image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Senin, 09 Desember 2019

Tagged under: ,

Tajassus Haram!

Buletin Kaffah, No. 118_09 Rabiul Akhir 1441 H-6 Desember 2019 M


Masjid adalah tempat yang mulia. Tentu karena masjid telah Allah muliakan. Masjid menjadi tempat yang paling sakral bagi umat Islam. Masjid menjadi salah satu tempat hamba ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Rabb-nya. Masjid sekaligus merupakan tempat syiar-syiar Allah SWT diagungkan. Siapa saja yang meninggikan syiar-syiar Allah, khususnya di masjid, berarti ia termasuk orang yang bertakwa. Allah SWT berfirman:

*ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ*
Demikianlah (perintah Allah). Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sungguh itu timbul dari ketakwaan hati *(TQS al-Hajj [22]: 32)*.


Dengan demikian masjid idealnya adalah tempat yang paling menenteramkan jiwa di antara semua tempat di dunia ini. Dari dalam masjid inilah jiwa seorang Muslim secara total terkoneksi dengan Allah SWT. Di masjid, terutama saat menunaikan shalat, seorang hamba pada dasarnya sedang ‘berkomunikasi langsung’ dengan Penciptanya. Saat shalat di masjidlah seorang Muslim melupakan sejenak urusan duniawinya. Karena itu masjid seharusnya dikondisikan senyaman mungkin. Jangan pernah membuat kegaduhan yang bisa mengganggu orang-orang yang sedang beribadah kepada Allah SWT di dalamnya. Apalagi orang-orang yang memakmurkan masjid pun pastinya adalah mereka yang beriman kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

*إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ*
Sungguh yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang mengimani Allah dan Hari Akhir, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah. Mudah-mudahkan mereka termasuk kaum yang mandapatkan petunjuk *(TQS at-Taubah [9]: 18)*.


Karena itu aneh jika belakangan ada wacana bahwa Pemerintah—sebagaimana dilontarkan oleh Wapres Ma’ruf Amin—akan mengawasi (baca: memata-matai [tajassus]) masjid-masjid. Jika benar ada instruksi kepada polisi untuk mengawasi masjid-masjid yang notabene rumah-rumah Allah SWT, ini merupakan tindakan keji dan melampuai batas. Apalagi jika alasannya hanya sebatas dugaan bahwa banyak masjid telah terpapar radikalisme. Alasannya: Pertama, tindakan tajassus (memata-matai) kaum Muslim, apalagi di masjid-masjid, adalah haram dan bahkan termasuk dosa besar. Kedua, tudingan basi radikalisme oleh Pemerintah yang faktanya selalu menyasar kaum Muslim adalah tudingan tak berdasar. Apalagi jika dasarnya sebatas cadar, celana cingkrang, jenggot, dsb. Ketiga, jika pun faktanya tudingan radikal ditujukan kepada siapa saja yang kritis terhadap Pemerintah, ini pun keliru. Pasalnya, Pemerintah bukanlah ‘malaikat’ yang tak pernah salah. Bahkan dalam sistem pemerintahan Islam pun—yakni Khilafah—seorang khalifah wajib dikritisi dan dikoreksi jika keliru, menyimpang dan menyalahi syariah. Apalagi dalam sistem sekular, umat terutama para ulamanya wajib untuk terus mengingatkan Pemerintah. Tentu agar Pemerintah tunduk pada aturan-aturan Allah SWT. Agar Pemerintah menerapkan syariah Islam secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab itulah yang memang Allah SWT perintahkan. Keempat, harusnya siapapun paham, apalagi Wapres Ma’ruf Amin, bahwa narasi radikalisme hanyalah narasi ciptaan Barat kafir penjajah untuk menciptakan ketakutan pada Islam (Islamophonia). Tujuannya tentu agar warga dunia memusuhi Islam dan kaum Muslim. Narasi radikalisme adalah narasi Barat untuk melumpuhkan ajaran Islam sekaligus mengadu-domba sesama Muslim dan memecah-belah persatuan mereka.  Dengan demikian narasi radikalisme adalah jebakan Barat kafir penjajah untuk terus menguasai Dunia Islam, termasuk negeri ini yang mayoritas penduduknya Muslim. Karena itu tentu ironis jika Pemerintah dan para aparatnya malah menjadi alat Barat kafir penjajah untuk memusuhi dan menundukkan kaum Muslim yang notabene rakyatnya sendiri.


*Tajassus Haram!*

Allah SWT berfirman:

*يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا

كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ*
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan prasangka (kecurigaan) karena sebagian dari prasangka itu dosa. Janganlah kalian memata-matai (mencari-cari keburukan orang). Jangan pula kalian menggunjing satu sama lain. Apakah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang *(TQS al-Hujurat [49]: 12)*.

Tajassus secara bahasa bermakna mencari-cari berita dan menyelidiki sesuatu yang bersifat rahasia. Berkaitan dengan ayat di atas, Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahulLâh berkata, “Janganlah kalian mencari-cari keburukan orang lain dan jangan pula menyelidiki rahasia-rahasianya untuk mencari keburukan-keburukannya.” *(Ath-Thabari, Tafsir ath-Thabari, 22/304)*.

Imam adz-Dzahabi rahimahulLâh berkata, “Para ahli tafsir mengatakan: tajassus adalah mencari-cari keburukan dan cacat kaum Muslim. Ayat di atas bermakna: janganlah salah seorang di antara kalian mencari-cari keburukan saudaranya untuk diketahui, padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah menutupinya.” *(Adz-Dzahabi, Al-Kabâ’ir, hlm. 159)*.

Senada dengan ayat di atas, Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra.:

*إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا*
Jauhilah oleh kalian prasangka. Sungguh prasangka itu berita yang paling dusta. Janganlah kalian melakukan tahassus, tajassus, saling hasad, saling membelakangi dan saling membenci. Jadilah kalian bersaudara, wahai para hamba Allah! *(HR al-Bukhari)*.


Para ulama memasukkan tajassus ke dalam deretan dosa besar. Demikian sebagaimana dinyatakan oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab *Al-Kabâ’ir* dan Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab *Az-Zawâjir*.

Selain larangan keras dalam ayat dan hadis di atas, terdapat ancaman keras bagi siapa saja yang melakukan aktivitas tajassus. Nabi saw.  bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu ‘Abbas ra.:

*وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ، وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ، صُبَّ فِي أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ القِيَامَةِ*
Siapa saja yang berusaha mendengarkan pembicaraan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (didengarkan), atau mereka menjauh dari dirinya, maka pada telinga orang itu akan dituangkan cairan tembaga pada Hari Hiamat *(HR al-Bukhari)*.


Ibnu Hajar al-Haitami berkata, “Perbuatan tajassus dikategorikan sebagai dosa besar tampak jelas di dalam hadis ini walaupun saya tidak melihat para ulama menyebutkan demikian. Pasalnya, dituangkan cairan tembaga pada telinga—yakni pelaku tajassus—pada  Hari Kiamat merupakan ancaman yang sangat keras.” *(Al-Haitami, Az-Zawâjir ‘an Iqtirâfil Kabâ’ir, 2/268)*.


*Bertobatlah!*

Karena itu kami menyerukan kepada Anda, wahai para penguasa, selagi masih ada kesempatan, hendaklah Anda segera bertobat! Janganlah Anda lanjutkan perlakuan zalim Anda kepada kaum Muslim. Jika Anda tak berhenti dari melakukan kezaliman ini, niscaya hal demikian akan mengantarkan Anda pada penyesalan abadi di Akhirat nanti. Allah SWT berfirman: 

*اِنَّمَا السَّبِيۡلُ عَلَى الَّذِيۡنَ يَظۡلِمُوۡنَ النَّاسَ وَ يَبۡغُوۡنَ فِى الۡاَرۡضِ بِغَيۡرِ الۡحَقِّ‌ؕ اُولٰٓٮِٕكَ لَهُمۡ عَذَابٌ اَلِيۡمٌ*
Sungguh kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Bagi mereka itu siksaan yang amat pedih *(TQS asy-Syura [42]: 42)*.


Khusus kepada para polisi, tugas Anda seharusnya menangkap para kriminal. Bukan memata-matai masjid. Sejak kapan masjid jadi sarang penjahat? Anggota DPR saja yang banyak ketangkap KPK, gedungnya tidak dimata-matai polisi. Mengapa masjid dimata-matai? Kejahatan apa yang dilakukan para da’i dan jamaah di dalam masjid? An

ggota parpol saja banyak yang juga ketangkap KPK, kantornya tidak dimata-matai polisi. Mengapa masjid di mata-matai? Kejahatan apa yang dilakukan kaum Muslim di dalam masjid? 

Kehadiran polisi di masjid seharusnya semakin menambah ketenteraman dan kenyamanan kaum Muslim dalam beribadah. Bukan malah menimbulkan ketidaknyamanan, apalagi ketakutan bagi jamaah.

