image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Senin, 25 Maret 2019

Tagged under:

Dahsyatnya Melakukan Kebaikan

ONE DAY ONE HADITS

Senin,  25 Maret 2019 M / 18 Rajab 1440 H

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ: قَالَ:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً.

Dari Ibn Abbas ra,  Nabi saw, Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan dan keburukan, selanjutnya Dia jelaskan, barangsiapa yang berniat melakukan suatu kebaikan lantas tidak jadi ia amalkan, Allah mencatat baginya satu kebaikan di sisi-Nya secara sempurna, dan jika ia berniat lantas ia amalkan, Allah mencatatnya di sisi-Nya sepuluh kebaikan hingga dilipatgandakan tujuh ratus kali hingga lipatganda yang tidak terbatas, sebaliknya barangsiapa yang berniat melakukan keburukan kemudian tidak jadi ia lakukan, Allah mencatat baginya satu kebaikan disisi-Nya secara sempurna, dan jika ia berniat melakukan keburukan dan jadi ia lakukan, Allah mencatatnya sebagai satu keburukan saja.

HR BUKHARI 6010

Kandungan hadits

1. Ajakan bagi setiap  muslim untuk melakukan kebaikan. Amalan baik tersebut dimulai  niat dan rencana yang baik.

2. Jika anda berniat melakukan kebaikan dan tidak jadi melakukannya, maka tercatat untuk anda satu kebaikan sempurna.

3. Jika anda berniat melakukan kebaikan dan melakukannya, maka tercatat untuk anda pahala sepuluh kebaikan yang Allah lipat gandakan sebagaimana Dia kehendaki.

3. Jika anda berniat melakukan kejahatan dan tidak melakukannya, maka anda mendapatkan satu kebaikan sempurna.

4. Jika anda berniat melakukan kejahatan dan melakukannya, maka tercatat untuk anda satu kejahatan saja.

5. Niat seorang muslim lebih baik dari amalnya. Oleh karena itu perbanyaklah niat baik yang tentunya untuk diamalkan. Bahwa kemudian tidak terlaksana, maka pahala kebaikan nya tetap telah tercatat.

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

Allah menekankan bahwa kebaikan itu jauh berbeda dengan keburukan.
Sekecil apapun kebaikan itu, tetaplah jauh di atas keburukan.

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik”.

(Fussilat: 34)

مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِّنْهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى الَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa datang dengan (membawa) kebaikan, maka dia akan mendapat (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa datang dengan (membawa) kejahatan, maka orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu hanya diberi balasan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.”

(Al-Qashas: 84)

Minggu, 24 Maret 2019

Tagged under:

Kunci Amal

ONE DAY ONE HADITS

Ahad,  24 Maret 2019 M / 17 Rajab 1440 H

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ ” .

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala  mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Bila mempunyai amalan shalat Sunnah, maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.... .

(HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386)

Kandungan hadits

1- Shalat adalah fondasi dan tiang Islam. Menegakkan agama bisa dilakukan dengan mendirikan shalat.

2- Shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. Amalan seseorang bisa dinilai baik buruknya tergantung dari   shalatnya.

3-  Shalat sunnah yang dilakukan akan menyempurnakan kekurangan shalat wajib.

4- Shalat adalah akhir wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh karena itu jangan pernah  Meremehkan Shalat

من ضيعها فهو لما سواها أضيع
"Barang siapa yang berani meremehkan shalat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya".

(Umar bin Khoofy radhiallahu anhu)

5. Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang menjaga shalat jamaah lima waktu di masjid.

Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.”..

