image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Jumat, 27 Januari 2023

Tagged under: ,

Pentingnya Sistem Pendidikan Islam

Buletin Kaffah No. 279 (5 Rajab 1444 H/27 Januari 2023 M)

Sebagaimana telah dibahas pada Buletin Kaffah No. 278 pekan lalu, moral remaja/pelajar Indonesia kian kritis. Salah satunya adalah adanya ribuan pelajar SMP/SMA di Jatim yang meminta dispensasi nikah akibat sudah hamil duluan sebelum menikah. 

Banyaknya kehamilan di luar nikah di kalangan pelajar juga terjadi di banyak kota. Totalnya mencapai ribuan. Yogya, Tangerang Selatan dan Madiun adalah di antara kota yang angka kehamilan remaja/pelajarnya paling tinggi (Sindonews.com, 11/02/2022). 

Tingginya angka kehamilan pelajar di luar nikah di Indonesia tentu seiring dengan massifnya aktivitas seks bebas (perzinaan) di kalangan mereka. Sekitar dua tahun lalu, misalnya, CNN Indonesia (28/12/2020) melaporkan bahwa berdasarkan hasil survei Komnas Perlindungan Anak terdapat 93,8 persen dari 4.700 siswi SMP/SMA di Depok Jawa Barat yang mengaku pernah berhubungan seksual di luar nikah. Survei tersebut juga mengungkap 97 persen responden mengaku pernah menonton pornografi. 

Tak hanya berdampak pada meningkatnya dispensasi nikah. Hamil di luar nikah juga berdampak pada meningkatnya angka aborsi (pengguguran kandungan) di kalangan remaja/pelajar. Menurut data BKKBN, dari jumlah penduduk remaja/pelajar (usia 14-19 tahun) terdapat 19,6% kasus kehamilan tak diinginkan (KTD) dan sekitar 20% kasus aborsi di Indonesia dilakukan oleh remaja/pelajar (BKKBN, 2021). 

Tak hanya seks bebas, hamil di luar nikah dan aborsi. Banyak remaja/pelajar di Indonesia juga terjerat narkoba. Baik sebagai pengguna maupun pengedar. Sekitar dua tahun lalu, misalnya, Kompas.tv (15/01/2021) melaporkan bahwa Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Semarang berhasil membongkar jaringan narkoba yang melibatkan pelajar sebagai kurir narkoba jenis sabu. Kasus keterlibatan pelajar di dunia narkoba sudah sangat mencemaskan. Survei dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan ada 2,3 juta pelajar atau mahasiswa di Indonesia pernah mengonsumsi narkoba (CNN Indonesia, 22/06/2019).

Selain narkoba, kasus tawuran antarpelajar juga sangat mengkhawatirkan. Mereka tidak hanya saling lempar batu, namun sudah menggunakan senjata tajam berbahaya. Tidak sekadar melukai, namun hingga membunuh (CNN Indonesia (23/07/2020). 

Itulah sekelumit potret buram krisis moral dan kepribadian pelajar di Indonesia saat ini. 

Kegagalan Sistem Pendidikan Sekuler

Mengapa kondisi yang sangat memprihatinkan di kalangan remaja/pelajar di atas bisa terjadi? Salah satu sebabnya adalah kegagalan sistem pendidikan sekuler yang diterapkan di negeri ini. Anehnya, belakangan sekularisasi pendidikan di Tanah Air makin digencarkan. Peran agama malah akan diminimalkan atau bahkan dihilangkan dari dunia pendidikan. 

Beberapa waktu lalu visi pendidikan Indonesia yang dicanangkan Kemendikbud menuai protes keras dari berbagai elemen umat Islam. Pasalnya, visi pendidikan yang tertuang dalam draft Peta Jalan Pendidikan Nasional (PJPN) 2020-2035 itu tidak tercantum lagi frasa agama. Setelah menuai protes tersebut, Kemendikbud kini merevisi draft rumusan PJPN. Namun demikian, hal itu tetap tidak menghapus fakta adanya upaya pengkerdilan agama dalam PJPN. Terlihat jelas pada draft PJPN tersebut tetap tidak memuat frasa agama. Yang ada sekadar frasa akhlak mulia dan budaya. Indonesia sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia tentu terancam bahaya jika pendidikannya minim atau bahkan nir agama. PJPN itu lebih mengarusutamakan aspek pragmatis, yakni sekadar pertimbangan pasar dan ekonomi. Agama tidak mendapatkan perhatian secara semestinya. Misalnya disebutkan bahwa yang menjadi pertimbangan utama penyusunan PJPN itu adalah perubahan teknologi, perubahan sumber-sumber ekonomi Indonesia, kondisi demografi Indonesia, serta kondisi pasar kerja dunia global. Tentu sangat berbahaya mencetak SDM yang unggul secara sains dan teknologi demi tuntutan pasar global, namun lemah dari sisi keterikatan pada ajaran agama (Islam). SDM semacam itu justru berpotensi mengancam negeri ini melalui berbagai perilakunya kelak yang tidak lagi memperhatikan standar agama (Islam) berupa halal dan haram. 

Pentingnya Sistem Pendidikan Islam

Sebagaimana diketahui, dalam sistem pendidikan sekuler sebagaimana saat ini, peran agama (Islam) dikerdilkan bahkan disingkirkan. Akibatnya sangat fatal. Di antaranya adalah dekadensi moral di kalangan remaja/pelajar yang makin parah, sebagaimana telah disinggung di atas. Sebabnya, para remaja/pelajar tersebut tidak dibekali dengan bekal pendidikan agama yang cukup.

Karena itu di Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim, sistem pendidikan bukan saja harus mengikutsertakan agama (Islam). Bahkan sudah seharusnya Islam menjadi dasar bagi sistem pendidikan sekaligus mewarnai seluruh kebijakan pendidikan di Tanah Air. 

