image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Jumat, 23 Agustus 2019

Tagged under: ,

Menyongsong “Hijrah”

Buletin Kaffah no. 103, 22 Dzulhijjah 1440 H-23 Agustus 2019 M.

Umar bin al-Khaththab ra. pernah berpesan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat, red).”

Artinya, di dunia ini, sekaranglah waktu kita menghisab diri. Di mana posisi kita antara dosa dan pahala, antara kemaksiatan dan ketataan, antara neraka dan surga. Di mana posisi kita terhadap Islam dan syariahnya, juga di tengah umat Islam.  Sejauh mana berbagai larangan Allah SWT telah ditinggalkan? Sejauh mana perintah-Nya telah dikerjakan?

Muhasabah atau introspeksi diri ini penting dilakukan terus-menerus. Tentu agar setiap dari kita bisa memperbaiki diri atau ber-“hijrah”.

Hijrah secara bahasa adalah berpindah dari sesuatu ke sesuatu yang lain atau meninggalkan sesuatu menuju sesuatu yang lain. Jadi hijrah itu identik dengan perubahan. Tentu perubahan ke arah yang baik. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan.

Hijrah itu terjadi karena adanya kesadaran tentang perlunya perubahan dari keadaan yang sedang eksis ke keadaan baru yang ingin diwujudkan. Kesadaran itu tentu muncul karena adanya muhasabah atau instrospeksi diri. Karena itu muhasabah atau introspeksi diri menjadi sangat penting.

Pertama-tama yang perlu dilakukan adalah meninggalkan apa yang wajib ditinggalkan, yakni apa saja yang dilarang oleh Allah SWT. Inilah hijrah yang bisa dilakukan kapan saja. Rasul saw. bersabda:

« الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ »
Seorang Muslim adalah orang yang menjadikan kaum Muslim selamat dari lisan dan tangannya. Seorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang Allah larang atas dirinya (HR al-Bukhari, Abu Dawud, an-Nasai, Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Humaidi).

Meninggalkan apa saja yang Allah larang tidak menuntut kemampuan. Ini berbeda dengan melakukan apa yang Allah perintahkan, yang menuntut kemampuan maksimal. Rasul saw. bersabda:

«...فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنِ الشَّيْءِ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِالشَّيْءِ فَائْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ»
…Jika aku melarang kalian dari sesuatu maka tingggalkanlah dan jika aku memerintahkan sesuatu maka lakukanlah sesuai batas kemampuan kalian (HR Ahmad, al-Bukhari dan Muslim).

Selain dilakukan berdasarkan kemampuan secara maksimal, perintah Allah  harus segera ditunaikan. Allah SWT berfirman:
﴿فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ﴾
Bersegeralah kembali kepada Allah. Sungguh aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untuk kalian (TQS adz-Dzariyat [51]: 50).

Abu Ishaq ats-Tsa’labi dalam tafsirnya, Al-Kasyfu wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, menjelaskan, frasa “Fafirrû ilâlLâh” bermakna:  Larilah dari azab Allah menuju pahala-Nya dengan iman dan menjauhi kemaksiatan. Ibnu Abbas berkata: Larilah menuju Allah dan beramallah dengan menaati-Nya.”

Dengan demikian setiap Muslim harus segera berhenti dari apa yang Allah larang dan meninggalkannya, sekaligus segera menjalankan berbagai ketaatan kepada-Nya. Dengan dua spirit ini, setiap Muslim akan menjadi sosok yang makin taat. Ketaatannya juga makin total, makin menyeluruh, makin kâffah.

Orang yang “hijrah” itu tidak menyukai apa saja yang menyalahi Islam dan syariahnya. Sebaliknya, dia makin senang kepada Islam dan syariahnya. Dia pun makin merindukan kehidupan islami; kehidupan yang diatur sesuai dengan Islam dan syariahnya.

Alhasil, secara individual seorang Muslim tak boleh berhenti ber-“hijrah”. Tak boleh berhenti berubah ke arah yang lebih baik sesuai tuntutan syariah, menuju totalitas berislam dan melaksanakan syariahnya secara kâffah.

Hal yang sama juga perlu dilakukan oleh kaum Muslim secara keseluruhan. Kita perlu melakukan muhasabah/interospeksi atas keadaan umat Islam hari ini. Kita perlu merenungkan bagaimana keadaan umat Islam. Bagaimana pula keadaan seharusnya yang dikehendaki oleh Islam. Selanjutnya kita perlu menyiapkan tidak lanjut atas hasil muhasabah itu.

Allah SWT telah mensifati umat Islam sebagai khayru ummah (umat terbaik), sebagaimana firman-Nya:

﴿كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾
Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; melakukan amar makruf nahi munkar dan mengimani Allah (TQS Ali Imran [3]: 110).

Sifat sebagai umat terbaik ini tidak hanya berlaku pada kaum Muslim masa Rasul saw. saja, melainkan berlaku untuk umat beliau sampai kapan pun. Ali bin Abi Thalib ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

«أُعْطِيتُ مَا لَمْ يُعْطَ أَحَدٌ مِنْ الأنْبِيَاءِ». فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا هُوَ؟ قَالَ: «نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُعْطِيتُ مَفَاتِيحَ الأرْضِ، وَسُمِّيتُ أَحْمَدَ، وَجُعِلَ التُّرَابُ لِي طَهُورًا، وَجُعِلَتْ أُمَّتِي خَيْرَ الأمَمِ»
“Aku diberi apa yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku.” Kami bertanya, “Apakah itu?” Beliau bersabda, “Aku ditolong dengan rasa takut, aku diberi kunci-kunci bumi,  aku diberi nama Ahmad, tanah dijadikan suci untukku dan umatku dijadikan sebagai umat terbaik.” (HR Ahmad).

Hanya saja, sifat sebagai umat terbaik itu tidak datang begitu saja. Harus dipenuhi dulu karakteristiknya. Di dalam ayat ini, Allah SWT menyebut karakteristik umat terbaik itu, yaitu: melakukan amar makrufnahi munkar dan mengimani Allah.

Terkait itu ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasul saw. saat beliau sedang di atas minbar, “Siapakah manusia terbaik?” Rasul saw. menjawab:

«خَيْرُ النَّاسِ أقْرَؤهُمْ وَأَتْقَاهُمْ للهِ، وآمَرُهُمْ بِالمعروفِ، وأنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ»
Manusia terbaik adalah yang paling banyak membaca dan memahami (al-Quran),  yang paling bertakwa kepada Allah, yang paling banyak melakukan amar makruf nahi mungkar dan yang paling sering menyambung silaturahim (HR Ahmad).

