image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Sabtu, 21 September 2019

Tagged under:

Doa Naik Kendaraan Darat

ONE DAY ONE DOA

Sabtu,   21  September 2019 M / 21  Muharam  1441 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)

بِاسْمِ اللَّهِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ
سُبْحَانَ الَّذِىْ سَخَّرَلَنَا هَذَا وَمَاكُنَّالَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلَى رَبّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ
(3x) الْحَمْدُ لِلَّهِ
(3x) اللَّهُ أَكْبَرُ
سُبْحَانَكَ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.

SUBHAANAL LADZII SAKHHORO LANAA HAADZAA WA MAA KUNNAA LAHUU MUQRINIINA WA INNAA ILAA ROBBINAA LAMUNGQOLIBUUN.
ALHAMDULILLAH 3X
ALLAHU AKBAR 3X
SUBHANAKA INNII DHOLAMTU NAFSII, FAGHFIRLII FAINNAHU LAA YAGHFIRUDZUNUUBA ILLA ANTA

“Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Rabb yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Robb kami (di hari kiamat). Segala puji bagi Allah (3x), Allah Maha Besar (3x), Maha Suci Engkau Ya Allah, sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.”
(HR. Abu Dawud (no.2602), at-Tirmidzi (no.3446), Hadits ini shahih sebagaimana  dalam kitab Shahih Abu Dawud dan Shahih at-Tirmidzi )
Hadis tersebut mengabarkan tentang bentuk doa yang diajarkan Nabi Muhammad saw ketika kita naik kendaraan saat melakukan perjalanan. Hal ini dilakukan dengan tujuan kita meminta perlindungan dan penjagaan dari Allah swt selama perjalanan.
Membaca doa naik kendaraan seperti di atas adalah sunah. Sebab, barangsiapa yang membacanya, akan mendapatkan pahala yang berlimpah karena begitu sering dalam sehari kita berkedaraan, terutama yang profesinya jual jasa ngangkut barang atau orang.
Bisa dibayangkan bila di era modern ini ketika bepergian masih harus berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain dengan membawa barang atau perbekalan di atas punggung layaknya jaman dulu. Oleh karena itu berkendaraan merupakan salah satu nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia.
Setiap umat muslim diwajibkan untuk berdoa terlebih dulu sebelum melakukan berbagai aktivitas. Salah satunya berdoa ketika hendak naik kendaraan. Dari dulu, kendaraan ini sudah dikenal oleh masyarakat, hanya saja kini bentuknya sudah semakin canggih. Intinya, kendaraan adalah peralatan transportasi untuk mempermudah urusan seseorang. Jika dulu kendaraan bisa memanfaatkan hewan ternak, kini sudah berkembang teknologi buatan manusia seperti mobil, bus, pesawat udara, kereta api, becak, delman, andong, dan masih banyak lagi.
Apabila lupa syukur kepada Allah Ta’ala maka akan terjadi yang hanya memiliki sepeda akan terbetik dalam benaknya suatu angan-angan untuk memiliki sepeda motor sebagaimana yang dikendarai oleh kebanyakan orang. Namun, bagi yang telah memiliki sepeda motor, mungkin dia juga berangan-angan untuk memiliki sepeda motor yang lebih bagus atau malah sebuah mobil yang dapat melindunginya dari terik matahari dan hujan, demikian seterusnya.  Allah Ta’ala berfirman

وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (٤١)وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ (٤٢)
“Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam perahu yang penuh muatan, dan Kami ciptakan bagi mereka (angkutan lain) seperti apa yang mereka kendarai.”
(QS. Yasin: 41-42)
Ayat tersebut maksudnya adalah tanda kekuasaan Allah. Namun, di dalamnya juga terdapat tanda yang lain, yaitu rahmat Allah kepada makhluk, serta kenikmatan yang diberikan kepada manusia. Atas kekuasaan Allah Ta’ala, rahmat, dan karunia-Nya bagi kita, yaitu dengan adanya perahu dan alat angkut yang lain  untuk menjelajah menuju ke tempat yang lain, mengangkut manusia, hewan-hewan ternak, dan semua yang bermanfaat untuk kita. Dan Allah Ta’ala menjadikan kendaraan tersebut nyaman untuk dikendarai sebagai nikmat bagi kita semua.

Jumat, 20 September 2019

Tagged under:

Doa Sesudah Makan

ONE DAY ONE DOA

Jumat,   20  September 2019 M / 20  Muharam  1441 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)


الْحَمْدُ لِلهِ  (حَمْدًا)كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا

ALHAMDULILLAHI HAMDAN KATSIIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI GHAIRA MUKFII WALAA MUWADDA’IN WALAA MUSTAGHNA ‘ANHU RABBANAA

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, yang baik, lagi penuh berkah. Tidak ada memberi kecukupan, pemberi simpanan dan pemberi kekayaan atas makanan itu selain Engkau wahai Tuhan kami

Doa tersebut berasal dari hadis berikut

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ ثَوْرٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَفَعَ مَائِدَتَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلهِ  (حَمْدًا)كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا . [رواه البخاري والجماعة]

“… dari Abu Umamah; bahwasanya Nabi saw apabila mengangkat bejananya (selesai makan) beliau mengucapkan: Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, yang baik, lagi penuh berkah. Tidak ada memberi kecukupan, pemberi simpanan dan pemberi kekayaan atas makanan itu selain Engkau wahai Tuhan kami”.

[HR. al-Bukhari dan Jamaah]


حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنْ طَعَامِهِ وَقَالَ مَرَّةً إِذَا رَفَعَ مَائِدَتَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي كَفَانَا وَأَرْوَانَا غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مَكْفُورٍ وَقَالَ مَرَّةً الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّنَا غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى رَبَّنَا. [رواه البخاري]

“….dari Abu Umamah bahwa Nabi saw jika selesai dari makan, sekali waktu dengan lafadz, jika mengangkat lambungnya, beliau mengucapkan: Segala puji hanya milik Allah yang telah memberi kecukupan kami dan menghilangkan rasa haus, bukan nikmat yang tidak dianggap dan tidakdiingkari)', dan sekali waktu beliau mengucapkan;  Segala puji hanya milik Allah  tuhan kami, bukan pujian yang tidak dianggap dan tidak dibutuhkan oleh tuhankami."

[HR. al-Bukhari]

Atau cukup dengan hanya membaca “Alhamdulillah”. Sebagaimana hadis riwayat Muslim dari Anas bin Malikra.:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنْ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا. [رواه مسلم]

“Dari Anas bin Malik berkata; Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah sangat ridha kepada seorang hamba yang makan satu suapan kemudian memuji-Nya dan minum satu teguk air, kemudian ia memuji-Nya”.

