image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Label Area

Jumat, 14 Desember 2018

Tagged under: ,

Toleransi dalam Islam

Buletin Kaffah No. 069 - 06 Rabiul Akhir 1440 H/14 Desember 2018 M

Wacana toleransi terus dihembuskan tanpa henti. Seolah negeri ini darurat intoleransi. Seakan di negeri ini umat Islam tidak toleran. Faktanya, isu intoleransi selalu menyasar umat Islam.

Baru-baru ini Setara Institute melakukan survey seputar toleransi. Setara Institute memberikan penghargaan terkait Indeks Kota Toleran atau IKT 2018. Mereka melakukan kajian dan pemeringkatan terhadap 94 kota. Hasilnya, Singkawang berada di peringkat satu dengan skor 6.513. Disusul Kota Salatiga. Kota Banda Aceh di posisi terendah dengan peringkat 93 dengan skor 2.830. Berada di bawah Kota Jakarta yang di peringkat 92 (Jejaknasional.com).

Anggota DPR Kota Banda Aceh, Irwansyah, menilai hasil itu tak memiliki dasar lantaran menuding Banda Aceh tidak toleran. Kajian Setara dinilai tak sesuai fakta. Menurut dia, ada upaya Setara Institute mengkerdilkan pemberlakuan syariah Islam di Banda Aceh (Jejaknasional.com).

Sebelumnya, Lembaga Survei Indonesia (LSI) juga merilis hasil survei soal tren persepsi publik tentang demokrasi, korupsi dan intoleransi. Hasilnya, ada peningkatan soal intoleransi sejak 2016 sampai 2018. Dengan provokatif, peneliti LSI, Burhanuddin, mengatakan bahwa ada kaitan Aksi 212 dengan praktik intoleransi. Ia menyebut Aksi 212 bukan merupakan puncak radikalisme, tetapi Aksi 212 membuka keran naiknya intoleransi.

Ungkapan provokatif tersebut dibantah oleh Juru Bicara PA 212, Novel Bamukmin. Justru menurut Novel, Aksi Bela Islam adalah puncak toleransi yang real dan keajaiban yang memecahkan teori apa pun. Pasalnya, jutaan orang hadir, namun aksi berjalan super tertib, super toleran (Detik.com).

Mendudukkan Istilah Toleransi

Kaum Muslim dewasa ini memadankan kata toleransi pada kata tasâmuh. Tasâmuh artinya sikap membiarkan (menghargai), lapang dada (Kamus Al-Munawir, hlm. 702, Pustaka Progresif, cet. 14).

Toleransi secara bahasa berasal dari kata tolerance. Maknanya adalah “to endure without protest”, yang berarti menahan perasaan tanpa protes. Menurut Webster’s New American Dictionary, arti toleransi adalah memberikan kebebasan dan berlaku sabar dalam menghadapi orang lain.

Kata tolerance kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi toleransi. Berasal dari kata toleran. Mengandung arti: bersikap atau bersifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan) yang berbeda atau yang bertentangan dengan pendiriannya (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Akar Permasalahan Intoleransi

Intoleransi (ketidaktoleranan) kadang dikaitkan dengan tindak kekerasan yang melibatkan umat Islam. Tindakan ini sering oleh kelompok liberal dijadikan alasan untuk menuding kaum Muslim sebagai kelompok yang paling tidak toleran dengan penganut keyakinan lain. Tudingan ini sejatinya untuk membenarkan pandangan keliru kaum liberal yang menyatakan bahwa munculnya kekerasan di Dunia Islam disebabkan adanya “truth claim” (klaim kebenaran) dan “fanatisme”.  Untuk itu, menurut mereka, agar umat Islam bisa bersikap toleran terhadap penganut keyakinan lain, truth claim dan fanatisme harus dihapuskan. Caranya dengan “menyakini kebenaran agama lain”. Dengan cara inilah, menurut mereka, kekerasan di Dunia Islam bisa dihilangkan.

