image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Selasa, 21 Mei 2019

Tagged under:

Hati Yang Tidak Berdusta

ONE DAY ONE HADITS

Selasa, 21 Mei 2019 M / 16 Ramadhan 1440 H

يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

“Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu.
Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa”
(HR. Ahmad no.17545).

Kandungan Hadist

1. Hati yang bening dan bersih akan resah dan bimbang ketika berbuat salah dan dosa. Maka hadits ini berlaku bagi orang yang demikian, sehingga ketika orang yang sifatnya demikian melakukan sesuatu yang membuat hatinya resah dan bimbang, bisa jadi itu sebuah dosa.

(استفت نفسك) المطمئنة الموهوبة نورا يفرق بين الحق والباطل والصدق والكذب إذ الخطاب لوابصة وهو يتصف بذلك

“‘Mintalah fatwa pada hatimu‘, yaitu hati yang tenang dan hati yang dikaruniai cahaya, yang bisa membedakan yang haq dan yang batil, yang benar dan yang dusta. Oleh karena itu disini Nabi berbicara demikian kepada Wabishah yang memang memiliki sifat tersebut”
(Al Munawi , Faidhul Qadir, 1/495).

2. Wabishah bin Ma’bad bin Malik bin ‘Ubaid Al-‘Asadi radhiallahu’anhu,
adalah seorang sahabat Nabi, generasi terbaik yang diridhai oleh Allah. Beliau juga dikenal ahli ibadah dan sangat wara’. Maka layaklah Nabi bersabda ‘mintalah fatwa pada hatimu‘ kepada beliau.

قال: استفت قلبك) أي اطلب الفتوى منه، وفيه إيماء إلى بقاء قلب المخاطب على أصل صفاء فطرته وعدم تدنسه بشىء من آفات الهوى الموقعة فيما لا يرضى، ثم بين نتيجة الاستفتاء وأن فيه بيان ما سأل عنه

“Sabda beliau ‘istafti qalbak‘, maknanya: mintalah fatwa pada hatimu. Ini merupakan isyarat tentang keadaan hati orang yang ajak bicara (Wabishah) bahwa hatinya masih suci di atas fitrah, belum terkotori oleh hawa nafsu terhadap sesuatu yang tidak diridhai Allah, lalu Nabi menjelaskan buah dari meminta fatwa dari hati yang demikian, dan bahwasanya di sana ada jawaban dari apa yang ia tanyakan”
(Ibnu Allan Asy Syafi’I, Dalilul Falihin, 5/34).

3. Orang yang memiliki ilmu agama mengetahui yang halal dan yang haram. Mengetahui batasan-batasan Allah. Mengetahui hak-hak Allah dan hak-hak hamba. Maka dengan ilmu yang miliki tersebut tentu ia akan merasa tidak tenang jika melakukan sesuatu yang melanggar ajaran agama. Berbeda dengan orang yang jahil yang tidak paham agama, tidak paham hak-hak Allah dan hak-hak hamba, ketika melakukan kesalahan dan dosa ia merasa biasa saja atau bahkan merasa melakukan kebenaran.

4. Qolbun salim akan condong kepada ketaatan dalam menjalankan setiap apa yang diperintahkan dan menjauhi segala apa yang dilarang sesuai dengan tuntunannya dengan penuh keikhlasan. Hati orang beriman dalam hal ini akan  gelisah bila berseberangan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Allah Subhana Wataala berfirman :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An Nisa: 59).

Senin, 20 Mei 2019

Tagged under:

Kedudukan Tertinggi Di Surga

ONE DAY ONE HADITS

Senin, 20  Mei 2019 M / 15 Ramadhan 1440 H

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.”
(HR. Tirmidzi no. 1941).  

Kandungan hadits

1. Mengamalkan ilmu yang kita dapat dengan sebaik-baiknya sesuai kemampuan. Jika kita belajar ilmu tentang nama dan sifat Allah, kita akan lebih berhati-hati dalam berbuat. Termasuk bagaimana akhlak kita dalam bergaul karena salah satu tanda keberkahan ilmu itu tercermin dari akhlaknya.

2. Untuk mendapatkan akhlak yang baik, maka berrgaul dengan orang-orang shalih karena seseorang tergantung dari agama temannya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدَكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.”
(HR. Abu Daud 927)

Jika kita bergaul dengan teman yang shalih dan baik agamanya, semoga kita bisa baik.  
                