[HR. Muslim]

Atau dapat pula dengan membaca doa lain sebagaimana diriwayatkan oleh imam al-Tirmidzi sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ حَدَّثَنِي أَبُو مَرْحُومٍعَنْ سَهْلِبْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍغُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَأَبُو مَرْحُومٍ اسْمُهُ عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ مَيْمُونٍ. [رواه الترميذي]

“Diriwayatkan dari Muadz bin Anas ra., ia berkata; bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Siapa saja yang makan suatu makanan kemudian mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan kepadaku ini dan telah memberiku rezeki tersebut, tanpa usaha dan kekuatan dariku". Orang itu akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

[HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan. Imam at-Tirmidzi menjelaskan bahwa Abu Marhum nama sebenarnya adalah Abdurrahim bin Maimun)]

Hadis yang diriwayatkan oleh imam al-Tirmidzi tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif bacaan doa setelah makan. Sekalipun hadis tersebut tidak termasuk hadis shahih, namun hadis tersebut termasuk hadis hasan sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Tirmidzi, dan hadis hasan termasuk hadis yang maqbul (sunnah maqbulah).
Dalam kontek doa yang berasal dari Rasulullah saw lebih diprioritaskan dan menjadi pilihan utama untuk diamalkan. Doa yang biasa dibaca ketika setelah makan berasal dari hadis dhaif. Berikut penjelasannya. Dalam hadis riwayat Abu Dawud, al-Tirmidzi dan Ibn Majah dari Abu Said al-Khudri jelaskan tentang doa setelah makan sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ الْوَاسِطِيِّ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ رَبَاحٍعَنْ أَبِيهِ أَوْ غَيْرِهِعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنْ طَعَامِهِ قَالَ الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِينَ. [رواه أبوداود]

“… dari Abi Sa’id al-Khudri ra., bahwasanya Nabi saw apabila selesai dari makan, (beliau) mengucapkan; segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami makan dan memberikan kami minum, dan menjadikan kami orang-orang Islam.”

[HR. Abu Dawud]

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا حَفْصُبْنُ غِيَاثٍ وَأَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ حَجَّاجِبْنِ أَرْطَاةَ عَنْ رِيَاحِ بْنِ عَبِيدَةَ قَالَ حَفْصٌ عَنْ ابْنِ أَخِي أَبِي سَعِيدٍو قَالَ أَبُو خَالِدٍعَنْ مَوْلًى لِأَبِيسَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَكَلَ أَوْ شَرِبَ قَالَ الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِينَ. [رواه الترميذي]

“…Adalah Nabi saw apabila beliau makan atau minum, (beliau) mengucapkan; segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami makan dan memberikan kami minum, dan menjadikan kami orang-orang Islam.”

[HR. Tirmidzi]

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُعَنْ حَجَّاجٍ عَنْ رِيَاحِ بْنِ عَبِيدَةَ عَنْ مَوْلًى لِأَبِيسَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَكَلَ طَعَامًا قَالَ الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِينَ. [رواه ابن ماجه]

“…Adalah Nabi saw apabila memakan makanan, (beliau) mengucapkan; segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami makan dan memberikan kami minum, dan menjadikan kami orang-orang Islam.”

[HR. Abu Dawud]

Dalam sanad hadis pertama terdapat rawi yang bernama Isma’il bin abi Rabah yang dikomentari oleh Ali bin al-Madiny dan al-Dzahabi dengan kata saya tidak kenal/ majhul (lâ a’rifuhu, majhûl), dan rawi yang tidak jelas (mubham) identitasnya. Sedangkan dalam sanad hadis kedua terdapat dua orang rawi yang dituduh mudallis (melakukan rekayasa dengan cara menyembunyikan kecacatan hadis dan menggantinya dengan rawi yang kuat), ada rawi yang tidak dikenal (majhûl) dan tidak jelas identitasnya (mubham), serta rawi yang dikomentari dengan kata laisa bihujjah (tidak dapat dijadikan hujjah). Begitu pula dengan sanad hadis ketiga, dalam sanadnya terdapat rawi bernama Abu Khalid al-Ahmar yang dikomentari dengan kalimat laisa bihujjah, rawi bernama Hajjaj dikomentari sebagai rawi yang mudallis, serta ada pula rawi yang samar atau tidak jelas identitasnya (mubham).

Dengan demikian, ketiga hadis tentang doa setelah makan dengan redaksi tersebut di atas seluruhnya termasuk kategori hadis lemah (dha’if) yang bersumber dari sahabat yang sama, serta kedha’ifannya cukup berat (karena ada beberapa rawi yang tidak dikenal identitasnya) sehingga tidak dapat saling menguatkan antara satu dengan lainnya.

Tagged under: ,

Stop Menistakan Ajaran Islam!

Buletin Kaffah, No. 107-20 Muharram 1441 H/20 September 2019 M

Ketakutan sekaligus kebencian terhadap Islam dan ajarannya (islamophobia) tampak makin menguat di Tanah Air belakangan ini. Celakanya, islamophobia tak hanya muncul dari kalangan non-Muslim. Bahkan secara vulgar, islamophobia ditunjukkan oleh sebagian kalangan Muslim sendiri. Islamophobia ini lalu mendorong sebagian kalangan untuk melakukan penistaan terhadap ajaran Islam.

Syariah Islam, misalnya, telah lama dipersoalkan oleh sebagian kalangan Muslim sekular. Salah satunya karena mengancam kebhinekaan. Mereka lalu menunjuk antara lain pada apa yang mereka sebut sebagai perda-perada ‘syariah’.

Khilafah, sebagai bagian dari ajaran Islam, oleh sebagian pihak, termasuk rezim saat ini, juga dituding sebagai ancaman atas negeri ini. Karena itu salah satu ormas pengusung ajaran Khilafah  dibubarkan. Khilafah lalu dianggap sebagai paham terlarang. Disamakan dengan Komunisme dan Leninisme. Belakangan Pemerintah melalui Menkopolhukam Wiranto mengaku akan menggodok aturan yang intinya akan mengkriminalkan individu yang tetap mendakwahkan Khilafah. Di sisi lain, ada salah satu oknum partai sekular yang menyebut ajaran tentang Khilafah sebagai sesat.

Yang terbaru, jihad sebagai salah satu puncak amalan Islam, rencananya akan dihapus oleh Kemenag dari mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Alasannya, kata Kemenag, supaya Islam tidak lagi selalu dikait-kaitkan dengan perang, juga supaya anak-anak didik memiliki toleransi yang tinggi kepada pemeluk agama lain.

Penistaan ajaran Islam ini—karena faktor islamophobia—salah satunya berpangkal pada narasi seputar bahaya radikalisme yang terus disuarakan oleh penguasa dan sejumlah pihak. Narasi ini hanyalah mengekor pada narasi yang telah lama digaungkan oleh Barat. Padahal istilah radikalisme sampai sekarang tidak jelas definisinya. Yang sudah jelas, radikalisme selalu dikaitkan dengan Islam. Tudingan radikal pun senantiasa dialamatkan kepada kaum Muslim, terutama tentu yang berpegang teguh pada Islam dan syariahnya. Tidak aneh, banyak peristiwa seperti pengibaran Bendera Tauhid, ASN yang berjenggot atau fenomena sebagian artis ‘hijrah’ pun dicurigai terpapar radikalisme.

Kemuliaan Syariah

Islam tentu agama yang mulia. Demikian pula syariahnya dan seluruh ajarannya. Kemuliaan Islam antara lain tercermin dalam firman Allah SWT:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Sungguh agama di sisi Allah hanyalah Islam (TQS Ali Imran [3]: 19).

Allah SWT bahkan tidak mengakui agama di luar Islam, sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Siapa saja yang mencari agama selain Islam tidak akan diterima dan di akhirat kelak dia termasuk kaum yang merugi (TQS Ali Imran [3]: 85).

