image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Minggu, 26 Mei 2019

Tagged under: ,

Meraih Keutamaan Lailatul Qadar

Buletin Kaffah No. 092, 19 Ramadhan 1440 H – 24 Mei 2019

Tak terasa, kita sedang menuju sepertiga malam terakhir Ramadhan. Menurut riwayat yang paling kuat, di sepertiga malam terakhir Ramadhanlah terjadi Lailatul Qadar. Sebuah malam yang utama, yang keutamaannya lebih baik dari seribu bulan. Itulah yang Allah SWT tegaskan:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Taukah kamu, apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu adalah (malam yang) lebih baik dari seribu bulan (TQS al-Qadar [97]: 2-3). 

Menurut Mujahid, hal itu bermakna bahwa menghidupkan Lailatul Qadar dan beramal di dalamnya adalah lebih baik dari menghidupkan seribu bulan. Dengan kata lain, pahala menghidupkan Lailatul Qadar lebih baik dari pahala beribadah selama kira-kira 83 tahun 3 bulan (Ibnu al-Jauzi, At-Tadzkirah f al-Wa’izh, 1/218).

Tentang keutamaan menghidupkan Lailatul Qadar, Rasulullah saw. bersabda:

وَ مَنْ قَامَ لَيْلَة الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Siapa saja yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan kepada Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR al-Bukhari dan Muslim).

Begitu besar keutamaan menghidupkan Lailatul Qadar, Imam Syafii berkomentar, “Siapa saja yang meninggalkan shalat pada (malam) Lailatul Qadar maka ia wajib mengantinya dengan menunaikan shalat yang sama selama seribu bulan sebagai qiyas atas keutamaan malam tersebut.” (Muhammad Uwaidhah, Fashl al-Khithâb fi az-Zuhd wa ar-Raq’iq wa al-Adab, 1/1007).

Begitu besarnya keutamaan Lailatul Qadar, Allah SWT merahasiakan keberadaan malam tersebut. Meski demikian, Rasul saw. memberikan petunjuk bahwa Lailatul Qadar terjadi di sepuluh malam terakhir Ramadhan:

تَحَرُّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Carilah oleh kalian Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan (HR al-Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadis ini, pendapat yang sahih menjelaskan bahwa Lailatul Qadar terjadi di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Yang paling diharapkan, Lailatul Qadar terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Yang paling benar-benar diharapkan, Lailatul Qadar terjadi pada malam ke-27 Ramadhan (Muhammad Uwaidhah, Fashl al-Khithâb fi az-Zuhd wa ar-Raqa’iq wa al-Adab, 3/385).

Pertanyaannya: Mengapa Allah SWT merahasiakan keberadaan Lailatul Qadar? Menurut Imam an-Nasafi, “Allah SWT merahasiakan keberadaan Lailatul Qadar agar kaum Muslim bersungguh-sungguh (beribadah) di seluruh malam Ramadhan.” (Lihat: Ibnu Abdussalam ash-Shafuri, Najhah al-Majâlis wa al-Muntakhab an-Nafâ’is, 1/162).

Senada dengan itu, menurut Imam al-Ghazali, maksud Allah SWT menyembunyikan keberadaan Lailatul Qadar boleh jadi agar manusia melipatgandakan kesungguhannya dalam mencari malam tersebut (Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Din, 3/121).

Namun demikian, kita layak meneladani para salafush-shalih. Bagi mereka, kesungguhan dalam beribadah tak hanya khusus pada (malam) Lailatul Qadar, juga tak khusus pada Bulan Ramadhan saja. Akan tetapi, mereka senantiasa bersungguh-sungguh beribadah setiap malam sepanjang usia kehidupan mereka. Pasalnya, sebagaimana kata Syaikh Abul ‘Abbas:

أَوْقَاتُنَا كُلُّهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ أَيْ عِبَادَتُنَا كُلُّهَا مُضَاعَفَةٌ
“Seluruh waktu kami adalah ‘Lailatul Qadar’. Artinya, ibadah kami setiap waktu senantiasa berlipat ganda.” (Abul ‘Abbas, Iqâzh al-Himam Syarh Matan al-Hikam, 1/62).

