image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Sabtu, 12 Juni 2021

Tagged under: ,

Pelayanan Ibadah Haji Sepenuh Hati

Buletin Dakwah Kaffah No. 196 (30 Syawal 1442 H/11 Juni 2021 M)

Jamaah haji Indonesia tahun ini kembali gagal berangkat. Pemerintah melalui Kemenag membatalkan pemberangkatan calon jamaah haji. Alasannya, masih pandemi. 

Pembatalan ini menimbulkan persoalan lain, yakni menambah panjang daftar antrian keberangkatan calon jamaah haji di Tanah Air. Sampai tahun ini, antrian terlama di Indonesia adalah pada tahun 2055.

Haji: Kewajiban Agung

Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam dan kewajiban agung dalam Islam. Sabda Nabi saw.:

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun atas lima perkara; kesaksian bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; haji dan shaum Ramadhan (HR al-Bukhari).
 
Ibadah haji merupakan kewajiban dari Allah SWT atas kaum Muslim:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Ibadah haji adalah kewajiban manusia kepada Allah, yaitu bagi yang mampu melakukan perjalanan ke Baitullah. Siapa saja yang mengingkari (kewajiban haji), sungguh Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (TQS Ali Imran [3]: 97).

Imam Ibnu Katsir menukil riwayat dari Ibnu Abbas, Mujahid dan yang lainnya, tentang firman Allah, “Siapa saja yang mengingkari (kewajiban haji), sungguh Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam,” maknanya, “Siapa saja yang mengingkari kewajiban haji sungguh telah kafir dan Allah tidak memerlukan dirinya.” (Tafsir Ibnu Katsîr, 2/84).

Ibn Abbas ra. berkata: 

قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ الْحَجُّ كُلَّ عَامٍ؟ قَالَ: (لاَ بَلْ حَجَّةً)؟ قِيْلَ: فَمَا السَّبِيْلُ، قَالَ: (الزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ).

Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah haji wajib setiap tahun?” Beliau menjawab, “Tidak, tetapi sekali (seumur hidup).” Ada yang bertanya, “Lalu, apa yang dimaksud dengan jalan (ke Baitullah)” Beliau menjawab, “Bekal dan kendaraan." (HR ad-Daruquthni).
 
Prof. DR. Wahbah Zuhaili merangkum keterangan para ulama yang menjelaskan bahwa yang dimaksud batas kemampuan di sini adalah mampu badaniyah, maliyah dan amaniyah (Wahbah Zuhaili, Fiqh al-Islam wa Adilatuhu, 3/25). 

Mampu secara badaniyah adalah sehat sehingga mampu menempuh perjalanan dan bisa melaksanakan semua rukun haji dengan sempurna. 

Mampu secara maliyah adalah adanya kecukupan harta untuk berangkat ke Tanah Suci dan kembali ke negeri asalnya, untuk bekal perjalanan serta untuk keluarga yang wajib dinafkahi. Kewajiban haji tidak berlaku bagi Muslim yang tidak mampu sampai ia punya harta yang mencukupi. 

Selain itu, juga ada istitha’ah dalam keamanan (amaniyah). Artinya, keamanan calon jamaah haji terjamin baik dari gangguan penjahat seperti perampok, begal, ataupun peperangan. Termasuk aman dari gangguan alam seperti badai di lautan, juga wabah penyakit yang berbahaya. 

Karena itu jika ada kondisi yang merintangi dan mengancam keselamatan kaum Muslim dalam perjalanan haji, sementara halangan tersebut tidak bisa dihilangkan, maka hal demikian jadi pembatal syarat istitha’ah dalam berhaji. Dalam sejarah, beberapa kali memang terjadi pembatalan ibadah haji, misalnya karena wabah pada tahun 1814, juga pada tahun 1837 dan kolera tahun 1846. 

Khilafah Pelayan Tamu Allah

Ibadah haji sejatinya adalah fardhu bagi setiap Muslim yang mampu atau istitha’ah. Namun demikian, syariah Islam juga menetapkan Imam/Khalifah untuk mengurus pelaksanaan haji dan keperluan para jamaah haji. Sebabnya, Imam/Khalifah adalah ra’in (pengurus rakyat). Sabda Nabi saw.:

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari).

Catatan sejarah menunjukkan betapa besar perhatian dan pelayanan yang diberikan para khalifah kepada jamaah haji dari berbagai negara. Mereka dilayani dengan sebaik-baiknya sebagai tamu-tamu Allah. Pelayanan itu dilakukan tanpa ada unsur bisnis, investasi atau mengambil keuntungan dari pelaksanaan ibadah haji. Semua merupakan kewajiban yang harus dijalankan negara. 

Ada beberapa langkah yang dilakukan oleh Khilafah dalam melayani para jamaah haji ini. Pertama: Khalifah menunjuk pejabat khusus untuk memimpin dan mengelola pelaksanaan haji dengan sebaik-baiknya. Mereka dipilih dari orang-orang yang bertakwa dan cakap memimpin. Rasulullah saw. pernah menunjuk ‘Utab bin Asad, juga Abu Bakar ash-Shiddiq ra., untuk mengurus dan memimpin jamaah haji. Rasulullah saw. juga pernah memimpin langsung pelaksanaan ibadah haji pada saat Haji Wada’. Pada masa Kekhilafahan Umar ra., pelaksanaan ibadah haji pernah diserahkan kepada Abdurrahman bin Auf ra. Ibadah haji juga pernah dipimpin oleh Khalifah Umar ra. hingga masa akhir Kekhilafahannya. Pada masa Khalifah Utsman ra., pelaksanaan haji juga pernah dipimpin oleh Abdurrahman bin Auf ra.

Kedua: Jika negara harus menetapkan ONH (ongkos naik haji), maka nilainya tentu akan disesuaikan dengan biaya yang dibutuhkan oleh para jamaah berdasarkan jarak wilayahnya dengan Tanah Haram (Makkah-Madinah), serta akomodasi yang dibutuhkan selama pergi dan kembali dari Tanah Suci. Dalam penentuan ONH ini, paradigma negara Khilafah adalah ri’ayatu syu’un al-hujjaj wa al-‘ummar (mengurus urusan jamaah haji dan umrah). Bukan paradigma bisnis, untung dan rugi. Khilafah juga bisa membuka opsi: rute darat, laut dan udara. Masing-masing dengan konsekuensi biaya yang berbeda. 

Ketiga: Khalifah berhak untuk mengatur kuota haji dan umrah. Dengan itu keterbatasan tempat tidak menjadi kendala bagi para calon jamaah haji dan umrah. Dalam hal ini, Khalifah harus memperhatikan: (1) Kewajiban haji hanya berlaku sekali seumur hidup; (2) Kewajiban haji hanya berlaku bagi mereka yang memenuhi syarat dan berkemampuan. Bagi calon jamaah yang belum pernah haji, sementara sudah memenuhi syarat dan berkemampuan, maka mereka akan diprioritaskan. Dengan begitu antrian panjang haji akan bisa dipangkas karena hanya yang benar-benar mampu yang diutamakan.

Keempat: Khalifah akan menghapus visa haji dan umrah. Pasalnya, di dalam sistem Khilafah, kaum Muslim hakikatnya berada dalam satu kesatuan wilayah. Tidak tersekat-sekat oleh batas daerah dan negara, sebagaimana saat ini. Seluruh jamaah haji yang berasal dari berbagai penjuru Dunia Islam bisa bebas keluar masuk Makkah-Madinah tanpa visa. Mereka hanya perlu menunjukkan kartu identitas, bisa KTP atau Paspor. Visa hanya berlaku untuk kaum Muslim yang menjadi warga negara kafir, baik kafir harbi hukm[an] maupun fi’l[an].

Kelima: Khalifah akan membangun berbagai sarana dan prasarana untuk kelancaran, ketertiban, keamanan dan kenyamanan para jamaah haji. Dengan begitu faktor-faktor teknis yang dapat mengganggu apalagi menghalangi pelaksanaan ibadah haji dapat disingkirkan sehingga istitha’ah amaniyah dapat tercapai.

Pembangunan sarana-prasarana haji mencakup sarana transportasi menuju Tanah Suci hingga tempat-tempat pelaksanaan ibadah haji seperti Masjidil Haram, Mina, Arafah, dsb. Semua itu dimaksudkan agar bisa menampung banyak jamaah serta dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan beribadah.

Pada masa Khilafah Utsmaniyah, Sultan ‘Abdul Hamid II membangun sarana transportasi massal dari Istanbul, Damaskus hingga Madinah untuk mengangkut jamaah haji yang dikenal sebagai Hijaz railway. Jauh sebelum Khilafah Utsmaniyah, Khalifah ‘Abbasiyyah, Harun ar-Rasyid, membangun jalur haji dari Irak hingga Hijaz (Makkah-Madinah), termasuk membangun saluran air yang menjamin jamaah haji tidak kekurangan air sepanjang perjalanan. Di masing-masing titik dibangun pos layanan umum, yang menyediakan logistik, termasuk dana zakat bagi yang kehabisan bekal. Pembangunan saluran air bagi jemaah haji itu diinisiasi oleh istri Khalifah Harun ar-Rasyid yang bernama Zubayda. Diriwayatkan untuk proyek itu ia mengeluarkan uang hingga 1,7 juta dinar atau setara dengan tujuh triliun dua ratus dua puluh lima miliar rupiah!