Kemuliaan Islam juga tercermin dalam sabda Nabi saw.:

اَلإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَ لاَ يُعْلَى
Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam (HR ad-Daruquthni). 

Islam tentu terdiri dari akidah dan syariah. Mengamalkan syariah bahkan merupakan  konsekuensi dari iman (akidah Islam). Karena itulah Allah SWT menjuluki siapa saja yang tidak berhukum dengan syariah-Nya dengan sebutan kafir, zalim atau fasik (Lihat: QS al-Maidah [5]: 44, 45, 47). Karena itu pula tidak ada pilihan bagi setiap Muslim kecuali terikat dengan syariah-Nya (QS al-Ahzab [33]: 36).

Keagungan Khilafah

Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H), dalam Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’ (hlm. 88), menyebut sistem pemerintahan Islam adalah Al-Khilâfah, yang diistilahkan pula sebagai Al-Imâmah al-Kubrâ’ (Kepemimpinan Agung). Kepemimpinan ini bukan sembarang kepemimpinan, tetapi pengganti kenabian dalam memelihara urusan agama ini (Islam), dan mengatur urusan dunia dengan Islam. Ini antara lain ditegaskan oleh Imam al-Mawardi (w. 450 H) dalam Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah (1/15), Imam al-Haramain al-Juwaini (w. 478 H) dalam Ghiyâts al-Umam (1/22), Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah (hlm. 97), dll (Lihat: Ad-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhma ‘inda Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah, hlm. 49).

Menegakkan kepemimpinan Islam (Khilafah) adalah wajib. Kewajiban ini telah banyak dinyatakan oleh para ulama. Imam Ibnu Hajar al-Haitami, misalnya, menyatakan, “Sungguh para Sahabat—semoga Allah meridhai mereka—telah sepakat bahwa mengangkat imam (khalifah) setelah zaman kenabian berakhir adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan upaya mengangkat imam/khalifah sebagai kewajiban paling penting. Faktanya, mereka lebih menyibukkan diri dengan kewajiban itu seraya menunda (sementara) kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah saw.” (Al-Haitami, Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, hlm. 7).

Kesepakatan atau Ijmak Sahabat itu, seperti yang ditegaskan oleh Imam al-Ghazali, tidak bisa di-naskh (dihapuskan/dibatalkan) (Al-Ghazali, Al-Mustashfâ, 1/14).

Karena itu Ijmak Sahabat tentang kewajiban mengangkat khalifah atau menegakkan Khilafah tidak bisa dibatalkan oleh kesepakatan orang sesudahnya, termasuk kesepakatan orang zaman sekarang, kalaupun benar ada kesepakatan itu. 

Apalagi faktanya Ijmak Sahabat tentang kewajiban menegakkan Khilafah ini dikuatkan oleh kesepakatan para ulama. Dalam hal ini Imam al-Qurthubi menegaskan, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban tersebut (mengangkat khalifah) di kalangan umat dan para imam mazhab, kecuali pendapat yang diriwayatkan dari al-‘Asham (yang tuli terhadap syariah) dan siapa saja yang berkata dengan pendapatnya serta mengikuti pendapat dan mazhabnya.” (Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 1/264. Lihat pula: An-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, 12/205; Asy-Syaulani, Nayl al-Awthâr, VIII/265; dll).

Keutamaan Jihad

Secara bahasa jihad memang bermakna sungguh-sungguh. Namun, secara syar’i, menurut para ulama mu’tabar, jihad bermakna perang di jalan Allah (Lihat: Ibnu ‘Abidin, Hasyiyah Ibn ‘Abidin, 3/336; Asy-Syirazi, Al-Muhadzzab, 2/227; Ibn Qudamah, Al-Mughni, 10/375; dll). 

Di dalam al-Quran kata jihad (dalam pengertian perang) disebutkan 24 kali (Lihat: Muhammad Husain Haikal, Al-Jihâd wa al-Qitâl, I/12).

Jihad hukumnya wajib. Kewajiban jihad (perang) ini telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam al-Quran di dalam banyak ayatnya (Lihat, misalnya: QS an-Nisa' 4]: 95; QS at-Taubah [9]: 41; 86, 87, 88; QS ash-Shaf [61]: 4; dll).

Karena itu di dalam Kitab Al-Mabsûth dinyatakan:

وَإِذَا قَعَدَ الْكُلُّ عَنْ الْجِهَادِ حَتَّى اسْتَوْلَى الْكُفَّارُ عَلَى بَعْضِ الثُّغُورِ اشْتَرَكَ الْمُسْلِمُونَ فِي الْمَأْثَمِ بِذَلِكَ
Jika seluruh kaum Muslim berdiam diri/tidak melakukan jihad hingga kaum kafir menguasai sebagian wilayah kaum Muslim, mereka sesungguhnya telah sama-sama berdosa (Al-Mabsuth, 34/119).

Selain wajib, jihad adalah amalan yang utama. Tentang keutamaan jihad telah banyak dinyatakan baik di dalam al-Quran ataupun as-Sunnah. Allah SWT, misalnya, berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan seolah-olah mereka seperti bangunan yang kokoh (TQS ash-Shaf [61]: 4).

Rasulullah saw. pun bersabda:

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Siapa saja yang berperang dengan tujuan agar kalimat Allah menjadi tinggi maka ia berada di jalan Allah ‘Azza wa Jalla (HR al-Bukhari).

Karena itu wajar jika Abu Hurairah pernah berkata:

وَ الَّذِيْ نَفْسِ أَبِي هُرَيْرَةَ بِيَدِهِ لَوْلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَ اْلَحّجُ وَ بِرُّ أُمِّي لَأَحْبَبْتُ أَنْ أَمُوْتَ وَ أَنَا مَمْلُوْكٌ
Demi Zat Yang jiwa Abu Hurairah ada di tangannya, andai bukan karena jihad di jalan Allah, haji dan berbuat baik kepada ibuku, aku lebih suka mati dalam keadaan menjadi budak (Tafsîr al-Qurthubi, 5/191, ‘Awn al-Ma’bûd, 11/189, Faydh al-Qadîr, 5/371).

Wajar pula jika Saad bin Abi Waqas ra. pernah berkata, sebagaimana dinukil dalam Kitab Nûrul Yaqîn:
كُنَّا نُعَلِّمُ أَوْلاَدَنَا سِيْرَةَ الرَّسُوْلِ وَ مَغَازِيْهِ كَمَا نُعَلِّمُهُمْ الْقُرْآنَ
Sungguh kami mengajari anak-anak kami Sirah Rasul dan peperangan-peperangan beliau sebagaimana kami mengajari mereka al-Quran.

Faktanya, dalam Sirah Rasulullah saw., sebagaimana bisa dibaca dalam Kitab Ghazwah ar-Rasûl wa Sarayah karya Ibnu Saad, Rasulullah saw. mengirim pasukan tidak kurang dari 62 kali. Bahkan 27 kali perang yang dilakukan oleh kaum Muslim dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. sebagai kepala negara saat itu.