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan umatnya untuk memerintahkan keluarga mereka supaya menunaikan shalat.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”

(QS. Thaha: 132)

Tagged under:

Saling Memberi Hadiah

ONE DAY ONE HADITS

Ahad, 24 Maret 2019 M/ 17 Rojab 1440 H

عن ابي هريره رضي الله عنه قال قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
تَهَادَوْا تَحَابُّوْا. (رواه البخاري في الأدب المفرد 120 والبيهقي، 6/169، وسنده حسن).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wa salam:
“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrod, hal 120 dan Baihaqi 6/169 dengan sanad hasan) 

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:

1- Hadits yang mulia di atas menunjukkan bahwa pemberian hadiah akan menarik rasa cinta di antara sesama manusia, karena tabiat jiwa memang senang terhadap orang yang berbuat baik kepadanya.
2- Inilah sebab disyariatkannya memberi hadiah. Dengannya akan terwujud kebaikan dan kedekatan.
3- Sementara agama Islam adalah agama yang mementingkan kedekatan hati dan rasa cinta.
4- Hadiah menumbuhkan cinta yang berarti akan mengusir kebencian, permusuhan, dan kedengkian di dalam hati.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

- Agama Islam adalah agama yang mementingkan kedekatan hati dan rasa cinta.

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Ingatlah nikmat Allah kepada kalian, ketika sebelumnya (di masa jahiliah) kalian saling bermusuhan lalu ia menjinakkan (mempersaudarakan) hati-hati kalian maka kalian pun dengan nikmat-Nya menjadi orang-orang yang bersaudara.” (Ali ‘Imran: 103).Lr

Sabtu, 23 Maret 2019

Tagged under:

Petik Buah di Kebun Surga

ONE DAY ONE HADITS

Sabtu,   23 Maret 2019 M / 16 Rajab 1440 H .

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ قَالَ : حَدَّثَنَا عَاصِمٌ ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ ، عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ الصَّنْعَانِيِّ ، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ قَالَ : مَنْ عَادَ أَخَاهُ كَانَ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ ، قُلْتُ لِأَبِي قِلَابَةَ : مَا خُرْفَةُ الْجَنَّةِ ؟ قَالَ : جَنَاهَا ، قُلْتُ لِأَبِي قِلَابَةَ : عَنْ مَنْ حَدَّثَهُ أَبُو أَسْمَاءَ ؟ قَالَ : عَنْ ثَوْبَانَ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا ابْنُ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ ، عَنِ الْمُثَنَّى – أَظُنُّهُ – ابْنَ سَعِيدٍ قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو قِلَابَةَ ، عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ ، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحَبِيِّ ، عَنْ ثَوْبَانَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، نَحْوَهُ

Musa bin Isma’il menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Abdul Wahid menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Ashim menceritakan kepada kami dari Abu Qilabah, dari Abul Asy’ats ash-Shan’ani, dari Abu Asma’, ia berkata, “Barang siapa mengunjungi sudaranya, maka ia berada di kebun buah Surga. Aku bertanya kepada Abu Qilabah, ‘Apa (maksud) kebun buah Surga?’ Ia menjawab, ‘(Maksudnya) memetiknya.’ Aku bertanya kepada Abu Qilabah, ‘Dari siapa Abu Asma’ meriwayatkannya?’ Ia menjawab, ‘Dari Tsauban, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam'”

HR Bukhari 521

Kandungan hadits

1. Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan baik dengan manusia  (habluminannas). Ajaran Islam memberikan perhatian yang besar terhadap lingkungan, menjaga ukhuwah, menjaga keharmonisan, dan solidaritas diantara masyarakat.

2. Bentuk kepedulian sesama adalah dengan disyariatkannya membesuk orang yang sakit. 

3. Ketika membesuk saudaranya yang sakit, dia sedang melangkah menuju surga Allah SWT. Memetik buah-buahan di surga yang tidak pernah putus buahnya, tidak ada larangan bagi hamba untuk memetik dan menikmatinya.

4. Imam An-Nawawi mengatakan tentang khurfatul jannah, bahwa orang yang membesuk orang yang sakit itu, amalan dia akan mengantarkan dia menuju ke dalam surga Allah sehingga dia di situ bisa memetik buah-buah sesuai yang dia inginkan.