Keenam: Pada masa pandemi atau wabah, Khilafah akan berusaha tetap menyelenggarakan haji dengan melakukan penanganan sesuai protokol kesehatan seperti menjamin sanitasi, menjaga protokol kesehatan selama pelaksanaan haji, pemberian vaksin bagi para jamaah haji, sarana kesehatan yang memadai, serta tenaga medis yang memadai. 

Khilafah tidak akan menutup pelaksanaan ibadah haji, tetapi akan melakukan 3T (testing, tracing, treatment/pengetesan, pelacakan dan perlakuan) sesuai protokol kesehatan pada warga. Mereka yang terbukti sakit akan dirawat sampai sembuh. Mereka yang sehat tetap diizinkan beribadah haji. Menutup pelaksanaan haji dan umrah adalah tindakan yang keliru karena menghalangi orang yang akan beribadah ke Baitullah.

Semua aktivitas Khilafah dalam pengurusan haji itu dilakukan dengan prinsip ri’ayah (pelayanan), bukan bersifat komersil atau mengambil keuntungan dari jamaah. Berbeda dengan hari ini. Pengurusan haji diurus oleh negara masing-masing tanpa ada kesatuan pelayanan karena tiada kesatuan kepemimpinan. Akibatnya, sering muncul konflik kepentingan dan kesemrawutan semisal pembagian kuota, komersialisasi hotel, tiket, katering, dsb.

Demikianlah keagungan pelayanan haji yang dilakukan oleh para khalifah. Mereka benar-benar berkhidmat melayani tamu-tamu Allah sesuai dengan syariah Islam. Tanpa pelayanan dari pemimpin yang bertumpu pada syariah, pelaksanaan ibadah haji sering terkendala, dan bukan tidak mungkin menjadi ajang mencari keuntungan bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.[]

---*---

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

والحَجُّ المَبْرُورُ ليسَ له جَزَاءٌ إلَّا الجَنَّةُ

Tidak ada balasan bagi haji mabrur, kecuali surga. (HR al-Bukhari dan Muslim). []

---*---

Download file PDF versi mobile:
http://bit.ly/kaffah196m

Download file PDF versi cetak:
http://bit.ly/kaffah196

Jumat, 11 Juni 2021

Tagged under:

Akibat Salah Urus BUMN

Oleh: Titi Hutami

Rasanya sulit dipercaya bahwa semua BUMN (Badan Usaha Milik Negara) secara bersamaan mengalami kerugian, bahkan memiliki utang yang jumlahnya sangat fantastis. Perusahaan Listrik Negara (PLN)memiliki utang 500 triliun (https://finance.detik.com/energi/d-5593031/erick-thohir-pln-itu-utangnya-rp-500-triliun). Perusahaan penerbangan yang dibanggakan rakyat, yakni Garuda Indonesia, disinyalir utang 70 triliun (https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-5592837/ada-rugi-rp-14-tbulan-garuda-terancam-bangkrut). Total utang Pertamina jangka pendek dan jangka panjang mencapai Rp 580 triliun lebih (https://rmol.id/read/2021/03/14/478816/manajemen-pertamina-bingung-cari-uang-biaya-hidup-andalkan-utang). PTPN disebut memiliki utang sudah menembus Rp40 triliun atau berkisar Rp48 triliun (https://market.bisnis.com/read/20210120/192/1345614/erick-thohir-sebut-kai-ptpn-hingga-bumn-karya-banyak-utang). PT KAI mengantongi utang senilai Rp15,5 triliun (https://tirto.id/fMHQ). PT Waskita Karya Tbk (WSKT) tiba-tiba secara mengejutkan mencatatkan kerugian sebesar Rp 7,28 triliun (https://www.cnbcindonesia.com/market/20210416122728-17-238431/kalau-ngomongin-utang-ternyata-bumn-rajanya/1 ).  

Produk BUMN di atas antara lain listrik, transportasi udara, bahan bakar minyak (BBM), kelapa sawit untuk minyak goreng, tansportasi darat kereta api, dan jalan tol. Rakyat selama ini memanfatkan produk BUMN tersebut dengan membayar harganya, bukan gratis. Jika telat membayar pun, seperti PLN, terkena denda. Aneh jika kemudian BUMN dikatakan merugi, sementara produknya vital bagi masyarakat dan tanpa ada perusahaan pesaing yang berarti. Seharusnya BUMN dapat meraup keuntungan berlimpah, bukan merugi. Lantas kemana larinya uang rakyat yang sejatinya untuk membayar produk BUMN tersebut?

Alasan utama penyebab kerugian atau utang BUMN adalah pendapatan yang diterima tak sebanding dengan beban biaya yang dikeluarkan, dan adanya dana tambahan dari utang diperkirakan akan menambah peningkatan produk. Nyatanya, utang BUMN terus menggunung dan sulit ditutupi, termasuk membayar bunganya harus melalui utang lagi. 

Akhirnya utang BUMN tidak hanya menjadi urusan negara, tapi rakyat ikut terbebani untuk menutupi utang tersebut. Sementara sebelum ini rakyat tidak pernah menikmati keuntungan BUMN yang seharusnya menjadi haknya. Sekarang ketika BUMN merugi, rakyat harus ikut menderita.  Nasib oh nasib.

Ekonom Indef Didiek Rachbini menjelaskan, utang BUMN dapat digolongkan sebagai utang publik karena dapat berdampak pada anggaran publik. Adapun total utang BUMN dan pemerintah saat ini mencapai lebih dari Rp 8.000 triliun. 

"Ini belum selesai pemerintahan Jokowi, nanti kalau sudah selesai pemerintahannya bisa mencapai Rp 10.000 triliun. Utang APBN dengan BUMN. Ini meningkat semakin pesat," kata Didik.
https://katadata.co.id/agustiyanti/indepth/605c09856dc53/mewaspadai-risiko-tumpukan-utang-bumn\

Penderitaan rakyat tidak hanya sampai di sini. Solusi yang diusulkan oleh Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah Redjalam untuk mengatasi utang BUMN karya dengan menjual asetnya, seperti jalan tol. 

"Namun demikian, aset BUMN Karya sangat besar. Apabila aset tersebut, misal konsesi-konsesi jalan tol bisa dijual, BUMN Karya bisa mendapatkan dana segar yang akan menutup semua kebutuhan likuiditasnya," kata Piter.

Jika konsesnsi jalan tol ada di tangan pengusaha swasta atau asing, tentunya rakyat harus membayar tinggi untuk melewati jalan tol tersebut. BUMN beralih fungsi. Semula BUMN didirikan untuk melayani kepentingan umum dan memberikan pelayanan publik. Ujungnya BUMN membebani dan membawa penderitaan rakyat. Lebih-lebih jika tidak hanya jalan tol yang dilepas ke swasta, tapi semua BUMN menjual asetnya ke pihak swasta atau asing karena perangkap utang, Indonesia hancur berantakan.

Solusi Tuntas

Pertama, penyebab utama kebuntuan yang dihadapi pakar-pakar ekonomi saat ini dalam mengatasi utang BUMN adalah sistem ekonomi kapitalisme yang dijadikan sandarannya. Sistem ekonomi kapitalisme tidak menumbuhkan rasa tanggung jawab bagi pengelola BUMN bahwa keuntungan BUMN adalah milik rakyat, melainkan sekedar merasa bahwa keuntungan BUMN milik Negara dan dirinya sebagai wakil Negara  merasa bebas memanfaatkan keuntungan yang ada atau memberikan gajih dan bonus untuk dirinya atau orang-orang tertentu bebas dengan nominal besar.

Berbeda dengan sistem ekonomi Islam, pengelola BUMN dipilih bukan sekedar dilihat dari kemampuannya tapi kekuatan aqidahnya juga, sehingga memiliki sifat amanah dan tanggunga jawab di hadapan Allah SWT. dalam mensikapi keuntungan yang berlimpah dari BUMN. Keuntungan tersebut disalurkan ke baitul maal untuk dimanfaatkan kepentingan rakyat.

Kedua, sistem kapitalisme tidak membatasi masalah kepemilikan, sehingga saham BUMN tidak hanya dapat dimiliki oleh Negara, melainkan dapat bebas dimiliki oleh perorangan, perusahaan swasta atau bahkan perusahaan asing. Dalam kondisi BUMN terpuruk dengan utang yang menggunung akan memungkinkan aset-aset BUMN lepas dari kepemilikan negara kepada kepemilikan swasta atau asing.

Sementara sistem ekonomi Islam merinci masalah kepemilikan. Jika produk BUMN termasuk barang-barang dalam kategori kepemilikan umum/rakyat, maka keuntungannya tidak boleh dikuasai Negara, individu atau swasta/asing. Status Negara hanya mengelola BUMN tersebut dan menyalurkan keuntungannya untuk kemakmuran rakyat melalui baitul maal. Contoh produk BUMN milik umum sesuai syariat Islam adalah listrik, bahan bakar minyak (BBM) yang jumlahnya berlimpah, jalan tol, kereta api, dan lain-lain.

Rasulullah saw. Bersabda:

اَلْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ في ثلَاَثٍ فِي الْكَلَإِ وَالْماَءِ وَالنَّارِ

Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Hadis di atas menyatakan bahwa kaum Muslim (manusia) berserikat dalam air, padang rumput dan api.  Ketiganya tidak boleh dimiliki oleh individu. Listrik dan BBM diibaratkan api, sedangkan jalan dibaratkan dengan padang rumput.