Dalam Islam, pendidikan dapat dimaknai sebagai proses manusia menuju kesempurnaan sebagai hamba Allah SWT. Dalam Islam ada sosok Rasulullah Muhammad saw. yang wajib menjadi panutan (role model) seluruh peserta didik. Sebabnya, Allah SWT berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sungguh engkau memiliki akhlak yang sangat agung (QS al-Qalam [68]: 4).
 
Allah SWT pun berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ 

Sungguh pada diri Rasulullah saw. itu terdapat suri teladan yang baik (QS al-Ahzab [33]: 21).

Keberadaan sosok panutan (role model) inilah yang menjadi salah satu ciri pembeda pendidikan Islam dengan sistem pendidikan yang lain. Karena itu dalam sistem pendidikan Islam, akidah Islam harus menjadi dasar pemikirannya. Sebabnya, tujuan inti dari sistem pendidikan Islam adalah membangun generasi yang berkepribadian Islam, selain menguasai ilmu-ilmu kehidupan seperti matematika, sains, teknologi dll. Hasil belajar (output) pendidikan Islam akan menghasilkan peserta didik yang kokoh keimanannya dan mendalam pemikiran Islamnya (tafaqquh fiddin). Pengaruhnya (outcome) adalah keterikatan peserta didik dengan syariah Islam. Dampaknya (impact) adalah terciptanya masyarakat yang bertakwa, yang di dalamnya tegak amar makruf nahi mungkar dan tersebar luasnya dakwah Islam. 

Pemikiran (fikrah) pendidikan Islam ini tidak bisa dilepaskan dari metodologi penerapan (tharîqah)-nya, yaitu sistem pemerintahan yang didasarkan pada akidah Islam. Karena itu dalam Islam, penguasa bertanggung jawab penuh atas penyelenggaraan pendidikan warganya. Sebabnya, pendidikan adalah salah satu di antara banyak perkara yang wajib diurus oleh negara. Rasulullah saw. bersabda: 

الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Kecemerlangan Sistem Pendidikan Islam

Pada masa Khilafah Islam, pendidikan Islam mengalami kecemerlangan yang luar biasa. Ini ditandai dengan tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan Islam, majelis ilmu pengetahuan serta lahirnya ulama dan ilmuwan yang pakar dalam berbagai disiplin pengetahuan. 

Beberapa lembaga pendidikan Islam kala itu antara lain, Nizhamiyah (1067 -1401 M) di Baghdad, Al-Azhar (975 M-sekarang) di Mesir, Al-Qarawiyyin (859 M-sekarang) di Fez, Maroko dan Sankore (989 M-sekarang) di Timbuktu, Mali, Afrika. Lembaga pendidikan Islam ini pun menerima para siswa dari Barat. Paus Sylvester II, sempat menimba ilmu di Universitas Al-Qarawiyyin. 

Literasi warga negara Khilafah saat itu pun lebih tinggi daripada Eropa. Perpustakaan Umum Cordova (Andalusia) memiliki lebih dari 400 ribu buku. Ini termasuk jumlah yang luar biasa untuk ukuran zaman itu. Perpustakaan Al-Hakim (Andalusia) memiliki 40 ruangan yang di setiap ruangannya berisi lebih dari 18 ribu judul buku. Perpustakaan Darul Hikmah (Mesir) mengoleksi sekitar 2 juta judul buku. Perpustakaan Umum Tripoli (Syam) mengoleksi lebih dari 3 juta judul buku. Perpustakaan semacam itu tersebar luas di berbagai wilayah negara Khilafah.

Pada masa Khilafah lahir banyak ulama di bidang tsaqâfah Islam. Filosofi Islam, mazjul-mâddah bir-rûh, yang mengintegrasikan belajar dan kesadaran akan perintah Allah SWT menjadikan tsaqâfah Islam sebagai inspirasi, motivasi dan orientasi pengembangan matematika, sains, teknologi, dan rekayasa hingga melahirkan banyak ilmuwan dan teknolog founding father disiplin ilmu pengetahuan modern. Tsaqâfah Islam, ilmu pengetahuan yang kita pelajari, juga produk-produk industri yang kita nikmati saat ini tidak lain adalah sumbangan para ulama dan ilmuwan Muslim. Mereka adalah para perintisnya. Sebut saja Ibnu Sina (pakar kedokteran), al-Khawarizmi (pakar matematika), al-Idrisi (pakar geografi), az-Zarqali (pakar astronomi), Ibnu al-Haitsam (pakar fisika), Jabir Ibn Hayyan (pakar kimia), dll. 

Kemajuan pendidikan pada masa keemasan peradaban Islam ini bahkan telah terbukti menjadi rujukan peradaban lainnya. Hal tersebut antara lain diungkapkan oleh Tim Wallace-Murphy (WM) yang menerbitkan buku berjudul “What Islam Did for Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization” (London: Watkins Publishing, 2006). Buku WM tersebut memaparkan fakta tentang transfer ilmu pengetahuan dari Dunia Islam (Khilafah) ke Dunia Barat pada Abad Pertengahan. 

Disebutkan pula bahwa Barat telah berutang pada Islam dalam hal pendidikan dan sains. Utang tersebut tidak ternilai harganya dan tidak akan pernah dapat terbayarkan sampai kapan pun. Cendekiawan Barat, Montgomery Watt, menyatakan, ”Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.” 

Alhasil, saatnya membuang sistem pendidikan sekuler, dan beralih ke sistem pendidikan Islam.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

---*---

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

Siapa saja yang pergi untuk mencari ilmu maka ia sedang berada di jalan Allah hingga ia pulang. (HR at-Tirmidzi). []

Minggu, 22 Januari 2023

Tagged under: ,

Selamatkan Remaja Indonesia dari Perzinaan!

