300x250 AD TOP

Rabu, 20 Juni 2018

Tagged under:

Seputar Baper

ONE DAY ONE HADITS

Rabu,  20 Juni 2018 M / 6 Syawal 1439 H .

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى رَجُلَانِ دُونَ الْآخَرِ حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ أَجْلَ أَنْ يُحْزِنَهُ

“Jika kalian bertiga maka janganlah dua orang berbicara/berbisik bisik berduaan sementara yang ketiga tidak diajak, sampai kalian bercampur dengan manusia. Karena hal ini bisa membuat orang yang ketiga tadi bersedih” (HR. Bukhori no. 6290 dan Muslim no. 2184).

Islam menuntunkan kepada umatnya agar menjaga perasaan  orang   lain. Ajaran Islam menawarkan   kebahagiaan dunia sekaligus akhirat.  Allah senang melihat tanda-tanda bahagia, itu tampak dalam diri kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ

Sesungguhnya Allah senang melihat bekas nikmat-Nya pada seorang hamba”

(HR. Tirmidzi dan An Nasai).

Maka betapa indahnya Islam, agama yang mencintai kebahagiaan pada dirimu, dan mengenyahkanmu dari duka cita, di dunia dan di akhirat.

Islam agama yang mengajarkan kepada kita untuk menjaga perasaan orang lain. Kita juga dianjurkan untuk menyenangkan hati mereka. Bahkan menyakiti hati orang lain itu merupakan perkara yang diharamkan oleh Islam.
Banyak fakta dan data sekitar kita berkaitan dengan hal-hal kecil dan sederhana tetapi sesungguhnya mengantarkan pada kebahagiaan atau sebaliknya menyebabkan kesedihan seseorang. Berikut ini beberapa fenomena sekitar kita:

Banyak pemuda dan pemudi sehat wal afiat tak bersedia berdiri dari kursi prioritas sekalipun di hadapannya ada ibu hamil berdiri dengan membawa banyak tentengan. Pikir mereka, “Gue juga bayar, gue juga pegal kalau berdiri, gue duluan yang dapat kursi ini.”

Mereka tidak berpikir sebaliknya, kalau gue yang gak hamil aja gak kuat berdiri lama, apalagi yang hamil, apalagi yang gendong anak.

Dalam konteks rumah tangga, masih banyak suami yang tidak bisa menjaga perasaan istrinya. Ada perempuan cantik lewat, langsung menyindir istri, “Coba istriku secantik itu, kamu mustinya begitu dong… Bisa jaga badan, pakai make ub!”

Suami seperti ini tidak mikir, berapa juta Rupiah yang dikeluarkan perempuan cantik itu sehingga bisa terawat kayak gitu, “Kasihan istriku harus rela badannya melar karena melahirkan anak-anakku. Gajiku juga tidak cukup beli perawatan wajah dan muka yang jutaan. Aku akan makin sayang sama istri.” Mustinya kan mikir begitu tho.

Atau, istri yang tidak bisa jaga perasaan suami juga banyak. “Lihat tuh Mas, tetangga pada punya furniture baru, motor baru, mobil baru,  padahal gajinya sama kayak kamu, sabetannya banyak kali yaa. Kamu ini gaji segitu-gitu aja, gak nyari tambahan, buat makan aja kurang, dasar suami Gj!”

Istri seperti ini tidak mikir, seberapa ketat istri tetangganya tersebut dalam mengatur keuangan, hanya makan tahu tempe atau nasi dengan garam agar bisa menabung, juga tidak pernah jalan-jalan ke mall, atau memanggil semua abang-abang makanan yang lewat, karena masalah keuangan bukan hanya penghasilan yang sedikit, tapi juga pengeluaran yang berlebihan.

Muslim yang baik adalah yang  mampu menjaga perasaan orang lain dari kejahatan lisan.

”Orang Islam adalah orang yang menyelamatkan orang lainnya dari lidah dan tangannya.”

(HR. Bukhari)

Bagaimana mungkin kita mengaku Islam, tapi tak mampu menjaga perasaan orang lain dari kejahatan lisan dan perbuatan kita.