5. Ketika menjenguk orang sakit, ia terus berada dalam curahan kasih sayang Allah Subhanahu wata'ala. Hadis riwayat Bukhari berikut menjadi penguat terhadap ungkapan tersebut

حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ قَالَ : حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ : أَخْبَرَنِي أَبِي ، أَنَّ أَبَا بَكْرِ بْنَ حَزْمٍ ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ ، فِي نَاسٍ مِنْ أَهْلِ الْمَسْجِدِ ، عَادُوا عُمَرَ بْنَ الْحَكَمِ بْنِ رَافِعٍ الْأَنْصَارِيَّ ، قَالُوا : يَا أَبَا حَفْصٍ ، حَدِّثْنَا ، قَالَ : سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : مَنْ عَادَ مَرِيضًا خَاضَ فِي الرَّحْمَةِ ، حَتَّى إِذَا قَعَدَ اسْتَقَرَّ فِيهَا

Qais bin Hafsh menceritakan kepada kami, ia berkata: Khalid bin al-Harits menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Abdul Hamid bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata, Ayahku menceritakan kepadaku bahwa Abu Bakar bin Hazm dan Muhammad bin al-Munkadir bersama sejumlah orang jama’ah masjid, menjenguk ‘Umar bin al-Hakam bin Rafi’ al-Anshari. Mereka berkata, “Wahai Abu Hafsh, sampaikanlah (hadits) kepada kami.” lalu ia berkata, “Aku mendengar Jabir bin ‘Abdillah berkata, ‘Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barang siapa mengunjungi orang sakit, maka ia senantiasa masuk dalam rahmat (Allah), hingga apabila ia telah duduk, ia menetap padanya.'”

Jumat, 22 Maret 2019

Tagged under: ,

Siapa Bisa Melindungi Umat Muslim?

Buletin Kaffah No. 083, 15 Rajab 1440 H – 22 Maret 2019

Lagi, darah Muslim tertumpah. Sekitar 50 warga Muslim New Zealand di kawasan Christchurch, yang sedang bersiap beribadah shalat Jumat, menjadi korban penembakkan brutal oleh seorang teroris Kristen. Pelaku bukan saja berencana membunuhi warga Muslim. Dia juga berniat menciptakan ketakutan pada kaum Muslim di dunia dengan cara menyiarkan aksi terornya secara live streaming lewat media sosial.

Pelaku dan komplotannya kemudian berhasil dibekuk aparat. Namun, yang menjadi persoalan, mengapa begitu mudah darah umat Muslim di belahan dunia manapun, termasuk di negeri Islam sekalipun, ditumpahkan? Di Suriah, Irak, Rohingya, Kashmir, India dan Uighur nyawa kaum Muslim begitu mudah dicabut, tanpa ada pembelaan sama sekali!

Harga Nyawa Mukmin

Islam adalah satu-satunya agama yang memberikan penghargaan amat tinggi pada darah dan jiwa manusia. Allah SWT menetapkan pembunuhan satu nyawa tak berdosa sama dengan menghilangkan nyawa seluruh umat manusia:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي اْلأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا
Siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia (TQS al-Maidah [5]: 32).

Allah SWT pun mengancam orang yang menghilangkan nyawa seorang Mukmin dengan ancaman yang sangat keras:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
Siapa saja yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, balasannya ialah Neraka Jahanam. Dia kekal di dalamnya. Allah murka kepada dia, mengutuk dia dan menyediakan bagi dia azab yang besar  (TQS an-Nisa`[4]: 93).

Begitu cintanya pada jiwa seorang Mukmin, Allah SWT mengancam akan mengazab semua penghuni dan langit seandainya bersekutu dalam membunuh seorang Muslim. Rasul saw. bersabda:

لَوْ أَنَّ أَهْلَ السَّمَاءِ وَأَهْلَ الأَرْضِ اجْتَمَعُوا عَلَى قَتْلِ مُسْلِمٍ لَكَبَّهُمُ اللهُ جَمِيعًا عَلَى وُجُوهِهِمْ فِي النَّارِ
Andai penduduk langit dan penduduk bumi berkumpul membunuh seorang Muslim, sungguh Allah akan membanting wajah mereka dan melemparkan mereka ke dalam neraka (HR ath-Thabrani).

