image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Rabu, 19 Februari 2020

Tagged under:

Kekhawatiran Nabi Terhadap Pemimpin yang Bodoh dan Lainnya

ONE  DAY  ONE  HADIST
Selasa, 18 Februari 2020 / 24 Jumadil Akhir 1441


عن عوف بن مالك رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
أَخَافُ عَلَيْكُمْ سِتًّا : إِمَارَةَ السُّفَهَاءِ وَ سَفْكَ الدَّمِ وَ بَيْعَ الْحُكْمِ وَ قَطِيْعَةَ الرَّحْمِ وَ نَشْوًا يَتَّخِذُوْنَ الْقُرْآنَ مَزَامِيْرَ وَ كَثْرَةَ الشُّرَطِ

Dari Auf bin Malik rodhiAllahu anhu berkata Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:
"Aku khawatir atas kalian enam perkara: imarah sufaha (orang-orang yang bodoh menjadi pemimpin), menumpahkan darah, jual beli hukum, memutuskan silaturahim, anak-anak muda yang menjadikan Alquran sebagai seruling-seruling, dan banyaknya algojo (yang zalim)" (HR. ath Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabiir 18/57 no 105)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits: 

1- Yang dimaksud dengan imarah sufaha adalah para pemimpin yang memimpin umat Islam tidak menggunakan sunnah Rasul dan Syariat Islam.
Dari Jabir bin Abdillah (ia berkata): "Sesungguhnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda kepada Ka’ab bin ‘Ujrah: “Ya Ka’ab bin ‘Ujrah! Semoga Allah melindungimu dari pemerintahan yang bodoh!”. Ka’ab bin ‘Ujrah bertanya: “Kenapa demikian ya Rasulullah, dan siapakah pemerintahan yang bodoh itu?”.Beliau menjawab: “Para umarah (penguasa) yang akan datang nanti sesudahku, mereka tidak mengikuti petunjukku dan tidak mengamalkan Sunnahku. Maka barang siapa yang membenarkan kebohongan mereka dan menolong ke zhaliman mereka, maka mereka itu bukan dariku dan aku bukan dari mereka, dan mereka tidak akan dibawa ke telagaku (pada hari kiamat). Akan tetapi barang siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak menolong kezhaliman mereka, maka mereka itu dariku dan aku dari mereka, dan mereka akan dibawa ke telagaku (pada hari kiamat)." (HR. Ahmad)
2- Pemimpin itu punya potensi dan peran yang sangat strategis, bagaimana bila pemimpin itu bodoh?.
Tanda tangannya itu bisa menentukn nasib banyak orang.
3- Sedangkan yang lain dikhawatirkan Rasûlullâh shallallah alaihi wa salam yaitu:
a- Menumpahkan darah. Saat ini tidak hanya membunuh yang darahnya tertumpah yang disebutkan disini, tetapi juga bisa meracuni orang atau bahkan dengan cara apapun bisa membunuh secara pelan-pelan misal lewat embargo dan sebagainya.
b- Jual beli hukum, salah satunya adalah suap menyuap dalam sebuah perkara.
c- Memutus silaturahim.
Memutus silaturrahim itu adalah dengan orang yang memiliki hubungan kekerabatan, baik karena hubungan darah ataupun karena perkawinan.
d- Anak-anak muda yang menjadikan al-Qur’an sebagai seruling-seruling. Mereka menyuarakan al-Qur'an dengan dinyanyikan tanpa memperhatikan kaidah tajwid dan makhroj sehingga persis seperti suara nyanyian.
e- Banyaknya algojo yang merupakan lambang kedzaliman. Algojo masa kini adalah orang-orang yang dibayar bertujuan untuk merampas hak orang lain. Pihak ini bisa saja penguasa ataupun juga orang yang memiliki kuasa.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al Qur'an:

1- Orang yang bodoh (kurang sempurna akalnya) tidak boleh mentasorufkan harta lebih lagi menjadi pemimpin pemerintahan

وَلا تُؤْتُوا السُّفَهاءَ أَمْوالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِياماً وَارْزُقُوهُمْ فِيها وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَعْرُوفاً 

Dan janganlah kalian serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kalian yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.[An-nisa:5]

2- Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan adanya imarah sufaha, karena mereka tidak mau mengambil petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peraturan, sehingga hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dikesampingkan. Akibatnya, rusaklah kehidupan, padahal hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kehidupan untuk manusia.

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah : 179).

Minggu, 16 Februari 2020

Tagged under:

Kepala BPIP Mendeskreditkan Islam

Oleh: Titi Hutami

Upaya untuk mendeskreditkan Islam terus berulang. Kali ini Kepala Badan Perlindungan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Yudian Wahyudi yang nota bene pimpinan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga di Yogyakarta, menyatakan bahwa musuh pancasila adalah agama. Semakin nyata ucapan itu dimaksudkan untuk menjauhkan Islam dari ranah publik.

Bahkan, statement baru muncul lagi dari lisan profesor tersrbut, bahwa kitab suci harus digeser dari konstitusi. Artinya, hukum Islam dilarang disandingkan dengan konstitusi, apalagi menjadi sumber bagi pembuatan konstitusi.
Tidak sadarkah bapak profesor, Anda muslim, dan mayoritas penduduk negeri ini juga muslim. Sementara agama yang dianutnya menuntut kehidupan muslim berpegamg teguh pada tali agama Allah SWT.

Surat Ali 'Imran Ayat 103

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚوَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
                                     
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Ayat tersebut sangat jelas menuntut kita untuk berpegang pada tali agama Allah SWT. Jika kemudian banyak muslim berusaha berpegang pada tali agama Allah, adalah wajar, sebagai bentuk ketaatan. Justru muslim yang enggan berpegang pada tali agama Allah SWT., serta berusaha mengajak orang lain seperti dia, apakah itu bukan berarti dia membuat umat bercerai berai?

Sorotan Terhadap Pancasila

Sejak Indonesia merdeka, umat Islam sudah dipaksa menerima pengelolaan negeri ini dengan aturan yang katanya bersumber dari Pancasila. Sejak itu pun agama sudah dijauhkan dari pancasila. 

Selidik punya selidik, aturan di Indonesia ternyata copy paste dari aturan-aturan negara Barat. Hasilnya, riba legal. Perzinahan legal. Minuman keras legal. Suap merajalela. Sumber daya alam, alias tambang, dinikmati Asing secara legal. Impor produk kebutuhan warga negara lebih diutamakan daripada peningkatan produk dalam negeri. Ditambah Badan Usaha Milik Negara bukannya untung malah merugi dahsyat.

Lalu, apa yang dirasakan rakyat kebanyakan dengan pemisahan pancasila dari agama? 
Hingga hari ini, kesejahteraan untuk sebagian besar rakyat Indonesia masih menjadi mimpi. Biaya pendidikan anak masih menjadi beban berat para orang tua. Biaya kesehatan masih menjadi problem memusingkan kepala keluarga. Mendapatkan lapangan pekerjaan tidak semudah yang dibayangkan. Haruskah rakyat Indonesia hanya bermimpi terus untuk terbebas dari beban hidup yang berat seperti itu?