Ada juga ulama yang menyatakan:

كُلُّ لَيْلَةٍ لِلْعَارِفِ بِمَنْزِلَةِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Bagi seorang ‘arif (orang yang mengenal Allah SWT, red.), setiap malam kedudukannya sama dengan Lailatul Qadar.” (Abu Thalib al-Makki, Qût al-Qulûb, 1/119).

Artinya, ibadah mereka setiap malam senantiasa berlipat ganda sebagaimana ibadah mereka pada (malam) Lailatul Qadar.

Adakah yang Lebih Utama dari Lailatul Qadar?

Dengan merenungkan betapa besarnya keutamaan menghidupkan Lailatul Qadar, sudah sepantasnya setiap Muslim berhasrat dan bersungguh-sungguh
meraih keutamaan tersebut. Sebab, dengan keutamaan yang lebih baik dari seribu bulan atau sekitar 83 tahun—melampaui rata-rata usia manusia akhir zaman—tentu sangat disayangkan jika sampai hal ini disia-siakan. Apalagi keutamaan Lailatul Qadar tidak datang setiap hari.

Sewajarnyalah kaum Muslim bersungguh-sungguh beribadah selama Ramadhan, khususnya di sepertiga malam terakhir Ramadhan, di antaranya dengan banyak beritikaf di masjid, semata-mata sangat berharap meraih keutamaan Lailatul Qadar.

Namun demikian, Lailatul Qadar bukanlah satu-satunya keutamaan yang Allah SWT berikan kepada kaum Muslim. Banyak keutamaan lain yang Allah SWT berikan kepada para hamba-Nya. Salah satunya bahkan melebihi keutamaan menghidupkan Lailatul Qadar. Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadis sahih:

مَوْقِفُ سَاعَةً فِي سَبِيْلِ اللهِ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ عِنْدَ الْحَجَرْ الْأَسْوَدِ
Berjaga-jaga satu jam saja di medan jihad fi sabilillah adalah lebih baik daripada menghidupkan Lailatul Qadar di dekat Hajar Aswad (HR Ibn Hibban dan al-Baihaqi).

Bayangkan, menghidupkan Lailatul Qadar—yang lebih baik dari seribu bulan—adalah amalan utama. Apalagi dilakukan di tempat yang utama. Di dekat Hajar Aswad. Namun demikian amalan utama tersebut bisa ‘dikalahkan’ oleh amalan jihad di jalan Allah SWT meski sekadar berjaga-jaga cuma sebentar saja.

Rasulullah saw. pun bersabda dalam hadis sahih lainnya:

أَلاَّ أُنَبِّئُكُمْ لَيْلَةً أَفْضَل مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ حَارِسٌ حَرَسَ فِي أَرْضِ خَوْفٍ لَعَلَّهُ أَنْ لَا يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ
Tidakkah kalian mau aku beritahu suatu malam yang lebih utama dari Lailatul Qadar? (Yaitu) seseorang yang berjaga-jaga di suatu medan yang menakutkan (medan jihad, red.) yang boleh jadi dia tidak bisa kembali kepada keluarganya (karena terbunuh sebagai syahid, red.) (HR al-Hakim).

Sayang, tidak sebagaimana besarnya hasrat umat untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar, tidak banyak Muslim yang merindukan keutamaan jihad fi sabilillah. Padahal jihad bahkan merupakan amalan utama yang lebih dulu disebut oleh Rasulullah saw. sebelum haji mabrur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.:

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَال: إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ. قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: حَجٌّ مَبْرُورٌ
Nabi saw. pernah ditanya, “Amal apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya?” Beliau ditanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah?” Beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Haji mabrur.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Itulah mengapa, dalam banyak riwayat, para sahabat sering begitu antusias saat ada panggilan jihad dari Rasulullah saw. Apalagi pada Bulan Ramadhan. Mereka selalu bersemangat menjemput mati syahid. Mereka bahkan rela meninggalkan apapun, termasuk momen yang paling penting dalam hidup mereka, seperti ‘malam pengantin’, sebagaimana yang dilakukan oleh Sahabat Hanzhalah ra. Ia segera meninggalkan istrinya yang baru beberapa jam sebelumnya ia nikahi, lalu berlari demi menjemput syahid di medan jihad.