3.  Berakhlak lebih didahulukan daripada berilmu.

قال الإمام عبدالله بن المبارك-رحمه الله-:«طلبتُ الأدبَ ثلاثين سنةً , وطلبت العلمَ عشرين سنة-وكانوا يطلبون الأدبَ قبلَ العلم-،كاد الأدبُ يكونُ ثُلُثَي العلم

Berkata Imam Abdullah bin Mubarak ra.,
“Saya belajar sopan santun selama tiga puluh tahun dan mencari ilmu selama dua puluh tahun. (Mereka belajar sopan santun sebelum belajar ilmu. Sopan santun menjadi dua pertiga dari ilmu

و…أَشرفَ الإمامُ الليث بن سعد-رحمه الله-على أصحاب الحديثِ ، فرأى منهم شيئاً! فقال: « ما هذا ؟! أنتم إلى يَسيرٍ مِن الأدب أَحوجُ منكم إلى كثيرٍ من العلم».

Suatu kali, imam Laits melihat para santrinya melakukan sesuatu. Beliau lalu berkata,
“Apa ini? Kalian lebih membutuhkan sopan santun meski sedikit, dibandingkan dengan banyaknya ilmu”.  
 
Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah .              

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allâh
[al-Ahzâb/33:21]

Minggu, 19 Mei 2019

Tagged under:

Keutamaan Taat

ONE DAY ONE HADITS

Ahad,  19 Mei 2019 M / 14 Ramadhan 1440 H

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما  أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صل الله عليه و سلم فَقَالَ: أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الْمَكْتُوبَاتَ وَصُمْتُ رَمَضَانَ وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئاً أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَالَ: نَعَمْ

Daripada Jabir bin Abdullah RA, bahwa seorang lelaki  bertanya Kepada  Rasulullah SAW, bagaimana pandanganmu jika aku mendirikan shalat fardhu, aku berpuasa bulan Ramadhan, aku menghalalkan perkara yang halal dan aku mengharamkan perkara yang haram. Aku tidak akan menambah apa-apa lagi lebih daripada itu. Apakah aku akan masuk syurga? Baginda bersabda: Ya. Engkau masuk surga.
  (HR Muslim, no. 15)

Kandungan hadits

1.  Setiap muslim dituntut untuk bertanya kepada orang yang fakih  tentang syariat Islam, tentang kewajibannya dan apa yang dihalalkan dan diharamkan baginya jika hal tersebut tidak diketahuinya.

2.  Penghalalan dan pengharaman merupakan aturan syariat, tidak ada yang berhak menentukannya kecuali Allah SWT. Bahkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam sekalipun tidak berotoritas untuk membuat hukum baru. Pembuat hukum adalah Allah Subhanahu wata'ala, adapun Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam adalah penjelas terhadap hukum yang ditentukan Allah Subhanahu wata'ala.

يٰۤاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَاۤ اَحَلَّ اللّٰهُ لَـكَ ۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَا تَ اَزْوَاجِكَ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

(QS. At-Tahrim 66: Ayat 1)

3.  Keinginan dan perhatian yang besar dari para sahabat terhadap surga diperlihatkan pada kesungguhan mereka dalam mencari jalan untuk sampai ke surga dengan bertanya kepada Rasulullah SAW melalui amal soleh yang boleh dilakukan.

4.  Apabila seorang mukmin menunaikan segala tanggungjawab agama yang fardhu dengan sempurna, menggunakan dan memakai yang halal, tidak  mengkonsumsi dan makan yang haram, maka dia akan masuk surga dengan  rahmat Allah SWT terhadap hamba-hambaNya.

Sabtu, 18 Mei 2019

Tagged under: ,

Hidup Mulia Bersama Al-Quran

Buletin Kaffah No. 091, 12 Ramadhan 1440 H – 17 Mei 2019 M

Ramadhan memiliki berbagai nama agung. Salah satunya Bulan al-Quran (Syahr al-Qur’an). Sebab pada bulan inilah Allah SWT menurunkan al-Quran sekaligus ke langit dunia, untuk kemudian secara berangsur-angsur Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril. Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ...
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil) (TQS al-Baqarah [2]: 185).

Allah SWT juga menjadikan malam turunnya al-Quran sebagai malam yang penuh berkah. Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
Sungguh Kami menurunkan al-Quran pada suatu malam yang diberkahi. Sungguh Kamilah Yang memberi peringatan (TQS ad-Dukhan [44]: 3).

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Sungguh Kami telah menurunkan al-Quran pada Malam al-Qadr. Tahukah kamu apakah Malam al-Qadr itu? Malam al-Qadr itu lebih baik dari seribu bulan (QS al-Qadr [97]: 1-3).