Dengan demikian, berserikatnya manusia dalam ketiga hal pada hadis di atas bukan karena zatnya, tetapi karena sifatnya sebagai sesuatu yang dibutuhkan oleh orang banyak (komunitas) dan jika tidak ada maka mereka akan berselisih atau terjadi masalah dalam mencarinya.  Artinya, berserikatnya manusia itu karena posisi air, padang rumput dan api sebagai fasilitas umum yang dibutuhkan secara bersama oleh suatu komunitas.  Sifat ini merupakan ‘illat istinbâth[an] perserikatan manusia dalam ketiga hal itu.

Maka dari itu, hadis itu memang menyebutkan tiga macam (air, padang rumput dan api), namun disertai ‘illat, yaitu sifatnya sebagai fasilitas umum yang dibutuhkan secara bersama oleh suatu komunitas.  Kaidah ushul menyatakan: “Al-Hukm yadûru ma’a ‘illatihi wujûd[an] wa ‘adam[an] (Hukum beredar bersama ‘illat, ada dan tidaknya [‘illat itu]).”

Dengan demikian, apa saja (air, padang rumput, api, sarana irigasi, dan selainnya) yang memenuhi sifat sebagai fasilitas umum yang dibutuhkan secara bersama oleh suatu komunitas—yang jika tidak ada maka masyarakat akan berselisih dalam mencarinya—maka manusia berserikat di dalamnya.

Adapun untuk BUMN dengan produk barang yang bukan termasuk kepemilikan umum, tetap menjadi milik negara. Keuntungannya untuk pengelolaan Negara dan membantu urusan rakyat. Jadi pengelolaan negara tidak pernah membebani rakyat dengan semisal pajak.

Ketiga, orientasi pengelolaan BUMN dalam sistem kapitalisme semata-mata untuk keuntungan/laba, sehingga produknya dijual kepada siapaun, termasuk rakyat, dengan harga pasar. Tidak ada keringanan harga untuk rakyat. Ketika harga pasar naik, rakyat juga akan merasakan kenaikan harga tersebut. Anehnya, saat BUMN rugi, rakyat juga yang menanggung beban kerugian tersebut.

Orientasi pengelolaan BUMN dalam sistem Islam sangat berlawanan dengan sistem kapitalisme. Pengelolaan BUMN dalam sistem Islam dengan tujuan yang pertama adalah memenuhi kebutuhan rakyat. Jika kebutuhan rakyat sudah terpenuhi, maka dibolehkan BUMN mengambil keuntungan/laba untuk kepentingan rakyat juga. Contoh PLN, listrik akan dibagikan dengan cuma-cuma kepada rakyat. Contoh lain PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), air akan dibagikan dengan cuma-cuma untuk kebutuhan rakyat. Kalaupun rakyat harus membayar listrik dan air, hanya sebatas biaya produksi, bukan untuk keuntungan BUMN tersebut. Negara tidak menutup kemungkinan memberikan bensin secara gratis kepada para pelajar dan pekerja. Jadi orientasi BUMN dalam sistem Islam bukan semata keuntungan/laba.

Demikian tiga hal di atas membedakan cara pengelolaan BUMN dalam pandangan sistem kapitalisme dan sistem Islam. Sangat jelas sistem kapitalisme membawa kerugian bagi rakyat, sedangkan sistem Islam sangat mengutamakan kepentingan rakyat.

Kesimpulannya, tidak ada jalan lain untuk mengatasi keruwetan dalam pengelolaan BUMN, melainkan kembali dalam sistem Islam. Karena selama menggunakan sistem di luar Islam, akan terjadi salah urus BUMN dan mengalami kebuntuan dalam menyelesaikan persoalan BUMN tanpa mengorbankan rakyat. 

Wallahu a’lam.

Jumat, 28 Mei 2021

Tagged under: ,

Palestina, Urusan Kita!

Buletin Dakwah Kaffah No. 194 (16 Syawal 1442 H/28 Mei 2021 M)

Bumi Palestina kembali memanas. Lebih dari seratus hari militer Israel terus menggempur Gaza dan kompleks Masjid al-Aqsha. Total korban di pihak warga Palestina mencapai 232 orang, 65 di antaranya anak-anak.

Namun, di tengah gelombang solidaritas terhadap tanah Palestina dan warga Muslim di sana, muncul suara yang berkebalikan. Mereka menyatakan bahwa persoalan Palestina bukanlah urusan Indonesia, seperti yang dikatakan mantan Kepala BIN Hendropriyono. Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais), Soleman B. Ponto, juga menyatakan Israel bukanlah penjajah. Menurut dia, konflik yang terjadi hanyalah perebutan wilayah.

Israel Penjajah dan Pendusta

Bangsa Yahudi bukanlah penduduk asli Palestina. Kaum Zionis Yahudi mengarang propaganda Palestina sebagai tanah air mereka. Lalu mereka mencari legitimasi bahwa agresi militer mereka adalah bentuk membela diri dari serangan orang-orang Palestina.

Pendudukan kaum Zionis atas tanah Palestina bermula ketika Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour pada tahun 1917. Deklarasi yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri Inggris kala itu, Arthur Balfour, merupakan restu Inggris kepada kaum Yahudi di Eropa untuk bermukim di wilayah Palestina. Secara resmi Pemerintah Britania Raya mendukung rencana Zionis mendirikan tanah air di Palestina. Semua dilakukan lewat lobi para pengusaha kaya Yahudi di Inggris.

Tujuan Pemerintah Inggris merestui pendirian negara Yahudi Raya di Timur Tengah tidak lain adalah untuk mendapatkan dukungan dari para pengusaha kaya Yahudi dan untuk melemahkan Dunia Islam dengan menciptakan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Herzl kemudian mendatangi pemimpin kaum Muslim saat itu, Khalifah Sultan Abdul Hamid II. Dia berusaha membujuk dan menyuap Khalifah dengan uang sebesar 150 juta poundsterling (setara Rp 3 triliun) untuk mendapatkan tanah Palestina. Namun, Sultan Abdul Hamid II menolak. Ia berkata, "Aku tidak dapat memberikan walau sejengkal dari tanah ini (Palestina) karena ia bukan milikku. Ia adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi bumi ini. Mereka telah membasahi tanahnya dengan darah-darah mereka.” 

Sultan kemudian melanjutkan, “Jika Kekhalifahan Islam ini hancur pada suatu hari, mereka dapat mengambil Palestina tanpa biaya! Namun, selagi aku masih hidup, aku lebih rela sebilah pedang merobek tubuhku daripada melihat bumi Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Kekhilafahan Islam. Pemisahaan tanah Palestina adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.” Sultan Abdul Hamid II kemudian mengusir Herzl. Itulah yang terjadi. 

Namun, setelah pemerintah Inggris dan Yahudi bekerjasama meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah, berbondong-bondong warga Yahudi mendatangi Palestina, merampas tanahnya sambil membunuhi warganya. Akhirnya, pada tahun 14 Mei 1948 berdiri negara Israel dan diakui secara luas oleh banyak negara di dunia.

Ironinya, hari ini sejumlah negeri Muslim juga mengakui keberadaan negara Israel dan menjalin hubungan diplomatik dan kerjasama lainnya, yaitu Mesir, Yordania, UEA, Maroko, Bahrain, Sudan dan Turki.

Palestina Negeri Diberkahi

Pernyataan bahwa masalah Palestina tidak ada kaitannya dengan urusan agama jelas merupakan kedustaan. Palestina adalah negeri yang tak bisa dipisahkan dengan ajaran Islam. Dalam beberapa ayat al-Quran disebutkan hal-hal yang berkaitan dengan negeri Syam, negeri yang diberkahi dan disucikan Allah SWT. Sebagaimana diketahui, Syam adalah negeri yang terdiri dari Suriah, Yordania, Libanon dan Palestina (temasuk yang diduduki Israel). Allah SWT berfirman:

وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ

Kami menyelamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam (TQS al-Anbiya’ [21]: 71).

Ibnu Katsir berkata, “Allah memberitahukan tentang Ibrahim yang diselamatkan dari api buatan kaumnya dan membebaskan dia dari mereka dengan berhijrah ke Negeri Syam, tanah yang disucikan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/310).

Rasulullah saw. juga memberikan banyak pujian pada negeri Syam. Di antaranya:

طُوبَى لِلشَّامِ فَقُلْنَا لِأَيٍّ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِأَنَّ مَلَائِكَةَ الرَّحْمَنِ بَاسِطَةٌ أَجْنِحَتَهَا عَلَيْهَا

“Keberuntungan bagi penduduk Syam,” Kami bertanya, “Karena apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena para malaikat membentangkan sayap-sayapnya kepada mereka (penduduk Syam).” (HR at-Tirmidzi).

Di Palestina juga terdapat Masjid al-Aqsha. Masjid ini merupakan kiblat pertama kaum Muslim dan tempat singgah perjalanan Isra Mi’raj. Wilayah di sekitarnya juga tempat yang Allah berkahi (Lihat: QS al-Isra’ [17]: 1). 

Khusus terkait keutamaan Masjid al-Aqsha, Nabi saw. bersabda:

أَنَّ مَيْمُونَةَ مَوْلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَقَالَ أَرْضُ الْمَنْشَرِ وَالْمَحْشَرِ ائْتُوهُ فَصَلُّوا فِيهِ فَإِنَّ صَلَاةً فِيهِ كَأَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ

Sesungguhnya Maimunah, pembantu Nabi saw., pernah berkata, “Wahai Nabi Allah, berilah kami fatwa tentang Baitul Maqdis.” Rasulullah menjawab, “Bumi tempat bertebaran dan tempat berkumpul. Datangilah ia. Lalu shalatlah di dalamnya karena sesungguhnya shalat di dalamnya seperti seribu kali shalat di tempat lain.” (HR Ahmad).

