dan para sahabatnya adalah para sahabat terbaik para nabi.” (Ibnu Qudamah, Lum’ah al-I’tiqad, 1/28). 

Dengan demikian setelah Nabi Muhammad saw. diutus membawa Islam, semua agama yang dibawa oleh para nabi dan rasul sebelumnya telah gugur masa berlakunya, terhapus ajarannya, dan semua umat manusia wajib memeluk Islam dan menjalankan syariah beliau. Rasulullah saw. bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Zat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak mengimani agama yang aku bawa, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka (HR Muslim).

Kewajiban Memimpin Dunia

Sejumlah kemuliaan yang dilimpahkan kepada Rasulullah saw. membawa konsekuensi, yakni Islam dan umatnya wajib memimpin dunia. Pasalnya, semua nabi dan rasul telah menyerahkan umat mereka kepada Nabi Muhammad saw., juga menundukkan agama mereka pada agama Islam.

Sayang, realita hari ini menunjukkan bahwa umat Muslim justru dipimpin oleh sistem selain Islam. Bahkan tak sedikit umat yang membelakangi dan menyelisihi ajaran nabi mereka sendiri. Padahal Allah SWT telah menetapkan bahwa Islam akan terus memimpin umat manusia dan mengalahkan semua agama dan sistem lain yang batil (QS ash-Shaf [61]: 9).

Oleh karena itu ada beberapa hal yang wajib dilakukan: Pertama, kaum Muslim wajib meneguhkan keimanan mereka bahwa hanya Islam sebagai sebagai satu-satu agama yang agung dan mengalahkan semua agama serta ajaran yang lain. Tak ada yang lebih tinggi dibandingkan Islam.

اْلإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى عليه

Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya (HR ad-Daruquthni).

Kedua, kaum Muslim wajib mengikatkan diri dengan syariah Islam dan tidak melepaskan ketaatan sejengkal pun dari agama Allah ini. Sungguh kemunduran umat hari ini diakibatkan mereka melepaskan diri dari simpul Islam.

Kemunduran umat hari ini di segala bidang yang berdampak pada munculnya berbagai kerusakan bukanlah karena ajaran Islam, tetapi justru karena umat telah melepaskan diri dari ajaran Islam. 

Ketiga, umat Islam wajib berjuang menegakkan kembali kepemimpinan Islam atas dunia ini sebagaimana dulu Rasulullah saw. telah memimpin dunia. Kepemimpinan Rasulullah saw. ini dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelah mereka. Umat Muslim memimpin dunia dan mengayomi mereka karena kepemimpinan Islam atas dunia bukanlah kepemimpinan berdarah-darah, melainkan kepemimpinan di atas landasan tauhid dan keagungan syariah Allah SWT yang mendatangkan rahmat bagi umat manusia.

Banyak catatan sejarah yang menunjukkan dunia menaruh harapan dan bantuan pada kepemimpinan Islam (Khilafah Islam). Bangsa Irlandia Utara, misalnya, pernah mendapatkan bantuan saat tertimpa Great Hunger pada tahun 1845-1852 M yang menewaskan lebih dari sejuta warga Irlandia. Kala itu Sultan Ottoman Turki Abdul Majid I mengirimkan bantuan sebesar 10.000 sterling dan tiga kapal penuh bahan makanan demi membantu para petani Irlandia. Padahal Ratu Victoria hanya meminta Sultan untuk mengirimkan 1.000 sterling saja.

Khilafah Utsmaniyah juga pernah menyelamatkan 1500 bangsa Yahudi dari pembantaian umat Kristiani Spanyol dalam peristiwa Inkuisisi pada Juli 1492. Saat itu Sultan Bayezid II mengirimkan Angkatan Laut dari negeri Ottoman di bawah komando Laksamana Kemal Reis ke Spanyol untuk mengevakuasi mereka dengan selamat ke Tanah Ottoman (sekarang Turki). 

Itu hanya secuil kisah kepemimpinan Khilafah Islam yang mengayomi dunia, Muslim maupun non-Muslim.

Bandingkan dengan saat ini. Umat Muslim dibantai di berbagai belahan dunia tanpa ada satu pun yang membela. 

Karena itu renungkanlah peristiwa Isra’ dan Mi’raj kala semua nabi dan rasul menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Rasulullah saw. Semua bermakmum kepada beliau. Lalu mengapa hari ini kaum Muslim justru bermakmum kepada umat lain? Apa pertanggungjawaban kita kelak di hadapan Baginda Nabi saw.? []

—*—

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ

Ikatan Islam akan terlepas satu demi satu. Setiap kali satu ikatan terlepas, manusia akan bergantung pada ikatan berikutnya. Yang pertama kali akan terlepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat (HR Ahmad dan Ibnu Hibban). []

—*—

Download File PDF:
http://bit.ly/kaffah133

Selasa, 17 Maret 2020

Tagged under:

Fiqih Shiyam (Bag 6)

📚 Kafarat Jima’ Di Siang Ramadhan

📕 Matan Abu Syuja’

وَمَنْ وَطِئَ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَامِدًا فِي الْفَرْجِ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَالْكَفَّارَةُ وَهِيَ: عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا لِكُلِّ مِسْكِينٍ مُدٌّ.