Ramadhan disebut Bulan al-Quran juga karena kaum Muslim diminta untuk menggemarkan membaca al-Quran pada bulan shaum ini. Telah sampai kepada kita sejumlah riwayat yang menceritakan Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah saw. pada bulan Ramadhan. Ia mengajari Rasul saw. hapalan al-Quran. Diriwayatkan, “Dulu Jibril mendatangi dan mengajarkan al-Quran kepada Nabi saw. setiap tahun sekali (pada bulan Ramadhan).” (HR al-Bukhari).

Generasi terdahulu dari kalangan orang-orang salih biasa menghidupkan Ramadhan dengan ragam ibadah. Di antaranya dengan sibuk membaca al-Quran. Mereka memahami besarnya keutamaan membaca al-Quran. Apalagi pada pada bulan Ramadhan. Nabi saw. bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
Siapa yang membaca satu huruf saja dari Kitabullah,  bagi dia satu kebaikan, sementara satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali (HR at-Tirmidzi).

Para ulama telah menjadikan tilawah al-Quran sebagai salah satu amal yang banyak mereka kerjakan selama bulan Ramadhan baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Banyak di antara mereka yang mengkhatamkan al-Quran berkali-kali pada bulan Ramadhan. Mereka juga melakukan ragam kajian tentang al-Quran selama Ramadhan. Aisyah ra., setiap kali Ramadhan tiba, membaca al-Quran pada permulaan hari sampai matahari terbit, kemudian beliau beristirahat. Imam al-Aswad bin Yazid mengkhatamkan al-Quran setiap dua malam. Imam Qatadah mengkhatamkan al-Quran setiap tiga hari sekali dan mengkhatamkannya setiap malam pada sepuluh hari Ramadhan. Imam asy-Syafii mengkhatamkan al-Quran sebanyak 60 kali sepanjang Ramadhan. Imam Malik setiap kali memasuki bulan Ramadhan meninggalkan kajian hadis agar fokus membaca dan mengkaji al-Quran dari mushaf.

Al-Quran: Petunjuk Kehidupan

Al-Quran adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril. Mengimani al-Quran adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Mengingkari al-Quran, secara keseluruhan ataupun sebagian, adalah kekufuran. Allah SWT telah mengingatkan bahwa tidak akan masuk surge orang yang membangkang dan menyombongkan diri terhadap al-Quran (Lihat: QS al-A’raf [7]: 40).

Al-Quran memiliki kedudukan dan peran yang amat urgen bagi kaum Muslim. Al-Quran adalah petunjuk dalam kehidupan sebagaimana firman Allah SWT:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ...
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil) (TQS al-Baqarah [2]: 185).

Al-Quran memberikan petunjuk seputar keimanan seperti sifat dan zat Allah, kisah umat-umat terdahulu, malaikat, jin, iblis, Hari Akhir, surga dan neraka, dll. Semuanya merupakan petunjuk agar umat manusia tidak jatuh dalam khurafat, tahayul, syirik dan kekufuran (Lihat, misalnya, QS ash-Shaffat [37]: 149-151).

Al-Quran juga berisi petunjuk seputar hukum bagi umat manusia karena manusia membutuhkan aturan yang dapat menata kehidupan mereka. Di dalam al-Quran terkandung hukum ibadah, akhlak, sosial, ekonomi dan bisnis, pidana, politik dan pemerintahan. Al-Quran, misalnya, membahas tentang keharaman ekonomi ribawi (Lihat, misalnya, QS al-Baqarah [2]: 278). Al-Quran membahas hukum pidana bagi pelaku perampokan dan kekerasan (QS al-Maidah [5]: 33). Al-Quran juga menetapkan hukum-hukum politik dan pemerintahan (QS al-Maidah [5]: 48). Dengan demikian al-Quran adalah kitab suci yang paripurna. Tak ada satu pun yang luput dari pembahasannya. Allah SWT berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Kami menurunkan kepada kamu al-Kitab (al-Quran) sebagai penjelasan segala sesuatu serta petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kaum Muslim (TQS an-Nahl [16]: 89).

Menghidupkan al-Quran

Selama empat belas abad silam, kaum Muslim telah hidup bersama al-Quran. Mereka menjadikan al-Quran sebagai pedoman kehidupan. Hasilnya, kaum Muslim mencapai kejayaan. Islam tersebar ke hampir dua pertiga dunia. Kaum Muslim pun memimpin dunia berkat tunduk pada al-Quran.