Berdasarkan nas-nas ini, jelaslah tanah Palestina, Yerusalem dan al-Aqsha adalah bagian dari Islam dan kaum Muslim. Sungguh kebodohan dan kampanye busuk yang menyatakan kalau Palestina ataupun Yerusalem bukanlah bagian dari Islam dan umat tidak punya kepentingan di sana.

Fakta lainnya, Palestina adalah tanah air kaum Muslim dan telah berabad-abad menjadi bagian dari wilayah Islam. Kaum Muslim pun terikat dengan Palestina serta Yerusalem karena dua alasan:

Pertama, wilayah Yerusalem telah menjadi bagian dari negeri-negeri Islam dengan status sebagai tanah kharaj sejak era Kekhilafahan Umar bin al-Khaththab ra. pada tahun 637 M. Setelah peperangan yang berkecamuk selama berbulan-bulan, akhirnya Uskup Yerusalem, Sophronius, menyerahkan kunci kota Yerusalem kepada Khalifah Umar bin al-Khaththab secara langsung.

Karena statusnya sebagai tanah kharaj, Palestina tidak boleh dimiliki oleh siapapun. Hanya boleh dimanfaatkan. Jika kaum Muslim saja tidak berhak memiliki tanah tersebut, apalagi kaum Zionis Yahudi.

Kedua, kaum Muslim terikat dengan kaum Nasrani Yerusalem untuk melindungi negeri tersebut lewat Perjanjian Umariyyah. Dalam perjanjian tersebut Khilafah berkewajiban memberikan jaminan kepada kaum Nasrani baik terkait harta, jiwa dan ibadah mereka. Khilafah juga diminta untuk tidak mengizinkan orang-orang Yahudi tinggal bersama kaum Nasrani dan kaum Muslim di Yerusalem. Khalifah Umar kemudian menjamin tidak ada satu pun orang Yahudi yang lewat dan bermalam di wilayah tersebut. 

Perjanjian Khalifah Umar dengan kaum Nasrani Yerusalem ini mengikat kaum Muslim hari ini bahkan hingga akhir zaman. Karena itu, selain berkewajiban merebut kembali tanah Palestina dari cengkeraman Zionis Israel, ada kewajiban untuk menepati perjanjian yang dibuat oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab untuk menjaga dan melindungi kaum Nasrani dan peribadatan mereka, serta tidak mengizinkan seorang Yahudi lewat dan bermalam di sana.

Dengan alasan inilah, haram hukumnya mengakui keberadaan negara Zionis di Palestina. Haram pula mengambil solusi dua negara yang diusulkan PBB dan negara-negara Barat. Semua itu hakikatnya sama dengan mengakui keberadaan negara agresor Zionis di tanah air kaum Muslim.

Wahai kaum Muslim: 

Tidakkah Anda melihat bahwa hari ini derita Muslim Palestina terus terjadi? Bukankah Anda melihat bahwa penderitaan mereka tidak bisa dihilangkan hanya dengan mengirimkan bantuan logistik dan obat-obatan?

Pendudukan kaum Zionis atas Palestina bukan sekadar mengakibatkan kematian ratusan ribu warganya, tetapi juga menciptakan penderitaan yang terus-menerus yang dialami jutaan warga lainnya. Dengan demikian, masih bercokolnya kaum penjajah Zionis Israel inilah yang menjadi pangkal persoalan di tanah Palestina dan menyebabkan penderitaan kaum Muslim berkepanjangan.

Wahai anak-anak dan keturunan Shalahuddin al-Ayyubi: 

Tidakkah Anda sadar atau pura-pura tidak tahu bahwa mengusir Israel tidak bisa dengan sekadar bantuan uang dan obat-obatan, apalagi hanya dengan retorika dan sidang-sidang yang berisi omong-kosong? Israel hanya bisa diusir dari tanah suci dengan mengerahkan pasukan militer. Bukankah Allah SWT telah berfirman:

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ 

Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian (TQS al-Baqarah [2]: 191).

Wahai para perwira dan prajurit Muslim: 

Tidakkah Anda mau menjadi kaum yang mengalahkan Israel sebagaimana janji Allah SWT:

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا

Jika datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami mendatangkan kepada kalian hamba-hamba Kami yang perkasa. Lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Itulah ketetapan yang pasti terlaksana (TQS al-Isra’ [17]: 5). []

---*---

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

مَوْقِفٌ سَاعَةً فِي سَبِيل اللهِ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ عِنْدَ الْحَجَرِ اْلْأَسْوَدِ

Berjaga-jaga satu jam di medan perang fi sabililLah adalah lebih baik daripada menghidupkan Lailatul Qadar di dekat Hajar Aswad.” (HR Ibnu Hibban dan al-Baihaqi). []

---*---

Jumat, 23 April 2021

Tagged under: ,

Makna Mempedomani Quran

Buletin Dakwah Kaffah 190 
(11 Ramadhan 1442 H - 23 April 2021 M)

Bulan Ramadhan sering disebut Bulan al-Quran. Sebabnya, pada bulan Ramadhanlah al-Quran diturunkan. Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda  (TQS al-Baqarah [2]: 185).

Imam ath-Thabari di dalam Jâmi’ al-Bayân fi Ta’wîl al-Qur’ân (Tafsîr ath-Thabari) menjelaskan: “Hudâ li an-nâs” bermakna petunjuk untuk manusia ke jalan yang benar dan manhaj yang lurus. “Wa bayyinâti” bermakna yang menjelaskan “petunjuk” berupa penjelasan yang menunjukkan hudud Allah, kefardhuan-kefardhuan-Nya serta halal dan haram-Nya. Adapun frasa “wa al-furqân” bermakna pemisah antara kebenaran dan kebatilan.

Fitnah Terhadap al-Quran

Sejak pertama al-Quran diturunkan, yakni sejak awal mula dakwah Rasulullah saw., berbagai fitnah dan makar telah ditimpakan pada al-Quran. Beragam fitnah terhadap al-Quran juga terjadi saat ini. Bentuk dan pelakunya beragam. Di antaranya, menciptakan keraguan terhadap al-Quran sebagai Kalamullah. Terhadap fitnah ini, al-Quran dalam sejumlah ayat menantang umat manusia untuk membuat yang serupa dengan al-Quran. Tantangan ini berlaku sejak al-Quran diturunkan hingga Hari Kiamat (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 23). Namun demikian, bangsa Arab, apalagi non-Arab, tidak ada yang sanggup menjawab tantangan Allah SWT ini. Bahkan sekadar memalsukan atau mengubah sebagian isinya—baik  menambah atau mengurangi isinya—tidak ada yang mampu. Sebabnya, Allah SWT menjaga al-Quran (QS al-Hijr [15]: 9).

Fitnah lainnya pun dilakukan agar umat Islam mengabaikan al-Quran, menjauh dari al-Quran atau bahkan alergi terhadap al-Quran. Dulu orang-orang kafir membuat kegaduhan tatkala al-Quran dibacakan supaya al-Quran tidak diperhatikan. Allah SWT berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

Orang-orang kafir berkata, “Janganlah kalian mendengarkan al-Quran dan buatlah hiruk-pikuk terhadap al-Quran itu agar kalian menang.” (TQS Fushshilat [41]: 26).

Apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir pada masa Rasul saw. itu atau tindakan-tindakan semacam itu terus terjadi. Sebutan dan stigma negatif dijatuhkan pada al-Quran dan ajarannya, yakni ajaran Islam. Ayat-ayat al-Quran dituduh menginspirasi ekstremisme bahkan terorisme, seperti ayat-ayat tentang jihad dan perang. Al-Quran juga distigma bisa melahirkan radikalisme. Ucapan seorang pejabat pada tahun lalu mungkin termasuk bagian dari fitnah ini. Pejabat itu menilai bahwa cara masuk paham radikalisme di antaranya dengan munculnya orang yang berpenampilan bagus, menguasai bahasa Arab, bahkan penghapal al-Quran. “Cara masuk mereka gampang, pertama dikirim seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arabnya bagus, hafizh (penghapal Al-Quran)...,” ucapnya kala itu. 

Bahkan ayat-ayat tentang jihad, perang dan hukum-hukum pun diserukan untuk tidak diajarkan kepada murid-murid sekolah. Jika pun diajarkan, semua itu harus ditafsirkan ulang dengan penafsiran yang moderat dan toleran.

Masih banyak tudingan dan klaim untuk menjauhkan umat dari al-Quran. Semua itu masih ditambah dengan fitnah-fitnah lainnya. Fitnah ini bertujuan untuk menjauhkan manusia dari al-Quran; untuk menyangsikan kelayakan al-Quran sebagai petunjuk, sistem dan aturan hidup yang kompatibel (cocok) dengan semua zaman dan tempat. Al-Quran difitnah bahwa hukum-hukum yang terkandung di dalamnya hanya berisi muatan lokal, bersifat temporal dan kondisional; atau dipengaruhi oleh konteks waktu, tempat dan kondisi sosial zaman Rasul saw. Contohnya adalah hukum-hukum tentang pembagian waris, poligami, jihad, potong tangan, qishash, jilbab, riba, pemerintahan, politik dalam negeri dan luar negeri, dll. 