Fakta juga berbicara, justru karena jihadlah Islam unggul dibandingkan dengan umat-umat lain. Kaum Muslim pun tak mudah dihinakan dan ditundukkan oleh bangsa-bangsa kafir. Ini pula yang pernah dibuktikan di Tanah Air. Bangsa Indonesia mampu mengusir Sekutu pada masa lalu. Salah satunya karena dipicu oleh ‘Resolusi Jihad’ yang dikeluarkan di Surabaya pada tahun 1945 oleh pendiri NU, Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy'ari, saat itu.

Khatimah

Alhasil, dengan seluruh kemuliaan Islam dan syariahnya di atas—termasuk khilafah dan jihad—tidak layak seorang Muslim, apalagi pejabat negara yang mengaku Muslim, terus-menerus menistakan apalagi mengkriminalisasi ajaran Islam. Mereka justru harus turut memuliakan serta mengagungkan Islam dan semua ajarannya. Karena itu mulai sekarang: stop menistakan ajaran Islam! []

Hikmah:

Hanzhalah ar-Rabi ra. bertutur:
عَجَبْتُ لِمَا يَخُوْضُ النَّاسُ فِيْهِ - يَرُوْمُوْنَ الْخِلاَفَةَ أَنْ تَزُوْلاَ وَ لَوْ زَالَتْ لَزَالَ الْخَيْرُ عَنْهُمْ – وَ لاَقُوْا بَعْدَهَا ذُلاًّ ذَلِيْلاً و َكَانُوْا كَالْيَهُوْدِ أَوْ النَّصَارَى - سَوَاءً كُلُّهُمْ ضَلُّوْا السَّبِيْلاَ
Aku heran dengan  apa yang menyibukkan orang-orang ini/Mereka berharap Khilafah lenyap/Padahal andai Khilafah lenyap, lenyap pula segala kebaikan dari mereka/Setelah itu mereka akan menjumpai kehinaan yang luar biasa/Mereka seperti kaum Yahudi atau Nasrani/Semuanya sama-sama tersesat jalan.
(Tahdzîb al-Kamâl, 7/441, Al-Kâmil fî at-Târîkh, 2/541, Târîkh ath-Thabari, 3/417). []

Rabu, 18 September 2019

Tagged under:

Doa Lapang Dada

ONE DAY ONE DOA

Rabu,   18  September 2019 M / 18  Muharam  1441 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي  يَفْقَهُوا قَوْلِي

ROBBISROHLI SODRI WA YASSIRLII AMRII WAH LUL UQDATAM MILLISAANII YAFQOHUU QOULII

Musa berkata , “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”.

(QS. Thoha: 25-28)

Problema kehidupan yang datang silih berganti dalam hidup, masalah demi masalah terus berdatangan dan pada akhirnya menyebabkan stres dan kegelisahan yang berkepanjangan. Bila demikian adanya doa tersebut bias dibaca untuk melapangkan dada dan menerangi hati,  cahaya hati  akan redup ketika masalah melilit. Jangan biarkan cahaya hati semakin meredup berilah siraman yang cukup karena sesungguhnya bukan hanya tubuh yang membutuhkan asupan tapi hati juga butuh akan hal-hal yang membangkitkan kebaikan di dalamnya.
Sifat iri bisa kita kalahkan dengan perasaan senang ketika saudara memperoleh  anugerah dari Allah SWT dan sombong bisa kita matikan dengan cara mengingat akan kekurangan diri kita serta menjadikan kelebihan sebagai wujud syukur kita terhadap pemberian Allah SWT dengan cara ini hati  menjadi lapang dan jauh dari rasa gelisah hati. Maka dari itu penting bagi seorang muslim senantiasa mendekatkan diri dengan selalu berdoa terhadapNya agar hati kita terasa tenang. Hati yang gelisah dijadikan alat oleh syetan untuk merapuhkan iman. Sehingga manusia yang hatinya gelisah akan cenderung melakukan hal-hal yang ceroboh. Seseorang yang memiliki dada yang lapang maka akan dimudahkan urusannya. Karena ketika dada lapang pikiranpun akan tenang.
Hati atau dada akan lapang ketika mengingat Allah. Tapi bagi orang yang lalai untuk mengingat Allah maka hatinya akan senatiasa gelisah dan semakin jauh dari Allah. Hal ini merupakan bukti bahwa hanya orang yang beriman yang mengingat Allah yang hatinya akan merasa tentram. Mungkin kita sering melihat seseorang yang dalam kehidupannya terlihat bahagia ternyata hatinya tidak tenang. Hal ini banyak terjadi diantara kita karena kebahagian yang kita dapatkan adalah kebahagian lahiriah. Kebahagiaan lahiriah bersifat semu.
Sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka menyukai sesuatu yang dapat menyenangkan hati dan menentramkan jiwa mereka. Oleh sebab itu, banyak orang yang rela mengorbankan waktunya, memeras otaknya, dan menguras tenaganya, atau bahkan mengeluarkan biaya yang tidak kecil jumlahnya demi meraih apa yang disebut sebagai kepuasan dan ketenangan hati.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :
وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا
Dan tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan kemudahan untuk memaafkan kecuali Allah akan memberinya kemuliaan.
[HR Muslim no. 6535].
Ketika seseorang melatih diri untuk berlapang dada terhadap kesalahan manusia, tidak membalasnya dengan kejelekan. Karena, tidak ada obat yang paling efektif dapat meredam kejahatan (orang lain) melebihi perbuatan yang baik kepadanya.  ‘Aisyah Radhiyallahu anha bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai, Rasulullah! Pernahkah engkau melewati suatu hari yang lebih berat dari peperangan Uhud?”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Aku telah mengalami gangguan dari kaum-mu. Peristiwa yang paling berat kulalui adalah pada hari ‘Aqabah. Aku mendatangi Ibnu ‘Abdil-Lail bin Abdi Kilal, namun ia tidak menyambutku. Aku bergegas pergi dalam keadaan sedih bukan kepalang. Aku baru menyadari ketika telah sampai di daerah Qarnuts-Tsa’âlib. Aku angkat kepalaku, dan tiba-tiba terlihat awan yang menaungiku. Aku amati, dan muncullah Jibril seraya berseru,’Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan dan penolakan kaummu. Dia Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk siap engkau perintah’. Malaikat penunggu gunung pun memanggil dan mengucapkan salam kepadaku, seraya berseru: “Wahai, Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar penolakan kaummu. Dan aku penjaga gunung mendapat titah untuk menerima perintahmu sesuai dengan kehendakmu. Jika engkau mau, maka aku akan benturkan dua gunung ini di atas mereka”.
(Mendengar seruan malaikat ini), beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam justru berkata:
بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ الهَi وَحْدَهُ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Sesungguhnya aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.
[HR Muslim no. 4629].
Nabi Muhammad dalam kasus tersebut sebagai orang yang telah dilapangkan dadanya oleh Allah SWT. (Q. S. 94: 1). Menurut Muhammad Ali al-Shabuni dalam buku tafsirnya Shafwat al-Tafasir, yang dimaksud dengan dilapangkan dadanya ialah bahwa hati Nabi SAW telah dipenuhi dengan iman, diterangi dengan cahaya kebajikan dan kebenaran, serta disucikan dari berbagai kotoran dan dosa-dosa. Di dalam dada yang lapang dan hati yang bersih itulah bersemayam iman dan takwa. ''Tempat takwa itu di sini!'' sabda Nabi Muhammad SAW, sambil menunjuk ke dadanya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Beliau lalu bersabda:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Saat ini akan muncul kepada kalian seorang laki-laki dari kalangan penghuni surga.”
Tiba-tiba muncul seorang laki-laki dari kalangan sahabat Anshar, jenggotnya masih meneteskan bekas air wudhu, sedang tangan kirinya memegang kedua sandalnya.
Keesokan harinya, saat kami sedang duduk-duduk bersama bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, beliau kembali bersabda:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Saat ini akan muncul kepada kalian seorang laki-laki dari kalangan penghuni surga.”
Tak berapa lama kemudian, laki-laki Anshar yang sama kembali muncul di hadapan kami.
Keesokan harinya, saat kami sedang duduk-duduk bersama bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, beliau kembali bersabda:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Saat ini akan muncul kepada kalian seorang laki-laki dari kalangan penghuni surga.”
Tak berapa lama kemudian, laki-laki Anshar yang sama kembali muncul di hadapan kami.
dari kalangan sahabat Anshar, jenggotnya masih meneteskan bekas air wudhu, sedang tangan kirinya memegang kedua sandalnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam kemudian berdiri dan kami pun bubar. Pada saat itulah Abdullah bin Amru bin Ash mengikuti laki-laki Anshar yang tiga kali muncul di hadapan kami setelah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam.
“Saya sedang terlibat cek-cok dengan ayah saya. Saya telah bersumpah tidak akan masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika Anda berkenan, saya ingin menginap di rumah Anda selama tiga hari ini.” Kata Abdullah bin Amru, mencari-cari alasan untuk bisa menginap di rumah sahabat Anshar tersebut.
“Ya, silahkan.” Jawab sahabat Anshar tersebut.
Anas bin Malik berkata: “Abdullah bin Amru bin Ash telah menceritakan bahwa ia telah menginap di rumah sahabat Anshar tersebut selama tiga malam. Selama itu, Abdullah bin Amru tidak pernah melihatnya sedikit pun melakukan shalat malam. Jika ia terbangun di waktu malam, ia hanya membolak-balikkan badannya di atas ranjangnya, berdzikir dan bertakbir, kemudian tidur kembali. Ia baru bangun kembali jika waktunya melaksanakan shalat Subuh.”
Abdullah bin Amru berkata, “Hanya saja aku tidak pernah berbicara kecuali hal-hal yang baik. Tiga malam telah berlalu dan aku hampir saja menganggap remeh amal perbuatannya. Maka aku pun menceritakan kepadanya tujuanku.
“Wahai Abdullah (hamba Allah), sebenarnya antara aku dan bapakku tidak ada kemarahan, juga tidak ada hal yang mengharuskanku meninggalkannya. Namun aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda sebanyak tiga kali tentang dirimu:
يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Saat ini akan muncul kepada kalian seorang laki-laki dari kalangan penghuni surga.”
Maka engkau muncul sebanyak tiga kali. Oleh karena itu aku ingin tidur di rumahmu agar aku bisa melihat amal perbuatanmu, sehingga aku bisa meneladaninya. Namun aku tidak melihatmu melakukan banyak amal kebajikan. Jika begitu, amalan apa yang menyampaikanmu kepada kedudukan yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam tersebut?”
Laki-laki Anshar itu menjawab, “Amal kebaikanku hanyalah amal yang telah engkau lihat. Hanya itu amalku.”
Abdullah bin Amru berkata: “Ketika aku hendak berjalan pulang, tiba-tiba laki-laki Anshar itu memanggilku kembali dan berkata:
مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ
“Amalku hanyalah amal yang telah engkau lihat. Namun di dalam jiwaku sama sekali tidak pernah terbetik rasa ghisy (tidak tulus) terhadap seorang muslim pun, dan aku juga tidak pernah iri kepada seorang pun atas sebuah nikmat yang Allah karuniakan kepadanya.”
Mendengar penuturan tersebut, Abdullah bin Amru berkataku:
هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ
“Inilah sebenarnya amalan yang telah mengantarkanmu kepada kedudukan tersebut. Dan justru inilah amalan yang kami belum sanggup melakukannya.”
(HR. Ahmad no. 12697, Abdur Razzaq no. 20559, Al-Bazzar no. 1981, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 6605, Syu’aib Al-Arnauth berkata: Sanadnya shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim)
Orang yang bersih hati dan lapang dada, seperti dikemukakan di atas, tak lain adalah orang-orang yang mampu menekan secara maksimal kecenderungan-kecenderungan buruk yang ada dalam dirinya, seperti rasa benci, dengki, dan iri hati, Sebaliknya, ia mampu dan berhasil mengembangkan potensi-potensi baik menjadi perilaku nyata mewujud dalam bentuk akhlaq al-karimah.