Dan siapa yang bersanggama di siang Ramdhan dengan sengaja di farji maka wajib baginya qadha dan kafarat, yaitu memerdekakan budak yang beriman, jika tidak ia dapati maka berpuasa dua bulan berturut-turut, dan jika ia tidak sanggup maka memberi makan 60 orang miskin, setiap orangnya satu mud.

📒 Penjelasan

📎 Dalil utama masalah ini adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di mana beliau menceritakan:

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ. قَالَ: «مَا لَكَ؟» قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا؟» قَالَ: لاَ، قَالَ: «فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ»، قَالَ: لاَ، فَقَالَ: «فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا». قَالَ: لاَ، قَالَ: فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ - وَالعَرَقُ المِكْتَلُ - قَالَ: «أَيْنَ السَّائِلُ؟» فَقَالَ: أَنَا، قَالَ: «خُذْهَا، فَتَصَدَّقْ بِهِ» فَقَالَ الرَّجُلُ: أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا - يُرِيدُ الحَرَّتَيْنِ - أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي، فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ، ثُمَّ قَالَ: «أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ»

Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba datanglah seseorang sambil berkata: “Wahai, Rasulullah, celaka!” Beliau menjawab,”Ada apa denganmu?” Dia berkata,”Aku menggauli istriku (jima’), padahal aku sedang berpuasa.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,”Apakah kamu dapat menemukan budak untuk dimerdekakan?” Dia menjawab,”Tidak!” Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata lagi,”Mampukah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab,”Tidak.” Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: “Mampukah kamu memberi makan enam puluh orang miskin?” Dia menjawab,”Tidak.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam. Dalam keadaan seperti ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diberi satu ‘araq berisi kurma tamr – ‘araq adalah takaran - Beliau berkata: “Mana orang yang bertanya tadi?” Dia menjawab,”Saya.” Beliau berkata lagi: “Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya!” Kemudian orang tersebut berkata: “Apakah kepada orang yang lebih fakir dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada satupun keluarga diantara dua kawasan bebatuan hitam yang mengapit kota ini (Madinah) yang lebih fakir dari keluargaku”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa sampai tampak gigi taringnya, kemudian beliau berkata: “Berilah makan keluargamu!” (HR. Al-Imam Al-Bukhari).

✅ Definisi Qadha

اَلْقَضَاءُ: أَدَاءُ مِثْلِ الْوَاجِبِ بَعْدَ وَقْتِهِ اسْتِدْرَاكًا لِمَا سَبَقَ

Qadha adalah pelaksanaan seperti kewajiban (yang telah ditetapkan) di luar waktunya sebagai ganti (kewajiban) yang lewat tersebut. (Mu’jam Lughah Al-Fuqaha, hlm 365).

✅ Definisi Kafarat

اَلْكَفَّارَةُ: تَصَرُّفٌ أَوْجَبَهُ الشَّرْعُ لِمَحْوِ ذَنْبٍ مُعَيَّنٍ، كَالإِعْتَاقِ وَالصِّيَامِ وَالإِطْعَامِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ

Kafarat adalah tindakan yang diwajibkan oleh syariat untuk menghapus dosa tertentu, seperti memerdekakan budak, berpuasa, atau memberi makan (orang miskin), dan lain-lain. (Mu’jam Lughah Al-Fuqaha, hlm 382).

✅ Yang dimaksud dengan “sengaja” yang disebutkan pada matan Abu Syuja adalah sadar atau tidak lupa bahwa ia sedang berpuasa Ramadhan dan juga punya pengetahuan tentang keharaman jima’ di siang Ramadhan. Dengan demikian pelakunya berdosa sehingga ia dikenakan sanksi kafarat disamping qadha.

مَنْ أَفْطَرَ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ وَلاَ كَفَّارَةَ

Siapa yang berbuka di bulan Ramadhan karena lupa, maka tidak ada kewajiban qadha dan tidak ada kewajiban kafarat”. (HR. Ibnu Hibban, Ad-Daraquthni 2/178, dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya no 1990 – isnadnya hasan).

✅ Tentang kewajiban qadha atau mengganti puasa di hari lain di mana seseorang membatalkannya karena jima’, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan:

وَبِإِيجَابِ قَضَائِهِ قَالَ جَمِيعُ الْفُقَهَاءِ سِوَى الْأَوْزَاعِيِّ
 
Wajibnya qadha puasa (karena jima’) adalah pendapat seluruh fuqaha kecuali Al-Auza’i. (Al-Majmu’ 6/345).