Fitnah lain, ayat-ayat al-Quran harus ditafsirkan secara kontekstual dengan selalu dikaitkan dengan (dibatasi) konteks kala itu. Karena itu muncullah tafsir kontekstual atau tafsir hermeneutika atas al-Quran. Al-Quran pun ditafsirkan menggunakan kaidah-kaidah demokrasi, kapitalisme, hak asasi manusia, gender, emansipasi, toleransi yang salah-kaprah, moderasi (wasathiyah) ala Barat dan berbagai ide, nilai dan norma Barat. Model penafsiran ala Barat ini berusaha menggeser model penafsiran yang dipegangi dan dijelaskan oleh para ulama sejak dulu. 

Berikutnya, karena nas itu terkait dengan konteks, maka diopinikan bahwa yang penting dari al-Quran adalah esensi atau substansinya. Itulah yang harus diambil dan diamalkan. Jadi, tidak perlu ada formalisasi dan pelembagaan hukum-hukum al-Quran karena yang penting adalah mewujudkan substansi dan esensinya. Klaim-klaim seperti itu bertebaran dan berseliweran di tengah umat. 

Petunjuk dan Solusi Kehidupan

Al-Quran secara bahasa memang artinya bacaan. Membaca al-Quran akan mendatangkan pahala (Lihat: QS al-Fathir [35]: 29). Bahkan Rasul saw. menyatakan bahwa siapa saja yang membaca satu huruf dari al-Quran akan mendapatkan satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan yang semisalnya (HR at-Tirmidzi).

Karena itulah para Sahabat dan generasi salafush-shalih senantiasa bersemangat membaca al-Quran. Para Sahabat, misalnya, ada yang sebulan sekali khatam al-Quran, ada yang seminggu sekali, ada yang tiga hari sekali, bahkan ada yang sehari sekali khatam. Demikian pula para ulama terdahulu. Apalagi pada Bulan Ramadhan. Imam Malik, misalnya, selama Ramadhan meninggalkan majelis hadisnya untuk sementara, lalu fokus membaca al-Quran. Imam Syafii, di luar Ramadhan biasa mengkhatamkan membaca al-Quran sekali setiap hari. Namun, selama Ramadhan beliau mengkhatamkan al-Quran dua kali sehari (60 kali khatam al-Quran selama Ramadhan). Seorang ulama lain, Amr bin Qais, bahkan sejak masuk Sya’ban dan selama Ramadhan meninggalkan kegiatan bisnisnya untuk sementara, lalu menyibukkan diri dengan membaca al-Quran (Ibnu Rajab al-Hanbali, Latha’if al-Ma’arif, hlm. 138).

Namun demikian, para Sahabat dan generasi salafush-shalih tak hanya semangat membaca al-Quran. Mereka juga sekaligus semangat mengamalkan dan menerapkan al-Quran. Sebabnya, mereka paham, al-Quran diturunkan bukan sekadar agar dibaca. Al-Quran tentu harus dijadikan sebagai petunjuk hidup agar manusia hidup sesuai dengan al-Quran.  Allah SWT berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sungguh al-Quran ini memberikan petunjuk ke jalan yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada kaum Mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (TQS al-Isra’ [17]: 9).

Sebagai petunjuk hidup bagi manusia, al-Quran telah memberikan penjelasan hukum atas segala sesuatu.  Allah SWT menegaskan:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Kami menurunkan kepada engkau al-Kitab (al-Quran) sebagai penjelas segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (TQS an-Nahl [16]: 89).

Menurut Imam al-Baghawi dalam Ma’âlim at-Tanzîl, ayat di atas bermakna bahwa al-Quran berisi penjelasan atas segala sesuatu yang diperlukan berupa perintah dan larangan, halal dan haram serta hudud dan hukum-hukum. 

Dengan mengutip Ibn Mas’ud ra., Imam Ibnu Katsir di dalam tafsirnya juga menjelaskan bahwa al-Quran meliputi segala pengetahuan yang bermanfaat berupa berita apa yang telah terdahulu, pengetahuan apa yang akan datang, hukum semua yang halal dan haram serta apa yang diperlukan oleh manusia dalam perkara dunia, agama, kehidupan dan akhirat mereka. 
Dengan demikian al-Quran memberikan penyelesaian atas semua problem yang dihadapi manusia di dalam kehidupan mereka. Baik problem pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara. Baik problem ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, pemerintahan, politik ataupun berbagai problem lainnya. 

Karena itu tentu penting mengamalkan dan menerapkan seluruh isi al-Quran. Baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara. Di sinilah pentingnya formalisasi dan pelembagaan al-Quran. Di sini pula pentingnya negara menerapkan al-Quran dalam seluruh aspek kehidupan. Inilah yang dipraktikkan oleh Rasulullah saw. saat memimpin Daulah Islam di Madinah, juga oleh Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelah mereka sepanjang sejarah Kekhilafahan Islam.

Khatimah

Dengan demikian al-Quran tak cukup hanya dibaca dan dihapal. Al-Quran pun harus direnungkan dan dikaji isinya. Selanjutnya hukum-hukumnya wajib diterapkan agar bisa menjadi solusi atas seluruh problem kehidupan manusia. Allah SWT berfirman: 

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى . وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sesungguhnya bagi dia kehidupan yang sempit (TQS Thaha [20] 123-124). 

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [] 

---*---

HIKMAH:

Rasulullah saw. bersabda:

ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ: ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ :ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ

Puasa dan al-Quran akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada Hari Kiamat. Puasa berkata, “Tuhanku, aku telah menahan dia dari makan dan syahwat pada siang hari.” Karena itu izinkanlah aku memberi syafaat kepada dia.” Al-Quran berkata,  “Aku telah menahan dia dari tidur pada waktu malam. Karena itu izinkanlah aku memberikan syafaat kepada dia.” Kemudian keduanya pun diizinkan untuk memberikan syafaat. (HR Ahmad). []

---*---

Download file PDF versi mobile:
http://bit.ly/kaffah190m

Download file PDF versi cetak:
http://bit.ly/kaffah190

Jumat, 09 April 2021

Tagged under: ,

Marhaban ya Ramadhan Mari Siapkan Diri Menyambut Bulan Suci

Buletin Dakwah Kaffah 188 (26 Sya'ban 1442 H - 9 April 2021 M)

Hanya beberapa hari lagi Ramadhan segera datang. Sudah selayaknya kita bergembira. Tentu karena bulan Ramadhan adalah bulan yang agung. Bulan yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan. Rasulullah saw. bersabda saat Ramadhan menjelang:

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

Sungguh telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan (Lailatul Qadar). Siapa saja yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung) (HR Ahmad dan an-Nasa’i).

Mengomentari hadis di atas, Imam Ibnu Rajab berkata, “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira saat pintu-pintu surga dibuka? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah SWT) tidak gembira saat pintu-pintu neraka ditutup? Bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira saat setan-setan dibelenggu?” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâif al-Ma’ârif, hlm. 174).

Ragam Keutamaan Ramadhan

Setidaknya ada 9 (sembilan) keutamaan Ramadhan. Pertama : Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diwajibkan puasa agar manusia meraih takwa (QS al-Baqarah [2]: 183).

Kedua : Bulan turunnya al-Quran (QS al-Baqarah [2]: 185).

Ketiga : Bulan pengampunan dosa . Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa saja yang berpuasa pada Bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR al-Bukhari dan Muslim). 

Keempat : Bulan pembebasan dari neraka . Nabi saw. bersabda: 
وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

Bagi Allah banyak orang-orang yang dimerdekakan dari Neraka. Hal itu terjadi setiap malam (HR at-Tirmidzi dan Ibn Majah).

Kelima : Bulan kedermawanan . Di dalam suatu hadis dinyatakan: 

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ... 

Rasulullah saw. adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan… (HR al-Bukhari dan Muslim). 

Keenam : Di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Rasulullah saw. bersabda:
 
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ 

Jika Ramadhan telah tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu (HR al-Bukhari dan Muslim). 

Ketujuh : Bulan pengabulan doa . Hal ini dapat dipahami dari firman Allah SWT dalam QS al-Baqarah di sela-sela menjelaskan tentang hukum-hukum puasa (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 186).

Kedelapan : Bulan dilipatgandakan pahala . Rasulullah saw. bersabda:

عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ، تَعْدِلُ حَجَّةً

Umrah pada bulan Ramadhan setara dengan satu kali haji (HR Ibn Majah dan at-Tirmidzi).

Kesembilan : Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar . Rasulullah saw. bersabda:

 إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ، وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَهَا، فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ، وَلاَ يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلاَّ مَحْرُومٌ.

Sungguh bulan ini (Ramadhan) telah hadir di tengah-tengah kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalangi dari malam itu, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan secara keseluruhan. Tidaklah terhalangi dari kebaikannya kecuali seorang yang rugi (HR Ibn Majah).

Menyiapkan Diri 

Dengan ragam keutamaan Ramadhan di atas, tentu tidak selayaknya Ramadhan kita sia-siakan. Agar tak sia-sia, kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyambut kedatangannya. Dengan begitu kita tidak termasuk orang yang disabdakan Rasulullah saw., “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.” (HR Ahmad).

Paling tidak, ada empat hal yang perlu disiapkan untuk menyambut kedatangan Ramadhan. Pertama : Bertobat dan mensucikan diri. Ramadhan adalah bulan suci. Sudah selayaknya bulan suci disambut juga dengan kesucian jiwa kita, yakni dengan membersihkan diri dari segala dosa dan kemaksiatan. Apalagi semua yang terjadi di tengah-tengah kehidupan kita saat ini—musibah, bencana, wabah, sempitnya kehidupan kita dan hilangnya keberkahan hidup—tentu tidak dapat dilepaskan dari dosa-dosa kita. 

