image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Jumat, 08 Januari 2021

Tagged under: ,

Jangan Gentar Melakukan Amar Makruf Nahi Mungkar

Buletin Kaffah No. 175, 24 Jumada al-Ula 1442 H-8 Januari 2021 M


Setiap perintah Allah SWT pasti membawa kebaikan dan kemanfaatan. Setiap larangan-Nya pasti membawa keburukan dan kemadaratan. Untuk memastikan hukum Allah SWT tegak, Islam memiliki perangkat berupa dakwah dan amar makruf nahi mungkar (menyerukan kebaikan dan melarang kemungkaran) yang wajib dijalankan.  

Pelaku kemungkaran atau kezaliman bisa siapa saja. Individu, kelompok atau penguasa. Kemungkaran individu, menurut Imam al-Ghazali dalam Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn, bermacam-macam dan berbagai tempat. Kemungkaran bisa terjadi di masjid, di pasar, di jalanan, dan sebagainya. Dalam konteks kekinian, tentu tempat kemungkaran itu semakin luas dan banyak. Bisa di tempat rekreasi, tempat hiburan, hotel, penginapan, salon, kafe, bioskop, kampus dan sebagainya. 

Kemungkaran juga bisa dilakukan secara berkelompok, misalnya kemungkaran segerombolan perampok. Contoh lain adalah kelompok sekular yang menyebarluaskan ide, program atau langkah yang menyalahi Islam. Mereka juga mengadopsi ide liberal yang menafsirkan Islam agar tunduk pada kaidah-kaidah ideologi kapitalisme-sekular.

Kemungkaran bisa juga dilakukan oleh penguasa. Bahkan dengan kadar yang jauh lebih besar dan lebih luas. Misalnya, saat penguasa menjadikan sekularisme sebagai dasar kehidupan bernegara. Mereka menolak syariah Islam. Mereka menjalankan sistem demokrasi dalam bidang politik dan sistem kapitalisme dalam bidang ekonomi. Mereka pun melakukan kriminalisasi kepada ulama dan organisasi Islam dengan cap radikal.

Keutamaan Amar Makruf Nahi Mungkar  

Amar makruf nahi mungkar adalah kewajiban penting dalam Islam dan mengandung banyak keutamaan.  Di antara keutamaannya, amar makruf nahi mungkar merupakan ciri khas kaum Mukmin sekaligus menjadi ciri umat terbaik. Allah SWT berfirman:

وَٱلمُؤمِنُونَ وَٱلمُؤمِنَٰتُ بَعضُهُم أَولِيَاءُ بَعض يَأمُرُونَ بِٱلمَعرُوفِ وَيَنهَونَ عَنِ ٱلمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَٰئِكَ سَيَرحَمُهُمُ ٱللَّهُ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيم
Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka melakukan amar makruf nahi mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat serta mentaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (TQS at-Taubah [9]: 71).


Inilah salah satu ciri khas kaum Mukmin. Berbeda dengan kaum Bani Israil terlaknat yang tidak melarang kemungkaran di antara mereka (QS al-Maaidah [3]: 79). Berbeda pula dengan kaum munafik yang malah melakukan amar mungkar nahi makruf (QS at-Taubah [9]: 67).


Kemuliaan umat Muhammad saw. juga antara lain karena amar makruf nahi mungkar yang mereka lakukan. Allah SWT berfirman: 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ 
Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; melakukan amar makruf nahi mungkar dan mengimani Allah (TQS Ali Imran [3]: 110).


Berkaitan dengan ayat di atas, Imam Ahmad rahimahulLah meriwayatkan hadis dari Durrah binti Abu Lahab yang berkata: pernah ada seseorang berdiri menghadap Nabi saw. Ketika itu beliau berada di mimbar. Orang itu berkata, “Ya Rasulullah, siapakah manusia terbaik? Beliau bersabda, “Manusia terbaik adalah yang paling hapal al-Quran, paling bertakwa kepada Allah, paling giat melakukan amar makruf nahi mungkar dan paling rajin bersilaturahmi di antara mereka.” (HR Ahmad).

Syaikh As-Sa’di rahimahulLah menambahkan, “Allah memuji umat ini.  Allah mengabarkan bahwa mereka adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Hal ini karena mereka menyempurnakan diri mereka dengan iman, yang mengharuskan mereka untuk menunaikan semua perintah Allah. Juga karena mereka menyempurnakan orang lain dengan cara amar makruf nahi mungkar, yang di dalamnya terkandung dakwah ke jalan Allah. Mereka bersungguh-sungguh di dalam dakwah tersebut. Mereka mengerahkan seluruh kemampuan mereka di dalam mengembalikan manusia dari kesesatan dan kesalahan mereka (menuju ke jalan hidayah).” (As-Sa’adi, Taysir Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan, 1/143).

Jelaslah, selama berpegang teguh dan memelihara ciri khasnya, yaitu amar makruf nahi mungkar, umat Islam pasti menjadi umat terbaik. Sebaliknya, jika umat Islam meninggalkan amar makruf nahi mungkar, akan lenyaplah predikat agung itu dari diri mereka. 


Bahaya Meninggalkan Amar Makruf Nahi Mungkar 

Meninggalkan amar makruf nahi mungkar akan menimbulkan bahaya yang besar.  Saat amar makruf nahi mungkar ditinggalkan, Allah SWT akan mendatangkan azab-Nya kepada semua pihak, baik pelaku kemungkaran ataupun bukan. Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ لَا يُغَيِّرُونَهُ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابِهِ
Sungguh manusia itu, jika melihat kemungkaran, kemudian mereka tidak mengubah kemungkaran itu (menjadi kemakrufan), dikhawatirkan Allah akan meratakan azab-Nya kepada mereka semuanya (HR Ibn Majah).

Suatu kemungkaran yang terjadi di muka bumi, jika tidak ada seorang pun yang berusaha mengubahnya, akan menyebar. Kerusakan pun akan meluas. Jika kondisi sudah demikian, azab Allah SWT akan diturunkan kepada seluruh komponen masyarakat; baik yang shalih maupun tidak; pelaku kebajikan maupun pelaku kemungkaran; yang adil maupun yang zalim.

Hal ini dinyatakan dalam firman Allah SWT: 

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksanya (TQS al-Anfat [8]: 25).


Dalam ayat ini Allah SWT memberikan peringatan kepada kaum Mukmin agar tidak meninggalkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, juga tidak meninggalkan amar makruf nahi mungkar.  

Ayat di atas juga menekankan betapa pentingnya umat Islam melakukan amar makruf nahi mungkar terhadap siapapun pelaku kezaliman atau kemungkaran; baik individu, kelompok maupun penguasa. Jika kewajiban ini ditinggalkan, akan muncul siksaan atau cobaan yang menimpa secara umum, baik kepada pelaku kemungkaran dan kezaliman maupun orang-orang yang taat.

Meninggalkan amar makruf nahi mungkar juga bisa menjadi penyebab doa tidak dikabulkan. Rasulullah saw. bersabda: 

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهِ ثُمَّ لَتَدْعُنَّهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ
Demi Zat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian benar-benar melakukan amar makruf nahi mungkar atau (jika tidak) niscaya Allah akan mengirimkan hukuman/siksaan kepada kalian (karena keengganan kalian tersebut). Lalu kalian berdoa kepada Allah, namun Dia tidak mengabulkan doa kalian (HR at-Tirmidzi).


Hadis Nabi saw. ini menegaskan kewajiban setiap Muslim untuk mengajak berbagai pihak agar melakukan kebaikan dan melarang mereka melakukan keburukan. Hadis tersebut juga mengancam orang-orang yang enggan melakukan amar makruf nahi mungkar, yaitu akan diberi hukuman/siksaan atas keengganan mereka tersebut, juga pada saat itu doa yang mereka panjatkan tidak akan Allah SWT kabulkan.


Sabar dan Istiqamah

Amar makruf nahi mungkar bukanlah tanpa tantangan dan hambatan.  Perubahan yang diharapkan dari aktivitas amar makruf nahi mungkar tak selalu terjadi dalam waktu cepat.  Di sinilah diperlukan sikap sabar dan istiqamah.  Allah SWT berfirman:

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Lakukanlah amar makruf nahi mungkar dan bersabarlah atas segala sesuatu yang menimpa kalian. Sungguh yang demikian termasuk hal-hal yang telah Allah wajibkan (TQS Luqman [31]: 17).