Jadilah Anda polisi pelindung, pengayom dan pelayan rakyat, sebagaimana slogan yang Anda miliki. Dengan itu kehadiran Anda akan membuat rakyat aman, tenteram dan terjaga. Bukan malah sebaliknya, kehadiran Anda justru membuat rakyat gelisah, was-was, bahkan sebagian mereka merasa takut. Apalagi jika Anda datang ke masjid hanya untuk mengawasi para ulama yang sedang berdakwah dan mengajarkan Islam kepada umat. Jika itu yang Anda lakukan, kami khawatir Anda termasuk ke dalam apa yang disabdakan oleh Nabi saw.:

*سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ شُرطَةٌ، يَغْدُونَ فِي غَضِبِ اللهِ، وَيَرُوحُونَ فِي سَخَطِ اللهِ*
Pada akhir zaman akan banyak polisi pada pagi hari dimurkai Allah dan pada sore harinya pun dibenci Allah *(HR ath-Thabarani)*. []



*Hikmah*:

Rasulullah saw. bersabda:

*لَيَأْتِيَنَّ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُقَرِّبُونَ شِرَارَ النَّاسِ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا  فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلا يَكُونَنَّ عَرِيفًا، وَلا شُرْطِيًا، وَلا جَابِيًا، وَلا خَازِنًا*.
Sungguh akan pasti datang kapada kalian para pemimpin yang menjadikan manusia-manusia terjelek sebagai orang dekatnya dan mereka biasa mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya. Siapa di antara kalian yang mendapatkan zaman itu, maka jangan sekali kali ia menjadi pembantu mereka, menjadi polisi mereka, tukang pemungut pajak mereka dan bendahara mereka.
*(HR Ibnu Hibban)*. []

Jumat, 29 November 2019

Tagged under: ,

Islam Wajib Dibela

Buletin Dakwan Kaffah Edisi 117
[2 Rabiul Akhir 1441 | 29 November 2019]

Sekularisme, yang dipraktikkan dan diterapkan oleh negara, sebagaimana di negeri Muslim ini, terbukti melahirkan banyak kaum fasik dan munafik. Mereka tak hanya menolak sebagian—bahkan sebagian besar—ajaran agamanya (Islam). Bahkan mereka tak segan-segan bekerjasama dengan kaum kafir untuk menghancurkan agamanya. Orang kafir melakukan konspirasi untuk merusak Islam dari luar. Orang munafik melakukan pendangkalan ideologi kaum Muslim dari dalam. 
Salah satu upaya mereka menghancurkan Islam adalah dengan saling membisikkan kalimat indah untuk menipu kaum Mukmin. Di antaranya dengan pernyataan: “Allah tak perlu dibela”, atau “Islam tak perlu dibela, atau “Kemuliaan Allah, Rasul-Nya dan al-Quran tak akan berkurang meski dinista”, dsb. Kata-kata mereka ini persis sebagaimana yang Allah SWT isyaratkan dalam firman-Nya:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

Demikianlah Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia (TQS al-Anam [6]: 112).

Dengan dalih “Islam tak perlu dibela”, mereka memprovokasi kaum Mukmin untuk meninggalkan amar makruf nahi mungkar. Inilah juga yang Allah SWT isyaratkan dalam firman-Nya:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ

Kaum munafik laki-laki maupun perempuan, satu sama lain saling memerintahkan yang mungkar dan melarang yang makruf (TQS at-Taubah [9]: 67).

Mereka bahkan melabeli “radikal” orang Muslim yang berusaha berpegang teguh pada agamanya, sekaligus berupaya membela agamanya saat dinista. Pada akhirnya, mereka ini sebenarnya berniat menghancurkan Islam. Allah SWT berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ 

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya (TQS ash-Shaff [61]: 8).
 
Islam Wajib Dibela

Benarkah Allah SWT, al-Quran dan Rasul-Nya tak perlu dibela? 

Pertama: Pandangan seperti ini bukanlah pemikiran. Siapapun yang mengatakan demikian. Apakah profesor, doktor, kiai, apalagi orang awam. Lebih tepat pandangan seperti ini disebut fantasi intelektual. Fantasi seperti ini tampak seperti logis dan masuk akal, padahal tidak. Mengapa? Pasalnya, mereka menggabungkan dua hal yang seharusnya dipisahkan karena memang berbeda konteksnya. 
Allah  SWT, Rasul-Nya dan al-Quran memang mulia. Tak akan berkurang kemuliaannya meski dinista atau direndahkan. Ini adalah ranah akidah. Ranah keyakinan dan keimanan.

Sebaliknya, membela dan menjaga kesucian Allah SWT, Rasul-Nya dan al-Quran adalah ranah amal kita sebagai Muslim. Karena itu tentu keliru jika keyakinan akan kemuliaan Allah SWT, Rasul-Nya dan al-Quran malah menghalangi kita untuk menjaga kemuliaan ketiganya. Justru sebaliknya, keyakinan kita demikian sejatinya mengharuskan kita berusaha untuk menjaga kemuliaan Allah SWT, Rasul-Nya dan al-Quran. 
Karena itu pandangan bahwa “Islam tak perlu dibela” hanyalah fantasi intelektual, bukan pemikiran karena bertentangan dengan fakta. Cara berpikir seperti ini juga merupakan cara berpikir kaum Fatalis (Jabariyah). Cara berpikir Fatalis ini dalam sejarah sering digunakan oleh rezim yang berkuasa untuk meninabobokkan rakyat agar mereka menerima saja penindasan yang dilakukan oleh rezim dengan alasan takdir. 

Kedua: Andai saja Allah SWT, al-Quran dan Rasul-Nya tidak perlu dibela, Allah SWT tentu tidak memerintahkan kita menjadi pembela-Nya. Padahal Allah SWT tegas menyatakan:

ياَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُوْنُوْا أَنْصَارَ اللهِ

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian para penolong (agama) Allah (TQS as-Shaf [61]: 14).

Allah SWT pun memerintahkan kaum Mukmin untuk membela Rasulullah saw:

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا. لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ

Sungguh Kami telah mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan; supaya kalian mengimani Allah dan Rasul-Nya, sekaligus mendukung dan memuliakannya... (TQS al-Fath [48]: 8-9).

Ketiga: Membela dan menolong agama Allah adalah “wasilah” agar kita mendapatkan pertolongan-nya. Dengan kata lain, ketika kita membela agama-Nya, membela kalam-Nya, membela Rasul-Nya, memperjuangkan syariah-Nya serta membantu para pejuang yang memperjuangkan agama-Nya, maka Allah akan menolong kita. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan mengokohkan kedudukan kalian (TQS Muhammad [47]: 7).

Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini dengan ungkapan, “Al-Jaza jinsu al-amal (Balasan itu sesuai dengan jenis amal yang dilakukan).” Artinya, ketika kita menolong Allah, Dia pasti akan menolong kita. 

Imam ar-Razi menjelaskan, frasa “In tanshurulLah (jika kalian menolong Allah)” dalam ayat di atas bermakna menolong agama-Nya, memperjuangkan tegaknya syariah-Nya dan membantu para pejuang yang memperjuangkan agama-Nya. 
Lebih jauh Imam as-Sadi menjelaskan makna ayat di atas: “Ini merupakan perintah dari Allah kepada kaum Mukmin agar membela Allah dengan menjalankan agamanya, mendakwahkannya dan berjihad melawan musuhnya. Semua itu bertujuan untuk mengharap ridha Allah. Jika mereka melakukan semua itu, Allah akan menolong mereka dan mengokohkan kedudukan mereka.” (Tafsir as-Sadi, hlm. 785)

Keempat: Andai Allah tidak perlu dibela, tidak akan pernah ada “Awliya AlLah” (para wali/kekasih Allah). Adanya “Awliya AlLah” merupakan konsekuensi dari adanya para penolong agama Allah. Di dalam al-Quran mereka disebut “Awliya AlLah” (wali/kekasih Allah) karena mereka membela agama Allah. Ketika mereka menjadi “Awliya AlLah” maka Allah pun menjadi Wali (Penolong/Kekasih) mereka. Ketika Allah menjadi Wali mereka (QS al-Baqarah [2]: 257 dan QS an-Nisa [4]: 45], karena mereka telah menjadi “Awliya AlLah”, maka mereka pun tidak lagi mempunyai rasa takut dan sedih sedikitpun. Inilah yang Allah SWT tegaskan:

أَلآ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Ingatlah, sungguh para wali/kekasih Allah itu tidak ada rasa takut sedikit pun pada diri mereka dan mereka pun tidak bersedih hati (TQS Yunus [10]: 62).

Karena itu para ulama, sebut saja Imam Abu Nuaim, dalam kitabnya, Hilyah al-Awliya dan al-Hafidz Ibn al-Jauzi, dalam kitabnya, Shifah as-Shafwah, memaparkan para penolong dan pembela Allah itu, mulai dari Nabi Muhammad saw, para sahabat, tabiin, atba tabiin dan generasi setelah mereka yang berjuang membela agama-Nya. Mereka yang membela agama Allah itulah para “Awliya AlLah”. 
Kelima: Andai saja Allah dan agama-Nya tidak perlu dibela, maka Nabi Muhammad saw tidak perlu bersusah payah berdakwah di Makkah hingga berdarah-darah. Beliau pun tidak perlu berperang bersama para sahabatnya melawan kaum kafir lebih dari 79 kali, 27 kali di antaranya langsung dipimpin oleh beliau. 

Begitu juga sejarah dakwah, perjuangan dan jihad yang dilakukan oleh generasi berikutnya, baik yang di bawah kepemimpinan Khalifah, maupun bukan. Semua itu adalah bukti bahwa para “Awliya AlLah” itu selalu ada. Mereka berjuang untuk membela Allah SWT, agama dan kehormatannya. 
Karena itulah ketika seorang wanita Muslimah, kehormatannya dinista oleh Yahudi Bani Qainuqa, Nabi saw yang mulia mengumumkan perang kepada mereka. Ketika kehormatan seorang wanita Muslimah dinistakan oleh kaum Kristen Romawi, dia menjerit, “Wa Mutashimah (Wahai Mutashim, tolonglah!)”, pasukan Khalifah al-Mutashim pun segera meluluhlantakkan mereka, hingga Amuriah, kota mereka, berhasil ditaklukkan. Ketika kehormatan Nabi Muhammad saw dinista, Sultan Abdul Hamid II, segera memperingatkan Inggris untuk menghentikan pementasan drama yang menista kemuliaan beliau. Jika tidak, Khilafah Ustmani akan melumat Inggris.
Semuanya itu bukti, bahwa “Awliya AlLah” selalu ada untuk membela, menjaga dan memperjuangkan kemuliaan agama-Nya. 

