image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Sabtu, 03 Desember 2022

Tagged under:

Bisa Lebih Dari Itu

Oleh: Titi Hutami

Rona wajah sebagian masyarakat tampak senyum cerah ceria. Rupanya mereka baru saja mendapat kucuran bantuan sosial (bansos) dari pemerintah sebesar sembilan ratus ribu rupiah per-orang. 

Salut buat mereka, berapapun bantuan yang didapat, senantiasa merasa gembira dan disyukuri. Mereka tak peduli dengan gaji penguasa sampai ratusan juta perbulan, tentu tak sepadan dengan bansos yang didapat. Mereka juga tak peduli dengan dana bansos yang sekejap habis. Yang terpenting, mereka bahagia bisa merasakan pemberian dari pemerintah.

Bagaimana kalau Islam yang mengatur urusan negara dan rakyat?
Tentu kebahagiaan mereka dan rakyat keseluruhan tidak hanya dirasakan sekejap, tapi setiap hari. Karena pemberian negara menjadi bagian hidup mereka.

Pemberian negara khilafah pada rakyatnya diwujudkan berupa fasilitas umum. Pendidikan tidak berbayar, dari sekolah Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi. Kesehatan gratis, apapun penyakitnya, tidak ada beban asuransi kesehatan. Jalan umum, termasuk jalan tol, diharamkan ada pungutan. Ada Baitul maal yang selalu siap membantu fakir miskin dan musafir yang kehabisan perbekalan.

Aturan Islam mengenai fasilitas negara untuk rakyatnya tersebut sudah dicontohkan Rasulullah SAW. dan para Khalifah. Misalnya Rasulullah SAW. memberikan syarat bebas kepada tawanan dengan mengajarkan baca tulis kepada anak-anak muslim.

Khalifah Umar bin Khattab membuat kebijakan memberikan santunan bagi bayi yang baru lahir.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz memberikan bantuan mahar bagi para pemuda saat itu yang ingin menikah.

Semua yang dibuktikan sejarah tentang pemberian fasilitas negara terhadap rakyatnya, semata karena keimanan dan ketaatan pemimpin pada Allah SWT. Disertai pula, keyakinan mereka kelak harus mempertanggung-jawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah SWT.

Dari keimanan para pemimpin (khalifah), akhirnya bisa mengantarkan kebahagiaan rakyatnya. Bukan kebahagiaan sekejap, tapi kebahagiaan sepanjang menjadi warga negara. Jadi, sebagian rakyat saat ini yang bahagia menerima bansos, bisa lebih dari itu apabila memiliki pemimpin yang mengelola negara dengan aturan Islam.

Wallahu a'lam bishowab.

Senin, 28 November 2022

Tagged under:

Persoalan Ruwet Pinjol

Oleh: Titi Hutami

Lagi-lagi pinjol (pinjaman online) memakan korban. Kali ini korbannya ratusan mahasiswa IPB. Mereka tergiur investasi dengan memanfaatkan pinjol. Ternyata investasinya bodong.

Berawal dari seorang oknum  yang mengaku memiliki usaha online, menawarkan produk atau investasi dengan keuntungan sepuluh persen per bulan. Untuk mendapatkan dana, para mahasiswa disarankan meminjam dari pinjol, dengan iming-iming akan dibantu cicilan pinjol dari oknum tersebut.

Akhirnya para mahasiswa itupun meminjam uang dari pinjol yang ditunjuk oknum. Selanjutnya uang yang dicairkan pinjol, dibelikan barang milik usaha online oknum untuk dikirimkan pada pemesan. Anehnya, pemesan yang dimaksud ternyata fiktif, hanya untuk menaikkan rating. Sementara uang lainnya dari pinjaman pinjol, diserahkan pada oknum sebagai investasi usaha online.

Usut punya usut, rupanya uang investasi itu digunakan oleh oknum untuk senang-senang memenuhi kebutuhan hidup, dan sebagiannya diberikan pada senior mahasiswa yang investasi terlebih dahulu.

Para mahasiswa itu baru sadar tertipu ketika tidak dipenuhi janji sepuluh persen dan tidak dibayarkan cicilan pinjol. Bahkan akhirnya mereka dikejar-kejar tagihan pinjol.

Bagaimana kemudian solusi dari kampus?
Oknum yang bersangkutan dilaporkan dan ditangkap. Sementara lembaga keuangan pinjol tidak tersentuh hukum sedikitpun. Sangat mengenaskan, para mahasiswa tetap harus membayar utang pinjol.

Solusi dibuat, tapi persoalan mahasiswa menghadapi pinjol tetap ruwet. Apalagi jika pembayaran cicilan terus tertunda, maka tagihan pinjol semakin membengkak.

Inilah pinjol yang dibiarkan tetap beroperasi, walaupun hukum Islam mengharamkan, dan telah membuat korbannya stress. Bahkan ada korbannya yang mengambil jalan pintas bunuh diri. 