Niat ikhlas semata-mata karena Allah SWT adalah kunci penting dalam membangun sikap sabar dan istiqamah. Terkait hal ini Imam Ibnu Taimiyah berpesan, “Wajib bagi pelaku amar makruf nahi mungkar  untuk selalu ikhlas semata-mata karena Allah, dengan maksud taat kepada Allah. Hendaknya tujuannya adalah untuk memperbaiki orang yang diperintah dan menegakkan hujjah kepada dirinya. Jangan bertujuan untuk mencari kedudukan, baik untuk dirinya maupun untuk kelompoknya, atau untuk melecehkan orang lain.”


Khatimah

Jika kemungkaran telah tampak secara terbuka di tengah masyarakat dan tidak ada yang berusaha menghentikannya maka basis-basis kemungkaran akan terbentuk, komponen-komponennya akan menguat, eksistensinya akan semakin tampak dan jaringannya semakin meluas.  

Kemungkaran yang telah eksis dan memiliki basis yang kuat menyebabkan para pelaku kemungkaran akan merasa di atas angin. Mereka lalu berusaha mempengaruhi berbagai pihak agar kemungkaran yang mereka lakukan diakui dan diikuti oleh orang lain. 

Apalagi jika kemungkaran dan kezaliman tersebut dilakukan oleh penguasa dengan berbagai perangkat kekuasaannya. Mereka akan menggunakan simbol, narasi dan tindakan, baik dengan halus maupun kasar, untuk mempengaruhi rakyatnya sehingga kemungkaran dan kezalimannya tetap berlangsung dan merajalela.  Akhirnya, kerusakan pun semakin parah dan merebak di berbagai bidang kehidupan, tempat dan waktu.

Jika hal ini terjadi, tidak ada pilihan lain,  umat Islam wajib bersungguh-sungguh melakukan amar makruf nahi mungkar dengan penuh keberanian tanpa keraguan dan rasa segan. WalLâhu a‘lam. []


Hikmah:


Rasulullah saw. bersabda:
أَلَا لَا يَمْنَعَنَّ رَجُلًا هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ إِذَا عَلِمَهُ
Perhatikanlah, janganlah rasa segan kepada manusia menghalangi seseorang untuk menyatakan kebenaran yang telah ia ketahui. 
(HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah). []

Jumat, 01 Januari 2021

Tagged under: ,

Pentingnya Muhasabah di Tengah Ragam Musibah

Buletin Dakwah Kaffah Edisi 174
[17 Jumada al-Ula 1442 H | 1Januari 2021]

Di setiap penghujung tahun, banyak kaum Muslim di berbagai tempat menggelar agenda muhâsabah (instrospeksi diri). Penghujung tahun 2020 ini, karena masih dalam suasana Pandemi Covid-19, kegiatan muhasabah banyak diselenggarakan secara online. Setiap tahun acara muhâsabah biasa diisi dengan zikir, doa, juga taushiyah.
Tentu muhâsabah tak semestinya hanya dilakukan di setiap penghujung tahun. Muhâsabah bisa dilakukan kapan saja. Imam Mawardi dalam kitab Adâb ad-Dunyâ wa ad-Dîn berkata, “Seorang Mukmin hendaknya melakukan muhâsabah pada malam hari atas amal yang dikerjakan pada siang hari. Sebabnya, waktu malam lebih menenangkan pikiran.” 

Muhâsabah tentu amat penting. Apalagi seiring perjalanan waktu, terjadi berbagai musibah yang menimpa umat. Sudah seharusnya kita berhitung apakah keadaan sekarang sudah sesuai dengan aturan Allah SWT? Ataukah justru merupakan akumulasi dari kemungkaran dan kemaksiatan diri dan umat?

Pentingnya Muhâsabah

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk Hari Esok (Akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahatahu atas apa yang kalian kerjakan (TQS al-Hasyr [59]: 18).

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengomentari ayat di atas dengan menyatakan, “Hisablah diri kalian sebelum dihisab (oleh Allah SWT). Perhatikanlah apa yang kalian siapkan untuk diri kalian sendiri berupa amal salih untuk hari yang ditetapkan atas kalian dan (hari) yang kalian perlihatkan pada Tuhan kalian. Ketahuilah, Dia Mahatahu atas seluruh perbuatan kalian dan keadaan kalian. Tak ada satu pun dari kalian yang tersembunyi (dari pandangan Allah SWT).”

Secara kebahasaan, muhâsabah berasal dari akar kata hâsaba-yuhâsibu-hisâb[an]-muhâsabat[an]. Artinya, 'melakukan perhitungan.' Muhâsabah atas diri dapat dimaknai: melakukan pembersihan dan penyucian diri dari berbagai dosa dan kemaksiatan. Hal itu dilakukan sampai berjumpa dengan Allah Azza wa Jalla dalam keadaan bersih dari maksiat dan dosa-dosa.
Muhâsabah adalah ciri seorang Mukmin yang mengharapkan rahmat Allah SWT. Fudhail bin Iyadh rahimahulLâh berkata, “Mukmin itu rajin menghisab dirinya dan ia mengetahui bahwa ia akan berada di hadapan Allah kelak. Adapun orang munafik lalai terhadap dirinya sendiri.” 

Keselamatan seorang Muslim di dunia dan akhirat salah satunya ditentukan seberapa sering dan mendalam muhâsabah yang ia lakukan. Dengan muhâsabah ia dapat mengukur apakah perbuatannya dilakukan ikhlas karena Allah SWT, ataukah karena mengharapkan apresiasi dan pujian dari manusia, atau agar ia mendapat dukungan dan keuntungan dari mereka. Seorang Mukmin yang mengharap surga-Nya akan berusaha sekuat tenaga meluruskan tujuan amalnya untuk merengkuh mardhatilLâh.

Melalui muhâsabah, seorang Muslim juga dapat menilai apakah perbuatannya telah selaras dengan hukum-hukum Allah SWT, ataukah justru ia membuat hukum sendiri untuk menjustifikasi perbuatannya yang bakal mencelakakan dirinya kelak di Akhirat. Ia menyangka telah bekerja keras di dunia untuk kebaikan, ternyata justru kesesatan yang selama ini ia kerjakan. Allah SWT berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104) 

Katakanlah, “Maukah kalian aku beri tahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Mereka adalah orang-orang yang sia-sia perbuatannya di dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.'' (TQS al-Kahfi [18]: 103-104).

Dengan menilik ayat ini, melalaikan muhâsabah adalah petaka sebagaimana nasihat Ibnu Qayyim rahimahulLâh, “Perkara yang paling berbahaya bagi suatu pekerjaan adalah meremehkan dan meninggalkan muhâsabah, melepaskan begitu saja, dan menggampangkan persoalan. Hal-hal itu akan menghantarkan pada kehancuran.”

Orang-orang yang mengharapkan derajat takwa tentu akan selalu terbiasa melakukan muhâsabah. Mengintrospeksi diri agar tidak merasa puas dengan amal yang ia kerjakan. Ia juga tidak meremehkan kemaksiatan. Ia akan begitu ketat dan berhati-hati menelaah ucapan dan perbuatan karena khawatir terselip dalam hidupnya sesuatu yang mengundang kemurkaaan Rabb-nya. 

Inilah yang menjadi ciri orang bertakwa sebagaimana perkataan Maimun bin Mahran rahimahulLâh, “Tidaklah seorang hamba menjadi orang yang bertakwa sampai dia melakukan muhâsabah atas dirinya lebih keras daripada seorang teman kerja yang pelit yang membuat perhitungan dengan temannya.”

Manfaat Muhâsabah

Muhâsabah memiliki banyak kebaikan. Di antaranya: Pertama, menyadari dosa-dosa diri sehingga memunculkan keinginan melakukan perbaikan dan bertobat kepada Allah SWT. Tanpa muhâsabah, seorang hamba selalu merasa suci dan benar sehingga tak ada keinginan untuk bertobat. 

Abu Bakar ash-Shiddiq, misalnya, pernah memegang lidahnya sambil mengatakan, “Lidah inilah yang menjerumuskan saya ke dalam banyak lubang (kesalahan).” 
Beliau pun sering menangis dan pernah berkata, “Demi Allah, sungguh saya berangan-angan menjadi pohon yang dimakan dan dilumat tanpa diminta pertanggungjawaban.''

Kedua, memunculkan rasa takut kepada Allah SWT sehingga mencegah diri dari sikap melalaikan hukum-hukum-Nya dan menelantarkan amanah. Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. sering menangis pada malam hari karena memikirkan nasib rakyatnya dan takut akan hisab di hadapan Allah SWT kelak. 