Jumat, 13 September 2019

Tagged under: ,

Waspadai Upaya Jahat Menghalalkan Zina

Buletin Kaffah No. 106, 13 Muharram 1441 H/13 September 2019 M

Zina adalah tindak kejahatan (jarimah) menurut syariah. Dasarnya antara lain adalah firman Allah SWT:

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً
Janganlah kalian mendekati zina. Sungguh zina itu tindakan keji dan jalan yang buruk (TQS al-Isra’ [17]: 32).

Zina adalah dosa besar setelah syirik. Nabi saw. bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ بَعْدَ الشِّرْكِ أعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ نُطْفَةٍ وَضَعَهَا رَجُلٌ فِي رَحِمٍ لاَ يَحِلُّ لَهُ
Tidak ada dosa yang lebih besar di sisi Allah, setelah syirik, kecuali dosa seorang lelaki yang menumpahkan spermanya dalam rahim wanita yang tidak halal bagi dirinya (HR Ibnu Abi ad-Dunya’).
 

Karena itu keharaman zina telah disepakati oleh para ulama berdasarkan dalil-dalil yang qath’i (tegas). Tak ada khilafiyah di dalamnya.

Upaya Jahat Menghalalkan Zina

Meski demikian, ada saja orang yang menolak keharaman zina. Mereka adalah kaum sekular-liberal. Berkedok karya ilmiah, mereka berani menghalalkan zina.

Baru-baru ini Abdul Aziz, seorang mahasiswa pasca sarjana UIN Yogyakarta, dengan merujuk pada pemikiran tokoh liberal asal Suriah, Muhammad Syahrur, berupaya menghalalkan hubungan intim nonmarital (di luar nikah) alias zina di dalam disertasinya. Ironisnya, disertasinya lalu diganjar predikat ‘sangat memuaskan’ oleh para dosen pengujinya. Padahal isinya terang-terangan menyerukan legalisasi dan perlindungan terhadap perzinaan.

Sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa hubungan intim di luar nikah alias zina coba dilegalkan. Pertama, untuk mencegah kriminalisasi terhadap hubungan intim nonmarital (di luar nikah) konsensual. Pasalnya, menurut mereka, al-Quran tidak menjelaskan makna kata “zina”. Selain itu, kata mereka, banyak hubungan intim nonmarital yang dilakukan berdasarkan kesepakatan dan dilakukan di tempat tertutup, seperti samen laven (kumpul kebo/al-musakanah), atau di kamar hotel bersama pelacur. Yang demikian, kata mereka, tidak patut dikatakan sebagai bentuk zina dan dinyatakan sebagai kejahatan.