✅ Tentang kafarat, beliau menjelaskan:

إذَا وَطِئَ الصَّائِمُ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ وَقَالَ جَهِلْتُ تَحْرِيمَهُ فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يَخْفَى عَلَيْهِ لِقُرْبِ إسْلَامِهِ وَنَحْوِهِ فَلَا كَفَّارَةَ وَإِلَّا وَجَبَتْ وَلَوْ قَالَ عَلِمْتُ تَحْرِيمَهُ وَجَهِلْتُ وُجُوبَ الْكَفَّارَةِ لَزِمَتْهُ الْكَفَّارَةُ بِلَا خِلَافٍ ... لِأَنَّهُ مُقَصِّرٌ

Jika laki-laki yang berpuasa bersanggama di siang Ramadhan dan ia berkata: “Saya tidak tahu keharamannya”, seandainya informasi memang luput darinya karena ia baru saja masuk Islam atau sejenisnya maka tak wajib kafarat baginya, jika tidak demikian maka wajib baginya. Andai ia berkata: “Saya tahu keharamannya, tapi saya tidak tahu tentang wajibnya kafarat” tetap wajib baginya kafarat, tanpa perbedaan pendapat... karena ia dianggap kurang berusaha. (Al-Majmu’ 6/344).

✅ Al-Imam An-Nawawi rahimahullah juga menyebutkan bahwa pendapat yang lebih shahih dalam madzhab Syafi’i bahwa yang wajib kafarat hanya suami saja. Sedangkan istri wajib baginya qadha saja. (Al-Majmu’, 6/331). 

Alasannya adalah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits di atas hanya memerintahkan sang suami untuk melaksanakan kafarat, sementara sang istri tidak. Seandainya istri wajib kafarat, tentu Rasulullah menyuruhnya juga, karena beliau tidak akan menunda penjelasan hukum yang harus diketahui saat itu juga. 

✅ Ulama madzhab Syafi’i sepakat bahwa kafarat ini berulang diwajibkan jika pelanggaran juga berulang dilakukan di hari yang berbeda di bulan Ramadhan, tanpa melihat apakah kafarat pertama sudah dilaksanakan atau belum. (Al-Majmu’, 6/336).

✅ Bagaimana dengan jima’ di siang hari saat sedang puasa qadha Ramadhan, apakah terkena kafarat? Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan:

لَوْ جَامَعَ فِي صَوْمِ غَيْرِ رَمَضَانَ مِنْ قَضَاءٍ أَوْ نَذْرٍ أَوْ غَيْرِهِمَا فَلَا كَفَّارَةَ كَمَا سَبَقَ وَبِهِ قَالَ الْجُمْهُورُ 

Seandainya seseorang melakukan jima’ bukan pada puasa Ramadhan, seperti puasa qadha, nadzar, atau lainnya maka tidak ada kafarat sebagaimana telah dijelaskan, dan ini adalah pendapat jumhur ulama. (Al-Majmu’, 6/345).

✅ Urutan pertanyaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada pelaku sebagaimana tersebut dalam hadits menunjukkan bahwa pilihan kafarat batal puasa karena jima’ di siang hari Ramadhan secara sadar ini harus berurutan, artinya pilihan pertama yang harus diambil adalah memerdekakan budak terlebih dulu, jika tidak ada budak atau tidak sanggup memerdekakannya, baru pilihan kedua diambil yaitu berpuasa dua bulan berturut-turut, bila tidak sanggup, barulah pilihan ketiga (terakhir) diambil yaitu memberi makan 60 orang miskin.

✅ Jika semua pilihan itu tidak sanggup ia lakukan saat itu, maka kafarat tersebut tetap menjadi beban kewajibannya sampai ia sanggup melakukan salah satunya di kemudian hari. (Al-Fiqh Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’I, 2/95).

📌 Memerdekakan Budak yang Beriman

✅ Meskipun dalam hadits di atas tidak disebutkan syarat beriman untuk budak yang akan dimerdekakan, namun syarat beriman ini diberlakukan berdasarkan ayat Al-Qur’an yang menyebutkan memerdekakan budak beriman. Dalam ushul fiqih disebut dengan istilah حَمْلُ الْمُطْلَقِ عَلَى المُقَيَّدِ (membawa dalil yang tanpa keterangan (muthlaq) kepada dalil yang memiliki keterangan tambahan (muqayyad)). (Al-Fiqh Asy-Syafi’i Al-Muyassar, 1/367).

Ayat yang dimaksud adalah firman Allah ta’ala tentang kafarat membunuh tidak sengaja:

فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ 

Maka hendaklah ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman.. (QS. An-Nisa: 92).

Di zaman sekarang pilihan kafarat ini tidak dapat dilaksanakan.