Ketiga, mendorong diri untuk selalu taat kepada Allah SWT dan meninggalkan kemungkaran. Umar bin al-Khaththab ra. pernah berinfak sebanyak 200 ribu dirham karena luput shalat ashar berjamaah. Putranya, Abdullah bin Umar, juga pernah ketinggalan shalat berjamaah. Sebagai gantinya, ia mengerjakan qiyamul layl sepanjang malam. Seorang ulama bernama Ibnu Aun rahimulLâah pernah membebaskan dua orang budak hanya karena ia merasa bersalah telah berkata dengan nada keras kepada ibunya.

Muhâsabah Total

Selain muhâsabah atas amal-amal dan dosa pribadi, kaum Muslim secara kolektif juga semestinya melakukan muhâsabah total atas kondisi mereka. Setiap Muslim wajib melakukan introspeksi atas keadaan umat pada hari ini, yang telah mengabikan hukum-hukum Allah SWT secara keseluruhan. 

Pada hari ini kita melihat darah umat amat murah. Bisa ditumpahkan kapan saja tanpa ada yang membela. Hukum-hukum Islam dimusuhi. Bahkan ada seruan agar umat Muslim mengganti ayat-ayat suci dengan ayat-ayat konsitusi. Kita juga menyaksikan orang-orang shalih dikriminalisasi. Sebaliknya, pelaku kriminal diberi hati bahkan banjir grasi dan amnesti.

Jika seorang Muslim bisa menangis ketika diingatkan dengan dosa kepada orangtua, atau shalat yang kurang khusyuk, atau buruknya adab kepada suami atau istri, semestinya ia juga bisa menangis melihat masih maraknya muamalah ribawi, hukum warisan penjajah diterapkan, apalagi sistem politik Islam dimusuhi dan dicampakkan. 

Jika hati merasa gelisah dan khawatir saat zakat belum ditunaikan, semestinya hati pun merintih ketika sumberdaya alam yang merupakan milik umat justru diserahkan kepada pihak asing. Jika kalbu merasa takut melalaikan shalat berjamaah, harusnya muncul ketakutan yang sama jika mendukung kezaliman, memusuhi syariah Islam dan memberangus orang-orang yang memperjuangkan Islam.

Jika kita bisa melakukan muhâsabah atas dosa-dosa pribadi, kita pun harus mulai menghitung besarnya dosa kolektif karena membiarkan aturan Allah yang agung ditelantarkan. Padahal menelantarkan hukum Allah adalah dosa besar. Allah SWT berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Demi Tuhanmu. Mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara apa saja yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan atas putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (TQS an-Nisa [4]: 65).

Jangan pula hati ini hanyut dalam muhâsabah diri, tetapi di sisi lain condong kepada para pelaku kezaliman. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan (TQS Hud [11]: 113).

Menjadi bahan introspeksi diri pula jika hati mau tergerak untuk meningkatkan amal pribadi, tetapi belum mau tergerak untuk melakukan amar makruf nahi mungkar dan menyerukan tegaknya syariah Islam. Sikap seperti ini yang diingatkan oleh Rasulullah saw akan mendatangkan bencana pada umat.

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ 

Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaklah kalian bersunguh-sungguh melakukan amar makruf nahi mungkar atau (jika tidak) Allah akan menimpakan siksaan kepada kalian dari sisi-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, tetapi Dia tidak mengabulkan doa kalian (HR at-Tirmidzi). []

--**--

Hikmah:

Rasulullah saw bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menghisab dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati. Orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.
(HR at-Tirmidzi). []

Selasa, 29 Desember 2020

Tagged under:

Khilafah Solusi Jitu Bebas Hutang

Oleh: Wiwit Widayani, SH.I 

Miris kondisi negeri kita yang kaya ini. Hutang luar negerinya sudah nyaris mencapai enam ribu triliun rupiah. Kondisi ini menjadikan Indonesia termasuk 10 negara terbesar yang memiliki hutang. 
(https://m.republika.co.id/berita/qlzk5w440/utang-luar-negeri-nyaris-rp-6-000-triliun-berbahayakah
https://www.viva.co.id/amp/berita/bisnis/1334179-kaleidoskop-2020-utang-ri-10-terbesar-dunia-nyaris-rp6-000-triliun?__twitter_impression=true) 

Sisi lain, tak ada solusi jitu yang ditawarkan kapitalisme demokrasi. Wajar, karena kapitalisme demokrasi memang sudah rusak dari akarnya yakni dari sumber pijakan hukum yang ditetapkannya. Yakni berpijak kepada aturan buatan manusia bukan wahyu. Berpaling dari wahyu atau hukum Allah SWT akan menyebabkan kesempitan, kesusahan hidup. Firman-Nya:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ ﴿١٢٤﴾

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".(Q.S.20:124)

 ۚوَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مِنْ أَمْرِهِۦ يُسْرًا ﴿٤﴾

"Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya."(Q.S.65:4)

Solusi jitu atasi segala persoalan, termasuk atasi hutang adalah takwa, sesuai ayat 4 surat At-Thalaq. Allah SWT pemilik langit, bumi,semua kekayaan yang terkandung di dalamnya menjamin itu. Takwa artinya menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Tentunya takwa terwujud nyata, praktis, total dalam seluruh aspek kehidupan dalam sistem Khilafah. 

Sistem Khilafah mewujudkan negara dengan APBN tanpa hutang. 

Jika khilafah diterapkan, maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) Indonesia bisa surplus Rp451 triliun. Hal itu dikemukakan Dr. Muhammad Rahmat Kurnia, MSi pada Konferensi Tokoh Ummat, Ahad (10/06/2012) di Pekanbaru.

Perkiraan itu berbanding terbalik dengan APBN-Perubahan yang dikeluarkan pemerintah dimana APBN 2012 mengalami defisit 190,1 triliun.
Penerimaan di APBN-P senilai Rp. 1.358,2 triliun dengan sumber terbesar dari pajak Rp1.012 triliun (74.5%), sedangkan belanja negara Rp1.548,3 triliun.

Sementara itu, dalam APBN Khilafah, prediksi penerimaan negara sebesar Rp. 1.999 triliun. Sedangkan belanja negara disamakan dengan APBN-P Rp. 1.548,3 triliun.

Ditambahkannya, perkiraan pendapatan APBN Khilafah berasal dari bagian kepemilikan umum yang seluruhnya dikuasai oleh negara seperti minyak
Rp 288,7 triliun, gas Rp331,1 triliun, batubara Rp236,5 triliun, emas dan mineral logam lainnya Rp70 triliun, BUMN kelautan Rp73 triliun dan hasil hutan Rp1.000 triliun.

Penerimaan APBN khilafah bisa lebih besar lagi jika semua elemen pendapatan dimasukkan seperti shadaqah, kharaj, fa’i dan lainnya sesuai ketentuan syara’. (https://m.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2012/06/11/59723/rahmat-jika-khilafah-tegak-apbn-2012-bisa-surplus-rp451-t.html) 
 
Dalam sejarah khilafah bebas hutang namun pembangunan dilakukan di wilayah yang sangat luas. 

Untuk itulah, pentingnya digelorakan dakwah pada segenap kalangan masyarakat. 
Sehingga terwujud opini dan kesadaran umum sistem Khilafah adalah solusi negeri terbebas dari segala persoalan, termasuk terbebasnya negeri ini dari hutang yang menggunung.

Sabtu, 26 Desember 2020

Tagged under: ,

Menolak Pluralisme Agama

Buletin Kaffah No. 173 (10 Jumada al-Ula 1442 H-25 Desember 2020 M)

Pluralisme agama adalah paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama. Kebenaran setiap agama adalah relatif. Setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar, sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan hidup berdampingan di surga. 

Berdasarkan fakta demikian, MUI menegaskan bahwa pluralisme agama hukumnya haram. Pluralisme agama bertentangan dengan ajaran agama Islam (Lihat: Fatwa MUI nomor 7/Munas VII/MUI/11/2005). 

Propaganda

Pluralisme agama telah lama dipropagandakan di Tanah Air. Ahmad Wahib dianggap sebagai salah satu tokoh generasi awal pengusung pluralisme agama di Indonesia. Catatan hariannya telah dibukukan dengan judul Pergolakan Pemikiran Islam pada tahun 1981. Dalam catatan hariannya itu disebutkan bahwa ketika tinggal di Yogya, ia tinggal di Asrama Mahasiswa Realino, asrama calon-calon pastur Katolik. Dalam pergaulan bersama para romo Katolik dan teman seasramanya tersebut, ia merasa sangat bahagia. Ia bahkan mengatakan, “Aku tak yakin, apakah Tuhan tega memasukkan romoku itu ke neraka.”