Bahkan di akhirat kelak, orang-orang yang mati syahid berangan-angan dihidupkan dan dipulangkan kembali dunia karena berhasrat untuk kembali terbunuh sebagai syahid sepuluh kali karena merasakan sendiri keutamaan orang-orang yang mati syahid saat ditempatkan di surga-Nya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Meraih Pahala Setara Jihad fi Sabilillah

Memang, berbeda dengan Palestina yang masih dijajah Israel, misalnya, atau sejumlah negeri Muslim lain yang diperangi kaum kafir, Indonesia saat ini bukanlah medan jihad. Indonesia adalah wilayah damai. Karena itu siapapun yang melakukan aksi kekerasan—yang disebut sebagai terorisme—di negeri ini tidak bisa dianggap sebagai jihad.

Jika demikian, bagaimana caranya supaya kita bisa meraih pahala yang setara dengan jihad? Rasulullah saw. telah mengajari kita satu hal: dakwah dan amar makruf nahi mungkar, khususnya kepada penguasa zalim. Itulah amal yang pahalanya setara dengan jihad. Bahkan oleh Rasul saw. disebut sebagai jihad yang paling utama:

  أَلَا إِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِر
Ingatlah, sungguh jihad yang paling utama adalah menyampaikan kata-kata kebenaran di hadapan penguasa zalim (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Beliau pun bersabda:

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ، فَنَهَاهُ وَأَمَرَهُ، فَقَتَلَهُ
Pemuka para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan seseorang yang berdiri tegak di hadapan penguasa zalim; dia memerintah dan melarang penguasa zalim tersebut, lalu penguasa zalim itu membunuh dirinya (HR al-Hakim dan ath-Thabarani).

Alhasil, selain fokus dan bersungguh-sungguh meraih keutamaan Lailatul Qadar di sepertiga malam terakhir Ramadhan, marilah kita terus menggelorakan semangat dakwah dan amar makruf nahi mungkar, khususnya kepada para penguasa zalim, agar mereka mau menghentikan kezaliman mereka. Jika mereka tidak terima dan malah membinasakan kita, justru di situlah kita—insya Allah—meraih pahala mati syahid, yang keutamaannya melebihi keutamaan menghidupkan Lailatul Qadar.

WalLâhu a’lam bi ash-shawwâb. []

Pimpinan dan Staf Redaksi Buletin Kaffah Mengucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَ صِيَامَكُمْ
وَ كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Tagged under:

Kebenaran

ONE DAY ONE HADITS

Ahad, 26 Mei 2019 M / 20 Ramadhan 1440 H

عن أبي سفيانَ صَخرِ بنِ حربٍ رضي الله عنه في حديثه الطويلِ في قصةِ هِرَقْلَ، قَالَ هِرقلُ: فَمَاذَا يَأَمُرُكُمْ؟- يعني: النَّبيّ صلى الله عليه وسلم قَالَ أبو سفيانَ: قُلْتُ: يقولُ: ((اعْبُدُوا اللهَ وَحدَهُ لا تُشْرِكوُا بِهِ شَيئًا، وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ، ويَأْمُرُنَا بالصَلاةِ، وَالصِّدْقِ، والعَفَافِ، وَالصِّلَةِ)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

_*Dari Abu Sufyan bin Shakhr bin Harb Rhadiallahu 'anhu. dalam Haditsnya yang panjang dalam menghuraikan ceritera Raja Heraclius. Heraclius berkata: "Maka apakah yang diperintah olehnya?" Yang dimaksud ialah oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam. Abu Sufyan berkata: "Saya lalu menjawab: "Ia berkata: "Sembahlah akan Allah yang Maha Esa, jangan menyekutukan sesuatu dengan-Nya dan tinggalkanlah apa-apa yang dikatakan oleh nenek-moyangmu semua." Ia juga menyuruh supaya kita semua melakukan shalat, bersikap benar, menahan diri dari keharaman serta mempererat kekeluargaan." (Muttafaq 'alaih)*_

*Pelajaran yang terdapat dalam Hadits:*

1- Kejujuran/ bersikap benar dari bagian yang termulya dari pada kemuliaan akhlak.
2- Kejujuran/bersikap benar, akhlak yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.
3- Al'affaf, termasuk juga bagian dari akhlak mulia yaitu, menahan diri dari keharaman.
4- Menjalin hubungan kekeluargaan juga merupakan akhlak yang baik.