Pandangan seperti di atas jelas keliru dan menyesatkan. Alasannya, ide penghapusan truth claim dan toleransi tanpa batas lahir dari paham sekularisme-liberalisme. Tidak berhubungan sama sekali dengan Islam. Gagasan tersebut bertentangan dengan nas-nas qath’i (tegas) yang menyatakan bahwa agama yang Allah SWT ridhai hanyalah Islam. Selain Islam adalah kekufuran dan kesesatan. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Sungguh agama yang diakui di sisi Allah hanyalah Islam (TQS Ali Imran [3]: 19).

Allah SWT pun berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Siapa saja yang mencari agama selain Islam tidak akan diterima dan di Akhirat dia termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang rugi (TQS Ali Imran [3]: 85).

Toleransi Menurut Islam

Berkaitan dengan toleransi, Islam menggariskan sejumlah ketentuan antara lain:  Pertama, Islam tidak akan pernah mengakui kebenaran agama dan keyakinan selain Islam. Seluruh keyakinan dan agama selain Islam adalah kekufuran. Demokrasi, pluralisme, sekularisme, liberalisme dan semua paham yang lahir dari paham-paham tersebut adalah kufur. Agama Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, kebatinan dan lain sebagainya, semuanya kufur. Siapa saja yang menyakini agama atau paham tersebut, baik sebagian maupun keseluruhan, adalah kafir. Jika pelakunya seorang Muslim maka ia telah murtad dari Islam. Tidak ada toleransi dalam perkara semacam ini.

Kedua, tidak ada toleransi dalam perkara-perkara yang telah ditetapkan oleh dalil-dalil qath’i, baik menyangkut masalah akidah maupun hukum syariah. Dalam perkara akidah, Islam tidak pernah mentoleransi keyakinan yang bertentangan pokok-pokok akidah Islam semacam ateisme, politheisme, keyakinan bahwa al-Quran tidak lengkap, keyakinan adanya nabi dan rasul baru setelah wafatnya Nabi saw., pengingkaran terhadap Hari Akhir dan lain-lain. Adapun dalam persoalan hukum syariah, Islam, misalnya, tidak mentoleransi orang yang menolak kewajiban shalat, zakat, puasa dan berbagai kewajiban yang telah ditetapkan berdasarkan dalil qath’i.

Ketiga, Islam tidak melarang kaum Muslim untuk berinteraksi dengan orang-orang kafir dalam perkara-perkara mubah seperti jual-beli, kerjasama bisnis, dan lain sebagainya. Larangan berinteraksi dengan orang kafir terbatas pada perkara yang dilarang oleh syariah, seperti menikahi wanita musyrik (kecuali Ahlul Kitab), menikahkan wanita Muslimah dengan orang kafir, dan lain sebagainya. Ketentuan ini tidak bisa diubah dengan alasan toleransi.

Keempat, adanya ketentuan-ketentuan di atas tidak menafikan kewajiban kaum Muslim untuk berdakwah dan berjihad melawan orang-orang kafir di mana pun mereka berada. Hanya saja, pelaksanaan dakwah dan jihad harus sejalan dengan syariah. Orang kafir yang hidup di Negara Islam dan tunduk pada kekuasaan Islam, dalam batas-batas tertentu, diperlakukan sebagaimana kaum Muslim. Hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara Daulah Islam sama dengan kaum Muslim. Harta dan jiwa mereka dilindungi. Adapun terhadap kafir harbi maka hubungan dengan mereka adalah hubungan perang. Seorang Muslim dilarang berinteraksi dalam bentuk apapun dengan kafir harbi fi’l[an]. 

Praktik Toleransi dalam Islam

Islam telah mengajarkan dan memperagakan toleransi dengan begitu apik sejak masa Rasulullah saw. Islam memberikan tuntunan bagaimana menghargai dan menghormati pemeluk agama lain. Tidak memaksa non-Muslim untuk masuk Islam.

Rasul saw. pernah menjenguk orang Yahudi yang sedang sakit, melakukan transaksi jual-beli dengan non-Muslim, menghargai tetangga non-Muslim, dsb. Negara Islam perdana di Madinah yang Rasul saw. pimpin kala itu juga menunjukkan kecemerlangannya dalam mengelola kemajemukan. Umat Islam, Nasrani dan Yahudi hidup berdampingan satu sama lain. Meski mereka hidup dalam naungan pemerintahan Islam, masyarakat non-Muslim mendapatkan hak-hak yang sama sebagai warga negara, memperoleh jaminan keamanan, juga bebas melakukan peribadatan sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

Islam juga mengajarkan bahwa penyimpangan hal pokok (ushul) dalam Islam tidak boleh ditoleransi, tetapi wajib diluruskan. Namun, perbedaan dalam cabang (furu’) harus dihargai dengan jiwa besar dan lapang dada.