Sejak Ahmad Wahib, propaganda pluralisme agama tak pernah berhenti hingga kini. Umumnya propaganda pluralisme agama ini dilakukan oleh kaum liberal. Sumanto al-Qurtuby adalah salah satunya. Dalam bukunya yang berjudul Lubang Hitam Agama, pria lulusan program Pasca Sarjana Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga tahun 2003 ini mengatakan bahwa Gandhi (yang Hindu) serta Luther, Romo Mangun dan Bunda Teresa (yang Kristen) juga akan berada di surga. 

Manipulasi Makna Ayat al-Quran

Untuk meyakinkan kaum Muslim bahwa Islam mengakui pluralisme, kalangan liberal tidak segan-segan untuk memanipulasi makna ayat-ayat al-Quran. Salah satunya firman Allah SWT berikut: 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sungguh orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar mengimani Allah dan Hari Akhir serta beramal salih, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran kepada mereka. Tidak pula mereka bersedih hati (TQS al-Baqarah [2]: 62).

Ayat al-Quran ini biasa mereka jadikan dalil atas keabsahan pluralisme agama. Pemahaman seperti itu tentu salah karena dua alasan. Pertama: Karena mengabaikan ayat-ayat lain yang menjelaskan kekafiran golongan Yahudi dan Nasrani serta kaum musyrik. Misalnya firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sungguh kaum kafir dari kalangan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kaum musyrik (akan masuk) ada di Neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk (QS al-Bayyinah [98]: 6).

Kedua: Karena yang dimaksud dengan orang Yahudi, Kristen dan Shabiin yang selamat adalah mereka yang mengimani Allah SWT dan menjalankan amal salih secara benar sebelum kedatangan Muhammad saw. (bukan orang Kristen dan Yahudi sekarang) (Lihat: kitab Lubab an-Nuqul karya Imam as-Suyuthi dan Asbab an-Nuzul karya Al-Wahidi). Pemahaman semacam ini pula yang dijelaskan oleh Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fikih dan tafsir dari Suriah, di dalam kitab tafsirnya, Al-Wajiz. 

Jelas, dalam pandangan Islam, kaum Yahudi dan Nasrani saat ini adalah kafir (Lihat: QS al-Maidah [5]: 73; QS at-Taubah [9]: 30). Mereka ini, kata Rasulullah saw., akan dimasukkan ke dalam neraka:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang (risalah)-ku, kemudian ia mati dalam keadaan tidak mengimani risalah yang aku bawa, melainkan ia akan menjadi penduduk neraka (HR Muslim).

Pluralisme Agama Batil

Paham pluralisme agama jelas batil dan wajib ditolak. Setidaknya karena 4 (empat) alasan. Pertama: Secara normatif pluralisme agama bertentangan secara total dengan Aqidah Islam. Sebabnya, pluralisme agama menyatakan bahwa semua agama adalah benar. Ini jelas bertentangan dengan Aqidah Islam yang menyatakan hanya Islam yang benar (QS Ali-Imran [3]: 19). Selain Islam adalah tidak benar dan tidak diterima oleh Allah SWT (QS Ali-Imran [3]: 85).

Kedua: Asal-usul paham pluralisme bukanlah dari Islam, tetapi dari sekularisme Barat. Barat mengalami trauma konflik dan perang antara Katolik dan Protestan, juga Ortodoks. Misalnya pada 1527, di Paris terjadi peristiwa yang disebut The St Bartholomeus Day’s Massacre. Pada suatu malam di tahun itu, sebanyak 10.000 jiwa orang Protestan dibantai oleh orang Katolik. Peristiwa mengerikan semacam inilah yang lalu mengilhami revisi teologi Katolik dalam Konsili Vatikan II (1962-1965). Semula diyakini bahwa extra ecclesiam nulla salus (outside the church no salvation). Tak ada keselamatan di luar Gereja. Lalu diubah bahwa kebenaran dan keselamatan itu bisa saja ada di luar Gereja (di luar agama Katolik/Protestan). 

Jadi, paham pluralisme agama ini tidak memiliki akar sosio historis yang genuine (asli) dalam sejarah dan tradisi Islam. Paham ini justru diimpor dari setting sosio historis kaum Kristen di Eropa dan AS.

Ketiga: Dalam pelaksanaannya, Gereja tidak konsisten. Andaikata hasil Konsili Vatikan II diamalkan secara konsisten, tentu Gereja harus menganggap agama Islam juga benar. Faktanya, Gereja tidak konsisten. Gereja terus saja melakukan kristenisasi terhadap umat Islam. Kalau agama Islam benar, mengapa kristenisasi terus saja berlangsung? 

Keempat: Pluralisme diklaim bertujuan untuk menumbuhkan hidup berdampingan secara damai (peacefull co-existence), toleransi dan saling menghormati antarumat beragama. Faktanya, justru kaum Kristen dan rezim sekular di Barat sering tidak toleran terhadap kaum Muslim. Maraknya larangan hijab (jilbab) dan perlakuan diskriminatif terhadap kaum Muslim di sejumlah Negara Eropa hanyalah salah satu contohnya. Bahkan Barat acapkali melabeli kaum Muslim yang berpegang teguh pada syariahnya sebagai kaum radikal bahkan dituding berpotensi menjadi teroris. Padahal yang radikal dan teroris adalah mereka. Merekalah yang banyak menumpahkan darah umat Islam. Menurut Amnesti Internasional, misalnya, ketika AS menginvasi Irak, lebih dari 100.000 jiwa umat Islam dibunuh oleh AS. 

Dari keempat gugatan terhadap pluralisme di atas, jelas ide pluralisme agama adalah batil dan wajib ditolak. 

Pluralisme dan Toleransi yang Kebablasan 

Saat ini tampak begitu massif arus opini tentang intoleransi. Seolah negeri ini darurat intoleransi. Yang aneh, tudingan intoleransi sering ditujukan kepada Islam dan umatnya.

Padahal jelas, Islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi. Wujud toleransi agama Islam adalah menjunjung tinggi keadilan bagi siapa saja, termasuk non-Muslim. Islam melarang keras berbuat zalim serta merampas hak-hak mereka (Lihat: QS al-Mumtahanah [60]: 8). Islam mengajarkan untuk tetap bermuamalah baik dengan orangtua walaupun tidak beragama Islam (Lihat: QS Luqman [31]: 15).

Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, praktik toleransi demikian nyata. Hal ini berlangsung selama ribuan tahun sejak masa Rasulullah Muhammad saw. sampai sepanjang masa Kekhalifahan Islam setelahnya. Intelektual Barat pun mengakui toleransi dan kerukunan umat beragama sepanjang masa Kekhilafahan Islam. Kisah manis kerukunan umat beragama direkam dengan indah oleh Will Durant dalam bukunya, The Story of Civilization. Dia menggambarkan keharmonisan antara pemeluk Islam, Yahudi dan Kristen di Spanyol di era Khilafah Bani Umayah. Mereka hidup aman, damai dan bahagia bersama orang Islam di sana hingga abad ke-12 M. 

T.W. Arnold, seorang orientalis dan sejarawan Kristen, juga memuji toleransi beragama dalam Negara Khilafah. Dalam bukunya, The Preaching of Islam: A History of Propagation Of The Muslim Faith (hlm. 134), dia antara lain berkata, “Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmani—selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani—telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.” 

Namun demikian, toleransi beragama tentu berbeda dengan sinkretisme agama sebagai salah satu ekspresi dari paham pluralisme agama. Sinkretisme agama adalah pencampuradukan keyakinan, paham atau aliran keagamaan. Hal ini terlarang di dalam Islam. Contohnya perayaan Natal bersama, pemakaian simbol-simbol agama lain, ucapan salam lintas agama, doa lintas agama, dll. Semua ini bukan toleransi. Pencampuradukan ajaran agama semacam ini merupakan refleksi dari paham pluralisme yang haram hukumnya di dalam Islam. 

Khatimah

Alhasil, umat Islam tak membutuhkan paham pluralisme. Cukuplah aqidah dan syariah Islam yang menjadi pegangan hidup mereka. Keduanya merupakan sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat. 