Imam ath-Thabari menjelaskan karakteristik umat terbaik (khayru ummah) dalam tafsirnya, Jâmi’u al-Bayân: Firman Allah “ta`murûna bi al-ma’rûf” itu bermakna: kalian memerintahkan manusia agar mengimani  Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariahnya. Lalu “wa tanhawna ‘an al-munkar” bermakna: kalian melarang manusia untuk menyekutukan Allah, mendustakan Rasul-Nya dan mengamalkan apa yang Dia larang.”

Imam Ibnu Katsir, setelah menyebutkan hadis-hadis tentang khayru ummah, menyatakan, “Karena itu siapa saja dari umat ini yang memiliki sifat-sifat ini, dia masuk di dalam penghormatan dan pujian-Nya…Umar ra. berkata, ‘Siapa saja yang suka menjadi bagian dari umat (terbaik) itu maka hendaknya dia memenuhi syarat Allah yang dituntut atas dirinya.’ Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Siapa yang tidak mememiliki sifat demikian, dia serupa dengan Ahlul Kitab yang dicela oleh Allah SWT (yang artinya): “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang kemungkaran yang mereka lakukan. Sungguh amat buruklah apa yang selalu mereka lakukan itu (TQS al-Maidah [5]: 79).”

Secara umum karakteristik umat terbaik itu adalah mengimani Allah, melakukan amar makruf nahi mungkar, mengikuti sunnah Rasul saw. dan melaksanakan syariah. Dengan demikian kesempurnaan sifat khayru ummah itu terwujud ketika umat Islam beriman dan bertakwa. Ketakwaan mereka harus tampak  dalam kehidupan mereka, termasuk dalam pengelolaan kehidupan masyarakat dalam segala aspeknya, dengan syariah Islam.

Sayang, potret sebagai khayru ummah (umat terbaik) itu tidak tampak pada umat Islam hari ini. Umat Islam saat ini belum menjadi pemimpin bagi umat lain. Sebaliknya, umat Islam saat ini masih menjadi obyek dan eksploitasi pihak lain. Boleh jadi salah satu penyebabnya karena amar makruf nahi mungkar belum tampak menonjol menjadi budaya umat Islam. Terutama yang ditujukan kepada penguasa. Padahal kemungkaran penguasalah yang paling besar menimbulkan keterpurukan umat. Kemungkaran terbesar penguasaa tentu saja saat mereka tidak menerapkan syariah Islam secara kaffah.

Memang sebagian dari umat sudah dan terus melakukan amar makruf nahi mungkar. Namun, tak jarang masih ada seruan-seruan sebaliknya. Yang makruf justru dipersoalkan. Yang mungkar justru dipromosikan. Dakwah untuk menerapkan syariah secara kaffah dihadang. Seruan ke arah liberalisme justru difasilitasi. Terjadilah keanehan. Islam dan syariahnya secara kaffah justru terhijab dari sebagian umat Islam sendiri.

Kondisi umat yang terpuruk dan jauh dari predikat sebagai umat terbaik ini tentu tidak boleh dibiarkan. Kondisi ini harus diubah. Aktivitas perubahan harus gencar dilakukan di tengah umat ini. Sebab perubahan itu tidak akan datang dengan sendirinya, tetapi harus diusahakan. Allah SWT berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ﴾
Sungguh Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (TQS ar-Ra’du [13]: 11).

Imam al-Qurthubi dalam Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân menjelaskan, “Allah SWT memberitahukan dalam ayat ini bahwa Dia tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai terjadi perubahan dari mereka, baik dari mereka sendiri, atau dari orang yang mengurus mereka, atau dengan sebab dari sebagian orang di antara mereka.”

Karena itu perubahan atau “hijrah” harus dilakukan bukan hanya pada tataran individu, tetapi juga pada tataran masyarakat, yakni perubahan menuju ketaatan kepada Allah SWT secara total. Ketaatan total kepada Allah SWT diwujudkan dengan penerapan syariah Islam kaffah di dalam seluruh aspek kehidupan. Ini menjadi tanggung jawab seluruh komponen umat Islam.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Hikmah:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sungguh orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang benar-benar mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
(TQS al-Baqarah [2]: 218).

Rabu, 21 Agustus 2019

Tagged under:

Doa Ketika Marah

ONE DAY ONE DOA
Rabu, 21  AGUSTUS 2019 M / 19  Dzulhijjah 1440 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Penulis tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)

Sulaiman bin Shurod radhiyallahu ‘anhu berkata,

كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ

“Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.”

(HR Bukhari, no. 3282)

Doa yang sangat ringkas dan padat (Jami’):
أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ
A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim
Saya berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Firman Allah dari ayat berikut memerintahkan untuk berlindung bila terkena nafsu amarah,

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200)

Juga ada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

إِذَا غَضِبَ الرَّجُلُ فَقَالَ أَعُوْذُ بِاللهِ ، سَكَنَ غَضْبُهُ

“Jika seseorang dalam keadaan marah, lantas ia ucapkan, ‘A’udzu billah (Aku meminta perlindungan kepada Allah)’, maka redamlah marahnya.”

(HR. As-Sahmi dalam Tarikh Jarjan, 252. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1376)

Bacaan Ta’awudz  bentuk lain

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ، مِنْ هَمْزِهِ و نَفْخِهِ وَ نَفْثِهِ

A-’uudzu bil-laahi minas syai-thaanir ra-jiim min ham-zihii wa naf-khi-hii wa naf-tsih

(HR. Abu Daud-sahih).


أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

A-’uudzu bil-laahis samii-’il ‘a-lii-mi minas syai-thaa-nir ra-jiim min hamzi-hii wa naf-khi-hii wa naf-tsih.

(HR. Turmudzi-sahih).

Mengelola nafsu amarah tidak mudah, sehingga  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut orang yang mampu menahan amarah sebagai orang kuat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ليسَ الشديدُ بالصّرعَةِ، إنما الشديدُ الذي يملكُ نفسهُ عند الغضب

“Orang hebat bukanlah orang yang selalu menang dalam pertarungan. Orang hebat adalah orang yang bisa mengendalikan diri ketika marah.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Yang mampu menahan nafsu amarah dibanggakan di depan seluruh makhluk dan Allah suruh memilih bidadari paling indah yang dia inginkan. Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قادرٌ على أنْ يُنفذهُ دعاهُ اللَّهُ سبحانهُ وتعالى على رءوس الخَلائِقِ يَوْمَ القيامةِ حتَّى يُخيرهُ مِنَ الحورِ العين ما شاءَ

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.

(HR. Abu Daud, Turmudzi-hasan).