Kedua : Bersyukur kepada Allah SWT karena kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa kembali dengan Ramadhan. Betapa banyak saudara-saudara kita, di sepanjang 2020-2021 hingga menjelang bulan Ramadhan ini, yang dipanggil oleh Allah SWT.

Ketiga : Meningkatkan kapasitas ilmu. Setiap Muslim diwajibkan membekali diri dengan ilmu ketika hendak beribadah dan beramal. Harapannya agar amal ibadah yang dilakukan diterima oleh Allah SWT. Demikian halnya ibadah pada bulan Ramadhan, terutama puasa. Kita harus mengetahui rukun dan hal-hal yang dapat merusak ibadah puasa. Apalagi mencari ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim (HR al-Bukhari).

Keempat : Membulatkan niat dan memiliki himmah ‘aliyah (cita-cita tinggi) untuk berusaha memperbaiki perkataan dan perbuatan, bersungguh-sungguh dalam ketaatan, menghidupkan bulan Ramadhan dengan amal shalih dan berpuasa dengan sebenar-benarnya. 

Bulan al-Quran 

Allah SWT berfirman:

 شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ 

Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelas dari petunjuk (tersebut) dan pembeda (antara haq dan batil) (TQS al-Baqarah [2]: 185).

Karena itu Bulan Ramadhan identik dengan Bulan al-Quran. Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada bulan ini pun berkaitan dengan al-Quran; membaca, memahami dan merenungkan al-Quran. Tentu di atas semua ini adalah mengamalkan al-Quran. Karena itu pula, hal yang paling tercela di bulan ini adalah meninggalkan al-Quran ( hajr al-Qur’an ), baik dengan tidak membaca dan mempelajari al-Quran, apalagi tidak mengamalkan al-Quran. 

Di negeri ini, atas izin dan karunia Allah, banyak penghapal dan pengkaji al-Quran. Sebagian masyarakat pun cukup antusias untuk mengamalkan al-Quran dalam kehidupan pribadi mereka. Namun, sebagai sebuah umat, negeri ini belum mengamalkan al-Quran. Yang ada justru al-Quran dimusuhi. Tentu bukan memusuhi fisiknya, namun hukum-hukumnya. Dituduh intoleran, sumber terorisme, radikal, ekstrem, bar-bar dan pemecah-belah. Saat yang sama, hukum-hukum thaghut ditegakkan dan dihargamatikan. Padahal jelas tindakan tersebut merupakan kejahatan dan dosa besar. 

Terkait itu Nabi saw. bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Shalat lima waktu, shalat Jumat hingga shalat Jumat berikutnya, dan Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya dapat menghapus dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya selama dosa-dosa besar ditinggalkan (HR Muslim dan Ahmad).

Artinya, siapa saja yang masih melakukan dosa besar, meski dia berpuasa Ramadhan, hal itu tidak akan berujung pada pengampunan dosa-dosanya. 

Faktanya, karena syariah Islam dimusuhi dan digantikan dengan hukum-hukum kufur, dosa-dosa besar menjadi sangat lumrah dilakukan oleh kebanyakan masyarakat. Misalnya, zina, minum khamer dan riba. Yang lebih besar lagi dosanya adalah berhukum dengan selain hukum Islam. Pelakunya bisa terkategori zalim, fasik bahkan kafir (Lihat: QS al-Maidah [5]: 44, 45, 47). Sayangnya, inilah yang terjadi di negeri ini. 

Rasulullah saw. juga bersabda:

 مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Siapa saja yang tidak meninggalkan perkataan yang melenceng dari kebenaran dan malah mengamalkannya, Allah tidak membutuhkan puasanya (HR al-Bukhari).

Kata “qawl” sering diterjemahkan “perkataan”. Sebenarnya di dalam Bahasa Arab kata ini bermakna “keyakinan”, sebelum menjadi ucapan. Sebab, menurut aslinya, ucapan bersumber dari keyakinan. Adapun kata “az-zur” bermakna segala sesuatu yang melenceng dari haq (kebenaran). Dari sini, hadis di atas dapat kita artikan bahwa Allah SWT tidak sudi menerima puasa kita jika kita masih berkeyakinan dan mengamalkan apa yang melenceng dari kebenaran. Demokrasi yang menyatakan bahwa manusia memiliki hak menetapkan hukum adalah az-zur tingkat tinggi. Sekularisme yang menyatakan kehidupan tidak harus atau tidak boleh diatur dengan Islam adalah az-zur yang nyata. Jika kita masih mengamalkan sekularisme, demokrasi, kapitalisme dan derivasinya, saat itu pula puasa kita terancam akan sia-sia belaka. 

Oleh sebab itu, kita wajib meninggalkan semua itu, lalu bersegera untuk mengamalkan dan menerapkan syariah Allah SWT secara kaffah , agar kita dapat masuk ke pintu rahmat dan ampunan-Nya, khususnya pada bulan yang penuh berkah ini. Semoga Allah SWT memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua. Aamiin. 

WalLâh a’lam bi ash-shawâb . []

---*---

Hikmah: 

Rasulullah saw. bersabda:

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَانْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

Betapa rugi seseorang yang berjumpa dengan bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan itu berlalu sebelum dia diampuni. (HR Ahmad dan at-Tirmidzi). []

---*---

Download file PDF versi mobile:
http://bit.ly/kaffah188m

Download file PDF versi cetak:
http://bit.ly/kaffah188

Jumat, 02 April 2021

Tagged under: ,

Kekuasaan, Antara Amanah dan Ambisi

Buletin Dakwah Kaffah – 187 (19 Sya’ban 1442 H – 2 April 2021 M)

Di bawah sistem sekular yang mencampakkan aturan agama (syariah Islam), sebagaimana di negeri ini, kekuasaan benar-benar telah menimbulkan fitnah. Banyak orang berlomba-lomba meraih dan atau mempertahankan kekuasaan. Segala cara digunakan. Tanpa peduli halal dan haram. Saat berkuasa atau memegang jabatan, kekuasaan dan jabatan itu pun dijalankan tanpa mengenal halal dan haram. Kekuasaan lebih banyak dijadikan alat untuk kepentingan sendiri dan golongan. Sebaliknya, kepentingan dan kemaslahatan rakyat sering diabaikan dan ditinggalkan. 

Ambisi Kekuasaan

Ambisi kekuasaan merupakan bagian dari keinginan hawa nafsu. Memang wajar ambisi itu muncul, namun bukan berarti harus dituruti. Islam mengajarkan bahwa hawa nafsu harus ditata dan dikendalikan sesuai petunjuk Allah SWT. Sebabnya, hawa nafsu itu sering memerintahkan pada keburukan (Lihat: QS Yusuf [12]: 53).

Banyak orang berlomba-lomba mewujudkan ambisi mereka atas kekuasaan. Hal itu tampak jelas, misalnya, dalam Pilkada. Puluhan ribu orang bersaing dan melakukan berbagai cara untuk meraih kekuasaan itu. Tampak pula dalam kontestasi Pilpres. Memang, dalam Pilpres hanya beberapa pasangan yang bersaing. Namun, jutaan orang melibatkan diri untuk mendukung dan memilih pasangan mereka. Di antara mereka banyak petahana yang berambisi untuk mempertahankan jabatan dan kekuasaan mereka. Mereka banyak yang mencalonkan kembali untuk masa jabatan kedua. Ambisi kekuasaan juga tampak saat belakangan mencuat ide agar masa jabatan presiden dibuat tiga periode.

Jauh-jauh hari Rasulullah saw. telah mensinyalir ambisi kekuasaan ini. Beliau pun memperingatkan umatnya agar hati-hati terhadap akibatnya:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ وَسَتَصِيرُ نَدَامَةً وَحَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَتِ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ

Sungguh kalian akan berambisi terhadap kepemimpinan (kekuasaan), sementara kepemimpinan (kekuasaan) itu akan menjadi penyesalan dan kerugian pada Hari Kiamat kelak. Alangkah baiknya permulaannya dan alangkah buruknya kesudahannya (HR al-Bukhari, an-Nasa’i dan Ahmad).

Ash-Shan’ani di dalam Subul as-Salâm menjelaskan bahwa Nabi saw. melarang meminta al-imârah (kepemimpinan/kekuasaan). Alasannya, kekuasaan itu bisa memberikan kekuatan kepada orang yang sebelumnya lemah dan memberikan kemampuan kepada orang yang sebelumnya tidak memiliki kemampuan. Semua itu bisa diambil oleh jiwa yang kasar dan cenderung pada keburukan. Lalu kekuasaan itu dijadikan wasilah untuk balas dendam kepada orang yang dia anggap musuh. Sebaliknya, kekuasaan itu dia gunakan untuk hanya memperhatikan teman dan para pendukungnya, juga demi mewujudkan tujuan-tujuan rusak. Ini jelas akan berakibat tidak baik dan tidak akan selamat. Karena itu, dalam kondisi demikian, yang lebih utama adalah al-imârah (kekuasaan) itu tidak diminta.

Al-Munawi di dalam Faydh al-Qadir menjelaskan bahwa kekuasaan itu bisa menggerakkan sifat-sifat terpendam. Jiwa bisa didominasi oleh kecintaan atas prestise dan kelezatan berkuasa, juga rasa suka agar segala perintahnya dijalankan. Semua itu merupakan kenikmatan dunia yang paling besar. Jika semua itu dicintai, seorang penguasa bisa dikendalikan oleh hawa nafsunya. Dia akan selalu mengedepankan kepentingannya meski batil. Hal demikian bisa menjadikan dirinya binasa.