Perlakuan adil Negara Khilafah terhadap non-Muslim bukan sekadar konsep, tetapi benar-benar diaplikasikan. Bukan juga berdasar pada tuntutan toleransi ala Barat, melainkan karena menjalankan hukum syariah Islam. T.W. Arnold, dalam bukunya, The Preaching of Islam, menulis, “Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan kepada mereka. Perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen.”

Arnold kemudian menjelaskan, “Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Ottoman, selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani, telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa…Kaum Protestan Silecia pun sangat menghormati pemerintah Turki dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam… Kaum Cossack yang merupakan penganut kepercayaan kuno dan selalu ditindas oleh Gereja Rusia menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen di bawah pemerintahan Sultan.”

Khatimah

Alhasil, bila masih ada yang mempersoalkan toleransi dalam Islam, sungguh merekalah yang tidak toleran. Mereka adalah musuh Allah SWT. Mereka inilah yang tidak menghendaki Islam hadir sebagai rahmat bagi kehidupan manusia dan alam semesta. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

Hikmah:

Allah SWT berfirman:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu siapa saja yeng mengingkari thâghût dan mengimani Allah, sungguh ia telah berpegang pada tali yang amat kuat, yang tidak akan putus.  Allah Maha Mendengar lagi Mahaahu (TQS al-Baqarah [2]: 256). []

Tagged under:

Doa Malaikat Untuk Orang Yang Duduk Di Masjid Setelah Shalat

ONE DAY ONE HADITS

Jumat, 14 Desember 2018 M / 6 Rabiul Tsani 1440  H

بِسْـمِ اللّهِ رَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
الْمَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلاَّهُ الَّذِي صَلَّى فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ.

Dari Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: Para malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kalian selama ia masih di tempat ia shalat dan belum berhadas. Malaikat berkata: Ya Allah ampunilah dia, ya Allah rahmatilah dia.

Sahih al-Bukhari:426

Kandungan hadits

1. Bagi orang yang shalat di masjid, malaikat mendoakan orang tersebut selama ia belum beranjak dari tempatnya dan belum berhadas.

2.  Seseorang yang  menetap di masjid, membaca al-Quran, berzikir mengingat Allah, dan berdoa kepada Allah setelah menunaikan shalat wajib maka disetarakan seperti orang yang sedang shalat.

3. Doa malaikat terhadap orang yang berdiam diri di masjid untuk menunggu shalat berikutnya didaokan malaikat, Ya Allah Rahmati orang tersebut dan Ya Allah ampunilah dosa orang tersebut

4. Setiap orang selalu di Sergai malaikat didepan dan dibelakang kita untuk menjaga kita

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ  مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا  بِاَنْفُسِهِمْ ۗ  وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ  وَمَا لَهُمْ  مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
lahuu mu'aqqibaatum mim baini yadaihi wa min kholfihii yahfazhuunahuu min amrillaah, innalloha laa yughoyyiru maa biqoumin hattaa yughoyyiruu maa bi`anfusihim, wa izaaa aroodallohu biqoumin suuu`an fa laa marodda lah, wa maa lahum min duunihii miw waal

"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 11)

Kamis, 13 Desember 2018

Tagged under:

Memegang Bara Api

ONE DAY ONE HADITS

Rabu, 12 Desember 2018 M / 4 Rabiul Tsani 1440  H

بِسْـمِ اللّهِ رَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

عَنْ أنس بن مالك رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ .  (رواه الترمذي ٢٢٦٠)
Artinya :
_Dari Anas bin Malik ra., Rasulullah SAW. bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”

(HR. Tirmidzi no. 2260.)