Bacaan ini sangat ringkas, dan hampir semua orang telah menghafalnya. Yang menjadi masalah, umumnya orang yang sedang marah sulit untuk mengendalikan dirinya , sehingga biasanya lupa dengan apa yang sudah dia pelajari. Allah Subhanahu wata’ala mamasukan orang yang mampu menahan nafsu amarah sebagai orang yang bertaqwa.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Allażīna yunfiqụna fis-sarrā`i waḍ-ḍarrā`i wal-kāẓimīnal-gaiẓa wal-'āfīna 'anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn.
“orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

(QS. Ali Imran: 134)

وَالْكٰظِمِينَ الْغَيْظَ

(dan orang-orang yang menahan amarahnya) Yakni yang menyembunyikan kemarahan mereka dan menahannya dalam hati mereka, sehingga tidak berbuat zalim kepada seorangpun sebab kemarahan mereka. Dikatakan (كظم غيظه) apabila ia mendiamkannya dan tidak memperlihatkannya.

Selasa, 20 Agustus 2019

Tagged under:

Doa Haji Mabrur

ONE DAY ONE DOA
Selasa, 20 AGUSTUS 2019 M / 18  Dzulhijjah 1440 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)
اللهم اجعله حجًّا مبرورًأ، سعيًا مشكورًا، وذَنْبًا مغفورًا،
Allahummaj’alahu hajjan mabruura, wa sa’yan masykuura, wa dzanban maghfuura.
Doa ini bersumber dari Ibn Mas’ud dan Ibn ‘Umar, Ya Allah jadikan haji ini sebagai haji yang mabrur, sa’i yang penuh berkah, dan pengampun bagi dosa.
(HR. Bukhari)
Setiap orang yang berhaji berharap haji yang mabrur. Haji abrur bukanlah sekedar haji yang sah.  Mabrur berarti diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala, dan sah berarti menggugurkan kewajiban. Bisa jadi haji seseorang sah sehingga kewajiban berhaji baginya telah gugur, namun belum tentu hajinya mabrur.  Jadi, tidak semua yang hajinya sah terhitung sebagai haji mabrur.  seseorang yang telah selesai melaksanakan seluruh amaliah (baik rukun, wajib, maupun sunnah berhaji) dianjurkan untuk memohon agar hajinya menjadi haji yang mabrur.
Haji Mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah Swt. Tanda diterimanya ibadah haji seorang muslim adalah setelah pulang semakin banyak melakukan amalan-amalan yang baik dan semakin jauh dari perbuatan-perubatan maksiat.  Tanda haji mabrur adalah seseorang kembali dari haji dalam keadaan zuhud dalam hal dunia dan semangat menggapai akhirat.
Balasan dari haji mabrur adalah surga. Untuk haji mabrur secara khusus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
والْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Haji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah surga.”
HR. al-Bukhari (1683) dan Muslim (1349).

Redaksi lengkapnya hadits tersebut adalah:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga”.
Imam al-Bukhari telah mengeluarkan hadits ini (di dalam Shahih-nya) pada Abwabul Umrah (bab-bab tentang umrah), yaitu pada Babu Wujubil Umrah wa Fadhliha (bab tentang wajibnya umrah dan keutamaannya), nomor 1773. Dan dikeluarkan pula oleh Imam Muslim (di dalam Shahih-nya pula), nomor 1349; dari jalan Sumayy budak Abi Bakar bin Abdurrahman, dari Abu Shalih as-Samman, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, secara marfu’ (sampai kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam).
Haji mabrur secara syariat adalah haji yang tidak tercampur dengan perrbuatan riya’ (ingin dipuji dan dilihat orang), sum’ah (ingin didengar oleh orang), rafats (berkata-kata keji dan kotor, atau kata-kata yang menimbulkan birahi), fusuq (berbuat kefasikan dan kemaksiatan), dan dilaksanakan dari harta yang halal. Haji mabrur memiliki lima sifat:
1. Dilakukan dengan ikhlash (memurnikan niat dalam melaksanakan hajinya) hanya karena Allah Ta’ala semata, tanpa riya’ dan sum’ah.
2. Biaya pelaksanaan haji tersebut berasal dari harta yang halal. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إنَّ اللهَ طيِّبٌ ولا يقبلُ إلا طيبًا
“Sesungguhnya Allah Maha Baik, dan Ia tidak menerima kecuali hal yang baik…”. (HR Muslim, 1015).
3. Menjauhi segala dosa dan perbuatan maksiat, segala macam perbuatan bid’ah dan semua hal yang menyelisihi syariat. Karena, jika hal tersebut berdampak negatif terhadap semua amal shalih dan bahkan dapat menghalangi dari diterimanya amal tersebut, maka hal itu lebih berdampak negatif lagi terhadap ibadah haji dan keabsahannya. Hal ini berdasarkan beberapa dalil, di antaranya firman Allah Ta’ala:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji…” (QS al-Baqarah: 197).
4. Dilakukan dengan penuh akhlak yang mulia dan kelemah-lembutan, serta dengan sikap tawadhu’ (rendah hati) ketika ia berkendaraan, bersinggah sementara pada suatu tempat dan dalam bergaul bersama yang lainnya, dan bahkan dalam segala keadaannya.
5. Dilakukan dengan penuh pengagungan terhadap sya’a-irullah (syi’ar-syi’ar Allah). Dengan demikian, ia benar-benar dapat merasakan dan meresapi syi’ar-syi’ar Allah dalam ibadah hajinya. Sehingga, akan tumbuh dari dirinya sikap pengagungan, pemuliaan dan tunduk patuh kepada Allah Rabbul ‘Alamin. Dan tanda seseorang benar-benar telah melaksanakan hal tersebut adalah; ia melaksanakan tahapan demi tahapan rangkaian ibadah hajinya dengan tenang dan khidmat, tanpa ketergesa-gesa.
Memperbanyak dzikir, bertakbir, bertasbih, bertahmid dan istighfar adalah bentuk menghidupkan syi’ar Allah, terlebih lagi pasca haji. Dan sungguh Allah pun telah memerintahkan para hamba-Nya untuk mengagungkan, memuliakan dan menjaga kehormatan sya’a-irullah (syi’ar-syi’ar Allah). Allah berfirman:
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya…” (QS al-Hajj: 30).
Dan Allah juga berfirman:
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS al Hajj: 32).
Adapun sya’a-irullah (syi’ar-syi’ar Allah), maka maksudnya adalah lambang-lambang agama yang tampak jelas, yang di antaranya juga manasik (tata cara ibadah haji) ini. Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
“Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar-syi’ar Allah…” (QS al-Baqarah: 158).
Dan sungguh Allah Ta’ala telah menjadikan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar-Nya sebagai salah satu rukun dari rukun-rukun ketakawaan, dan bentuk penghambaan kepada-Nya. Syiar pasca haji yang membekas adalah memburu shalat jamaah dimasjid sebagaimana memburu shalat arbain ketika haji, dzikir bakdza shalat sebagaimana ketika wukuf, memburu taklim dan istiqamah menghadirinya, menebar banyak kemanfaatan dan peduli, seperti inilah hakekat dari haji mabrur yang bila istiqamah menjaga dan merawatnya akan melebihi pahala jihad sekalipun.  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(HR. Bukhari no. 1519)
Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha,
يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »
“Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama (afdhol) adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(HR. Bukhari no. 1520)
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
““Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.”
(HR. Bukhari no. 1521).