*Tema Hadits yang berkaitan dengan Al Qur'an:*

1- Benar dalam niat, perkataan dan perbuatan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

_*"Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." [QS.At-Taubah: 119]*_

2- Membenarkan Allah, lewat Tauhid dan keta'atan.
ٌ
فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ

_*"Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka." [QS.Muhammad: 21]*_

Kamis, 23 Mei 2019

Tagged under:

Doa Ketika Puasa

ONE DAY ONE HADITS

Kamis, 23  Mei 2019 M / 17 Ramadhan 1440 H

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ، دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Ada tiga doa yang tidak akan ditolak: Doa orang tua (untuk anaknya), doa orang yang berpuasa, dan doa musafir.”
[HR. Al-Baihaqi dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1797]

Dalam hadits yang lebih spesifik Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ عُتَقَاءَ مِنَ النَّارِ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، وَلِكُلِّ مُسْلِمٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka di setiap siang dan malam Ramadhan, dan bagi setiap muslim di setiap malam dan siangnya ada doa yang pasti dikabulkan.”
[HR. Ath-Thobarani dalam Al-Mu’jam Al-Aushat dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 1002]

Kandungan hadits

1. Doa adalah senjata ampuh yang digunakan seorang muslim untuk meraih kebaikan atau menolak madharat dengan izin Allah SWT. Seorang muslim hendaknya senantiasa berhubungan dengan Rabb-nya dalam kondisi lapang, sempit, senang, susah, mudah, dan sulit. Memohon pertolongan Allah berarti lari menuju kepada-Nya, mengarah kepada-Nya, dan terikatnya hati dengan-Nya. Memohon bantuan dari-Nya berarti permohonan pertolongan dari zat yang lemah kepada Zat yang Maha Kuasa.

2. Doa orang safar,  diijabahinya do’anya. Saat safar menempuh berbagai kesulitan, dengan kepasrahan hati pada Rabb ‘azza wa jalla. Akhirnya seorang hamba pun mengikhlaskan diri beribadah pada-Nya. Jika kondisi seseorang demikian, maka doa yang ia panjatkan akan makin mudah diijabahi. Semakin lama seseorang bersafar, semakin dekat pula do’a itu dikabulkan.

3. Doa ketika puasa tidak ditolak dan mustajab. Hal demikian terjadi karena tatkala puasa kedekatan seseorang dengan Rabb-nya tidak terpaut jarak. Lagian puasa merupakan amalan sirri yang spesial sekali hingga Allah berfirman bahwa puasa itu untuk Allah Subhanahu wata'ala dengan ganjaran pahala yang bighairi hisab.

4. Hadits tersebut menyebutkan bahwa doa baik orang tua pada anaknya termasuk doa yang mustajab.

Selasa, 21 Mei 2019

Tagged under:

Hati Yang Tidak Berdusta

ONE DAY ONE HADITS

Selasa, 21 Mei 2019 M / 16 Ramadhan 1440 H

يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

“Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu.
Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa”
(HR. Ahmad no.17545).

Kandungan Hadist

1. Hati yang bening dan bersih akan resah dan bimbang ketika berbuat salah dan dosa. Maka hadits ini berlaku bagi orang yang demikian, sehingga ketika orang yang sifatnya demikian melakukan sesuatu yang membuat hatinya resah dan bimbang, bisa jadi itu sebuah dosa.

(استفت نفسك) المطمئنة الموهوبة نورا يفرق بين الحق والباطل والصدق والكذب إذ الخطاب لوابصة وهو يتصف بذلك

“‘Mintalah fatwa pada hatimu‘, yaitu hati yang tenang dan hati yang dikaruniai cahaya, yang bisa membedakan yang haq dan yang batil, yang benar dan yang dusta. Oleh karena itu disini Nabi berbicara demikian kepada Wabishah yang memang memiliki sifat tersebut”
(Al Munawi , Faidhul Qadir, 1/495).