Keharaman pinjol dapat dilihat dari tambahan nilai utang yang berupa bunga harian, biaya administrasi, dan denda untuk cicilan yang tertunda. Tambahan ini termasuk riba, dijelaskan pada Qur'an surat Al Baqarah ayat 275.

وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ

"Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."
(QS. Al Baqarah: 275)

Sangat nyata keharaman pinjol. Jadi wajib dihindari oleh setiap muslim. Demikian pula seharusnya negara tidak membiarkan keberadaan pinjol. 

Peran negara sangat diharapkan dalam melindungi rakyatnya. Khususnya keberadaan pinjol, jika negara membiarkan maka dipastikan akan ada korban berikutnya. Tapi faktanya, tidak ada perlindungan negara terhadap rakyat atas maraknya keberadaan pinjol. 

Keberadaan lembaga pinjol memang seperti bank yang dilegalisasi oleh negara dengan sistem kapitalisme. Jadi jangan harap lembaga ribawi itu  dibubarkan. Sistem kapitalisme tidak mengenal halal haram, karena dari asasnya sudah memisahkan agama dari kehidupan.

Bagaimana umat Islam menghindari sistem ribawi sebagai suatu dosa besar?
Pertama, umat tidak bertransaksi dengan memanfaatkan lembaga-lembaga tersebut.
Kedua, umat Islam mempunyai kewajiban mengubah kemungkaran yang ada di depan mata.

Kemungkaran terbesar saat ini adalah penerapan sistem kapitalisme. Sistem ini mengesampingkan aturan agama (Islam) dari aktifitas kehidupan, termasuk aturan bernegara. Dan, aturan-aturan yang dihasilkan sistem ini pun terbukti menyengsarakan umat manusia. Jadi selayaknya sistem kapitalisme tidak lagi diterapkan di muka bumi.

Penggantinya sudah pasti sistem yang membawa rahmatan lil a'lamin, yakni sistem Islam yang diterapkan dalam institusi negara khilafah. 

Tugas umat Islam hari ini adalah menegakkan kembali negara khilafah 'ala minhaji nubuwwah. Semoga Allah SWT. segera memberikan pertolongan-Nya, aamiin yaa Robbal'alamiin.

Rabu, 23 November 2022

Tagged under:

Islam Dianggap Pendatang

Oleh: Titi Hutami

Apakah Islam milik bangsa Arab?
Pertanyaan ini seharusnya tidak muncul dari lisan seorang muslim. Karena, seseorang saat mengikrarkan dirinya menganut Islam, niscaya Islam menjadi miliknya, menjadi bagian dari dirinya yang tak terpisahkan.

Rasanya aneh kalau ada seorang muslim mengatakan bahwa Islam pendatang di negeri ini sehingga harus menghormati kebudayaan negeri ini. Seolah-olah posisi Islam ada kalanya disimpan dalam benak, kemudian lain waktu dikeluarkan dari benak untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.

Sejatinya, Islam itu agama dari Allah SWT., diturunkan awal mula pada bangsa Arab melalui Nabi Muhammad saw. Islam merubah kehidupan bangsa Arab yang jahiliyah, penyembah patung, peminum khamr dan lain-lain, menjadi penegak hukum-hukum Allah SWT.

Karena turun awal di Arab, bukan berarti Islam semata milik bangsa Arab. Islam hanya turun awal di Arab, selanjutnya Islam disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Ini selaras dengan Qur'an surat Saba' ayat 28:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَاۤفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (TQS. Saba': 28)

Ketika Islam menyebar sampai pada orang-orang non Arab, maka Islam menjadi milik mereka semua penganutnya. Tidak ada label Islam hanya milik bangsa Arab atau menjadi pendatang di Indonesia. Bahkan seperti halnya Islam mengubah kehidupan Arab jahiliyah menjadi kehidupan islami, maka selayaknya di negeri manapun Islam harus mewarnai kehidupan mereka. Bukan Islam yang menyesuaikan, tapi penganutnya yang wajib menerapkan tuntunan Islam dalam kehidupannya.

Bahkan jika dirasa sulit penerapan Islam secara menyeluruh (kaffah), maka setiap muslim wajib memperjuangkannya. Seperti kondisi saat ini, umat Islam sedang membutuhkan institusi khilafah untuk merealisasikan aturan Islam secara kaffah. Jadi setiap muslim memiliki tugas besar bersama untuk menegakkannya.

Tantangannya memang berat saat membela Islam, akan berhadapan dengan ideologi yang berseberangan. Bahkan setiap muslim senantiasa harus waspada terhadap berbagai opini yang diarahkan untuk pengalihan fokus membela agamanya menjadi memperjuangkan dan menyerukan ide-ide kapitalisme. Sementara kapitalisme sangat nyata bertentangan dengan ajaran Islam. 

Coba pandangi diri kita agar terhindar dari salah langkah, sedang berdiri di posisi Islam atau justru menghalangi tegaknya Islam. 