Senin, 19 Agustus 2019

Tagged under:

Doa Mohon Dzuriyah Thoyyibah

ONE DAY ONE DOA
Senin, 19  AGUSTUS 2019 M / 18  Dzulhijjah 1440 H

Oleh : Dr. AJang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)

Beberapa doa berikut tertera di dalam al Quran ketika seseorang mengharap dianugerahi keturunan yang shaleh-shalehah (Dzuriyah Thoyyibah) maka sebaiknya doa-doa berikut dipanjatkan di waktu-waktu mustajabah

رَبَّنَاهَبْ لَنَامِنْ اَزْوَاجِنَاوَذُرِّيَّتِنَاقُرَّةَاَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَالِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw, waj’alna lil muttaqiena immaa”.

Yang artinya:” Ya tuhan kami, Anugerahkanlah kepada kami jodoh kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yg bertaqwa.

(QS Al- Furqan :74)

Seseorang yang telah dewasa dan menginjak usia 40 tahun hendaknya memohon pada Allah SWT sebagai rasa syukur kepada Allah dan bentuk bakti kepada kedua orang tua serta mengharap dzuriyah thayyibah maka hendaklah berdoa sebagai berikut

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Robbi awzi’nii an asy-kuro ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala shoolihan tardhooh, wa ash-lihlii fii dzurriyatii, inni tubtu ilaika wa inni minal muslimiin”

[Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri].

(QS. Al Ahqaf: 15).

Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam selama 46 tahun berdoa kepada Allah SWT agar di anugerahi dzuriyah thayibah dengan selalu berdoa

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Robbi hablii minash shoolihiin”

[Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh]”.

(QS. Ash Shaffaat: 100).

Nabi Dzakariya ‘alaihis salaam hingga rambut memutih karena usia semakin senja masih tetap tidak bosan memohon agar dianugerahi dzuriyah thayyibah dengan berdo’a,

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Robbi hab lii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka samii’ud du’aa’”

[Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa]

(QS. Ali Imron: 38).

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendo’akan anak Ummu Sulaim, yaitu Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma dengan do’a,

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

“Allahumma aktisir maalahu wawaladahu, wabarik lahu fiimaa a’thaitahu”

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang engkau karuniakan padanya.”

(HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480).

Merujuk kepada hadis tersebut seseorang bisa berdo’a untuk meminta banyak keturunan yang shaleh-shalehah  pada Allah,

اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي

“Allahumma ak-tsir maalii wa waladii, wa baarik lii fiimaa a’thoitanii“

(Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau beri).”

Do’a tersebut dipanjatkan untuk meminta keturunan yang shaleh (dzuriyah thayibah) yang bisa menolong untuk meraih kebahagiaan didunia terlebih diakhirat. Al Qurtubi ra berkata,

ليس شيء أقر لعين المؤمن من أن يرى زوجته وأولاده مطيعين لله عز وجل.

“Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang mukmin selain melihat pasangan hidup dan keturunannya taat pada Allah ‘azza wa jalla.”

(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/333)

Redaksi doa tersebut sudah dibuktikan mustajabah, karena doa tersebut dipanjatkan oleh Nabi dan Rasul pilihan. Allah SWT memberikan suatu petunjuk yan sangat jelas bagi umat manusia, bagi kaum beriman mengenai cara untuk mendapatkan pasangan hidup, jodoh, dan keturunan yang menyejukkan hati. Setiap orang yang telah berumah tangga atau akan, pasti menginginkan si buah hati. Mungkin ada yang telah menanti bertahun-tahun, namun belum juga dikaruniai buah hati. Juga ada yang menginginkan agar anaknya menjadi sholeh. Maka perbanyaklah do’a akan hal tersebut.

Dzuriyah thayyibah akan didapat dimulai dari memilih pasangan hidup yang baik, yang mau taat syariat. Pasangan yang baik yang memiliki sinkronosasi dalam tujuan hidupnya, visi rumah tangga yang jelas, pemahaman yang baik, dan akhlak yang baik berpotensi untuk memiliki keturunan yang baik pula. Seperti contohnya Nabi Nuh yang ditakdirkan Allah mendapatkan istri yang kurang baik, sehingga melahirkan keturunan yang kurang baik bahkan durhaka yakni Kan’an dan Sun’an. Namun hal ini bukan berarti Nabi Nuh berperangai buruk sehingga mendapat istri yang berperilaku buruk. Hal ini bisa saja ujian dari Allah untuk menguji keimanan dan ketaatan Nabi Nuh as.

Islam menegaskan bahwa pernikahan adalah ibadah dan menikah sebagai sarana penyempurnaan iman. Namun, Membujang atau tidak menikah dengan berbagai alasan tetap tidak ada baiknya, bahkan cenderung bersebrangan dengan syariat Nabi Muhammad SAW. Padahal tujuan dari perintah Allah untuk menyegerakan menikah adalah untuk menghindarkan kita dari perbuatan dosa yaitu zina.  Jodoh adalah kewenangan yang Maha Kuasa. Manusia wajib berikhtiar, untuk mendapatkan pasangan hidup yang baik  langkah pertama adalah memantaskan diri dengan membaikkan citra dan perilaku terlebih dahulu. Pria yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula, begitu juga sebaliknya.

Minggu, 18 Agustus 2019

Tagged under:

Do’a Sesudah Wudhu

ONE DAY ONE DOA
Ahad, 18  AGUSTUS 2019 M / 17  Dzulhijjah 1440 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan, ‘Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu’ [Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.] kecuali Allah akan bukakan untuknya delapan pintu langit yang bisa dia masuki dari pintu mana saja.” 

HR. Muslim no. 234; Abu Dawud no. 169; At-Tirmidzi no. 55; An-Nasa’i 1/95 dan Ibnu Majah no. 470.

Di dalam riwayat At-Tirmidzi ada tambahan doa,

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ المُتَطَهِّرِينَ

“Allahummaj ‘alni minat tawwabiina waj’alnii minal mutathohhiriin [Ya Allah jadikanlah aku termasuk hamba-hambaMu yang rajin bertaubat dan menyucikan diri].” 