📌 Berpuasa Dua Bulan Berturut-Turut

✅ Artinya jika batal puasa kafarat ini tanpa udzur syar’i di hari kesekian, maka ia harus mengulang lagi dari awal.

📌 Memberi Makan 60 Orang Miskin, Masing-Masing 1 Mud Makanan Pokok Setempat

✅ Kadar satu mud ini ditentukan berdasarkan hadits tentang hal yang sama dari riwayat Abu Dawud, di mana di dalamnya disebutkan kadar takaran ‘araqnya adalah 15 sha’

فَأُتِيَ بِعَرَقٍ فِيْهِ تَمْرٌ قَدْرَ خَمْسَةَ عَشَرَ صَاعاً

… maka didatangkan kepada beliau ‘araq yang di dalamnya ada kurma tamr dengan kadar lima belas sha’ (HR. Abu Dawud – shahih).

✅ Sedangkan satu sha’ itu empat mud. Jadi lima belas sha’ adalah enam puluh mud untuk enam puluh orang miskin, sehingga jatah setiap orangnya adalah satu mud.

✅ Mud sendiri sebenarnya adalah ukuran satu cakupan penuh dua telapak tangan laki-laki dewasa normal yang digabungkan. Jadi ia bukanlah ukuran berat, tetapi berupa takaran, sehingga jika ingin dikonversi ke dalam gram misalnya maka sangat tergantung kepada berat jenis makanan pokok yang ditimbang dan juga kadar airnya.

✅ Setelah dilakukan konversi, 1 mud rata-rata setara dengan 675 gram (Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuh, Wahbah Az-Zuhaili, 3/1737). Ada juga beberapa pendapat lain tentang konversi mud menjadi gram ini. Untuk kehati-hatian sebaiknya dilebihkan dari ukuran yang diperkirakan, jika mampu.

✅ Makanan pokok untuk orang miskin ini tidak boleh dibagikan kepada keluarga pelaku pelanggaran. Adapun yg disebutkan di dalam hadits adalah khusus untuk beliau saja, tidak berlaku bagi yang lain. (Al-Fiqh Asy-Syafi'i Al-Muyassar, 1/366).

Bersambung ..

Sumber: https://t.me/ilmusyariah
Admin: @Ilmusyariah_admin

Sabtu, 14 Maret 2020

Tagged under: ,

Mengambil Hikmah Dari Isra’ Mi’raj Nabi SAW

*Buletin Kaffah, No. 132, 20 Rajab, 1441 H/13 Maret 2020 M*

*PERISTIWA* Isra’ Mi’raj menjadi salah satu peristiwa penting dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad saw. Sebagian besar orang berpendapat bahwa kisah yang menakjubkan ini terjadi pada Bulan Rajab. Ini sekaligus merupakan pendapat Imam ath-Thabari rahimahulLah. Karena itu banyak kaum Muslim yang memperingati Isra’ Mi’raj pada bulan tersebut. 


*Pengertian Isra’ dan Mi’raj*

Isra secara bahasa berasal dari kata ‘sara’. Maknanya, perjalanan pada malam hari. Adapun secara istilah, Isra adalah perjalanan Rasulullah saw. bersama Malaikat Jibril dari Makkah ke Baitul Maqdis (Palestina). Ini berdasarkan firman Allah SWT:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى  
_Mahasuci Allah Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke  Masjid  al-Aqsha_ *(TQS al Isra’ [17]: 1).*

Mi’raj secara bahasa berarti suatu alat yang digunakan untuk naik. Adapun secara istilah, Mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh  Nabi saw. untuk naik dari bumi menuju tujuh lapis langit hingga ke Sidratul Muntaha. Ini berdasarkan firman Allah SWT: 

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى
_Sungguh Muhammad telah melihat Jibril (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatan dia (Muhammad) tidak berpaling dari yang dia lihat itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar_ *(TQS an-Najm [53]: 13-18).*

Adapun rincian dan urutan kejadian Isra’ Mi’raj banyak terdapat dalam hadis sahih dengan berbagai riwayat. 


*Menyikapi Kisah Isra’ Mi’raj*

Banyak berita terkait kisah Isra’ Miraj. Di antaranya  bahwa Rasulullah saw. sampai ke Baitul Maqdis, kemudian beliau berjumpa dengan para nabi dan shalat mengimami mereka, serta berita-berita lain yang merupakan perkara gaib yang terdapat dalam hadis-hadis sahih. Sikap Ahlussunnah wal Jama’ah terhadap kisah-kisah seperti ini harus mencakup kaidah berikut: menerima berita tersebut, mengimani kebenarannya dan tidak mengubah berita tersebut sesuai dengan kenyataannya.