Dalam riwayat lain, kata Ibnu Abbas ra., saat memandang Ka’bah, Nabi saw. pun bersabda, “Selamat datang, wahai Ka’bah. Betapa agungnya engkau dan betapa agung kehormatanmu. Akan tetapi,  serang Mukmin lebih agung di sisi Allah daripada engkau.” (HR al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).

Adakah agama yang begitu memuliakan dan menjaga nyawa seorang hamba melebihi ajaran Islam? Tidak ada! Karena itulah, sepanjang sejarah penerapan syariah Islam, tak ada darah seorang Muslim pun ditumpahkan, melainkan akan diberikan pembelaan yang besar dari umat dan Daulah Islam. Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya menceritakan, ketika ada seorang pedagang Muslim yang dibunuh beramai-ramai oleh kaum Yahudi Bani Qainuqa, karena membela kehormatan seorang Muslimah yang disingkap pakaiannya oleh pedagang Yahudi, Rasulullah saw. segera mengirim para Sahabat untuk memerangi mereka dan mengusir mereka dari Madinah setelah mengepung perkampungan mereka selama 15 malam (Sirah Ibnu Hisyam, 3/9-11).

Pembelaan terhadap kehormatan dan darah kaum Muslim terus dilakukan oleh para penguasa Muslim sepanjang sejarah. Seperti yang dilakukan Sultan al-Hajib al-Manshur (971-1002 M). Ia dikenal oleh Barat sebagai penguasa Muslim dan jenderal di wilayah Andalusia. Ia pernah mengancam penguasa Kerajaan Navarre, salah satu kerajaan yang berada di wilayah Spanyol yang tunduk pada Khilafah Islam, karena diketahui menyekap tiga orang Muslimah di salah satu gereja di wilayah mereka. Sultan al-Hajib al-Manshur segera mengirim pasukan berjumlah besar untuk menghukum Kerajaan Navarre. Penguasa Navarre ketakutan. Dia segera mengirim surat permintaan maaf,  lalu melepaskan tiga Muslimah tersebut dan menyerahkan mereka kepada kaum Muslim. Bahkan dia berjanji akan menghancurkan gereja tersebut.

Umat Butuh Pelindung

Umat tak bisa melindungi diri mereka sendiri. Harus ada penguasa yang melindungi mereka. Demikianlah sebagaimana pesan Nabi saw.:

إنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Sungguh Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai; orang-orang akan berperang di belakang dia dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ahmad).

Rasulullah saw., selaku imam kaum Muslim, semasa menjadi kepala Negara Islam Madinah, telah melindungi setiap tetes darah kaum Muslim. Demikian pula Khulafaur-Rasyidun dan para khalifah setelah mereka. Mereka terus melindungi umat dari setiap ancaman dan gangguan. Dengan begitu umat dapat hidup tenang dimana pun mereka berada karena ada yang menjadi pelindung bagi mereka.

Bagaimanakah dengan sekarang? Saat puluhan warga Muslim ditembaki di dalam mesjid di New Zealand, adakah yang melindungi mereka? Adakah yang menuntut balas atas darah yang tertumpah? Belum lagi ratusan ribu nyawa Muslim yang menjadi korban pembantaian di Suriah, Irak, Palestina, Kashmir, Uighur dan Myanmar. Adakah yang membela dan melindungi mereka dari kaum agresor? Tidak ada!

Sampai hari ini pun, kaum Muslim Rohingya yang masih hidup masih terlunta-lunta. Tak bisa kembali ke kampung halaman mereka. Mereka menderita di penampungan. Sekitar satu juta Muslim Uighur juga masih mendekam di kam konsentrasi pemerintah komunis Cina tanpa ada yang mau menolong mereka. Tragisnya, Raja Saudi Muhammad bin Salman justru mendukung pemerintah komunis Cina melanjutkan program ‘deradikalisasi Islam’ terhadap Muslim Uighur.