Kedua, di dalam Islam, kata mereka, sebenarnya telah ada payung hukum yang menghalalkan hubungan intim nonmarital, yakni hubungan intim antara majikan dan budak/sahaya perempuan (milkul yamin). Jika dulu status perempuan selain istri itu adalah hamba sahaya, dalam konteks kekinian ‘milkul yamin’ itu bisa diterapkan pada pasangan seksual di luar nikah, seperti teman kencan, PSK, pasangan kumpul kebo dan siapa saja yang dijadikan mitra hubungan seksual di luar nikah. Syaratnya: tidak ada unsur paksaan, tak ada penipuan, bukan dengan pasangan orang lain, serta dilakukan di tempat tertutup.

Dusta dan Sesat!

Jelas dusta besar jika dikatakan syariah Islam tidak memberikan penjelasan yang jernih mengenai pengertian zina. Meski al-Quran tidak merinci arti zina, para ulama menjelaskan makna zina dengan detil. Mazhab Syafii, misalnya, memberikan pengertian zina sebagai berikut:

إِيلاَجُ حَشَفَةٍ أَوْ قَدْرِهَا فِي فَرْجٍ مُحَرَّمٍ لِعَيْنِهِ مُشْتَهًى طَبْعًا بِلاَ شُبْهَةٍ
Masuknya ujung kemaluan laki-laki meskipun sebagiannya ke dalam kemaluan wanita yang haram dalam keadaan syahwat yang alami tanpa syubhat (Lihat: Hasyiah al-Jamal, kitab “Az-Zina”, 21/80, Maktabah Syamilah).

Secara umum zina adalah hubungan seks antara pria dan wanita yang tidak diikat oleh ikatan pernikahan. Perbuatan itu dilakukan dengan sukarela, bukan pemaksaan alias bukan tindak pemerkosaan.

Karena itu sesat lagi menyesatkan bila dikatakan hubungan seks yang dilakukan atas dasar kerelaan dan tidak dilakukan di tempat terbuka tidak masuk kategori perzinaan, seperti kumpul kebo maupun prostitusi. Jelas ini pernyataan yang melecehkan hukum Allah SWT.

Padahal jelas, Nabi saw. pernah menghukum Maiz Ibnu Malik yang mengaku berzina dengan seorang budak perempuan milik Hazzal. Beliau juga menghukum seorang perempuan bernama al-Ghamidiyah yang juga mengaku berbuat zina. Padahal perbuatan mereka itu dilakukan atas dasar suka sama suka dan bukan di tempat umum. Nabi saw. menjatuhkan had (sanksi) rajam baik kepada Maiz maupun kepada al-Ghamidiyah.

Keharaman zina telah nyata dijelaskan baik dalam Kitabullah maupun Sunnah Rasulullah saw. Di antaranya dalam QS al-Isra’ (17) ayat 32 sebagaimana dinukil di atas.

Keharaman zina juga dipertegas dengan adanya had/sanksi bagi pelakunya (Lihat: QS an-Nur [24]: 2).

Pandangan bahwa status milkul yamin dalam konteks kekinian terwujud sebagai mitra hubungan seksual adalah penipuan yang amat kotor. Fakta milkul yamin yang sahih sebagaimana penjelasan para fuqaha bukanlah demikian. Milkul yamin adalah hamba sahaya yang dikuasai majikannya dan berada dalam tanggung jawabnya sehingga wajib untuk dijaga dan dinafkahi layaknya keluarga. Nabi saw. bersabda:

لِلْمَمْلُوكِ طَعَامُهُ وَكِسْوَتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ يُكَلَّفُ مِنَ الْعَمَلِ مَا لاَ يُطِيقُ
Hamba sahaya memiliki hak atas makanan dan pakaiannya secara makruf serta tidak dibebani dengan pekerjaan yang tak sanggup dia kerjakan (HR al-Baihaqi).

Jadi milkul yamin bukanlah pasangan kumpul kebo, apalagi disamakan dengan pelacur.

Saat Islam datang, perbudakan telah ada, termasuk pada sahaya perempuan yang disebut milkul yamin. Islam datang untuk menata hukum perbudakan sehingga menjadi lebih beradab.  Selain diizinkan menggauli sahaya perempuan, syariah Islam mewajibkan para majikan untuk menanggung nafkah hamba sahaya mereka Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ
Orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, sungguh mereka dalam hal ini tiada terceIa (TQS al-Mu’minun [23]: 5-6).

Syaikh As-Sa’di menjelaskan maksud “milkul yamin” dalam ayat di atas, yaitu budak perempuan yang dimiliki.

Karena itu tafsir hermeneutika yang digunakan Muhammad Syahrur dengan meluaskan makna milkul yamin sebagai mitra hubungan seksual, termasuk pelacur, sama sekali tidak berdasar dan merupakan penyimpangan. Kepada mereka patut disampaikan Hadis Nabi saw.:

مَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Siapa saja yang berkata tentang al-Quran tanpa ilmu maka siapkanlah tempat duduknya di neraka (HR  at-Tirmidzi).

Juga sabda beliau:

مَنْ قَالَ فِى كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ
Siapa saja yang berkata tentang al-Quran sebatas dengan akalnya, lalu kebetulan ia benar, maka ia tetap salah (HR Abu Dawud).

Liberalisme Merusak Umat

Dalam masyarakat sekular-liberal kebebasan seksual (hurriyatul jinsiyyah) adalah salah satu prinsip hidup yang menurut mereka wajib untuk dipertahankan dan dikampanyekan di bawah payung hukum/undang-undang demokrasi. Mereka paham bahwa satu-satunya penghalang atas gagasan kebebasan seksual mereka hanyalah ajaran Islam yang mulia. Karena itu mereka berusaha memelintir makna banyak ayat al-Quran. Salah satunya tentang keharaman zina. Metode yang mereka gunakan dalam menafsirkan ayat adalah hermeneutika, yakni metode penafsiran teks ala filsafat Barat. Dengan hermeneutika, teks-teks al-Quran kemudian ditafsirkan semata-mata dengan akal dan hawa nafsu mereka. Melalui pendekatan ini, al-Quran, misalnya, harus ditafsirkan  mengikuti perkembangan zaman. Ketika kini perselingkuhan meruyak, hubungan intim nonmarital (perzinaan) menjamur, pelacuran merebak, maka seharusnya ayat-ayat al-Quran tidak kaku mengikuti awal kemunculannya. Ia harus fleksibel. Harus ditafsirkan mengikuti konteks kekinian. Karena itu perzinaan harus diterima sebagai keniscayaan. Ayat-ayat al-Quran tentang hukum perzinaan harus ditafsir ulang agar cocok dengan zaman.

Inilah pemikiran sesat kaum liberal. Pemikiran sesat ini bisa menyeret pelakunya ke dalam dosa besar, bahkan murtad, jika tidak segera bertobat. Pasalnya, di antara perkara yang dapat membatalkan keimanan seseorang adalah menghalalkan yang haram atau sebaliknya (Lihat:  QS an-Nahl [16]: 116).

Muhammad bin Ismail ar-Rasyid menyebutkan beberapa perbuatan penyebab kekufuran. Di antara yang beliau sebutkan: “Siapa yang mengingkari keharaman perbuatan yang disepakati haram, atau ragu mengharamkan sesuatu yang disepakati haram—seperti khamr, zina, homo atau riba, atau dia meyakini bahwa dosa besar atau kecil itu halal maka dia kafir.” (Tahdzib Risalah al-Badr ar-Rasyid, hlm. 45).