Namun demikian, al-Quran juga mencatat bahwa selain “Awliya AlLah”, juga adalah “Awliya asy-Syaithan (wali/kekasih/pembela setan)”. Mereka inilah orang yang menghalangi, merusak dan menghancurkan agama-Nya. Mereka menghalangi dan memerangi orang yang berjuang menegakkan agama-Nya. Mereka inilah wali setan dan setan menjadi wali mereka. Mereka inilah yang bakal merugi. Allah SWT berfirman: 

وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا

Siapa saja yang menjadikan setan sebagai wali (kekasih) selain Allah, dia benar-benar menderita kerugian yang nyata (TQS an-Nisa [4]: 119). 

Jadi, jelas sudah. Allah SWT, kalam-Nya, agama dan kesuciannya harus dibela, dijaga dan dilindungi. Ini merupakan kewajiban kita. Karena itu ketika kita menunaikan kewajiban ini, kita pun layak mendapatkan gelar dari Allah sebagai “Awliya AlLah”. Sebaliknya, siapapun yang membiarkan agama ini dinista, bahkan membela penistanya, maka mau atau tidak, sesungguhnya dia telah menjadi “Awliya asy-Syaithan”. 
Tinggal kita memilih yang mana, menjadi “Awliya AlLah” atau “Awliya as-Syaithan”?! []

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِهِ وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى وُجُوهِهِمْ عُمْيًا وَبُكْمًا وَصُمًّا مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنَاهُمْ سَعِيرًا

Siapa saja yang Allah beri hidayah, dia mendapatkan hidayah. Siapa saja yang Allah sesatkan, dia tidak akan pernah mendapatkan para penolong selain Allah. Kami akan membangkitkan mereka pada Hari Kiamat dengan wajah mereka tersungkur dalam keadaan buta, bisu dan tuli. Tempat tinggal mereka adalah neraka Jahanam. Setiap kali api neraka itu padam, Kami nyalakan lagi untuk mereka. 
(TQS al-Isra [17]: 97). []

Jumat, 15 November 2019

Tagged under: ,

Meneladani Nabi Muhammad SAW. Dalam Membangun Negara

Buletin Kaffah no. 115, 18 Rabiul Awal 1441 H-15 November 2019 M

Dalam sambutan Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. 1441 Hijriah di Istana Negara Jakarta, Jumat (8/11/2019), Wapres KH Ma’ruf Amin mengatakan bahwa ia ingin meneladani Rasulullah saw. dalam membangun Indonesia. Ia menyebut Nabi Muhammad saw. adalah tokoh perubahan yang luar biasa yang patut diteladani. Hanya dalam waktu 23 tahun, kata Ma'ruf, Nabi Muhammad saw. bisa mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat terbaik.

"Apa yang dicapai oleh Rasul karena memang beliau melakukan perubahan secara terus-menerus, berkelanjutan…," kata Ma'ruf. 

Nabi Muhammad saw., kata Ma’ruf, melakukan perubahan itu dengan hati, akhlak yang baik serta sikap santun sehingga masyarakat mau mengikuti ajarannya. Ma'ruf juga menilai cara itu bisa untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik.


*Teladan Membangun Peradaban*

Ada sebab kuat mengapa Allah SWT. mengutus Rasulullah saw. Di antaranya adalah untuk memberikan keteladanan yang paripurna. Pribadi Nabi saw. seluruhnya adalah kebaikan untuk semua bidang kehidupan. Akhlak, ibadah bahkan hingga pemerintahan yang beliau jalani penuh dengan keteladanan. Sepatutnya kaum Muslim menjadikan Nabi saw. sebagai satu-satunya contoh kebaikan dalam kehidupan. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi siapa saja yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Akhir dan dia banyak mengingat Allah *(TQS al-Ahzab [33]: 21)*.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjabarkan bahwa ayat yang mulia ini adalah pokok yang besar dalam mengikuti Rasulullah saw. dalam berbagai perkataan, perbuatan dan keadaan beliau. Imam Ibnu Katsir juga menuturkan, inilah perintah kepada manusia (para Sahabat) untuk meneladani Nabi saw. pada saat Perang Ahzab; dalam hal kesabaran, kedisiplinan, kesungguhan dan penantian beliau terhadap pertolongan dari Tuhannya (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 6/391).

Rasulullah saw. adalah satu-satunya insan yang berhasil membangun peradaban manusia yang mulia. Di tengah-tengah kompetisi Kekaisaran Romawi dan Kerajaan Persia, Nabi Muhammad saw. berhasil mengangkat harkat-martabat bangsa Arab dan umat manusia menuju peradaban yang sama sekali baru. 

Bangsa Arab dan umat manusia pada umumnya kala itu tenggelam dalam kubangan lumpur peradaban jahiliah. Di bidang keyakinan/akidah masyarakat tenggelam dalam takhayul, khurafat dan syirik. Bidang sosial dipenuhi oleh lautan syahwat yang merendahkan dan menindas kaum perempuan. Dalam bidang perekonomian, praktik tipu-menipu dan riba merajalela. Bidang politik dan pemerintahan didominasi oleh kelas borjuis atau tunduk pada penindasan imperium Romawi.

Nabi saw. berhasil mengubah mereka menjadi masyarakat yang bertauhid, berhukum hanya pada hokum Allah SWT, berakhlak luhur, menjalankan muamalah secara jujur dan amanah, serta memiliki sistem pemerintahan yang kokoh dan sukses menciptakan keadilan.

Peradaban itu lalu dilanjutkan oleh para khalifah setelah beliau, yakni Khulafaur Rasyidin dan para khalifah sesudahnya. Mereka sukses menyebarluaskan Islam hingga menguasai 2/3 dunia. Peradaban inilah yang dikagumi oleh bangsa Barat. Di antaranya oleh Raymound Leruge, seorang tokoh Katolik terkemuka. Dia mengagumi Muhammad saw. bukan sebagai nabi, tetapi sebagai seorang pemimpin yang berhasil melakukan perubahan total (revolusioner) dan membangun suatu negara yang berkeadilan. Dalam bukunya, La Vie De Mahomet, dia menulis: “Dalam kenyataannya, ia (Muhammad saw.) adalah promotor revolusi sosial dan revolusi internasional yang pertama…Ia meletakkan dasar-dasar suatu negara yang disiarkan ke seluruh dunia, yang semata-mata hanya menjalankan hukum keadilan dan kasih sayang. Ia mengajarkan persamaan di antara seluruh manusia serta kewajiban untuk saling menolong dan persaudaraan sedunia.”

Rasulullah saw. bukan semata teladan dal

am akhlak dan ibadah. Beliau juga memberikan tuntunan dalam politik dan pemerintahan. Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah saw. mempersatukan kaum Anshar dan Muhajirin, menata Negera Islam di Madinah dengan menyusun Piagam Madinah (Watsiqah al-Madinah). Dengan itu semua elemen masyarakat selain kaum Muslim, seperti kaum Yahudi, dapat ditundukkan.

Baginda Nabi saw. juga mengangkat sejumlah pejabat negara seperti para pembantu beliau dalam urusan pemerintahan, para gubernur, amil, juga panglima perang. Beliau menetapkan Abu Bakar dan Umar bin Khaththab ra. sebagai pembantu dalam bidang pemerintahan (mu’awin). Beliau pun mengangkat Muadz bin Jabal ra. sebagai gubernur (wali) di wilayah Janad, Ziyad bin Walid di wilayah Hadhramaut serta Abu Musa al-‘Asy’ari di wilayah Zabin dan ‘Adn. Untuk kesekretariatan pemerintahan, Rasulullah di antaranya menunjuk Zaid bin Tsabit ra. sebagai sekretaris dan pemegang stempel beliau.

Di bidang ekonomi, Rasulullah saw. mengangkat Abdurrrahman bin Auf sebagai pejabat yang mengurusi zakat unta, Bilal menangani zakat buah-buahan dan Muhmiyah bin Jaza’ mengurusi khumus. Beliau sendiri sering membagi-bagikan harta milik negara kepada yang berhak mendapatkannya.

Di bidang militer beberapa kali Nabi saw. langsung memimpin peperangan yang disebut ghazwah. Tidak kurang Nabi memimpin 27 kali peperangan. Beliau juga beberapa kali mengangkat sejumlah sahabat sebagai pimpinan pasukan ke medan perang yang disebut saraya. Misalnya, dalam Perang Mu’tah diangkatlah tiga orang sahabat bergantian sebagai panglima perang: Ja’far bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawahah. Ketiganya syahid dalam perang tersebut. Akhirnya, mereka digantikan oleh Khalid bin Walid ra.

Karena itu siapa saja yang mengingkari fakta bahwa Rasulullah saw. adalah sosok pemimpin negara dan pemerintahan, maka mereka telah berdusta dan mengingkari kebenaran. Jelas, pada diri Nabi saw. terdapat keteladanan sebagai kepala negara dan pemerintahan yang wajib diteladani.