Rakyat yang senang memang ada, tapi hanya mereka yang beredar di sekitar kekuasaan. Pendapatan besar. Fasilitas terjamin.

Coba buka mata lebar-lebar, ini semua adalah produk aturan buatan manusia yang merasa menjunjung tinggi pancasila dengan mengabaikan aturan agama. Pancasilaiskah mereka yang membiarkan rakyat susah turun temurun. Pancasilaiskah mereka yang membuat banyak orang tua menangis karena anaknya putus sekolah atau tidak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Pancasilaiskah mereka yang menutup mata dari banyaknya orang yang menelantarkan anggota keluarganya yang sakit karena takut dengan biaya rumah sakit.

Itulah fakta pancasila yang dijauhkan dari agama. Ketuhanan yang Maha Esa yang melahirkan kereligiusan, dianggap radikal. Kemanusiaan pun cacat dari keadilan, apalagi beradab. Persatuan dalam kondisi lemah. Sifat kerakyatan dari penguasa sulit dirasakan. Apalagi keadilan sosial saat ini, sering menjadi tuntutan para demonstran.

Ja

di, tahun 2020 ini saatnya umat Islam mengekspresikan dirinya dengan hidup di bawah aturan Sang Khalik. Agar kekayaan alam Indonesia tidak beredar hanya pada orang Asing atau penguasa saja. Agar umat lebih khusu' beribadah, tidak terpusingkan oleh beban hidup. Agar negeri ini lebih menata diri kekuatannya, untuk menghadapi tipu daya Asing. Agar generasi muda bersemangat meraih cita-cita memajukan negara yang tidak bergantung pada produk impor. Agar negara ini dapat membebaskan kejahatan yang terjadi pada negara lain, sebagai bentuk kemanusiaan dan menghentikan penjajahan. Agar negara ini juga berambisi menyatukan umat manusia di dunia dengan ketentraman dan keadilan.

Kekhawatiran adanya diskriminasi bagi non muslim jika diterapkan aturan Islam adalah opini menyesatkan. Tidak ada dalam sejarah, penerapan aturan Islam menyengsarakan warga non muslim. Justru sebaliknya, mereka diangkat harkat derajatnya oleh Islam. Segala fasilitas negara diberikan tanpa melihat agama warga negaranya.

Meniru film serial power ranger, saatnya berubah. Tahun 2020 tahunnya umat Islam.

Jumat, 14 Februari 2020

Tagged under: ,

Membasmi Korupsi lebih Mudah dengan Hukum Syariah

*Buletin Kaffah, No. 128, 21 Jumada ats-Tsaniyah, 1441 H-14 Februari 2020 M*

*SEJUMLAH* kalangan menilai upaya pemberantasan korupsi di Tanah Air mengalami kemunduran. Memasuki tahun 2020 publik dikagetkan dengan kasus korupsi Jiwasraya, suap (risywah) Komisioner KPU oleh kader parpol, dan Garuda. Juga masih ada dugaan tindak pidana korupsi yang belum tuntas seperti di Kemenperindag dan Kementerian Agama. Kerugian yang dialami negara mencapai triliunan rupiah. Padahal penindakan terhadap tindak korupsi terus dilakukan, tetapi korupsi justru meningkat. 


*Kian Suram*

Pemberantasan korupsi di Tanah Air dinilai banyak kalangan memang kian suram. Padahal kerugian negara yang dialami makin besar. Tahun lalu, KPK menyatakan potensi kerugian negara akibat korupsi diperkirakan mencapai Rp 200 triliun. Angka korupsi pun terus naik, bukannya berkurang.

Pada 16 Agustus 2018 lalu KPK merilis data bahwa sepanjang 2004 - Agustus 2018 terdapat 867 pejabat negara/pegawai swasta yang melakukan tindak pidana korupsi. Dari jumlah tersebut, 311 orang di antaranya berprofesi sebagai anggota DPR dan DPRD, gubernur, bupati dan walikota yang notabene hampir seluruhnya berasal dari partai politik. 

Ironisnya, gerakan pemberantasan korupsi justru kian dilemahkan. Ada beberapa sebab yang membuat penindakan korupsi makin lemah. 

Pertama: KPK telah dilemahkan melalu revisi UU KPK. Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, terdapat 26 poin yang berpotensi melemahkan KPK. Pasalnya, sejumlah kewenangan yang dulu dimiliki KPK—berdasarkan UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK—dikurangi. Saat ini, misalnya, ada Dewan Pengawas KPK, yang lebih berkuasa daripada Pimpinan KPK. Dewan Pengawas KPK juga yang menentukan boleh-tidaknya dilakukan penyadapan, penggeledahan dan penyitaan. 

Lumpuhnya KPK terbukti ketika tak berdaya menghadapi kasus suap Komisioner KPU Wahyu Setiawan yang melibatkan pejabat DPP PDIP, Hasto. Tim penyidik tak bisa melakukan penggeledahan karena Dewan Pengawas tak kunjung mengizinkan. 

Kedua: Pemerintahan Jokowi justru banyak memberikan pengampunan kepada para terpidana korupsi. Idrus Marham mendapatkan pengurangan hukuman dalam putusan kasasi. Pengadilan memutus lepas Syafruddin Arsyad Temenggung, eks terdakwa korupsi SKL BLBI. MA memberikan grasi kepada Annas Maamun, mantan Gubernur Riau, dengan alasan kemanusiaan karena terpidana sudah lanjut usia. 

Bukan hanya mereka bertiga, pada Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2019, jumlah narapidana korupsi yang mendapatkan remisi total mencapai 338 orang. Padahal hukuman yang diberikan juga terbilang ringan. Data ICW menyebutkan sepanjang tahun 2018 lalu rata-rata vonis pelaku korupsi hanya 2 tahun 5 bulan penjara. Kebijakan ini menunjukkan bahwa tidak ada komitmen serius dari Pemerintah dalam memberantas korupsi.

Dengan demikian cita-cita Indonesia bebas korupsi hanyalah mimpi kosong. Karena alasan itu pula, mantan penasihat KPK, Busyro Muqaddas, menyebutkan Presiden Jokowi bukanlah panutan dalam memberantas korupsi. 


*Kekayaan Gelap Pejabat*

Islam adalah satu-satunya agama yang memberikan rincian keharaman hukum seputar harta yang didapat dengan kecurangan. 

Khusus untuk para pejabat, Islam telah menetapkan sejumlah aturan yang melarang mereka mendapatkan harta di luar gaji/pendapatan mereka dari negara. Itulah yang disebut sebagai kekayaan gelap menurut pandangan Islam. 