Apakah para pemimpin Muslim lupa terhadap firman Allah SWT:

وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ
Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, kalian wajib memberikan pertolongan (TQS al-Anfal [8]: 72).

Tidakkah mereka pernah membaca sabda Nabi saw.:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يُسْلِمُهُ
Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain. Janganlah menganiaya dia dan jangan pula menyerahkan dia (kepada musuh) (HR al-Bukhari).

Bagaimana bisa para pemimpin Dunia Islam malah bermesraan dengan penguasa Timur dan Barat yang nyata-nyata menganiaya kaum Muslim seperti Cina, Rusia, AS atau Israel?

Bandingkan dengan sikap para pemimpin Barat usai penyerengan terhadap kantor Majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis beberapa waktu lalu. Mereka serentak turun ke jalan di Kota Paris. Mereka kompak mengutuk keras penyerangan tersebut meski jelas nyata kejadian ini dipicu penghinaan terhadap ajaran Islam.

Lihat pula ketika terjadi serangan terhadap Menara Kembar WTC 11 September 2001, George Bush langsung menyatakan perang terhadap apa yang ia namakan ‘kelompok teroris’. Lalu pada tahun 2003 AS menginvasi Irak bersama sejumlah negara dengan alasan menghukum para ‘teroris’. Hasilnya, setengah juta warga Irak tewas dalam operasi tersebut. Lagi-lagi tanpa pembelaan dan perlawanan. Semua penguasa Muslim diam!

Sekarang, siapa pula yang membela dan melindungi kaum Muslim? Lagi-lagi tidak ada! Padahal serangan terhadap Mesjid di Christchurch pekan lalu dilakukan oleh pelaku karena dorongan kebencian pada Islam. Dalam manifesto 74 halaman yang diunggah pelaku di sosial media, ia mengatakan bila dia memang penganut supremasi kulit putih yang ingin balas dendam terhadap serangan Muslim di Eropa.

Memang tidak semua warga non-Muslim di Barat memiliki kebencian terhadap Islam dan kaum Muslim. Berbagai simpati dan empati berdatangan dari warga dunia kepada korban penembakan.

Namun demikian, kebencian terhadap Islam (Islamphobia) telah meningkat di seantero Eropa dan Amerika Serikat adalah fakta. Sebuah survei yang dilakukan Pew Research Center mengenai Islamophobia, sentimen negatif warga Eropa terhadap Muslim melonjak di sepanjang tahun 2016. Di Inggris, prosentase Islamophobia meningkat hingga 28 persen.

Di Spanyol dan Italia, prosentase masing-masing adalah 50 persen dan 69 persen. Di Yunani prosentasenya 65 persen. Hungaria menduduki tingkat tertinggi dengan angka 72 persen.

Di Polandia, Prancis, Jerman, Belanda, dan Swedia berdasarkan laporan, peningkatannya juga terbilang tinggi.

Banyak warga Muslim di Eropa, terutama remaja dan perempuan, dilaporkan mengalami pelecehan secara verbal hingga pemukulan. Sepanjang tahun 2017, sekitar 200 mesjid diserang di seantero Eropa dan Inggris. Ini meningkat dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.

Meski demikian, tak ada satu pun pemimpin Dunia Islam yang merespon penderitaan umat. Para pemimpin umat hanya menjadi macan kertas. Hanya melakukan gertak sambal berisi kecaman kosong. Apakah mereka tidak malu pada remaja ingusan yang berani menghinakan senator Australia yang fasis membenci Islam? Padahal remaja itu non-Muslim dan dia tidak punya kekuasaan sebagaimana para penguasa Muslim itu?

Padahal Allah SWT tegas berfirman:

فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ
Karena itu siapa saja yang menyerang kalian, maka seranglah dia, seimbang dengan serangannya terhadap kalian (TQS al-Baqarah [2]: 194).