2. Wabishah bin Ma’bad bin Malik bin ‘Ubaid Al-‘Asadi radhiallahu’anhu,
adalah seorang sahabat Nabi, generasi terbaik yang diridhai oleh Allah. Beliau juga dikenal ahli ibadah dan sangat wara’. Maka layaklah Nabi bersabda ‘mintalah fatwa pada hatimu‘ kepada beliau.

قال: استفت قلبك) أي اطلب الفتوى منه، وفيه إيماء إلى بقاء قلب المخاطب على أصل صفاء فطرته وعدم تدنسه بشىء من آفات الهوى الموقعة فيما لا يرضى، ثم بين نتيجة الاستفتاء وأن فيه بيان ما سأل عنه

“Sabda beliau ‘istafti qalbak‘, maknanya: mintalah fatwa pada hatimu. Ini merupakan isyarat tentang keadaan hati orang yang ajak bicara (Wabishah) bahwa hatinya masih suci di atas fitrah, belum terkotori oleh hawa nafsu terhadap sesuatu yang tidak diridhai Allah, lalu Nabi menjelaskan buah dari meminta fatwa dari hati yang demikian, dan bahwasanya di sana ada jawaban dari apa yang ia tanyakan”
(Ibnu Allan Asy Syafi’I, Dalilul Falihin, 5/34).

3. Orang yang memiliki ilmu agama mengetahui yang halal dan yang haram. Mengetahui batasan-batasan Allah. Mengetahui hak-hak Allah dan hak-hak hamba. Maka dengan ilmu yang miliki tersebut tentu ia akan merasa tidak tenang jika melakukan sesuatu yang melanggar ajaran agama. Berbeda dengan orang yang jahil yang tidak paham agama, tidak paham hak-hak Allah dan hak-hak hamba, ketika melakukan kesalahan dan dosa ia merasa biasa saja atau bahkan merasa melakukan kebenaran.

4. Qolbun salim akan condong kepada ketaatan dalam menjalankan setiap apa yang diperintahkan dan menjauhi segala apa yang dilarang sesuai dengan tuntunannya dengan penuh keikhlasan. Hati orang beriman dalam hal ini akan  gelisah bila berseberangan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Allah Subhana Wataala berfirman :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An Nisa: 59).

Senin, 20 Mei 2019

Tagged under:

Kedudukan Tertinggi Di Surga

ONE DAY ONE HADITS

Senin, 20  Mei 2019 M / 15 Ramadhan 1440 H

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.”
(HR. Tirmidzi no. 1941).  

Kandungan hadits

1. Mengamalkan ilmu yang kita dapat dengan sebaik-baiknya sesuai kemampuan. Jika kita belajar ilmu tentang nama dan sifat Allah, kita akan lebih berhati-hati dalam berbuat. Termasuk bagaimana akhlak kita dalam bergaul karena salah satu tanda keberkahan ilmu itu tercermin dari akhlaknya.

2. Untuk mendapatkan akhlak yang baik, maka berrgaul dengan orang-orang shalih karena seseorang tergantung dari agama temannya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدَكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.”
(HR. Abu Daud 927)

Jika kita bergaul dengan teman yang shalih dan baik agamanya, semoga kita bisa baik.  
                
3.  Berakhlak lebih didahulukan daripada berilmu.

قال الإمام عبدالله بن المبارك-رحمه الله-:«طلبتُ الأدبَ ثلاثين سنةً , وطلبت العلمَ عشرين سنة-وكانوا يطلبون الأدبَ قبلَ العلم-،كاد الأدبُ يكونُ ثُلُثَي العلم

Berkata Imam Abdullah bin Mubarak ra.,
“Saya belajar sopan santun selama tiga puluh tahun dan mencari ilmu selama dua puluh tahun. (Mereka belajar sopan santun sebelum belajar ilmu. Sopan santun menjadi dua pertiga dari ilmu

و…أَشرفَ الإمامُ الليث بن سعد-رحمه الله-على أصحاب الحديثِ ، فرأى منهم شيئاً! فقال: « ما هذا ؟! أنتم إلى يَسيرٍ مِن الأدب أَحوجُ منكم إلى كثيرٍ من العلم».