Pertama: Islam telah mengharamkan segala bentuk suap (risywah) untuk tujuan apapun. Suap adalah memberikan harta kepada seorang pejabat untuk menguasai hak dengan cara yang batil, atau membatalkan hak orang, atau agar haknya didahulukan dari orang lain. Nabi saw. telah melaknat para pelaku suap, baik yang menerima maupun yang memberi suap:

*لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي*
Rasulullah saw. telah melaknat penyuap dan penerima suap *(HR at-Tirmidzi dan Abu Dawud).*


Praktik suap (risywah) ini banyak terjadi. Contoh, kasus penyuapan oleh Harus Masikhu dari PDIP kepada Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Tujuannya untuk memuluskan penetapan pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR-RI 2019-2024. Kasus suap juga terjadi dalam praktik jual-beli jabatan di Kemenag. Kasus ini melibatkan mantan Ketum PPP Romahurmuzy, juga diduga melibatkan mantan Kemenag Lukman Hakim.

Kedua: Dalam Islam, pejabat negara juga dilarang menerima hadiah (gratifikasi). Nabi saw. pernah menegur seorang amil zakat yang beliau angkat karena terbukti menerima hadiah saat bertugas dari pihak yang dipungut zakatnya. Beliau bersabda:

*مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ*
Siapa saja yang kami angkat sebagai pegawai atas suatu pekerjaan, kemudian kami beri dia upahnya, maka apa yang dia ambil selain itu adalah kecurangan *(HR Abu Dawud).*

Dalam hadis lain beliau bersabda:

*هَدَايَا الأُمَرَاءِ غُلُولٌ*
Hadiah yang diterima oleh penguasa adalah kecurangan *(HR al-Baihaqi).*

Ketiga: Termasuk dalam kategori kekayaan gelap pejabat menurut Islam adalah yang didapatkan dari komisi/makelar dengan kedudukannya sebagai pejabat negara. Komisi sebenarnya adalah hal yang halal dalam muamalah. 

Namun, jika seorang pejabat menggunakan kedudukannya/kekuasaannya untuk memuluskan suatu transaksi bisnis, atau ia mendapatkan fee/komisi dari suatu proyek, maka itu adalah cara kepemilikan harta yang haram. 

Sayangnya, dalam dunia bisnis kapitalis, seperti sudah menjadi kemestian jika pengusaha harus memberikan komisi sebagai upeti kepada para pejabat agar mereka mendapatkan proyek atau ketika dana proyek sudah cair. 

Keempat: Islam menetapkan bahwa korupsi adalah salah satu cara kepemilikan harta haram. Korupsi termasuk tindakan kha’in (pengkhianatan). Korupsi dilakukan dengan memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki seorang pejabat negara dengan sewenang-wenang, baik dengan memanipulasi ataupun melakukan tekanan kepada pihak lain untuk menyerahkan sejumlah harta yang bukan haknya; apakah itu harta milik negara, milik umum, atau milik orang lain. 


*Lebih Mudah dengan Hukum Syariah*

Islam memberikan sejumlah hukuman yang berat kepada pelaku korupsi, suap dan penerima komisi haram. Pada masa Rasulullah saw. pelaku kecurangan seperti korupsi, selain harta curangnya disita, pelakunya di-tasyhir atau diumumkan kepada khalayak.

Dalam Perang Khaibar ada seorang budak dari Bani Judzam bernama Rifa’ah bin Zaid dari Bani adh-Dhubaib. Ketika mereka singgah di satu lembah, budak tersebut dipanah (oleh musuh) sehingga menjadi sebab kematiannya. Serta-merta mereka berkata, “Berbahagialah dia dengan pahala syahid, wahai Rasulullah.” 

Namun, dengan tegas Rasulullah mengatakan: 

*كَلاَّ، وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ لَتَلْتَهِبُ عَلَيْهِ نَارًا أَخَذَهَا مِنَ الْغَنَائِمِ يَوْمَ خَيْبَرَ لَمْ تُصِبْهَا*
Sekali-kali tidak! Demi Zat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh sehelai kain yang ia ambil dari rampasan perang yang belum dibagi pada Perang Khaibar akan menyalakan api padanya *(HR Muslim).*

Abu Hurairah berkata: (Mendengar itu) para sahabat sangat ketakutan sehingga ada seorang yang menyerahkan satu atau dua tali sandal seraya mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami mendapatkan ini pada Perang Khaibar.” Rasulullah saw. pun bersabda, “Ketahuilah, sungguh  itu adalah satu atau dua tali sandal dari api neraka.”

Pada masa Khulafaur Rasyidin ada kebijakan yang dibuat oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. untuk mencatat harta kekayaan para pejabatnya saat sebelum dan setelah menjadi pejabat. Jika Khalifah Umar merasa ragu dengan kelebihan harta pejabatnya, ia akan membagi dua hartanya dan memasukan harta itu ke Baitul Mal.

Khalifah Umar ra. juga tak segan merampas harta yang diberikan oleh para pejabatnya kepada karib kerabat mereka. Umar pernah merampas separuh harta Abu Bakrah ra. karena kerabatnya bekerja sebagai pejabat Baitul Mal dan pengurusan tanah di Irak. Harta Abu Bakrah sebesar 10 ribu dinar (lebih dari Rp 25 miliar) dibagi dua oleh Khalifah Umar. Separuh diberikan kepada Abu Bakrah. Separuh lagi dimasukkan ke Baitul Mal *(Syahid al-Mihrab, hlm. 284).*

Amirul Mukminin Umar ra. juga pernah merampas harta Abu Sufyan setelah ia pulang dari Syam, menjenguk putranya, Muawiyah. Harta itu adalah oleh-oleh dari putranya. Beliau merampas uangnya sebesar 10 ribu dirham (lebih dari Rp 700 juta) untuk disimpan di Baitul Mal.

Pelaku suap, korupsi atau penerima gratifikasi juga bisa diberi sanksi penjara hingga hukuman mati sesuai keputusan qadhi sebagai ta’zir dalam sistem pidana Islam.

Pemberantasan korupsi dalam Islam menjadi lebih mudah dan tegas karena negara dan masyarakatnya dibangun di atas dasar ketakwaan. Hukumnya pun berasal dari wahyu, bukan dari hawa nafsu manusia sebagaimana dalam sistem demokrasi. Dalam sistem demokrasi, hukuman untuk para koruptor dan upaya penindakannya bisa diubah sesuai kepentingan. 

Korupsi marak di Tanah Air Antara lain karena keserakahan para pelaku, lemahnya hukum, juga mahalnya ongkos politik dalam sistem demokrasi. Untuk menjadi kepala daerah saja seorang calon harus punya dana minimal Rp 20-30 miliar. Padahal gaji yang mereka terima setelah menjabat kepala daeraha hanya puluhan juta rupiah. Pemilihan caleg di berbagai tingkat juga berbiaya tinggi. Inilah yang mendorong sejumlah kepala daerah dan anggota dewan ramai-ramai melakukan korupsi.