Kandungan hadits

1. Berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir zaman butuh kesabaran  dan keistiqamahan  ekstra.

2. Orang yang berpegang teguh dengan agama  Ibaratnya seperti seseorang yang memegang bara  api, ditinggalkan mati dipegang panas, seperti itulah beragama diakhir zaman. Orientasi dan tujuan hidup manusia fokus pada memburu harta kekayaan, jabatan, dan prestis hingga akhirat nya gak pernah nyangkut di kepalanya.

3. Orang yang tidak mampu menggenggam bara api karena tangannya bisa terbakar sama halnya dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Islam saat ini, ia sampai tak kuat karena di halangi teman sendiri, di persekusi, dijauhi, dianggap aneh dan nyeleneh zaman gini masih bicara agama.

4. Seseorang tidaklah mungkin menggenggam bara api  tanpa memiliki, tekad, keberanian, dan  kesabaran yang ekstra serta kesulitan yang luar biasa. Begitu pula dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Islam yang murni sesuai Al Qur'an dan Sunnah sangat berat, karena kebenaran diakhir zaman sudah tereduksi, bila tidak sesuai dengan kelompok nya dianggap salah meski berdasar al Quran dan al Hadits.

5. Itulah gambaran orang yang istiqamah dengan ajaran Islam saat ini, yang ingin terus menjalankan ibadah sesuai sunnah Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam–, begitu sulitnya dan begitu beratnya. Kadang cacian yang mesti diterima. Kadang dikucilkan oleh masyarakat sekitar. Kadang jadi bahan omongan yang tidak enak. Sampai-sampai ada yang nyawanya dan keluarganya terancam. Demikianlah resikonya. Namun nantikan balasannya di sisi Allah yang luar biasa.

6. Balasan orang yang sabar dan istiqamah dalam memperjuangkan kebenaran adalah surga.

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

1. Balasan orang yang sabar, pahala mereka tidakbisa ditakar saking berlimpah

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ۞
_“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”_ (QS. Az-Zumar: 10).

2. Balasan orang yang sabar adalah surga;

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ ۞ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ ۞

_"(yaitu) surga
'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;(sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu."_ [QS. Ar-Ra'du :23-24]

Tagged under:

Perumpamaan Dunia

ONE DAY ONE HADITS

Kamis, 13 Desember 2018 M / 5 Rabiul Tsani 1440  H

بِسْـمِ اللّهِ رَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

وَاللهِ ، مَا الدُّنْيَا فِـي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَـجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هٰذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَ بِالسَّبَّابَةِ – فِـي الْيَمِّ ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِـعُ

Demi Allâh! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, -(perawi hadits ini yaitu)Yahya  memberikan isyarat dengan jari telunjuknya- lalu hendaklah dia melihat apa yang dibawa jarinya itu.

Shahih: HR. Muslim, no. 2858 dan Ibnu Hibbân, no. 4315

Kandungan hadits

1. Ketika Allah Subhanahu wata'ala memberi kepada seorang hamba kenikmatan dunia, padahal dia terus menerus berbuat maksiat, maka ketauhilah bahwa itu adalah istidraj.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيْهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ، ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Jika engkau melihat Allâh memberi kepada seorang hamba apa yang disukainya di dunia padahal dia berbuat maksiat, maka itu adalah istidrâj. Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat (yang artinya-red): “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”

Shahih: HR. Ahmad 145

2. Dunia  dan seisinya sebanding dengan tetesan air laut ketika jari dicelupkan lalu diangkat,  lalu mengapa manusia berlomba-lomba mengejarnya? Bahkan mereka korbankan agamanya demi mencari dunia?!   Mengapa banyak manusia tertipu dengan dunia padahal Allâh sudah ingatkan agar manusia tidak tertipu dengan dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Wahai manusia! Sungguh, janji Allâh itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allâh. [Fâthir/35:5]

3. Manusia sangat berambisi mengejar dunia, bahkan mereka lebih rakus, lebih tamak, lebih serakah, lebih jahat dan zhalim dalam merusak kehormatan dirinya dan agamanya dibanding dua ekor serigala yang dilepas di kerumunan kambing.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَاذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat rakus manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.

HR. at-Tirmidzi, no. 2376; Ahmad, III/456, 460; dan ad-Darimi, II/304

4. Kesenangan dunia, keindahannya, kenikmatannya, dan kelezatannya hanyalah sesaat, temporer, pasti hilang, pasti binasa, dan semua manusia pasti akan kembali kepada Allâh Azza wa Jalla .