Suatu kali, imam Laits melihat para santrinya melakukan sesuatu. Beliau lalu berkata,
“Apa ini? Kalian lebih membutuhkan sopan santun meski sedikit, dibandingkan dengan banyaknya ilmu”.  
 
Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah .              

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allâh
[al-Ahzâb/33:21]

Minggu, 19 Mei 2019

Tagged under:

Keutamaan Taat

ONE DAY ONE HADITS

Ahad,  19 Mei 2019 M / 14 Ramadhan 1440 H

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما  أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صل الله عليه و سلم فَقَالَ: أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الْمَكْتُوبَاتَ وَصُمْتُ رَمَضَانَ وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئاً أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَالَ: نَعَمْ

Daripada Jabir bin Abdullah RA, bahwa seorang lelaki  bertanya Kepada  Rasulullah SAW, bagaimana pandanganmu jika aku mendirikan shalat fardhu, aku berpuasa bulan Ramadhan, aku menghalalkan perkara yang halal dan aku mengharamkan perkara yang haram. Aku tidak akan menambah apa-apa lagi lebih daripada itu. Apakah aku akan masuk syurga? Baginda bersabda: Ya. Engkau masuk surga.
  (HR Muslim, no. 15)

Kandungan hadits

1.  Setiap muslim dituntut untuk bertanya kepada orang yang fakih  tentang syariat Islam, tentang kewajibannya dan apa yang dihalalkan dan diharamkan baginya jika hal tersebut tidak diketahuinya.

2.  Penghalalan dan pengharaman merupakan aturan syariat, tidak ada yang berhak menentukannya kecuali Allah SWT. Bahkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam sekalipun tidak berotoritas untuk membuat hukum baru. Pembuat hukum adalah Allah Subhanahu wata'ala, adapun Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam adalah penjelas terhadap hukum yang ditentukan Allah Subhanahu wata'ala.

يٰۤاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَاۤ اَحَلَّ اللّٰهُ لَـكَ ۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَا تَ اَزْوَاجِكَ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

(QS. At-Tahrim 66: Ayat 1)

3.  Keinginan dan perhatian yang besar dari para sahabat terhadap surga diperlihatkan pada kesungguhan mereka dalam mencari jalan untuk sampai ke surga dengan bertanya kepada Rasulullah SAW melalui amal soleh yang boleh dilakukan.

4.  Apabila seorang mukmin menunaikan segala tanggungjawab agama yang fardhu dengan sempurna, menggunakan dan memakai yang halal, tidak  mengkonsumsi dan makan yang haram, maka dia akan masuk surga dengan  rahmat Allah SWT terhadap hamba-hambaNya.

Sabtu, 18 Mei 2019

Tagged under: ,

Hidup Mulia Bersama Al-Quran

Buletin Kaffah No. 091, 12 Ramadhan 1440 H – 17 Mei 2019 M

Ramadhan memiliki berbagai nama agung. Salah satunya Bulan al-Quran (Syahr al-Qur’an). Sebab pada bulan inilah Allah SWT menurunkan al-Quran sekaligus ke langit dunia, untuk kemudian secara berangsur-angsur Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril. Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ...
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil) (TQS al-Baqarah [2]: 185).

Allah SWT juga menjadikan malam turunnya al-Quran sebagai malam yang penuh berkah. Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
Sungguh Kami menurunkan al-Quran pada suatu malam yang diberkahi. Sungguh Kamilah Yang memberi peringatan (TQS ad-Dukhan [44]: 3).

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Sungguh Kami telah menurunkan al-Quran pada Malam al-Qadr. Tahukah kamu apakah Malam al-Qadr itu? Malam al-Qadr itu lebih baik dari seribu bulan (QS al-Qadr [97]: 1-3).