*Kunci Sukses Mengelola Negara*

Ada sejumlah kunci kesuksesan Nabi Muhammad saw. sebagai seorang kepala negara dan pemerintahan. Pertama: Pribadi beliau yang berakhlak mulia. Sebagai seorang kepala negara, Rasulullah saw. menunjukkan pribadi pemimpin yang mengayomi. Beliau bukan seperti raja yang selalu mendapat pelayanan dari rakyat. Beliau justru menjadi pelayan masyarakat. Nabi saw. nyata hidup sederhana bukan karena pencitraan. Beliau pun selalu bekerja keras mengurus segenap urusan masyarakat dan memenuhi segala keperluan mereka. Inilah akhlak pemimpin yang sejatinya pelayan umat. Sabda beliau:

سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ
Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka *(HR Ibnu Majah)*

Kedua: Rasulullah saw. menjadikan akidah Islam sebagai landasan hidup bermasyarakat dan bernegara. Sebelum membangun negara dan pemerintahan di Madinah, dakwah Islam ditujukan untuk membongkar berbagai keyakinan batil yang ada di tengah-tengah masyarakat. Kemudian Nabi saw. menggantikan keyakinan mereka dengan akidah Islam. Beliau mengajak umat manusia mentauhidkan Allah SWT sekaligus tunduk hanya pada syariah-Nya. 

Karena keimanan, kaum Muslim senantiasa menaati Allah dan Rasul-Nya dalam segala urusan mereka. Tak pernah mereka berusaha menyelisihi perintah Allah SWT dan Rasul-Nya (Lihat: QS an-Nur [24]: 51). 

Ketiga: Rasulullah saw. hanya menerapkan syariah Islam secara paripurna (kaffah) dan konsisten. Beliau tidak pernah berkompromi dengan siapapun saat menjalankan hukum-hukum Allah SWT. Saat Penaklukan Makkah, Nabi saw. tidak membiarkan satu berhala pun tersisa. Seluruh berhala dihancurkan oleh kaum Muslim atas perintah beliau.

Rasulullah saw. juga menegur sebagian orang yang membujuk beliau agar tidak menjatuhkan sanksi pidana potong tangan kepada seorang perempuan dari keluarga bangsawan Bani Makhzum. Beliau berkhutbah kepada kaum Muslim:
إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ مُحَمَّدٍ سَرَقَ

تْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
Sungguh orang-orang sebelum kalian hancur lantaran jika ada bangsawan mencuri, dibiarkan, sementara jika ada kaum lemah mencuri, dihukum. Demi Allah, andai Fathimah putri Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya *(HR al-Bukhari)*.


*Meneladani Nabi saw. Secara Kaffah*

Jelas, umat wajib mengikuti dan meneladani Rasulullah saw. secara kaffah. Tidak boleh setengah-setengah. Umat tidak boleh melepaskan sosok Nabi saw. dari syariah Islam yang beliau bawa. Umat tidak boleh mengambil sebagian keteladanan dari Nabi saw., lalu mencampakkan sebagian lainnya. Misalnya meneladani kelembutan akhlak Nabi saw., tetapi meninggalkan keteladanan beliau dalam pemerintahan yang hanya menerapkan syariah-Nya. Di dalam Kitabullah telah diingatkan agar kaum Muslim mengambil semua yang dibawa Nabi saw. dan meninggalkan segala hal yang beliau larang. Allah SWT berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Apa saja yang Rasul berikan kepada kalian, terimalah. Apa saja yang dia larang atas kalian, tinggalkanlah. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sungguh Allah amat keras hukuman-Nya *(TQS al-Hasyr [59]: 7)*.


Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. bukanlah pilihan bagi umat, melainkan wajib diambil secara keseluruhan. Bentuk pemerintahan dan kenegaraan yang dipraktikkan oleh Nabi saw., yang diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin dalam wujud Khilafah, juga wajib untuk diambil, sebagaimana kaum Muslim berkewajiban mengikuti tatacara shalat yang dicontohkan oleh beliau. Karena itu tentu aneh dan ironis jika ada keinginan meneladani Rasulullah saw. dalam membangun Indonesia, tetapi menolak dengan keras sistem pemerintahan Islam (Khilafah) yang menerapkan syariah secara kaffah—yang notabene warisan Nabi saw.—karena dianggap bertentangan dengan kesepakatan.

Tentu meneladani Rasulullah saw. hanya dengan mengambil sebagian sunnah beliau sembari mencampakkan sebagian yang lain adalah kedurhakaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. []



*Hikmah*:


Allah SWT berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا
Tidaklah patut bagi laki-laki Mukmin maupun bagi perempuan Mukmin, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah benar-benar sesat.
*(TQS al-Ahzab [33]: 36)*. []

Jumat, 08 November 2019

Tagged under: ,

12 Rabiul Awal: Kegembiraan, Kesedihan dan Untaian Harapan

Buletin Kaffah no. 114, 11 Rabiul Awal 1441 H-8 November 2019 M

Tanggal 12 Rabiul Awal telah Allah SWT tetapkan untuk umat manusia, khususnya untuk umat Islam, sebagai hari yang menghimpun kegembiraan, kedukaan, kemuliaan dan untaian harapan sekaligus. 

Tanggal 12 Rabiul Awal menghimpun kegembiraan dengan kelahiran Nabi Muhammad saw. Beliau dilahirkan hari Senin pagi 12 Rabiul Awal pada tahun Gajah di Makkah (Ibnu Hisyam, as-Sîrah, 1/142; Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 2/264; Ibnul Qayyim, Zâd al-Ma’âd, 1/28). 

Kelahiran Nabi saw. memiliki makna yang sangat agung. Menurut Al-‘Allamah Sayyid Muhammad ‘Alwi al-Maliki, “Andai tak ada kelahiran Nabi, tentu tak akan pernah ada hijrah. Andai tak ada kelahiran Nabi, tentu tak akan ada Perang Badar. Andai tak ada kelahiran Nabi, tentu tak akan ada Penaklukan Kota Makkah. Andai tak ada kelahiran Nabi, tentu tak akan pernah ada umat Islam. Andai tak ada kelahiran Nabi, tentu tak akan pernah ada dunia ini.” 

Nabi saw. membawa petunjuk dari Allah SWT kepada manusia. Beliau sekaligus memberikan contoh dan teladan bagaimana menjalani dan menerapkan petunjuk tersebut. Beliau diutus dengan membawa risalah Islam yang menjadi rahmat untuk semua manusia. Beliau mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, membebaskan manusia dari berbagai bentuk kezaliman menuju keadilan, juga memerdekakan manusia dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Tanggal 12 Rabiul Awal menghimpun kemuliaan karena tanggal itu menjadi titik tolak risalah yang Nabi saw. bawa terealisasi dalam kehidupan nyata. Tanggal itu menjadi titik tolak penerapan hukum dan syariah yang beliau bawa. 

Nabi saw. memasuki Madinah pada hari Jumat tanggal 12 Rabiul Awal tahun 1 H (Lihat: Shafiyurrahman Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah (terj.), hlm. 232-233). Kedatangan Nabi saw. di Madinah menandai pendirian Daulah Islamiyah secara sempurna dan awal penerapan syariah Islam mengatur kehidupan. 

Sebelum Nabi saw. hijrah, terjadi Baiat Aqabah II di Makkah. Nabi saw. dibaiat oleh 73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan perwakilan Suku Auz dan Khazraj dari Yatsrib (Madinah). Baiat ‘Aqabah II ini merupakan akad penyerahan kekuasaan kepada Nabi saw. sekaligus penobatan beliau sebagai kepala negara. Baiat ‘Aqabah II itu sekaligus merupakan pendirian Daulah Islamiyah (Lihat: Al-Marakbi, Al-Khilâfah al-Islâmiyah bayna Nuzhûm al-Hukm al-Mu’âshirah, hlm. 16).

Dengan Baiat ‘Aqabah II itu secara hukum (de jure) Nabi saw. menjadi kepala negara di Madinah. Secara fakta (de facto) kepemimpinan Nabi saw. itu baru efektif setelah beliau tiba di Madinah pada 12 Rabiul Awal 1 H. Tanggal itu merupakan penyempurnaan pendirian Daulah Islamiyah yang beliau pimpin. Saat itu Rasul saw. langsung bertindak sebagai kepala negara dan menerapkan syariah Islam.

Sejak itu, selain berposisi sebagai nabi dan rasul dengan tugas tablîgh/menyampaikan wahyu (lihat QS al-Maidah [5]: 67), beliau juga menjadi penguasa (al-hâkim) yang diangkat oleh masyarakat Madinah melalui Baiat ‘Aqabah II. Dalam hal ini, Allah SWT memerintahkan Nabi saw. untuk menghukumi dan menerapkan syariah-Nya di tengah-tengah masyarakat (lihat: QS al-Maidah [5]: 48).

Di sisi lain, masyarakat (kaum Muslim) diperintahkan untuk menjadikan Nabi saw. sebagai hakim dalam semua perkara yang terjadi (QS an-Nisa’ [4]: 65). Nabi saw. pun menjelaskan dan mencontohkan bagaimana penerapan syariah dalam Daulah Islamiyah yang beliau pimpin. Beliau memutuskan perkara di tengah masyarakat, menerapkan hukum-hukum Islam atas mereka serta memimpin segala urusan negara dan masyarakat.

Hal itu terus berlangsung selama 10 tahun hingga Allah SWT mewafatkan Nabi saw. pada hari Senin pagi 12 Rabiul Awal tahun 11 H (Ibnu Katsir, As-Sîrah an-Nabawiyyah, IV/507). Ibnu Katsir berkata, “Inilah tanggal yang dipastikan oleh Al-Waqidi dan Muhammad bin Saad.” Dengan demikian tanggal itu pun menghimpun kesedihan atas kepergian sosok Nabi saw. 


