image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Jumat, 22 Maret 2019

Tagged under: ,

Siapa Bisa Melindungi Umat Muslim?

Buletin Kaffah No. 083, 15 Rajab 1440 H – 22 Maret 2019

Lagi, darah Muslim tertumpah. Sekitar 50 warga Muslim New Zealand di kawasan Christchurch, yang sedang bersiap beribadah shalat Jumat, menjadi korban penembakkan brutal oleh seorang teroris Kristen. Pelaku bukan saja berencana membunuhi warga Muslim. Dia juga berniat menciptakan ketakutan pada kaum Muslim di dunia dengan cara menyiarkan aksi terornya secara live streaming lewat media sosial.

Pelaku dan komplotannya kemudian berhasil dibekuk aparat. Namun, yang menjadi persoalan, mengapa begitu mudah darah umat Muslim di belahan dunia manapun, termasuk di negeri Islam sekalipun, ditumpahkan? Di Suriah, Irak, Rohingya, Kashmir, India dan Uighur nyawa kaum Muslim begitu mudah dicabut, tanpa ada pembelaan sama sekali!

Harga Nyawa Mukmin

Islam adalah satu-satunya agama yang memberikan penghargaan amat tinggi pada darah dan jiwa manusia. Allah SWT menetapkan pembunuhan satu nyawa tak berdosa sama dengan menghilangkan nyawa seluruh umat manusia:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي اْلأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا
Siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia (TQS al-Maidah [5]: 32).

Allah SWT pun mengancam orang yang menghilangkan nyawa seorang Mukmin dengan ancaman yang sangat keras:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
Siapa saja yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, balasannya ialah Neraka Jahanam. Dia kekal di dalamnya. Allah murka kepada dia, mengutuk dia dan menyediakan bagi dia azab yang besar  (TQS an-Nisa`[4]: 93).

Begitu cintanya pada jiwa seorang Mukmin, Allah SWT mengancam akan mengazab semua penghuni dan langit seandainya bersekutu dalam membunuh seorang Muslim. Rasul saw. bersabda:

لَوْ أَنَّ أَهْلَ السَّمَاءِ وَأَهْلَ الأَرْضِ اجْتَمَعُوا عَلَى قَتْلِ مُسْلِمٍ لَكَبَّهُمُ اللهُ جَمِيعًا عَلَى وُجُوهِهِمْ فِي النَّارِ
Andai penduduk langit dan penduduk bumi berkumpul membunuh seorang Muslim, sungguh Allah akan membanting wajah mereka dan melemparkan mereka ke dalam neraka (HR ath-Thabrani).

Dalam riwayat lain, kata Ibnu Abbas ra., saat memandang Ka’bah, Nabi saw. pun bersabda, “Selamat datang, wahai Ka’bah. Betapa agungnya engkau dan betapa agung kehormatanmu. Akan tetapi,  serang Mukmin lebih agung di sisi Allah daripada engkau.” (HR al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).

Adakah agama yang begitu memuliakan dan menjaga nyawa seorang hamba melebihi ajaran Islam? Tidak ada! Karena itulah, sepanjang sejarah penerapan syariah Islam, tak ada darah seorang Muslim pun ditumpahkan, melainkan akan diberikan pembelaan yang besar dari umat dan Daulah Islam. Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya menceritakan, ketika ada seorang pedagang Muslim yang dibunuh beramai-ramai oleh kaum Yahudi Bani Qainuqa, karena membela kehormatan seorang Muslimah yang disingkap pakaiannya oleh pedagang Yahudi, Rasulullah saw. segera mengirim para Sahabat untuk memerangi mereka dan mengusir mereka dari Madinah setelah mengepung perkampungan mereka selama 15 malam (Sirah Ibnu Hisyam, 3/9-11).

Pembelaan terhadap kehormatan dan darah kaum Muslim terus dilakukan oleh para penguasa Muslim sepanjang sejarah. Seperti yang dilakukan Sultan al-Hajib al-Manshur (971-1002 M). Ia dikenal oleh Barat sebagai penguasa Muslim dan jenderal di wilayah Andalusia. Ia pernah mengancam penguasa Kerajaan Navarre, salah satu kerajaan yang berada di wilayah Spanyol yang tunduk pada Khilafah Islam, karena diketahui menyekap tiga orang Muslimah di salah satu gereja di wilayah mereka. Sultan al-Hajib al-Manshur segera mengirim pasukan berjumlah besar untuk menghukum Kerajaan Navarre. Penguasa Navarre ketakutan. Dia segera mengirim surat permintaan maaf,  lalu melepaskan tiga Muslimah tersebut dan menyerahkan mereka kepada kaum Muslim. Bahkan dia berjanji akan menghancurkan gereja tersebut.