Aqidah dan syariah Islam sekaligus juga menjadi kunci kebangkitan Islam. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas bahwa dengan berpegang teguh pada akidah dan syariah Islam, umat Islam tampil sebagai umat terbaik yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Itu terjadi sepanjang Kekhilafahan Islam selama tidak kurang dari 13 abad. WalLahu’alam. []

—*—

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Jangan pula kalian menyembunyikan kebenaran itu, sedangkan kalian mengetahui. (TQS al-Baqarah [2]: 42). []

—*—

Download file PDF versi mobile:
http://bit.ly/kaffah173m

Download file PDF versi cetak:
http://bit.ly/kaffah173

Jumat, 18 Desember 2020

Tagged under: ,

Toleransi dalam Islam

Buletin Kaffah No. 172 (3 Jumada al-Ula 1442 H – 18 Desember 2020 M)

Salah satu isu yang terus berulang, khususnya setiap bulan Desember, adalah isu toleransi dan ucapan Selamat Natal. Ucapan Selamat Natal—termasuk membantu, memfasilitasi, terlibat langsung dan menghadiri Perayaan Natal dan agama lain—sering dikaitkan dengan sikap dan bukti toleransi. 

Islam dan Toleransi

Islam memang mengajarkan sikap toleransi. Dalam Islam, toleransi bermakna membiarkan umat lain menjalankan ritual agamanya, termasuk perayaan agamanya. Toleransi juga bermakna tidak memaksa umat lain untuk memeluk Islam. 

Toleransi (tasamuh) artinya sikap membiarkan (menghargai), lapang dada (Kamus Al-Munawir, hlm. 702, Pustaka Progresif, cet. 14). Toleransi tidak berarti seorang harus mengorbankan kepercayaan atau prinsip yang dia anut (Ajad Sudrajat dkk, Din Al-Islam. UNY Press. 2009).

Toleransi dalam Islam itu bukan berarti menerima keyakinan yang bertentangan dengan Islam. Imam asy-Syaukani dalam Tafsir Fath al-Qadîr menyatakan: Abdu ibn Humaid, Ibnu al-Mundzir dan Ibnu Mardawaih telah mengeluarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas bahwa orang Quraisy pernah berkata kepada Rasul saw., “Andai engkau menerima tuhan-tuhan kami, niscaya kami menyembah tuhanmu.” Menjawab itu, Allah SWT menurunkan firman-Nya, yakni Surat al-Kafirun, hingga ayat terakhir:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku (TQS al-Kafirun [109]: 6).

Rasulullah saw. pun tegas tidak mau berkompromi untuk melakukan ‘toleransi’ dalam bentuk terlibat, memfasilitasi apalagi mengamalkan ajaran agama lain. Imam al-Qurthubi di dalam Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân (20/225) mengungkapkan: Ketika masih di Makkah, suatu ketika beberapa tokoh kafir Quraisy menemui Nabi saw. Mereka adalah Al-Walid bin Mughirah, Al-‘Ash bin Wail, Al-Aswad Ibnu al-Muthallib dan Umayyah bin Khalaf. Mereka menawarkan toleransi kepada beliau, “Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (kaum Muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Jika ada sebagian ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan mengamalkan hal itu. Sebaliknya, jika ada sebagian ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.” Kemudian turunlah Surat al-Kafirun [109] ayat 1-6 yang menolak keras toleransi kebablasan semacam ini.

Namun demikian, Islam membolehkan kaum Muslim untuk berjual-beli, bertransaksi dan bermuamalah dengan non-Muslim. Islam juga memerintahkan kita untuk berbuat baik dan berlaku adil dan fair terhadap mereka (lihat QS al-Mumtahanah [60]: 8). Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahulLâh di dalam tafsirnya mengatakan bahwa berbuat baik dan adil di sini berlaku kepada setiap pemeluk agama. Islam melarang kita berlaku zalim, aniaya dan merampas hak-hak non Muslim. 

Rasul saw. banyak memberikan teladan bagaimana bermuamalah dan memperlakukan non-Muslim tanpa melakukan toleransi yang salah kaprah dan kebablasan. Beliau menjenguk tetangga beliau non-Muslim yang sedang sakit. Beliau juga biasa bersikap dan berbuat baik kepada non-Muslim. 

Haram Terlibat dalam Perayaan Hari Raya Agama lain

Namun demikian, toleransi bukan lantas memberikan ucapan selamat atas hari raya dan perayaan keagamaan agama lain. Masalah ucapan selamat hari raya agama lain tidak selayaknya dianggap remeh. Tidak selayaknya masalah itu disepelekan, misalnya, dengan ungkapan, “Ucapan Selamat Natal tidak akan mengurangi imanmu.” 

Yang harus diingat, ucapan selamat itu mengandung doa dan harapan kebaikan untuk orang yang diberi selamat. Juga menjadi ungkapan kegembiraan dan kesenangan bahkan penghargaan atas apa yang dilakukan atau dicapai oleh orang yang diberi selamat.

Padahal Perayaan Natal adalah peringatan kelahiran anak Tuhan dan Tuhan anak. Dengan kata lain itu adalah perayaan atas kesyirikan (menyekutukan Allah SWT). 

Lalu bagaimana mungkin umat Islam mengucapkan selamat dengan semua kandungan maknanya itu kepada orang yang menyekutukan Allah SWT? Padahal jelas Allah SWT telah menyatakan mereka adalah orang kafir (QS al-Maidah [5]: 72-75). Di akhirat kelak mereka akan dijatuhi siksaan yang amat pedih. Keyakinan Trinitas itu di sisi Allah SWT adalah dosa dan kejahatan yang sangat besar. Kejahatan ini nyaris membuat langit pecah, bumi belah dan gunung-gunung runtuh (lihat QS Maryam [19]: 90-92).

Jadi bagaimana mungkin bisa dibenarkan dalam pandangan Islam mengucapkan selamat kepada orang yang melakukan dan merayakan dosa yang sangat besar di sisi Allah SWT itu? 

Dari sini jelaslah bahwa mengucapkan Selamat Natal dan selamat hari raya agama lain adalah haram dan dosa. Apalagi jika justru ikut serta merayakannya. Tentu lebih besar lagi keharaman dan dosanya.

MUI telah mengeluarkan fatwa melarang umat Islam untuk menghadiri perayaan Natal Bersama. Dalam fatwa yang dikeluarkan Komisi Fatwa MUI pada 7 Maret 1981, MUI di antaranya menyatakan: (1) Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram; (2) Agar umat Islam tidak terjerumus pada syubhat dan larangan Allah SWT, dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal. 

Dari sini jelas, umat Islam haram terlibat dalam peribadatan pemeluk agama lain. Umat Islam juga haram merayakan hari raya agama lain, bagaimanapun bentuknya. 

Kalaupun semisal memakai atribut Natal dianggap bukan bagian dari peribadatan, yang jelas atribut itu adalah identik dengan Natal. Itu identik dengan orang Nasrani. Memakai atribut Natal berarti menyerupai mereka. Padahal Rasul saw. melarang tindakan demikian:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Siapa saja yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Ash-Shan’ani menjelaskan, “Hadis ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa siapa pun yang menyerupai orang kafir dalam apa saja yang menjadi kekhususan mereka—baik pakaian, kendaraan maupun penampilan—maka dia termasuk golongan mereka.” 

Berpartisipasi dalam perayaan hari raya agama lain juga jelas dilarang berdasarkan nas al-Quran. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ لاَ يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

Orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu dan jika mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lewat (begitu saja) dengan menjaga kehormatan diri mereka (QS al-Furqan [25]: 72).

Az-Zûr itu meliputi semua bentuk kebatilan. Yang terbesar adalah syirik dan mengagungkan sekutu Allah SWT. Karena itu Imam Ibnu Katsir—mengutip Abu al-‘Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirrin, adh-Dhahhak, ar-Rabi’ bin Anas dan lainnya—menyatakan bahwa az-zûr adalah hari raya kaum musyrik (Tafsir Ibnu Katsir, III/1346).

Menurut Imam asy-Syaukani, kata lâ yasyhadûna, dalam pandangan jumhur ulama, bermakna lâ yahdhurûna az-zûra, yakni tidak menghadirinya (Fath al-Qadîr, IV/89). 

Menurut Imam al-Qurthubi, yasyhadûna az-zûra ini adalah menghadiri serta menyaksikan kebohongan dan kebatilan. Ibnu ‘Abbas, menjelaskan, makna yasyhadûna az-zûra adalah menyaksikan hari raya orang-orang musyrik. Termasuk dalam konteks larangan ayat ini adalah mengikuti hari raya mereka. 