Pasca Nabi saw. Wafat

Sepeninggal Nabi saw., lantas bagaimana kaum M

uslim menjalani hidup dan mengatur kehidupan? Seolah memberikan jawaban atas hal itu, sekitar tiga bulan sebelum wafat, tepatnya pada saat Haji Wada’, Rasul saw. berpesan dalam khutbah beliau kala itu:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Wahai manusia, sungguh telah aku tinggalkan di tengah kalian perkara yang jika kalian pegang teguh, kalian tidak akan tersesat selamanya: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya saw. (HR Malik, al-Hakim, al-Baihaqi, al-Marwaziy dan al-Ajuri).


Seiring kepergian Nabi saw., siapa yang akan memimpin kaum Muslim untuk berpegang dan menerapkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya? Siapa yang akan mengurusi dan memelihara urusan masyarakat? Siapa yang akan menerapkan syariah Islam sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi saw.? Seolah mempersiapkan jawaban atas hal itu, Rasul saw. pernah bersabda:

«كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي، وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ» 
Dulu Bani Israel diatur segala urusannya oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, dia digantikan oleh nabi lainnya. Sungguh tidak ada lagi nabi sesudahku. Yang akan ada adalah para khalifah dan jumlah mereka banyak (HR al-Bukhari dan Muslim).


Secara tersirat Nabi saw. berpesan, sepeninggal beliau kaum Muslim harus membaiat khalifah agar dia mengurusi urusan umat, tentu termasuk memimpin umat berpegang pada Kitabullah dan Sunah Nabi-Nya, dengan menerapkan serta menjalankan syariah Islam secara kaffah di tengah-tengah mereka. Para Sahabat ridhwanulLah ‘alayhim sangat paham atas hal itu.

Pada hari Senin saat Rasul saw. diwafatkan, perwakilan dari para Sahabat berkumpul di Saqifah Bani Saidah. Mereka membicarakan dan memilih pengganti Nabi saw. untuk mereka baiat menjadi khaifah guna memimpin mereka. Pada sore hari itu mereka membaiat Abu Bakar ash-Shiddiq ra. dengan baiat in’iqâd (baiat khâshah) sebagai khalifah. Selasa pagi Abu Bakar ash-Shiddiq ra. dibaiat oleh kaum Muslim di masjid dengan baiat taat (bay’at ‘âmmah) dan baru selesai waktu Isya malam Rabu. Setelah itu barulah Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. memimpin proses pemakaman jenazah Nabi saw. yang mulia dan selesai pertengahan malam pada malam Rabu itu. 

Semua Sahabat Nabi saw., termasuk keluarga, kerabat dan orang-orang dekat beliau sepakat atas penundaan pemakaman jenazah Nabi saw. yang mulia. Mereka lebih mendahulukan pemilihan dan pengangkatan khalifah yang menggantikan beliau. Dalam hal ini, Imam Ibnu Hajar al-Haitami menyatakan, “Ketahuilah juga, para Sahabat ra. seluruhnya telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah zaman kenabian berakhir adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan kewajiban ini sebagai kewajiban yang paling penting. Alasannya, mereka lebih menyibukkan diri dengan kewajiban tersebut daripada kewajiban mengurus jenazah Rasulullah saw.” (Ibnu Hajar al-Haitami, ash-Shawâ'iq al-Muhriqah, I/25).

Dengan begitu, wasiat Nabi saw. untuk berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah beliau pun bisa diwujudkan. Sunnah-sunnah yang beliau tinggalkan bisa terus diteladani secara riil. Risalah yang Nabi saw. bawa bisa terus dilanjutkan dan didakwahkan. Semua itu tiangnya adalah khalifah. Dengan demikian adanya khalifah itu menjadi hal yang amat penting dalam Islam. Tidak boleh ada jangka waktu umat kosong dari seorang khalifah. 

Begitulah yang dicontohkan oleh para Sahabat radhiyalLah ‘anhum. Ketika Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. wafat, Umar bin al-Khaththab ra. dibaiat menjadi khalifah. Ketika Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. wafat, Utsman bin Affan ra. dibaiat menjadi khalifah. Ketika Khalifah Utsman bin Affan ra. wafat, Ali bin Abi Thalib ra. dibaiat menjadi khalifah. Para ulama dan umat pun mensifati keempat khalifah itu sebagai Khulafaur Rasyidin. Era mereka adalah era Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Sekaligus hal itu menjadi sunnah mereka sebagai teladan bagi umat, melengkapi teladan dari Nabi saw.

U

mat Islam sepeninggal mereka terus melanjutkan dan menjaga Sunnah Nabi saw. dan Sunnah Khulafaur Rasyidin. Mereka terus memilih dan mengangkat khalifah setiap kali khalifah sebelumnya wafat. Mereka terus mempertahankan eksistensi Kekhilafahan di tengah-tengah umat Islam. Khulafaur Rasyidin dilanjutkan oleh Khilafah Bani Umayyah, lalu oleh Khilafah Bani Abassiyah, kemudian oleh Khilafah Utsmaniyah hingga berakhir pada 1924 M. Sejak itu sudah hampir seabad keberadaan khalifah dan Khilafah terputus dan hilang. Padahal adanya khalifah dan Khilafah itu akan membebaskan kita dari kematian Jahiliah sebab sabda Rasul saw. (artinya), “Siapa yang mati, sementara di atas pundaknya tidak ada baiat, maka matinya seperti mati jahiliah.” (HR Muslim, al-Baihaqi dan ath-Thabarani).


Khatimah


Alhasil, pada momen peringatan Maulid Nabi saw. sekarang ini, untuk mewujudkan kecintaan kepada Nabi saw. secara nyata, menjadi tugas dan kewajiban kita semua untuk melanjutkan risalah Nabi saw., sekaligus melestarikan contoh dan teladan Nabi saw. dan Khulafaur Rasyidin, serta mewujudkan kembali Sunnah Nabi saw. dan Khulafaur Rasyidin, yaitu Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Dengan upaya mewujudkan hal itu, semoga kita bisa bersama kekasih kita, Kanjeng Nabi Muhammad saw., kelak di akhirat. 

WalLâh al-Musta’ân. []



Hikmah:

Rasul saw. bersabda:
«فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ فَتَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»
Karena itu hendaknya kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah dengan sunnah itu dan gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi-gigi geraham kalian (peganglah dan amalkan dengan kuat).
(HR Ahmad, Abu Dawud Ibnu Majah dan at-Tirmidzi). []
Tagged under:

Doa Pembuka Aktifitas

ONE DAY ONE DOA
Kamis, 7 November 2019 M / 10 Rabiul Awawl 1441 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana, S.Ag., M.Ag.
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)


اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

Segala puji bagi Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, walaupun orang musyrik menyebar kebencian. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah Ya Allah … smoga keselamatan terlimpah atas Muhammad, keluarganya, dan para sahabat semua.

Hamdalah adalah sebaik-baiknya perkataan dan Allah pilihkan untuk hamba-hamba-Nya. Sebelum menyampaikan pesan dahului dengan memuji Allah SWT yang telah menanugerahkan berbagai nikmat sehat dan afiat. Berikut hadis penjelas tentang keutamaan mengucapkan hamdalah

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ اصْطَفَى مِنْ الْكَلَامِ أَرْبَعًا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ كُتِبَتْ لَهُ بِهَا عِشْرُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ عِشْرُونَ سَيِّئَةً وَمَنْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ كُتِبَ لَهُ بِهَا ثَلَاثُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا ثَلَاثُونَ سَيِّئَةً

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah memilih empat perkataan, yaitu subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha ilallah, dan allahu akbar. Barangsiapa mengucapkan “Subhanallah” maka akan dituliskan untuknya dua puluh kebaikan dan dihapuskan darinya dua puluh kesalahan. Barangsiapa mengucapkan “Allahu Akbar” maka akan dituliskan untuknya seperti itu pula. Barangsiapa mengucapkan “Laa ilaaha illallah” maka akan dituliskan untuknya seperti itu pula. Dan barangsiapa mengucapkan “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin” dari dalam hatinya, maka akan dituliskan untuknya tiga puluh kebaikan dan dihapuskan darinya tiga puluh kesalahan.” 

(HR. Ahmad no. 8032)

Setelah mengucapkan hamdalah hendaklah seseorang melanjutkan dengan shalawat. Fudholah bin ‘Ubaid berkata,
سَمِعَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً يَدْعُو فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « عَجِلَ هَذَا ». ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ « إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيُصَلِّ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ ».

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memanjatkan doa dalam shalatnya, lalu ia tidak memanjatkan shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun berkata, “Orang ini terlalu tergesa-gesa dalam doanya.” Kemudian beliau memanggilnya lalu menegurnya atau mengatakan pada lainnya, “Jika salah seorang di antara kalian berdoa, maka mulailah dengan memuji Allah, menyanjung-Nya, lalu bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mintalah doa yang diinginkan.” 

(HR. Tirmidzi no. 3477 dan Abu Daud no. 1481. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir menilai sanad hadits tersebut hasan).
Ibnul Qayyim menyatakan bahwa membaca shalawat pada saat berdoa, kedudukannya seperti membaca Al Fatihah dalam shalat. Jadi pembuka doa adalah shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk shalat, pembukanya adalah dengan bersuci.

Berikut Doa beberapa contoh doa pembuka biasanya dibaca sebelum khutbah, ceramah, pidato, pembelajaran, rapat, dsb.  

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ. اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ

Artinya: ” Segala puji bagi Allah , kepadaNya kita memuji, mohon pertolongan, mohon ampunan, dan mohon perlindungan dari bahaya diri kita dan buruknya amal-amal perbuatan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk Allah ta’ala maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk –kecuali dengan izin Allah-. Dan bahwasanya saya bersaksi tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah ta’ala semata, tiada sekutu bagiNya, dan saya bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Ya Allah smoga keselamatan terlimpah atas Muhammad, keluarganya, dan para sahabat semua.
 