Allâh Subhanahu wata'ala berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabb-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. [Ali ‘Imrân/3:133]

5. Kupasan tentang dunia yang menyatakan tidak kekal, sementara, dan tidak dibawa mati,  bukan berarti dengan itu kita meninggalkan bagian kita di dunia ini. Mengabaikan dan merendahkan. Bukan itu maksudnya. Tetapi, tidak benar bila melupakan dan tidak mengusahakan akhirat gara gara mengutamakan harta kekayaan. Bekal akhirat tetap diusahakan dengan sungguh-sungguh, dan urusan keduniaan tetap di usahakan juga. 

6. Dunia ini merupakan kesempatan untuk beramal. Bukan berarti kita hanya duduk saja, tidak beribadah dan menunggu ajal. Tetapi dunia adalah kesempatan untuk beramal dan beribadah untuk bekal menuju akhirat.  Kita harus berlomba-lomba melaksanakan ketaatan kepada Allâh dan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya yang sesuai dengan sunnah.

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”

[Al-Anbiyâ`/21:90]

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabb-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.

[Ali ‘Imrân/3:133]

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allâh kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allâh telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di  bumi. Sungguh, Allâh tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”

[Al-Qashash/28:77]

Selasa, 11 Desember 2018

Tagged under:

Enggan Masuk Surga

ONE DAY ONE HADITS

Selasa,  11 Desember 2018 M / 3 Rabiul Tsani 1440  H

بِسْـمِ اللّهِ رَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan, " Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?" Nabi menjawab: "Siapa yang taat kepadaku masuk surga dan siapa yang menghindar dari ku dialah orang yang enggan."

(HR Bukhari No: 6737)

Kandungan hadits:

1.  Setiap umat Nabi Muhammad SAW akan masuk ke surga dengan syarat mentaati dan mengikuti apa yang ditunjukkan Rasulullah SAW. Melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala yang dilarang.

2.  Taat dan patuh itu antaranya dengan mentauhidkan Allah serta istiqamah dalam mengimplementasikan keyakinannya tersebut.

3.  Bukti mentaati Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah mengikuti syariat Allah seperti menunaikan shalat, mengeluarkan zakat, melaksanakan puasa Ramadhan, haji, dan  perbuatan baik lainnya.

4.  Orang yang enggan dan tidak mau mentaati syariat yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW adalah orang yang enggan untuk masuk surga. Orang tersebut mencegah dirinya untuk masuk ke dalam surga dengan melakukan amal ibadah yang tidak dituntunkan dan meninggalkan syariat yang diwajibkan.

5.  Wajib bagi setiap muslim untuk mentaati syariat Allah, serta mengikuti Nabi Muhammad SAW dalam setiap syariat yang akidah dan ibadah.

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”.

(Al Hasyr: 7)

Minggu, 09 Desember 2018

Tagged under:

Ex Neraka

ONE DAY ONE HADITS

Ahad,  9 Desember 2018 M / 1 Rabiul Akhir 1440  H

بِسْـمِ اللّهِ رَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنَ النَّارِ بَعْدَ مَا مَسَّهُمْ مِنْهَا سَفْعٌ، فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ، فَيُسَمِّيهِمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ: الْجَهَنَّمِيِّينَ “

“Akan keluar dari neraka suatu kaum setelah mereka di bakar dalam neraka, kemudian mereka akan masuk ke dalam surga. Penduduk surga menamakan mereka dengan  Jahannamiyyun.

HR. Bukhari nomor 6559

Beliau juga bersabda,

لَيَخْرُجَنَّ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِيْ مِنَ النَّارِ بِشَفَاعَتِيْ يُسَمَّوْنَ الْجَهَنَّمِيُّوْنَ.

“Sungguh satu kaum dari ummatku akan keluar dari Neraka dengan sebab syafa’atku, mereka disebut jahannamiyyun (para mantan penghuni Neraka Jahannam).”