Buletin Kaffah No. 278 (27 Jumada ats-Tsaniyah 1444 H/20 Januari 2023 M)

Moral remaja Indonesia kian kritis. Ditemukan laporan ratusan siswi SMP dan SMA di Ponorogo Jatim meminta dispensasi nikah akibat sudah hamil sebelum menikah. Fakta tersebut dibenarkan Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim Anwar Solikin. Bahkan di seluruh Jatim, berdasarkan data dari Pengadilan Tinggi Agama Surabaya, angka permohonan dispensasi nikah (diska) pada 2022 mencapai 15.212 kasus. Sebanyak 80 persennya karena telah hamil.

Dari Indramayu, Jawa Barat, juga dilaporkan ada ratusan remaja putri usia di bawah 19 tahun alami kasus serupa. Sepanjang 2022 terdapat 564 pengajuan dispensasi nikah yang diputuskan hakim. Kebanyakan pernikahan usia muda itu terjadi karena hamil sebelum nikah. Sementara di Bandung 143 siswi ajukan dispensasi menikah yang sebagian besar terjadi lagi-lagi karena hamil akibat zina.

Zina: Kejahatan dan Pembawa Bencana

Zina adalah kejahatan dan dosa besar. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Janganlah kalian mendekati zina. Sungguh zina itu tindakan keji dan jalan yang buruk (TQS al-Isra’ [17]: 32).

Bahkan Nabi saw. menyebut zina adalah dosa besar setelah syirik. Sabda beliau:

 مَا مِنْ ذَنْبٍ بَعْدَ الشِّرْكِ أعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ نُطْفَةٍ وَضَعَهَا رَجُلٌ فِي رَحِمٍ لاَ يَحِلُّ لَهُ

Tidak ada dosa yang lebih besar di sisi Allah, setelah syirik, kecuali dosa seorang lelaki yang menumpahkan spermanya dalam rahim wanita yang tidak halal bagi dirinya (HR Ibnu Abi ad-Dunya’).

Demikian kejinya perbuatan zina, Allah SWT sampai menyiapkan azab yang mengerikan kelak di akhirat. Nabi saw. bersabda:

ثُمَّ انْطَلَقَ بِي فَإِذَا بِقَوْمٍ أَشَدِّ شَيْءٍ انْتِفَاخًا وَأَنْتَنِهِ رِيحًا وَأَسْوَئِهِ مَنْظَرًا, فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قِيلَ: الزَّانُونَ وَالزَّوَانِي

Kemudian keduanya membawaku, ternyata ada satu kaum yang tubuh mereka sangat besar, bau tubuhnya sangat busuk, paling jelek dipandang, dan bau mereka seperti bau tempat pembuangan kotoran. Aku bertanya, “Siapakah mereka?” Keduanya menjawab, “Mereka adalah pezina laki-laki dan perempuan.” (HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Namun sekarang, perbuatan zina sudah dianggap bagian dari pergaulan remaja Indonesia. Sebagian remaja menganggap bahwa berciuman, berpelukan, meraba pacar, termasuk berzina dengan lawan jenis bukanlah tabu dan terlarang. Sebagian remaja lagi bahkan berzina dengan pelacur. Malah ada juga yang terjun menjadi pelacur. Keperjakaan atau keperawanan sudah dianggap tidak perlu lagi.

Ada beberapa sebab kerusakan moral ini terjadi. Pertama: Remaja kita terpapar konten pornografi melalui internet. Pada tahun 2021, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengungkapkan 66,6 persen anak laki-laki dan 62,3 persen anak perempuan di Indonesia mengakses pornografi secara daring (online). Bahkan 38,2 persen dan 39 persen anak pernah mengirimkan foto kegiatan seksual melalui media daring.

Data dari Kemen PPA juga mengungkapkan 34,5 persen anak laki-laki dan 25 persen anak perempuan pernah terlibat pornografi atau mempraktikkan langsung kegiatan seksual. Belum lagi perbuatan pencabulan hingga pemerkosaan yang dilakukan remaja akibat pengaruh pornografi.

Kedua: Di negara ini tidak ada sanksi keras yang mencegah perzinaan. Dalam KUHP terbaru yang disahkan DPR tahun lalu, perzinaan adalah delik aduan. Tanpa pengaduan, perzinaan tidak bisa dibawa ke ranah hukum.

Padahal perzinaan adalah perbuatan kriminal yang berpotensi mendatangkan azab Allah SWT bagi masyarakat. Nabi saw. sudah mengingatkan:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ 

Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu negeri, sungguh mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri (HR al-Hakim).

Umat harusnya melihat bahwa perbuatan zina bisa mendatangkan berbagai bencana. Kehamilan yang tidak diinginkan akibat zina bisa membuat pelakunya stres. Pasalnya, mereka tidak siap menjadi ayah/ibu di usia muda yang selanjutnya berdampak pada penelantaran anak yang dilahirkan. Belum lagi risiko rusaknya nasab/garis keturunan karena perzinaan. 

Tidak sedikit remaja putri yang hamil karena berzina lalu melakukan aborsi. Padahal aborsi berisiko mendatangkan gangguan mental berupa trauma, mengancam kesehatan seperti alami perdarahan berat, infeksi, sepsis (kelanjutan dari infeksi), kerusakan rahim, peradangan panggul dan endometritis (radang pada lapisan rahim).

Perzinaan juga membuka peluang bagi naiknya infeksi menular seksual (IMS) di kalangan remaja. Tahun 2018, Dr. Hanny Nilasari Sp.KK(K), FINSDV, FAADV, dari FKUI menuturkan remaja yang jadi pasien infeksi menular seksual bertambah, termasuk usia SMP. Data di RSCM menunjukkan bahwa sekitar 15% dari kasus IMS baru yang dilaporkan terdiri dari anak berusia 12-22 tahun. Berdasarkan data rekam medis Poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Divisi Infeksi Menular Seksual di RSUP dr. Hasan Sadikin tahun 2013 terdapat 900-an pasien IMS. Sebanyak 9 persen dari jumlah tersebut adalah pasien berusia 10-19 tahun. RSUD Soetomo, Surabaya, mencatat ada sekitar 30 pasien IMS berusia muda setiap bulannya.