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni juga menyatakan: “Siapa saja yang meyakini kehalalan sesuatu yang telah disepakati keharamannya, dan jelas hukumnya di tengah kaum Muslim, serta tidak ada syubhat di dalam nas yang tercantum di dalamnya seperti keharaman daging babi dan zina, dan yang semisal hal itu yang tak ada perselisihan di dalamnya, orang itu telah kufur.”

Alhasil, jelas Islam telah dirusak oleh kaum liberal dengan berkedok karya ilmiah, berstatus kaum intelektual, tetapi mati nuraninya, dan berniat busuk untuk merusak kehidupan masyarakat.

Ketiadaan syariah Islam yang melindungi umat membuat musuh-musuh Islam mudah melancarkan tikaman beracun dalam wujud pemikiran rusak untuk menjatuhkan umat. Karena itu kembali pada Islam sebagaimana yang diajarkan salafush-shalih akan melindungi umat Islam dan memuliakan umat manusia secara keseluruhan. WalLahu a’lam. []

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:
مَا ظَهَرَ فِي قَوْمٍ الزِّنَا وَالرِّبَا إِلا أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عِقَابَ اللَّهِ
Tidaklah merebak pada suatu kaum zina dan riba, melainkan mereka telah menghalalkan untuk diri mereka siksa Allah.
(HR Abu Ya’la). []

Kamis, 12 September 2019

Tagged under:

Doa Tetap dalam Hidayah

ONE DAY ONE DOA
Kamis,   12  September 2019 M / 12  Muharam  1441 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

RABBANA LAA TUZIGH QULUUBANAA BA’DA IDZ HADAITANAA WAHABLANAA MIN LADUBKA RAHMATAN INNAKA ANTALWAHAB.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi karunia.”

(QS. Ali-‘Imran : 8)

Islam yang bersumber dari al-quran dan as-Sunah adalah jalan kebenaran dan keselamatan hidup. Dan setiap muslim diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla untuk selalu berpegang teguh pada keduanya agar jalan hidupnya terarah menuju hidayah-Nya. Orang yang tidak mendapatkan hidayah Allah ‘Azza wa Jalla akan tersesat jalan hidupnya. Sebaliknya, orang yang dimudahkan Allah ‘Azza wa Jalla untuk memahami Islam, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan para hamba-Nya untuk senantiasa memperbanyak  permohonan  mendapat hidayah hingga dalam sehari minimal 17 kali meminta hidayah dalam al fatihah dan sepuluh kali dalam duduk diantara dua sujud.

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

IHDINASHSHIROOTHOL MUSTAQIIM

“Tunjukkanlah kami jalan lurus (yaitu, Kitab dan Sunnah).”
(QS. Al-Fatihah : 6)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

اَلْهِدَايَةُ هِيَ الْعِلْمُ بِالْحَقِّ مَعَ قَصْدِهِ وَإِيْثَارِهِ عَلَى غَيْرِهِ، فَالْمُهْتَدِيْ هُوَ الْعَامِلُ بِالْحَقِّ الْمُرِيْدُ لَهُ

Hidayah yaitu mengetahui kebenaran disertai dengan niat untuk mengetahuinya dan mengutamakannya dari pada yang lainnya. Jadi orang yang diberi hidayah yaitu yang melakukan kebenaran dan menginginkannya.
Hadis berikut menganjurkan kita untuk berdoa mendapat hidayah dan selalu berada di jalan kebenaran

وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : قُلْ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي ، وَسَدِّدْنِي
وَفِي رِوَايَةٍ : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Ucapkanlah: ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII (artinya: Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran).”
Dalam riwayat lain disebutkan, “ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD (artinya: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran).”
[HR. Muslim, no. 2725]

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa meminta hidayah (as-alukal huda) di sini adalah hidayah berupa petunjuk dan bimbingan, berarti berupa pengajaran. Sedangkan meminta as-sadaad adalah meminta istiqamah dan pertengahan dalam berbagai urusan. Maksudnya kita meminta kepada Allah agar diberi taufik senantiasa berada dalam kebenaran untuk setiap perkara. Orang yang berdoa hendaklah semangat meminta kepada Allah hidayah dan istiqamah, yaitu istiqamah dalam beramal dengan ikhlas dan sesuai tuntunan.

Intinya doa ini berisi permintaan yang sangat penting yang dengan keduanya bila diperoleh akan mendapatkan keburuntungan dan kebahagiaan, yaitu yang diminta dalam doa adalah al-huda (hidayah petunjuk) dan as-sadaad (istiqamah di atas kebenaran). Meminta kepada Allah petunjuk berarti kita meminta agar diberi petunjuk kebenaran secara global dan terperinci, juga diberi taufik, yaitu kemampuan dan kekuatan untuk mengikuti kebenaran tersebut secara lahir dan batin.

Adapun meminta kepada Allah as-sadaad berarti meminta kepada Allah taufik dan istiqamah dalam segala perkara, agar terus berada dalam kebenaran. Jalan istiqamah ini dalam perkataan, perbuatan, dan i’tiqod (keyakinan). Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْۗوَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71). Bagi yang memperoleh as-sadaad akan mendapatkan dua faedah yaitu, amalan akan diperbaiki (shalahul a’mal) dan dosa-dosa akan diampuni (maghfirotudz dzunuub).

Dari Abu Burdah bin Abu Musa, bahwa ‘Ali berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَلِ اللهَ تَعَالَى الْهُدَى، وَالسَّدَادَ ، وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَاذْكُرْ بِالسَّدَادِ تَسْدِيدَكَ السَّهْمَ

“Mintalah kepada Allah hidayah (petunjuk) dan istiqamah di atas kebenaran. Sebutlah al-huda (petunjuk), maka engkau akan mendapatkan hidayah petunjuk. Sebutlah as-sadaad, maka arah panahmu akan lurus sampai tujuan.”

(HR. Ahmad, 2:91; Al-Hakim, 4:268; Al-Bazar, 2:119. Hadits shahih ini dalam Shahih Al-Jami’, no. 3046)

Doa dalam hadits di atas bisa dirangkai menjadi:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي ، وَسَدِّدْنِي,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ

ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII. ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD.

“Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran.”

Doa-doa berikut  adalah doa untuk mohon hidayah dan taufik  dari al-Qur’an dan as-sunnah
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ
YAA MUQOLIBUL QULUUBI, TSABBIT QOLBII  A’LA DIINIK

Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.
HR. At-Tirmidzi no.  3522

اللَّهُمَّ ثَبِّتْنِيْ وَاْجَعْلِنْي هَادِيًا مَهْدِيًّا
ALLOHUMMA TSABBITNII WAJ’ALNII HAADIYAH MAHDIYYAN

Ya Allâh, teguhkanlah diriku, jadikanlah diriku pemberi petunjuk dan diberi petunjuk (oleh-Mu).

HR. Al-Bukhâri no. 6333

اللَّهُمَّ اهْدِنِيْ وَسَدِّدْنِيْ ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ

ALLOHUMMAHDINII WASADIDNII, ALLOHUMMA INNII ASALUKAL HUDYA WASSADAAD
Ya Allâh, berilah petunjuk kepadaku dan luruskanlah diriku. Ya Allâh, aku memohon petunjuk dan kelurusan kepada-Mu.