Kaum Muslim juga dilarang ikut menyemarakkan, meramaikan atau membantu mempublikasikan hari raya agama lain. Allah SWT berfirman:
 
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ 

Sungguh orang-orang yang menyukai perkara keji (maksiat) itu tersebar di tengah-tengah orang Mukmin, mereka berhak mendapatkan azab yang pedih di dunia dan akhirat (TQS an-Nur [24]: 19).

Menyebarkan perbuatan keji (fakhisyah) juga mencakup semua bentuk kemaksiatan. Menyemarakkan, meramaikan dan menyiarkan Perayaan Natal sama saja dengan ikut terlibat dalam penyebarluasan kekufuran dan kesyirikan yang diharamkan. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengatakan, “Sebagaimana kaum musyrik tidak boleh menampakkan syiar-syiar mereka, tidak boleh pula kaum Muslim menyetujui dan membantu mereka melakukan syiar itu serta hadir bersama mereka. Demikian menurut kesepakatan ahli ilmu.” (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ahkâm Ahl al-Dzimmah, I/235).

Para ulama dulu juga telah jelas menyatakan haram menghadiri perayaan hari raya kaum kafir. Imam Baihaqi menyatakan, “Jika kaum Muslim diharamkan memasuki gereja, apalagi merayakan hari raya mereka.” 

Al-Qadhi Abu Ya’la berkata, “Kaum Muslim telah dilarang untuk merayakan hari raya orang-orang kafir atau musyrik.” 

Imam Malik menyatakan, “Kaum Muslim dilarang untuk merayakan hari raya kaum musyrik atau kafir, atau memberikan sesuatu (hadiah), atau menjual sesuatu kepada mereka, atau naik kendaraan yang digunakan mereka untuk merayakan hari rayanya.” (Ibnu Taimiyyah, Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm, hlm. 201).

Khatimah

Alhasil, kaum Muslim harus tetap memegang teguh Islam dan syariahnya. Jangan sampai terpengaruh dengan propaganda, seruan bahkan tipudaya dari pihak manapun yang sekilas terkesan baik, namun sejatinya menggiring kaum Muslim untuk menjauhi dan menanggalkan ajaran Islam sedikit demi sedikit. 

Sebaliknya, kita mesti makin mengentalkan keislaman kita, makin kaffah menjalankan syariah dan makin bersungguh-sungguh memperjuangkan penerapan syariah secara kaffah di tengah kehidupan. Itulah yang akan memberikan kebaikan, keadilan, toleransi, ketenteraman dan kehidupan yang baik bagi semua manusia, Muslim dan non Muslim. 

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

—*—

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan karena sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian. (TQS al-Baqarah [2]: 208). []

—*—

Download file PDF versi mobile:
http://bit.ly/kaffah172m

Download file PDF versi cetak:
http://bit.ly/kaffah172

Jumat, 11 Desember 2020

Tagged under: ,

Nyawa Muslim Itu Mahal!

Buletin Kaffah No. 171 (25 Rabiul Akhir 1442 H-11 Desember 2020 M)

Nyawa adalah anugerah Allah SWT yang begitu dijaga dan dilindungi dalam Islam. Tidak ada agama yang begitu menghargai dan melindungi nyawa manusia melebihi Islam. Darah dan jiwa manusia mendapatkan perlindungan kuat. Allah SWT menetapkan pembunuhan satu nyawa tak berdosa sama dengan menghilangkan nyawa seluruh umat manusia:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي اْلأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا

Siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia (TQS al-Maidah [5]: 32).

Larangan Mengancam Sesama

Jangankan pembunuhan, menimpakan bahaya dan kesusahan kepada sesama juga diharamkan Islam. Nabi saw. mengancam siapa saja yang membahayakan atau menyusahkan orang lain dengan balasan yang serupa:

مَنْ ضَارَّ ضَرَّهُ اللهُ وَمَنْ شَاقَّ شَقَّ اللهُ عَلَيْه 

Siapa saja yang membahayakan orang lain, Allah akan menimpakan bahaya kepada dirinya. Siapa saja menyusahkan orang lain, Allah akan menimpakan kesusahan kepada dirinya (HR al-Hakim).

Hadis ini berlaku umum. Apakah menimpakan bahaya kecil atau besar, mengancam jiwa ataukah tidak. Semua itu Allah SWT haramkan. Apalagi jika pelakunya adalah penguasa yang menimpakan kesusahan dan bahaya kepada rakyatnya. 

Nabi saw. bahkan mengingatkan kaum Muslim untuk berhati-hati saat membawa anak panah ke tengah kerumunan, seperti di pasar, agar tidak melukai orang lain meski tidak disengaja. Beliau bersabda:

إِذَا مَرَّ أَحَدُكُمْ فِي مَسْجِدِنَا أَوْ فِي سُوقِنَا وَمَعَهُ نَبْلٌ فَلْيُمْسِكْ عَلَى نِصَالِهَا ـ أَوْ قَالَ فَلْيَقْبِضْ بِكَفِّهِ ـ أَنْ يُصِيبَ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ مِنْهَا شَىْءٌ ‏

Jika salah seorang di antara kalian melewati masjid kami, atau pasar kami, sedangkan ia membawa anak panah, hendaklah ia memegang (menutup) mata anak panahnya atau memegang dengan tangannya agar tidak sedikit pun melukai salah seorang Muslim pun (HR al-Bukhari).

Tindakan mengacungkan senjata tajam atau senjata apa saja, atau sesuatu yang sekiranya mengancam keselamatan orang lain, adalah haram. Bahkan meskipun hal itu dilakukan dengan main-main, hukumnya tetap haram. Dalam hadis penuturan Hammam dikatakan:

سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏لاَ يُشِيرُ أَحَدُكُمْ عَلَى أَخِيهِ بِالسِّلاَحِ، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ، فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ

Aku pernah mendengar Abu Hurairah berkata bahwa Nabi saw. bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian mengarahkan pedangnya kepada kawannya. Siapa tahu setan menarik tangannya, lantas ia terjerumus dalam lubang neraka.” (HR al-Bukhari).

Jika mengarahkan senjata tanpa niat mencelakakan saja diharamkan, apalagi secara sengaja menakut-nakuti dan mengancam orang beriman dengan senjata. Allah SWT mengancam para pelakunya dengan ancaman yang keras:

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

Sungguh orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang Mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertobat, bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar (TQS al-Buruj [85]: 10).

Besarnya Dosa Pembunuhan

Harga nyawa manusia, apalagi orang Mukmin, amatlah mahal di sisi Allah SWT. Karena itulah darah seorang Mukmin mesti terjaga kecuali dengan alasan yang haq. Nabi saw. bersabda:

لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالثَّيِّبُ الزَّانِي وَالْمُفَارِقُ لِدِيْنِهِ التَّارِكُ لِلْجَمَاعَةِ 

Tidak halal darah seorang Muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali dengan satu dari tiga (perkara): (1) orang yang membunuh satu jiwa; (2) orang yang sudah menikah yang berzina, (3) orang yang keluar dari agamanya (murtad dari Islam) dan meninggalkan jamaah (kaum Muslim) (HR al-Bukhari dan Muslim).

Begitu berharganya nyawa seorang Mukmin, kehancuran dunia jauh lebih ringan dibandingkan dengan hilangnya nyawa Mukmin tanpa haq. Sabda Nabi saw.:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang Muslim (HR an-Nasa’i).

Ancaman Keras!

Allah SWT dan Rasul-Nya mengancam keras pelaku pembunuhan, terutama kepada orang Mukmin. Pertama: Pelakunya dinilai telah melakukan dosa besar. Nabi saw. bersabda, “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu?” Beliau menjawab, “Syirik kepada Allâh, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haq…” (HR al-Bukhari).

Bahkan Nabi saw. menyebutkan bahwa membunuh Mukmin adalah tindakan kekufuran:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ 

Menghina seorang Muslim adalah fasik, sedangkan membunuhnya adalah kafir (HR al-Bukhari).

Para ulama menyatakan bahwa seorang Muslim bisa jatuh dalam kekufuran andaikan ia menghalalkan darah seorang Mukmin yang sebenarnya terjaga. Namun, jika semata karena hawa nafsu amarah, misalnya, maka tidak menyebabkan pelakunya riddah, keluar dari agama Allah SWT, meski dia tetap berdosa besar.