اَلْحَمْدُ ِللهِ الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِيْنِ، الَّذِي حَبَانَا بِالْإِيْمَانِ واليقينِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد،ٍ خَاتَمِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِين، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيِن، وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ أَجْمَعِين، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْد

Segala puji bagi Allah, al-Malik Al-Haqq, Al-Mubin, yang memberikan kita iman dan keyakinan. Ya Allah, limpahkan shalawat pada Muhammad, penutup para nabi dan rasul, dan begitu pula pada keluarganya yang baik, kepada para sahabat piluhan, dan yang mengikuti mereka dengan penuh ihsan hingga hari kiamat.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan keluarganya, dan sahabat dan siapa saja yang mendapat petunjuk hingga hari kiamat.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛

Segala puji bagi Allah, yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat hamba-hambanya, Maha suci Allah, Dia-lah yang menciptakan bintang-bintang di langit, dan dijadikan padanya penerang dan Bulan yang bercahaya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya, yang diutus dengan kebenaran, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, mengajak pada kebenaran dengan izin-Nya, dan cahaya penerang bagi umatnya. Ya Allah, curahkan sholawat dan salam bagi nya dan keluarganya, yaitu doa dan keselamatan yang berlimpah.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الْعَزِيْزِ الْغَفُوْرِ، اَلَّذِيْ جَعَلَ فِي اْلإِسْلاَمِ الْحَنِيْفِ الْهُدَي وَالنُّوْرِ، اَللَّهُمَّ صَلِّيْ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتِمِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمَرْسَلِيْنَ وَعَلَي آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ وَأَصْحَابِهِ اْلأَخْيَارِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

Segala puji bagi Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, yang menjadikan petunjuk dan cahaya dalam Islam yang lurus, Ya Allah sampaikanlah doa keselamatan atas pemimpin kami Muhammad, penutup para nabi dan rasul, dan juga atas keluarganya yang mulia dan para sahabat pilihan semuanya.

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:

Segala puji bagi Allah, teriring doa dan keselamatan semoga terlimpah atas Nabi dan Rasul termulia, juga atas keluarga dan para sahabat, serta kepada yang mengikuti mereka dalam kebenaran sampai hari kiamat.

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ. وَنُصَلِّيْ وَنُسَلِّمُ عَلَى خَيْرِ اْلأَنَامِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan anugerah iman dan Islam kepada kita. Kita panjatkan doa dan keselamatan atas makhluk terbaik, pemimpin kita nabi Muhammad dan kepada keluarganya dan para sahabat semuanya.

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ:

Segala puji bagi Allah, kepada-Nya kita meminta pertolongan atas urusan-urusan duniawi dan agama, teriring doa serta keselamatan semoga tercurah atas Rasul yang termulia, ialah Nabi kita – shallallahu ‘alaihi wa salam- dan keluarganya, para sahabat, para tabi’in, dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، فَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَذَّرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اَلْوَاحِدُ الْقَهَّاُر، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ اْلأَبْرَارِ. فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak sebagaimana Ia perintahkan, maka berhentilah kalian semua dari apa-apa yang telah Dia larang dan peringatkan. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Kuasa lagi Perkasa, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya, pemimpin orang-orang sholih. Semoga shalawat Allah dan salam-Nya tercurah atasnya, dan keluarganya, juga para sahabat dan siapasaja yang mengikuti petunjuknya sampai hari kiamat.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ

Segala puji bagi Allah, yang memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan tali Allah, Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah saja tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, tidak ada nabi setelah dia. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya, para sahabat dan yang mengikuti petunjuknya

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

Segala puji bagi Allah, yang memerintahkan kita untuk bersatu dan berpegang teguh kepada tali agama Allah yang kokoh.. Ya Allah, limpahkan doa dan keselamatan atas Muhammad dan keluarganya, serta para sahabatnya semua.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ نَوَّرَ قُلُوْبَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِالْمَعْرِفَةِ فَاطْمَأَنَّتْ قُلُوْبُهُمْ بِالتَّوْحِيْدِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِلَى يَوْمِ الْمَوْعُوْدِ. . أَمَّا بَعْدُ

Segala puji bagi Allah yang telah menerangi hati orang-orang yang beriman dengan ma’rifah, lalu hati mereka menjadi tenang dengan tauhid. Ya Allah, semoga berkah dan keselamatan tercurah pada Muhammad dan para sahabatnya yang beriman dan mengerjakan amal saleh, hingga hari yang dijanjikan kelak.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ، اَلنَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah saja tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah doa, keselamatan dan berkah atas Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu, seorang Nabi yang ummi, juga kepada keluarganya dan sahabat semuanya.

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَعَزَّنَا باِلْإِيمَانِ بِهِ، وَهَدَاناَ إِلَى عَظِيمِ شَرِيْعَتِهِ، وَأَسْعَدَنَا بِاتِّبَاعِ أَفْضَلِ رُسُلِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، فيِ أُلُوهِيَّتِهِ وَرُبُوْبِيَّتِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ، وَصَحْبِهِ أَجْمَعِين وَبَعْد،

Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan kita dengan iman, dan memberi petunjuk pada kita menuju keagungan syariat-Nya, memberikah kebahagiaan kepada kita dengan mengikuti rasul-Nya yang termulia. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, sendirian tanpa sekutu bagi-Nya, baik dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, maupun nama dan sifat-Nya, begitu pula kepada keluarganya, dan para sahabat seluruhnya.

الحمد لله الذي تَخْضَعُ لعَظَمَتِهِ السَماواتُ والأَرْضُوْنَ ، اَللَّهُمَّ صَلِّيْ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتِمِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمَرْسَلِيْنَ وَعَلَي آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ وَأَصْحَابِهِ اْلأَخْيَارِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

Segala puji bagi Allah yang langit dan bumi-bumi tunduk karena keagungan-Nya, Ya Allah limpahkanlah berkah dan keselamatan atas Nabi Muhammad, penutup para nabi dan rasul, dan juga atas keluarga belia dan para sahabat yang terbaik dan kepada yang mengikuti mereka dalam kebenaran sampai hari kiamat.

الحمد لله المحمودِ في كل أوان، المعبودِ بحقٍّ في كل الزمان، الذي يَخْضَعُ لعَظَمَتِهِ الأملاكُ والإنسُ والجانُّ، اللهم صلي علي سيدنا محمّدِنِ المختار وعلي آله وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان الي يوم الدين مَا شَعَّتِ الأنوارُ ، وَمَا غَرَّدَتِ الأطْيار. أَمَّا بَعْدُ

Segala puji bagi Allah yang terpuji dalam setiap waktu, yang berhak disembah segala zaman, yang malaikat, manusia dan jin tunduk pada keagungan-Nya. Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami Muhammad nabi yang terpilih, dan pada keluarga dan para sahabatnya yang terbaik, dan kepada siapa saja yang mengikuti mereka dalam kebenaran sampai hari kiamat , dimana tidak ada lagi sinar cahaya dan kicauan burung-burung

الحمد لله الذي أَنْعَمَ عَلَيْنَا وَهَدَانَا إِلَى دِينِ الأِ سْلاَمِ وَ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا وَرَحْمَةً لِلنَّاسِ وَاشْكُرُونِعْمَةَ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُون وَ لَعَلّكُمْ تَتَّقُون. الَلّهُمّ صَلّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِْدِ المُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada kita, dan menuntun kita pada agama Islam, dan menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang penuh barokah dan rahmah bagi manusia. Dan bersyukurlah atas nikmat Allah seandainya kepada-Nya lah engkau beribadah dan supaya engkau beruntung. Ya Allah, semoga doa, keselamatan dan keberkahan tercurah pada pemimpin para utusan, dan juga kepada keluarga dan sahabat sekalian.

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الأزْمَانِ وَالآنَاءِ، فَلا ابْتِدَاءَ لوجوده ولا انتهاءَ، يستوي بعلمه السرُّ والخفاءُ، اَللَّهُمَّ صَلِّيْ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتِمِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمَرْسَلِيْنَ وَعَلَي آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ وَأَصْحَابِهِ اْلأَخْيَارِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

Segala puji bagi Allah, Tuhan segala tempat dan segala zaman, tidak ada awal dari wujud-Nya ataupun akhir keberadaan-Nya, dengan ilmu-Nya sama baginya hal yang rahasia dan tersembunyi. Ya Allah limpahkan berkah dan keselamatan pada junjungan kami, Muhammad penutup para Nabi dan rasul, dan kepada keluarga dan sahabat yang terbaik seluruhnya.

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Artinya: Segala puji bagi Allah Sang Penguasa alam semesta. Semoga salawat serta keselamatan tercurahkan selalu kepada Nabi dan Rasul termulia. Berserta keluarga dan sahabat-sahabatnya, semuanya.

نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

Artinya: Kami panjatkan segala puji padaNya dan kami meminta pertolonganNya. Seraya memohon ampun dan meminta perlindunganNya dari segala keburukan jiwaku dan dari kejelekan amaliahku. Barangsiapa yang telah Allah tunjukkan jalan baginya, maka tiada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa yang telah Allah sesatkan jalannya, maka tiada yang bisa memberinya petunjuk. Ya Allah limpahkanlah salawat dan salam bagi Muhammad saw berserta keluarga dan sahabat-sahabatnya, semuanya.