HR. At-Tirmidzi no. 2600

Kandungan hadits

1. Warga neraka yang memiliki iman walau sangat sedikit sekali akan dikeluarkan dari neraka.

2. Seorang muslim yang belum batal keislamannya (karena melakukan pembatal keislaman seperti syirik dan membenarkan perkataan dukun), walaupun memilki kebaikan sangat sedikit sekali, maka akan dikeluarkan dari neraka setelah sebelumnya dicuci di neraka terlebih dahulu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَخْرُحُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ اْلإِيْمَانِ.

“Akan keluar dari Neraka orang yang di dalam hatinya masih ada seberat dzarrah dari iman.”
HR. At-Tirmidzi no. 2598

3. Jahannamiyyun ini sebelumnya disiksa di neraka sehingga wajah dan tubuh mereka hitam legam  sebagaimana arang. Sebelum masuk surga mereka dibersihkan terlebih dahulu mandi besar di sungai kehidupan.

Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata,

… فيسمون في الجنة ” الجهنميين ” من أجل سواد في وجوههم ، فيقولون : ربنا أذهب عنا هذا الاسم ، قال : فيأمرهم فيغتسلون في نهر في الجنة فيذهب ذلك منهم.

“Mereka di namakan di surga Al-Jahannamiyyun karena hitamnya wajah mereka, kemudain mereka berdoa: Wahai Rabb kami hilangkanlah bekas ini”. Maka mereka diperintahkan agar mandi di sungai surga dan bekas tersebut hilang.”

HR. Ibnu Hibban

Firman Allah Subhanahu wata'ala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ  ۚ  وَاِنْ تَكُ حَسَنَةً يُّضٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَّدُنْهُ اَجْرًا عَظِيْمًا
innalloha laa yazhlimu misqoola zarroh, wa in taku hasanatay yudhoo'if-haa wa yu`ti mil ladun-hu ajron 'azhiimaa

"Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya."

(QS. An-Nisa' 4: Ayat 40)

Jumat, 07 Desember 2018

Tagged under: ,

Merawat Spirit Bela Tauhid

Buletin Kaffah_068_29 Rabiul Awwal 1440 H – 07 Desember 2018 M

Terharu. Bangga. Sekaligus takjub. Tentu diliputi rasa syukur luar biasa kepada Allah SWT. Menyaksikan Al-Liwa’ dan ar-Rayah berkibar dengan gagah pada Acara “Reuni 212” Aksi Bela Tauhid. Berkibar tak hanya satu-dua. Namun, jutaan Al-Liwa’ dan ar-Rayah. Bendera Rasulullah saw. itu diusung dengan penuh semangat dan kebanggaan oleh jutaan umat Islam yang berkumpul di Monas dan sekitarnya, Ahad, 2 Desember 2018 lalu. Mereka berasal dari berbagai latar belakang suku, bahasa, organisasi, kelompok dan mazhab. Mereka bukan hanya berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Namun, dari berbagai kota dan daerah. Bukan hanya dari Jawa. Namun, banyak yang datang dari luar Jawa: Dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Bahkan ada yang sengaja datang dari luar negeri seperti Malaysia, Australia dan beberapa negeri lain. Aksi besar dan super damai itu pun diliput oleh berbagai media di luar negeri. 

Sebelumnya mungkin tak terbayangkan, Al-Liwa’ dan ar-Rayah, yang di negeri ini  senantiasa dengan konsisten diusung dan disosialisasikan oleh HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dalam berbagai aksinya, bisa dikibarkan oleh oleh jutaan umat Islam sebagaimana saat ini. Padahal HTI sendiri telah lama dipersekusi. Diintimidasi. Sekaligus dikriminalisasi. Puncaknya HTI ‘dibunuh’ dengan dicabut status badan hukum perkumpulan (BHP)-nya. Namun, rezim di negeri ini sejak awal salah menduga. “Nyawa” Hizbut Tahrir  bukan terletak pada BHP-nya. Namun, pada ideologinya. Itulah ideologi (mabda’) Islam yang senantiasa hidup di dalam setiap dada para aktivisnya. Sekaligus berusaha dihidupkan dan disebarluaskan di dada-dada setiap Muslim. Bukan hanya di Indonesia. Namun, di seluruh dunia.