Inilah peringatan yang sudah disampaikan Baginda Nabi saw.:

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوْا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيْهِمْ الطَّاعُوْنُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ قَدْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِيْنَ مَضَوْا…

Tidaklah tampak perbuatan keji (zina) di suatu kaum sehingga dilakukan secara terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya (HR Ibnu Majah).

Islam Melindungi Masyarakat

Tidak ada ideologi yang memberikan perlindungan umat manusia dari kejahatan zina, kecuali Islam. Syariah Islam akan menciptakan kehidupan remaja dan masyarakat yang berkah dan mulia. Pertama: Islam akan mendidik para remaja agar berkepribadian Islam dan berakhlak mulia, yang malu dan takut berzina. Nabi saw. bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ:... وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ

Ada tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: …seorang pria yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu pria itu berkata, “Sungguh aku takut kepada Allah.” (HR al-Bukhari).

Kedua: Negara yang menerapkan syariah Islam akan mewajibkan para pemuda dan masyarakat untuk menjaga adab seperti berpakaian menutup aurat, menjaga pandangan serta melarang berbagai aktivitas yang mengarah pada perzinaan seperti ber-khalwat (berdua-duaan antara pria dan wanita dewasa yang bukan mahram). Nabi saw. bersabda: 

أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ باِمْرَأَةٍ إِلاَّ كاَنَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

Ingatlah, tidaklah seorang pria ber-khalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan (HR Ahmad).

Ketiga: Negara Islam akan mendorong para pemuda yang sudah sanggup menikah untuk segera berumah tangga. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesucian diri dan meneruskan keturunan. Nabi saw. bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai para pemuda, siapa saja yang sudah sanggup menikah, menikahlah. Hal itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Siapa saja yang belum mampu, berpuasalah karena puasa itu perisai (HR al-Bukhari dan Muslim).

Keempat: Negara dalam Islam akan menghentikan peredaran pornografi dan pornoaksi. Sanksi tegas akan dijatuhkan kepada pembuat, pelaku dan pengedar konten-konten pornografi, yakni sanksi ta’zîr berupa penjara 6 bulan (Abdurrahman Al-Maliki, Nizhâm al-‘Uqûbât fî al-Islâm, hlm. 94).

Kelima: Negara Islam juga akan menjatuhkan sanksi tegas kepada para pezina. Pezina yang belum menikah (ghayr muhshan) seperti pemuda dan pelajar diancam hukuman 100 kali cambukan (QS an-Nur [24]: 2). Pezina yang sudah menikah (muhshan) akan dijatuhi rajam hingga mati sebagaimana yang Nabi saw. lakukan terhadap seorang perempuan Al-Ghamidiyah dan lelaki bernama Maiz bin Malik. Perzinaan dalam Islam bukanlah delik aduan. Zina haram secara mutlak sekalipun dilakukan atas dasar consent (suka sama suka).

Lelaki dan perempuan yang melakukan tindakan asusila walau tidak sampai berzina seperti ber-khalwat, bercumbu, dsb. juga akan dijatuhi sanksi penjara; bergantung pada jenis kejahatannya, semisal penjara 3 tahun (Abdurrahman Al-Maliki, Nizhâm al-‘Uqûbât fî al-Islâm, hlm. 94).

Khatimah

Wahai kaum Muslim, khususnya orangtua, para guru dan alim ulama, apakah kita akan tetap berdiam diri melihat rusaknya generasi muda umat ini? Sadarkah kita bahwa semua terjadi karena sekularisme-liberalisme dijadikan aturan kehidupan, sedangkan Islam hanya dipakai untuk urusan ibadah dan akhlak belaka? Sementara itu pemuda-pemuda yang taat syariah malah di-bully sebagai sok moralis dan radikal.

Padahal Allah SWT sudah menurunkan agama ini sebagai ideologi terbaik, dengan membawa hukum-hukum terbaik. Sampai kapanpun kita tidak akan bisa mendapatkan solusi terbaik melainkan dengan menerapkan syariah Islam secara kâffah dalam kehidupan. Masihkah kita ragu?! []

---*---

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﺑِﻴَﺪِﻩِ، ﻟَﺎ ﺗَﻔْﻨَﻰ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺄُﻣﺔُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻘُﻮﻡَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓِ ﻓَﻴَﻔْﺘَﺮِﺷُﻬَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖِ، ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ ﺧِﻴَﺎﺭُﻫُﻢْ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮﻝُ: ﻟَﻮْ ﻭَﺍﺭَﻳْﺘَﻬَﺎ ﻭَﺭَﺍﺀَ ﻫَﺬَﺍ ﻟْﺤَﺎﺋِﻂِ

Demi Allah Yang diriku ada di tangan-Nya, tidaklah akan binasa umat ini hingga seorang lelaki menerkam (mencumbu dan menzinai) wanita di jalanan, lalu di antara mereka yang terbaik pada waktu itu hanya berkata, “Andai saja engkau melakukan itu di balik dinding ini.” (HR Abu Ya’la). []

Jumat, 06 Januari 2023

Tagged under:

Rindu Khilafah

Oleh: Titi Hutami

Memasuki tahun 2023 belum terlihat negeri ini ada greget menjadi lebih baik. Lihat saja, hutang negara semakin meroket. Harga-harga kebutuhan pokok masih memberatkan masyarakat. Para pelajar dan mahasiswa diarahkan jauh dari agamanya dengan paham sekularisme. Banjir di berbagai daerah seperti mengulang tahun-tahun sebelumnya setiap musim hujan. Kejahatan kriminal, LGBT, dan narkoba semakin marak dan mengerikan. Belum lagi persoalan lapangan pekerjaan sangat langka. Lalu, apa yang membuat gembira dengan pesta kembang api saat malam tahun baru?

Sebagai mahluk berakal, setiap orang tidak bisa hanya berkeluh kesah menghadapi kondisi negara yang terpuruk ini. Jalan keluar harus dicari dan ditempuh oleh negara dan masyarakat. Para pemangku negara harus mengambil solusi yang jitu, bukan sekedar tambal sulam atau mengorbankan rakyat lagi. 