Wallahu a'lam bishowab.

Selasa, 15 November 2022

Tagged under: ,

Meneguhkan Identitas Islam

Buletin Dakwah Kaffah Edisi 268

Pilpres (Pemilihan Presiden) 2024 memang masih jauh. Namun demikian, kekhawatiran bahkan ketakutan kelompok radikal-sekuler anti Islam terhadap kemenangan kelompok Islam di Pilpres 2024 tampak nyata. Trauma kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 benar-benar membekas di hati mereka. Mereka khawatir jagoan mereka berikutnya—yang diduga kuat merupakan boneka oligarki selanjutnya—bakal kalah di Pilpres 2024.

Karena itu segala cara mereka lakukan untuk membendung kekuatan politik Islam. Salah satunya dengan terus-menerus menuding kelompok Islam memainkan ‘politik identitas’. Tudingan ini sebetulnya tidak berbeda dengan tudingan-tudingan sebelumnya, bahwa kelompok Islam sering memainkan ‘isu agama’, melakukan ‘politisasi agama’, jualan ‘ayat dan mayat’ (ini sering mereka kaitkan dengan kasus Pilkada DKI Jakarta 2017), dll. Tujuan dari berbagai tudingan tersebut tentu saja agar kaum Muslim tidak memilih Capres/Cawapres Muslim yang dianggap kental warna keislamannya atau dianggap berpihak pada Islam dan umat Islam.
Awas Jebakan
Umat Islam tentu tidak seharusnya terjebak dalam permainan istilah yang digunakan oleh kelompok radikal-sekuler anti Islam. Alasannya: Pertama, tudingan mereka sesungguhnya hanya membuktikan sikap hipokrit (kemunafikan) mereka. Faktanya, setiap menjelang Pilpres atau Pilkada, merekalah sebetulnya yang sering memainkan ‘politik identitas’ atau melakukan ‘politisasi agama’. Caranya dengan memanipulasi identitas bahkan agama/keyakinan mereka. Aslinya para calon yang mereka dukung acapkali berasal dari kalangan radikal-sekuler anti Islam, bahkan berasal dari kalangan non-Muslim (kasus Ahok). Namun, setiap menjelang Pilpres/Pilkada calon-calon yang mereka dukung itu sering mendadak islami. Tiba-tiba sering memakai sarung, baju koko dan peci. Tiba-tiba berkerudung dan berjilbab. Tiba-tiba rajin berkunjung ke pesantren-pesantren. Tiba-tiba sering sowan kepada para kiai. Tiba-tiba kegiatan ibadah ritualnya—seperti shalat, zikir dan berdoa—diviralkan seolah ingin menunjukkan keshalihan pribadinya. Padahal aslinya ada yang diduga terlibat korupsi, suka nonton bokep, zalim terhadap rakyat kecil, dll.
Kedua, tudingan mereka bertujuan agar umat Islam meninggalkan sama sekali identitas keislaman mereka. Juga agar umat Islam tidak menggunakan kacamata Islam dalam memilih pemimpin mereka. Sebabnya, mereka tentu sangat trauma dengan kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 akibat umat terpengaruh oleh fatwa ‘haram memilih pemimpin kafir’. Mereka tidak ingin umat Islam yang mayoritas di negeri ini terpengaruh oleh fatwa-fatwa agama di Pilpres 2024 yang akan merugikan calon yang mereka dukung, yang aslinya memang sekuler bahkan anti Islam.
Wajib Memegang Teguh Identitas Islam
Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya agar memeluk Islam secara kâffah, dalam seluruh aspek kehidupan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ , إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sungguh ia musuh yang nyata bagi kalian (QS al-Baqarah [2]: 208).
Imam al-Qurthubi di dalam kitab tafsirnya, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, menjelaskan: “Ketika Allah SWT menjelaskan kepada umat manusia, baik Mukmin, kafir maupun munafik, maka Dia (seolah) berfirman: Jadilah kalian dalam satu agama, berhimpunlah kalian dalam Islam, dan berpegangteguhlah dengannya. Kata “as-Silmi” di sini maknanya Islam. Ini dinyatakan oleh Mujahid dan diriwayatkan oleh Abu Malik dari Ibn ‘Abbas.”
Karena itu ayat ini memerintahkan semua umat manusia untuk memeluk Islam secara kâffah.
Dalam kitab yang sama Imam al-Qurthubi lalu menjelaskan makna kâffah di dalam ayat ini: Pertama, menyeluruh, yakni meliputi seluruh ajaran Islam. Kedua, menolak yang lain, di luar Islam. Dengan kata lain, orang yang telah memeluk Islam wajib mengambil Islam secara menyeluruh dan menolak yang lain selain Islam. Itu baru disebut masuk Islam secara kâffah.
Dengan kata lain, seorang Muslim wajib mengimani dan mengambil Islam secara utuh. Tidak boleh sepotong-sepotong. Dipilih-pilih yang enak dan mudah saja (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 85).
Karena itu haram hukumnya meninggalkan identitas Islam dalam hal apapun. Sebaliknya, identitas Islam harus dipegang teguh oleh setiap Muslim dalam seluruh aspek kehidupannya. Tidak hanya saat beribadah, tetapi juga dalam melakukan kegiatan lain seperti ekonomi, sosial, pendidikan, politik, pemerintahan dan sebagainya.
Dalam konteks politik Islam, Al-‘Allamah al-Qadhi Syaikh Muhammad Taqiyuddin an-Nabhani menyatakan:
اَلسِّيَاسَةُ هِيَ رِعَايَةُ شُؤُوْنِ الأُمَّةِ دَاخِلِيًّا وَخَارِجِيًّا، وَتَكُوْنُ مِنْ قِبَلِ الدَّوْلَةِ وَالأُمَّةِ، فَالدَّوْلَةُ هِيَ الَّتِيْ تُبَاشِرُ هَذِهِ الرِّعَايَةِ عَمَلِيًّا، وَالأُمَّةُ هِيَ الَّتِيْ تُحَاسِبُ هَذِهِ الدَّوْلَةُ
Politik adalah mengurusi urusan umat di dalam dan luar negeri. Hal itu dilakukan oleh negara dan umat. Negaralah yang melaksanakan pengurusan ini secara langsung, sedangkan umatlah mengoreksi negara (An-Nabhani, Mafâhim Siyâsiyyah, hlm. 5).
Mengurusi umat di dalam negeri itu dilakukan oleh negara dengan cara menerapkan ideologi Islam (akidah dan syariah) secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan. Tugas umat adalah mengoreksi jalannya penerapan ideologi Islam ini jika terjadi penyimpangan. Adapun mengurusi umat di luar negeri adalah dengan mengemban dan menyebarkan ideologi Islam ke luar negeri.
Berpolitik—yakni mengurusi urusan umat, di dalam dan luar negeri—dengan menerapkan Islam secara kâffah itu hukumnya wajib, baik oleh negara maupun umat. Itulah politik Islam.
Karena itu seorang Muslim sejatinya adalah politikus. Sebabnya, politik dalam pandangan Islam adalah mengurusi urusan umat dengan syariah Islam. Karena itu setiap politisi Muslim wajib menguasai fiqih Islam dengan baik dan benar. Sebabnya, jika tidak menguasai fiqih Islam, ia tidak akan bisa mengurusi urusan umat dengan baik dan benar. Karena itu fiqih dan politik, dalam pandangan Islam, tidak bisa dipisahkan. Pasalnya, fiqih adalah solusinya, sedangkan politik adalah cara bagaimana mengimplementasikan fiqih tersebut dalam kehidupan.
Di sisi lain, seorang ahli fiqih Islam tidak boleh berhenti pada penguasaan hukum fiqih, tetapi harus sampai pada level implementasi (penerapan) fiqih Islam itu ke dalam kehidupan. Jika tidak, hukum fiqih atau syariah Islam tersebut hanya menjadi sebatas gagasan.
Karena itu berpolitik dengan merujuk pada fiqih atau syariah Islam itu hukumnya fardhu sebagaimana shalat, puasa, zakat, haji dan jihad. Sama-sama wajib. Tidak boleh dibeda-bedakan. Dengan demikian fiqih Islam akan melekat di dalam politik dan tidak bisa dipisahkan. Inilah yang sekaligus menjadikan politik memiliki identitas yang jelas, yakni Islam. Politik Islam semacam inilah yang membedakan dirinya dengan politik sekuler.
Sebaliknya, ketika politik umat Islam tidak menggunakan fiqih atau syariah Islam, maka politiknya tidak mempunyai identitas yang jelas. Politiknya akan menjadi politik sekuler yang oportunis dan hipokrit. Inilah yang digambarkan dalam al-Quran:
مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَلَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ , وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا
Mereka (orang-orang munafik) dalam keadaan ragu di antara yang demikian (iman atau kafir). Tidak termasuk golongan (orang beriman) ini dan tidak (pula) golongan (orang kafir) itu. Siapa saja yang dibiarkan sesat oleh Allah (karena tidak mengikuti tuntunan-Nya dan memilih kesesatan), kamu tidak akan menemukan jalan (untuk memberi petunjuk) bagi dirinya (QS an-Nisa’ [4]: 143).
Alhasil, tidak boleh seorang Muslim menanggalkan syariah Islam sebagai identitasnya dalam berpolitik. Apapun alasannya. Sebaliknya, dia wajib terikat dengan syariah Islam dalam segala aspek kehidupannya.
Pentingnya Syiar Islam
Identitas Islam harus benar-benar tampak menonjol dalam kehidupan umat Islam. Tak boleh lagi disembunyikan. Apalagi jika alasan yang mendasari sikap menyembunyikan identitas Islam itu adalah kekhawatiran atau ketakutan akan tudingan kelompok radikal-sekuler anti Islam. Sebabnya, tentu kelompok radikal-sekuler anti Islam tak ingin Islam dan syariahnya mewarnai kehidupan umat Islam yang merupakan penduduk mayoritas negeri ini.
Karena itu umat Islam, para tokoh Islam, para pimpinan partai Islam maupun para calon pemimpin dari kalangan Islam tak perlu ragu lagi menunjukkan identitas keislaman mereka. Tak perlu ragu lagi mereka menyuarakan syariah Islam. Saatnya mereka berani secara lantang menyuarakan syariah Islam. Jangan lagi mereka menyembunyikan kebenaran Islam. Sebabnya, Allah SWT telah berfirman:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan. Jangan pula kalian menyembunyikan kebenaran, padahal kalian tahu
(TQS al-Baqarah [2]: 42).
Selain itu, menampakkan identitas Islam merupakan bagian dari syiar Islam yang harus terus diagungkan. Sebabnya, mengagungkan syiar Islam adalah bagian dari ketakwaan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka sungguh itu berasal dari ketakwaan di dalam hati (TQS al-Hajj [22]: 32).
WalLâhu a’lam. []
—*—
Allah SWT berfirman:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dialah (Allah) Yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk Dia menangkan agama itu atas seluruh agama yang ada meski kaum musyrik membencinya. (TQS at-Taubah [9]: 33). []
—*—