Hendaknya kita meneladani sifat para Sahabat ra. terhadap berita dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, kaum musyrik datang menemui Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Mereka mengatakan,  “Lihatlah apa yang telah diucapkan temanmu (Muhammad saw.)!” Abu Bakar berkata, “Apa yang beliau ucapkan?” Kaum musyrik berkata, “Dia mengklaim telah pergi ke Baitul Maqdis, kemudian dinaikkan ke langit, dan peristiwa tersebut hanya berlangsung satu malam.” Abu Bakar berkata, “Jika memang demikian yang beliau ucapkan, maka sungguh berita tersebut benar sesuai yang beliau ucapkan karena beliau adalah orang yang jujur.” Kaum musyrik kembali bertanya, “Mengapa demikian?” Abu Bakar menjawab, “Aku membenarkan beliau seandainya berita tersebut lebih dari yang kalian kabarkan. Aku membenarkan berita langit yang turun kepada beliau, bagaimana mungkin aku tidak membenarkan beliau tentang perjalanan ke Baitul Maqdis ini?” *(Al-Hakim dalam _Al-Mustadrak_, hadis nomor 4407, dari ‘Aisyah ra).*

Perhatikan bagaimana sikap Abu Bakar ra. terhadap berita yang datang dari Nabi Muhammad saw. Beliau langsung membenarkan dan mempercayai berita tersebut. Beliau tidak banyak bertanya meskipun peristiwa tersebut mustahil dilakukan dengan teknologi pada saat itu. Demikianlah seharusnya sikap seorang Muslim terhadap setiap berita yang shahih dari Allah SWT dan Rasul-Nya.


*Mengimani Semua yang Disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya*

Seorang Muslim sudah sepatutnya mengimani semua yang disampaikan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, seperti peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. Selain Isra’ Mi’raj, tentu masih banyak khabar yang disampaikan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya yang wajib kita imani. Di antaranya kabar tentang akan tegaknya kembali Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah di muka bumi, pasca keruntuhannya, 3 Maret 1924 M/27 Rajab, 99 tahun yang lalu. Allah SWT berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
_Allah telah menjanjikan kepada orang-orang  beriman dan beramal shalih di antara kalian, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam); dan akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Siapa saja yang (tetap) kafir setelah (janji) itu, mereka itulah kaum yang fasik_ *(TQS an-Nur [24]: 55).*


Imam As-Sam’ani asy-Syafi’i rahimahulLâh mengatakan, “Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa para Sahabat Rasulullah saw. berangan-angan untuk menguasai Makkah (yang saat itu tengah dikuasai oleh kaum musyrik). Lalu Allah menurunkan ayat ini.” *_(Tafsir as-Sam’ani, 3/544)._*

Melalui ayat ini Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang menaati syariah-Nya, bahwa Dia berjanji akan menjadikan mereka berkuasa di atas dunia. Para ulama ahli tafsir seperti al-Qurthubi rahimahulLâh berpendapat bahwa janji Allah SWT dalam ayat tersebut berlaku umum untuk seluruh umat Nabi Muhammad saw. Tak hanya generasi para Sahabat. Dalam tafsirnya, ketika menjelaskan ayat tersebut, beliau mengatakan:

هَذِهِ الْحَالُ لَمْ تَخْتَصَّ بِالْخُلَفَاءِ الْأَرْبَعَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ حَتَّى يُخَصُّوا بِهَا مِنْ عُمُومِ الْآيَةِ، بَلْ شَارَكَهُمْ فِي ذَلِكَ جَمِيعُ الْمُهَاجِرِينَ بَلْ وَغَيْرُهُم… فَصَحَّ أَنَّ الْآيَةَ عَامَّةٌ لِأُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرُ مَخْصُوصَةٍ.
_Janji Allah ini tidak terbatas hanya untuk Khulafaur Rasyidin ra. saja sehingga harus dikhususkan dari keumuman ayat. Bahkan segenap Muhajirin dan kaum Muslim yang lain juga masuk dalam janji-janji ayat ini (tentu jika mereka memenuhi syarat-syaratnya, pen.) … Karena itu pendapat yang shahih adalah bahwa ayat ini berlaku umum untuk umat Muhammad saw. , tidak bersifat khusus._ *_(Tafsir al-Qurthubi, 12/299)._*

Sebagaimana janji Allah SWT tersebut diberikan kepada Rasulullah saw. dan para sahabat serta generasi setelah mereka ketika sistem Kekhilafahan masih ada di tengah-tengah mereka, maka demikian pula janji itu berlaku bagi umat Muhammad saat ini, yakni dengan tegaknya kembali Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Tentu saat mereka menunjukan kualitas ketaatan mereka kepada Allah SWT dan Rasul-Nya sebagaimana generasi sebelumnya.