Jika ada usulan solusi dari rakyat atau masyarakat, maka negara tidak boleh alergi. Bahkan sebagai wujud mencintai rakyatnya, negara harus menghargai kritik dan usulan solusi dari rakyat. Karena negara ini milik bersama semua warganya dan tanggung jawab bersama.

Seperti usulan untuk memperbaiki kondisi bangsa ini dengan sistem khilafah. Selayaknya sistem ini dicermati terlebih dahulu, bukan langsung distigmatisasi negatif dan diberi julukan radikal untuk orang yang mendakwahkannya.

Khilafah adalah sistem pemerintahan yang bersandar pada hukum syariat Islam, menyatukan seluruh negeri Islam, dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.

Hukum syariat Islam berisi aturan kehidupan dari sisi individu, masyarakat, dan negara. Karena sumbernya dari wahyu Allah SWT., maka dipastikan sesuai dengan fitrah manusia dan membawa keadilan. Bahkan keadilan Islam tidak hanya untuk umat Islam, tapi juga akan dirasakan bagi warga negara non muslim.

Siapapun yang telah mengkaji syariat Islam secara menyeluruh dan mendalam, akan melihat kehebatannya dalam menyelesaikan semua permasalahan hidup manusia, termasuk permasalahan negara. 

Jika negeri ini menolak penerapan syariat Islam secara menyeluruh, alias bertahan dengan aturan yang ada saat ini, maka dipastikan negeri ini akan terus mengalami kesengsaraan. Bahkan kezaliman semakin dirasakan oleh rakyat. Jadi syariat Islam adalah solusi yang paling tepat untuk menyelesaikan banyak masalah berat negeri ini.

Hukum syariat Islam itu sendiri bagi kaum muslimin bukan pilihan di antara hukum-hukum peraturan yang ada di dunia. Melainkan, hukum syariat Islam menjadi kewajiban bagi kaum muslimin untuk direalisasikan dalam kehidupan, sebagai bukti keimanannya.

Sementara itu, hanya sistem pemerintahan khilafah yang dapat memfasilitasi penerapan syariat Islam secara menyeluruh. Jadi, tegaknya sistem khilafah termasuk kebutuhan kaum muslimin. Bahkan kebutuhan akan tegaknya khilafah ini sudah menjadi kerinduan yang amat sangat bagi kaum muslimin. 

Semoga kerinduan tersebut segera membuahkan hasil. Yakni, Allah SWT. memberikan  kemenangan bagi kaum muslimin dengan tegaknya khilafah Islam. 

Hadis dari Hudzaifah ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

...ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

"... Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi dan al-Bazzar).

Wallahu a'lam bishowab.

Sabtu, 03 Desember 2022

Tagged under:

Bisa Lebih Dari Itu

Oleh: Titi Hutami

Rona wajah sebagian masyarakat tampak senyum cerah ceria. Rupanya mereka baru saja mendapat kucuran bantuan sosial (bansos) dari pemerintah sebesar sembilan ratus ribu rupiah per-orang. 

Salut buat mereka, berapapun bantuan yang didapat, senantiasa merasa gembira dan disyukuri. Mereka tak peduli dengan gaji penguasa sampai ratusan juta perbulan, tentu tak sepadan dengan bansos yang didapat. Mereka juga tak peduli dengan dana bansos yang sekejap habis. Yang terpenting, mereka bahagia bisa merasakan pemberian dari pemerintah.

Bagaimana kalau Islam yang mengatur urusan negara dan rakyat?
Tentu kebahagiaan mereka dan rakyat keseluruhan tidak hanya dirasakan sekejap, tapi setiap hari. Karena pemberian negara menjadi bagian hidup mereka.

Pemberian negara khilafah pada rakyatnya diwujudkan berupa fasilitas umum. Pendidikan tidak berbayar, dari sekolah Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi. Kesehatan gratis, apapun penyakitnya, tidak ada beban asuransi kesehatan. Jalan umum, termasuk jalan tol, diharamkan ada pungutan. Ada Baitul maal yang selalu siap membantu fakir miskin dan musafir yang kehabisan perbekalan.

Aturan Islam mengenai fasilitas negara untuk rakyatnya tersebut sudah dicontohkan Rasulullah SAW. dan para Khalifah. Misalnya Rasulullah SAW. memberikan syarat bebas kepada tawanan dengan mengajarkan baca tulis kepada anak-anak muslim.

Khalifah Umar bin Khattab membuat kebijakan memberikan santunan bagi bayi yang baru lahir.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz memberikan bantuan mahar bagi para pemuda saat itu yang ingin menikah.

Semua yang dibuktikan sejarah tentang pemberian fasilitas negara terhadap rakyatnya, semata karena keimanan dan ketaatan pemimpin pada Allah SWT. Disertai pula, keyakinan mereka kelak harus mempertanggung-jawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah SWT.

Dari keimanan para pemimpin (khalifah), akhirnya bisa mengantarkan kebahagiaan rakyatnya. Bukan kebahagiaan sekejap, tapi kebahagiaan sepanjang menjadi warga negara. Jadi, sebagian rakyat saat ini yang bahagia menerima bansos, bisa lebih dari itu apabila memiliki pemimpin yang mengelola negara dengan aturan Islam.

Wallahu a'lam bishowab.

Senin, 28 November 2022

Tagged under:

Persoalan Ruwet Pinjol

Oleh: Titi Hutami

Lagi-lagi pinjol (pinjaman online) memakan korban. Kali ini korbannya ratusan mahasiswa IPB. Mereka tergiur investasi dengan memanfaatkan pinjol. Ternyata investasinya bodong.

Berawal dari seorang oknum  yang mengaku memiliki usaha online, menawarkan produk atau investasi dengan keuntungan sepuluh persen per bulan. Untuk mendapatkan dana, para mahasiswa disarankan meminjam dari pinjol, dengan iming-iming akan dibantu cicilan pinjol dari oknum tersebut.