Karena itu sudah saatnya umat kembali pada syariah Islam yang datang dari Allah Mahasempurna. []


*Hikmah:*


Allah SWT berfirman:

*وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ*
Tidaklah mungkin seorang nabi berlalu curang (dalam urusan harta rampasan perang). Siapa saja yang curang, pada Hari Kiamat ia akan datang membawa kecurangannya itu. Kemudian setiap orang akan dibalas setimpal dengan apa yang dia lakukan dan dia tidak akan dirugikan *(TQS Ali Imran [3]: 161)*. []

Jumat, 07 Februari 2020

Tagged under: ,

Cara Islam Mengatasi Wabah Penyakit Menular

Buletin Kaffah, No. 127, 14 Jumada ats-Tsaniyah, 1441 H-7 Februari 2020 M

Dalam dua pekan terakhir ini, dunia sedang gelisah. Banyak orang resah. Sebabnya tidak lain adalah wabah. Virus Corona adalah pemicunya. Di Cina, tepatnya Kota Wuhan, asal mula virus ini menjangkiti sejumlah orang. 

Sejak pertama kali diumumkan pada 31 Desember 2019, kasus kematian akibat Virus Corona di Cina telah mencapai 425 orang. Sampai saat ini jumlah total kasus yang dikonfirmasi di Cina mencapai 20.438. Namun demikian, banyak orang meyakini, jumlah sebenarnya jauh berlipat-lipat. Ini karena Cina cenderung tidak terbuka menyampaikan info yang sebenarnya. 

Yang pasti, penyebaran wabah ini telah menjangkau 25 negara: mulai dari Amerika Serikat, Australia, Filipina, Finlandia, India, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kamboja, Kanada, Korea Selatan, Malaysia, Nepal, Prancis, Russia, Singapura, Spanyol, Sri Lanka, Swedia, Taiwan, Thailand, Vietnam dan Uni Emirat Arab (Cnbcindonesia.com, 4/2/2020).


*Gejala dan Pemicu*

Komisi Kesehatan Nasional Cina (NHC) mengatakan Virus Corona menular bahkan dalam masa inkubasinya yang berlangsung hingga 14 hari dengan kemampuan menyebar yang semakin kuat. Beberapa gejala yang dikeluhkan oleh mereka yang terinfeksi Virus Corona 2019-nCoV mirip dengan gejala coronavirus yang lain. Umumnya pasien akan mengeluhkan sejumlah gejala seperti suhu tubuh tinggi, batuk kering, napas pendek atau kesulitan bernafas. Namun, melansir dari South China Morning Post, penelitian baru pada Virus Corona Wuhan menemukan, virus mungkin hidup pada individu tanpa gejala yang jelas (infeksi asimptomatik). 

Kelelawar dianggap sebagai sumber penyebaran Virus Corona jenis baru dari Wuhan, atau Novel Coronavirus (2019-nCoV). Peter Daszak, Presiden EcoHealth Alliance, yang telah bekerja selama 15 tahun, telah mempelajari bagaimana penyakit berpindah dari hewan ke manusia. "Kami belum tahu sumbernya. Tapi ada bukti kuat bahwa Virus Corona Wuhan disebabkan oleh kelelawar. Mungkin kelelawar tapal kuda Cina, spesies umum yang beratnya satu ons," kata Daszak dilansir New York Times (Tribunnews.com, 3/2/2020).


*Pemerintah Lamban*

Boleh jadi, meski tidak kita harapkan, Virus Coronona juga bisa menjangkau negeri ini. Apalagi di Singapura, seorang WNI positif terjangkit Virus Corona (Kompas.com, 4/2/2020). 

Sayang, Pemerintah Indonesia cenderung lamban. Hingga Rabu (29/1/2020), Pemerintah baru memiliki opsi untuk mengevakuasi WNI di Provinsi Hubei yang berjumlah 243 orang itu. Begitu pula untuk urusan logistik. Baru akan dicarikan solusi 4-5 hari setelahnya. Yang aneh, Menteri Kesehatan Terawan Agung Putranto hanya mengimbau WNI, terutama yang berada di Wuhan, agar tidak stres. Dia menyebut Virus Corona bersifat swasirna. Artinya, pasien terjangkit Corona bisa sembuh sendiri bila kondisi tubuhnya cukup baik.

Padahal beberapa negara terus melakukan usaha evakuasi warganya dari Wuhan. Sejauh ini, Jepang, Amerika Serikat dan Prancis, telah memulangkan secara massal warganya dengan mengirim pesawat-pesawat sewaan. 

Penyebaran Virus Corona yang makin meluas juga tak membuat Pemerintah membatasi wisatawan Cina ke Indonesia. Terbukti, Pemerintah hanya penutup penerbangan langsung ke Wuhan, Ibukota Provinsi Hubei. Namun sebenarnya, pembatalan tersebut terjadi karena ekses kebijakan isolasi yang ditetapkan oleh Pemerintah Cina, selanjutnya diikuti oleh maskapai penerbangan, bukan berawal dari Kementerian Perhubungan sendiri.

Yang lebih aneh, Wakil Menteri Parekraf Angela Tanoesoedibjo mengatakan, tahun lalu terdapat sebanyak kurang lebih 1,9 juta wisatawan dari Cina. Meski begitu, hingga saat ini pihaknya masih dalam proses perhitungan berapa potensi devisa jika wisatawan dari Cina berkurang. Padahal di media sosial banyak netizen meminta Pemerintah untuk sementara menolak kedatangan warga Cina ke Indonesia karena khawatir penularan Virus Corona. Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, dr. Achmad Yurianto, malah meyakinkan bahwa virus bisa dicegah tanpa harus ada penolakan.


*Solusi Islam*

Islam selalu menunjukkan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal dan memberikan solusi atas segenap persoalan. Islam telah lebih dulu dari masyarakat modern membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menular. 

Dalam sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda:

‏ *لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ*
Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta *(HR al-Bukhari).*


Dengan demikian, metode karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah saw. untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul saw. membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah. Peringatan kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah saw. Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa.” *(HR al-Bukhari).*

Rasulullah saw. juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda:

*إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا*
Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninginggalkan tempat itu *(HR al-Bukhari).*

Dikutip dalam buku berjudul, Rahasia Sehat Ala Rasulullah saw.: Belajar Hidup Melalui Hadis-hadis Nabi karya Nabil Thawil, pada zaman Rasulullah saw., jika ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha'un, beliau memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus. Jauh dari pemukiman penduduk. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.