HR. Tirmidzi shahih dalam Shahihul Jami’ hadits no. 6046.

Matan doa setelah wudhu adalah sebagai berikut

اشهدان لااله الاالله وحده لا شر يك له واشهدو ان محمد ا ىبدوه ورسو له-
الهم اجعلنى من التو ابين واخعلنى من المطهر ين-

ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLOOHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN 'ABDUHUUWA ROSUULUHUU, ALLOOHUMMAJ'ALNII MINAT TAWWAABIINA WAJ'ALNII MINAL MUTATHOHHIRIINA

Artinya

Aku mengaku bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku mengaku bahwa Nabi Muhammad itu adalah hamba dan Utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci (sholeh)

Pengertian Wudlu menurut bahasa mempunyai artian bersih dan indah, sedangkan untuk menurut syara mempunyai arti membersihkan bagian anggota tubuh untuk menghilangkan hadast kecil sebelum anda mengerjakan shalat (shalat wajib dan sunnah) atau untuk keperluan lainnya yang dianggap sebagai sunah, yaitu  ketika akan membaca al Qur’an, menjelang tidur,  dan lain-lain. Perlu diingat bahwa  shalat  dengan tanpa wudhu maka tidak sah shalatnya.

Tata cara melakukan wudhu sangat simple tetapi mempunyai manfaat atau keutamaan wudhu yang sangat ajaib dan luar biasa karena manfaat wudhu selain untuk menghapus dosa-dosa kecil, berwudhu juga bisa mengangkat derajat dan kedudukan seseorang didalam surga. Dan hadis tersebut mengabarkan kepada kita bahwa menyempurnakan wudhu menjadi wasilah untuk dibukakan pintu surga yang delapan dan disuruh masuk melalui pintu yang dikendaki. Syaratnya wudhunya sempurna, biasanya yang sering menyebabkan tidak sempurna karena bagian sikutnya tidak dilebihkan ketika membasuh dan yang terpenting bagian telapak kai harus diusap karena rata-rata airnya dari kran berasal mengucur dari atas, sehingga bila tidak diusap, berarti tidak terbasahi ketika wudhu, sekalipun basah bukan karena dibasuh tetapi karena menginjak lantai yang basah.    Bila tidak disuap dengan tangan, jangankan telapak kaki, bahkan dibelakang mata kaki biasanya tidak terbasuh air wudhu. Oleh karena itu para orang tua dan guru agama serta para ustadz mohon untuk lebih konsen dalam bab wudhu tersebut.

Tentang wudhu bisa menghapus dosa, Nabi Muhammad SAW bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Muslim no 586 :
“Maukah kalian aku tunjukkan tentang amalan yg dengan-nya Allah menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat derajat-derajat?” Lalu mereka (sahabat) berkata, “Mau, Wahai Rasullullah” kemudian beliau bersabda “Amalan itu adalah menyempurnakan wudhu di waktu yg tak menyenangkan, Banyak-nya langkah menuju masjid dan menunggu shalat setelah menunaikan shalat (HR. Muslim Ayat 586)”. Sedangkan untuk hukum berdoa setelah wudhu itu sunnah sehingga jika dikerjakan akan mendapatkan pahala dan sekaligus harapan baik kepada Allah SWT untuk mengabulkan sesuai yang diucapkan. Dalam membaca do’a setelah wudhu memang tidak wajib dan bukan rukun wudhu, namun dalam hal ini apabila di kerjakan hal ini akan menambah keutamaan.

Ibadah yang utama didahului dengan membersihkan fisik, melalui wuhdu. Dalam wudhu terkandung hikmah yang mengisyaratkan kepada kita bahwa hendaknya seorang muslim memulai ibadah dan kehidupannya dengan kesucian lahir batin. Sebab kata thaharah berasal dari kata yang mengandung makna “kebersihan dan keindahan”.

Wudhu disyariatkan bukan hanya ketika kita hendak beribadah, bahkan juga disyariatkan pada seluruh kondisi. Oleh karena itu, seorang muslim dianjurkan agar selalu dalam kondisi bersuci (wudhu) sebagaimana yang dahulu yang dilazimi oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang mulia. Mereka senantiasa berwudhu, baik dalam keadaan senang ataupun susah dan kurang menyenangkan (seperti saat muslim hujan dan dingin).

Doa lain yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallams setelah berwudhu diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من تَوَضَّأ فَقَالَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِك أشهد أَن لَا إِلَه إِلَّا أَنْت استغفرك وَأَتُوب إِلَيْك كتب فِي رق ثمَّ طبع بِطَابع فَلم يكسر إِلَى يَوْم الْقِيَامَة

“Barangsiapa yang berwudhu kemudian setelah berwudhu mengucapkan doa,’Subhaanaka allahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika’ [Maha suci Engkau ya Allah, segala puji untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu] maka akan ditulis di lembaran berwarna putih kemudian di-stempel dan tidak akan hancur sampai hari kiamat.”

HR. An-Nasa’i dalam ‘Amal Yaum wal Lailah no. 30. Hadis ini shahih dalam Shahihul Jami’ hadits no. 6046.

Jumat, 16 Agustus 2019

Tagged under: ,

Syariah Islam Mewujudkan Kemerdekaan Hakiki

Buletin Kaffah No. 102, 15 Dzulhijjah 1440 H-16 Agustus 2019

Umat dan bangsa manapun pasti memimpikan kehidupan yang “terang-benderang”. Untuk itulah, umat dan bangsa di berbagai belahan dunia bangkit memperjuangkan kemerdekaan mereka dari penjajah. Namun demikian, bukan berarti setelah merdeka dari penjajahan fisik, lantas kemerdekaan hakiki bisa serta-merta diwujudkan. Banyak bangsa yang sudah merdeka, tetapi sejatinya belum lepas dari penjajahan. Pasalnya, penjajah hanya mengubah gaya penjajahannya. Penjajahan tidak lagi secara fisik, tetapi secara non-fisik. Di antaranya dengan menggunakan sistem dan hukum penjajah, menggunakan orang-orang yang dipersiapkan dan dididik untuk menjadi komprador yang mengabdi kepada kepentingan penjajah, juga menggunakan pendekatan ekonomi melalui sistem ekonomi yang didesain untuk mengalirkan kekayaan dari wilayah yang dieksploitasi kepada para kapitalis dan negara penjajah.