Karena itulah Rasul saw. memberikan contoh dengan tidak memberikan kekuasaan atau jabatan kepada orang yang meminta kekuasaan atau jabatan tersebut. Beliau pernah bersabda:

إِنَّا وَاللَّهِ لاَ نُوَلِّى عَلَى هَذَا الْعَمَلِ أَحَدًا سَأَلَهُ وَلاَ أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ

Kami, demi Allah, tidak akan mengangkat atas tugas ini seorang pun yang memintanya dan yang berambisi terhadapnya (HR Muslim, Ibnu Hibban, Ibn al-Jarud dan Abu ‘Awanah).

Dalam redaksi lain dinyatakan:

لاَ نَسْتَعْمِلُ عَلَى عَمَلِنَا مَنْ أَرَادَهُ

Kami tidak akan mengangkat—atas tugas kami—orang yang menginginkannya (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasa’i).

Abu Bakar ath-Tharthusi dalam Sirâj Al-Muluk menjelaskan, “Rahasia di balik semua ini adalah bahwa kekuasaan (jabatan) adalah amanah… Berambisi atas amanah adalah salah satu bukti dari sikap khianat... Jika seseorang yang khianat diberi amanah maka itu seperti meminta serigala untuk menggembalakan domba. Akibatnya, rusaklah sikap rakyat terhadap penguasanya. Pasalnya, jika hak-hak mereka hancur dan harta mereka dimakan oleh penguasa mereka, maka rusaklah niat mereka dan lisan mereka akan mengucapkan doa (yang buruk) dan pengaduan atas penguasa mereka.”

Amanah Kekuasaan

Berdasarkan hadis-hadis di atas, kekuasaan dan jabatan itu jelas merupakan amanah. Amanah kekuasaan atau jabatan itu benar-benar akan menjadi penyesalan dan kerugian di akhirat kelak bagi pemangkunya; kecuali jika dia berlaku adil, mendapatkan kekuasaan dengan benar serta menunaikan kekuasaannya dengan amanah. 

Kewajiban penguasa seperti dalam hadis Abdullah bin Umar ra. adalah memelihara urusan-urusan rakyat (ri’âyah syu`ûn ar-ra’yah). Ri’âyah itu dilakukan dengan siyasah (politik) yang benar, yaitu seperti yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi di dalam Syarh Shahîh Muslim. Ri’âyah atau siyâsah yang baik itu tidak lain dengan menjalankan hukum-hukum syariah serta mengutamakan kemaslahatan dan kepentingan rakyat.

Begitulah sosok pemimpin yang adil. Dia dicintai oleh Allah SWT dan umat karena menjalankan hukum-hukum-Nya dan menunaikan amanahnya. Allah SWT berfirman: 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

Sungguh Allah menyuruh kalian memberikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya, juga (menyuruh kalian) jika menetapkan hukum di antara manusia agar kalian berlaku adil (TQS an-Nisa’ [4]: 58).

Imam ath-Thabari, dalam Tafsîr ath-Thabarî, menukil perkataan Ali bin Abi Thalib ra., “Kewajiban imam/penguasa adalah berhukum dengan hukum yang telah Allah turunkan dan menunaikan amanah. Jika ia telah melaksanakan hal itu maka orang-orang wajib mendengarkan dan mentaati dia, juga memenuhi seruannya jika mereka diseru…”

Inilah dua sifat yang melekat pada pemimpin yang adil. Pertama: Menjalankan hukum-hukum Allah SWT dalam pelaksanaan ibadah umat, muamalah, hukum-hukum ekonomi Islam (tentang kepemilikan, pengelolaan kekayaan milik umum, keuangan negara), hukum peradilan dan pidana Islam (hudud, jinayat, ta’zir maupun mukhalafat), hukum-hukum politik luar negeri; dsb. 

Kedua: Menunaikan amanah ri’âyah, yakni memelihara semua urusan umat seperti menjamin pemenuhan kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan bagi tiap individu warga negara); menjamin pemenuhan pendidikan, kesehatan dan keamanan secara cuma-cuma; serta melindungi rakyat dari berbagai gangguan dan ancaman. Dalam memelihara urusan rakyat, penguasa hendaklah seperti pelayan terhadap tuannya. Sebabnya, “Sayyidu al-qawmi khâdimuhum (Pemimpin kaum itu laksana pelayan mereka).” (HR Abu Nu’aim).

Rasul saw. banyak memperingatkan penguasa dan pemimpin yang tidak amanah/khianat dan zalim. Mereka adalah pemimpin jahat (HR at-Tirmidzi); pemimpin yang dibenci oleh Allah SWT, dibenci oleh rakyat dan membenci rakyatnya (HR Muslim); pemimpin yang bodoh (imâratu as-sufahâ’), yakni pemimpin yang tidak menggunakan petunjuk Rasul dan tidak mengikuti sunnah beliau (HR Ahmad); penguasa al-huthamah, yakni yang jahat dan tidak memperhatikan kepentingan rakyatnya (HR Muslim); penguasa yang menipu (ghâsyin) rakyat (HR al-Bukhari dan Muslim). Rasul saw. pun memperingatkan agar tidak mengangkat pejabat orang yang tidak layak, sementara ada yang lebih layak, atau lebih mengutamakan orang yang disukai dan orang dekat (HR Ahmad dan al-Hakim). 

Demi Melayani Islam 

Kekuasaan yang dikehendaki oleh Islam adalah yang digunakan untuk melayani Islam, sebagaimana yang diminta oleh Rasul saw. kepada Allah SWT:

وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا

Berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong (TQS Al-‘Isra’ [17]: 80).

Di dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir, mengutip Qatadah, menyatakan: Nabi saw. amat menyadari bahwa beliau tidak memiliki daya untuk menegakkan agama ini kecuali dengan kekuasaan. Karena itulah beliau meminta kekuasaan agar bisa menolong Kitabullah, menegakkan hudud Allah, menjalankan berbagai kefardhuan Allah dan menegakkan agama Allah.

Kekuasaan juga harus dibangun di atas pondasi agama, yakni Islam, dan ditujukan untuk menjaga Islam dan syariahnya serta memelihara urusan umat. Imam al-Ghazali menyatakan, “Agama adalah pondasi, sedangkan kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan lenyap.” (Al-Ghazali, Al-Iqtishad fi al-I’tiqad, hlm. 199).

Alhasil, kekuasaan harus diorientasikan untuk melayani Islam dan kaum Muslim. Hal ini hanya akan terwujud jika kekuasaan itu menerapkan syariah Islam secara total, memelihara urusan dan kemaslahatan umat, menjaga Islam dan melindungi umat. Kekuasaan semacam inilah yang harus diwujudkan oleh kaum Muslim semuanya. Dengan itu kekuasaan akan menjadi kebaikan dan mendatangkan keberkahan bagi semua. 

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

---*---

Hikmah:

Rasul saw. pernah bersabda kepada Abu Dzar ra.:

يَا أَبَا ذَرّ إِنَّك ضَعِيف، وَإِنَّهَا أَمَانَة، وَإِنَّهَا يَوْم الْقِيَامَة خِزْي وَنَدَامَة إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

Abu Dzar, sungguh engkau itu lemah. Sungguh jabatan/kekuasaan itu adalah amanah. Sungguh amanah kekuasaan itu akan menjadi kerugian dan penyesalan pada Hari Kiamat, kecuali bagi orang yang mengambil amanah kekuasaan tersebut dengan benar dan menunaikan kewajiban di dalamnya. (HR Muslim). []

---*---

Download file PDF versi mobile:
http://bit.ly/kaffah187m

Download file PDF versi cetak:
http://bit.ly/kaffah187

Minggu, 14 Maret 2021

Tagged under: ,

Isra' Mi’raj dan Urgensi Khilafah

*BULETIN DAKWAH KAFFAH – 184*
28 Rajab 1442 H - 12 Maret 2021 M

Rajab termasuk di antara empat bulan haram (suci) yang telah Allah SWT tetapkan (QS at-Taubah [9]: 36). Rajab sekaligus merupakan bulan istimewa. Banyak peristiwa penting yang terjadi pada bulan ini. Salah satunya tentu Isra’ Mi’raj Rasulullah saw. pada tahun ke-10 kenabian.  Peristiwa agung ini diabadikan oleh Allah SWT dalam al-Quran (QS al-Isra’ [17]: 1). 


*Pembuktian Iman*

Bagi kaum Muslim saat itu, Isra’ Mi’raj menjadi salah satu pembuktian iman. Rangkaian peristiwa Isra’ Mi’raj memang di luar jangkauan akal manusia. Karena itu sebagian orang yang lemah iman berbalik murtad karena peristiwa ini. Keadaan ini pun dimanfaatkan kaum musyrik Quraisy untuk menghasut kaum Muslim yang masih bertahan dengan keimanan mereka.

Namun, ketika diprovokasi oleh kaum musyrik soal Isra’ Mi’raj, Abu Bakar ra. malah mempertanyakan sikap kaum musyrik Quraisy yang masih tetap mengingkari kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw., “Demi Allah, jika itu yang Muhammad katakan, sungguh ia berkata benar. Apa yang aneh bagi kalian? Demi Allah, sungguh dia berkata kepadaku bahwa telah datang kepada dia wahyu dari langit ke bumi hanya dalam waktu sesaat pada waktu malam, atau sesaat pada waktu siang, dan aku mempercayai dia. Inikah puncak keheranan kalian?” 