Kepemimpinan ini berbeda dengan gaya kepemimpinan kaum imperialis Barat yang menindas warga pribumi. Kepemimpinan kaum Muslim dengan al-Quran mendatangkan keadilan dan menjunjung kemanusiaan. Hal ini banyak dicatat oleh para ilmuwan Barat yang menyaksikan langsung keagungan hukum-hukum al-Quran. Simak, misalnya, komentar W.E. Hocking, “Saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa al-Quran mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan...Sungguh dapat dikatakan, hingga pertengahan Abad 13, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh Dunia Barat.” (The Spirit of World Politics, 1932, hlm. 461).

Prof. G. Margoliouth juga menulis, “Penyelidikan telah menunjukkan bahwa yang diketahui oleh sarjana-sarjana Eropa tentang falsafah, astronomi, ilmu pasti dan ilmu pengetahuan semacam itu, selama beberapa abad sebelum Renaissance, secara garis besar datang dari buku-buku Latin yang berasal dari bahasa Arab. Al-Quranlah yang—walaupun tidak secara langsung—memberikan dorongan pertama untuk studi-studi itu di antara orang-orang Arab dan kawan-kawan mereka.” (Prof. G. Margoliouth, dalam De Karacht van den).

Masih banyak cendekiawan Barat yang secara jujur mengakui kehebatan al-Quran. Karena itu tentu aneh jika ada di antara kaum Muslim yang masih meragukan kelayakan al-Quran untuk diterapkan dalam kehidupan.

Hikmah Penerapan al-Quran

Penerapan hukum-hukum Islam telah menjauhkan kaum Muslim dan umat manusia dari krisis multidimensi; sosial, ekonomi, politik dan pemerintahan. Pelarangan praktik ekonomi ribawi dibarengi dengan penggunaan mata uang emas dan perak, misalnya, telah menjaga stabilitas perekonomian umat berupa harga-harga yang stabil. Kejadian itu terjadi bukan saja dalam satu dekade, namun berabad-abad. Ini berkebalikan dengan sistem ekonomi kapitalis yang berulang mengalami guncangan dan krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Kehidupan sosial masyarakat juga berjalan mantap. Jauh dari penyakit sosial. Tingkat perceraian, penelantaran anak dan kriminalitas dapat ditekan sampai titik terendah. Hal ini berkat kaum Muslim dan negara memberlakukan syariah Islam yang dibawa oleh al-Quran. Sebaliknya, hari ini di Tanah Air saja, krisis sosial sudah demikian akut. Tiap jam terdapat 40 pasangan bercerai. Ini merupakan angka perceraian tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Benarlah apa yang telah ditegaskan dalam firman Allah SWT:
مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى
Kami tidak menurunkan al-Quran ini kepada kamu agar kamu menjadi susah (TQS Thaha [20]: 2)

Allah SWT pun berfirman:

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124)
Siapa saja yang mengikut petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sungguh  bagi dia kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (TQS Thaha [20]: 123-124).

Alhasil, tidak selayaknya al-Quran sekadar menjadi hiasan di lisan kita. Hendaknya kita menjadikan hukum-hukum al-Quran sebagai aturan dalam kehidupan kita. Sungguh kita akan dihisab di Akhirat tentang al-Quran; apakah kita memberlakukan isinya dalam kehidupan ataukah kita menelantarkannya? []

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ: ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ :ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ
Amalan puasa dan membaca al-Quran akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada Hari Kiamat. Puasa berkata, Tuhanku, aku telah menahan dia dari makan dan syahwat pada siang hari. Karena itu izinkanlah aku memberi syafaat kepada dia. Al-Quran berkata,  “Aku telah menahan dia dari tidur pada waktu malam. Karena itu izinkanlah aku memberikan syafaat kepada dia.” Kemudian keduanya pun diizinkan untuk memberikan syafaat.
(HR Ahmad).

Tagged under:

Tidak Ada Doa Yang Sia-sia

ONE DAY ONE HADITH

Sabtu,  18 Mei 2019 M / 13 Ramadhan 1440 H 

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ

“Barangsiapa yang suka Allah mengabulkan doanya ketika susah dan menderita, maka hendaknya ia memperbanyak doa ketika lapang.” (HR. Tirmidzi, Shahihul Jami’ no. 6290)

Kandungan hadits
1. Tidak elok manakala datang dan menghiba di saat susah atau pada saat butuh bantuan.  Yang utama adalah bersikap proporsional, yaitu baik dalam keadaan susah atau senang tetap konsisten dalam menjalin hubungan dengan Allah Subhanahu wata'ala.