Kedua: Pelakunya diancam dengan Neraka Jahanam dan dia kekal di dalamnya. Allah SWT berfirman: 

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

Siapa saja yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, balasannya ialah Neraka Jahanam. Dia kekal di dalamnya. Allah murka kepada dia, mengutuk dia dan menyediakan bagi dia azab yang besar (TQS an-Nisa’ [4]: 93).

Ketiga: Jika pelakunya banyak, maka seluruh pelakunya akan diazab dengan keras. Rasul saw. bersabda:

لَوْ أَنَّ أَهْلَ السَّمَاءِ وَأَهْلَ الأَرْضِ اجْتَمَعُوا عَلَى قَتْلِ مُسْلِمٍ لَكَبَّهُمُ اللهُ جَمِيعًا عَلَى وُجُوهِهِمْ فِي النَّارِ

Andai penduduk langit dan penduduk bumi berkumpul membunuh seorang Muslim, sungguh Allah akan membanting wajah mereka dan melemparkan mereka ke dalam neraka (HR ath-Thabrani).

Keempat: Para pembunuh akan dituntut pada Hari Kiamat oleh para korban pembunuhan mereka. Di dunia, sering para pembunuh kaum Mukmin lolos dari jerat hukum atau malah mendapatkan pembelaan dan perlindungan hukum dari para penguasa. Namun, tidak demikian pada Hari Akhir. Nabi saw. bersabda:

يَجِيءُ الْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُتَعَلِّقٌ بِرَأْسِ صَاحِبِهِ – وفي لفظ : يَجِيءُ مُتَعَلِّقًا بِالْقَاتِلِ تَشْخَبُ أَوْدَاجُهُ دَمًا – يَقُولُ : رَبِّ سَلْ هَذَا لِمَ قَتَلَنِي

Pembunuh dan korban yang dibunuh akan didatangkan pada Hari Kiamat dengan menenteng kepala temannya (pembunuh). Dalam riwayat lain dinyatakan: Dia (korban) membawa sang pembunuh, sementara urat lehernya bercucuran darah. Lalu dia berkata, “Ya Allah, tanya orang ini, mengapa dia membunuh saya.” (HR Ibnu Majah).

Kelima: Para pelaku pembunuhan yang bergembira dengan tindak pembunuhan mereka tidak berhak mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Sabda Nabi saw.:

مَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا فَاعْتَبَطَ بِقَتْلِهِ لَمْ يَقْبَلِ اللَّهُ مِنْهُ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً.

Siapa saja yang membunuh seorang Muslim, lalu dia bergembira dengan pembunuhan tersebut, maka Allah tidak akan menerima tobat dan tebusannya (HR Abu Dawud).

Had Bagi Pembunuhan

Untuk mencegah pembunuhan yang disengaja, Islam memberikan sanksi yang keras berupa hukuman qishash kepada pelaku pembunuhan. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian qishâsh berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh: orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, dan wanita dengan wanita… (TQS al-Baqarah [2]: 178).

Qishash adalah tuntutan hukuman mati atas pembunuh karena permintaan keluarga korban. Hukum ini memberikan rasa keadilan bagi keluarga yang ditinggalkan, sekaligus menjadi pencegah tindakan kejahatan serupa.

Jika keluarga korban tidak menghendaki qishash, mereka juga bisa menuntut diyat atau denda pada para pelaku pembunuhan. Diyat yang dimaksud adalah 100 ekor unta, 40 di antaranya dalam keadaan bunting. 

Begitulah mulianya syariah Islam dalam melindungi nyawa manusia. Karena itu sepanjang Negara Islam tegak sejak Nabi saw. di Madinah, kemudian dilanjutkan oleh Khulafa’ ar-Rasyidin, kaum Muslim mendapatkan perlindungan yang luar biasa. Tidak setetes pun darah tumpah melainkan ada pembelaan dari Negara Islam. Bahkan para pelaku kriminal pun masih mendapatkan perlindungan sampai kemudian terbukti mereka bersalah di pengadilan dan layak mendapatkan hukuman setimpal, termasuk hukuman mati.

Ironi yang kita rasakan hari ini, betapa nyawa Muslim tidak terjaga dan tidak mendapat perlindungan dan pembelaan. Bahkan seolah-olah ada opini bahwa darah seorang Muslim itu murah dan boleh ditumpahkan kapan saja. Cukup melabeli mereka dengan sebutan radikal atau teroris, maka kehormatan dan darah mereka bisa dirusak kapan saja. Wal ‘iyadzu bilLah. 

Alhasil, terbukti bahwa sistem sekular yang diterapkan saat ini—dengan konsep HAM dan demokrasinya—telah gagal melindungi kehormatan dan nyawa manusia. Saatnya sistem sekular dicampakkan. Saatnya umat kembali pada sistem Islam yang menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. []

—*—

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

يُرِيدُونَ أَنْ يَخْرُجُوا مِنَ النَّارِ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنْهَا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ

Mereka (para penghuni neraka) ingin keluar dari neraka. Namun, mereka tidak akan dapat keluar dari sana. Mereka mendapatkan azab yang kekal. (TQS al-Maidah [5]: 37). []

—*—

Download file PDF versi mobile:
http://bit.ly/kaffah171m

Download file PDF versi cetak:
http://bit.ly/kaffah171

Jumat, 04 Desember 2020

Tagged under: ,

Meneguhkan Peran Ulama Sebagai Mitra Penguasa

Buletin Kaffah No. 170 (18 Rabiul Akhir 1442 H-4 Desember 2020 M)

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma'ruf Amin pernah mengingatkan bahwa tujuan dari MUI adalah melayani umat (khadimul ummah) dan menjadi mitra pemerintah (shadiqul hukumah). Ia lalu menegaskan bahwa ke depan kemitraan antara MUI dan Pemerintah harus diperkuat (Gatra.com, 27/7/2019).

Pengganti KH Ma’ruf Amin, yakni KH Miftachul Akhyar sebagai Ketua Umum MUI yang baru terpilih (periode 2020-2025), juga menyatakan hal senada. Dalam pidatonya pada Munas X MUI, Jumat (27/11/2020), Rais Aam PBNU ini antara lain menyatakan bahwa MUI memiliki tanggung jawab besar kepada umat sekaligus sebagai mitra Pemerintah (Tribunnews.com, 27/11/2020). 

Sebagai mitra Pemerintah, ulama tentu bukanlah ‘stempel’ penguasa. Ulama justru harus berperan sebagai pengawal sekaligus pengoreksi penguasa. Tujuannya tentu agar penguasa dan kekuasaannya selalu berada dalam koridor syariah Islam. Tidak menyimpang sedikitpun dari ketentuan syariah Islam.

Hakikat Ulama

Allah SWT berfirman: 

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sungguh yang takut kepada Allah di kalangan para hamba-Nya hanyalah para ulama (TQS Fathir [35]: 28).

Ayat ini secara kasatmata menyebutkan kedudukan ulama yang begitu istimewa di antara para hamba Allah SWT. Yang membuat mereka istimewa adalah rasa takut mereka kepada Allah SWT. Rasa takut kepada Allah SWT itulah yang menjadi sifat yang paling menonjol di kalangan para ulama. Bukan sekadar keluasan dan kedalaman ilmu mereka. 

Oleh karena itu, ulama yang sebenarnya akan selalu berada di garda terdepan membela agama Allah, menjaga kemurnian Islam dan ajaran-Nya, mendidik masyarakat dengan syariah-Nya, meluruskan yang menyimpang dari petunjuk-Nya dan berteriak lantang terhadap berbagai kezaliman. Tanpa ada rasa takut sedikit pun akan risikonya.

Ulama adalah pewaris para nabi, sebagaimana sabda Nabi  Muhammad saw.:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

Sungguh para ulama itu adalah pewaris para nabi (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Para ulama pewaris para nabi tentu adalah para hamba Allah SWT yang beriman, menguasai ilmu syariah secara mendalam dan memiliki pengabdian yang tinggi semata-mata karena mencari keridhaan Allah SWT; bukan keridhaan manusia. Dengan ilmunya, mereka mengembangkan dan menyebarkan agama yang haq. Mereka berjiwa istiqamah dan konsisten terhadap kebenaran. Mereka mengabdikan seluruh hidup mereka untuk menegakkan agama Allah SWT.

Para ulama pewaris para nabi tidak akan mendiamkan apalagi mendukung para pelaku kezaliman, khususnya penguasa zalim. Tegas sekali Allah SWT berfirman: 

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ 

Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang berbuat zalim, yang dapat mengakibatkan kalian disentuh api neraka (TQS Hud [11]: 113).