Ramadhan disebut Bulan al-Quran juga karena kaum Muslim diminta untuk menggemarkan membaca al-Quran pada bulan shaum ini. Telah sampai kepada kita sejumlah riwayat yang menceritakan Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah saw. pada bulan Ramadhan. Ia mengajari Rasul saw. hapalan al-Quran. Diriwayatkan, “Dulu Jibril mendatangi dan mengajarkan al-Quran kepada Nabi saw. setiap tahun sekali (pada bulan Ramadhan).” (HR al-Bukhari).

Generasi terdahulu dari kalangan orang-orang salih biasa menghidupkan Ramadhan dengan ragam ibadah. Di antaranya dengan sibuk membaca al-Quran. Mereka memahami besarnya keutamaan membaca al-Quran. Apalagi pada pada bulan Ramadhan. Nabi saw. bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
Siapa yang membaca satu huruf saja dari Kitabullah,  bagi dia satu kebaikan, sementara satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali (HR at-Tirmidzi).

Para ulama telah menjadikan tilawah al-Quran sebagai salah satu amal yang banyak mereka kerjakan selama bulan Ramadhan baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Banyak di antara mereka yang mengkhatamkan al-Quran berkali-kali pada bulan Ramadhan. Mereka juga melakukan ragam kajian tentang al-Quran selama Ramadhan. Aisyah ra., setiap kali Ramadhan tiba, membaca al-Quran pada permulaan hari sampai matahari terbit, kemudian beliau beristirahat. Imam al-Aswad bin Yazid mengkhatamkan al-Quran setiap dua malam. Imam Qatadah mengkhatamkan al-Quran setiap tiga hari sekali dan mengkhatamkannya setiap malam pada sepuluh hari Ramadhan. Imam asy-Syafii mengkhatamkan al-Quran sebanyak 60 kali sepanjang Ramadhan. Imam Malik setiap kali memasuki bulan Ramadhan meninggalkan kajian hadis agar fokus membaca dan mengkaji al-Quran dari mushaf.

Al-Quran: Petunjuk Kehidupan

Al-Quran adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril. Mengimani al-Quran adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Mengingkari al-Quran, secara keseluruhan ataupun sebagian, adalah kekufuran. Allah SWT telah mengingatkan bahwa tidak akan masuk surge orang yang membangkang dan menyombongkan diri terhadap al-Quran (Lihat: QS al-A’raf [7]: 40).

Al-Quran memiliki kedudukan dan peran yang amat urgen bagi kaum Muslim. Al-Quran adalah petunjuk dalam kehidupan sebagaimana firman Allah SWT:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ...
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil) (TQS al-Baqarah [2]: 185).

Al-Quran memberikan petunjuk seputar keimanan seperti sifat dan zat Allah, kisah umat-umat terdahulu, malaikat, jin, iblis, Hari Akhir, surga dan neraka, dll. Semuanya merupakan petunjuk agar umat manusia tidak jatuh dalam khurafat, tahayul, syirik dan kekufuran (Lihat, misalnya, QS ash-Shaffat [37]: 149-151).

Al-Quran juga berisi petunjuk seputar hukum bagi umat manusia karena manusia membutuhkan aturan yang dapat menata kehidupan mereka. Di dalam al-Quran terkandung hukum ibadah, akhlak, sosial, ekonomi dan bisnis, pidana, politik dan pemerintahan. Al-Quran, misalnya, membahas tentang keharaman ekonomi ribawi (Lihat, misalnya, QS al-Baqarah [2]: 278). Al-Quran membahas hukum pidana bagi pelaku perampokan dan kekerasan (QS al-Maidah [5]: 33). Al-Quran juga menetapkan hukum-hukum politik dan pemerintahan (QS al-Maidah [5]: 48). Dengan demikian al-Quran adalah kitab suci yang paripurna. Tak ada satu pun yang luput dari pembahasannya. Allah SWT berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Kami menurunkan kepada kamu al-Kitab (al-Quran) sebagai penjelasan segala sesuatu serta petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kaum Muslim (TQS an-Nahl [16]: 89).