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ. وَنُصَلِّيْ وَنُسَلِّمُ عَلَى خَيْرِ اْلأَنَامِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah memberi sebaik-baik nikmat berupa iman dan islam. Salawat dan doa keselamatanku terlimpahkan selalu kepada Nabi Agung Muhammad Saw berserta keluarga dan para sahabat-sahabat Nabi semuanya

الْحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَمَّا بَعْدَهُ

Artinya: Puji syukur kepada Allah dan doa salawaat serta doa keselamatan kepada rasulullah junjungan dan pembimbing kita, Nabi Muhammad bin Abdillah.

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

Artinya: Segala puji bagi Allah Sang Penguasa alam semesta. Semoga salawat serta keselamatan tercurahkan selalu kepada Nabi dan Rasul termulia. Berserta keluarga dan sahabat-sahabatnya, semuanya.

Kamis, 07 November 2019

Tagged under: ,

Mencintai Nabi SAW

Buletin Kaffah No. 113, 04 Rabiul Awal 1441 H-1 November 2019 M

Seorang Muslim tentu mencintai Nabi saw. Sebab dalam Islam, cinta kepada Nabi saw. merupakan keharusan. Kecintaan kepada Nabi saw. merupakan salah satu pembuktian keimanan seorang Muslim. Kecintaan kepada Nabi saw. sekaligus merupakan bagian dari bekal yang bisa mengantarkan seorang Muslim untuk bisa masuk surga bersama-sama dengan beliau di akhirat kelak. Anas bin Malik ra. menuturkan:
أَنَّ أَعْرَابِيًّا، قَالَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ قَالَ: حُبَّ اللهِ وَرَسُولِهِ، قَالَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»
Seorang Arab berkata kepada Rasul saw., “Kapan Hari Kiamat?” Rasulullah saw. balik bertanya kepada dia, “Apa yang telah engkau siapkan untuk menghadapi Hari Kiamat?” Dia berkata, “Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda, “Engkau bersama dengan yang engkau cintai.” (HR Muslim, an-Nasa’i, al-Bazzar dan Ibnu Khuzaimah).
 
Tentu, cinta yang bisa mengantarkan seseorang untuk bersama-sama Nabi saw. di akhirat kelak itu bukan sembarang cinta, apalagi cinta dusta, tetapi cinta yang nyata dan sempurna. Anas bin Malik ra. menuturkan bahwa Rasul saw. bersabda:
«لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»“””
Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orangtuanya dan seluruh manusia (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, an-Nasai, al-Baihaqi, al-Hakim dan Ibnu Hibban).


Para Sahabat senantiasa berlomba-lomba menunjukkan cinta mereka kepada Rasulullah saw. Mereka biasa mendahulukan Rasulullah saw. di atas segala urusan dan kepentingan mereka. Mereka lebih mengutamakan Rasul saw. atas siapapun, termasuk atas saudara dan kerabat mereka, bahkan atas orangtua mereka sendiri.

Mencintai Nabi saw., Mencintai Syariah
Siapa saja bisa mengaku cinta. Namun, tidak sedikit pengakuan cinta yang hanya dalam kata. Cintanya dusta. Rasulullah saw. bersabda:
«... فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي»
…Siapa yang tidak suka dengan sunnahku maka dia bukan bagian dariku (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad, an-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Imam Ibnu Hajar al-‘Ashqalani (w. 852 H) di dalam Fathu al-Bârî menjelaskan, “Yang dimaksud dengan as-sunnah adalah ath-tharîqah (jalan), bukan lawan dari fardhu. Raghbah ‘an asy-syay`i adalah berpaling dari sesuatu kepada yang lain. Yang dimaksud adalah siapa yang meninggalkan jalanku dan mengambil jalan selainku maka dia bukan bagian dari golonganku.” 
Imam Badruddin al-‘Ayni (w. 855 H) di dalam ‘Umdah al-Qârî Syarhu Shahîh al-Bukhârî juga menyatakan, “Yang dimaksud as-sunnah adalah ath-tharîqah. Hal itu lebih umum dari fardhu dan nafilah, yakni mencakup amal dan akidah.” 
Dengan demikian Sunnah Nabi saw. itu adalah jalan dan petunjuk beliau yang mencakup akidah dan amal, yakni mencakup akidah dan syariah Islam. 
Dengan demikian pernyataan cinta kepada Nabi saw. harus mewujud dalam kecintaan pada akidah dan syariah Islam. Siapa saja yang tidak suka dengan syariah yang beliau bawa, apalagi berpaling darinya, maka cintanya kepada Nabi saw. hanyalah cinta dusta. Siapa yang mengaku cinta kepada Nabi saw., tetapi alergi terhadap syariahnya, maka cintanya palsu. Siapa yang mengaku cinta kepada Nabi saw., tetapi ucapannya merendahkan syariah, tindakan dan kebijakannya terjangkiti penyakit islamophobia, maka cintanya dusta meski dia biasa memperingati Maulid Nabi saw. dan mengaku cinta kepada beliau hingga berbusa-busa.
Singkatnya, rasa cinta kepada Nabi saw. akan menghasilkan kecintaan pada syariahnya. Kecintaan pada syariahnya tentu akan menghasilkan kerinduan pada penerapan syariah tersebut. Siapa yang mencintai Nabi saw. tentu tidak akan merasa nyaman dan tenteram tatkala sunnah beliau—yakni tharîqah, petunjuk dan syariah yang beliau bawa—ditinggalkan dan dicampakkan. Orang yang mencintai Nabi saw. tentu tidak akan mencintai siapa saja yang membenci, merendahkan apalagi memusuhi syariahnya. Mustahil, siapa yang mencintai Nabi saw., pada saat yang sama, dia juga mencintai orang yang memusuhi Nabi saw.; memusuhi syariah atau bagian dari syariah. 

Cinta Harus Nyata
Cinta hakiki kepada Rasulullah saw. sekaligus menjadi bukti cinta kepada Allah SWT. Sebaliknya, cinta kepada Allah SWT harus dibuktikan dengan mengikuti dan meneladani Rasulullah saw., yakni dengan mengikuti risalah yang beliau bawa. Itulah syariah Islam. Allah SWT berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah, "Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (TQS Ali Imran [3]: 31).

Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) di dalam Tafsîr al-Qurân al-Azhîm (Tafsîr Ibni Katsîr) menjelaskan ayat ini dengan menyatakan, “Ayat yang mulia ini menetapkan bahwa siapa saja yang mengklaim cinta kepada Allah, sedangkan ia tidak berada di jalan Muhammad saw. (tharîqah al-Muhammadiyyah), maka ia berdusta sampai ia mengikuti syariah Muhammad secara keseluruhan.”
Kecintaan kepada Nabi saw. dalam bentuk kecintaan yang benar dan tulus niscaya menghasilkan ketaatan kepada beliau. Di dalam penggalan Syair Imam Syafii (w. 204 H) dinyatakan:
لَوْ كانَ حُبُّكَ صَادِقاً لأَطَعْتَهُ
إنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيعُ
Andai cintamu benar, niscaya engkau menaatinya
 Sungguh pencinta itu sangat taat kepada yang dicinta

Jadi cinta yang hakiki akan melahirkan ketaatan. Sebaliknya, ketaatan merupakan bukti kecintaan. Klaim cinta kepada Nabi saw bisa dinilai dusta jika ternyata selain Nabi saw. lebih ditaati daripada beliau, petunjuk Nabi saw. diganti oleh petunjuk selainnya serta hukum-hukum yang beliau bawa ditinggalkan dan diganti dengan hukum-hukum yang lainnya. 
Ketaatan menunjukkan kecintaan. Kecintaan menunjukkan akan bersama siapa kelak di akhirat karena Rasul saw. bersabda, “Al-Mar`u ma’a man ahabba (Seseorang akan bersama orang yang dia cintai).” 
Karena itu hendaknya direnungkan, akankah kita bisa bersama Rasul saw di akhirat kelak jika sistem republik, trias politika, hukum positif dengan sistem civil law atau common law, doktrin kedaulatan manusia (rakyat) dan aturan selain Islam lebih dipilih dan diterapkan? 
Kecintaan kepada Nabi saw. harus dibuktikan dengan ketaatan kepada beliau. Ketaatan kepada beliau haruslah menyeluruh dalam apa saja yang beliau bawa dan apa saja yang beliau larang. Allah SWT memerintahkan:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Apa saja yang Rasul bawa kepada kalian, ambillah. Apa saja yang dia larang atas kalian, tinggalkanlah. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sungguh Allah amat keras hukumannya (TQS al-Hasyr [59]: 7).

Topik pembicaraan ayat ini memang berkenaan dengan harta ghanîmah dan fay’ (harta rampasan perang). Namun demikian, sebagaimana penjelasan Imam az-Zamakhsyari (w. 538 H), makna ayat ini bersifat umum, yakni meliputi semua yang Rasul saw. berikan dan semua yang beliau larang, termasuk di dalamnya perkara fay’. (Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyâf, 4/503).
Yang harus ditaati itu adalah apa saja yang dibawa oleh Rasul saw. dalam perkara apa saja: perkara spiritual, moral ataupun sosial kemasyarakatan; perkara ibadah, akhlak, keluarga, harta, ekonomi, hukum, pemerintahan, politik dan semua urusan masyarakat. 
Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:
﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ...﴾
Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah... (TQS an-Nisa’ [4]: 64).

Lalu Allah SWT menegaskan di dalam ayat berikutnya:
﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara apa saja yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka atas putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (TQS an-Nisa’ [4]: 65).