Kata lâ tarkanû, menurut Abu ‘Aliyah,  berarti: janganlah kalian meridhai perbuatan-perbuatan (zalim) mereka; sedangkan menurut Ikrimah berarti: janganlah kalian menaati mereka (Al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil, 4/204).

Ulama Wajib Mengawal Kekuasaan

Di antara peran penting ulama pewaris para nabi adalah memastikan penguasa menjalankan kekuasaannya sesuai dengan syariah Islam. Ketika penguasa menyimpang, ulama harus tampil ke depan meluruskan penyimpangan mereka. Ulama tidak boleh bersikap lemah. Ulama harus terus melakukan koreksi hingga penguasa tunduk dan berjalan kembali di atas syariah Islam.

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menggariskan ketentuan dan adab ulama di hadapan para penguasa. Di antaranya adalah sebagai berikut: 

Pertama, memberikan loyalitas hanya pada Islam. Tidak pernah gentar menghadapi kezaliman penguasa.  Ulama selalu memegang teguh Islam meskipun harus tersungkur mati di dalamnya.   Muadz bin Jabal ra. menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

أَلاَ إِنَّ الْكِتَابَ وَالسُّلْطَانَ سَيَفْتَرِقَانِ فَلاَ تُفَارِقُوْا الْكِتَابَ، أَلاَ إِنَّهُ سَيَكُوْنُ أَمَرَاءُ يَقْضُوْنَ لَكُمْ، فَإِنْ أَطَعْتُمُوْهُمْ أَضَلُّوْكُمْ وَإِنْ عَصَيْتُمُوْهُمْ قَتَلُوْكُمْ، قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَكَيْفَ نَصْنَعُ؟ قَالَ: كَمَا صَنَعَ أَصْحَابُ عِيْسَى ابْنِ مَرْيَمْ، نُشِرُوْا بِالْمَنَاشِيْرِ وَحَمِلُوْا عَلَى الْخَشَبِ مَوْتٌ فِي طَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ حَيَاةٍ فِيْ مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Perhatikanlah, sungguh al-Quran dan penguasa akan berpisah. Karena itu janganlah kalian memisahkan diri dari al-Quran.  Perhatikanlah, akan ada para pemimpin yang memutuskan perkara untuk kalian. Jika kalian menaati mereka, mereka menyesatkan kalian. Jika kalian membangkang kepada mereka, mereka akan membunuh kalian.” Muadz bin Jabal bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang mesti kami lakukan?  Nabi saw. menjawab, “(Bersabar) seperti yang dilakukan para sahabat Isa bin Maryam as.  (meskipun) mereka digergaji dengan gergaji dan digantung di atas pohon.  (Bagi mereka) mati dalam ketaatan lebih baik daripada hidup dalam maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR ath-Thabarani).

Kedua, mengawal kekuasaan agar tetap berjalan di atas syariah Islam. Ulama harus memperhatikan perilaku, kebijakan, kecenderungan penguasa serta orang-orang yang ada di sekeliling penguasa. Hal ini diperlukan untuk mengawal kekuasaan agar tetap sejalan dengan tuntunan Islam dan kepentingan kaum Muslim.

Ketiga, menjadi garda terdepan dalam mengoreksi penguasa zalim. Ketika ulama berlaku lurus dan tegas kepada penguasa, hakikatnya mereka telah mencegah sumber kerusakan.  Sebaliknya, tatkala mereka berlaku lemah kepada penguasa zalim, saat itulah mereka menjadi pangkal segala kerusakan di tengah-tengah masyarakat. Demikian sebagaimana dinyatakan oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali rahimahulLâh berkata:

فَفَسَادُ الرِعَايَا بِفَسَادِ الْمُلُوْكِ وَفَسَادُ الْمُلُوْكِ بِفَسَادِ الْعُلَمَاءِ وَفَسَادُ الْعُلَمَاءِ بِإِسْتِيْلاَءِ حُبِّ الْمَالِ وَالجاَهِ

Rusaknya rakyat disebabkan karena rusaknya penguasa. Rusaknya penguasa disebabkan karena rusaknya ulama.  Rusaknya ulama disebabkan karena dikuasai oleh cinta harta dan ketenaran (Al-Ghazali, Ihyâ‘ ‘Ulûm ad-Dîn, 2/357).

Tidak Menjadi Ulama Sû’

Ulama sû‘ (ulama jahat) adalah seburuk-buruk manusia dan sumber kerusakan.  Imam al-Ghazali mengatakan: Al-Harits rahimahulLâh berkata, “Saudaraku, ulama jahat itu adalah setan dari golongan manusia dan pembawa fitnah atas manusia.  Mereka berhasrat pada harta dan kedudukan dunia. Mereka lebih mengutamakan dunia dibandingkan akhirat.  Mereka menakwilkan agama untuk kepentingan dunia. Di dunia, mereka tercela dan terhina. Di akhirat mereka adalah orang-orang yang merugi atau Zat Yang Mulia memaafkan mereka dengan karunia-Nya.” (Al-Ghazali, Ihyâ ‘Ulûm ad-Dîn, 3/265).

Di antara ulama sû’ itu adalah ulama salathîn, yaitu ulama yang menjadi stempel penguasa. Anas bin Malik ra. menuturkan sebuah hadis, “Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama sû’. Mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu.” (HR al-Hakim).

Menurut adz-Dzahabi, ulama sû’ adalah ulama yang mempercantik kezaliman dan ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa. Mereka memutarbalikan kebatilan menjadi kebenaran untuk penguasa. Mereka diam saja (di hadapan penguasa). Padahal mereka mampu menjelaskan kebenaran.

Di antara perilaku keji ulama sû’ (jahat) adalah: Pertama, menjadi stempel kekuasaan zalim.  Tidak ada yang lebih keji dibandingkan membantu kezaliman penguasa. Selain melanggengkan kekuasaan zalim, perbuatan ini menimbulkan madarat yang sangat besar bagi masyarakat; bagi urusan agama dan urusan dunia mereka.  Ketika paham kufur atau kebijakan lalim penguasa dijustifikasi ulama, masyarakat awam akan terseret dalam kekufuran dan tenggelam dalam kesengsaraan. Nabi saw. benar-benar mencela perbuatan semacam ini. Beliau bersabda kepada Kaab bin ‘Ujrah ra.:

أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي

“Semoga Allah SWT melindungi kamu dari pemimpin bodoh.  Kaab bertanya, “Siapa pemimpin bodoh itu.” Nabi saw. menjawab, “Para pemimpin yang datang setelah aku. Ia tidak memberi petunjuk dengan petunjukku dan tidak menjalankan sunnahku.  Siapa saja yang membenarkan kedustaan mereka dan membantu kezaliman mereka, mereka tidak termasuk golonganku dan aku bukan golongan mereka, dan mereka tidak bisa mencapai telagaku.” (HR Ahmad). 

Kedua, menjadi alat penguasa untuk memecah-belah umat. Di antara cara penguasa zalim untuk mempertahankan kekuasaannya adalah memecah-belah umat Islam.  Jika umat terpecah-belah, kekuatan mereka melemah, dan perjuangan dakwah Islam relatif mudah dipatahkan. Cara-cara seperti ini pernah dipraktikkan oleh Belanda saat menjajah Indonesia.  Dengan politik divide et impera, kolonialis Belanda berhasil mempertahankan kekuasaannya selama ratusan tahun.

Ulama tidak boleh menjadi alat penguasa untuk membuat perpecahan di tengah-tengah kaum Muslim atas dasar sentimen mazhab, organisasi, dll.  Ulama harus menyatukan umat dalam wadah perjuangan menegakkan syariah Islam.

Ketiga, tidak menggadaikan agama untuk kepentingan dunia. Cinta dunia merupakan pangkal dari semua keburukan. Al-Imam al-Hafizh al-Munawi mengatakan, “Cinta dunia adalah pangkal semua keburukan. Cinta dunia akan menjatuhkan manusia ke dalam ragam syubhat, lalu ke dalam ragam kemakruhan, kemudian ke dalam ragam keharaman.” (Al-Munawi, At-Taysîr fî Syarh al-Jâmi` ash-Shaghîr, 1/1000).

WalLâhu a’lam bi ash-shawwâb. [] 

—*—

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Jihad terbaik adalah menyatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. (HR Ahmad, Ibn Majah, Abu Dawud dan an-Nasa’i). []

—*—

Download file PDF versi mobile:
http://bit.ly/kaffah170m

Download file PDF versi cetak:
http://bit.ly/kaffah170