Pada masa Kekhalifahan Umar bin al-Khaththab juga pernah terjadi wabah penyakit menular. Diriwayatkan: 

*أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ. فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ‏ ‏إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْه‏.*
Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, "Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu." *(HR al-Bukhari).*


Riwayat ini juga dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah wa al-Nihayah. Menurut Imam al-Waqidi saat terjadi wabah Tha’un yang melanda seluruh negeri Syam, wabah ini telah memakan korban 25.000 jiwa lebih. Bahkan di antara para sahabat ada yang terkena wabah ini. Mereka adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, al-Harits bin Hisyam, Syarahbil bin Hasanah, Fadhl bin Abbas, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan dan Abu Jandal bin Suhail.


*Peran Sentral Penguasa*

Islam memang telah memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktikkan gaya hidup sehat. Misalnya, diawali dengan makanan. Allah SWT telah berfirman:

*فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا* 
Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian *(TQS an-Nahl [16]: 114).*


Selain memakan makanan halal dan baik, kita juga diperintahkan untuk tidak berlebih-lebihan. Apalagi sampai memakan makanan yang sesungguhnya tak layak dimakan, seperti kelelawar. Allah SWT berfirman:

*وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ*
Makan dan minumlah kalian, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan *(TQS al-A’raf [7]: 31).*


Islam pun memerintahkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sekitar. Untuk itulah Rasulullah saw. pun, misalnya, senang berwudhu, bersiwak, memakai wewangian, menggunting kuku dan membersihkan lingkungannya. 

Namun demikian, penguasa pun punya peran sentral untuk menjaga kesehatan warganya. Apalagi saat terjadi wabah penyakit menular. Tentu rakyat butuh perlindungan optimal dari penguasanya. Penguasa tidak boleh abai. Para penguasa Muslim pada masa lalu, seperti Rasulullah saw. dan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., sebagaimana riwayat di atas, telah mencontohkan bagaimana seharusnya penguasa bertanggung jawab atas segala persoalan yang mendera rakyatnya, di antaranya dalam menghadapi wabah penyakit menular. []



*Hikmah:*
Rasulullah saw. bersabda:
*مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ*
Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum Muslim, lalu dia tidak mempedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan mempedulikan kebutuhan dan kepentinganya (pada Hari Kiamat).
*(HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)*. []

Sabtu, 01 Februari 2020

Tagged under:

Sedekah Yang Paling Baik

ONE DAY ONE HADIS

Sabtu, 1 Februari 2020 / 7 Jumadil Akhir 1441

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَتُكَ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الْقُرْبَى الرَّحِمِ ثِنْتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

Rasulullah SAW bersabda: "Sedekahmu pada orang-orang miskin bernilai satu sedekah, sedangkan sedekahmu pada kerabatmu bernilai dua; yaitu dapat pahala sedekah dan menyambung silaturahim."

(Musnad Ahmad No: 27748) 

Pengajaran dalam 

1. Sedekah kepada kerabat yang membutuhkan lebih afdhal (utama) dibandingkan sedekah kepada selain kerabat. Karena sedekah kepada kerabat itu terhitung sebagai sedekah sekaligus silaturahim (menyambung kekerabatan). Sehingga ia mengandung dua pahala, yakni pahala sedekah dan pahala silaturahim.

2. Seorang suami yang menafkahi istrinya, anak-anaknya, dan keluarganya akan mendapatkan pahala yang berlimpah, yaitu pahala menunaikan amanah dan pahala sedekah.
3. Jika seseorang berinfak dengan penghasilan yang halal dan disertai dengan niat yang benar, maka ia memperoleh ganjaran yang besar dan kebaikan yang banyak.
4. Seseorang tidak boleh bersedekah dengan harta yang jelek dan sedikit manfaatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلاَ تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِئَاخِذِيْهِ إِلاَّ أَنْ تُغْمِضُوا فِيْهِ
“Dan janganlah kalian memilih harta yang buruk untuk diinfakkan, padahal kalian sendiri tidak mau mengambilnya, melainkan dengan memicingkan mata.” (QS. Al-Baqarah : 267)
5. “Harta yang buruk” maksudnya adalah harta yang jelek, bukan maknanya harta yang haram. Misalnya, apabila seseorang tidak menginginkan suatu makanan karena tidak lezat, lantas ia menyedekahkannya, atau makanan sudah tidak disukai lalu disedekahkan. Yang demikian bukan ucapan terimakasih dari saudara atau tetangga, bisa jadi gerundelan karena merasa terlecehkan. 

6. “Dan janganlah kalian memilih harta yang buruk untuk diinfakkan.” Seseorang tidak sepatutnya menyedekahkan pakaian jika ia lihat pakaian tersebut telah robek, tidak layak pakai, atau hanya bisa dikenakan dalam jangka waktu yang singkat. 

7. Demikian pula, tidak selayaknya menyedekahkan makanan yang tidak diminati oleh orang. Ini bukanlah sedekah, tetapi sekedar buang sampah. Sedekah semacam ini tidaklah bermanfaat di sisi Allah “Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna hingga kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai.”. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّوْنَ

“Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna hingga kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai.” (QS. Ali-‘Imran : 92)

Jumat, 31 Januari 2020

Tagged under: ,

Wajib Mengikuti Sistem Pemerintahan Warisan Nabi SAW

Buletin Kaffah, No. 126, 05 Jumada ats-Tsaniyah, 1441 H-31 Januari 2020 M

Lagi-lagi Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD melontarkan pernyataan kontroversial, bahkan “radikal”. Kali ini dia menegaskan bahwa meniru sistem pemerintahan Nabi Muhammad saw. adalah haram (NU Online, 25/01/2020).

Alasan Mahfudz MD, karena negara yang didirikan Nabi saw. adalah teokrasi. Nabi saw. merangkap tiga kekuasaan sekaligus yaitu legislatif, eksekutif dan yudikatif yang langsung dibimbing oleh Allah SWT. Kata dia, karena Nabi saw. sudah tidak ada, maka sekarang tidak bisa ada lagi negara seperti yang didirikan beliau. 

Logika Mahfudz MD ini tentu ngawur. Pasalnya, Nabi Muhammad saw. telah mencontohkan dengan lengkap melalui Sunnahnya berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk di dalamnya sistem pemerintahan.  Fakta-fakta baru pun mampu diselesaikan oleh Islam dengan seluruh perangkat hukumnya yaitu al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas.

Pernyataan Mahfudz MD ini juga berbahaya. Pasalnya, dengan logika yang sama, karena Nabi Muhammad saw. sudah tidak ada, maka hukum Islam lainnya yang pernah diajarkan dan dipraktikkan Nabi Muhammad saw. seperti shalat, puasa, zakat, haji, hukum waris, jilbab bagi Muslimah, hukum potong tangan bagi pencuri dan yang lainnya bisa menjadi tidak wajib bahkan menjadi “haram”. 
    
*Kedudukan Sunnah Nabi Muhammad saw. dalam Hukum Islam*

Sunnah Nabi Muhammad saw.—yakni perkataan, perbuatan dan persetujuan beliau—adalah salah satu sumber hukum Islam yang sangat penting dan termasuk masalah pokok (ushul).