Menyaksikan jutaan Al-Liwa’ dan ar-Rayah berkibar seolah membenarkan satu jargon: “Satu Dibakar, Jutaan Berkibar!” Ya, aksi pengibaran jutaan Al-Liwa’ dan ar-Rayah di kawasan Monas pekan lalu tidak lain merupakan reaksi langsung terhadap aksi pembakaran Bendera Tauhid itu oleh oknum Banser di Garut beberapa waktu lalu.

Jelas, Aksi Bela Tauhid yang dilakukan oleh jutaan umat Islam itu sangat fenomenal. Aksi besar tersebut sekaligus membuktikan bahwa berbagai upaya dari rezim dan para pendukungnya untuk mengalihkan isu dengan terus mempropagandakan bahwa yang dibakar adalah Bendera HTI, bukan Bendera Tauhid, gagal total. Umat kini tak lagi bisa dibohongi. Mereka sekarang tak lagi mudah ditipu. Mereka sudah cerdas. Mereka sudah mulai sadar. Mereka kini paham bahwa Al-Liwa’ dan ar-Rayah adalah milik mereka. Bukan semata-mata milik Hizbut Tahrir.

Misi Utama Islam

Ya, Al-Liwa’ dan ar-Rayah adalah Bendera Tauhid. Bendera milik umat Islam. Tauhid itu sendiri adalah inti semua risalah yang dibawa oleh para nabi dan para rasul ke alam dunia. TawhîdulLâh adalah inti agama yang mereka bawa. Allah SWT  berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami mewahyukan kepada dia bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku. Karena itu sembahlah Aku oleh kalian  (TQS al-Anbiya’ [21]: 25).

Allah SWT juga berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Sungguh Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah oleh kalian Allah saja dan jauhilah thâghût-thâghût itu (TQS an-Nahl [16]: 36).

Alhasil, tauhid adalah inti agama Islam. Tauhid  sekaligus merupakan misi utama Islam. Misi Islam ini mengandung makna bahwa manusia hanya layak menyembah dan mengabdi hanya kepada Allah SWT. Sebaliknya, mereka haram menyembah dan mempertuhankan sesama manusia. Inilah juga yang antara lain ditegaskan oleh Rasulullah saw. di hadapan penduduk Najran yang saat itu beragama Nasrani:

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي أَدْعُوْكُمْ إِلَى عِبَادَةِ اللهِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ...
“Amma ba’du. Sungguh aku menyeru kalian untuk hanya menghambakan diri kepada Allah dengan meninggalkan penghambaan kepada sesama manusia….” (Al-Baihaqi, Dalâ’il an-Nubuwwah, 5/485; Ibnu Katsir, As-Sîrah an-Nabawiiyah, 4/101).

Pernyataan Rasulullah saw. ini selalu diulang-ulang oleh para panglima Muslim saat mereka menyeberaluaskan Islam dengan dakwah dan jihad. Di antaranya oleh Rib’i bin Amir, salah seorang juru runding dari pihak Islam saat Perang Qadisiyyah, di hadapan Rustum, salah seorang panglima Persia saat itu. Saat itu Rustum bertanya, “Untuk apa kalian (pasukan kaum Muslim, red.) datang kemari?” Rib’i bin Amir menjawab:

اَللَّهُ جَاءَ بِنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، مِنْ جَوْرِ اْلأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ اْلإِسْلاَمْ...
“Allah telah mambawa kami ke sini agar kami mengeluarkan orang-orang yang Dia kehendaki, dari penyembahan kepada sesama manusia menuju penyembahan hanya kepada Allah; dari kezaliman agama-agama yang ada menuju keadilan Islam…” (Ath-Thabari, Târîkh ath-Thabari, 4/106, Ibn al-Atsir, Al-Kâmil fî at-Târîkh, 2/463).