Rabu, 09 November 2022

Tagged under:

Penderitaan umat harus segera berakhir

Oleh: Titi Hutami 

Memasuki November 2022, Radar Bogor menyuguhi berita utama adanya badai PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Ribuan pekerja harus menerima nasib kehilangan pekerjaannya. Alasan perusahaan yang melakukan PHK karyawannya, karena tidak lagi mampu membayar mereka. Berarti perusahaan-perusahaan itu selama ini sudah berjalan tidak sehat, tidak lagi menguntungkan, terbukti tidak mampu membayar karyawannya. Akhirnya terjadi peristiwa PHK yang pastinya sangat tidak diinginkan setiap karyawan.

Sungguh bisa dibayangkan, ribuan pekerja yang baru saja terkena PHK akan menambah besar jumlah pengangguran dan pastinya menambah jumlah penduduk miskin. Sementara, efek kehilangan pekerjaan dan kemiskinan karena pandemi covid-19 saja belum teratasi. Ini ditambah lagi dengan yang baru. Miris sekali kondisi umat saat ini.

Lebih miris lagi, para penguasa negeri tidak peduli. Mereka sibuk dengan meraih keuntungan atau pemasukan pribadi untuk persiapan pemilu 2024. Rakyat bagaikan tak punya pemimpin. Rakyat mencari jalan sendiri untuk kehidupannya. Dan itu sangat memberatkan rakyat.

Jangan heran jika banyak rakyat stress. Kejahatan meningkat, terutama curanmor. Pasar mulai berkurang pengunjung, karena daya beli masyarakat menurun.

Kondisi kesengsaraan rakyat ini seperti buntu diselesaikan. Seperti gambaran QS. Thaha 124:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”

Tidak ada jalan lain kecuali manusia memang membutuhkan solusi dari Sang Penguasa jagad raya, yakni solusi Islam. Melalui sistem ekonomi Islam, negara menjamin lapangan kerja rakyatnya. Negara memiliki dana zakat yang khusus untuk fakir miskin. Negara mengelola kekayaan alam yang sejatinya milik rakyat. Negara menggratiskan pendidikan, jadi rakyat tidak terbebani untuk kebutuhan pendidikan. Negara menggratiskan kesehatan, jadi rakyat tidak juga terbebani untuk kebutuhan kesehatan. Prinsip ekonomi Islam adalah menghilangkan kemiskinan per- individu.

Sudah saatnya umat manusia di dunia hidup dengan sistem Islam, agar tidak mengalami kesengsaraan berkepanjangan. Apalagi diperkirakan tahun 2023 akan terjadi krisis ekonomi global. Jadi saatnya umat kembali pada aturan Islam.

Jumat, 28 Oktober 2022

Tagged under: ,

Khilafah itu Mulia, Haram untuk Dinista

*BULETIN DAKWAH KAFFAH No. 266* 
(03 Rabi’ul Akhir 1444 H/28 Oktober 2022 H)


Islam adalah agama bagi mayoritas penduduk di negeri ini. Namun, yang menyakitkan hati, berkali-kali ajaran Islam justru dinistakan di negeri ini. Berkali-kali juga para penista Islam selalu lolos dari jerat hukum. Belakangan, seorang komisaris BUMN bernama Dede Budhyarto, melecehkan salah satu ajaran Islam yang mulia, yakni Khilafah. Dalam akun twitter-nya, Komisaris independen PT Pelni ini, yang juga relawan Jokowi, memplesetkan kata khilafah dengan ditambahi cacian kasar berbahasa Inggris. 