As-Sunnah merupakan sumber hukum Islam yang nilai kebenarannya sama dengan al-Quran karena sama-sama berasal dari wahyu. Allah SWT berfirman:

*وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحَى*
Tidaklah yang dia  (Muhammad) ucapkan itu menuruti kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepada dirinya) *(TQS an-Najm [53]:3-4).*


Maknanya, apa pun yang disampaikan Nabi Muhammad saw. (al-Quran dan as-Sunnah) bersumber dari wahyu Allah SWT. Bukan dari dirinya maupun kemauan hawa nafsunya.  Allah SWT pun menegaskan:

*إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ*
Aku (Muhammad) tidaklah mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepada diriku *(TQS al-An’am [6]: 50).*


Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami dan diyakini bahwa kehujjahan Sunnah Nabi Muhammad saw. sebagai sumber hukum Islam adalah pasti (qath’i).

Oleh karena itu seorang Muslim wajib mencintai dan mengamalkan Sunnah Nabi saw. Termasuk Sunnah Nabi terkait sistem pemerintahan. Sunnah Nabi Muhammad saw. harus didahulukan di atas ucapan manusia, adat, kebiasaan termasuk kesepakatan manusia. 

Karena itu seorang Muslim harus berhati-hati, jangan sampai menolak Sunnah Nabi Muhammad saw., termasuk sistem pemerintahan yang beliau praktikkan, karena sikap demikian merupakan salah satu tanda riddah (murtad) (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 65).

*Wajib Mengkuti Sistem Pemerintahan Warisan Nabi Muhammad saw.*

Sistem pemerintahan warisan Nabi Muhammad saw. adalah Khilafah. Sistem Khilafah wajib diikuti. Nabi saw. bersabda:

*أُوصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ فَتَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ*
Aku mewasiatkan kepada kalian, hendaklah kalian selalu bertakwa kepada Allah, mendengar dan menaati (pemimpin) sekalipun ia seorang budak Habsyi. Sebab sungguh siapapun dari kalian yang berumur panjang sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah pada Sunnah itu dan gigitlah itu erat-erat dengan gigi geraham. Jauhilah perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid‘ah adalah kesesatan *(HR Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibn Majah).*


Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini berturut-turut dari Walid bin Muslim, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma‘dan, dari Abdurrahman bin Amr as-Sulami dan Hujr bin Hujr. Keduanya berkata: 

Kami pernah mendatangi al-‘Irbadhi bin Sariyah. Lalu al-‘Irbadhi berkata, “Suatu hari Rasulullah saw. mengimami kami shalat subuh. Beliau kemudian menghadap kepada kami dan menasihati kami dengan satu nasihat mendalam yang menyebabkan air mata bercucuran dan hati bergetar. Lalu seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini seakan merupakan nasihat perpisahan. Lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami?’”

Kemudian beliau bersabda dengan hadis di atas.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalur yang lain, Ibn Majah, at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibn Hibban dalam Shahih Ibn Hibban, juga al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘ala Shahihayn dan  ia berkomentar, “Hadis ini sahih.” Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunan al-Baihaqi al-Kubra.

Dalam hadis di atas Rasul saw. berpesan, “Aku mewasiatkan kepada kalian, hendaklah selalu bertakwa kepada Allah.” Ini menunjukkan kewajiban bertakwa secara mutlak; dalam hal apa saja, di mana saja dan kapan saja.

Kemudian beliau bersabda, “Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah pada Sunnah itu dan gigitlah itu erat-erat dengan gigi geraham.” 

Sunnah dalam hadis ini menggunakan makna bahasanya, yaitu thariqah (jalan/jejak langkah). Dalam hadis ini, Nabi saw. memerintah kita untuk mengambil dan berpegang teguh dengan jejak langkah beliau dan Khulafaur Rasyidin. Perintah ini tentu mencakup masalah sistem kepemimpinan. Sebab konteks pembicaraan hadis ini adalah masalah kepemimpinan. Artinya, hadis ini merupakan perintah agar kita mengikuti corak dan sistem kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, yaitu sistem Khilafah. Beliau sangat menekankan perintah ini dengan melukiskan (dengan bahasa kiasan) agar kita menggigitnya dengan gigi geraham.

Para ulama juga telah mengulas masalah ini secara global. Istilah Khilafah sering diungkapkan oleh para ulama dengan istilah Imamah, yakni al-Imamah al-’Uzhma (Kepemimpinan Agung). Khilafah dan Imamah adalah sinonim (mutaradif) karena esensinya sama, yakni kepemimpinan Islam. 

Imam al-Mawardi asy-Syafii mengatakan:

*اَلإِمَامَةُ مَوْضُوَعَةٌ لِخِلاَفَةِ النُّبُوَّةِ فِي حَرَاسَةِ الدِّيْنِ وَ سِيَاسَةِ الدُّنْيَا بِهِ*
Imamah itu menduduki posisi Khilafah Nubuwwah dalam memelihara agama (Islam) dan pengaturan urusan dunia dengan agama (Islam).

Imam an-Nawawi asy-Syafii juga berpendapat:

*اَلْفَصْلُ الثَّانِي فِيْ وُجُوْبِ اْلإِمَامَةِ وَ بَيَانِ طُرُقِهَا: لاَ بُدَّ لِلْأُمَّةِ مِنْ إِمَامٍ يُقِيْمُ الدِّيْنَ وَ يَنْصُرُ السُّنَّةَ وَ يَنْتَصِفُ لِلْمَظْلُوْمِيْنَ وَ يَسْتَوْفِي اْلحُقُوْقَ وَ يَضَعُهَا مَوَاضِعَهَا. قُلْتُ تَوْلِي اْلإِمَامَةِ فَرْضُ كِفَايَةٍ* …
Pasal kedua tentang kewajiban adanya Imamah dan penjelasan mengenai metode (untuk mewujudkan)-nya: Umat Islam harus memiliki seorang imam yang bertugas menegakkan agama, menolong Sunnah, membela orang yang dizalimi serta menunaikan hak dan menempatkan hak itu pada tempatnya. Saya mennyatakan bahwa menegakkan Imamah (Khilafah) itu adalah fardhu kifayah.


*Khatimah*

Alhasil, jelas bahwa sistem pemerintahan Islam warisan Nabi Muhammad saw. adalah Khilafah.  Tepatnya Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Khilafah menempatkan kedaulatan tertinggi di tangan syariah (Allah SWT). 

Khilafah dipimpin oleh seorang khalifah yang dipilih dan diangkat oleh umat dengan akad baiat.  Khalifah diangkat bukan dengan cek kosong, tetapi dengan tugas untuk melaksanakan syariah Islam secara kaffah.  Khalifah wajib menerapkan hukum syariah Islam di tengah-tengah umat sehingga terwujud masyarakat Islam. 