Akhirnya para mahasiswa itupun meminjam uang dari pinjol yang ditunjuk oknum. Selanjutnya uang yang dicairkan pinjol, dibelikan barang milik usaha online oknum untuk dikirimkan pada pemesan. Anehnya, pemesan yang dimaksud ternyata fiktif, hanya untuk menaikkan rating. Sementara uang lainnya dari pinjaman pinjol, diserahkan pada oknum sebagai investasi usaha online.

Usut punya usut, rupanya uang investasi itu digunakan oleh oknum untuk senang-senang memenuhi kebutuhan hidup, dan sebagiannya diberikan pada senior mahasiswa yang investasi terlebih dahulu.

Para mahasiswa itu baru sadar tertipu ketika tidak dipenuhi janji sepuluh persen dan tidak dibayarkan cicilan pinjol. Bahkan akhirnya mereka dikejar-kejar tagihan pinjol.

Bagaimana kemudian solusi dari kampus?
Oknum yang bersangkutan dilaporkan dan ditangkap. Sementara lembaga keuangan pinjol tidak tersentuh hukum sedikitpun. Sangat mengenaskan, para mahasiswa tetap harus membayar utang pinjol.

Solusi dibuat, tapi persoalan mahasiswa menghadapi pinjol tetap ruwet. Apalagi jika pembayaran cicilan terus tertunda, maka tagihan pinjol semakin membengkak.

Inilah pinjol yang dibiarkan tetap beroperasi, walaupun hukum Islam mengharamkan, dan telah membuat korbannya stress. Bahkan ada korbannya yang mengambil jalan pintas bunuh diri. 

Keharaman pinjol dapat dilihat dari tambahan nilai utang yang berupa bunga harian, biaya administrasi, dan denda untuk cicilan yang tertunda. Tambahan ini termasuk riba, dijelaskan pada Qur'an surat Al Baqarah ayat 275.

وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ

"Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."
(QS. Al Baqarah: 275)

Sangat nyata keharaman pinjol. Jadi wajib dihindari oleh setiap muslim. Demikian pula seharusnya negara tidak membiarkan keberadaan pinjol. 

Peran negara sangat diharapkan dalam melindungi rakyatnya. Khususnya keberadaan pinjol, jika negara membiarkan maka dipastikan akan ada korban berikutnya. Tapi faktanya, tidak ada perlindungan negara terhadap rakyat atas maraknya keberadaan pinjol. 

Keberadaan lembaga pinjol memang seperti bank yang dilegalisasi oleh negara dengan sistem kapitalisme. Jadi jangan harap lembaga ribawi itu  dibubarkan. Sistem kapitalisme tidak mengenal halal haram, karena dari asasnya sudah memisahkan agama dari kehidupan.

Bagaimana umat Islam menghindari sistem ribawi sebagai suatu dosa besar?
Pertama, umat tidak bertransaksi dengan memanfaatkan lembaga-lembaga tersebut.
Kedua, umat Islam mempunyai kewajiban mengubah kemungkaran yang ada di depan mata.

Kemungkaran terbesar saat ini adalah penerapan sistem kapitalisme. Sistem ini mengesampingkan aturan agama (Islam) dari aktifitas kehidupan, termasuk aturan bernegara. Dan, aturan-aturan yang dihasilkan sistem ini pun terbukti menyengsarakan umat manusia. Jadi selayaknya sistem kapitalisme tidak lagi diterapkan di muka bumi.

Penggantinya sudah pasti sistem yang membawa rahmatan lil a'lamin, yakni sistem Islam yang diterapkan dalam institusi negara khilafah. 

Tugas umat Islam hari ini adalah menegakkan kembali negara khilafah 'ala minhaji nubuwwah. Semoga Allah SWT. segera memberikan pertolongan-Nya, aamiin yaa Robbal'alamiin.

Rabu, 23 November 2022

Tagged under:

Islam Dianggap Pendatang

Oleh: Titi Hutami

Apakah Islam milik bangsa Arab?
Pertanyaan ini seharusnya tidak muncul dari lisan seorang muslim. Karena, seseorang saat mengikrarkan dirinya menganut Islam, niscaya Islam menjadi miliknya, menjadi bagian dari dirinya yang tak terpisahkan.

Rasanya aneh kalau ada seorang muslim mengatakan bahwa Islam pendatang di negeri ini sehingga harus menghormati kebudayaan negeri ini. Seolah-olah posisi Islam ada kalanya disimpan dalam benak, kemudian lain waktu dikeluarkan dari benak untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.

Sejatinya, Islam itu agama dari Allah SWT., diturunkan awal mula pada bangsa Arab melalui Nabi Muhammad saw. Islam merubah kehidupan bangsa Arab yang jahiliyah, penyembah patung, peminum khamr dan lain-lain, menjadi penegak hukum-hukum Allah SWT.

Karena turun awal di Arab, bukan berarti Islam semata milik bangsa Arab. Islam hanya turun awal di Arab, selanjutnya Islam disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Ini selaras dengan Qur'an surat Saba' ayat 28:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَاۤفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (TQS. Saba': 28)

Ketika Islam menyebar sampai pada orang-orang non Arab, maka Islam menjadi milik mereka semua penganutnya. Tidak ada label Islam hanya milik bangsa Arab atau menjadi pendatang di Indonesia. Bahkan seperti halnya Islam mengubah kehidupan Arab jahiliyah menjadi kehidupan islami, maka selayaknya di negeri manapun Islam harus mewarnai kehidupan mereka. Bukan Islam yang menyesuaikan, tapi penganutnya yang wajib menerapkan tuntunan Islam dalam kehidupannya.

Bahkan jika dirasa sulit penerapan Islam secara menyeluruh (kaffah), maka setiap muslim wajib memperjuangkannya. Seperti kondisi saat ini, umat Islam sedang membutuhkan institusi khilafah untuk merealisasikan aturan Islam secara kaffah. Jadi setiap muslim memiliki tugas besar bersama untuk menegakkannya.