2. Ingatlah Allah Saat Senang dan Lapang, Allah Akan Mengingatmu di Saat Susah
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺗَﻌَﺮَّﻑْ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﺧَﺎﺀِ ﻳَﻌْﺮِﻓُﻚ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸِّﺪَّﺓِ

“Kenalilah (ingatlah) Allah di waktu senang pasti Allah akan mengingatmu di waktu sempit.” (HR. Tirmidzi)

3. Allah Subhanahu wata'ala menolong Nabi Yunus alaihissalam dalam berbagai kesusahan di dalam perut ikan, dalam kegelapan dan Di tengah ganasnya lautan, karena Nabi Yunus sering mengingat Allah di waktu lapang.

Allah Subhanahu wata'ala berfirman

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ – لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Maka kalau sekiranya dia (sebelumnya) tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit (kiamat).” (QS. Ash Shaaffaat: 144).

4. Tidak ada doa yang sia sia. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ «اللَّهُ أَكْثَرُ»

“Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tidak ada seorangpun yang berdoa dengan sebuah doa yang tidak ada dosa di dalamnya dan memutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengabulkan salah satu dari tiga perkara: (1) baik dengan disegerakan baginya (pengabulan doanya) di dunia atau, (2) dengan disimpan baginya (pengabulan doanya) di akhirat atau, (3) dengan dijauhkan dari keburukan semisalnya.”

Para shahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kalau begitu kami akan memperbanyak doa?”

Beliau menjawab, “Allah lebih banyak (pengabulan doanya).” ( HR. Ahmad, Shahih At Targhib wa At Tarhib, no. 1633)

Selasa, 14 Mei 2019

Tagged under:

Panggilan Adzan

ONE DAY ONE HADITS

Selasa, 14 Mei 2019 M / 9 Ramadhan 1440 H
 
   .مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّمِنْ عُذْرٍ

“Barangsiapa mendengar seruan adzan tapi tidak memenuhinya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur”.
[Hadits Riwayat Ibnu Majah 793, Ad-Daru Quthni 1/421,422, Ibnu Hibban 2064, Al-Hakim 1/246]

Kandungan hadits

1. Orang buta datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata : “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid. Apakah aku punya rukhshah untuk shalat di rumah?”
Kemudian beliau bertanya.

هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَجِبْ.

“Apakah engkau mendengar seruan untuk shalat ? Ia menjawab, ‘Ya’, beliau berkata lagi, ‘Kalau begitu, penuhilah”.
[HR. Muslim, kitab Al-Masajid 653]

2. Umi Maktum (orang buta) yang tidak ada penuntunnya, namun demikian Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tetap memerintahkannya untuk shalat di masjid. Maka orang yang sehat dan dapat melihat tentu lebih wajib lagi. Maka yang wajib atas seorang Muslim adalah bersegera melaksanakan shalat pada waktunya dengan berjama’ah.    

3. Demikian pula dalam kondisi perang tetap diselenggarakan Shalat dengan jamaah.

Allah SWT berfirman:

وَاِذَا كُنْتَ فِيْهِمْ فَاَ قَمْتَ لَهُمُ الصَّلٰوةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةٌ مِّنْهُمْ مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوْۤا اَسْلِحَتَهُمْ ۗ فَاِذَا سَجَدُوْا فَلْيَكُوْنُوْا مِنْ وَّرَآئِكُمْ ۖ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ اُخْرٰى لَمْ يُصَلُّوْا فَلْيُصَلُّوْا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوْا حِذْرَهُمْ وَاَسْلِحَتَهُمْ ۚ وَدَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ تَغْفُلُوْنَ عَنْ اَسْلِحَتِكُمْ وَاَ مْتِعَتِكُمْ فَيَمِيْلُوْنَ عَلَيْكُمْ مَّيْلَةً وَّاحِدَةً ۗ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِنْ كَا نَ بِكُمْ اَ ذًى مِّنْ مَّطَرٍ اَوْ كُنْـتُمْ مَّرْضٰۤى اَنْ تَضَعُوْۤا اَسْلِحَتَكُمْ ۚ وَ خُذُوْا حِذْرَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ اَعَدَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَا بًا مُّهِيْنًا

"Dan apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu engkau hendak melaksanakan sholat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (sholat) besertamu dan menyandang senjata mereka, kemudian apabila mereka
(yang sholat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat) maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang lain yang belum sholat, lalu mereka sholat denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata mereka. Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu sekaligus. Dan tidak mengapa kamu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat suatu kesusahan karena hujan atau karena kamu sakit, dan bersiap siagalah kamu. Sungguh, Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 102)

Senin, 13 Mei 2019

Tagged under:

Ketaatan dan Kesetiaan

ONE DAY ONE HADITS

Senin, 13 Mei 2019 M / 8 Ramadhan 1440 H

       إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا
قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Dari  ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan
(di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.”

(HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Shahih)

Kandungan Hadits

1. Hadits tersebut mengutarakan tentang kesetian isteri yang merupakan   tips untuk bahagia berumah tangga. Kesetiaan dalam berumah tangga itu memang sangat istimewa, sebab menjaga kesetiaan itu bukan sesuatu hal yang mudah.  Kesetiaan menjadi salah satu pondasi kuat dalam berumah tangga akan menjadikan semua hal sulit yang menghampiri akan lebih mudah.

2. Dengan kesetiaan kita bisa saling mendukung, saling menghibur ketika bosan, saling menaruh rasa kepercayaan, saling melakukan keterbukaan untuk ajang koreksi diri, dan saling memperingati ketika melakukan kesalahan diantara keduanya.Oleh karena itu lah mengapa setia itu begitu istimewa, karena dengan setia kita bisa membangun pondasi-pondasi rumah tangga yang akan terus sakinah mawaddah warahmah. Karena setia berarti kita mampu berjanji pada diri sendiri dan kepada pasangan, ntah itu berjanji untuk saling percaya, terbuka, memperingati ataupun saling menyayangi.

3. Kesetiaan itu teramat mahal, hanya orang yang mau berusaha yang bisa melakukannya.  Kesetiaan memang sangatlah mahal, pantas saja jika hanya sebagian orang yang mampu untuk melakukannya. Karena memang yang biasa melakukan kesetian hanyalah orang-orang yamg mampu untuk selalu berusaha, yang mempunyai keinginan untuk menata kehidupan rumah tangga yang lebih baik.

4. Kesetiaan itu sulit bagi orang yang menganggap hubungan rumah tangga itu beban. Kesetian itu memang amatlah sulit, tapi hal ini hanya berlaku untuk orang-orang yang menganggap hubungan dalam rumah tangga itu beban. Karena jika kita menganggap hubungan yang dibangun oleh sepasang suami dan istri merupakan suatu ibadah, maka menjaga kesetiaan itu adalah hal yang mudah. Sebab, kita akan berusaha untuk terus mempertahankan nilai ibadah yang kita yakini, tanpa sedikitpun mengeluh.

5. Kesetiaan itu teramat mulia, hanya orang-orang yang baik yang mampu memuliakannya. Kesetiaan itu sangat mulia, maka tentu kita harus menjaga segenap kemuliaan yang terkandung didalamnya dengan penuh rasa bersyukur. Agar Allah tetap menjaga kesetian yang kita punya ini dengan posisi yang mulia.Kesetiaan Itu Sungguh Tak Ternilai Harganya, Karena Harga Mati Dalam Sebuah Pernikahan Adalah Sebuah KesetiaanKesetiaan sangatlah mahal harganya, maka sampai kapanpun tidak akan bisa tergantikan oleh apapun yang ada didunia ini. Namun, butuh keberanian dan juga tanggung jawab agar kesetiaan itu menjadi benteng dalam rumah tangga yang kita jalani.

6. Kesetiaan itu ibarat pengikat antara suami dan istri, karena didalamnya berisi janji suci dihadapan Allah SWT. Kesetiaan itu ibarat pengikat antara suami dan istri, karena didalamnya telah berisi sebuah janji suci dihadapan Allah. Ingatkah ketika kamu berjaniji didalam lantunan ijab qabul yang menjadikanmu satu seumur hidup.

7. Kesetiaan itu berarti keikhlasan untuk tetap menyimpan satu nama dalam hati yang diwujudkan dalam kenyataan tak saling mengkhianati. sDan kesetiaan itu berarti keikhlasan untuk selalu menyimpan satu nama dalam hati yang diwujudkan dalam kenyataan tak saling mengkhianati. Berjanji untuk tidak saling mengingkari hak dan kewajiban masing-masing, karena didalam kesetian suami dan istri terkandung sebuah hak dan kewajiban dalam membina rumah tangga yang penuh dengan berkah.           

Firman Allah yang berkaitan hadits tersebut adalah....

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).