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan “wa’amilu ash-shâlihât” dalam ayat ini adalah:

وَأَطَاعُوْا اللهَ وَرَسُوْلًهُ فِيْمَا أَمْرَاهُ وَنًهْيَاهُ
_Mereka menaati Allah dan Rasul-Nya pada perkara yang diperintahkan dan perkara yang dilarang oleh keduanya._ *_(Tafsîr ath-Thabari, 19/209)._*


Janji Allah SWT melalui ayat tersebut tentu wajib kita imani sebagaimana kita mengimani peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. Karena itu menentang kewajiban penerapan syariah Islam secara kaffah, serta menghalang-halangi tegaknya kembali Kekhilafahan Islam di dunia, berarti sama saja dengan mengingkari janji Allah SWT dan Rasul-Nya.

Bagi kebanyakan orang, akan tegaknya kembali sistem Kekhilafahan Islam memang merupakan sesuatu yang tidak masuk akal. Namun, karena itu merupakan sesuatu yang sudah dikabarkan oleh Allah SWT  dan Rasul-Nya, maka kita wajib untuk meyakininya. Ini sebagaimana tidak masuk akalnya peristiwa Isra’ Mi’raj  Nabi Muhammad saw. Namun, semua itu wajib diimani. Siapa saja yang mengingkarinya, sama saja ia telah terjerumus dalam kubangan dosa.  Na’udzubilLah.

Karena itu jadilah seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, yang tidak berpikir panjang untuk mengimani semua yang disampaikan oleh Nabi saw. Termasuk tentang akan kembalinya Khilafah _'ala minhaj an-nubuwwah_. Beliau bersabda:

ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
_Kemudian akan tegak kembali Khilafah yang mengikuti manhaj Kenabian_ *(HR Ahmad).* []


Tentu kabar yang disampaikan oleh Rasulullah saw.  harus diwujudkan oleh seluruh kaum Muslim dengan penuh perjuangan dan kesungguhan. Dalam hal ini kita harus meneladani Muhammad al-Fatih yang berjuang dan bersungguh-sungguh menaklukkan Konstantinopel yang sebelumnya telah dikabarkan oleh Rasulullah saw. bakal ditaklukkan oleh kaum Muslim. []
  
*Hikmah:*

Allah SWT berfirman:
قُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا 
_Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar serta berikanlah kepada diriku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong (agama ini).”_ *(TQS al-Isra’ [17]: 80).* []

Senin, 09 Maret 2020

Tagged under:

Fiqih Shiyam (Bag 5)

📚 Hari-Hari Haram Puasa

📕 Matan Abu Syuja’ (Al-Ghayah wa At-Taqrib)

وَيَحْرُمُ صِيَامُ خَمْسَةِ أَيَّامٍ: اَلْعِيْدَانِ، وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ الثَّلَاثَةُ.
وَيُكْرَهُ صَوْمُ يَوْمِ الشَّكِّ إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ عَادَةً لَهُ.

Dan diharamkan puasa 5 hari: 2 hari raya dan 3 hari tasyriq. 
Dan dimakruhkan puasa hari syak kecuali jika bertepatan dengan kebiasaan seseorang.

📒 Penjelasan

📌 Hari Raya & Hari Tasyriq

✅ Yang dimaksud dengan dua hari raya adalah Idul Fitri 1 Syawwal dan Idul Adha 10 Dzulhijjah, sedangkan hari tasyriq adalah tiga hari berturut-turut setelah Idul Adha yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

✅ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الْأَضْحَى، وَيَوْمِ الْفِطْرِ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang puasa pada dua hari yaitu hari Idul Adha dan hari Idul Fitri. (HR. Muslim no 1138).

✅ عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ»

Dari Nubaisyah Al-Hudzali ia berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim, no 1141).

✅ عَنْ أَبِي مُرَّةَ مَوْلَى أُِّم هَانِئٍ، أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو عَلَى أَبِيهِ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِ، فَقَرَّبَ إِلَيْهِمَا طَعَاماً، فَقَالَ: كُلْ، فَقَالَ: إِنِّي صَائِمٌ، فَقَالَ عَمْرٌو: كُلْ فَهَذِهِ الأَيَّامُ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَأمُرُنَا بِإِفْطَارِهَا وَيَنْهَانَا عَنْ صِيَامِهَا، قَالَ مَالكٌ: وَهِيَ أّيَّامُ التَّشْرِيقِ 

Dari Abu Murrah maula Ummu Hani bahwa ia bersama Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash masuk menemui ‘Amr bin Al-‘Ash, lalu beliau mendekatkan makanan kepada keduanya dan berkata: Makanlah. Ia (Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash) berkata: Sungguh saya puasa. Maka ‘Amr bin Al-‘Ash berkata: Makanlah, karena ini adalah hari-hari dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk berbuka dan melarang kita berpuasa. Berkata Imam Malik bin Anas: Hari-hari (yang dimaksud) adalah hari-hari tasyriq. (HR Abu Dawud, isnadnya shahih).