Menjadikan Rasul saw. sebagai hakim sepeninggal beliau adalah dengan menjadikan hukum-hukum syariah yang beliau bawa sebagai hukum untuk memutuskan segala perkara. 
Dengan demikian dua ayat di atas menegaskan bahwa Rasul saw. wajib ditaati dalam segala hal, termasuk dalam masalah hukum dan urusan sosial kemasyarakatan. Jadi mereka (manusia) pada hakikatnya tidak beriman hingga menjadikan hukum syariah sebagai pemutus atas segala persoalan. Karena itu mereka wajib menerapkan syariah secara menyeluruh untuk memutuskan segala persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. 
Begitulah cinta hakiki kepada Nabi saw. Cinta kepada Nabi saw. melahirkan pengutamaan beliau dan syariahnya di atas urusan dan kepentingan sendiri. Cinta kepada Nabi saw. harus mendorong kita untuk taat pada syariah yang beliau bawa. Cinta kepada Nabi saw. hendaklah mendorong kita untuk menerapkan syariah Islam secara kâffah di tengah-tengah kehidupan. 
WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []


Hikmah:

Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran bagi dirinya, lalu dia mengikuti jalan yang bukan jalan kaum Mukmin, niscaya Kami membiarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dia kuasai itu dan Kami memasukkan dia ke dalam Neraka Jahanam. Neraka Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.
(TQS an-Nisa’ [4]: 115).

Senin, 04 November 2019

Tagged under:

Doa Masuk-Keluar WC

ONE DAY ONE DOA
Senin, 4 November 2019 M / 7 Rabiul Awawl 1441 H

Oleh : Dr. Ajang Kusmana, S.Ag., M.Ag.
(Tinggal di Kabupaten Malang Jawa Timur)


اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِث

ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHOBAITS

Doa tersebut berasal dari hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki jamban, beliau ucapkan: Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.  

HR. Bukhari no. 142 dan Muslim no. 375.

Untuk do’a “Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobaits”, boleh juga dibaca Allahumma inni a’udzu bika minal khubtsi wal khobaits (denga ba’ yang disukun). Bahkan cara baca khubtsi (dengan ba’ disukun) itu lebih banyak di kalangan para ulama hadits sebagaimana dikatakan oleh Al Qodhi Iyadh rahimahullah. Sedangkan mengenai maknanya, ada ulama yang mengatakan bahwa makna khubtsi (dengan ba’ disukun) adalah gangguan setan, sedangkan khobaits adalah maksiat. Jadi, cara baca dengan khubtsi (dengan ba’ disukun) dan khobaits itu lebih luas maknanya dibanding dengan makna yang di awal tadi karena makna kedua berarti meminta perlindungan dari segala gangguan setan dan maksiat.
Ketika keluar kamar kecil disunahkan membaca do’a “ghufronaka”. Dalilnya adalah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ قَالَ « غُفْرَانَكَ ».

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa setelah beliau keluar kamar mandi beliau ucapkan “ghufronaka” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu).” 
HR. Abu Daud no. 30, At Tirmidzi no. 7, Ibnu Majah no. 300, Ad Darimi no. 680. 

Water Closet adalah tempat khusus buang air (besar/kecil). Duduk berlama-lama, merenung, bernyanyi, apalagi menghisap rokok di dalamnya memiliki kejelekan dan keburukan besar, di antaranya;
Pertama: WC karena lembab penuh dengan virus, bakteri, najis dan kotoran. Duduk di sana dapat terkena berbagai penyakit yang tidak kelihatan mata.
Kedua: Tempat-tempat buang hajat di datangi setan dari jenis jin, sebagaimana dijelaskan Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَة ٌ، فَإِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الْخَلَاءَ فَلْيَقُلْ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ (رواه أبو داود، رقم 6 وصححه الألباني في الصحيحة ، رقم 1070)

"Sesungguhnya tempat buang hajat, didatangi setan. Jika kalian masuk WC, maka ucapkanlah; 

A'UUZU BILLAHI MINAL KHUBUTSI WAL KHABAITS

(aku berlindung kepada Allah dari setan laki dan perempuan)"

(Diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 6. Dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 1070)

Tempat buang hajat adalah tempat tinggal jin, seperti Jin Nasab, Jin Cinta, Jin Sihir, dsb. karenanya kita diperintahkan untuk berlindung dari kejahatan jin jantan dan jin betina ketika memasukinya. 
Al-Khatabi berkata, "Setan mendatangi tempat-tempat seperti itu dan mengintainya unuk menyakiti dan berbuat kerusakan. Karena di tempat itulah biasanya zikir ditinggalkan dan aurat dibuka. "
Ibn Jibrin berkata, "Umum diketahui bahwa setan menyukai tempat yang kotor dan najis. Jika manusia tidak berlindung dari setan, maka dia akan mengganggunya, maka mereka mengenainya dengan najis, atau keburukan, yang tampak atau maknawi. Yang tampak terwujud dengan dia terkena najis namun dia tidak mempedulikanya. Adapun maknawi dengan cara menimbulkan keragu-raguan sehingga dia terpenjara oleh bisikan setan yang selalu ada padanya. Karena itu, diperintahkan untuk berlindung dari setan dengan berzikir kepada Allah." 
(Syarh Ahadits Umdatul Ahkam, pelajaran kedua)
Ibnu Utsaimin berkata, "Manfaat isti'azah (doa mohon perlindungan) ini adalah berlindung kepada Allah dari setan laki dan perempuan, karena tempat itu adalah tempat yang kotor, sedangkan tempat yang kotor adalah kediaman makhluk yang kotor, maka dia adalah tempatnya setan. Maka cocok, jika seseorang hendak masuk WC dia membaca A'uuzu billah minal khubutsi wal khaba'itsi, agar dirinya tidak terkena keburukan dan makhluk yang buruk." 

(Syarh Al-Muti, 1/83)

Ketiga:
Berdiam di dalam WC dalam waktu yang lama tanpa keperluan berarti membuka aurat tanpa alasan. Tidak dibolehkan bagi seseorang membuka auratnya tanpa alasan walaupun dia seorang diri, kecuali jika ada keperluan, Nah, berlama lama membuka Aurat menjadi sebab nempelnya Jin Cinta. Indikatornya, orang yang ketempelan Jin Cinta senang menjomblo, atau sulit menikah karena gampang tidak cocok dengan orang, bahkan membenci pasangannya dibuktikan dengan urusan sepele bisa menjadi bahan pertengkaran. Karena Jin cinta yang nempel didalam tubuhnya cemburu.

عن معاوية بن حيدة قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ عَوْرَاتُنَا مَا نَأْتِي مِنْهَا وَمَا نَذَرُ ؟.قَالَ: احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلَّا مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ .
فَقَالَ: الرَّجُلُ يَكُونُ مَعَ الرَّجُلِ . قَالَ: إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ لَا يَرَاهَا أَحَدٌ فَافْعَلْ . قُلْتُ: وَالرَّجُلُ يَكُونُ خَالِيًا . قَالَ: فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ .
رواه الترمذي، رقم 2769 وأبو داود، رقم 4017، وحسنه الألباني في آداب الزفاف صـ36) 

Dari Mu'awiyah bin Haidah, dia berkata, "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, apa yang boleh dan yang tidak?" Beliau menjawab, "Jagalah auratmu, kecuali dari isterimu dan budakmu." Dia berkata, "Jika seorang laki-laki bersama laki-laki." Dia berkata, "Jika engkau dapat (menjaga), agar tidak ada seorang pun yang melihat auratmu, maka lakukanlah." Aku berkata, "Jika seseorang sendiri." Beliau berkata, "Kepada Allah, dia lebih berhak untuk malu." 

(HR. Tirmizi, no. 2769, Abu Daud, no. 4017, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Adab Az-Zafaf, hal. 36) 

Keempat: Makruh hukumnya berlama-lama di WC, terlebih bila satu rumah hanya ada satu kamar mandi, tentunya menjadi kesusahan bagi anggota keluarga lainnya. Tidak sedikit yang curhat ke saya gara-gara ada saudara lakinya yang bila buang air berlama-lama di WC apalagi sambal merokok, pertama mudharatnya itu lama dan banyak waktunya terbuang, kedua, menjadi pengap ruangan Kamar mandi tersebut yang bila terus menerus dilakukan bisa menyebabkan kanker paru-paru atau paru paru basah. Terlebih syetan dari jenis Jin selalu menyukai seseorang yang auratnya terbuka, ingat kasus Adam-Hawa tergoda bujuk rayu Iblis karena ketika auratnya mulai terbuka.
Setan selalu menggoda manusia agar menanggalkan pakaian, sehingga terbuka auratnya, sementara Allâh Azza wa Jalla mewanti-wanti agar manusia tidak tertipu dengan godaan syaitan. Renungkanlah firman-Nya :

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا

Wahai anak cucu Adam ! Janganlah kalian tertipu oleh setan ! sebagaimana dia telah mengeluarkan ibu bapak kalian dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. [al-A’râf/7:27]
Dan disamping Islam memberikan perintah menutup aurat, Islam juga mengeluarkan larangan membuka aurat, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّا نُهِيْنَا أَنْ تُرَى عَوْرَاتُنَا

Sesungguhnya kami dilarang bila aurat kami terlihat.

HR. al-Hâkim (3/222), dan kandungan maknanya dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni rahimahullah dalam Silsilatu al-Ahâdîtsus Shahîhah (4/281-282).

Islam memerintahkan menutup aurat, dan melarang mengumbarnya. Dan yang perlu dicamkan yaitu tidaklah Islam memerintahkan sesuatu melainkan pasti ada bahaya bila perintah itu ditinggalkan, sebaliknya Islam tidak akan melarang dari sesuatu melainkan karena ada bahaya bila dilakukan.
Ibnu Taimiah berkata, "Jangan berlama-lama di tempat itu tanpa keperluan. Karena berdiam lama di tempat itu adalah makruh. Karena itu adalah tempat keberadaan setan dan tempat disingkapnya aurat." 
(Syarhul Umdah, 1/60)