300x250 AD TOP

Senin, 28 Mei 2018

Tagged under:

Pembatal Pahala Puasa

ONE DAY ONE HADITS

Senin,  28 Mei  2018 M / 12  Ramadhan 1439 H .

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه

“Barang siapa tidak bisa meninggalkan ucapan yang haram dan perbuatan haram, maka Allah tidak memiliki hajat darinya dengan meninggalkan makan dan minumnya.”

[H.R. Bukhari]

Imam Al Auza’i berpendapat bahwa ada beberapa perbuatan maksiat lisan yang dapat membatalkan puasa. Dalilnya adalah hadits yang telah disebutkan di atas dan hadits berikut ini:

خمس يفطرن الصائم الكذب والغيبة والنميمة واليمين الكاذبة والنظر بشهوة

“Lima perkara yang membatalkan orang yang berpuasa ; dusta, ghibah, adu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat.“ Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’atnya dari hadits ‘Anbasah, dan ia mengatakan hadits itu palsu.

Meskipun hadits itu bermasalah, namun ulama berpendapat maknanya shahih.

قال السبكي: وحديث خمس يفطرن الصائم الغيبة والنميمة إلى آخره ضعيف وإن صح

Imam as-Subuki mengatakan, “ Dan hadits “ Lima perkara yang membatalkan (pahala) puasa, yakni ghibah, adu domba dan seterusnya adalah dhaif walaupun sahih (maknanya).“

[Al-Iqna fi Hilli Alfadzi Abi Syuja’ : 1/220]

Maksudnya, memang tidak benar jika berhujjah dengan hadits di atas bahwa pembatal puasa adalah ghibah, dusta dan perbuatan maksiat lainnya, akan tetapi yang benar adalah perbuatan maksiat sebagaimana disebutkan dalam hadits tersebut hanya membatalkan pahala puasa.

Imam Ibn Ash-Shabbagh mengomentari hadits lima perkara tersebut sebagai berikut :

وأما الخبر: فالمراد به: أنه يسقط ثوابه، حتى يصير في معنى المفطر، كقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «من قال لأخيه والإمام يخطب: أنصت.. فلا جمعة له» . ولم يرد: أن صلاته تبطل، وإنما أراد: أن ثوابه يسقط، حتى يصير في معنى من لم يصل

“Adapun hadits tersebut, maka yang dimaksud adalah menggugurkan pahala puasa, sehingga menjadi makna perkara yang membatalkan puasa, sebagaimana contoh hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya sedangkan imam berkhutbah, “ Diamlah “, maka tidak ada jum’at baginya “, hadits ini tidak bermaksud shalatnya batal, akan tetapi yang dimaksud adalah bahwasanya pahala jum’atnya gugur sehingga menjadi makna orang yang tidak shalat.“

[Al-Bayan fi Mazhab imam Syafi’i : 3/536]

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ وَالجَهْلَ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapapan dusta, perbuatan dusta dan perbuatan jahil, maka Allah tidak perduli dengan ia meninggalkan makan dan minumnya.“

[HR. Bukari]

Imam ash-Shan’ani berkata tentang hadits ini:

الحديثُ دليلٌ على تحريم الكذب والعملِ به، وتحريمِ السفَهِ على الصائم، وهما محرَّمان على غير الصائم ـ أيضًا ـ، إلَّا أنَّ التحريم في حقِّه آكَدُ كتأكُّد تحريم الزنا مِنَ الشيخ والخُيَلَاءِ مِنَ الفقير

“ Hadits tersebut dalil atas keharaman berdusta dan berbuat dusta dan keharaman berbuat jahil atas orang yang berpuasa, keduanya adalah haram bagi orang yang tidak berpuasa juga, akan tetapi keharamannya bagi orang yang berpuasa lebih ditekankan seperti keharaman berzina bagi orang yang sudah tua dan sifat sombong bagi orang yang faqir.“

[Subul as-Salam, ash-Shan’ani : 2/320]

Hikmah yang bisa dipetik dari ulasan di atas, bahwa puasa bukan sekedar menahan makan dan minum yang masuk ke mulut kita, melainkan juga menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat terutama yang keluar dari mulut (lisan) kita.

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu memuliakan mulut orang yang sedang berpuasa?

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Sungguh, demi jiwa Muhammad berada di tangan-Ku ! Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi disisi Allah Ta’ala daripada wangi minyak kesturi.” [ HR. Muslim ]

Oleh sebab itu, jaga lisan kita, berfikirlah sebelum berbicara dan jangan sampai dengan ucapan yang keluar dari mulut kita justru mencelakakan kita dan menyebabkan kita dilemparkan ke dalam neraka.

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.”

[HR. Muslim].
 

0 komentar:

Posting Komentar