Melalui penerapan syariah Islam, Khalifah harus memastikan dan menjamin pemenuhan enam kebutuhan dasar warganya secara layak yaitu pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan.  Khalifah juga harus melakukan politik luar negeri dalam bentuk dakwah dan jihad.  

Khalifah tentu bukan manusia yang suci dan lepas dari dosa. Oleh karena itu Khalifah wajib dikoreksi dan dinasihati oleh umat bila menyimpang dari ketentuan syariah Islam. Bila Khalifah melakukan kesalahan dan penyimpangan maka dia wajib diadili di Mahkamah Mazhalim sebagai salah satu bagian dari struktur pemerintahan Khilafah.

Dengan paparan sekilas di atas maka Sistem Pemerintahan Islam, yaitu Khilafah, akan terhindar dari kepentingan partai politik seperti dalam sistem demokrasi yang cenderung korup. Khilafah juga menjamin kepastian hukum dan membawa kesejahteraan rakyat. *[]*

*Hikmah:*

Profesor Dr. Wahbah az-Zuhaili menyatakan:

*وَ إِنْكَارُ حُكْمٍ مِنْ أَحْكَامِ الشَّرِيْعَةِ الَّتِي ثُبِتَتْ بِدَلِيْلٍ قَطْعِيٍّ، أَوْ زَعْمُ قَسْوَةِ حُكْمِ مَا كَالْحُدُوْدِ مَثَلاً، أَوْ اِدْعَاءُ عَدَمِ صَلاَحِيَّةِ الشَّرِيْعَةِ لِلتَّطْبِيْقِ يُعْتَبَرُ كُفْراً وَ رِدَّةً عَنِ اْلإِسْلاَمِ. أَمَّا إِنْكَارُ اْلأَحْكَامِ الثَّابِتَةِ بِاْلإِجْتِهَادِ اْلمبَنْيِ عَلَى غَلَبَةِ الظَّنِّ فَهُوَ مَعْصِيَّةٌ وَ فِسْقٌ وَ ظُلْمٌ.*
Mengingkari salah satu hukum dari hukum-hukum syariah yang ditetapkan berdasarkan dalil qath’i, atau menyakini keburukan hukum syariah apapun itu, hudud misalnya, atau menuduh ketidaklayakan hukum syariah untuk diterapkan, semua itu dinilai sebagai kekufuran dan murtad dari Islam.  Adapun pengingkaran terhadap hukum yang ditetapkan dengan ijtihad yang dibangun di atas dugaan kuat (ghalabah azh-zhann) adalah kemaksiatan, kefasikan dan kezaliman. *(Syaikh Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 1/25).* []

Jumat, 17 Januari 2020

Tagged under: ,

Setelah Konstantinopel, Kita Akan Menaklukkan Roma

Buletin Kaffah, No. 124, 21 Jumada al-Ula, 1441 H-17 Januari 2020 M

Salah seorang sahabat Nabi saw., Abu Qubail, pernah bercerita: Ketika kami sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-‘Ash, dia ditanya, “Kota manakah yang akan ditaklukan terlebih dulu; Konstantinopel atau Roma?” Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian ia mengeluarkan kitab. Lalu ia berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah saw., beliau ditanya: “Di antara dua kota ini manakah yang akan ditaklukan terlebih dulu: Konstantinopel ataukah Roma?” Beliau menjawab:

*مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلًا يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ*
“Kota Heraklius ditaklukkan lebih dulu, yaitu Konstantinopel.” *(HR Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim).*

Hadis ini dinyatakan shahih oleh al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Adapun Abdul Ghani al-Maqdisi berkata, “Hadis ini sanadnya hasan.” 

Janji Nabi saw. itu ternyata memotivasi setiap khalifah kaum Muslim untuk merealisasikannya. Sejarah mencatat bahwa upaya serius penaklukan Konstantinopel telah berlangsung sejak masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan (668-669 M). Namun demikian, karena kuatnya pertahanan musuh, pasukan Islam yang dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah pada saat itu belum mampu menaklukkan kota tersebut.  

Konstantinopel dikenal dengan benteng-bentengnya yang sangat kokoh. Kota itu juga memiliki benteng alam berupa tiga lautan yang mengelilinginya, yaitu: Selat Basphorus, Laut Marmara dan Tanduk Emas. Ketiganya dikelilingi oleh rantai besar sehingga sangat sulit bagi kapal musuh untuk leluasa masuk ke dalamnya.

Daratannya juga dijaga oleh benteng yang kokoh terbentang dari Laut Marmara sampai ke Tanduk Emas. Dari segi kekuatan militer, kota ini terhitung sebagai kota yang paling aman dan terlindungi. Sebab di dalamnya ada pagar-pagar yang tinggi menjulang, menara pengintai yang kokoh serta serdadu Bizantium di setiap penjuru kota. Wajar jika wilayah itu sangat sulit untuk ditaklukkan.

Meski begitu, cita-cita untuk membebaskan Konstantinopel tidak pernah berhenti. Perjuangan berikutnya terus dilanjutkan oleh Khilafah Abbasiyyah. Pada masa Khalifah al-Mahdi, ia mengirim  sejumlah ekspedisi ke wilayah-wilayah Imperium Bizantium sejak 163 H/779 M. Saat itu Al-Mahdi mengirim sebuah ekspedisi musim panas yang langsung dipimpin putranya, Harun ar-Rasyid. Tujuannya untuk mengepung Konstantinopel. Tahun 166 H/782 M, Harun ar-Rasyid kembali memimpin ekspedisi musim panas yang berjumlah sembilan puluh lima ribu personel. Ekspedisi ini tiba hingga di laut yang mengelilingi Konstantinopel. Sayangnya usaha menjemput janji Nabi saw. ini pun gagal.

Selanjutnya, setelah Kota Baghdad jatuh pada tahun 656 M, yang menjadi akhir Khilafah Abbasiyah, usaha membebaskan Konstantinopel tetap diteruskan sampai ke generasi Khilafah Utsmaniyah, yakni Bayazid I (795-803 H/ 1393-1401 M) dan Sultan Murad II (1422 M). Usaha mereka pun masih tetap menemui kegagalan.

Namun demikian, upaya pembebasan terus berlanjut. Akhirnya, setelah delapan abad berlalu, Allah SWT mengabulkan impian umat Islam tersebut melalui kepemimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih, pemimpin ketujuh dari Khilafah Utsmaniyah. Sejarah menceritakan bahwa Muhammad Al-Fatih adalah seorang yang shalih. Sejak balig, Al-Fatih tidak pernah meninggalkan kewajibannya. Ia pun senantiasa memperbanyak amalan sunnah. Setelah diangkat menjadi sultan, Al-Fatih langsung melanjutkan tradisi para pendahulunya untuk terjun langsung dalam Penaklukan Konstantinopel.