📌 Hari Syak (Hari Meragukan)

✅ Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Al-Majmu’ maksud dari Hari Syak:

قَالَ أَصْحَابُنَا يَوْمُ الشَّكِّ هُوَ يَوْمُ الثَّلَاثِينَ مِنْ شَعْبَانَ إذَا وَقَعَ فِي أَلْسِنَةِ النَّاسِ إِنَّهُ رُؤِيَ وَلَمْ يَقُلْ عَدْلٌ إنَّهُ رَآهُ أَوْ قَالَهُ. (6/401)

Sahabat-sahabat kami telah berkata bahwa hari syak adalah tanggal 30 Sya’ban jika beredar berita di masyarakat bahwa (hilal Ramadhan) telah terlihat, sementara belum ada informasi dari pihak yang tepercaya bahwa ia telah melihatnya atau mengatakan (telah melihatnya).

Jadi hari syak adalah hari dimana belum ada kepastian apakah hari itu adalah 30 Sya’ban atau 1 Ramadhan.

✅ Di matannya, Abu Syuja’ rahimahullah ta’ala menyebutkan bahwa puasa hari syak adalah makruh. Namun pendapat yang mu’tamad (menjadi pegangan) dalam madzhab Syafi’i adalah haram berpuasa di hari syak jika tanpa alasan yang dibenarkan.

✅ Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Al-Majmu’:

(أَمَّا) حُكْمُ الْمَسْأَلَةِ فَقَالَ أَصْحَابُنَا لَا يَصِحُّ صَوْمُ يَوْمِ الشَّكِّ عَنْ رَمَضَانَ بِلَا خِلَافٍ ...
فَإِنْ صَامَهُ عَنْ قَضَاءٍ أَوْ نَذْرٍ أَوْ كَفَّارَةٍ أَجْزَأَهُ ... 
لِأَنَّهُ إِذَا جَازَ أَنْ يَصُومَ فِيْهِ تَطَوُّعًا لَهُ سَبَبٌ فَالْفَرْضُ أَوْلَى .. وَلِأَنَّهُ إذَا كَانَ عَلَيْهِ قَضَاءُ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ فَقَدْ تَعَيَّنَ عَلَيْهِ لِأَنَّ وَقْتَ قَضَائِهِ قَدْ ضَاقَ. (وَأَمَّا) إِذَا صَامَهُ تَطَوُّعًا فَإِنْ كَانَ لَهُ سَبَبٌ بِأَنْ كَانَ عَادَتُهُ صَوْمَ الدَّهْرِ أَوْ صَوْمَ يَوْمٍ وَفِطْرَ يَوْمٍ أَوْ صَوْمَ يَوْمٍ مُعَيَّنٍ كَيَوْمِ الِاثْنَيْنِ فَصَادَفَهُ جَازَ صَوْمُهُ بِلَا خِلَافٍ بَيْنَ أَصْحَابِنَا

Adapun hukum masalah ini (puara hari syak) maka telah berkata para sahabat kami bahwa tidak sah puasa hari syak dengan niat puasa Ramadhan (untuk jaga-jaga) tanpa ada perbedaan pendapat…
Jika seseorang berpuasa (di hari syak) dengan niat puasa qadha, atau nadzar, atau kafarat, maka puasanya sah… Karena jika berpuasa di hari itu dengan niat puasa sunnah yang memiliki sebab adalah dibolehkan, maka puasa wajib lebih laik untuk dibolehkan .. Juga jika seseorang masih punya hutang puasa Ramadhan maka ia wajib puasa di hari itu, karena waktu qadhanya sudah mendesak. Jika ia berpuasa di hari syak dengan niat puasa sunnah yang memiliki sebab, seperti karena ia telah terbiasa puasa sepanjang tahun, atau terbiasa puasa sehari dan tidak berpuasa sehari (selang seling/puasa Dawud), atau terbiasa puasa hari tertentu misalnya hari Senin dan bertepatan dengan hari syak tersebut, maka puasanya sah tanpa perbedaan pendapat diantara sahabat-sahabat kami. (Al-Majmu’ 6/399-400).

✅ Intinya adalah diharamkan puasa hari syak tanpa alasan. Jika dengan alasan, baik untuk puasa yang wajib seperti qadha Ramadhan atau puasa Sunnah yang sudah menjadi kebiasaan seseorang, maka ia diperbolehkan, meskipun ada diantara ulama madzhab yang memakruhkannya tapi puasanya tetap sah.

✅ Dalil haramnya puasa di hari syak adalah:

عَنْ عَمَّارٍ، «مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

Dari ‘Ammar (bin Yasir) radhiyallahu ‘anhuma: “Siapa yang berpuasa di hari syak maka ia telah bermaksiat kepada Abu Al-Qasim (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wasallam. (HR. Al-Bukhari secara mu’allaq dan dinyatakan shahih oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

📎 Keterangan:
Maksud dari mu’allaq adalah bahwa Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya tidak menyebutkan secara lengkap sanad riwayat di atas, beliau hanya menyebutkan dari Shilah bin Zufar rahimahullah dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu . Sedangkan perawi dari Al-Imam Al-Bukhari sendiri sampai kepada Shilah tidak beliau sebutkan. Tetapi At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan yang lainnya menyebutkan sanadnya lengkap dan menshahihkannya). 