Penjajahan Gaya Baru Lebih Berbahaya

Ironisnya, sistem dan hukum yang dipersiapkan oleh penjajah itu terus diterapkan dan dipertahankan di negara-negara bekas jajahan. Bahkan pembaruan sistem dan hukum pun sering dilakukan dengan arahan dan bimbingan dari penjajah. Penjajahan gaya baru ini lebih berbahaya dari penjajahan gaya kuno/penjajahan secara fisik. Sebab penjajahan gaya baru itu lebih sulit dikenali. Bahkan tak sedikit pihak yang dijajah dengan penjajahan gaya baru ini tidak merasa dan tidak menyadari sedang dijajah. Malah sebaliknya, mereka merasa sedang dibebaskan, dimerdekakan dan dimakmurkan.

Penjajahan gaya baru sebenarnya mudah disadari jika kita mau membuka hati dan pikiran; mau berpikir dan bersikap kritis terhadap keadaan. Dengan menilai fakta yang terjadi dan membandingkannya dengan klaim dan propaganda yang disebar, penjajahan gaya baru itu bisa dirasakan dan disadari.

Dalam demokrasi, misalnya, rakyat diklaim sebagai pemilik kedaulatan. Faktanya, mereka minim sekali menentukan hukum dan UU. Hukum dan UU itu dibuat malah dengan arahan pihak asing tanpa memperhatian aspirasi rakyat. Itulah penjajahan. Kekayaan alam dikatakan sebagai milik rakyat. Faktanya, kekayaan alam itu dikuasai oleh swasta asing maupun swasta dalam negeri. Hasilnya pun lebih banyak mengalir ke luar negeri.  Itulah penjajahan. Segelintir orang bahkan asing bisa menguasai jutaan hektar tanah negeri ini. Sebaliknya, banyak sekali rakyat yang tidak punya tanah dan hanya menjadi kuli penggarap. Itu pun bisa dikatakan merupakan bentuk penjajahan.

Demikian pula utang luar negeri yang dijadikan alat mendiktekan kebijakan. Ironisnya, utang luar negeri terus diambil. Bahkan jumlahnya makin bertambah. Akibatnya, penjajahan gaya baru melalui utang terus berjalan. Bahkan sekarang lebih dalam lagi. Utang Pemerintah Pusat terus meningkat. Per akhir Juni 2019 sudah mencapai Rp 4.570,17 triliun (CNNIndonesia, 17/7/2019). Jumlah utang itu tidak akan turun. Justru hampir dipastikan naik terus.

Utang luar negeri sekarang tidak hanya dijadikan alat untuk memaksakan kebijakan. Seperti disinyalir oleh banyak pihak, utang juga digunakan untuk memaksakan penggunaan bahan dari negara pemberi utang meski di dalam negeri banyak tersedia; juga penggunaan tenaga kerja hingga level pekerja kasar, meski masih banyak rakyat tidak punya kerjaan.

Tentu masih banyak fakta-fakta lain yang menunjukkan adanya penjajahan gaya baru atas negeri ini. Selama sistem yang diterapkan adalah sistem yang didesain untuk melanggengkan eksploitasi seperti itu maka penjajahan tidak akan bisa dihentikan. Upaya menghentikan penjajahan gaya baru ini tentu harus dilakukan melalui sistem yang memang didesain untuk memerdekakan umat manusia dari segala bentuk penjajahan dan eksploitasi.

Menghentikan Penjajahan

Islam jelas bisa menghentikan eksploitasi kekayaan alam oleh asing dan swasta serta mengembalikan kekayaan alam itu kepada  rakyat sebagai pemiliknya. Pasalnya, Islam sejak awal telah mengharamkan kepemilikan dan penguasaan kekayaan alam yang depositnya besar oleh individu, swasta apalagi asing.

Islam juga akan m

enghentikan utang ribawi. Sebab Islam memang sejak awal telah mengharamkan utang ribawi. Pengambilan utang yang jelas menimbulkan bahaya (dharar) juga dilarang.

Islam diturunkan oleh Allah SWT memang untuk memerdekakan umat manusia secara hakiki dari segala bentuk penjajahan. Penjajahan itu hakikatnya merupakan bagian dari bentuk penghambaan kepada manusia. Penghambaan kepada sesama manusia tidak hanya diartikan secara harfiah sebagai perbudakan seperti dulu. Penghambaan kepada sesama manusia pada masa modern ini terwujud dalam bentuk penyerahan wewenang pembuatan aturan, hukum dan perundang-undangan kepada manusia, bukan kepada  Allah SWT. Inilah yang menjadi doktrin demokrasi: kedaulatan di tangan rakyat (manusia). Lebih parah lagi jika aturan, hukum dan perundang-undangan tersebut diimpor dari pihak asing/penjajah.

Allah SWT melukiskan penghambaan ini dalam firman-Nya:

﴿اِتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ …﴾
Mereka (Bani Israel) menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah… (TQS at-Taubah [9]: 31).

Makna ayat tersebut dijelaskan dalam riwayat dari jalur Adi bin Hatim ra. Ia menuturkan bahwa setelah Rasulullah saw. membaca ayat tersebut, ia (Adi bin Hatim) berkata, “Kami tidak menyembah mereka.” Namun, Rasulullah saw. bersabda:

«أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتُحَرِّمُونُهُ، ويُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ اللهُ فَتَسْتَحِلُّونَهُ؟» قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: «فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ»
Bukankah mereka (para rahib dan pendeta) itu telah mengharamkan apa yang Allah halalkan lalu kalian mengharamkannya, dan mereka pun telah menghalalkan apa yang Allah haramkan lalu kalian menghalalkannya?” Aku (Adi bin Hatim) berkata, “Benar.” Rasulullah saw. bersabda, “Itulah bentuk penyembahan mereka.” (HR ath-Thabarani  dan al-Baihaqi).

Penghambaan dalam bentuk penyerahan kekuasaan menentukan hukum, halal dan haram, kepada manusia itu jelas masih berlangsung di seluruh dunia, termasuk di negeri kaum Muslim, tak terkecuali negeri ini. Karena itu mewujudkan kemerdekaan hakiki manusia juga berarti harus memerdekakan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia. Penghambaan itu haruslah hanya ditujukan kepada Allah SWT.

Kemerdekaan Hakiki

Mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah SWT sesungguhnya berarti mewujudkan kemerdekaan hakiki untuk umat manusia. Inilah yang merupakan misi utama Islam. Dalam pandangan Islam, kemerdekaan hakiki terwujud saat manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia. Dengan kata lain Islam menghendaki agar manusia benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya.

Terkait misi kemerdekaan Islam ini, Rasulullah saw. pernah menulis surat kepada penduduk Najran. Di antara isinya berbunyi:

«... أَمّا بَعْدُ فَإِنّي أَدْعُوكُمْ إلَى عِبَادَةِ اللّهِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ وَأَدْعُوكُمْ إلَى وِلاَيَةِ اللّهِ مِنْ وِلاَيَةِ الْعِبَادِ  ...»
...Amma ba’du. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia)… (Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, v/553).