Meski reaksi keras berdatangan dari banyak kalangan, sang komisaris menolak meminta maaf. 

*Khilafah Ajaran Islam*

Menyatakan Khilafah bukan ajaran Islam, juga menyatakan tidak ada bentuk baku kekhilafahan, adalah sesat pikir. Apalagi secara gegabah sebagian dari pencela Khilafah mengatakan bahwa Khilafah tidak ada dalam al-Quran dan as-Sunnah. Tudingan-tudingan itu adalah upaya mengaburkan dan memfitnah ajaran Islam tentang kekhilafahan.

Jelas, kewajiban menegakkan Khilafah telah ditetapkan berdasarkan dalil al-Quran, as-Sunnah dan Ijmak Sahabat. Pertama: Dalil al-Quran. Di dalam al-Quran terdapat ayat-ayat yang memerintahkan kaum Muslim untuk taat kepada ulil amri (QS an-Nisa’ [4]: 59), juga kewajiban menerapkan hukum-hukum Allah Ta'ala. Mereka yang tidak memberlakukan hukum-hukum Allah Ta'ala disebut oleh Allah Ta'ala sebagai kafir, zalim dan fasik (QS al-Mâ'idah [5]: 44-45, 47). Faktanya, tanpa Khilafah sebagaimana saat ini, hukum-hukum Allah Ta'ala memang tak bisa diberlakukan.

Selain itu, Imam al-Qurthubi, seorang ulama besar dari mazhab Maliki, menjadikan QS al-Baqarah ayat 30 sebagai dalil atas kewajiban mengangkat seorang khalifah. Artinya, ayat tersebut merupakan dalil atas kewajiban menegakkan Khilafah. _“Ayat ini merupakan dalil paling asal/pokok mengenai kewajiban mengangkat seorang imam atau khalifah yang wajib didengar dan ditaati, untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan hukum-hukum khalifah. Tidak ada perselisihan pendapat tentang kewajiban tersebut di kalangan umat Islam maupun di kalangan ulama, kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-Asham.”_ (Imam al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 1/264-265).

*Kedua:* Dalil as-Sunnah. Di dalam as-Sunnah Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kaum Muslim akan kewajiban membaiat seorang khalifah. Dengan kata lain, mereka wajib menegakkan Khilafah. Mereka berdosa besar jika meninggalkan kewajiban ini. Sabda beliau:

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

_"Siapa saja yang mati dalam keadaan tidak ada baiat (kepada imam/khalifah) di lehernya, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliah (berdosa besar)."_ (HR Muslim).

Berdasarkan hadis di atas, Syaikh ad-Dumaiji menyatakan bahwa mengangkat seorang imam atau khalifah hukumnya wajib (Ad-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhma ‘inda Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah, hlm. 50).

*Ketiga:* Dalil Ijmak Sahabat. Sebagaimana diketahui, tidak lama usai Rasulullah ﷺ wafat, para Sahabat radhiyallahu 'anhu telah berijmak bahwa harus ada pengganti beliau dalam urusan pemerintahan, yakni untuk mengurusi kepentingan umat dan melaksanakan syariah Islam. Karena itu mereka segera berkumpul di Saqîfah Bani Sa’idah untuk bermusyawarah hingga mereka sepakat untuk memilih Abu Bakar radhiyallahu 'anhu sebagai khalifah pertama. Sejak itulah Khilafah Islam berdiri sebagai pelanjut Daulah Islam era Nabi ﷺ. 

Selain itu bahasan tentang kewajiban menegakkan Khilafah sudah masyhur bahkan telah menjadi kesepakatan (ijmak) para ulama Ahlus Sunnah. Bentuk baku Khilafah juga telah banyak dibahas oleh para ulama. Kajian-kajian seputar Khilafah bertebaran di berbagai kitab, baik fikih, tafsir dan syarh hadis.

Profesor Dr. Wahbah Zuhaili pada bab _“Sulthah at-Tanfîdz al-‘Ulyâ – al-Imâmah”_ merangkum pendapat para ulama dari berbagai mazhab tentang kewajiban menegakkan Khilafah. Menurut beliau hanya segelintir kelompok yang menolak kewajiban mendirikan Khilafah, yaitu sebagian kecil kelompok Khawarij dan Muktazilah. Adapun mayoritas ulama mazhab—bahkan seluruh ulama Ahlus Sunnah—menyatakan wajib mendirikan Khilafah (Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, 6/663-668).

Selanjutnya, Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili rahimahulLâh mengemukakan beberapa definisi khilafah menurut para ulama. Di antaranya, menurut ad-Dahlawi, _“Khilafah adalah kepemimpinan umum untuk menegakkan agama dengan menghidupkan ilmu-ilmu agama; menegakkan rukun-rukun Islam; menegakkan jihad dan hal-hal yang berhubungan dengannya, seperti pengaturan tentara serta kewajiban-kewajiban untuk orang yang berperang dan pemberian harta fa’i kepada mereka; menegakkan peradilan dan hudûd; menghilangkan kezaliman; serta melakukan amar makruf nahi mungkar, sebagai pengganti dari Nabi ﷺ”_ (Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, 6/661).