Setelah itu Abu Bakar ra. mendatangi Rasulullah saw. Ia lalu meminta beliau untuk menjelaskan ciri-ciri Baitul Maqdis. Setelah Nabi saw. menjelaskan dengan lengkap,  Abu Bakar berkata, “Engkau berkata benar. Aku bersaksi, engkau adalah utusan Allah!” Rasulullah saw. menjawab, “Engkau, Abu Bakar, adalah _ash-shiddîq_ (yang selalu membenarkan)!” 

Sikap Abu Bakar ash-Shiddiq ra. menunjukkan pribadi Mukmin yang teguh imannya di tengah arus opini yang hendak merusak keyakinan umat Islam terhadap Rasulullah saw. dan ajaran Islam saat itu. 

Peristiwa Isra’ Mi’raj yang telah membuat kegoncangan hebat masyarakat Makkah justru menemukan urgensitasnya bagi tonggak berdirinya peradaban Islam. Peristiwa agung ini terjadi setahun sebelum hijrah. Tepatnya terjadi setahun sebelum proklamasi Daulah Islam di Madinah al-Munawwarah. Peristiwa Isra’ Mi’raj memudahkan Rasulullah saw. untuk memilih siapa saja yang pantas menjadi penopang bagi pendirian Daulah Islam, yakni kalangan kaum Anshar dan Muhajirin.  

Waktu satu tahun cukup bagi Rasulullah saw. untuk mendapatkan orang-orang yang layak menjadi sandaran bagi tegaknya Daulah. Dari orang-orang yang terseleksi inilah peristiwa hijrah Rasulullah saw. berjalan sukses yang ditandai dengan keberhasilan beliau menegakkan Daulah Islam Madinah atas perintah Allah SWT. 


*Isra’ Mi’raj dan Bumi Palestina yang Diberkahi*

Dua masjid disinggahi dalam peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah saw., yakni Masjid al-Haram di Makkah dan Masjid al-Aqsha di Palestina, sebelum ke langit menghadap Allah SWT. Makkah tempat Ka’bah berada merupakan tanah suci. Palestina tempat Baitul Maqdis berada merupakan bagian dari negeri Syam yang Allah SWT berkahi. Allah SWT berfirman: 

وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 

_ Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Lut ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam_ (TQS al-Anbiya’ [21]: 71).

Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, yang dimaksud dengan _negeri_ di sini ialah Syam (termasuk di dalamnya Palestina, red.) (Ibnu Katsir, _Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim_, 5/353).

Allah SWT memberkahi Syam karena kebanyakan nabi dilahirkan di negeri ini. Tanahnya pun subur. Ibnu Abbas ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, _“Para nabi tinggal di Syam. Tidak ada sejengkal pun kota Baitul Maqdis kecuali seorang nabi atau malaikat pernah berdoa atau berdiri di sana.”_ (HR at-Tirmidzi).

Dalam pandangan Islam, Tanah Palestina (Syam) adalah tanah milik kaum Muslim. Di tanah ini berdiri al-Quds, yang merupakan lambang kebesaran umat ini. Al-Quds menempati posisi yang sangat mulia. Umat Islam jangan sampai melupakan sejarah penting ini. 

Terkait posisi Palestina, Khalifah terakhir Turki Utsmani, Sultan Abdul Hamid II, mengatakan, “Sungguh aku tidak akan melepaskan Bumi Palestina meskipun hanya sejengkal.  Tanah Palestina bukanlah milikku, tetapi milik kaum Muslim.  Rakyatku telah berjihad untuk menyelamatkan bumi ini dan mengalirkan darah demi tanah ini. Hendaknya kaum Yahudi—yang berambisi membeli Tanah Palestina, _red_.—menyimpan saja jutaan uang mereka. Jika suatu hari nanti Khilafah terkoyak-koyak, saat itulah mereka akan sanggup merampas Palestina tanpa harus mengeluarkan uang sedikit pun. Namun, selagi aku masih hidup, goresan pisau di tubuhku terasa lebih ringan bagi diriku daripada aku harus menyaksikan Palestina terlepas dari Khilafah. Ini adalah perkara yang tidak boleh terjadi (Dr. Muhammad Harb, _Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II_, Pustaka Thariqul Izzah, 2004).


*Urgensi Khilafah Saat Ini*

Pernyataan dan sikap Sultan Abdul Hamid II kini terbukti. Tanah Palestina lepas begitu saja dan jatuh ke tangan Yahudi secara ‘cuma-cuma’. Tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Kaum Zionis itu tak harus mengeluarkan banyak uang untuk menguasai Palestina. Itu terjadi setelah Khilafah Turki Utsmani—penjaga dan pelindung Bumi Palestina—dibubarkan oleh Mustafa Kemal Ataturk dengan dukungan Inggris. Sejak itu hingga kini Palestina, tanah yang diberkahi sekaligus tempat Masjid al-Aqsha berada, terus diduduki kaum Yahudi.

Padahal tercatat dalam sejarah, dalam naungan Khilafahlah wilayah Syam, termasuk Palestina di dalamnya, berhasil dibebaskan dan dikuasai selama berabad-abad lamanya. Pembebas Palestina yang _pertama_ adalah Khalifah Umar bin al-Khaththab setelah memenangkan Perang Yarmuk. Pembebas berikutnya adalah Shalahuddin al-Ayyubi. Ia berhasil menghadapi kaum salibis pada tanggal 27 Rajab 582 H atau 2 Oktober 1187 M sekaligus menguasai kembali Baitul Maqdis setelah hampir seratus tahun dikuasai oleh kaum salibis. 

Karena itulah, ketika pada faktanya hari ini Bumi Palestina berada dalam pendudukan kaum Zionis selama puluhan tahun, diperlukan upaya untuk membebaskannya kembali. Hal itu tidak mungkin kecuali dengan mengembalikan penjaga dan pelindungnya yang sejati, yakni Khilafah Islamiyah. Di sinilah urgensitas Khilafah Islamiyah bagi kaum Muslim.


*Spirit Isra’ Mi’raj*

Dengan demikian peristiwa Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi spirit yang bisa menjadi pijakan dakwah dan perjuangan umat hari ini. Pasalnya, pasca Isra’ Mi’raj-lah terjadi transformasi kepemimpinan di tangan Rasulullah saw. Transformasi kepemimpinan tersebut ditandai dengan tegaknya Daulah Islamiyah di Madinah. Ini terjadi tidak lama setelah peristiwa Isra’ Mi’raj. 

Pasca Rasulullah saw. wafat, eksistensi Daulah Islamiyah kemudian dilanjutkan oleh keberadaan Khilafah *‘ala minhaj an-nubuwwah* yang pertama, yang dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin. Era Khulafaur Rasyidin lalu dilanjutkan secara berkesinambungan oleh Khilafah Umayah, Khilafah ‘Abasiyah dan Khilafah Utsmaniyah selama kurang-lebih 14 abad lamanya. 

Selama kurang-lebih 14 abad pula Khilafah Islamiyah sukses menciptakan peradaban yang agung. Khilafah mampu melindungi dan menebarkan rahmat bagi seluruh manusia, bukan hanya umat Islam. Pada masa Khulafaur Rasyidin, misalnya, keberkahan telah mereka rasakan dengan amat luar biasa. Di antaranya dalam bentuk kemakmuran hidup. Di dalam *Al-Bidayah wa an-Nihayah* diriwayatkan bahwa di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., Khilafah mampu memberikan santunan tunai kepada setiap warga negaranya, bahkan termasuk untuk bayi yang baru lahir. 

Menurut Will Durant dalam *The Story of Civilization*, sepanjang sejarah Kekhilafahan Islam, para khalifah telah memberikan  keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para khalifah juga telah memberikan kesejahteraan bagi siapapun selama beradab-abad dalam wilayah yang amat luas, yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, filsafat dan seni mengalami kejayaan luar biasa yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad. 

Sayang, sejak keruntuhan Khilafah tahun 1924 M/1342 H, umat Islam selama 100 tahun terakhir tak lagi memiliki kekuatan dan pelindung. Sejak itu pula hingga kini umat Islam di berbagai belahan dunia dirundung nestapa. Tak terkecuali Bumi Palestina, negeri yang Allah SWT berkahi, sejak lama berada dalam cengkeraman penjajahan Zionis Israel. 

Akhirnya, melalui perenungan peristiwa Isra’ Mi’raj 1442 H ini, saatnya umat Islam menemukan urgensitasnya yang terpenting, yakni semakin menguatkan keimanan kepada Allah SWT dan semakin meningkatkan spirit perjuangan untuk menerapkan syariah Islam secara _kaffah_ melalui tegaknya kembali Khilafah _‘ala minhaj an-nubuwwah_ yang kedua, dengan izin dan pertolongan Allah SWT. Hanya dengan Khilafahlah negeri-negeri Muslim akan kembali bersatu dan terbebas dari berbagai nestapa akibat penjajahan. 

_WalLahu a’lam bi ash-shawwab._ []


*Hikmah:*

Allah SWT berfirman:

إِذَا جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ وَٱلۡفَتۡحُ (١)  وَرَأَيۡتَ ٱلنَّاسَ يَدۡخُلُونَ فِي دِينِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجا (٢)فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَٱسۡتَغۡفِرۡهُۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابَۢا (٣)

_Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan dan kamu melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada Dia. Sungguh Dia adalah Maha Penerima tobat. _ (TQS an-Nashr [110]: 1-3). []