“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang diridhai Allah yang ia anggap biasa, lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka yang ia anggap biasa lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.”

(HR. Bukhari)

Nah, selain perlu belajar menjaga perasaan orang lain. Sebaliknya, kita pun penting untuk membentengi hati kita agar tak mudah baperan. Jangan sampai cuma dengar perkataan selentingan saja langsung tersinggung, langsung mendoakan orang lain yang menyakiti hati kita agar masuk neraka, 🤦🏼‍♂🤦🏼‍♂🤦🏼‍♂

Orang baperan juga tidak sesuai sunah Rasulullah. Bukankah Rasulullah adalah seorang pemaaf? Dan bukankah dalam Quran sangat banyak anjuran untuk memaafkan? Mengapa kita malah gampang sekali bawa perasaan dan mendendam?

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Dalam mengarungi rumah tangga, akan sangat banyak hal yang berpotensi membuat baper, perkataan pasangan hidup, perkataan mertua, ipar, tetangga, sungguh bahaya jika hati kia ringkih karena mudah baper.

Mendengar selentingan sedikit saja, langsung marah-marah. Di jalan raya disalip pengendara lain, langsung emosi tinggi. Dengar gosip tetangga langsung pindah rumah. Dinasehati langsung ngurung diri bahkan ingin nyepi pindah rumah dekat kuburan....

Seringkali orang yg gampang baperan terkadang jadi orang yg paling sulit dinasehati. Karena mereka lebih mengikuti perasaannya sendiri dan fokus pada diri, intropet.

Padahal daripada menyuruh orang lain menjaga perasaan kita, lebih mudah untuk membuat perasaan kita lebih kebal dan tak gampang baper. Bagaimana caranya?

1. Menyadari bahwa jika kita 'lembek' terhadap dunia ini, maka dunia ini akan terasa 'keras' untuk kita. Kalau kita perhatikan sejarah Nabi, tidak ada Sahabat yang baperan kan?

Bahkan Rasulullah sekalipun ditimpuki batu oleh penduduk Thaif, sekalipun sudah diusir, dihinakan, dibilang 'gila', bahkan beliau diberi wewenang untuk meminta pada Allah agar penduduk Thaif dimusnahkan, Beliau tidak melakukannya

Betapa dahsyat karakter beliau yang tidak gampang terbawa perasaan dan emosi. Setidaknya, kita sebagai umat beliau, bersedialah minimalisir sifat gampang baperan.

Dikomentari mertua (buat yg sudah rumah tangga), tak usahlah dimasukkan ke hati begitu dalam. Mendapat undangan nikah teman (buat yg masih jomblo), tak perlu lah langsung berlinang air mata. Gagal taaruf, janganlah langsung menarik diri dan tak mau percaya proses taaruf lagi. Musti bye bye baper lah yaa

Kalau kita terlalu lembek, semua orang terasa kejam pada kita. Tapi kalau kita tegas dan tidak mengikuti perasaan, maka segalanya akan lebih mudah dijalani

Mertua meledek rumah berantakan, nyengir aja sambil bilang “Iya nih Bu…”

Diledekin sebagai jomblo “Kapan sih nikahnya? Gak ada yang mau sama lo ya?”

Nyengir aja santai, “In syaa Allah tahun ini. Doain ya.” Tak perlu baperan, tersinggung lah ya

2. Menyadari bahwa memaafkan itu adalah ciri-ciri penghuni surga

Setiap ada orang yg bikin kita tersinggung, bersyukurlah. Barangkali itu adalah tiket supaya kita bisa ke surga. Barangkali amalan ibadah kita kurang baik, shalat sekadarnya, waktu shalat malam bablas tidur terus, ngaji quran nggak kuat sejuz sehari,

Barangkali dengan memaafkan orang lain, Allah ridho dan memaafkan dosa-dosa kita. Ada 1 pintu di surga yg khusus utk orang-orang yang mudah memaafkan:

“Sesungguhnya Allah memiliki sebuah pintu di surga, tidaklah yang masuk melaluinya kecuali orang-orang yang memaafkan kezaliman.”
(HR. Ahmad)

0 komentar:

Posting Komentar