Juru runding dari pihak kaum Muslim sebelumnya, yakni Zahrah bin Haubah, juga tegas berkata kepada Rustum, “Islam adalah agama yang haq (benar). Siapa saja yang membenci Islam akan terhina dan siapa saja yang berpegang teguh pada Islam akan mulia.” Lalu Rustum bertanya, “Agama macam apakah itu?” Zahrah bin Haubah menjawab:

أَمَّا عُمُوْدُهُ الَّذِيْ لاَ يَصْلُحُ إِلاَّ بِهِ فَشَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ...
Adapun pilar agama ini—yang tidak mungkin baik kecuali dengan pilar itu—adalah  kesaksian bahwa: Tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah…”  (Ibn al-Atsir, Al-Kâmil fî at-Târîkh, 1/413)

Konsekuensi Tauhid

Tauhid (tawhîd) dalam bahasa Arab merupakan bentuk mashdar dari fi’il (kata kerja) wahhada-yuwahhidu-tawhîd[an]. Artinya, mengesakan sesuatu. Dengan demikian tawhîdulLâh bermakna mengesakan Allah SWT. Tidak mengakui keberadaan tuhan selain Allah SWT. Hanya menyembah Allah Yang Mahaesa.

Tauhid sejatinya melahirkan ketaatan mutlak hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ketaatan hanya kepada Allah SWT tentu menafikan pihak lain untuk ditaati. Tauhid pun meniscayakan bahwa pembuat hukum yang wajib ditaati hanyalah Allah SWT. Dialah sebaik-baik pembuat aturan bagi manusia. Ketika seorang manusia tidak mau berhukum pada hukum Allah dan Rasul-Nya, tentu tauhidnya ternoda. Allah SWT berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada keberatan di dalam hati mereka atas putusan yang kamu berikan dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya (TQS an-Nisa’ [4]: 65).

Selain itu Allah SWT juga mengecam orang yang mengada-adakan hukum dengan menyatakan halal-haram untuk membatalkan hukum Allah-Nya.

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
Janganlah kalian mengatakan apa yang disebut-sebut oleh lidah kalian secara dusta, "Ini halal dan ini haram," untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sungguh orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung (TQS an-Nahl [16]: 116).

Imam Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi dalam Syarh ‘Aqidah Thahawiyah (2/267) mengatakan, “Sungguh jika seseorang meyakini bahwa hukum yang Allah turunkan tidak wajib, bahwa boleh dipilih, atau ia merendahkannya, padahal ia meyakini itu adalah hukum Allah, maka ini adalah kekufuran yang besar.”

Ketaatan pada hukum Allah SWT adalah refleksi tauhid seorang Muslim. Ia tidak akan menjadikan syariah Islam sebagai perkara yang boleh dipilih sesuka hati. Ia memahami bahwa memilih hanya syariah Islam adalah kewajiban. Ia pun akan menjauhkan diri dari sikap sombong dan meremehkan hukum-hukum Allah SWT.

Merawat Spirit Bela Tauhid

Akhirul kalam, tentu spirit atau semangat bela tauhid harus terus dirawat. Agar selalu tumbuh dan terus berkembang di tengah-tengah umat. Tak hanya muncul saat simbol-simbol Islam dihinakan. Tak hanya hadir saat syiar-syiar Islam direndahkan. Tak hanya mengemuka saat al-Quran dan kalimat tauhid dinistakan. Namun, yang jauh lebih penting, adalah saat hukum-hukum Allah SWT atau syariah Islam dicampakkan, sebagaimana yang terjadi saat ini. Karena itu spirit bela tauhid ini harus mewujud dalam visi sekaligus misi hidup seluruh umat Islam.

Jika seluruh kaum Muslim memang mengklaim bertauhid, maka tak ada hukum atau aturan yang wajib mereka laksanakan selain aturan dan hukum Allah SWT atau syariah Islam. Jika seluruh kaum Muslim mengaku membela kalimat tauhid, maka tak ada yang pantas mereka lakukan selain berupaya sekuat tenaga untuk menegakkan aturan-aturan Allah SWT atau syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Itu berarti, mereka wajib terlibat bersama-sama secara konsisten menyerukan pentingnya penerapan syariah Islam secara total. Tak hanya dalam urusan ibadah, namun juga dalam urusan ekonomi, pendidikan, politik, pemerintahan, hukum, peradilan, dsb.

Alhasil, mari kita siapkan Aksi Bela Tauhiud selanjutnya: mendorong dan menuntut penguasa untuk segera menerapkan syariah Islam secara kâffah. []

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ...
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah…” (HR Muttafaq ‘alaih).