Misi Islam mewujudkan kemerdekaan hakiki untuk seluruh umat manusia itu juga terungkap kuat dalam dialog Jenderal Rustum (Persia) dengan Mughirah bin Syu’bah yang diutus oleh Panglima Saad bin Abi Waqash ra. Pernyataan misi itu diulang lagi dalam dialog Jenderal Rustum dengan Rab’i bin ‘Amir (utusan Panglima Saad bin Abi Waqash ra.). Ia diutus setelah Mughirah bin Syu’bah pada Perang Qadisiyah untuk membebaskan Persia. Jenderal Rustum bertanya kepada Rab’i bin ‘Amir, “Apa yang kalian bawa?” Rab’i bin menjawab, “Allah telah mengutus kami. Demi Allah, Allah telah mendatangkan kami agar kami mengeluarkan siapa saja yang mau dari penghambaan kepada sesama hamba (manusia) menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari kesempitan dunia menuju kelapangannya; dan dari kezaliman agam

a-agama (selain Islam) menuju keadilan Islam…” (Ath-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk, II/401).

Islam sebagai agama dan sistem yang berasal dari Allah Yang Mahabijak telah didesain akan mengantarkan ke kehidupan “terang-benderang” untuk umat manusia. Sebab Allah SWT telah menyatakan bahwa Islam diturunkan agar dengan itu Rasul saw. mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya. Allah SWT berfirman:

﴿الر.كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ﴾
Alif, laam raa. (Inilah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita menuju cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji (TQS Ibrahim [14]: 1).

Harus dicatat, mewujudkan kehidupan dan masa depan yang “terang-benderang” sekeligus memerdekakan manusia dari segala bentuk penjajahan kuncinya adalah dengan menerapkan Islam dan syariahnya secara kaffah; secara totalitas dan menyeluruh. Itulah tanggung jawab dan kewajiban kita sebagai hamba Allah dan tanggung jawab kita kepada umat manusia. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Hikmah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh nyata kalian.
(TQS al-Baqarah [2]: 2018). []

Rabu, 14 Agustus 2019

Tagged under: ,

Merenungkan Kembali Pesan-Pesan Nabi SAW. Dalam Khutbah Wada’

Buletin Kaffah No. 101, 8 Dzulhijjah 1440 H-9 Agustus 2019

Ahad, 11 Agustus 2019, bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1440 H, umat Islam sedunia insya Allah akan merayakan Hari Raya Idul Adha secara bersama-sama.

Idealnya Hari Raya Idul Adha adalah hari sukacita. Hari Raya Idul Kurban sejatinya adalah hari kegembiraan. Namun sayang, bagi sebagian umat Islam, sukacita itu masih terkubur oleh dukacita. Kegembiraan masih tertutupi oleh kabut kesengsaraan. Perayaan Hari Raya Kurban mesih diselimuti oleh ragam penderitaan.

Palestina, misalnya, masih terus dirundung duka. Puluhan tahun dicengkeram Zionis sang durjana. Rohingnya masih amat menderita. Terus menjadi mangsa rezim Budha yang hina. Uighur masih tersungkur. Dipenjara dan terus disiksa. Oleh rezim kejam komunis Cina. Suriah masih terluka parah. Menjadi korban kebiadaban rezim haus darah. Sekaligus menjadi rebutan negara-negara kafir penjajah.

Di belahan bumi yang lain, termasuk di negeri ini, kaum Muslim masih tetap terpinggirkan. Masih menjadi korban ketidakadilan. Sekaligus tumbal kebencian para pembenci Islam. Isu radikalisme terus digaungkan. Sama dengan isu terorisme sebelumnya. Yang mulai terkuak kedoknya. Nyata penuh dusta. Penuh rekayasa. Hanya jadi alat untuk terus menistakan kaum Muslim di seluruh dunia. Termasuk di Bumi Nusantara.

Yang makin mengiris hati, ajaran Islam mulai banyak dipersoalkan. Simbol-simbolnya mulai sering dipermasalahkan. Justru oleh mereka yang mengaku Muslim toleran. Jilbab dan busana Muslimah, fenomena artis berhijrah, isu syariah dan khilafah, hingga pengibaran Liwa dan Rayah seolah makin  membuat mereka gerah.

Di sisi lain, ragam krisis terus melanda negeri ini, khususnya krisis ekonomi. Kemiskinan tak pernah beranjak pergi. Angka pengangguran makin tinggi. PHK terjadi di sana-sini. Utang luar negeri makin menjadi-jadi. Banyak BUMN terus merugi. Negeri ini pun seolah tak pernah bisa lepas dari jeratan kasus korupsi. Terutama yang melibatkan para pejabat tinggi. Saat yang sama, perusahaan-perusahaan asing terus dibiarkan menjarah kekayaan alam negeri ini. Ironisnya, semua itu terjadi, justru saat penguasa dan para pejabatnya lantang berteriak, “NKRI Harga Mati”! Seraya tetap setia menerapkan sistem demokrasi. Yang sudah terbukti berkali-kali. Gagal memakmurkan dan mensejahterakan rakyat negeri ini.

Karena itu, di tengah nestapa dan derita bangsa ini, juga dalam momen Idul Adha yang begitu syahdu tahun ini, kita layak merenung sejenak. Mentafakuri pesan-pesan-pesan Nabi saw. saat Khutbah Wada’, sekitar 14 abad yang lewat, di hadapan sekitar 140 ribu jamaah haji. Beliau antara lain berkhutbah sebagai berikut:

Wahai manusia, sungguh darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian sama sucinya dengan sucinya hari ini, negeri ini dan bulan ini…Siapa saja yang memiliki amanah, tunaikanlah amanah itu kepada orang yang berhak menerimanya. Ingatlah, semua perkara Jahiliah sudah aku campakkan di bawah kedua telapak kakiku…Urusan (pertumpahan) darah Jahiliah juga sudah dihapus. Sungguh riba Jahiliah pun sudah dilenyapkan…

Wahai manusia…Sungguh aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian suatu perkara yang amat jelas. Jika kalian berpegang padanya, kalian tidak akan pernah tersesat selama-lamanya. Itulah Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.

Wahai manusia…Sungguh setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain…

Wahai manusia, ingatlah, Tuhan kalian satu. Bapak kalian juga satu. Setiap kalian berasal dari Adam. Adam berasal dari tanah. Yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian…

Ingatlah, hendaknya orang yang hadir dan menyaksikan menyampaikan pesan ini kepada yang tidak hadir…

Demikianlah sebagian isi khutbah Baginda Nabi saw. sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ahmad.