Tantangannya memang berat saat membela Islam, akan berhadapan dengan ideologi yang berseberangan. Bahkan setiap muslim senantiasa harus waspada terhadap berbagai opini yang diarahkan untuk pengalihan fokus membela agamanya menjadi memperjuangkan dan menyerukan ide-ide kapitalisme. Sementara kapitalisme sangat nyata bertentangan dengan ajaran Islam. 

Coba pandangi diri kita agar terhindar dari salah langkah, sedang berdiri di posisi Islam atau justru menghalangi tegaknya Islam. 

Wallahu a'lam bishowab.

Selasa, 15 November 2022

Tagged under: ,

Meneguhkan Identitas Islam

Buletin Dakwah Kaffah Edisi 268

Pilpres (Pemilihan Presiden) 2024 memang masih jauh. Namun demikian, kekhawatiran bahkan ketakutan kelompok radikal-sekuler anti Islam terhadap kemenangan kelompok Islam di Pilpres 2024 tampak nyata. Trauma kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 benar-benar membekas di hati mereka. Mereka khawatir jagoan mereka berikutnya—yang diduga kuat merupakan boneka oligarki selanjutnya—bakal kalah di Pilpres 2024.

Karena itu segala cara mereka lakukan untuk membendung kekuatan politik Islam. Salah satunya dengan terus-menerus menuding kelompok Islam memainkan ‘politik identitas’. Tudingan ini sebetulnya tidak berbeda dengan tudingan-tudingan sebelumnya, bahwa kelompok Islam sering memainkan ‘isu agama’, melakukan ‘politisasi agama’, jualan ‘ayat dan mayat’ (ini sering mereka kaitkan dengan kasus Pilkada DKI Jakarta 2017), dll. Tujuan dari berbagai tudingan tersebut tentu saja agar kaum Muslim tidak memilih Capres/Cawapres Muslim yang dianggap kental warna keislamannya atau dianggap berpihak pada Islam dan umat Islam.
Awas Jebakan
Umat Islam tentu tidak seharusnya terjebak dalam permainan istilah yang digunakan oleh kelompok radikal-sekuler anti Islam. Alasannya: Pertama, tudingan mereka sesungguhnya hanya membuktikan sikap hipokrit (kemunafikan) mereka. Faktanya, setiap menjelang Pilpres atau Pilkada, merekalah sebetulnya yang sering memainkan ‘politik identitas’ atau melakukan ‘politisasi agama’. Caranya dengan memanipulasi identitas bahkan agama/keyakinan mereka. Aslinya para calon yang mereka dukung acapkali berasal dari kalangan radikal-sekuler anti Islam, bahkan berasal dari kalangan non-Muslim (kasus Ahok). Namun, setiap menjelang Pilpres/Pilkada calon-calon yang mereka dukung itu sering mendadak islami. Tiba-tiba sering memakai sarung, baju koko dan peci. Tiba-tiba berkerudung dan berjilbab. Tiba-tiba rajin berkunjung ke pesantren-pesantren. Tiba-tiba sering sowan kepada para kiai. Tiba-tiba kegiatan ibadah ritualnya—seperti shalat, zikir dan berdoa—diviralkan seolah ingin menunjukkan keshalihan pribadinya. Padahal aslinya ada yang diduga terlibat korupsi, suka nonton bokep, zalim terhadap rakyat kecil, dll.
Kedua, tudingan mereka bertujuan agar umat Islam meninggalkan sama sekali identitas keislaman mereka. Juga agar umat Islam tidak menggunakan kacamata Islam dalam memilih pemimpin mereka. Sebabnya, mereka tentu sangat trauma dengan kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 akibat umat terpengaruh oleh fatwa ‘haram memilih pemimpin kafir’. Mereka tidak ingin umat Islam yang mayoritas di negeri ini terpengaruh oleh fatwa-fatwa agama di Pilpres 2024 yang akan merugikan calon yang mereka dukung, yang aslinya memang sekuler bahkan anti Islam.
Wajib Memegang Teguh Identitas Islam
Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya agar memeluk Islam secara kâffah, dalam seluruh aspek kehidupan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ , إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sungguh ia musuh yang nyata bagi kalian (QS al-Baqarah [2]: 208).
Imam al-Qurthubi di dalam kitab tafsirnya, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, menjelaskan: “Ketika Allah SWT menjelaskan kepada umat manusia, baik Mukmin, kafir maupun munafik, maka Dia (seolah) berfirman: Jadilah kalian dalam satu agama, berhimpunlah kalian dalam Islam, dan berpegangteguhlah dengannya. Kata “as-Silmi” di sini maknanya Islam. Ini dinyatakan oleh Mujahid dan diriwayatkan oleh Abu Malik dari Ibn ‘Abbas.”
Karena itu ayat ini memerintahkan semua umat manusia untuk memeluk Islam secara kâffah.
Dalam kitab yang sama Imam al-Qurthubi lalu menjelaskan makna kâffah di dalam ayat ini: Pertama, menyeluruh, yakni meliputi seluruh ajaran Islam. Kedua, menolak yang lain, di luar Islam. Dengan kata lain, orang yang telah memeluk Islam wajib mengambil Islam secara menyeluruh dan menolak yang lain selain Islam. Itu baru disebut masuk Islam secara kâffah.
Dengan kata lain, seorang Muslim wajib mengimani dan mengambil Islam secara utuh. Tidak boleh sepotong-sepotong. Dipilih-pilih yang enak dan mudah saja (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 85).
Karena itu haram hukumnya meninggalkan identitas Islam dalam hal apapun. Sebaliknya, identitas Islam harus dipegang teguh oleh setiap Muslim dalam seluruh aspek kehidupannya. Tidak hanya saat beribadah, tetapi juga dalam melakukan kegiatan lain seperti ekonomi, sosial, pendidikan, politik, pemerintahan dan sebagainya.