Jelas sudah, Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Bukan ajaran kelompok tertentu. Mendirikan Khilafah wajib atas seluruh kaum Muslim. Bahkan para ulama menyebut penegakan Khilafah sebagai mahkota kewajiban. Artinya, dalam Islam, Khilafah itu mulia. Karena itu Khilafah haram untuk dinista. 

*Dosa Besar!*

Penistaan terhadap ajaran Islam, di antaranya Khilafah, otomatis merupakan penistaan terhadap syariah Islam. Tindakan ini disebut _istikhfâf bi al-ahkâm al-syar’iyyah_ (penghinaan terhadap hukum-hukum syariah Islam). _Istikhfâf_ bisa dilakukan melalui ucapan, perbuatan atau keyakinan. 

Para fuqaha telah sepakat bahwa siapa saja yang menghina hukum-hukum Islam dihukumi murtad (kafir), yaitu keluar dari agama Islam dan wajib dihukum mati jika tak bertobat kepada Allah Ta'ala. (Al-Mawsû’ah al-Fiqhiyyah, 3/251). 

Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ . لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

_Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu mengolok-olok?” Tak usahlah kalian meminta maaf karena kalian telah kafir sesudah beriman.”_ (TQS at-Taubah [9]: 65-66). 

Namun demikian, para fuqaha memberikan catatan, perkataan yang dapat memurtadkan pengucapnya ada dua macam: 
*Pertama,* perkataan yang maknanya pasti/tegas atau terang-terangan, yaitu yang hanya mempunyai satu pengertian; tak dapat ditakwilkan/diartikan dengan maksud lain _(mâ lâ yahtamilu at-ta`wîl)._ Siapa saja yang mengeluarkan perkataan jenis pertama ini, misalnya mengatakan Nabi Isa 'alaihissalam. adalah anak Allah, atau agama Islam adalah karangan Nabi Muhammad ﷺ, dan yang semisalnya, dia dihukumi telah kafir.

*Kedua,* perkataan yang maknanya tak pasti atau ucapan _kinâyah_ (sindiran), yakni perkataan yang memungkinkan lebih dari satu maksud, atau perkataan yang dapat ditakwilkan/diartikan dengan maksud lain _(mâ yahtamilu al ta`wîl)_. Siapa saja yang mengucapkan perkataan jenis kedua ini, tak dapat dikafirkan. Syaikh Abdurrahman al-Maliki berkata, _”Seseorang tak dapat dikafirkan karena perkataannya, kecuali perkataan yang mengandung kekufuran secara pasti.”_ (Abdurrahman al-Maliki, Nizhâm al-‘Uqûbât, hlm. 85).

Selain itu, ketidaktahuan terhadap hukum syariah Islam dapat menjadi unsur pemaaf (‘udzur syar’i) jika seorang Muslim dan orang-orang yang semisal orang itu memang tak mengetahui suatu hukum syariah Islam karena kebodohan mereka (An-Nabhani, An-Nizhâm al-Iqtishâdi fî al-Islâm, hlm. 175).

Oleh karena itu, penista Khilafah mesti dilihat: Jika dia sebenarnya tahu bahwa Khilafah adalah bagian dari syariah Islam, lalu terang-terangan sengaja menistanya, maka dia murtad. Namun, jika dia mengucapkan atau membuat tulisan yang sepertinya menistakan Khilafah, tetapi bisa diartikan lain, maka dia tidak divonis kafir. Begitu pula orang yang tidak tahu bahwa Khilafah adalah kewajiban di dalam Islam, lalu ia mencaci Khilafah, maka ia pun tidak divonis murtad.

*Umat Butuh Khilafah*

Keberadaan Khilafah di tengah umat sangatlah vital. Tanpa Khilafah kemuliaan Islam dan umatnya juga tercabik. Tak ada yang melindungi dan membela. Imam an-Nawawi dalam salah satu kitabnya mengatakan, _“Sudah menjadi keharusan bagi umat adanya seorang imam (khalifah) yang menegakkan agama, menolong sunnah, menolong orang-orang yang dizalimi, memenuhi hak-hak dan menempatkan hak-hak pada tempatnya.”_ (An-Nawawi, Rawdhah ath-Thâlibîn wa ‘Umdah al-Muftîn, 3/433).

Bukankah terbukti hari ini, ketika kaum Muslim hidup bukan dalam naungan Khilafah, hasilnya adalah penderitaan? Sumber daya alam dijarah oleh kaum penjajah. Negeri mereka dijerat utang yang mencekik. Para penguasa terus menaikkan pajak dan mengurangi subsidi demi membayar utang dan bunga utang yang terus membengkak.