✅ Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan:

اسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى تَحْرِيمِ صَوْمِ يَوْمِ الشَّكِّ لِأَنَّ الصَّحَابِيَّ لَا يَقُولُ ذَلِكَ مِنْ قِبَلِ رَأْيِهِ فَيَكُونُ مِنْ قَبِيلِ الْمَرْفُوعِ

Dengan (riwayat) ini dapat dijadikan dalil atas pengharaman puasa hari syak, karena seorang sahabat Nabi tidak menyatakan demikian berdasarkan pendapatnya, sehingga riwayat ini (meskipun mauquf) hakikatnya termasuk marfu’. (Fath Al-Bari, 4/120).

📎 Keterangan:
Mauquf adalah khabar atau riwayat yang sumbernya berasal dari seorang sahabat Nabi.
Marfu’ adalah khabar atau riwayat yang sumbernya berasal dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bersambung ..

Sumber: https://t.me/ilmusyariah
Admin: @Ilmusyariah_admin

Sabtu, 07 Maret 2020

Tagged under:

Fiqih Shiyam (Bag 4)

📚 Perbuatan yang Mustahab dalam Puasa

📕 Matan Abu Syuja’:

وَيُسْتَحَبُّ فِي الصَّوْمِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: تَعْجِيلُ الْفِطْرِ وَتَأْخِيرُ السُّحُورِ وَتَرْكُ الْهُجْرِ مِنَ الْكَلَامِ

Tiga hal mustahab dalam puasa: ta’jil al-fithr (menyegerakan berbuka), ta-khir as-suhur (mengakhirkan sahur) dan meninggalkan ucapan buruk/vulgar.

📒 Penjelasan

📌 Ta’jil Berbuka

✅ Dianjurkan melakukan ta’jil berbuka puasa berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْرَ

Masyarakat tetap dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka. (HR. Al-Bukhari no 1856, Muslim no 1098 dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu). 

✅ Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan:

أَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka sebelum shalat maghrib dengan beberapa butir ruthab, jika tidak ada ruthab maka dengan beberapa tamr, jika tidak ada maka dengan beberapa teguk air. (HR. At-Tirmidzi – shahih).

📌 Ta-khir Santap Sahur

✅ Dalam bahasa Arab, aktifitas makan sahur disebut suhur (السُحُورُ), sedangkan sahur (السَّحُورُ) adalah makanan atau hidangan makan sahur.  Seperti wudhu adalah aktifitasnya sedangkan air yang digunakan disebut wadhu.

✅ لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْرَ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ

Ummatku tetap dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur (HR. Ahmad, 5/147).

✅ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ: «تَسَحَّرَا فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ سُحُورِهِمَا، قَامَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّلاَةِ، فَصَلَّى»، قُلْنَا لِأَنَسٍ: كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سُحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلاَةِ؟ قَالَ: «قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً»

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Allah (Muhammad) shallallahu ‘alaihi wasallam dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu makan sahur, setelah keduanya selesai darinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit untuk shalat (subuh), maka shalatlah beliau. Kami berkata kepada Anas: Berapa lama jarak antara sahur mereka berdua dengan shalat mereka? Anas berkata: selama seseorang membaca 50 ayat. (HR. Al-Bukhari no 556).

📌 Meninggalkan Perkataan Kotor atau Vulgar

✅ Meninggalkan perkataan kotor atau vulgar disebutkan sebagai hal yang mustahab maksudnya adalah bahwa perkataan kotor atau vulgar tidak termasuk yang membatalkan puasa (bukan fardhu atau rukun puasa), namun tetap tercela pelakunya dan menghilangkan nilai puasanya. 

✅ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ

Pada hari puasa diantara kamu janganlah ia rafats (berkata dengan perkataan hina, vulgar, kotor), dan janganlah shakhab (meninggikan suara dan buat gaduh). (HR. Al-Bukhari & Muslim).

✅ Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَالْجُمْهُورُ وَإِنْ حَمَلُوا النَّهْيَ عَلَى التَّحْرِيمِ إِلَّا أَنَّهُمْ خَصُّوا الْفِطْرَ بِالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ

Dan mayoritas ulama meskipun menyatakan bahwa larangan tersebut menunjukkan keharaman, namun mereka mengkhususkan batalnya puasa dengan makan, minum dan jima’ saja. (Fath Al-Bari, 4/104).

Bersambung ..

Sumber: https://t.me/ilmusyariah
Admin: @Ilmusyariah_admin