Jelas, kaum Muslim membutuhkan pemimpin yang sanggup melindungi dan membela mereka. Bukan pemimpin yang hanya menonton dan berkoar-koar di belakang meja, sementara tangannya tak pernah terulur menyelamatkan kaum Muslim.

Kita membutuhkan Khilafah yang dipimpin seorang imam/khalifah, yang akan menjadi perisai yang melindungi kita. Khilafahlah yang akan menghukum siapa saja yang berani menganiaya kita. []

Hikmah:

Nabi saw. bersabda:
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ
Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang Muslim (HR an-Nasa’i). []

Tagged under:

Dampak Makan Haram

ONE DAY ONE HADITS

Kamis,  21 Maret 2019 M / 14  Rajab 1440 H

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ».

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?”

(HR. Muslim no. 1015)

Kandungan hadits

1. Orang-orang yang memiliki harta halal dan mata pencaharian yang halal adalah orang-orang yang paling selamat agamanya, paling tenang hati dan pikirannya, paling lapang dadanya, paling sukses kehidupannya.

2. Mencari harta halal dengan cara yang halal adalah sifat mulia yang telah dicerminkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya.

Dari Abi Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أكَلَ طَيِّبًا ، وعَمِلَ فِي سُنَّةٍ ، وَأَمِنَ الناسُ بَوَائِقَهُ ، دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa mengkonsumsi sesuatu yang baik, melaksanakan sunnah dan masyarakat sekitarnya tidak terganggu dengan keburukannya, maka dia masuk surga’.

[HR. Tirmidzi]

3. Do’a, dan amalan sholeh terhalang tidak bisa naik ke langit. Untuk di dunia berpengaruh pada keberkahan hidup. Kesehatan diri bisa dipengaruhi dari makanan yang ia konsumsi setiap harinya. Oleh karena itu, seorang muslim bukan sekedar empat sehat lima sempurna, tetapi
halal dan haram menjadi ukuran yang pertama.

4. Makanan, minuman dan hasil nafkah   haram  berpengaruh
nasib kehidupan dunia-akhirat. Bahkan doa pun tertolak.

5. Daging yang tumbuh dari makanan yang haram adalah neraka tempat kembalinya.

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ؛ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari (makanan) yang haram dan neraka lebih layak baginya”.

(HR Ahmad, 3/321, Daarimi, no. 2776)

Selasa, 19 Maret 2019

Tagged under:

Tamak

ONE DAY ONE HADITS

Senim,  18 Maret 2019 M / 12  Rajab 1440 H .

عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

Dari Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.

HR Tirmidzi, no. 2376; Ahmad (III/456, 460); Ad-Darimi (II/304); Ibnu Hibban (no. 3218–At-Ta’lîqâtul Hisân) ; Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabîr  (XIX/96, no. 189)

Kandungan hadits

1- Di dalam hadits ini Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa ketamakan manusia terhadap harta dan jabatan pasti akan merusak agamanya. Ketamakan manusia kepada harta dan kepemimpinan akan membawa kepada kezhaliman.

2- Dunia merupakan tempat ujian dan cobaan.

3- Manusia dihiasi dengan kecintaan kepada harta, syahwat, dan perhiasan dunia lainnya.

4- Harta yang baik adalah yang dipegang dan dikuasai oleh orang yang shaleh.

5- Harta dan jabatan dalam konsep Islam adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dan beribadah kepada-Nya, serta digunakan untuk menegakkan  Islam.

6- Ketamakan manusia kepada jabatan dan segala pernak pernik nya merupakan awal dari kezhaliman.

7-  Ketamakan manusia kepada harta dan jabatan lebih sangat merusak agama dan kemuliaan seseorang daripada serigala yang menerkam sekumpulan kambing.

8. Hadits ini sebagai peringatan bagi manusia agar berhati-hati dan zuhud terhadap pangkat- jabatan beserta segala pernak pernik nya.

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

Tabiat manusia adalah mencintai harta dan kedudukan

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.

[QS.Al-Fajr:20]

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan.

[QS.Al-‘Âdiyât:8]