Umat Butuh Pelindung

Umat tak bisa melindungi diri mereka sendiri. Harus ada penguasa yang melindungi mereka. Demikianlah sebagaimana pesan Nabi saw.:

إنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Sungguh Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai; orang-orang akan berperang di belakang dia dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ahmad).

Rasulullah saw., selaku imam kaum Muslim, semasa menjadi kepala Negara Islam Madinah, telah melindungi setiap tetes darah kaum Muslim. Demikian pula Khulafaur-Rasyidun dan para khalifah setelah mereka. Mereka terus melindungi umat dari setiap ancaman dan gangguan. Dengan begitu umat dapat hidup tenang dimana pun mereka berada karena ada yang menjadi pelindung bagi mereka.

Bagaimanakah dengan sekarang? Saat puluhan warga Muslim ditembaki di dalam mesjid di New Zealand, adakah yang melindungi mereka? Adakah yang menuntut balas atas darah yang tertumpah? Belum lagi ratusan ribu nyawa Muslim yang menjadi korban pembantaian di Suriah, Irak, Palestina, Kashmir, Uighur dan Myanmar. Adakah yang membela dan melindungi mereka dari kaum agresor? Tidak ada!

Sampai hari ini pun, kaum Muslim Rohingya yang masih hidup masih terlunta-lunta. Tak bisa kembali ke kampung halaman mereka. Mereka menderita di penampungan. Sekitar satu juta Muslim Uighur juga masih mendekam di kam konsentrasi pemerintah komunis Cina tanpa ada yang mau menolong mereka. Tragisnya, Raja Saudi Muhammad bin Salman justru mendukung pemerintah komunis Cina melanjutkan program ‘deradikalisasi Islam’ terhadap Muslim Uighur.

Apakah para pemimpin Muslim lupa terhadap firman Allah SWT:

وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ
Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, kalian wajib memberikan pertolongan (TQS al-Anfal [8]: 72).

Tidakkah mereka pernah membaca sabda Nabi saw.:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يُسْلِمُهُ
Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain. Janganlah menganiaya dia dan jangan pula menyerahkan dia (kepada musuh) (HR al-Bukhari).

Bagaimana bisa para pemimpin Dunia Islam malah bermesraan dengan penguasa Timur dan Barat yang nyata-nyata menganiaya kaum Muslim seperti Cina, Rusia, AS atau Israel?

Bandingkan dengan sikap para pemimpin Barat usai penyerengan terhadap kantor Majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis beberapa waktu lalu. Mereka serentak turun ke jalan di Kota Paris. Mereka kompak mengutuk keras penyerangan tersebut meski jelas nyata kejadian ini dipicu penghinaan terhadap ajaran Islam.

Lihat pula ketika terjadi serangan terhadap Menara Kembar WTC 11 September 2001, George Bush langsung menyatakan perang terhadap apa yang ia namakan ‘kelompok teroris’. Lalu pada tahun 2003 AS menginvasi Irak bersama sejumlah negara dengan alasan menghukum para ‘teroris’. Hasilnya, setengah juta warga Irak tewas dalam operasi tersebut. Lagi-lagi tanpa pembelaan dan perlawanan. Semua penguasa Muslim diam!

Sekarang, siapa pula yang membela dan melindungi kaum Muslim? Lagi-lagi tidak ada! Padahal serangan terhadap Mesjid di Christchurch pekan lalu dilakukan oleh pelaku karena dorongan kebencian pada Islam. Dalam manifesto 74 halaman yang diunggah pelaku di sosial media, ia mengatakan bila dia memang penganut supremasi kulit putih yang ingin balas dendam terhadap serangan Muslim di Eropa.

Memang tidak semua warga non-Muslim di Barat memiliki kebencian terhadap Islam dan kaum Muslim. Berbagai simpati dan empati berdatangan dari warga dunia kepada korban penembakan.