Kaum Muslim juga terpecah-belah. Mereka pun ditindas oleh umat lain tanpa ada yang mau menolong apalagi membalaskan kezaliman tersebut. Darah Muslim Myanmar, Suriah, Palestina, Uyghur masih terus tumpah. Ironisnya, negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia, masih terus berhubungan baik dengan negara-negara kafir harbi, seperti Cina komunis yang terus melakukan kezaliman terhadap Muslim Uyghur. 

Tanpa Khilafah juga, banyak hukum Islam yang tidak bisa dilaksanakan umat pada hari ini. Hukum pidana, ekonomi dan muamalah, jihad, politik dan pemerintahan tak bisa diaplikasikan. Hukum-hukum tersebut hanya menghiasi lembaran-lembaran kitab fikih tanpa bisa diamalkan dan diterapkan. Padahal sudah jelas kaum Muslim wajib melaksanakan semua hukum-hukum Allah Ta'ala.

Alhasil, akar persoalan kita pada hari ini adalah ketiadaan penerapan syariah Islam oleh Khilafah. Lalu mengapa umat malah mencari jawaban pada sistem selain Islam? []

---*---

*Hikmah:*

Imam an-Nawawi rahimahulLâh berkata:

وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ نَصْبُ خَلِيفَةٍ وَوُجُوبُهُ بِالشَّرْعِ لَا بِالْعَقْلِ

_"Para ulama telah berijmak (bersepakat) bahwa wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang khalifah. Kewajiban ini berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal."_ (An-Nawawi, Syarh an-Nawawi alâ Shahîh Muslim, 12/231). []

---*---

Download Buletin Dakwah Kaffah versi PDF & simak versi audio di:
https://buletinkaffah.com

Selasa, 11 Oktober 2022

Tagged under:

Maulid Nabi SAW.: Membenahi Dunia dengan Islam

Oleh: Titi Hutami

Jangan menutup mata, bahwa kelahiran Nabi Muhammad saw. membawa perubahan besar bagi umat manusia di muka bumi ini. Penyembahan terhadap patung, berhala, dan benda apapun, beralih pada penyembahan Allah SWT. semata. Tatanan hidup yang teratur dan manusiawi sangat nyata dirasakan oleh umat Islam. Bahkan perkembangan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi terinspirasi bersama ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw.

Berbeda dengan hari ini, manakala umat diatur dengan sistem hidup buatan manusia, seperti sistem kapitalisme dan sosialisme komunisme, kondisi umat manusia memprihatinkan. Negara lemah dihalangi untuk maju oleh negara kuat. Kekayaannya dikuras. Utang dijadikan solusi utama, sehingga terwujud ketergantungan negara lemah terhadap negara kuat. Bahkan negara lemah harus siap menjadi budak negara kuat.

Solusi untuk mengembalikan negara lemah agar tidak diinjak-injak terus menerus oleh negara kuat, hanya satu cara, yakni mengembalikan sistem Islam dalam negara khilafah. 

Dalam perjalanan khilafah selama 12 abad, tidak ada bukti sistem Islam menzalimi negara lain yang lemah. Sebaliknya, negara lemah yang ditaklukan khilafah, penduduknya diberi kehidupan layak, dicerdaskan, dan diangkat derajatnya dengan akhlak mulia.

Terbukti Islam menjadi sumber kebaikan bagi semua umat manusia. Jadi, sangat wajar kecintaan pada Nabi saw. tumbuh pada dada kaum muslimin.

Mencintai Nabi saw. berbeda dengan mencintai orang tua, anak, sahabat, suami/istri, dan yang lainnya. Mencintai Nabi saw harus ditampakkan dalam sikap nyata. Yakni mempelajari ajarannya. Mengamalkan ajarannya. Mendakwahkan dan memperjuangkan penerapan ajarannya secara menyeluruh. Ini sebagai wujud meneladani Nabi saw.

QS Al Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allâh [al-Ahzâb/33:21]

Keteladanan Rasulullah saw. sudah sepenuhnya diduplikat oleh para Sahabat. Hal itu dilakukan langsung sepeninggal Rasul saw. Mereka membangun kekhilafahan dan mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Dilanjutkan dengan khalifah-khalifah berikutnya.

Kewajiban umat Islam hari ini membangun kembali kekhilafahan yang sudah ditumbangkan oleh Kemal Attaturk dengan bantuan Inggris. Inilah agenda umat Islam yang harus diperjuangkan.

Khilafah akan tegak bersama dengan penerapan aturan Islam secara utuh. Dipastikan khilafah nantinya akan kembali menjadi sumber kebaikan seluruh dunia. Semua kezaliman akan ditumpas oleh khilafah. Sehingga umat manusia di dunia akan merasakan keamanan, ketentraman, kesejahteraan, dan kedamaian. Tanpa pandang muslim atau non muslim. Karena ajaran Islam yang dibawa Rasulullah saw mengantarkan rahmat bagi seluruh alam.

Mari ikut andil dalam tegaknya khilafah, sebagai wujud cinta kita pada Rasulullah saw.