HR. Muslim no. 2725

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

ALLOHUMMA INNII ASALUKAL HUDA WATTAKWA WALA’FAAF WAL GHINA

Ya Allâh, sesungguhnya aku memohon petunjuk, ketakwaan, kesucian (dijauhkan dari hal-hal yang tidak halal/baik), dan kecukupan.
HR. Muslim no. 2721

Doa berikut disamping dibaca sebagai bacaan iftitah di shalat tahajud, juga dibaca sebagai jenis doa untuk memohon hidayah.

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ، اِهْدِنِيْ لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِيْ مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

ALLAAHUMMA RABBA JIBROO-IIL, WA MIIKAA-IIL, WA ISROOFIIL. FAATHIROS-SAMAAWAATI WAL ARDH. 'AALIMAL GHOIBI WASY-SYAHAADATI. ANTA TAHKUMU BAINA 'IBAADIKA FIIMAA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN.  IHDINII LIMAKHTULIFA FIIHI MINAL HAQQI BI-IDZNIK. INNAKA TAHDII MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTIM-MUSTAQIIM.

Ya Allâh, Rabb Jibrîl, Mikâ-îl, dan Israfîl. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb Yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau memutuskan hukum di antara hamba-hamba-Mu tentang apa-apa yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran (yaitu, tetapkan aku di atas kebenaran) dari apa yang dipertentangkan dengan seizin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki.”

HR. Muslim no. 770 (200, Abu Dawud no. 767, dan Ibnu Mâjah no. 1357.

Rabu, 11 September 2019

Tagged under:

Doa Masuk Rumah

ONE DAY ONE DOA
Rabu,  11  September 2019 M / 11  Muharam  1441 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)

حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْفٍ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيل ، قَالَ : حَدَّثَنِي أَبِي ، قَالَ ابْنُ عَوْفٍ وَرَأَيْتُ فِي أَصْلِ إِسْمَاعِيل ، قَالَ : حَدَّثَنِي ضَمْضَمٌ ، عَنْ شُرَيْحٍ ، عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِذَا وَلَجَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ ، فَلْيَقُلْ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَوْلَجِ وَخَيْرَ الْمَخْرَجِ ، بِسْمِ اللَّهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللَّهِ خَرَجْنَا وَعَلَى اللَّهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا ، ثُمَّ لِيُسَلِّمْ عَلَى أَهْلِهِ “
Ibnu ‘Auf menyampaikan hadits kepada kami, Muhammad bin Isma’il menyampaikan hadits kepada kami, ia berkata: ayahku (Isma’il) menyampaikan hadits kepadaku, dan aku juga melihat dalam kitab-nya Isma’il, ia berkata: Dhamdham menyampaikan hadits kepadaku, dari Syuraih, dari Abu Malik Al Asyja’i, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “jika seseorang masuk ke rumahnya, hendaknya ia mengucapkan: ALLAHUMMA INNI ASALUKA KHAYRA MAULAJI, WA KHAYRAL MAKHRAJI, BISMILLAHI WALAJNA, WA BISMILLAHI KHRAJNA, WA ‘ALALLAHI RABBANA TAWAKKALNA (Ya Allah aku memohon kepadamu sebaik-baik tempat masuk dan sebaik-baik tempat keluar. Dengan nama Allah, kami masuk, Dan dengan nama Allah kami keluar. Dan kepada Allah juga lah, wahai Rabb kami, kami bertawakkal). Lalu baru setelah itu mengucapkan salam kepada penghuninya”

Dikeluarkan Abu Daud dalam Sunan-nya  (5096). Hadis ini hasan sebagaimana diisyaratkan oleh Abu Daud ketika mengeluarkan hadits ini tanpa mengomentarinya, juga dihasankan oleh Syaikh Ibnu Baz dalam Hasyiyah Bulughul Maram (771), dan qaul qadim dari Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami (839). Namun Syaikh Al Albani dalam takhrij-nya terhadap Al Misykah (2378) mengatakan: “hadits ini shahih sanadnya andaikan tidak ada inqitha‘”. Beliau juga dalam takhrij-nya terhadap Kalimut Thayyib (62) mengatakan: “hadits ini munqathi’”.

Dalam hadits riwayat Muslim di tuntunkan bahwa bila seseorang masuk kerumahnya, maka hendaklah menyebut nama Allah (mengucapkan salam dan basmalah) ketika masuk  dan ketika makannya, maka syetan berkata kepada sahabatnya : Tidak ada tempat menginap dan tidak ada makan malam  untukmu. Dengan mengucapkan salam dan basmalah telah membentengi rumah dari gangguan syetan. Ketika  seseorang itu sigap dan senantiasa zikir kepada Allah dalam kondisinya secara umum, maka syetan tidak akan mampu menggoda bahkan dia akan berputus asa darinya.

عَنْ جَابِر ر ض قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللهَ تَعَالَى عِنْدَ دُخُوْلِهِ وَعِنْدَ طَعَامِه فَقَالَ الشَّيْطَانُ (لأصْحَابِهِ) : لاَ مَبِيْتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ. ِوَ إِذَا دَخَلَ  فَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ تَعَالَى عِنْدَ دُخُوْلِه, قَالَ الشَّيْطَانُ : اَدْرَكْتُمُ المَبِيْتَ. وَ إِذَا  لَمْ يَذْكُرِ اللهَ تَعَالَى عِنْدَ طَعَامِهِ, قَالَ   : اَدْرَكْتُمُ المَبِيْتَ وَالعَشَاءَ.   = رَوَاه مُسْلِم =

 
Artinya : Dari Jabir semoga Allah meridhainya  dia berkata : Saya mendengar  Rasulullah saw bersabda: Apabila seseorang masuk kerumahnya, maka dia menyebut nama Allah (mengucapkan salam dan basmalah) ketika masuk  dan ketika makannya, maka syetan berkata kepada sahabatnya : Tidak ada tempat menginap dan tidak ada makan malam  untukmu. Tetapi apabila dia masuk rumah dan tidak menyebut nama Allah (tidak mengucapkan salam) ketika masuknya, maka syetan berkata : Kamu dapat tempat menginap (malam ini). Dan bila dia tidak menyebut nama Allah (basmalah) ketika makannya, maka syetan berkata : Kamu dapat tempat menginap dan makan malam. (HR. Muslim no. 2018).

Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padanya,

يَا بُنَىَّ إِذَا دَخَلْتَ عَلَى أَهْلِكَ فَسَلِّمْ يَكُونُ بَرَكَةً عَلَيْكَ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِكَ

“Wahai anakku, jika engkau memasuki rumah dan menemui keluargamu, ucapkanlah salam biar datang berkah padamu dan juga pada keluargamu.” (HR. Tirmidzi no. 2698. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if. Namun Syaikh Al Albani merujuk pendapatnya dan menshahihkan hadits ini dalam Shohih Al Kalim 47).

Juga terdapat perintah dalam ayat Al Qur’an,

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (QS. An Nur: 61).

Jika diberi salam, maka hendaklah dibalas sebagaimana perintah Allah,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An Nisa’: 86).