*Bersungguh-sungguh Menjemput Janji Nabi saw.*

Muhammad Al-Fatih memperbanyak jumlah pasukannya hingga mencapai 250.000 personil. Angka ini merupakan jumlah yang sangat besar jika dibandingkan dengan jumlah tentara negara lain pada saat itu. Ia juga memperkuat pelatihan pasukan dengan berbagai seni tempur dan ketangkasan bersenjata. Dengan begitu mereka memiliki kemampuan tempur tingkat tinggi. Ia juga menanamkan nilai-nilai tauhid dan keislaman sehingga pasukannya benar-benar memiliki ruh jihad yang kuat.

Hampir dua bulan pasukan Muhammad Al-Fatih melakukan pengepungan dan serangan ke Konstantinopel, yaitu dari 26 Rabiul Awal hingga 19 Jumada al-Ula 857 H (6 April–28 Mei 1453 M). Muhammad Al-Fatih mengerahkan berbagai strategi. Di antaranya memindahkan kapal-kapal melalui bukit, membuat terowongan-terowongan dan membuat benteng bergerak dari kayu.  Akhirnya, pada 20 Jumadil Ula 857 M (29 Mei 1453 M) Konstantinopel berhasil dibebaskan oleh pasukan Islam *(Lihat: Ali Muhammad ash-Shalabi, Ad-Dawlah al-‘Utsmaniyyah: ‘Awamil an-Nuhudh wa Asbab as-Suquth, hlm. 87-107).*

Apa yang dilakukan oleh umat Islam saat itu menunjukan bahwa mereka benar-benar yakin dengan apa yang disampaikan oleh Nabi saw. Itu dibuktikan dengan kesungguhan mereka untuk menjemput janji beliau. Meskipun berulang gagal, para khalifah dari generasi ke generasi terus berupaya membuktikan kebenaran janji beliau tersebut. Akhirnya, perjuangan mereka membuahkan hasil yang sempurna di tangan seorang pemuda bernama Muhammad. Beliaulah yang sukses menaklukan Konstantinopel. Itulah sebabnya ia disebut sebagai Al-Fatih, yang berarti Sang Penakluk.

Memang seperti itulah seharusnya seorang Muslim. Sebagaimana janji Allah akan surga yang akan diraih setelah melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh dari para hamba-Nya, janji-Nya akan kejayaan Islam dan kaum Muslim pun harus diwujudkan dengan sungguh-sungguh oleh orang-orang yang beriman. Kemenangan tidak akan datang dengan sendirinya. Ia akan datang setelah melalui proses perjuangan yang panjang, yang kadangkala harus mengorbankan segenap jiwa dan raga. 


*Penaklukan Roma, Kabar Gembira yang Harus Kita Perjuangkan*

Kabar gembira Nabi Muhammad saw. tentang Penaklukkan Konstantinopel telah terbukti dan berhasil diwujudkan oleh Muhammad Al-Fatih. Selanjutnya, menurut hadis shahih  di atas, Rasulullah saw. mengisyaratkan bahwa berikutnya Kota Roma akan ditaklukkan. Saat ditanya, “Kota manakah yang dibebaskan lebih dulu, Konstantinopel atau Roma?” Rasul saw. menjawab, *“Kota Heraklius dibebaskan lebih dulu, yaitu Konstantinopel.”* (HR Ahmad).

Berdasarkan hadis tersebut, secara kronologis, Pembebasan Roma terjadi setelah Pembebasan Konstantinopel. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa kabar gembira tersebut justru Rasulullah saw.   sampaikan tatkala umat Islam dalam masa-masa sulit, yakni saat mempersiapkan parit untuk menghadang pasukan koalisi Bangsa Quraisy pada Perang Ahzab.

Dalam kitab *Mu’jam al-Buldan* karya Yakut al-Hamawi dijelaskan, bahwa maksud Rumiyah dalam hadis di atas adalah ibukota Italia hari ini, yaitu Roma *(Al-Hamawi, Mu’jam al-Buldan, 3/100).*

Setelah Pembebasan Konstantinopel tujuh abad yang lalu, hingga sekarang umat Islam belum berhasil membebaskan Kota Roma. Penyebutan Roma setelah Konstantinopel tampaknya merupakan mukjizat tersendiri karena hingga sekarang Roma merupakan simbol agama Nasrani dan peradaban Romawi (Barat).

Memang Rasulullah saw. tidak secara tegas menyebutkan kapan Pembebasan Roma terjadi dan siapa yang akan bisa melakukannya, seperti halnya Pembebasan Konstantinopel. Akan tetapi, yang pasti Pembebasan Roma tidak akan terjadi kecuali setelah umat Islam memiliki kekuatan yang sangat besar, yaitu kekuatan yang setara atau bahkan melebihi kekuatan umat Islam tatkala membebaskan Konstantinopel. Kekuatan itu hanya mungkin terjadi ketika umat Islam memiliki Khilafah yang ditegakkan berdasarkan metode kenabian. Demikian sebagaimana komentar Syaikh al-Albani ketika mengomentari hadis di atas. Ia menulis, “Penaklukan pertama (Konstantinopel) telah berhasil direalisasikan melalui tangan Muhammad Al-Fatih al-‘Utsmani. Seperti yang telah diketahui, penaklukan itu terealisasi setelah lebih dari delapan ratus tahun sejak kabar gembira itu disampaikan oleh Nabi saw. Pembebasan kedua (yaitu Penaklukan Kota Roma) dengan izin Allah juga pasti akan terealisasi. Sungguh, beritanya akan Anda ketahui di kemudian hari. Tidak diragukan bahwa realisasi pembebasan kedua itu menuntut kembalinya Khilafah Rasyidah ke tengah-tengah umat Muslim.” (Al-Albani, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, 1/33, nomor hadis. 1329).

Bukan tugas kita untuk memastikan kapan itu terjadi, sebab ini merupakan perkara gaib. Namun, bila dicermati lebih dalam, banyak kesamaan karakter perjalanan dalam merealisasikan janji tersebut, yaitu tidak lepas dari jihad fi sabilillah dan pengerahan pasukan yang sangat besar. Sebagaimana takluknya Konstantinopel saat Kekhilafahan Islam masih tergak berdiri, maka Roma pun hanya akan takluk saat Kekhilafahan kembali tegak nanti.

Tugas kita adalah memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah. Bukan diam. Apalagi menghalang-halanginya. Khilafah itulah yang akan mempersatukan kaum Muslim di seluruh penjuru dunia yang saat ini tercerai-berai. Kemudian muncullah kekuatan dan kelak takluklah Kota Roma di tangan kita semua. []


*Hikmah:*


*Allah SWT* berfirman:

*وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ*
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih di antara kalian, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam), dan akan mengubah (keadaan) mereka—setelah berada dalam ketakutan—menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutukan-Ku dengan apapun. Siapa saja yang (tetap) kafir setelah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik.
*(TQS an-Nur [24]: 55).* []