Dalam konteks politik Islam, Al-‘Allamah al-Qadhi Syaikh Muhammad Taqiyuddin an-Nabhani menyatakan:
اَلسِّيَاسَةُ هِيَ رِعَايَةُ شُؤُوْنِ الأُمَّةِ دَاخِلِيًّا وَخَارِجِيًّا، وَتَكُوْنُ مِنْ قِبَلِ الدَّوْلَةِ وَالأُمَّةِ، فَالدَّوْلَةُ هِيَ الَّتِيْ تُبَاشِرُ هَذِهِ الرِّعَايَةِ عَمَلِيًّا، وَالأُمَّةُ هِيَ الَّتِيْ تُحَاسِبُ هَذِهِ الدَّوْلَةُ
Politik adalah mengurusi urusan umat di dalam dan luar negeri. Hal itu dilakukan oleh negara dan umat. Negaralah yang melaksanakan pengurusan ini secara langsung, sedangkan umatlah mengoreksi negara (An-Nabhani, Mafâhim Siyâsiyyah, hlm. 5).
Mengurusi umat di dalam negeri itu dilakukan oleh negara dengan cara menerapkan ideologi Islam (akidah dan syariah) secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan. Tugas umat adalah mengoreksi jalannya penerapan ideologi Islam ini jika terjadi penyimpangan. Adapun mengurusi umat di luar negeri adalah dengan mengemban dan menyebarkan ideologi Islam ke luar negeri.
Berpolitik—yakni mengurusi urusan umat, di dalam dan luar negeri—dengan menerapkan Islam secara kâffah itu hukumnya wajib, baik oleh negara maupun umat. Itulah politik Islam.
Karena itu seorang Muslim sejatinya adalah politikus. Sebabnya, politik dalam pandangan Islam adalah mengurusi urusan umat dengan syariah Islam. Karena itu setiap politisi Muslim wajib menguasai fiqih Islam dengan baik dan benar. Sebabnya, jika tidak menguasai fiqih Islam, ia tidak akan bisa mengurusi urusan umat dengan baik dan benar. Karena itu fiqih dan politik, dalam pandangan Islam, tidak bisa dipisahkan. Pasalnya, fiqih adalah solusinya, sedangkan politik adalah cara bagaimana mengimplementasikan fiqih tersebut dalam kehidupan.
Di sisi lain, seorang ahli fiqih Islam tidak boleh berhenti pada penguasaan hukum fiqih, tetapi harus sampai pada level implementasi (penerapan) fiqih Islam itu ke dalam kehidupan. Jika tidak, hukum fiqih atau syariah Islam tersebut hanya menjadi sebatas gagasan.
Karena itu berpolitik dengan merujuk pada fiqih atau syariah Islam itu hukumnya fardhu sebagaimana shalat, puasa, zakat, haji dan jihad. Sama-sama wajib. Tidak boleh dibeda-bedakan. Dengan demikian fiqih Islam akan melekat di dalam politik dan tidak bisa dipisahkan. Inilah yang sekaligus menjadikan politik memiliki identitas yang jelas, yakni Islam. Politik Islam semacam inilah yang membedakan dirinya dengan politik sekuler.
Sebaliknya, ketika politik umat Islam tidak menggunakan fiqih atau syariah Islam, maka politiknya tidak mempunyai identitas yang jelas. Politiknya akan menjadi politik sekuler yang oportunis dan hipokrit. Inilah yang digambarkan dalam al-Quran:
مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَلَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ , وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا
Mereka (orang-orang munafik) dalam keadaan ragu di antara yang demikian (iman atau kafir). Tidak termasuk golongan (orang beriman) ini dan tidak (pula) golongan (orang kafir) itu. Siapa saja yang dibiarkan sesat oleh Allah (karena tidak mengikuti tuntunan-Nya dan memilih kesesatan), kamu tidak akan menemukan jalan (untuk memberi petunjuk) bagi dirinya (QS an-Nisa’ [4]: 143).
Alhasil, tidak boleh seorang Muslim menanggalkan syariah Islam sebagai identitasnya dalam berpolitik. Apapun alasannya. Sebaliknya, dia wajib terikat dengan syariah Islam dalam segala aspek kehidupannya.
Pentingnya Syiar Islam
Identitas Islam harus benar-benar tampak menonjol dalam kehidupan umat Islam. Tak boleh lagi disembunyikan. Apalagi jika alasan yang mendasari sikap menyembunyikan identitas Islam itu adalah kekhawatiran atau ketakutan akan tudingan kelompok radikal-sekuler anti Islam. Sebabnya, tentu kelompok radikal-sekuler anti Islam tak ingin Islam dan syariahnya mewarnai kehidupan umat Islam yang merupakan penduduk mayoritas negeri ini.
Karena itu umat Islam, para tokoh Islam, para pimpinan partai Islam maupun para calon pemimpin dari kalangan Islam tak perlu ragu lagi menunjukkan identitas keislaman mereka. Tak perlu ragu lagi mereka menyuarakan syariah Islam. Saatnya mereka berani secara lantang menyuarakan syariah Islam. Jangan lagi mereka menyembunyikan kebenaran Islam. Sebabnya, Allah SWT telah berfirman:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan. Jangan pula kalian menyembunyikan kebenaran, padahal kalian tahu
(TQS al-Baqarah [2]: 42).
Selain itu, menampakkan identitas Islam merupakan bagian dari syiar Islam yang harus terus diagungkan. Sebabnya, mengagungkan syiar Islam adalah bagian dari ketakwaan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka sungguh itu berasal dari ketakwaan di dalam hati (TQS al-Hajj [22]: 32).
WalLâhu a’lam. []
—*—
Allah SWT berfirman:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dialah (Allah) Yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk Dia menangkan agama itu atas seluruh agama yang ada meski kaum musyrik membencinya. (TQS at-Taubah [9]: 33). []
—*—