Menghidupkan al-Quran

Selama empat belas abad silam, kaum Muslim telah hidup bersama al-Quran. Mereka menjadikan al-Quran sebagai pedoman kehidupan. Hasilnya, kaum Muslim mencapai kejayaan. Islam tersebar ke hampir dua pertiga dunia. Kaum Muslim pun memimpin dunia berkat tunduk pada al-Quran.

Kepemimpinan ini berbeda dengan gaya kepemimpinan kaum imperialis Barat yang menindas warga pribumi. Kepemimpinan kaum Muslim dengan al-Quran mendatangkan keadilan dan menjunjung kemanusiaan. Hal ini banyak dicatat oleh para ilmuwan Barat yang menyaksikan langsung keagungan hukum-hukum al-Quran. Simak, misalnya, komentar W.E. Hocking, “Saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa al-Quran mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan...Sungguh dapat dikatakan, hingga pertengahan Abad 13, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh Dunia Barat.” (The Spirit of World Politics, 1932, hlm. 461).

Prof. G. Margoliouth juga menulis, “Penyelidikan telah menunjukkan bahwa yang diketahui oleh sarjana-sarjana Eropa tentang falsafah, astronomi, ilmu pasti dan ilmu pengetahuan semacam itu, selama beberapa abad sebelum Renaissance, secara garis besar datang dari buku-buku Latin yang berasal dari bahasa Arab. Al-Quranlah yang—walaupun tidak secara langsung—memberikan dorongan pertama untuk studi-studi itu di antara orang-orang Arab dan kawan-kawan mereka.” (Prof. G. Margoliouth, dalam De Karacht van den).

Masih banyak cendekiawan Barat yang secara jujur mengakui kehebatan al-Quran. Karena itu tentu aneh jika ada di antara kaum Muslim yang masih meragukan kelayakan al-Quran untuk diterapkan dalam kehidupan.

Hikmah Penerapan al-Quran

Penerapan hukum-hukum Islam telah menjauhkan kaum Muslim dan umat manusia dari krisis multidimensi; sosial, ekonomi, politik dan pemerintahan. Pelarangan praktik ekonomi ribawi dibarengi dengan penggunaan mata uang emas dan perak, misalnya, telah menjaga stabilitas perekonomian umat berupa harga-harga yang stabil. Kejadian itu terjadi bukan saja dalam satu dekade, namun berabad-abad. Ini berkebalikan dengan sistem ekonomi kapitalis yang berulang mengalami guncangan dan krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Kehidupan sosial masyarakat juga berjalan mantap. Jauh dari penyakit sosial. Tingkat perceraian, penelantaran anak dan kriminalitas dapat ditekan sampai titik terendah. Hal ini berkat kaum Muslim dan negara memberlakukan syariah Islam yang dibawa oleh al-Quran. Sebaliknya, hari ini di Tanah Air saja, krisis sosial sudah demikian akut. Tiap jam terdapat 40 pasangan bercerai. Ini merupakan angka perceraian tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Benarlah apa yang telah ditegaskan dalam firman Allah SWT:
مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى
Kami tidak menurunkan al-Quran ini kepada kamu agar kamu menjadi susah (TQS Thaha [20]: 2)

Allah SWT pun berfirman:

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124)
Siapa saja yang mengikut petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sungguh  bagi dia kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (TQS Thaha [20]: 123-124).

Alhasil, tidak selayaknya al-Quran sekadar menjadi hiasan di lisan kita. Hendaknya kita menjadikan hukum-hukum al-Quran sebagai aturan dalam kehidupan kita. Sungguh kita akan dihisab di Akhirat tentang al-Quran; apakah kita memberlakukan isinya dalam kehidupan ataukah kita menelantarkannya? []

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ: ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ :ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ
Amalan puasa dan membaca al-Quran akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada Hari Kiamat. Puasa berkata, Tuhanku, aku telah menahan dia dari makan dan syahwat pada siang hari. Karena itu izinkanlah aku memberi syafaat kepada dia. Al-Quran berkata,  “Aku telah menahan dia dari tidur pada waktu malam. Karena itu izinkanlah aku memberikan syafaat kepada dia.” Kemudian keduanya pun diizinkan untuk memberikan syafaat.
(HR Ahmad).