Namun demikian, kebencian terhadap Islam (Islamphobia) telah meningkat di seantero Eropa dan Amerika Serikat adalah fakta. Sebuah survei yang dilakukan Pew Research Center mengenai Islamophobia, sentimen negatif warga Eropa terhadap Muslim melonjak di sepanjang tahun 2016. Di Inggris, prosentase Islamophobia meningkat hingga 28 persen.

Di Spanyol dan Italia, prosentase masing-masing adalah 50 persen dan 69 persen. Di Yunani prosentasenya 65 persen. Hungaria menduduki tingkat tertinggi dengan angka 72 persen.

Di Polandia, Prancis, Jerman, Belanda, dan Swedia berdasarkan laporan, peningkatannya juga terbilang tinggi.

Banyak warga Muslim di Eropa, terutama remaja dan perempuan, dilaporkan mengalami pelecehan secara verbal hingga pemukulan. Sepanjang tahun 2017, sekitar 200 mesjid diserang di seantero Eropa dan Inggris. Ini meningkat dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.

Meski demikian, tak ada satu pun pemimpin Dunia Islam yang merespon penderitaan umat. Para pemimpin umat hanya menjadi macan kertas. Hanya melakukan gertak sambal berisi kecaman kosong. Apakah mereka tidak malu pada remaja ingusan yang berani menghinakan senator Australia yang fasis membenci Islam? Padahal remaja itu non-Muslim dan dia tidak punya kekuasaan sebagaimana para penguasa Muslim itu?

Padahal Allah SWT tegas berfirman:

فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ
Karena itu siapa saja yang menyerang kalian, maka seranglah dia, seimbang dengan serangannya terhadap kalian (TQS al-Baqarah [2]: 194).

Jelas, kaum Muslim membutuhkan pemimpin yang sanggup melindungi dan membela mereka. Bukan pemimpin yang hanya menonton dan berkoar-koar di belakang meja, sementara tangannya tak pernah terulur menyelamatkan kaum Muslim.

Kita membutuhkan Khilafah yang dipimpin seorang imam/khalifah, yang akan menjadi perisai yang melindungi kita. Khilafahlah yang akan menghukum siapa saja yang berani menganiaya kita. []

Hikmah:

Nabi saw. bersabda:
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ
Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang Muslim (HR an-Nasa’i). []

Tagged under:

Dampak Makan Haram

ONE DAY ONE HADITS

Kamis,  21 Maret 2019 M / 14  Rajab 1440 H

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ».

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?”

(HR. Muslim no. 1015)

Kandungan hadits

1. Orang-orang yang memiliki harta halal dan mata pencaharian yang halal adalah orang-orang yang paling selamat agamanya, paling tenang hati dan pikirannya, paling lapang dadanya, paling sukses kehidupannya.

2. Mencari harta halal dengan cara yang halal adalah sifat mulia yang telah dicerminkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya.

Dari Abi Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أكَلَ طَيِّبًا ، وعَمِلَ فِي سُنَّةٍ ، وَأَمِنَ الناسُ بَوَائِقَهُ ، دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa mengkonsumsi sesuatu yang baik, melaksanakan sunnah dan masyarakat sekitarnya tidak terganggu dengan keburukannya, maka dia masuk surga’.

[HR. Tirmidzi]

3. Do’a, dan amalan sholeh terhalang tidak bisa naik ke langit. Untuk di dunia berpengaruh pada keberkahan hidup. Kesehatan diri bisa dipengaruhi dari makanan yang ia konsumsi setiap harinya. Oleh karena itu, seorang muslim bukan sekedar empat sehat lima sempurna, tetapi
halal dan haram menjadi ukuran yang pertama.

4. Makanan, minuman dan hasil nafkah   haram  berpengaruh
nasib kehidupan dunia-akhirat. Bahkan doa pun tertolak.

5. Daging yang tumbuh dari makanan yang haram adalah neraka tempat kembalinya.

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ؛ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari (makanan) yang haram dan neraka lebih layak baginya”.

(HR Ahmad, 3/321, Daarimi, no. 2776)

Selasa, 19 Maret 2019

Tagged under:

Tamak

ONE DAY ONE HADITS

Senim,  18 Maret 2019 M / 12  Rajab 1440 H .

عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

Dari Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.

HR Tirmidzi, no. 2376; Ahmad (III/456, 460); Ad-Darimi (II/304); Ibnu Hibban (no. 3218–At-Ta’lîqâtul Hisân) ; Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabîr  (XIX/96, no. 189)

Kandungan hadits

1- Di dalam hadits ini Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa ketamakan manusia terhadap harta dan jabatan pasti akan merusak agamanya. Ketamakan manusia kepada harta dan kepemimpinan akan membawa kepada kezhaliman.

2- Dunia merupakan tempat ujian dan cobaan.

3- Manusia dihiasi dengan kecintaan kepada harta, syahwat, dan perhiasan dunia lainnya.

4- Harta yang baik adalah yang dipegang dan dikuasai oleh orang yang shaleh.

5- Harta dan jabatan dalam konsep Islam adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dan beribadah kepada-Nya, serta digunakan untuk menegakkan  Islam.

6- Ketamakan manusia kepada jabatan dan segala pernak pernik nya merupakan awal dari kezhaliman.

7-  Ketamakan manusia kepada harta dan jabatan lebih sangat merusak agama dan kemuliaan seseorang daripada serigala yang menerkam sekumpulan kambing.

8. Hadits ini sebagai peringatan bagi manusia agar berhati-hati dan zuhud terhadap pangkat- jabatan beserta segala pernak pernik nya.

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

Tabiat manusia adalah mencintai harta dan kedudukan

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.

[QS.Al-Fajr:20]

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan.

[QS.Al-‘Âdiyât:8]

Minggu, 17 Maret 2019

Tagged under:

Menyempurnakan Separuh Agama

ONE DAY ONE HADITS

Ahad, 17 Maret 2019 M / 10 Rojab 1440 H

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال،قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي.

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertaqwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” _(HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)_

*Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:*

1. Keutamaan menikah adalah untuk menyempurnakan separuh agama dan kita tinggal menjaga diri dari separuhnya lagi.

2. Umumnya yang merusak agama seseorang adalah syahwat faroj (kemaluan) dan syahwat buthun (perut).

3. Kemaluan yang mengantarkan pada zina, sedangkan perut bersifat serakah. Nikah berarti membentengi diri dari salah satunya, yaitu zina dengan kemaluan. Itu berarti dengan menikah separuh agama seorang pemuda telah terjaga, dan sisanya, ia tinggal menjaga lisannya.

4. Dengan nikah berarti seseorang membentengi diri dari godaan syaithon, membentengi diri dari syahwat (yang menggejolak) dan lebih menundukkan pandangan.”

*Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Qur'an:*

Termasuk di antara rahmat Allah yang sempurna kepada anak-anak Adam ialah Dia menjadikan pasangan (istri) mereka dari jenis mereka sendiri, dan menjadikan rasa kasih dan sayang di antara pasangan-pasangan itu.

Seorang lelaki menikahi wanita karena cinta kepadanya atau karena sayang kepadanya, karena ingin mempunyai anak darinya, atau sebaliknya kerena si wanita memerlukan perlindungan dari si lelaki atau memerlukan nafkah darinya, atau keduanya saling menyukai, dan alasan lainnya.

 وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.
*[QS Ar-Rum : 21]*.

Jumat, 15 Maret 2019

Tagged under:

Memilih Surga

ONE DAY ONE HADITS

Jumat,   15 Maret 2019 M / 9  Rajab 1440 H .

.“إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.

“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”.

HR. Ahmad dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany.

Kandungan hadits

1. Ketika amalan wajib ditunaikan, khusus untuk wanita ada keutamaan lebih, yaitu disilahkan masuk surga melalui  pintu yang dikehendaki, syarat ketentuan nya adalah taat kepada suami

2. Dikisahkan bahwa seorang wanita datang kepada Rasululullah shallallahu’alaihiwasallam untuk suatu keperluan. Setelah selesai, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apakah engkau memiliki suami?”. “Ya” jawabnya. “Bagaimana sikapmu padanya?” sambung beliau. “Aku selalu melayaninya kecuali dalam hal yang tidak kumampui” jawabnya. Beliau bersabda,

“انْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ؛ فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ”.

“Perhatikan baik-baik bagaimana kedudukanmu di sisinya. Karena ia adalah surgamu atau nerakamu!”