Dari apa yang Baginda Nabi saw. sampaikan di atas, ada sejumlah hal yang beliau nasihatkan kepada kita, yang selayaknya kita renungkan dan sungguh-sungguh harus kita amalkan. Di antaranya:

Pertama, kita diperintahkan

untuk menjaga darah, harta dan kehormatan sesama. Apalagi beliau juga bersabda:
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
Mencela seorang Muslim adalah kefasikan. Membunuh dirinya adalah kekufuran (HR al-Bukhari dan Muslim).

Kedua, kita diperintahkan untuk memberikan amanah kepada ahlinya. Termasuk amanah kepemimpinan. Ini sesuai dengan firman Allah SWT:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا...
Sungguh Allah telah memerintahkan kalian agar menunaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya… (TQS an-Nisa’ [4]: 58).

Tentang amanah kepemimpinan, Rasulullah saw. pun mengingatkan:
إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Sungguh kalian begitu berhasrat atas kepemimpinan (kekuasaan), padahal kepemimpinan (kekuasaan) itu bisa berubah menjadi penyesalan pada Hari Kiamat kelak (HR al-Bukhari).

Faktanya, hari ini kita menyaksikan tontonan yang amat menyedihkan. Antar partai politik gontok-gontokan. Antar koalisi saling berebut kursi kekuasaan. Mereka tak sungkan saling sikut demi jabatan. Bahkan tak segan saling menjatuhkan. Saat yang sama, nasib rakyat terlupakan. Bahkan seolah tak mereka pedulikan.

Ketiga, kita diperintahkan agar meninggalkan semua muamalah, tradisi, hukum dan sistem Jahiliah. Sebab semua itu bertentangan dengan Islam (Lihat juga: QS al-Maidah [5]: 50).

Di antara perkara Jahiliah yang telah dihapus oleh Rasulullah saw. sehingga wajib ditinggalkan adalah riba.

Namun sayang, hari ini riba bukan saja merajalela. Riba bahkan telah menjadi pilar utama ekonomi negara. Tidak aneh jika utang luar negeri ribawi, dengan bunga sangat tinggi, berpeluang membangkrutkan negeri ini. Anehnya, kita terus mengabaikan nasihat Baginda Nabi saw. yang mulia ini. Padahal jelas, nasihat beliau untuk menjauhi riba lebih layak ditujukan kepada kita hari ini, daripada ditujukan kepada para Sahabat, yang sejak awal telah mencampakkan riba.

Keempat, kita diingatkan oleh beliau untuk tidak merasa unggul dari bangsa dan umat lain. Sebab keunggulan manusia atas manusia lain di sisi Allah SWT hanya karena ketakwaannya (Lihat pula: QS al-Hujurat [49]: 13).

Kelima, kita diharuskan oleh beliau untuk senantiasa memelihara tali persaudaraan dengan sesama kaum Muslim. Beliau pun menegaskan:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ
Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain. Seorang Muslim tidak boleh menzalimi, merendahkan dan menghina saudaranya (HR Muslim).

Namun sayang, hari ini tali persaudaraan Islam seolah lenyap. Bahkan antar kelompok umat Islam bisa saling berhadap-hadapan. Asal berbeda mazhab, bisa saling bertindak tak beradab. Asal beda paham, bisa saling melemparkan tudingan. Asal beda organisasi, bisa saling mem-bully. Bahkan tega mempersekusi. Asal beda kepentingan, bisa saling menggunting dalam lipatan. Asal teriak “Saya Pancasila”, bisa seenaknya menista pihak yang berbeda. Asal melempar tudingan “radikal”, bisa dengan mudah melakukan tindakan di luar akal.

Di luar negeri, hari ini kaum Muslim tampak lebih mementingkan ego kebangsaan masing-masing. Mareka tak peduli pada kondisi saudaranya. Bahkan yang lebih ironis, beberapa negara Muslim seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab memberikan dukungan kepada Pemerintah Komunis Cina yang melakukan kezaliman terhadap umat Muslim di Xinjiang.

Padahal tegas Allah SWT telah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ...
Kaum Mukmin itu sesungguhnya bersaudara... (TQS al-Hujurat [49]: 10).

Keenam, kita pun diharuskan oleh beliau untuk selalu menyampaikan nasihat kepada orang lain. Di antara nasihat yang paling utama adalah nasihat yang ditujukan kepada penguasa. Agar mereka tidak terus melakukan kezaliman. Kezaliman terbesar penguasa tidak lain saat mereka tidak menerapkan al-Quran. Saat mereka tidak menerapkan syariah Islam (Lihat: QS al-Maidah [5]: 45).

Karena itu tugas kitalah, segenap komponen umat Islam, apalagi para ulama dan para da’inya, untuk terus mendorong penguasa agar memerintah dengan al-Quran.

Ketujuh, kita diwajibkan oleh beliau

untuk selalu berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah. Baginda Nabi saw. telah menjamin. Siapapun yang istiqamah berpegang teguh pada keduanya, tak akan pernah tersesat selama-lamanya.

Namun sayang, apa yang dipesankan Baginda Nabi saw. 14 abad lalu, tak banyak diindahkan oleh kita hari ini. Al-Quran dan as-Sunnah tak lagi kita pedulikan, kecuali sebatas bacaan. Fakta hari ini berbicara: Banyak keharaman dihalalkan. Banyak pula perkara halal diharamkan. Tak jarang, semua itu dilegalkan oleh undang-undang. Lewat mekanisme demokrasi yang dibangga-banggakan. Riba, misalnya, telah lama dihalalkan. Miras pun dilegalkan meski dibatasi peredarannya. Zina tak dipandang sebagai kejahatan. LGBT pun tak boleh dikriminalkan karena itu melanggar HAM.

Di sisi lain, syariah Islam seolah haram untuk diterapkan. Institusi penerap syariah, yakni Khilafah, juga terlarang diperjuangkan. Bahkan tak boleh meski sekadar diwacanakan. Para aktivisnya mereka kriminalisasikan. Organisasinya mereka bubarkan. Dengan tuduhan yang diada-adakan. Padahal jelas, Khilafah adalah bagian penting dari ajaran Islam, yang wajib ditegakkan. Bahkan Khilafah pernah punya kaitan sejarah, juga kontribusi nyata, dalam penyebaran Islam melalui Wali Songo di Bumi Nusantara tercinta ini. []

Hikmah:

Abu Hurairah ra. bertutur:
سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ الْإِيمَانُ بِاللَّهِ قَالَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ ثُمَّ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ
Seseorang pernah bertanya kepada Nabi saw., “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah.” Ia bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menajwab, “Jihad di jalan Allah.” Ia bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Haji mabrur.”
(HR an-Nasa’i). []