HR. Ahmad dari Hushain bin Mihshan

3. Ketaatan seorang isteri kepada suami hanya berlaku dalam hal untuk mengamalkan syariat.
Tetapi bila sebaliknya, yaitu mengajak pada dosa dan maksiat, maka tidak ada ketaatan didalamnya.

Kamis, 14 Maret 2019

Tagged under:

Surga

ONE DAY ONE HADITS

Kamis,  14 Maret 2019 M / 8 Rajab 1440 H .

بسم الله الرحمن الرحيم
كتاب الجنة وصفة نعيمها وأهلها
باب في دوام نعيم أهل الجنة و قوله تعالى ونودوا أن تلكم الجنة

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ *قَالَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يَنْعَمُ لَا يَبْأَسُ لَا تَبْلَى ثِيَابُهُ وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُ* (رواه مسلم)

.......dari Abu Hurairah (w. 59 H) dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam (w. 11 H) bersabda:
*Barangsiapa masuk surga, ia bersenang-senang dan tidak bersedih, pakaiannya tidak usang dan kemudaannya tidak lenyap."*

H.R. Muslim (w. 261 H)

Kandungan hadits

1. Kehidupan surga  penuh dengan kenikmatan. al-Imam al-Nawawi dalam kitabnya, _Shahih Muslim bi al-Syarh al-Nawawi_ menjelaskan bahwa penghuni surga itu dalam keadaan senang selamanya dan tidak akan pernah merasakan kesusahan sedikitpun.

2.  Surga adalah tempat balasan segala amal baik yang telah dilakukan di dunia yang mana hanya sebagian orang saja yang mampu melaksanakannya.

3. Surga adalah negeri kemuliaan yang abadi, negeri yang penuh dengan kenikmatan yang sempurna, yang tak ada cela sama sekali. Berbagai kenikmatan telah Allah persiapkan di sana. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman:
“Aku telah persiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik di hati manusia.” Kemudian Rasulullah n berkata, “Kalau mau, silakan kalian baca:
“Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka. (as-Sajdah: 17)’.”

(HR. al-Bukhari no. 3244)

Selasa, 12 Maret 2019

Tagged under:

Berpasangan

ONE DAY ONE HADITS

Selasa,  12 Maret 2019 M / 6  Rajab 1440 H

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا  فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ.

Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: Malu dan iman sentiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya.”

(HR Thobarâni dalam Sahih Jami Shaghir: No 1603)

Kandungan hadits

1. Iman memiliki enam puluh lebih cabang. Malu adalah satu cabang dari Iman.” (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud). Malu atau rasa malu dapat diartikan dengan kusut atau ciutnya jiwa seseorang sehingga tidak mampu dan tidak kuat untuk melakukan hal-hal yang bersifat buruk atau tercela.

2. Jika rasa malu hilang dari seseorang maka akan mengakibatkan cela dan celaka.  Rasulullah saw  berabda, “Sesungguhnya Allah tatkala hendak membinasakan seorang hamba maka Allah mencabut rasa malu darinya. Ketika Allah telah mencabut rasa malu darinya, orang itu tidak akan mendapati dirinya, kecuali ia dibenci dan membenci orang lain,   dicabut amanah darinya. Ketika amanah telah dicabut darinya maka ia tidak mendapati dirinya, kecuali berkhianat dan dikhianati orang lain. Ketika tidak mendapati dirinya, kecuali ia berkhianat dan dikhianati maka akan dicabut darinya rahmat. Ketika telah dicabut rahmat darinya maka tidak mendapati dirinya, kecuali ia dikutuk dan dilaknat. Ketika tidak mendapati dirinya, kecuali ia dikutuk dan dilaknat maka akan dicabut darinya tali agama Islam.” (HR Ibnu Majah)

3. Malu dan iman adalah satu pasang, jika salah satunya hilang maka yang lain juga hilang.
(HR Al-Hakim).

4. Malu terhadap Allah, akan menghasilkan perasaan muraqobah (sentiasa merasa diawasi Allah), perbuatan ihsan, dan menjauhi kemaksiatan.

5. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok pribadi yang paling pemalu,  Allah Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk Makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang Maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.

[al-Ahzâb/ 33:53]